Share

Bagian Dari Jiwa

Author: Purplexyiii
last update Last Updated: 2025-03-10 17:10:18

Aku balas tersenyum. “Kalau begitu, nikmati penilaianmu.”

Sejenak, hanya keheningan yang menyelimuti kami.

Lalu, Veronica melirik sekeliling toko ini dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Sayang sekali tempat ini tidak terlalu ramai.”

Aku tahu dia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan dan menekanku dengan cara lain. Tapi aku tidak akan goyah.

“Bisnis tidak selalu tentang jumlah pelanggan dalam satu hari,” kataku tenang. “Tapi tentang bagaimana sesuatu bertahan dalam jangka panjang.”

Veronica menatapku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Kita lihat saja seberapa lama bisa bertahan.”

Lalu dia berbalik dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu tertutup, meninggalkan udara yang tiba-tiba ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Pria Masa Lalu

    Dia menyandarkan lengannya ke atap mobilku, mencondongkan tubuh agar lebih dekat. “Aku hanya ingin mengobrol sebentar. Itu tidak masalah, kan?” Aku tertawa pendek, tanpa humor. “Di tengah jalan raya? Kau kehilangan akal sehatmu?” Dia menyeringai. “Oh, ayolah. Aku tahu kau merindukanku.” Aku hampir ingin tertawa lebih keras. Pria ini benar-benar tidak tahu malu. “Kau sudah menikah, Damien. Aku tidak punya urusan denganmu lagi.” Matanya menyipit sedikit, lalu dia melirik ke dalam mobil, ke arah interior mewah yang jelas bukan milikku sebelum aku menikah dengan Lucian. “Lucian Devereaux benar-benar tahu cara memperlakukan istrinya dengan baik, ya?” gumamnya dengan nada sinis.

    Last Updated : 2025-03-11
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Di Bawah Kendali

    “Aku baru saja bertemu Damien,” ucapku dengan nada tegas, berusaha memecahkan keheningan di ruang kerja Lucian. Dia tidak mengangkat pandangannya dari layar laptopnya. Jemarinya yang panjang tetap mengetik cepat, seolah kata-kataku tidak cukup penting untuk menghentikan pekerjaannya. “Lucian, aku sedang bicara,” ulangku, kali ini lebih keras. Akhirnya, dia menghentikan apa pun yang sedang dilakukannya. Tubuhnya bersandar ke kursi kulit mahal yang mencerminkan kemewahan hidupnya. Mata abu-abu dinginnya menatapku dengan intens, tetapi tidak ada emosi di sana, hanya kekosongan yang membuatku semakin gelisah. “Aku sudah bilang, jangan dekat-dekat dengan pria itu,” katanya pelan, tapi nadanya tegas. Aku mengerutkan kening, tidak puas dengan jawabannya. “Kau tidak mengerti. Damien tidak hanya mencoba menghubungiku lagi, dia juga mengatakan hal-hal yang .…” Aku terdiam sejenak, mencoba menenangkan diriku sendir

    Last Updated : 2025-03-11
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Undangan Makan Malam

    “Berusaha menjagaku, tapi di saat yang sama, kau terus mendorongku pergi.” Dia tidak menjawab. Aku menoleh, berharap menemukan sesuatu di wajahnya, tetapi dia hanya menatapku dengan ekspresi datar yang biasa. “Aku hanya ingin kau aman, Seraphina.” “Kenapa?” tanyaku lagi, mataku menatapnya tajam. Dia menghela napas, tetapi tidak menjawab. Aku yakin dia tidak akan pernah mau menjawab. “Lucian,” panggilku, mencoba mendapatkan perhatian penuh darinya. “Apa yang kau sembunyikan dariku?” Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya—keraguan, mungkin bahkan ketakutan. Namun, seperti biasa, dia menguburnya dalam-dalam sebelum aku bisa memahami apa artinya. “Seraphina, ini bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan,” katanya akhirnya. Aku menggeleng, merasa frustrasi denga

