Tian meraih cangkir yang berisi lemon tea pesanannya, setelah itu dia meminumnya sedikit.âAku Cuma tidak ingin mengingkari janjiku sama Celine,â kata Nezia lagi. âSeharusnya kamu mengerti kenapa aku terus berusaha untuk membujuk kamu ....ââTermasuk ingin membuatku tidak sadarkan diri menggunakan obat tidur?â tebak Tian sembari meletakkan cangkirnya di atas meja.Nezia menatap Tian, tapi tidak membantah ataupun membenarkan.âAku tidak tahu kenapa kamu harus terbebani oleh permintaan Celine yang menurutku itu tidaklah perlu,â ucap Tian lagi. âAku pikir apa yang terjadi antara aku sama Celine itu sudah selesai, dia tidak perlu mengatur masa depankuâapalagi kamu, stop berusaha menjebakku dengan obat tidur itu.ââTian, aku ....ââKamu berusaha membuatku tidak sadar untuk memanfaatkan keadaan itu kan?â tanya Tian menyela. âSupaya kamu bisa menyalahgunakan situasi itu untuk membuatku terpaksa menerima kamu, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan menggunakan segala cara untuk
Leandra mendengarkan penjelasan Tian dengan ekspresi tidak percaya.âSebentar, bukankah permintaan mantan kekasih Bapak itu adalah tentang pendamping yang dia pilihkan sebagai penggantinya?âTian mengangguk kalem.âPendamping yang ditunjuk itu adalah Nezia,â katanya tenang. âKarena dia sahabat Celine, jadi begitulah ....âLeandra tambah semakin tak percaya rasanya, tidak menyangka kalau ternyata Nezia akan melakukan segala cara demi mengabulkan permintaan terakhir sang sahabat.âKenapa Bapak tidak menerima Bu Nezia?â tanya Leandra ingin tahu. âMaksud saya ... dia tidak perlu menggunakan segala cara seperti ini seandainya Bapak menerima Bu Nezia.âTian menggeleng.âSaya sudah tegaskan di awal kalau saya bukan barang, paham?â tukasnya. âSaya dioper ke orang lain setelah Celine pergi, memangnya itu adil?âLeandra menarik napas.âYa ... Bapak punya hak untuk menerima atau bahkan menolak,â katanya sependapat. âTapi tidak ada salahnya kalauâini hanya seandainya, misal Bapak mau men
Tian terdiam cukup lama mendengar penuturan Leandra.âSemoga Bapak tidak tersinggung dengan semua ucapan saya,â ujar Leandra. âSaya begini juga ... karena memikirkan masa depan Bapak yang lebih layak dihabiskan bersama orang yang tepat.âLeandra menarik napas dalam-dalam, berusaha menyadarkan dirinya bahwa dia tidak bisa lagi egois setelah tahu kekurangan yang ada pada dirinya. Tian memang bukan calon suami yang buruk, tetapi dia tidak akan tega membiarkannya hidup tanpa penerus generasi.âSatu hal yang kamu juga harus tahu,â ucap Tian sebelum pergi. âMasa depan itu misteri.âHati Leandra sesak bagaikan terimpit sebongkah batu besar ketika Tian menatapnya untuk terakhir kali sebelum pergi.Kenapa hati aku rasanya sakit sekali ya, pikir Leandra ketika dia tiba di kamar. Bahkan rasanya lebih sakit jika dibandingkan saat dia dikhianati Rendra.Sementara itu di kediaman orang tua Rendra ....âAku kan sudah cuti dari kantor, jadi kalau aku mau beli sesuatu harus pakai uang kamu.â Si
Leandra hampir tidak pernah lagi melihat Tian mampir ke klinik sejak pembicaraan mereka yang terakhir, dia bertanya-tanya sendiri kira-kira apa penyebab sang bos tidak muncul.Untuk menghindari Nezia, atau justru Leandra?Memangnya siapa aku, batin Leandra seraya menghela napas panjang.Dia bukan tidak merasa bersalah karena telah menolak permintaan Tian, tapi hati kecilnya melarang demi kebahagiaan Tian itu sendiri.Leandra trauma dengan pernikahan sebelumnya, dia tidak ingin lagi mengalami pedihnya disudutkan untuk sesuatu yang di luar kuasanya. Karena itu dengan sangat terpaksa di menolak pinangan Tian, bahkan pasangan suami istri yang muncul lebih dulu untuk melamarnya.âTante!â âEh, kenapa ini?â Leandra langsung memeluk Ivana begitu tantenya membuka pintu.âNggak apa-apa, Tante ...â ucap Leandra sambil melepas pelukannya. âKangen.âIvana geleng-geleng kepala dan menyuruh keponakannya untuk masuk.âKamu kapan nengok orang tua kamu?â tanya Ivana sambil duduk di kursi de
