Share

Kejujuran Tasya

Author: Renita April
last update Huling Na-update: 2025-03-28 21:59:46

Juna mengumpat karena mendapat telepon bernada ancaman dari istrinya. Bisa-bisanya Tasya meminta cerai bila ia tidak pulang sekarang. Padahal ia masih ingin bersenang-senang karena malam ini tidak ada pengantaran barang. Juna juga harus melepaskan pelukannya dari Mira, wanita yang kini menjadi pacarnya.

“Hei, kau baru main sekali. Kenapa malah pulang?” tanya seorang pria yang merupakan teman judi Juna.

“Benar, Sayang. Kau bilang ingin bersenang-senang di sini,” kata Mira seraya membelai pipi kekasihnya.

“Aduh, Sayang. Aku juga ingin bermain denganmu, tapi istriku menyuruhku pulang.”

“Kau begitu patuh padanya.” Mira cemberut karena Juna lebih memilih istrinya.

“Jangan marah, Sayangku. Malam ini saja. Besok malam, kita senang-senang lagi.”

“Aku marah.” Mira menjauh dari Juna. Melihat kekasih gelapnya yang tidak senang hati, Juna memberikan uangnya. “Aku tidak butuh.” Mira menolak.

“Ambil saja buat kau pergi belanja. Besok, aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Kau harus mengerti, Mira.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Dikorbankan

    “Anda berdua, silakan ikut kami.” Dua orang penjaga mempersilakan Juna dan Tasya mengikuti mereka.“Aku sudah bilang kalau mereka tidak bisa berkutik,” ucap Juna, “jika atasanmu macam-macam, kita tinggal sebarkan videonya. Aku akan merekam setiap tindakannya itu. Kau tenang saja, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa padamu.”Tasya mengangguk. “Aku hanya ingin lepas dari dia.”“Kita lihat saja nanti.” Ini kesempatan, Juna akan meminta uang sebagai kompensasi kepada atasan perusahan ini karena telah berani menganggu istrinya.Penjaga mempersilakan keduanya masuk lift, lalu lantai yang familiar bagi Tasya ditekan. Jantung wanita itu berdetak kencang. Ada rasa takut serta gagal karena tahu jika Rangga bukan orang yang mudah dikalahkan.“Kau harus tenang,” ucap Juna seraya memegang tangan istrinya. Bersama Juna, barulah Tasya dapat merasakan ketenangan. Ia yakin setelah ini, Rangga tidak akan menganggunya lagi.Denting lift berbunyi, mereka keluar setelah pintu terbuka. Juna dan Tasya diarah

    Huling Na-update : 2025-03-29
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Ditiduri Lagi

    Tubuh ini terasa berat, seperti ada yang menindih. Perlahan Tasya membuka matanya, dan betapa kagetnya ia mendapati Rangga sudah berada di atas tubuh ini.“Menyingkir! Kau mau apa?” Tasya berusaha bangkit dari tidurnya, tetapi tangannya ini terikat. Sejak kapan? Tasya sungguh tidak sadar, dan apa-apaan ini? Bajunya tersingkap, lalu celananya juga sudah melorot ke bawah. “Minggir!” teriak Tasya.“Waktu pertama kali, kau begitu pasrah. Kedua kalinya kau tidak sadarkan diri karena pengaruh obat. Sekarang, kau harusnya tidak perlu malu lagi. Aku sudah melihat dan merasakan tubuhmu berulang kali. Kenapa tidak kita nikmati saja siang ini, Sayang?” Rangga membelai wajah simpanannya ini.“Aku terpaksa melakukannya. Sama sekali aku tidak berniat menjual diriku padamu. Mengertilah.”“Kau di sini karena kesalahanmu sendiri dan suamimu juga mengizinkan. Sudah kubilang, kan, kalau kau tidak mau berada di bawahku, maka berikan aku uang 10 miliar.”“Kau memeras seorang wanita yang tidak tahu apa-apa