    Last Updated : 2025-03-11
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Permintaan Maaf Lucian

    Aku tidak menjawab. Sebagai gantinya, aku hanya menatapnya, membiarkan ketegangan di antara kami menggantung di udara. Tamu-tamu lain di restoran ini berpura-pura sibuk dengan makanan mereka, tetapi aku tahu mereka mencuri dengar percakapan kami. Bagaimana tidak? Sejak aku tiba, Veronica tidak berhenti melempar sindiran pedas. Akhirnya, dia menyeringai kecil. “Yah, aku harap kau menikmati makan malammu.” Aku meletakkan serbet di atas meja dengan gerakan pelan dan terkendali, lalu berdiri. “Tidak. Aku sudah selesai di tempat ini.” Aku meraih tas tanganku dan berjalan keluar tanpa melihat ke belakang. Namun, sebelum aku mencapai pintu restoran, suara Veronica terdengar lagi—cukup pelan untuk hanya kudengar, tetapi cukup tajam untuk menusuk pikiranku. “Aku penasaran, Seraphina. Seberapa lama kau bisa bertahan dalam kebohongan ini sebelum sem

    Last Updated : 2025-03-11
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kejanggalan Dalam Foto

    “Aku tidak mengerti kenapa kau terus menghindar." Suara Lucian terdengar dingin, namun tidak terlalu keras. Aku memutar tubuh menghadapnya, menatap pria yang berdiri di depan balkon dengan setelan jas sempurna. “Aku tidak menghindar,” jawabku, berusaha tetap tenang meskipun aku tahu nadaku tidak sepenuhnya meyakinkan. Lucian mengangkat alisnya, matanya tajam seperti selalu bisa membaca kebohongan. “Benarkah? Lalu kenapa kau tidak ada pagi ini saat kita seharusnya sarapan bersama?” Aku mendesah, mengalihkan pandangan ke lantai marmer putih yang dingin. “Aku butuh udara segar. Tidak boleh?” “Tidak jika itu berarti kau meninggalkan apartemen tanpa memberitahuku,” balasnya cepat, menghampiriku dengan langkah mantap. “Kita punya kesepakatan, Seraphina. Dan aku tidak suka jika kau melanggarnya.” Aku mendongak, menatap matanya langsung. “Kesepakatan ini tidak berarti aku harus melaporkan setiap langkahku kepadamu. Aku punya hidupku sendiri, Lucian.” Pria itu terdiam sejenak,

    Last Updated : 2025-03-12
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Wanita Keras Kepala

    “Lucian, apa maksud dari ini?” tanyaku sambil melemparkan amplop cokelat itu ke atas meja di ruang tamu. Suaraku terdengar tegas, meski dalam hati aku merasa dadaku sesak. Foto-foto di dalam amplop itu mulai berantakan di atas meja, menampilkan potongan-potongan masa lalu yang tidak pernah dia ceritakan. Lucian yang sedang berdiri di dekat jendela dengan segelas anggur di tangannya, hanya melirik sekilas ke arah amplop itu. Wajahnya tetap tenang, terlalu tenang. Seolah-olah dia sudah menduga hal ini akan terjadi. “Aku bertanya, Lucian,” ulangku, suaraku mulai meninggi. “Apa hubunganmu dengan Damien?” Ia meletakkan gelas anggurnya di meja kecil di samping jendela, kemudian berbalik menghadapku. “Itu bukan urusanmu.” Aku terkesiap mendengar jawabannya. “Bukan urusanku? Kau serius? Aku istrimu—baiklah, istri kontrak, tapi aku masih pantas tahu apa yang terjadi. Apalagi jika itu melibatkan Damien, pria yang meng

    Last Updated : 2025-03-12
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Muncul Rintangan Baru