âAku kenapa nggak minta tolong saja sama Devi, ya?â batin Leandra dalam hati ketika dia sedang berdiri di depan klinik menunggu ojek datang. âMalas banget bertemu sama Silvi.âKetika ojek yang dipesan Leandra datang, dia tidak memiliki pilihan lain dan segera naik untuk mengantarkan pesanan Silvi ke rumah Rendra.âIni uangnya, tunggu sebentar. Nanti saya tambah ongkosnya,â pinta Leandra sambil turun dari motor dan segera masuk ke halaman rumah mantan mertuanya yang terbuka lebar.âPermisi!â ucap Leandra dengan nada formal. âPermisi, paket!âKondisi rumah saat itu dalam keadaan sepi dan tidak tampak seorangpun.âPermisi, Bu Silvi? Bu Widi? Aku mau antar paket!â seru Leandra lagi.Tidak berapa lama kemudian, Silvi muncul dengan wajah mengantuk seraya meletakkan tangan di atas perutnya.âVi, ada paket!â kata Leandra sambil menyodorkan barang pesanannya. âTotal yang harus kamu bayar sekitar tiga ratus dua puluh ribu.âSilvi mengangguk.âMasuk dulu, aku mau ambil uang di kamar.â D
Leandra menerima uang itu dan menghitungnya, kemudian menyerahkan kembalian kepada Silvi. âAku tidak akan diam saja kalau kamu sampai membuat aku dalam kesulitan,â ancam Leandra yang kesabarannya sudah setipis tisu.âKamu takut ya, Mbak?â tanya Silvi dengan nada menang. âBukan salahku, kamu datang di saat yang salah. Itu saja.âLeandra melempar pandang penuh benci kepada Silvi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediaman mantan mertuanya.âLea? Eh, ada apa?â Ivana terkejut ketika keponakannya langsung menerobos masuk begitu dia membuka pintu.âTante, aku ... kayaknya aku dalam masalah besar!â jawab Leandra gelisah sambil duduk di kursi.âMasalah apa lagi?â âMantan mertua aku jatuh dari tangga,â jawab Leandra yang lantas menceritakan apa yang terjadi di kediaman orang tua Rendra.â... padahal aku Cuma antar pesanan dari klinik aku, tapi malah jadi begini ...â Leandra menutup ceritanya.âLicik sekali istrinya Rendra itu,â geram Ivana tidak habis pikir. âKalau mereka bisa mem
âApa? Rujuk sama kamu?â desis Leandra tak percaya. âKamu jangan gila, aku mampu kok cari pengacara yang hebat.âDia lantas mengambil ponselnya dan pura-pura menelepon seseorang.âYa sudah, siap-siap saja kamu masuk penjara!â tepis Rendra. âAku sudah kasih kamu kesempatan, tapi kamu nggak menganggap baik niat aku ini.âLeandra menghela napas, pikirannya mulai semrawut setelah mendengar ucapan Rendra yang seakan memberi racun dan penawarnya sekaligus.âAku akan memikirkannya,â kata Leandra antara pasrah dan terpaksa.âMemikirkannya?â cemooh Rendra. âKamu kira kamu punya banyak waktu? Seluruh saksi dan bukti pasti mengarah ke kamu, Lea. Kamu nggak punya pilihan selain menerima tawaran aku untuk rujuk.âLeandra tidak segera menjawab.âGimana, kamu mau menerima tawaran aku atau enggak?â tanya Rendra lagi. âAku belum bisa jawab sekarang,â kata Leandra sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. âTapi pada intinya kamu pasti lebih percaya sama Silvi daripada aku kan?ââMenurut kamu?