    Huling Na-update : 2025-03-30
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Terkuak

    Tanpa bisa menolak, Tasya mengikuti keinginan Rangga yang membawanya ke rumah itu lagi. Di mana Tasya dapat melihat dua pelayan yang sama kemarin lalu.Kali ini pun keduanya masih diperintahkan melayani seorang wanita yang dicap sebagai simpanan. Pakaian ini dilucuti, dibuang, digantikan dengan baju-baju dari merek ternama sesuai selera Rangga, pria yang pikirannya hanya pada aktivitas ranjang saja. Selain baju yang dipakai hari-hari, Tasya juga mendapat pakaian untuk dikenakan pada malam harinya. Gaun-gaun tipis yang bisa langsung sobek harus dipakai setiap malamnya. "Nona Tasya sudah selesai mandinya?" tanya pelayan. "Aku lapar." Karena ini memang sudah malam dan Tasya belum makan malam. "Biar saya ambilkan, Nona. Barusan Tuan Rangga pergi lagi. Dia akan kembali secepatnya." "Aku tidak boleh keluar?" tanya Tasya. "Lebih baik di dalam kamar saja." "Kalian pikir aku bisa lari ke mana dari dia?" Tasya jadi kesal. "Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah saja." Pelay

    Huling Na-update : 2025-04-01
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Terjerat

    "Apa kau mendengar sesuatu di dalam kamar mandi sana?" tanya pelayan pada rekannya. Temannya ini berdeham. Suara helaan napas dan teriakan terdengar dari dalam kamar mandi. Rangga dan Tasya ada di sana. Sudah pasti keduanya tengah melakukan hal-hal nikmat. "Cepat bersihkan kamar ini. Bisa jadi Tuan akan membawa wanita itu ke tempat tidur." "Pikiranmu sama sepertiku." Bergegas keduanya membereskan kamar ini termasuk mengganti seprainya secepat mungkin. Setelah itu, mereka keluar. Di dalam kamar mandi, Tasya tertunduk-tunduk karena ulah Rangga. Pria ini menarik rambutnya, mencengkeram leher dengan napas yang menderu."Kau tahu alasan kenapa aku tertarik padamu? Itu karena kau selalu berpura-pura berakting polos. Kau itu munafik. Tadinya kau menolak, tapi lihatlah dirimu sekarang. Lihat di cermin itu, kau menikmatinya." "Lakukan sepuasmu," ucap Tasya. "Dengan senang hati, Sayang. Setelah mandi bersama, kita lanjutkan di tempat tidur." Air dingin membasahi seluruh tubuh Tasya dan

    Huling Na-update : 2025-04-03
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 1 Terpaksa Jual Diri

    “Bayar utangmu kalau mau selamat!”“Bukan aku yang punya utang! Cari saja dia kalau kalian mau dilunasi, jangan menagihnya padaku!”“Juna itu suamimu, kan? Dia punya utang 500 juta padaku! Kalau bukan kau yang bayar, lalu siapa, hah?!”Ekspresi Tasya Prameswari mengeras mendengar itu. Ia berhenti mencoba menghalangi orang-orang yang mengacak-acak isi rumahnya atas perintah pria mengerikan di hadapannya saat ini.“Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan dia,” kata Tasya dingin. Teringat pengkhianatan suaminya.Bagaimana tidak? Ia ditipu mentah-mentah oleh pria itu!Tasya sebelumnya sudah berpacaran dengan Juna selama 3 tahun, hingga akhirnya mereka menikah. Sayangnya, Tasya tidak tahu apa yang ada di balik kata-kata manis suaminya itu.Belum malam pertama, Juna malah kabur dengan membawa uang serta perhiasannya.Ternyata pria itu punya utang sebesar 500 juta karena kalah judi. Sebagai jaminannya, ia melimpahkan utang itu kepada Tasya."Jangan membodohiku! Kau masihlah istri sah dar

