“El!”
Harry buru-buru menyusul Elok yang berjalan tergesa masuk ke dalam rumah. Sejak Elok meninggalkan restoran tempat mereka bertemu siang tadi, wanita itu sama sekali tidak mau menerima panggilan dari Harry. Semua chat yang layangkan, tidak satu pun dibaca oleh Elok.
Harry juga sudah menghubungi asisten sang istri berulang kali, tapi hasilnya pun serupa. Kiya bahkan dengan berani mereject panggilan dari Harry, dan hanya membaca chat yang ia kirimkan, tanpa membalasnya. Benar-benar asisten pribadi yang sangat kurang ajar, pikir Harry,
Andai Kiya adalah asistennya, maka sudah pasti akan Harry pecat detik itu juga.
“El—”
“Bibiiik!” Elok memanggil asisten rumah tangga, yang dulu ia bawa dari rumah orangtuanya. Seorang wanita paruh baya, yang diberi kepercayaan untuk mengatur semua hal yang ada di dalam rumah.
Langkah Elok berhenti tepat di depan mulut tangga, ketika tubuh besar Harry menghalangi jalannya menuju dapur. Kedua tangan pria itu terbentang luas, agar bisa bicara dengan Elok tentang beberapa hal.
“El, ayo kita bicara.”
Elok mengangkat wajah getir. Berusaha untuk tetap menguasai emosinya, dan menyelesaikan masalah dengan elegan. Elok bukan orang yang suka membuat keributan, dan lebih memilih menyelesaikan semua dalam diam. “Bicara dengan pengacaraku, Mas.”
“Pengacara?” Harry meraih siku Elok, tapi tidak bisa berbuat apa-apa meskipun emosinya kini tengah memuncak. Mereka belum membahas semua hal secara empat mata, tapi Elok sudah menghubungi pengacara. “Buat apa aku bicara dengan pengacaramu?”
“Jangan pura-pura bodoh.”
“El—”
“Maaf.” Ihay, asisten rumah tangga yang dipanggil Elok terpaku di tempat. Merasa serba salah, ketika melihat ketegangan di wajah kedua majikannya.
“Kasih di mana, Bik?” Elok menarik tangannya hingga terlepas dari Harry.
Ihay melayangkan pandangan pada Harry untuk beberapa detik sebelum menjawab Elok. “Non Kasih dijemput Danang. Mas Harry yang—”
“Tinggalkan kami, Bik,” putus Harry mengibas tangan kanannya untuk mengusir Ihay, dan pandangannya tetap tertuju pada sang istri. “Aku yang minta Danang jemput Kasih. Biar dia nginap di rumah papi malam ini.”
“Jangan pergi, Bik,” titah Elok ketika Ihay baru hendak mengayun kakinya untuk pergi. “Tolong naik ke kamar saya, dan masukkan semua baju-baju saya ke dalam koper. Kalau sudah selesai, tolong bajunya Kasih juga.”
“Baik, Mbak.” Jelas saja Ihay akan lebih menuruti perintah Elok daripada Harry. Sedari ia muda, Ihay sudah bekerja dengan keluarga Mahardika yang sudah terlampau baik dengan dirinya. Karena itu, tanpa ragu Ihay melangkah menaiki tangga dan tidak memedulikan Harry sama sekali. Satu yang Ihay yakini, Elok tidak pernah mengeluarkan amarahnya jika seseorang tidak menyakitin wanita itu lebih dulu. Itu berarti, Harry sudah berbuat sesuatu hingga membuat Elok bersikap seperti sekarang.
“Kamu mau pergi dari sini?” Harry tidak percaya jika Elok berani melakukan hal tersebut. Mereka sama-sama memiliki posisi penting di perusahaan masing-masing. Jika keduanya berpisah, lambat laun media pasti akan mengendus hal tersebut dan menjadi pemberitaan. “Apa kata orang kalau kamu keluar dari rumah ini? Apa, kata media nantinya?”
“Bukan urusanku.”
“Pikirkan perasaan Kasih, kalau begitu.”
Elok melengos. Berlari menaiki anak tangga tanpa mau peduli dengan perkataan Harry. Ia sudah sangat muak, karena Harry telah bermain di belakanganya selama dua tahun ini. Bagaimana bisa Elok menaruh kepercayaan pada Harry setelah semua yang dilakukan pria itu kepadanya.