âMas, gimana?â tanya Silvi ketika Rendra tiba di rumah. âAda perkembangan soal ayah kamu?ââSepertinya ayah kena stroke,â jawab Rendra sekadarnya. âEntah, tadi aku cuma dengar sekilas saat ibu bicara sama dokter ... aku nggak terlalu fokus karena sempat mampir ke kantor polisi.ââTerus Mbak Lea gimana, jadi dipenjara?â kejar Silvi bersemangat.âBelum, tadi dia masih dimintai keterangan. Lea tetap pada keterangannya kalau dia nggak mendorong ayah sampai jatuh ke tangga.â Rendra menjelaskan dengan nada tidak puas.âAku justru heran kalau Mbak Lea mau mengaku,â komentar Silvi sambil meraih lengan Rendra. âNamanya kejahatan pasti akan berusaha dia tutup-tutupi, aku sebenarnya juga nggak tega kalau dia sampai masuk penjara.âRendra terdiam. Sejujurnya dia hampir-hampir tidak percaya kalau Leandra yang mencelakai sang ayah, tapi kesaksian Silvi dan Widi tentu tidak bisa dia kesampingkan begitu saja.Leandra harus dihukum setimpal jika dia terbukti melakukan kejahatan itu, batin Rendra
âRendra kok lama ya?â pikir Leandra yang masih duduk menunggu, dengan susah payah dia mencoba berdiri karena kondisi perutnya yang tidak nyaman. âLea!â panggil Rendra ketika langkah kaki Leandra belum terlalu jauh. âtunggu sebentar, aku belum selesai.â âBiar aku naik taksi saja, Ren. Sudah berhari-hari aku nggak pulang, Mas Tian pasti cari-cari aku ... siapa tahu dia juga sudah telepon polisi.â Rendra terpaku ketika Leandra menyebut kata polisi. âKamu betul juga, Lea.â âMakanya itu biar aku pergi sendiri ....â âKamu masuk, sekarang.â âApa maksud kamu?â Rendra tidak menjawab, melainkan menarik tangan Leandra dan memaksanya untuk masuk ke dalam mess karyawan. âRen, apa-apaan sih?â Rendra celingukan dan lekas mendorong pelan leandra di saat pegawai sedang melayani pembeli yang berbelanja. âKamu tunggu di sini dulu, lea.â âKenapa sih kamu maksa? Aku nggak minta kamu untuk antar aku kalau memang nggak bisa, tapi biarkan aku pergi pakai taksi!â Leandra sudah merada
Rendra membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Leandra untuk masuk. âApa Silvi tidak akan apa-apa?â tanya Leandra ragu.âAku nggak bersama Silvi,â geleng Rendra sambil mengistirahatkan Leandra untuk masuk. Karena tidak memiliki pilihan lain, Leandra akhirnya setuju untuk menumpang mobil Rendra.âTolong antar aku ke kantor Mas Tian ya, Ren?â pinta Leandra dengan wajah letih. âAtau ke rumah mertua aku saja, kamu tahu kan?ââYa ....ââYang perumahannya dekat sama rumah kamu dan Silvi,â imbuh Leandra lagi. âAku mau cepat pulang dan bertemu Mas Tian, aku sudah capek.âRendra mengangguk saja dan segera menutup pintu mobil rapat-rapat begitu Leandra sudah duduk di depan, setelah itu dia ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.âAnak kamu sudah umur berapa, Ren?â tanya Leandra basa-basi ketika mobil yang ditumpanginya mulai melaju di jalan raya.âSudah satu setengah tahun,â jawab Rendra datar, dan Leandra langsung mengernyitkan keningnya karena merasa nada suara Rendra yang terdengar
