Saat kami berjalan keluar dari restoran, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Lucian … apa yang ada di dalam amplop itu?”
Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sesuatu yang tidak perlu kau lihat.” Aku mengerutkan kening. “Jadi kau memang menyembunyikan sesuatu?” Dia menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan mata gelapnya. “Seraphina, percayalah padaku dalam hal ini.” Aku ingin mempercayainya. Aku benar-benar ingin. Tapi bagaimana aku bisa melakukannya jika dia terus menutupi sesuatu dariku? "Kalau begitu, jawablah satu pertanyaanku.” “Apa?” Aku menelan ludah, lalu bertanya, “ApAku menyandarkan diri ke sofa, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul. "Ini rumah juga, bukan? Aku tidak harus berdandan seperti mau rapat dewan setiap saat." Lucian tidak menanggapi. Dia berjalan menuju dapur, menuangkan air ke dalam gelas, lalu kembali bersandar di meja bar. Dia tetap memperhatikanku, meskipun dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa kau ingin membahas sesuatu?" tanyaku akhirnya, merasa aneh dengan keheningan ini. Lucian meletakkan gelasnya di meja. "Besok kita ada jadwal makan malam bersama investor. Aku ingin kau ikut." Aku menegakkan tubuh. "Aku? Untuk apa?" "Aku ingin mereka melihat bahwa pernikahan kita memang nyata," jawabnya singkat. Aku menghela napas. Ini bukan pertama kalinya dia memintaku hadir dalam acara bisnisnya, tet
Aku tersenyum manis. "Memang. Tapi aku suka tantangan." Veronica tersenyum kecil, seolah menantangku lebih jauh. "Aku penasaran," katanya dengan nada acuh tak acuh. "Apa yang kau lihat dalam diri Lucian? Kau menikah dengannya begitu cepat. Tidak ada yang percaya ini hanya karena cinta." Ruangan terasa lebih hening, tetapi aku tahu semua orang di meja ini tertarik mendengar jawabanku. Aku menoleh ke arah Lucian. Mata kami bertemu, dan dalam sepersekian detik, aku merasa dia ingin tahu jawaban apa yang akan kuberikan. Aku tersenyum tipis sebelum beralih kembali ke Veronica. "Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu, bukan?" Veronica menyipitkan mata, sementara beberapa orang di meja itu tampak terkejut dengan jawabanku. Lucian, di sisi lain, tampak tenang. Bahkan,
Mataku terbuka dalam keheningan. Apartemen ini selalu sunyi saat malam, seakan tak ada kehidupan di dalamnya. Aku melirik jam di nakas. 2:17 pagi. Tenggorokanku terasa kering, dan tanpa banyak berpikir, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Aku masih setengah sadar ketika melangkah keluar kamar, hanya menyadari dinginnya lantai marmer yang menyentuh telapak kakiku. Aku tidak menyalakan lampu, membiarkan cahaya remang dari jendela besar menjadi satu-satunya penerangan di ruangan ini. Begitu aku tiba di dapur, tanganku meraih pegangan lemari kaca, mencari gelas. Tapi sebelum aku bisa menemukannya, aku merasakan sesuatu. Sebuah tatapan. Aku membeku seketika. Jantungku berdetak lebih cepat saat aku berbal
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berbaring di sana, berguling ke sana kemari, mencoba melawan pikiranku sendiri. Aku baru hampir tertidur ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamarku. Jantungku langsung melompat ke tenggorokan. Aku menegakkan tubuh, jari-jariku mencengkeram selimut. Aku menunggu, berharap mungkin aku hanya berhalusinasi karena kelelahan. Tapi ketukan itu datang lagi. Pelan. Terukur. Aku menghela napas, lalu turun dari tempat tidur. Aku menarik napas sebelum membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk melihat siapa yang ada di luar. Lucian berdiri di sana. Masih tanpa kemeja. Masih terlihat sama berbahayanya seperti saat di dapur. Matanya turun sejenak ke tubuhku—ke gaun tidur tipis yang masih melekat di kulitku—sebelum dia kembali menatap wajahku.