Saat ini, Elok hanya ingin menenangkan diri. Keluar dari rumah dan memikirkan semua hal yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Belum lagi, posisinya di perusahaan saat ini sedang terancam karena Restu.
“El.” Harry mengacak rambutnya sebentar sambil menghela kasar. Setelahnya, Harry kembali menyusul Elok yang baru menginjakkan kaki di lantai dua dengan segera. “El, apa kamu paham kalau ada yang harus kita bicarakan?”
“Nanti,” jawab Elok mendorong pintu kamarnya yang tidak terkunci, karena ada Ihay tengah membereskan pakaiannya. “Kamu tahu aku, Mas. Aku nggak bisa bicara kalau lagi emosi seperti sekarang. Lebih baik kamu kasih aku waktu, setelah itu baru kita bicara baik-baik.”
“Bicara baik-baik?” sambar Harry mempertanyakan kembali ucapan Elok. “Dengan pengacaramu?”
“Mungkin.” Elok masuk ke dalam walk in closet dan meminta Ihay pergi untuk membereskan pakaian putrinya. Sementara itu, Elok sendiri yang akan melanjutkan pekerjaan Ihay barusan. “Lusa kita terbang ke Singapur. Kiya sudah bikin janji sama dokter Cheng. Aku mau kamu—”
“ELOK!” bentak Harry seketika membuat istrinya berjengit kaget. “Kita nggak akan pergi ke Singapur, sampai masalah ini selesai! Dengarkan aku, dan jangan dipotong.”
Harry hendak meraih siku Elok yang seketika tampak pias karena bentakannya. Namun, wanita itu segera menghindar sembari memberi gelengan.
“El, maaf.” Harry akhirnya menjaga jarak, agar tidak membuat Elok semakin menjauh dan takut kepadanya. “Aku minta maaf. Tapi, ada yang harus kamu dengar lebih dulu sebelum memutuskan semuanya. Hubunganku sama Sandra sudah selesai sebulan yang lalu. Dan sekarang, kami sudah nggak ada—”
“Dua tahun!” Elok menatap Harry dengan kedua mata yang mengembun. Mencoba menahan tangis, yang sudah terasa sesak di dalam dada. Selama ini, Elok memendamnya seorang diri dan berusaha bersikap setenang mungkin. “Sudah dua tahun kamu selingkuh di belakangku dan sekarang, dengan gampangnya kamu minta maaf? Terus? Kamu mau aku percaya kalau hubunganmu dengan Sandra sudah selesai?”
“Aku …” Harry berusaha mendekat karena Elok sudah menitikkan air matanya. Namun, wanita itu lagi-lagi menghindar dan tetap menjaga jarak dengannya. “El, that was a mistake.”
“No!” sanggah Elok dengan cepat. Secepat ia menghapus tetesan air mata yang membasahi wajahnya. Yang diperlukan Elok saat ini hanyalah menenangkan diri. Jika Harry memang tidak ingin pergi ke Singapura bersamanya, maka Elok akan tetap pergi seorang diri. “That wasn’t a mistake. Cheating IS NOT a mistake! it’s a choice! Dan kamu, sudah memilih untuk selingkuh, bukannya memilih untuk setia dalam pernikahan kita.”
“Dan aku sudah selesai dengan Sandra, El.” Harry tetap bersikukuh dengan keyakinannya. “Kami sudah nggak ada hubungan lagi. Selesai! Kamu dengar itu? Se-le-sai! So, please, El, kasih aku kesempatan untuk memper—”
“Nggak semudah itu, Mas,” putus Elok sudah tidak ingin berlama-lama bersama Harry. Ia keluar dengan cepat menuju kamar Kasih. “Bik, kalau sudah selesai di sini, tolong baju-baju saya yang tadi, ya. Kalau sudah semua, tolong kirimkan koper-koper itu ke rumah papa saya, langsung malam ini juga.”
“Baik, Mbak,” angguk Ihay menurut saja. Jika memang terjadi sesuatu, Ihay mungkin juga akan menetap di rumah majikan lamanya.