    Huling Na-update : 2025-03-02
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 2 Dia Kembali

    “Biar aku yang bekerja.”Terserah saja dalam hati Tasya berkata demikian. Matanya mulai sayu, ia mengantuk dan keadaan tubuh ini bisa dibilang telah pasrah pada keadaan.Sementara itu, Rangga tersenyum. Ia menuntaskan diri dengan bergerak cepat hingga memuntahkan semua cairan kental dalam rahim Tasya. Napas pria itu naik turun. Ia masih terengah dalam tubuh berkeringat, meski kamar ini ada pendingin ruangan.Rangga memandang Tasya yang sudah terlelap. Ia puas karena berhasil mengambil keperawanan wanita di sampingnya ini. Namun, setengah dari dirinya merasa malam ini tidak ada gunanya.Pakaian yang berserakan segera diambil. Rangga memakai kembali bajunya, lalu mengambil cek dari saku jas. Ia menuliskan nominal uang yang telah disepakati."Uang mengubah segalanya," ucap Rangga. Karena cantik, ia menambahkan uang tip sebanyak 50 juta. Total harga malam ini 550 juta. Rangga juga berpesan agar Tasya meminum pil pencegah kehamilan ketika ia sudah bangun tidur nanti.Rangga segera keluar d

    Huling Na-update : 2025-03-02
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 3 Tak Jera

    Rangga Saputra, seorang CEO muda berusia 30 tahun yang merupakan pebisnis serta keturunan dari keluarga konglomerat. Dia dijuluki sebagai Titan Kapitalis. Ini karena Rangga mendominasi bisnis, keuangan, serta koneksi yang begitu luas. Ditambah dia dikaruniai fisik tampan.“Astaga!”Tasya memalingkan wajah, dan langsung pergi saat merasa pria itu melihat ke arahnya. Hatinya berkata jika pria itu adalah orang berbahaya. Tidak ada yang berjalan lancar. Tasya merasa kesialan terus saja menghampiri. Ini sudah 30 hari semenjak Juna kabur dari sisinya.Karena tidak mendapatkan apa-apa, Tasya segera pulang. Ia akan mencari pekerjaan lewat internet saja. Umurnya masih 25 tahun, ia masih punya kesempatan untuk membuat hidupnya menjadi lebih baik. Ya, buat apa diratapi lagi orang yang sudah pergi. Hidup terus berlanjut.Sesampainya di rumah, Tasya berbaring di atas tempat tidur kecil miliknya sembari mencari lorongan pekerjaan.Namun, tiba-tiba telinga Tasya mendengar suara langkah kaki karena

    Huling Na-update : 2025-03-02
  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bab 4 Jebakan

    Juna kembali ke rumah pada malam harinya. Ia tidak enak hati karena tidak memberi kabar pada istrinya ini, terlebih ingin meminta uang kepada Tasya. Bisa-bisa ia di usir dari rumah ini. Ia memandang istrinya. Dalam otaknya tercetus ide di luar nalar. Dari awal pernikahan, Juna belum menyentuh Tasya dan itu artinya, istrinya ini masih perawan. Keraguan masih berada dalam hati Juna. Ia tidak mungkin melakukan ini, tetapi bila uangnya tidak disetor, maka nyawanya bisa jadi taruhan. Toni pernah mengatakan kalau barang ini milik orang yang berkuasa dan memiliki bawahan yang bisa menghilangkan hidup seseorang. Harus dengan alasan apa Juna membujuk Tasya nanti. Ia dalam kebingungan sekarang. Tasya sudah baik padanya. Mereka juga sudah menjadi pasangan suami istri. Menjerumuskan istri ke pelukan pria lain bukankah keterlaluan? Ah! Juna menggaruk kepalanya. Tiba-tiba terasa pusing karena memikirkan masalah ini. "Ada apa? Sejak kembali kau diam saja," ucap Tasya. "Tidak apa-apa, Sayang. A