    "Aku ingin jawaban, Seraphina. Apa yang sebenarnya kau lakukan di belakang Lucian?" Nada suara Veronica tajam, penuh tekanan, sementara jemarinya mengetuk permukaan meja kaca dengan ritme pelan tapi menyesakkan. Matanya mengunci pandanganku, seolah menunggu tanda kepanikan sekecil apa pun dari diriku. Aku menahan napas. Di hadapanku, amplop berwarna krem itu terbuka, memperlihatkan foto-foto yang sengaja dibiarkan berantakan di atas meja. Aku mengenalinya. Gambar-gambar yang dikirim seseorang ke apartemen beberapa hari lalu—foto-foto yang selama ini aku harapkan tidak akan terbongkar. Aku mengira hanya aku yang melihatnya. Ternyata Veronica sudah lebih dulu mengetahuinya. Bisa jadi, dia telah mengawasi langkahku lebih dari yang aku duga. Aku menarik napas perlahan, berusaha untuk tetap tenang. Jangan panik.

    Last Updated : 2025-03-12
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Selalu Ada Kecacatan

    “Jangan menatapku seolah aku milikmu." Suaraku keluar lebih tajam dari yang kubayangkan. Aku menatap pria di hadapanku, duduk dengan santai di sofa kulit gelap, satu tangan memegang gelas anggur, tangan lainnya bertumpu di sandaran sofa seolah dia sedang menikmati pertunjukan. Damien Vaughn. Mantan tunanganku. Pria yang pernah bersumpah setia kepadaku, lalu mengkhianatiku demi keuntungan yang lebih besar. Dia terkekeh kecil, menyesap anggurnya perlahan sebelum menatapku dengan sorot mata penuh permainan. “Aku hanya ingin melihat wajahmu lagi, Seraphina. Kau semakin cantik.” Aku menahan rasa jijik yang merayap di tenggorokan. Aku tidak datang ke sini untuk mendengar pujian kosongnya. “Katakan saja apa yang kau tahu tentang Lucian.” Damien mengangkat alis, lalu menyandarkan tubuhnya lebih da

    Last Updated : 2025-03-12

Latest chapter

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Perlindungan Ketat

    Aku menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku simpan. Namun, kali ini isinya jauh lebih spesifik. [Berhenti mencari tahu kebenaran yang tersembunyi, Seraphina. Jika tidak, kau akan kehilangan lebih banyak orang yang kau cintai.] Tanganku meremas ponsel erat. Napasku tersendat, mataku tidak bisa lepas dari pesan itu. Ini bukan pertama kalinya aku menerima ancaman, tapi kali ini … mereka menyebutkan orang-orang yang kucintai. Aku segera berdiri, langkahku tergesa menuju ruang kerja Lucian. Aku harus memberitahunya. Saat pintu terbuka, Lucian sedang berdiri di balik meja kerjanya sambil berbicara dengan Felix. Matanya langsung mengarah kepadaku dan seketika ekspresinya berubah begitu melihat wajahku. "Ada apa?" tanyanya tegas. Aku menyerahkan ponselku padanya tanpa berkata apa-apa. Lucian mengambilnya, matanya tajam membaca pesan itu. Rahangnya mengencang, lalu jemarinya menggenggam ponsel dengan kuat. "Felix, keluarlah dulu,

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Melanggar Perintah

    Langkahku terhenti di depan pintu kafe Serenity Sips, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Aku tidak yakin apakah ini ide yang baik, tetapi aku harus mendapatkan jawaban. Damien sudah menungguku di dalam, duduk di sudut ruangan dengan ekspresi yang sulit diterka. Aku menarik napas perlahan, lalu melangkah masuk. Begitu matanya menangkap sosokku, ekspresinya berubah sejenak—seperti ada kegugupan yang berusaha dia tutupi. Namun, pria itu segera menegakkan punggung dan menatapku dengan tajam. “Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang.” Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa basa-basi. “Kita perlu bicara sesuatu yang penting.” Damien menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tangannya terlipat di dada. “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” Mataku menelusuri ekspresinya untuk mencari