“El!” Harry kembali menghalangi langkah Elok di ambang pintu kamar putri mereka. “Sebelum kamu ambil keputusan, pikirkan lagi anak kita.”
“Apa kamu mikirin Kasih, waktu kamu memutuskan untuk selingkuh?” desis Elok sambil mendorong tubuh Harry sekuat tenaga, lalu pergi dengan cepat menuruni tangga.
“Ini sudah malam.” Harry bergegas menyusul Elok dan meraih lengan sang istri yang baru saja menjejakkan kakinya di lantai satu. “Mau pergi ke mana kamu?”
“Lepas, atau aku bakal urus surat perceraian kita besok, dan aku nggak akan berpikir dua kali lagi untuk itu!”
“Bisa … saya bicara empat mata dengan pak Raka.”Pagi-pagi sekali, Elok sudah bertandang ke rumah sakit dengan terburu. Jam besuk rumah sakit memang belumlah tiba. Namun, ada keadaan darurat yang harus segera Elok bicarakan dengan pemilik Antariksa, yang sudah terbaring di ranjang pasien selama tiga hari.Setelah hampir semalaman memikirkan beberapa hal di kamar hotel tempatnya menginap, Elok akhirnya mengambil keputusan. Untuk masalah pekerjaan, Elok haruslah berkonsultasi terlebih dahulu dan membicarakannya dengan Raka, yakni pendiri dan pemilik Antariksa. Sementara untuk masalah rumah tangga, Elok akan menemui keluarga besar Harry terlebih dulu.Yang Elok tahu, sejak kemarin Harry telah mengirim Kasih ke rumah orangtuanya. Untuk itu, Elok bisa merasa tenang karena putrinya juga berada di tempat yang tidak perlu dikhawatirkan. Semalam, Harry juga tidak bisa mencegah Elok meninggalkan rumah mereka, karena ancaman yang dilontarkannya pada sang suami.Tidak ada seorang pun yang tahu,
Elok menarik napas panjang ketika sudah berada di depan kediaman sang mertua. Pagi-pagi sekali, tepatnya sebelum Elok pergi ke rumah sakit untuk berbicara dengan Raka, ia menghubungi kedua mertuanya guna membahas sesuatu. Elok juga tidak lupa mengirimkan sebuah chat pada Harry, agar datang ke rumah orangtuanya tepat jam sembilan pagi itu.Namun, ternyata langkah Elok sudah diantisipasi terlebih dahulu oleh Harry. Putri semata wayang mereka yang seharusnya berada di sekolah, kini masih berada di kediaman Lukito. Tampak sehat, ceria, dan tidak terlihat sakit sama sekali, sehingga mengharuskan Kasih tidak masuk sekolah.“Mamaa.” Kasih segera berlari menghampiri Elok yang baru saja memasuki ruang keluarga. Kedua mertuanya sudah berada di sana, berikut dengan Harry yang memberi senyum hangat seolah tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka.“Kasih?” Elok mengusap kepala putrinya yang sudah memeluk separuh bagian bawah tubuhnya. Tidak lupa, Elok menempelkan punggung tangan, lalu telap
“Kasih mau adek cewek, apa cowok?”Pertanyaan tersebut, Harry cetuskan ketika mereka bertiga beristirahat untuk makan siang. Ia harus memanfaatkan waktu yang ada saat ini, untuk bisa mengambil hati sang istri. Bagaimanapun juga, mereka tidak boleh bercerai karena akan ada banyak hal yang dipertaruhkan nantinya.“Cowok!” jawab Kasih dengan pasti. “Biar kayak Mami sama om Gilang! Rame!”Saat melihat Elok meletakkan tangan di atas meja, Harry tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Dengan cepat, Harry meraih tangan kanan Elok yang duduk di depannya dan menggenggamnya erat. Harry tahu, Elok tidak akan menolaknya kali ini karena mereka tengah berada di depan Kasih.“Tapi kalau nanti adeknya cewek, gimana?” lanjut Harry guna mencairkan suasana. Sejak mereka meninggalkan kediaman Lukito, Elok hanya mau membuka mulut untuk menanggapi Kasih. Namun, Elok lebih memilih untuk berdiam diri, jika Harry yang melempar obrolan di tengah-tengah mereka.“Yaaa …” Kasih menggulirkan bola matanya untuk berpikir