    Huling Na-update : 2025-03-02

Pinakabagong kabanata

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Terjerat

    "Apa kau mendengar sesuatu di dalam kamar mandi sana?" tanya pelayan pada rekannya. Temannya ini berdeham. Suara helaan napas dan teriakan terdengar dari dalam kamar mandi. Rangga dan Tasya ada di sana. Sudah pasti keduanya tengah melakukan hal-hal nikmat. "Cepat bersihkan kamar ini. Bisa jadi Tuan akan membawa wanita itu ke tempat tidur." "Pikiranmu sama sepertiku." Bergegas keduanya membereskan kamar ini termasuk mengganti seprainya secepat mungkin. Setelah itu, mereka keluar. Di dalam kamar mandi, Tasya tertunduk-tunduk karena ulah Rangga. Pria ini menarik rambutnya, mencengkeram leher dengan napas yang menderu."Kau tahu alasan kenapa aku tertarik padamu? Itu karena kau selalu berpura-pura berakting polos. Kau itu munafik. Tadinya kau menolak, tapi lihatlah dirimu sekarang. Lihat di cermin itu, kau menikmatinya." "Lakukan sepuasmu," ucap Tasya. "Dengan senang hati, Sayang. Setelah mandi bersama, kita lanjutkan di tempat tidur." Air dingin membasahi seluruh tubuh Tasya dan

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Terkuak

    Tanpa bisa menolak, Tasya mengikuti keinginan Rangga yang membawanya ke rumah itu lagi. Di mana Tasya dapat melihat dua pelayan yang sama kemarin lalu.Kali ini pun keduanya masih diperintahkan melayani seorang wanita yang dicap sebagai simpanan. Pakaian ini dilucuti, dibuang, digantikan dengan baju-baju dari merek ternama sesuai selera Rangga, pria yang pikirannya hanya pada aktivitas ranjang saja. Selain baju yang dipakai hari-hari, Tasya juga mendapat pakaian untuk dikenakan pada malam harinya. Gaun-gaun tipis yang bisa langsung sobek harus dipakai setiap malamnya. "Nona Tasya sudah selesai mandinya?" tanya pelayan. "Aku lapar." Karena ini memang sudah malam dan Tasya belum makan malam. "Biar saya ambilkan, Nona. Barusan Tuan Rangga pergi lagi. Dia akan kembali secepatnya." "Aku tidak boleh keluar?" tanya Tasya. "Lebih baik di dalam kamar saja." "Kalian pikir aku bisa lari ke mana dari dia?" Tasya jadi kesal. "Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah saja." Pelay

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Ditiduri Lagi

    Tubuh ini terasa berat, seperti ada yang menindih. Perlahan Tasya membuka matanya, dan betapa kagetnya ia mendapati Rangga sudah berada di atas tubuh ini.“Menyingkir! Kau mau apa?” Tasya berusaha bangkit dari tidurnya, tetapi tangannya ini terikat. Sejak kapan? Tasya sungguh tidak sadar, dan apa-apaan ini? Bajunya tersingkap, lalu celananya juga sudah melorot ke bawah. “Minggir!” teriak Tasya.“Waktu pertama kali, kau begitu pasrah. Kedua kalinya kau tidak sadarkan diri karena pengaruh obat. Sekarang, kau harusnya tidak perlu malu lagi. Aku sudah melihat dan merasakan tubuhmu berulang kali. Kenapa tidak kita nikmati saja siang ini, Sayang?” Rangga membelai wajah simpanannya ini.“Aku terpaksa melakukannya. Sama sekali aku tidak berniat menjual diriku padamu. Mengertilah.”“Kau di sini karena kesalahanmu sendiri dan suamimu juga mengizinkan. Sudah kubilang, kan, kalau kau tidak mau berada di bawahku, maka berikan aku uang 10 miliar.”“Kau memeras seorang wanita yang tidak tahu apa-apa