âBagaimana keadaan Ibu, ada keluhan yang dirasakan mungkin?â tanya dokter ketika datang berkunjung.Leandra tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.âKemarin-kemarin saya lemas sekali, Dok. Perut saya juga rasanya kram, saya pikir kontraksi.ââIbu tidak dalam kondisi baik saat dibawa ke sini tadi, jadi asupan makanannya harus diperhatikan ya?ââBaik, Dok. Tapi janin saya baik-baik saja kan?ââSemuanya dalam kondisi baik, asalkan Ibu tidak boleh kelelahan, atau banyak pikiran dulu.âLeandra mengangguk paham, setelah itu dokter meninggalkannya sendirian lagi.âAku lupa tanya sesuatu!â keluh Leandra. âTapi entah kenapa aku jadi ngantuk sekali, dokter juga bilang kalau aku nggak boleh kecapekan ... nanti saja aku akan tanya ....âLeandra memejamkan matanya, tidak membutuhkan waktu lama dia segera terlelap di alam mimpi.Dan terbangun keesokan paginya ketika beberapa suster masuk ke ruangannya untuk absen.âSus, apa tidak ada yang datang semalam?â tanya Leandra penuh harap
âSaya harap juga begitu,â timpal Tian, masih dengan ekspresi wajah yang tenang. âApa maksud kamu?â âSudah, Mas. Jangan diperpanjang, biar Pak Tian lapor polisi saja ....â âMaksudnya biar dia melaporkan aku ke polisi?â âBukan melaporkan kamu, tapi melaporkan hilangnya Mbak Lea, Mas!â Silvi meralat, sedikit ngegas karena Rendra terlalu sentimen dalam merespons kata-katanya. Mendengar itu, Tian justru tersenyum samar. Dia punya dugaan, tapi dirinya berharap kalau dugaannya itu salah. âTentu saja saya akan melaporkan kasus ini ke polisi, saya tidak pernah tahu siapa penjahat yang sebenarnya ....â âKamu menuduh kami ya?â potong Rendra menahan marah. Tian geleng-geleng kepala. âKenapa ya dari tadi Anda selalu merasa bahwa saya menuduh Anda?â Dia berkomentar. âIstri Anda saja berpikir lebih bijak, kenapa Anda sendiri memperturutkan emosi? Jangan membuat orang lain merasa makin curiga dengan sikap Anda ini.â Tian langsung meninggalkan kantor Rendra dengan perasaan tidak menentu, dia
Cittt!Suara decit mobil terdengar beradu pada halaman parkir ketika Tian menginjak rem, setelah itu dia turun dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah.âBik Asih! Pak Adi!âPemilik nama yang pertama kali muncul adalah asih.âPak Tian! Syukurlah Bapak pulang jugaâBu Lea, Pak!ââPelan-pelan bicaranya, Bik! Sebenarnya apa yang terjadi sama Bu Lea?âAsih menarik napas dalam-dalam, kemudian menceritakan ulang kejadian yang telah diceritakan Adi kepadanya.âKalau begitu di mana Pak Adi sekarang?â tanya Tian yang tidak bisa menutupi rasa paniknya membayangkan Leandra bertemu orang jahat dalam keadaan hamil besar seperti itu.âSaya akan panggilkan, Pak!â Asih buru-buru menghilang ke halaman belakang rumah.Ketika Asih kembali bersama Adi, Tian bergegas mengajaknya pergi ke kantor polisi karena dia tidak mungkin menunggu hingga waktu dua kali dua puluh empat jam.Setelah melapor, Tian segera mengabari orang tua Leandra dan juga orang tuanya sendiri.Reaksi mereka tentu saja su
âPak, saya kok khawatir sama Bu Lea!â Asisten rumah tangga Tian tergopoh-gopoh mendatangi penjaga sekaligus tukang kebun yang sedang bersih-bersih dekat pintu gerbang. âKenapa, Bik? Saya juga ketemu tadi, Bu Lea bilang mau antar makan siang buat Pak Tian ... padahal kandungannya sudah sebesar itu.â âCoba susul, Pak! Minimal sampai Bu Lea benar-benar dapat taksi!â âYa sudah, Bik! Saya jadi ikutan khawatir, takut lahiran di jalan ....â âJangan bercanda, Pak!â âBibik tenang, jangan bikin saya tambah panik begini!â Tukang kebun bernama Adi itu segera meletakkan sapu dan serokannya, kemudian terburu-buru menyusul Leandra yang sudah lebih dulu pergi. Leandra sedang berdiri di pinggir jalan besar yang terletak di depan gang perumahan untuk menunggu taksi yang lewat. âKok tumben sepi begini,â batin Leandra dalam hati. âBisa-bisa Mas Tian telat makan siang.â Leandra memandang arlojinya dengan resah, dia mulai lelah berdiri dan juga sedikit kepanasan. Tidak lama setelah itu, sebuah ta