“Yang saya tahu, keluarga Mahardika sudah punya pengacara khusus untuk mengurus semua hal terkait masalah yang ada di circle kalian.”Lex menyilang kaki dengan santai pada arm chairnya. Menatap Elok dengan selidik, dari ujung rambut hingga kaki. Wanita yang selalu terlihat elegan, tapi tegas itu tidak akan mengambil keputusan ceroboh dalam hal apapun. Lex memang tidak pernah mengenal Elok secara pribadi. Namun, dari pemberitaan yang terkadang lewat saat berselancar, cukup bisa membuat Lex bisa menilai wanita itu.Hanya satu hal yang tidak diketahui Lex saat ini. Yaitu, untuk apa seorang Elok sampai ingin menemuinya seperti sekarang.“Babe baru pensiun, dan saya masih sangsi kalau harus konsultasi dengan anaknya.”Lex mengangguk paham, karena alasan Elok cukup masuk akal. Beberapa waktu yang lalu, salah satu pengacara senior yang sangat disegani memang baru saja mengumumkan pengunduran dirinya dari hiruk pikuk dunia hukum. Pria paruh baya itu beralasan, ingin beristirahat dan menikmati
“Bu El!”Kiya membuang napas gusar saat melihat Elok baru keluar dari lift. Berlari tergesa, menghampiri Elok yang sudah berjalan cepat menuju ruangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore hari, tapi wanita itu baru muncul di kantor. Apa sebenarnya yang terjadi selama dua hari ini?Kiya yang baru saja keluar dari kamar kecil itu pun segera menyamakan langkah dengan Elok.“Sore Kiya Sayang,” sapa Elok tetap mengayunkan kaki dengan tergesa dan menatap sekilas pada asistennya. “Sorry, hapeku mati dan chargernya …” Elok merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel yang sudah kehabisan daya. Tanpa berhenti melangkah, Elok memberikan benda perseginya pada Kiya. “Tolong di charge.”Kiya menerima ponsel tersebut dengan anggukan. “Ada pak Restu di ruangan Ibu. Dia sudah ada di sana dari jam dua. Dia juga minta semua data karyawan dengan level manajer ke atas dan masa jabatannya. Jumlah karyawan per divisi, karyawan magang, karyawan kontrak, dan karyawan tetap.”Elok terpaksa menghenti
Seketika itu juga, Elok tergelak dengan perasaan miris mendengar pernyataan Restu. Tawa hambar Elok tersebut, sampai membuat sudut matanya berair. Pantas saja Harry berselingkuh dengan gadis yang jauh lebih muda darinya. Ternyata, tubuh Elok memang sudah tidak menarik lagi di mata pria. Bahkan, Restu dengan jelas-jelas mengikrarkan tidak akan tertarik pada Elok meskipun ia menanggalkan seluruh pakaiannya.“Ya! Aku percaya.” Elok berusaha menutupi luka hatinya atas pernyataan Restu barusan. Untuk menutupi guratan pahit di wajahnya, Elok melengos pergi menuju kursi kebesarannya lalu duduk di sana.Bersamaan dengan hal tersebut, Kiya mengetuk pintu dan membukanya setelah Elok mempersilakan. Dengan membawa nampan berisi secangkir kopi, Kiya mengangguk sopan sekilas pada Restu. Melewati pria itu menuju meja kerja Elok, kemudian meletakkan secangkir kopi yang diminta.“Ada lagi yang Ibu perlukan?” tanya Kiya berdiri sebentar di sudut meja.Elok menggeleng sambil menatap Kiya. “Pergilah, dan