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Dikorbankan

    “Anda berdua, silakan ikut kami.” Dua orang penjaga mempersilakan Juna dan Tasya mengikuti mereka.“Aku sudah bilang kalau mereka tidak bisa berkutik,” ucap Juna, “jika atasanmu macam-macam, kita tinggal sebarkan videonya. Aku akan merekam setiap tindakannya itu. Kau tenang saja, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa padamu.”Tasya mengangguk. “Aku hanya ingin lepas dari dia.”“Kita lihat saja nanti.” Ini kesempatan, Juna akan meminta uang sebagai kompensasi kepada atasan perusahan ini karena telah berani menganggu istrinya.Penjaga mempersilakan keduanya masuk lift, lalu lantai yang familiar bagi Tasya ditekan. Jantung wanita itu berdetak kencang. Ada rasa takut serta gagal karena tahu jika Rangga bukan orang yang mudah dikalahkan.“Kau harus tenang,” ucap Juna seraya memegang tangan istrinya. Bersama Juna, barulah Tasya dapat merasakan ketenangan. Ia yakin setelah ini, Rangga tidak akan menganggunya lagi.Denting lift berbunyi, mereka keluar setelah pintu terbuka. Juna dan Tasya diarah

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Kejujuran Tasya

    Juna mengumpat karena mendapat telepon bernada ancaman dari istrinya. Bisa-bisanya Tasya meminta cerai bila ia tidak pulang sekarang. Padahal ia masih ingin bersenang-senang karena malam ini tidak ada pengantaran barang. Juna juga harus melepaskan pelukannya dari Mira, wanita yang kini menjadi pacarnya.“Hei, kau baru main sekali. Kenapa malah pulang?” tanya seorang pria yang merupakan teman judi Juna.“Benar, Sayang. Kau bilang ingin bersenang-senang di sini,” kata Mira seraya membelai pipi kekasihnya.“Aduh, Sayang. Aku juga ingin bermain denganmu, tapi istriku menyuruhku pulang.”“Kau begitu patuh padanya.” Mira cemberut karena Juna lebih memilih istrinya.“Jangan marah, Sayangku. Malam ini saja. Besok malam, kita senang-senang lagi.”“Aku marah.” Mira menjauh dari Juna. Melihat kekasih gelapnya yang tidak senang hati, Juna memberikan uangnya. “Aku tidak butuh.” Mira menolak.“Ambil saja buat kau pergi belanja. Besok, aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Kau harus mengerti, Mira.

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Ancaman

    Mobil memasuki kediaman pribadi Rangga di jalan Mercer. Ini disebut rumah kecil karena yang mendiaminya hanya Rangga serta beberapa pelayan sekaligus tempat untuk setiap permainan pria ini.Tasya dipersilakan masuk, meski wanita ini terkesan menolak. Tapi, dia tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah Rangga Saputra. Pria ini bisa saja menyakitinya lagi, bahkan menjebloskannya dalam penjara kembali. Tasya patuh mengikuti dua pelayan wanita yang mengiringinya masuk ke sebuah kamar nan luas.“Nona mandi dulu. 15 menit lagi, kami kembali,” ucap salah satu pelayan. Mereka langsung pergi. Di tempat tidur ada kimono serta pakaian dalam yang baru. Untuk yang satu ini, tanpa disuruh pun Tasya akan pergi mandi. Menginap di penjara sekaligus siksaan dari wanita paruh baya itu, ia harus membersihkan dirinya.15 menit kemudian, dua pelayan tadi kembali ke kamar dan kali ini membawa beberapa pakaian untuk Tasya pakai. Keduanya menyuruh Tasya duduk di meja rias, mereka membantu mengeringkan rambu

