Terima kasih hadiahnya. Jangan lupa komentar ya. See soon. Sudah 2x update ya
Wijaya dan Amira sudah berada di tempat tidur dengan berpelukan. Pria itu tidak akan pernah melepaskan istrinya. Dia ingin segera pergi ketika sang kekasih terlelap.“Kenapa belum tidur?” Wijaya melihat pada Amira.“Aku ingin bertanya,” ucap Amira.“Apa?” tanya Wijaya.“Mmm.” Amira ragu untuk bertanya karena dia khawatir Wijaya akan marah, tetapi ada rasa penasaran yang hanya pria itu bisa berikan jawaban serta perjelasan.“Tidak ada.” Amira memutar tubuh dengan cepat membelakangi Wijaya. Dia ingat benar bahwa pria itu tidak mengizinkannya menyenbutkan nama Luna diantara mereka.“Ada apa, Amira? Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Wijaya mencium punggung leher Amira.“Tidak jadi. Aku tidak mau kamu marah,” jawab Amira.“Baiklah. Tidah usah ditanyakan. Aku juga tidak mau marah kepada kamu,” ucap Wijaya memeluk erat tubuh Amira.“Aku sudah mau kerja,” ucap Amira. “Aku senang, tetapi lebih baik kamu tetap istirahat di rumah dan bersama Keano. Pulihkan diri hingga benar-benar sehat,” bis
Wijaya masuk ke rumah. Dia mandi dan membersihkan diri di kamar bawah. Berjalan menuju ruang baca dan memeriksa semua hal yang berhubungan dengan Amira.“Aku tahu Andika dan Amira saling mencintai.” Wijaya menatap layar computer.“Cantika benar-benar sabar menunggu hingga beberapa tahun untuk mendapatkan Andika. Dia rela memisahkan anak dan ibu dengan cara yang kejam.” Wijaya menyenderkan tubuh ke dinding kursi. Pria itu terlihat berpikir keras.“Aku harus berterima kasih kepada Cantika karena telah berhasil membuat mereka berpisah sehingga aku bisa bertemu dengan Amira yang juga berhasil menyelamatkan hidup Keano dari kematian.” Wijaya tersenyum tipis.“Jika anak Amira benar-benar masih hidup.” Senyuman di bibi Wijaya hilang.“Maafkan aku, Amira. Aku tidak akan pernah memberitahu kepada kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk selamanya. Aku juga tidak mau Keano harus berbagi ibu dengan anak Andika itu.” Wijaya mengepalkan tangannya.“Ketika aku menemukan anak kamu. Aku akan membia
Cantika duduk di kursi kerjanya di Perusahaan orang tuanya. Wanita itu memikirkan rencana untuk menyingkirkan Amira.“Dulu, aku tidak membunuhmu karena ingin melihat kamu hancur, Amira.” Cantika tersenyum.“Diusir dan diceraikan pria yang dicintai benar-benar membuat aku puas. Cinta pertama yang begitu kamu banggakan dan agungkan akan hilang begitu saja.” Cantika memutar ponsel yang ada di tangannya.“Tetapi, kamu sangat beruntung. Bisa-bisanya Wijaya datang dan menjadikannya sekretaris pribadi dengan gaji yang tinggi. Memberikan perhatian lebih hingga mampu menyingkirkan Luna.” Senyuman di bibir Cantika hilang begitu saja. Dia benar-benar benci dengan keberuntungan Amira. Wanita miskin yang tidak punya apa-apa dan lahir tanpa orang tua disukai dan dicintai banyak pria.“Apa para pria itu tergoda pada kecantikan dan keseksian Amira? Benar-benar membuat kesal,” ucap Cantika.“Kemana Jurik? Aku akan membuat Amira hilang dari dunia ini.” Cantika mencoba menghubungi kaki tangannya.“Apa si
Wijaya benar-benar gelisah dengan kabar tentang anak Amira yang mungkin masih hidup. Pria itu takut kehilangan Amira yang telah menjadi istrinya dan ibu susu Kenao. Wanita yang telah menyelamatkan putranya dari kematian karena keracunan susu formula dan kelaparan.“Ada apa, Pak? Apa Anda merindukan Nona Amira yang sudah beberapa hari tidak mendampingi Anda?” tanya Dody memperhatikan Wijaya yang melamun.“Ya,” jawab Wijaya asal. Pikiran pria itu kacau. Dia harus merencanakan banyak hal untuk masa depan keluarganya. Pria itu menginginkan anaknya yang dilahirkan dari rahim Amira.“Bukankah Anda satu rumah dengannya?” Dody tersenyum pada Wijaya yang tidak bisa menutupi kegelisahannya. Pria yang tenang itu benar-benar bisa dikacaukan oleh seorang Amira,“Hm.” Apa yang dilakukan Amira sekarang?” Wijaya menghubungkan ponselnya dengan kamera yang ada di rumah.“Di mana dia?” Wijaya mencari Amira karena tidak terlihat di layar computer. “Apa dia di taman?” Wijaya benar-benar mudah khawatir ket