Harry menutup kasar pintu mobilnya, lalu menghela. Menatap pekarangan rumah kediaman Lukito dengan seksama. Sudah tidak ada mobil yang terparkir di depan, dan suasana rumah pun sudah cenderung sepi. Jelas saja, karena waktu saat ini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di jam segini, kedua orangtuanya biasanya sudah masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk beristirahat.Namun, untuk apa sang papi memintanya untuk datang ke rumah di malam hari seperti ini?Kepala Harry saja sudah sangat dipusingkan dengan masalah Elok yang tidak bisa dihubungi sama sekali. Ditambah, Hendra hanya menelepon dan menyuruh Harry datang ke rumah tanpa memberi tahu tujuannya.Tidak seperti biasanya, dan sangat mencurigakan.Tanpa ingin didera rasa penasaran, Harry lantas bergegas masuk ke dalam. Jantung Harry seolah hendak melompat dari rongganya ketika melihat Elok ada di ruang keluarga. Harry yakin sekali tidak ada mobil Elok terparkir di depan, tapi istrinya itu ternyata sudah duduk manis di dalam sana. Mu
Elok berjalan gontai memasuki kediaman Mahardika. Setelah seharian penuh mengabaikan panggilan dari kedua orangtuanya, akhirnya Elok mendatangi rumah tersebut. Perasaan yang menggumpal di dada Elok saat ini sungguh tidak dapat diungkapkan. Di satu sisi, Elok tidak ingin kembali bersama Harry karena perselingkuhan yang dilakukan suaminya itu. Namun, melihat dari perspektif luas dan mempertimbangkan semua hal, Elok seakan ingin menyerah dengan keadaan.Ada perasaan dan perkembangan Kasih yang harus Elok jaga jika hendak menggugat Harry di pengadilan agama. Ditambah, permohonan Joana yang meminta Elok memikirkan lagi tentang semua hal. Sampai detik ini pun, Elok masih belum bisa membayangkan hidup sebagai seorang janda untuk ke depannya. Namun, sudut hati Elok juga belum bisa menerima Harry kembali dengan semua kesalahan pria itu.“Pap … Papa.” Elok tidak jadi mengayunkan langkah menaiki anak tangga, ketika melihat sang papa berada tepat di ujung tangga lantai dua. Waktu memang sudah san
Haluu Mba beb tersaiank … Saia langsung aja umumin daftar penerima koin GN untuk lima top fans pemberi gems terbanyak The Real CEO, yaaa : Amy : 1.000 koin GN + pulsa 200rb Call me Jingga : 750 koin GN + pulsa 150 rb LiaKim?? : 500 koin GN + pulsa 100 rb Tralala : 350 koin GN + pulsa 50 rb NuNa : 200 koin Gn + pulsa 25 rb Untuk nama yang saia tulis di atas, bisa klaim koin GN dengan screenshoot ID dan kirim melalui DM Igeeh @kanietha_ . Jangan lupa follow saia duluuuh .... Saia tunggu konfirmasi sampai hari rabu, 29 maret 2023, ya, jadi, saia bisa setor datanya hari kamis ke pihak GN. Tapi, kalau sudah terkumpul semua sebelum itu, bisa langsung saia setor secepatnya. Daaan, kiss banyak-banyak atas dukungan, juga atensinya untuk Mas Triplex dan Mba Elok …. Kissseeess …..
Kasih baru saja menuruni tangga rumah dengan seragam olah raga, ketika ia mendengar suara yang belakangan ini sungguh menyayat hati. Sudah semingguan ini, sang mama hampir tidak bisa melakukan kegiatan apapun karena selalu saja muntah-muntah. Awalnya, Kasih sangat gembira ketika mengetahui akan mendapatkan seorang adik lagi. Namun, setelah itu Kasih sungguh tidak tega saat melihat sang mama lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk berbaring. Tidak seperti kehamilan adik pertamanya saat itu, yang tidak pernah ada drama muntah-muntah dan lemas seperti sekarang. “Mama, kenapa nggak di kamar aja?” Kasih segera menghampiri Elok yang menunduk di wastafel. Wajah sang mama pucat, dan sangat terlihat lelah. “Mama bosan di kamar,” jawab Lex yang tengah menggendong balita berusia dua tahun di tangan kanannya. Sementara satu tangan lagi, sibuk mengusap tengkuk sang istri yang belum memakan makanan apapun sedari tadi. “Nanti Ayah ke sekolah, mau ngurus antar jemput sekolah Kakak. Nggak pap