"Aku akan pergi ke kantor lebih awal hari ini," katanya akhirnya, suaranya kembali datar. Aku mengangguk, mencoba mengalihkan perhatian dari debaran dadaku yang masih belum normal. "Baiklah." Dia berdiri, mengambil jasnya yang tersampir di kursi, lalu berjalan ke pintu. Namun, sebelum benar-benar pergi, dia berhenti sejenak. "Seraphina," panggilnya tanpa menoleh. Aku mengangkat kepala. "Ya?" Lucian terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Lain kali, kalau kau sulit tidur, jangan hanya berdiam diri di kamar. Kau bisa memanggilku." Dan dengan itu, dia pergi, meninggalkanku dengan ribuan pertanyaan yang belum terjawab. Aku tidak tahu apa yang mendorongku untuk berbicara, tetapi sebelum aku bisa
Aku berdiri di depan toko bunga ibuku, menarik napas dalam sebelum mendorong pintu kaca yang terasa lebih berat dari biasanya. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi lembut, menandakan kedatanganku. Aroma bunga segar segera menyambutku, membawa kenangan yang sudah lama kusimpan dalam hati. Tempat ini masih sama—rapi, hangat, dan penuh warna. Buket mawar, lili, dan anggrek tertata di rak kayu dengan vas-vas kaca bening yang berkilauan di bawah cahaya lampu gantung. Aku merindukan tempat ini lebih dari yang kusadari. “Seraphina?” Suara lembut itu membuatku menoleh. Seorang wanita paruh baya dengan celemek bermotif bunga berdiri di belakang meja kasir. Matanya melebar, kemudian senyum hangat terukir di wajahnya. “Hai, Margaret,” sapaku dengan suara yang sedikit bergetar.
Aku balas tersenyum. “Kalau begitu, nikmati penilaianmu.” Sejenak, hanya keheningan yang menyelimuti kami. Lalu, Veronica melirik sekeliling toko ini dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Sayang sekali tempat ini tidak terlalu ramai.” Aku tahu dia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan dan menekanku dengan cara lain. Tapi aku tidak akan goyah. “Bisnis tidak selalu tentang jumlah pelanggan dalam satu hari,” kataku tenang. “Tapi tentang bagaimana sesuatu bertahan dalam jangka panjang.” Veronica menatapku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kita lihat saja seberapa lama bisa bertahan.” Lalu dia berbalik dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu tertutup, meninggalkan udara yang tiba-tiba ter
Dia menyandarkan lengannya ke atap mobilku, mencondongkan tubuh agar lebih dekat. “Aku hanya ingin mengobrol sebentar. Itu tidak masalah, kan?” Aku tertawa pendek, tanpa humor. “Di tengah jalan raya? Kau kehilangan akal sehatmu?” Dia menyeringai. “Oh, ayolah. Aku tahu kau merindukanku.” Aku hampir ingin tertawa lebih keras. Pria ini benar-benar tidak tahu malu. “Kau sudah menikah, Damien. Aku tidak punya urusan denganmu lagi.” Matanya menyipit sedikit, lalu dia melirik ke dalam mobil, ke arah interior mewah yang jelas bukan milikku sebelum aku menikah dengan Lucian. “Lucian Devereaux benar-benar tahu cara memperlakukan istrinya dengan baik, ya?” gumamnya dengan nada sinis.