Silvi mengamati sikap Rendra lebih teliti daripada hari-hari biasanya. Sejak keributan yang terjadi di rumah pribadi mereka beberapa waktu yang lalu, dia berusaha memberikan perhatian yang lebih baik kepada sang suami. âKamu mau dimasakin apa, Mas?â tanya Silvi tepat ketika Rendra tiba di rumah. âTumben kamu masak,â komentar Rendra dengan kening berkerut. âMemangnya salah kalau aku masak buat suami aku sendiri?â balas Silvi sambil tersenyum. âSekalian aku juga mau masak buat ibu juga.â âIbu aku ada sakit darah tinggi, kamu nggak bisa sembarangan masak.â Rendra mengingatkan. âYa makanya ini aku tanya sama kamu biar nggak salah,â kata Silvi berusaha sabar, meski dalam hati dia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Namun, apa pun akan dia lakukan supaya rumah tangganya dengan Rendra tetap utuh terlepas apa yang terjadi. âAku sudah kenyang,â tandas Rendra sambil mengendurkan dasinya. âAda bibik yang masak untuk makan malam nanti.â Sebelum Silvi sempat berkomentar, Rendra langsun
Leandra mengerjabkan matanya ketika Tian menunjukkan selembar undangan setelah pulang kerja. âApa ini, Mas?â tanya Leandra tidak mengerti. âKamu buka saja, tapi jangan kaget.â Tian berpesan. Karena penasaran, Leandra segera mengamati sampul undangan itu dan lantang terpana. âDari Rendra dan Silvi!â katanya terkejut sembari membuka plastik yang melapisi surat undangan itu. âSyukuran Nayra ... anak mereka? Kapan kamu dapat undangan ini, Mas?â âTadi aku mampir ke klinik dan dikasih Nezia,â jawab Tian. âKamu mau datang atau tidak?â Leandra berpikir cukup lama sebelum menjawab. âKalau tidak mau datang, tidak masalah.â Tian seolah mengerti kebimbangan yang dirasakan Leandra. âAku malah heran karena mereka mengundang kamu, menurut aku aneh saja.â Leandra menatap suaminya. âTerus apa tujuan mereka mengundang aku ya, Mas?â Tian mengangkat bahu. âMungkin mau menunjukkan sesuatu? Atau Rendra mau memastikan kalau kamu sebentar lagi akan punya anak?â Leandra tersenyum getir, apa saja yang
âAku tidak ada hubungan apa pun sama Silvi.â Rendra menatap Denis tidak percaya, dia heran karena pria itu tidak segera angkat kaki dari rumah pribadinya. âKita sudah bahas ini sejak pertama kali kamu mencurigai aku ada apa-apa sama Silvi,â kata Denis melanjutkan. âSekali lagi aku tegaskan, bahwa aku bukan orang ketika di antara kalian.â Rendra mendengus pelan. Pagi itu dia sengaja mampir ke rumah pribadinya sebelum berangkat kerja, dan siapa sangka kalau Denis masih punya muka untuk tetap tinggal di sana hingga masa sewa selesai. âMaling mana ada yang mau mengaku,â kata Rendra datar. âKamu ini lucu sekali,â komentar Denis. âJustru karena aku terbukti tidak salah, aku masih berani tinggal di rumah ini karena masa sewanya masih tersisa ... Bukankah kita juga sudah sepakat di depan satpam perumahan? Kalau aku terbukti salah, mereka pasti sudah mengusirku dari kemarin.â Rendra menatap Denis dengan penuh curiga, tapi pria itu terlihat tidak terganggu sama sekali. âSudah selesai masa