“Hei!” Elok menepuk bahu Gilang yang sejak tadi duduk diam, sambil memandang ke arah halaman depan kediaman Mahardika. Ada Kasih, Kiya, dan beberapa orang dari Event Organizer yang bernaung di bawah Gilang, tengah menyelesaikan dekorasi pesta kecil yang sebentar lagi akan adakan dengan amat sederhana. Hanya dihadiri keluarga inti, tanpa mengundang orang luar sama sekali. Pesta kecil usulan Kasih, yang lagi-lagi langsung disetujui oleh Lex tanpa harus berpikir dua kali. Kasih menginginkan sebuah pesta kejutan, untuk mengetahui jenis kelamin sang adik yang akan lahir tiga bulan lagi. Usut punya usut, ternyata ide tersebut Kasih dapatkan dari Bening saat suatu ketika Elok sempat telat menjemput di sekolah. Kedua orang itu berbicara panjang lebar, sampai Bening mengusulkan untuk membuat pesta kecil yang sudah sering dilakukan para kalangan artis atau pengusaha di ibukota. “Kalau suka, dilamar,” ujar Elok kemudian duduk pada kursi besi yang berada di teras. Tepat bersebelahan dengan Gilan
Bersyukur dan berterima kasih. Dua hal itu tidak pernah lepas diucapkan Elok setiap hari, atas kesempatan kedua yang sudah Tuhan berikan. Di antara masalah yang datang bertubi padanya kala itu, Elok masih memiliki keluarga dan banyak sahabat yang bisa dipercaya. Mereka sudah membantu Elok hingga bisa sampai di titik sekarang. Yaaa, walaupun ada yang harus ditukar dan dikorbankan, tetapi hasilnya sangat sepadan. “Jadi, misal nanti adeknya yang lahir cowok, Kasih harus sayang juga.” Sedari awal, Elok harus menjelaskan hal tersebut pada putrinya. Mau apapun jenis kelamin sang adik nanti, Kasih tetap harus bersikap baik karena mereka adalah saudara dan memiliki ibu yang sama. Tidak hanya itu sebenarnya, Kasih juga harus berbuat baik kepada semua orang, tidak terkecuali dan tidak boleh pilih kasih. “Kan, enak kalau punya adek cowok. Nanti kalau sudah besar, ada yang jagain Kasih.” Kasih bersila dan bersedekap sambil menatap perut sang mama yang duduk di tepi ranjangnya. Sebenarnya, saat
“Mas …” “Ya?” “Kenapa di dalam tadi lebih banyak diamnya?” Bila Elok perhatikan lagi, Lex lebih banyak diam sejak mereka dalam perjalanan ke rumah sakit. Pada dasarnya Lex juga bukan pria yang banyak bicara, tetapi, Elok merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran suaminya itu. “Apa ada masalah di kantor?” Lex mengeratkan tautan jemari mereka yang ada di atas pahanya. Menatap counter apotek, dari kursi tunggu yang mereka duduki saat ini. Ada banyak perasaan yang tidak bisa Lex urai, karena mengingat masa lalunya. Karena itulah, selama ia dan Elok berada di ruang periksa, Lex hanya mendengarkan semua perkataan dokter dengan seksama. Déjà vu. Ada rasa takjub dan bahagia yang sama, selama Lex berada di ruang periksa bersama Elok. Melihat layar hitam putih dengan sebuah kantung janin berusia lima minggu, sungguh membuat Lex tidak bisa berkata-kata. “Usia kehamilan almarhum istriku juga lima minggu waktu kami pertama periksa.” Kalimat itu muncul begitu saja dari mulut Lex. Ada hal yang
“Kalau lantainya ada tiga, bisa bikinin nggak, Om?” Sedari tadi, Kasih hanya menempel pada Aga. Ia melihat pria mencorat-coret desain interior rumah, yang rencananya akan direnovasi dalam waktu dekat.Aga lantas tertawa menatap Lex. Bagi Aga, tidak ada yang tidak mungkin. Hanya tinggal menunggu persetujuan pemilik rumah, barulah ia bisa mengerjakannya. “Gimana, Mas? Tiga lantai?”“Tapi dikasih lift, Om,” sambung Kasih semakin membuat Aga tertawa keras. “Kan, capek, kalau naik tangga dari lantai satu sampai atas.”“Sayang.” Elok meletakkan nampan berisi tiga buah mangkok es campur di atas meja, lalu menatanya satu per satu. “Rumah tiga lantai itu terlalu besar.”“Kan, biar opa sama oma nanti tinggal di rumah kita.” Kasih menggeleng saat melihat es campur yang disajikan Elok. “Terus, ada adek-adekku juga nanti, kan, banyak.”“Banyak?” Lagi-lagi Aga tertawa mendengar kepolosan Kasih. “Memangnya, Kasih mau adek berapa?”Kasih mengulurkan tangan kanannya pada Aga, dan membuka lebar telapak