Aku menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku simpan. Namun, kali ini isinya jauh lebih spesifik. [Berhenti mencari tahu kebenaran yang tersembunyi, Seraphina. Jika tidak, kau akan kehilangan lebih banyak orang yang kau cintai.] Tanganku meremas ponsel erat. Napasku tersendat, mataku tidak bisa lepas dari pesan itu. Ini bukan pertama kalinya aku menerima ancaman, tapi kali ini … mereka menyebutkan orang-orang yang kucintai. Aku segera berdiri, langkahku tergesa menuju ruang kerja Lucian. Aku harus memberitahunya. Saat pintu terbuka, Lucian sedang berdiri di balik meja kerjanya sambil berbicara dengan Felix. Matanya langsung mengarah kepadaku dan seketika ekspresinya berubah begitu melihat wajahku. "Ada apa?" tanyanya tegas. Aku menyerahkan ponselku padanya tanpa berkata apa-apa. Lucian mengambilnya, matanya tajam membaca pesan itu. Rahangnya mengencang, lalu jemarinya menggenggam ponsel dengan kuat. "Felix, keluarlah dulu,
Langkahku terhenti di depan pintu kafe Serenity Sips, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Aku tidak yakin apakah ini ide yang baik, tetapi aku harus mendapatkan jawaban. Damien sudah menungguku di dalam, duduk di sudut ruangan dengan ekspresi yang sulit diterka. Aku menarik napas perlahan, lalu melangkah masuk. Begitu matanya menangkap sosokku, ekspresinya berubah sejenak—seperti ada kegugupan yang berusaha dia tutupi. Namun, pria itu segera menegakkan punggung dan menatapku dengan tajam. “Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang.” Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa basa-basi. “Kita perlu bicara sesuatu yang penting.” Damien menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tangannya terlipat di dada. “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” Mataku menelusuri ekspresinya untuk mencari
Aku masih terbaring di sofa ruangan kerja Lucian saat suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita masuk dengan langkah anggun. Joanne Devereaux. Matanya yang tajam menelusuri ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan, tapi ada ketegasan yang sulit diabaikan. Aku menarik napas pelan, bersiap menghadapi percakapan yang kemungkinan besar tidak disertai candaan. "Hai, Seraphina," sapanya sambil duduk di sampingku. "Hai juga, Joanne. Saya tidak menyangka Anda datang ke sini," balasku setelah duduk dan menoleh padanya. Dia mengamati wajahku dengan saksama. "Bagaimana kondisi ibumu?" "Masih belum ada kabar baik," jawabku singkat tanpa emosi berlebih. Lebih tepatnya air mataku sudah kering berlarut-larut dalam kesedihan. Joanne mengangguk pelan sebelum akhirnya melipat tangannya di atas pangkuan. "Aku tidak akan bertele-tele. Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang mungkin ingin kau
Sejak tadi pagi, Lucian menghubungi beberapa orang, termasuk tim investigasi pribadinya. Tatapannya tajam, wajahnya menunjukkan ketegangan yang tak biasa. Ternyata pria itu sungguh tidak akan diam saja setelah insiden kecelakaan Ibuku. Lucian berdiri di dekat jendela dengan punggungnya yang menghadapku. “Aku ingin laporan lengkap dalam waktu dua puluh empat jam,” katanya dengan nada tegas. “Cari tahu siapa yang ada di sekitar lokasi kejadian sebelum dan sesudah kecelakaan.” Aku mendengar suara seseorang di seberang telepon menjawab dengan cepat, lalu Lucian melanjutkan, “Termasuk semua aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan keluarga Langley dan Devereaux.” Dia menutup telepon tanpa banyak basa-basi. Aku segera mendekatinya untuk mencari tahu seberapa jauh dia sudah mendapatkan informasi. “Apa ada perkembangan?” tanyaku dengan ekspresi penuh harap. Lucian menoleh padaku. “Masih dalam tahap pengumpulan data. Aku juga meminta rekaman CCTV di sekitar rumah sakit.” Aku me
Suara langkah kakiku terdengar cepat di lantai rumah sakit. Jantungku berdegup kencang saat aku kembali menghampiri ruangan dokter. Tanganku gemetar saat mengetuk pintu, berharap ada kabar baik yang bisa meredakan sesak di dadaku. Dokter yang sama seperti tadi pagi membuka pintu. Ekspresinya masih sama—serius dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana kondisi Ibu saya, Dokter?" tanyaku mendesak. Dokter itu menghela napas. "Kami masih melakukan yang terbaik. Tapi sampai sekarang, ibu Anda belum menunjukkan respons yang signifikan." "Tidak bisakah Anda memprediksi kapan ibu saya akan sadar?" "Kami tidak bisa memberikan kepastian, Nona. Lukanya cukup parah, dan masa pemulihan setiap pasien berbeda-beda. Kami hanya bisa terus memantau dan memberikan perawatan terbaik." Aku mengepalkan tanganku, menahan rasa frustrasi yang meluap di dadaku. "Jadi, saya hanya bisa menunggu tanpa kepastian?" Dokter itu menatapku penuh pengertian. "Saya mengerti ini sulit untuk Anda. Tapi percayalah, k