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Seperti Cermin Retak

    Aku masih terbaring di sofa ruangan kerja Lucian saat suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita masuk dengan langkah anggun. Joanne Devereaux. Matanya yang tajam menelusuri ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan, tapi ada ketegasan yang sulit diabaikan. Aku menarik napas pelan, bersiap menghadapi percakapan yang kemungkinan besar tidak disertai candaan. "Hai, Seraphina," sapanya sambil duduk di sampingku. "Hai juga, Joanne. Saya tidak menyangka Anda datang ke sini," balasku setelah duduk dan menoleh padanya. Dia mengamati wajahku dengan saksama. "Bagaimana kondisi ibumu?" "Masih belum ada kabar baik," jawabku singkat tanpa emosi berlebih. Lebih tepatnya air mataku sudah kering berlarut-larut dalam kesedihan. Joanne mengangguk pelan sebelum akhirnya melipat tangannya di atas pangkuan. "Aku tidak akan bertele-tele. Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang mungkin ingin kau

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dugaan Pelaku

    Sejak tadi pagi, Lucian menghubungi beberapa orang, termasuk tim investigasi pribadinya. Tatapannya tajam, wajahnya menunjukkan ketegangan yang tak biasa. Ternyata pria itu sungguh tidak akan diam saja setelah insiden kecelakaan Ibuku. Lucian berdiri di dekat jendela dengan punggungnya yang menghadapku. “Aku ingin laporan lengkap dalam waktu dua puluh empat jam,” katanya dengan nada tegas. “Cari tahu siapa yang ada di sekitar lokasi kejadian sebelum dan sesudah kecelakaan.” Aku mendengar suara seseorang di seberang telepon menjawab dengan cepat, lalu Lucian melanjutkan, “Termasuk semua aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan keluarga Langley dan Devereaux.” Dia menutup telepon tanpa banyak basa-basi. Aku segera mendekatinya untuk mencari tahu seberapa jauh dia sudah mendapatkan informasi. “Apa ada perkembangan?” tanyaku dengan ekspresi penuh harap. Lucian menoleh padaku. “Masih dalam tahap pengumpulan data. Aku juga meminta rekaman CCTV di sekitar rumah sakit.” Aku me

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Cokelat dan Permen

    Suara langkah kakiku terdengar cepat di lantai rumah sakit. Jantungku berdegup kencang saat aku kembali menghampiri ruangan dokter. Tanganku gemetar saat mengetuk pintu, berharap ada kabar baik yang bisa meredakan sesak di dadaku. Dokter yang sama seperti tadi pagi membuka pintu. Ekspresinya masih sama—serius dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana kondisi Ibu saya, Dokter?" tanyaku mendesak. Dokter itu menghela napas. "Kami masih melakukan yang terbaik. Tapi sampai sekarang, ibu Anda belum menunjukkan respons yang signifikan." "Tidak bisakah Anda memprediksi kapan ibu saya akan sadar?" "Kami tidak bisa memberikan kepastian, Nona. Lukanya cukup parah, dan masa pemulihan setiap pasien berbeda-beda. Kami hanya bisa terus memantau dan memberikan perawatan terbaik." Aku mengepalkan tanganku, menahan rasa frustrasi yang meluap di dadaku. "Jadi, saya hanya bisa menunggu tanpa kepastian?" Dokter itu menatapku penuh pengertian. "Saya mengerti ini sulit untuk Anda. Tapi percayalah, k

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Harus Tetap Sempurna

    “Ayah, aku ingin mengenalkan seseorang,” ucapku setelah duduk kembali ke kursi tunggu dan Lucian di sebelahku. Namun sebelum aku sempat melanjutkan, suara Lucian terdengar lebih dulu. “Selamat malam, Tuan Dawson.” Aku spontan menoleh. Melihat wajah Lucian tampak serius, tetapi ada nada hormat dalam suaranya. Sesuatu yang cukup mengejutkanku, mengingat sebelumnya tak pernah menunjukkan sikap seperti itu pada orang tuanya sendiri. Dawson menatap Lucian dengan seksama, lalu tersenyum tipis. “Jadi kau yang namanya Lucian Devereaux, ya?" Lucian mengangguk sopan. “Benar, saya Lucian Devereaux, suami dari Seraphina, putri Anda." Dawson mengangguk dengan senyum lembut. “Salam kenal. Aku sering mendengar tentangmu.” Aku membelalakkan mata. Apa maksudnya? Dari siapa ayah mendengar tentang Lucian? Padahal setahuku ini pertama kalinya mereka bertemu. “Ayah mengenal Lucian?” tanyaku mengangkat alis heran. "Tentu saja, Seraphina. Semua orang mengetahui siapa saja keluarga Deverea