“Sayang, A …” Lex kembali menutup mulut, saat ada dua orang perempuan yang kompak memberi tatapan tanya padanya. Tadinya, Lex mengira Kasih sedang berada di kamarnya. Namun, saat Lex baru saja keluar kamar setelah mandi, gadis kecil itu ternyata sedang berada di dapur bersama Elok. Kedua tangan Kasih berada di dalam sebuah mangkok besar dengan berlumur tepung. Rupanya, gadis itu sedang “membantu” Elok membuat makan malam.“Ayah manggil aku? Atau, Mama?” tanya Kasih kembali meremas-remas ayam yang sudah ia lumuri adonan tepung.“Mama!” Lex menunjuk Elok yang tengah mengaduk sesuatu di panci. Sungguh sebuah pemandangan hangat yang tidak pernah Lex lihat seumur hidupnya, dan ini sangat luar biasa. Lex membayangkan, apa jadinya bila ia tetap bersikukuh dengan kesendirian, dan hanya fokus pada rasa kehilangan yang selalu menggerogoti jiwa. Mungkin, Lex tidak akan bisa berada di situasi seperti sekarang.“Kenapa, Yah?” tanya Elok lalu mematikan kompor di hadapan. Namun, tetap membiarkan tun
Lex terdiam melihat kantong belanjaan yang baru saja ia letakkan di kitchen island. Setelah sekian lama hidup menyendiri, ini kali pertama Lex melihat barang belanjaan yang sangat banyak ada di tempatnya. “Aku rasa, kita harus pindah.” Lex mengeluarkan satu per satu barang belanjaan dari kantong, lalu meletakkannya di kitchen island. Sementara istrinya, sedang berjongkok di depan lemari pendingin untuk meletakkan beberapa minuman kemasan di dalam sana. “Kenapa?” Elok tidak menoleh, agar bisa membereskan semua barang belanjaan yang masih ada di kitchen island dengan cepat. “Kamar Kasih sepertinya kurang besar dengan boneka yang sebanyak itu.” Lex pernah membawa Kasih yang tertidur, ke kamar gadis itu di kediaman Mahardika. Namun, Lex tidak memperhatikan gadis kecil itu ternyata memiliki boneka yang begitu banyak di kamarnya. “Mas, jangan manjain Kasih,” pinta Elok memang harus sedikit lebih tegas pada Lex. Pria itu sepertinya sama sekali tidak bisa menolak permintaan Kasih. Sementar
“Mas?” Elok menoleh ke arah jendela saat tidak mendapati Lex berada di sampingnya. Masih terlihat gelap. Belum tampak bias cahaya yang menyelinap di antara celahnya. Elok melihat ke arah nakas. Jam digital yang berada di atasnya menunjukkan sudah menunjukkan pukul 04.58. Detik itu juga, Elok mengumpat. Segera bangkit dari tempat tidur, lalu berlari menuju kamar mandi. Elok mengambil bathrobe dan segera membalut tubuhnya seraya berjalan cepat keluar kamar. “Pagi, Mas!” Elok sempat terkejut saat mendapati Lex sudah berkutat di dapur. Entah apa yang dilakukan suaminya itu, tetapi Elok tidak bisa menghampiri Lex lebih dulu. Ada Kasih yang harus dibangunkan, agar tidak kesiangan berangkat ke sekolah. “Pa …” balasan Lex terhenti karena Elok baru saja tenggelam di kamar Kasih. Tidak terlalu penasaran dengan hal yang dilakukan Elok di kamar putrinya, Lex kembali melanjutkan membakar rotinya di atas wajan anti lengket. Tidak sampai lima menit berlalu, Elok kembali keluar dari kamar Kas