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Bebas Bersyarat

    Tasya terbatuk-batuk karena wanita itu kembali menendangnya hanya karena sepotong roti. Jika dia ingin memakannya, makan saja. Tasya harap roti itu beracun saking ia benci terhadap teman satu selnya.Ia kembali menahan lapar untuk pagi ini. Sampai makan siang tiba, Tasya diberi setengah makanan miliknya. Semua dikuasai oleh wanita rakus itu. Setidaknya dia masih berbaik hati dengan memberi setengah makanan.Bukan hanya makanan yang Tasya harapkan, tetapi ia perlu menghubungi suaminya. Ia perlu memberitahu Juna agar bisa membebaskannya dari sini. Untuk itu, ia butuh telepon.Tasya mengguncang sel penjara sekuat tenaga agar penjaga datang menghampirinya. Tidak peduli wanita tua itu kembali marah. Ini sudah sehari, kapan ia akan dibebaskan? Ia hanya melaporkan ketidakadilan, tidak mungkin ditahan sampai berbulan-bulan.“Hei! Bantu aku!” teriak Tasya. Berkali-kali sampai penjaga akhirnya muncul juga.“Kau bisa diam tidak?!” ucap sipir wanita, dengan wajah marahnya.“Mau sampai kapan kalia

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Di Penjara

    Rangga menarik tangan Tasya hingga tubuh keduanya saling membentur. "Mengundurkan diri? Kau ini sedang bermimpi, hah?""Lepas. Kau tidak berhak berbuat seperti ini padaku. Aku akan melaporkanmu ke pihak berwajib." "Silakan karena kau sendiri yang setuju menjadi simpananku.""Apa maksudmu?" Rangga menarik diri, bila Tasya tidak bisa menjaga keseimbangan, ia mungkin sudah jatuh. "Baca ini." Rangga menyodorkan selembar kertas, lalu Tasya menerimanya. "Kau secara sadar telah menandatanganinya." Kata demi kata Tasya baca, dan cermati. Matanya melotot, jantung Tasya berdegup kencang setelah mengetahui isi dari lembar putih yang ia pegang ini."Kau mencoba melakukan tipuan apa? Aku tidak pernah berniat menjadi partner ranjangmu." Tasya merobek kertas itu. "Orang sepertimu tahunya menindas wanita. Apa kau masih waras? Aku ini wanita bersuami." "Memangnya kenapa? Aku tidak peduli. Kau sudah menandatangani surat itu dan mulai hari hingga seterusnya, kau milikku." "Hanya dalam mimpimu. Ke

  • Tolong Lepaskan Aku, Tuan CEO!   Melancarkan Aksi

    Hari yang melelahkan telah Tasya lewati. Ia kembali ke rumah dan mendapati Juna. Syukurlah, paling tidak ia bisa bersandar di pelukan suaminya itu.“Wajahmu kusut. Apa ada masalah?” tanya Juna.Tasya menggeleng. “Ini hari pertama kerja dan aku cukup sibuk. Kamu belum makan, kan? Kita beli aja, ya? Aku capek buat masak.”“Pakai uangmu dulu. Atasan belum membayar komisiku."“Uangmu habis?” tanya Tasya.“Kan semua uangku kukasih kamu.” Juna berkata begini karena Tasya tahunya gaji suaminya ini hanya 3 juta saja.“Ya, udah. Sama beliin air mineral.” Tasya memberi beberapa lembar uang kepada Juna.“Aku pergi beli dulu.”Sebenarnya Tasya punya sedikit trauma pada Juna yang sempat melarikan uang serta perhiasan miliknya. Itu sebabnya, ia sangat sensitif bila suaminya itu membahas soal uang. Seakan-akan Juna akan mengambil kembali hak yang bukan miliknya.Pikiran Tasya teralih pada kejadian di kantor. Besok, ia tidak ingin bekerja. Ia juga ragu membicarakan ini kepada Juna. Apa kata suaminya

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status