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Insiden yang Berhubungan

    Aku menatap kosong ke dalam cangkir kopi yang sudah dingin di hadapanku. Pikiranku masih dipenuhi dengan ucapan Joanne beberapa jam lalu. Gemetar ringan di meja menyadarkanku. Ponselku bergetar untuk menampilkan sebuah pesan masuk. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan setengah hati. Namun, saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersentak. Margaret Roseanne. Alisku berkerut, rasa cemas langsung menjalari tubuhku. Margaret jarang sekali menghubungiku, apalagi di jam segini. Dengan cepat aku membuka pesannya. [Seraphina, ibumu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit dekat perusahaan Devereaux. Kondisinya sangat kritis.] Dadaku langsung sesak. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku merasa nyaris pingsan jika aku tidak menampar pipiku. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru bangkit. Bahkan kursi yang berdecit saat terdorong ke belakang hampir saja jatuh. Aku meraih tas dan ponselku, lalu bergegas keluar dari apartemen. Aku mengemudi secepat yang aku bisa

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Mengabaikan Larangan

    Kepalaku masih berat saat membuka mata. Rasa pusing menyerang begitu cepat, seperti efek samping dari malam yang penuh kekacauan. Aku menghela napas sambil menatap langit-langit kamar. Kemudian mataku bergerak ke arah kaki yang diperban rapi. Luka yang kuterima semalam kembali muncul dalam ingatan. Seseorang memberikanku teror. Namun yang membuatku lebih terkejut adalah bagaimana Lucian bertindak. Dia tidak seharusnya begitu peduli, tapi perlakuannya padaku kemarin menunjukkan sebaliknya. Aku menggeleng, mencoba menyingkirkan pikiran yang mulai berantakan. Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka, dan di sana berdiri sosok yang sama sekali tak kuduga akan muncul pagi ini. Lucian. Aku pikir dia sudah berangkat ke kantor. Dengan santai, dia masuk sambil membawa nampan berisi sepiring pancake mini dengan maple syrup dan segelas susu hangat. Aku menatapnya dengan alis terangkat, tidak yakin harus merespons bagaimana. "Aku tidak meminta apapun," kataku s

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Hampir Membuat Gila

    Aku menatap lurus ke depan, tapi otakku berputar memutar ulang kejadian tadi di pertemuan bisnis. Suara mesin mobil berdengung halus di telinga, tapi yang mengganggu justru gema tawa Veronica dan Celeste. Sialan. “Mereka bilang apa saja?” Suara Lucian terdengar tiba-tiba di keheningan, hampir tanpa emosi. Dia menyandarkan punggung ke jok mobil, tangan kirinya menggenggam setir dengan santai. Aku mendesah panjang. “Celeste. Dia mengatakan beberapa kalimat sampah di depan semua wanita di sana. Dia berpikir aku menikahimu hanya mendapat kekuasaan. Dan Veronica, entah kenapa tiba-tiba datang dan mendukung Celeste. Seperti biasa, saudarimu itu melontar kata-kata mutiara yang membuat telingaku panas." Lucian masih diam. Sorot matanya tetap fokus ke jalanan, seolah semua ini bukan hal yang mengejutkan. “Lalu Damien ternyata mengikutiku saat aku pergi ke tempat sepi." Aku melanjutkan dengan nada sedikit jengkel, “Dia meminta maaf atas nama istrinya. Tapi yang paling menyebalkan dia be

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status