“Ayah, aku ingin mengenalkan seseorang,” ucapku setelah duduk kembali ke kursi tunggu dan Lucian di sebelahku. Namun sebelum aku sempat melanjutkan, suara Lucian terdengar lebih dulu. “Selamat malam, Tuan Dawson.” Aku spontan menoleh. Melihat wajah Lucian tampak serius, tetapi ada nada hormat dalam suaranya. Sesuatu yang cukup mengejutkanku, mengingat sebelumnya tak pernah menunjukkan sikap seperti itu pada orang tuanya sendiri. Dawson menatap Lucian dengan seksama, lalu tersenyum tipis. “Jadi kau yang namanya Lucian Devereaux, ya?" Lucian mengangguk sopan. “Benar, saya Lucian Devereaux, suami dari Seraphina, putri Anda." Dawson mengangguk dengan senyum lembut. “Salam kenal. Aku sering mendengar tentangmu.” Aku membelalakkan mata. Apa maksudnya? Dari siapa ayah mendengar tentang Lucian? Padahal setahuku ini pertama kalinya mereka bertemu. “Ayah mengenal Lucian?” tanyaku mengangkat alis heran. "Tentu saja, Seraphina. Semua orang mengetahui siapa saja keluarga Deverea
Aku menatap kosong ke dalam cangkir kopi yang sudah dingin di hadapanku. Pikiranku masih dipenuhi dengan ucapan Joanne beberapa jam lalu. Gemetar ringan di meja menyadarkanku. Ponselku bergetar untuk menampilkan sebuah pesan masuk. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan setengah hati. Namun, saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersentak. Margaret Roseanne. Alisku berkerut, rasa cemas langsung menjalari tubuhku. Margaret jarang sekali menghubungiku, apalagi di jam segini. Dengan cepat aku membuka pesannya. [Seraphina, ibumu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit dekat perusahaan Devereaux. Kondisinya sangat kritis.] Dadaku langsung sesak. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku merasa nyaris pingsan jika aku tidak menampar pipiku. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru bangkit. Bahkan kursi yang berdecit saat terdorong ke belakang hampir saja jatuh. Aku meraih tas dan ponselku, lalu bergegas keluar dari apartemen. Aku mengemudi secepat yang aku bisa
Kepalaku masih berat saat membuka mata. Rasa pusing menyerang begitu cepat, seperti efek samping dari malam yang penuh kekacauan. Aku menghela napas sambil menatap langit-langit kamar. Kemudian mataku bergerak ke arah kaki yang diperban rapi. Luka yang kuterima semalam kembali muncul dalam ingatan. Seseorang memberikanku teror. Namun yang membuatku lebih terkejut adalah bagaimana Lucian bertindak. Dia tidak seharusnya begitu peduli, tapi perlakuannya padaku kemarin menunjukkan sebaliknya. Aku menggeleng, mencoba menyingkirkan pikiran yang mulai berantakan. Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka, dan di sana berdiri sosok yang sama sekali tak kuduga akan muncul pagi ini. Lucian. Aku pikir dia sudah berangkat ke kantor. Dengan santai, dia masuk sambil membawa nampan berisi sepiring pancake mini dengan maple syrup dan segelas susu hangat. Aku menatapnya dengan alis terangkat, tidak yakin harus merespons bagaimana. "Aku tidak meminta apapun," kataku s
Aku menatap lurus ke depan, tapi otakku berputar memutar ulang kejadian tadi di pertemuan bisnis. Suara mesin mobil berdengung halus di telinga, tapi yang mengganggu justru gema tawa Veronica dan Celeste. Sialan. “Mereka bilang apa saja?” Suara Lucian terdengar tiba-tiba di keheningan, hampir tanpa emosi. Dia menyandarkan punggung ke jok mobil, tangan kirinya menggenggam setir dengan santai. Aku mendesah panjang. “Celeste. Dia mengatakan beberapa kalimat sampah di depan semua wanita di sana. Dia berpikir aku menikahimu hanya mendapat kekuasaan. Dan Veronica, entah kenapa tiba-tiba datang dan mendukung Celeste. Seperti biasa, saudarimu itu melontar kata-kata mutiara yang membuat telingaku panas." Lucian masih diam. Sorot matanya tetap fokus ke jalanan, seolah semua ini bukan hal yang mengejutkan. “Lalu Damien ternyata mengikutiku saat aku pergi ke tempat sepi." Aku melanjutkan dengan nada sedikit jengkel, “Dia meminta maaf atas nama istrinya. Tapi yang paling menyebalkan dia be