Wijaya malas untuk kembali ke Perusahaan, tetapi dia sudah mendapatkan laporan dari Dody tentang Cantika yang memang dicurigai memiliki saham di rumah sakit sehingga bisa melakukan kejahatan untuk memisahkan Amira dari bayinya.“Sayang, aku akan kembali ke Perusahaan. Ada banyak berkas yang harus ditanda tangan.” Wijaya memeluk Amira cukup lama. Dia mencium dahi dan kepala wanita itu dengan lembut.“Maaf, pasti itu karena aku tidak masuk kantor,” ucap Amira menatap Wijata.“Tidak. Itu salahku sendiri yang memang terlalu sibuk dengan hal yang lain.” Wijaya tersenyum. Pria itu seakan tidak ingin melepaskan pelukan istrinya.“Hati-hati,” ucap Amira melambaikan tangan kepada Wijaya yang berjalan menuju mobil yang parkir di halaman rumah. Wanita itu mengantarkan suaminya hingga ke halaman depan rumah.“Hm.” Wijaya benar-benar mempunyai banyak musuh dna dia menambahkan lagi dengan mencari orang-orang yang menyakiti Amira.Mobil hitam dan kecil meninggalkan halaman rumah dan menuju Kawasan pe
Cantika terkejut ketika menerima laporan dari orang tuanya bahwa Wijaya mengundang para pemilik saham dan juga semua rekan bisnis untuk melakukan pertemuan. Mereka juga cukup khawatir karena sang penguasa akan melakukan pembersihan.“Ada apa ini, Pa?” tanya Cantika kepada papanya. “Papa juga tidak tahu. Sepertinya Wijaya sedang tidak baik-baik saja. Setelah pembatalan pembuatan film. Pria itu juga mengakuisi beberapa Perusahaan,” jelas Raditya pada putrinya.“Apa dia tahu tentang masalah rumah sakit?” Cantika tampak berpikir.“Apa kamu menyinggung Wijaya?” Raditya menatap Cantika.“Tidak, Pak. Aku mana berani,” ucap Cantika tersenyum.“Ya. Papa juga khawatir jika sudah bermasalah dengan Wijaya Kusuma. Dia itu pria yang mengerikan. Istrinya saja bisa dituntut untuk membayar kerugian ketika melakukan kesalahan,” jelas Raditya.“Apa ada seperti itu?” tanya Cantika. “Ya. Orang tua Luna harus memberikan satu Perusahaan kepada Wijaya agar karier putri mereka tidak hancur,” jawab Raditya.
Amira melihat ponsel kerjanya yang tertinggal di atas meja kerja Wijaya. Wanita itu tersenyum karena ada data dan akunnya di sana. Dia segera mengambil alat komunikasi dan duduk di sofa.“Tidak disangka Wijaya melupakan ponselku.” Amira mengaktifkan ponsel. Dia menunggu beberapa saat hingga ponselnya.“Hah!” Amira terkejut dengan banyaknya notifikasi pesan dan panggilan yang masuk.“Siapa saja ini?” Amira membuka dan memeriksa semua pesan dan nomor serta akunnya.“Andika.” Amira membuka pesan dari Andika yang memberitahu tentang penyelidikan kematian bayi mereka yang memang mengalami kejanggalan. Dia mencurigai Cantika yang memang dulu pernah melakukan manipulasi ketika mereka masih berpacaran. “Cantika. Aku memang mencurigainya, tetapi apa pun itu tetap saja kamu sudah menceraikan aku, Andika. Aku membenci kamu,” ucap Amira.“Tidak akan bisa kembali lagi seperti dulu. Rasa cintaku telah berubah menjadi benci. Kamu membuangku. Aku terpuruk dan hancur sendirian. Tidak ada dirimu.” Ami
Wijaya dan Amira berdiri di depan dua mobil berpasangan. Pria itu menadahkan tangan kepada istrinya. “Apa?” tanya Amira.“Kunci mobil ini,” jawab Wijaya. “Ada di dalam mobil,” ucap Amira.“Hah!” Wijaya menggelengkan kepalanya dan membuka pintu mobil berwarna merah terang itu.“Untung saja di rumah.” Wijaya tersenyum.“Masuklah!” Wijaya membuka pintu untuk Amira.“Terima kasih.” Amira duduk di samping pengemudi. Dia memasang sabuh pengaman dan duduk dengan tenang. Wanita itu terlihat bersemangat karena akan mengetahui tentang putranya.“Aku harap kamu bukan bersemangat bertemu dengan Andika.” Wijaya yang sudah duduk di balik kemudi menatap Amira. “Aku bersemangat bertemu dengan putraku. Jika bukan karena ingin tahu tentang Devano, Aku tidak sudi melihat wajah pria itu,” tegas Amira.“Itu bagus, Sayang.” Wijaya tersenyum dan mencium pipi Amira. Dia menyalakan mesin mobil dan meninggalkan halaman rumah yang hijau.Andika terlihat gelisah menunggu kedatangan Amira. Dia tidak tahu bahwa
Mereka pulang ke rumah dengan aman. Leon mengambil jalan lain. Pria itu juga menggantikan mobil serta menambahkan anak buahnya untuk melindungi majikannya.“Benar-benar sulit membawa Nyonya dan anak-anak keluar dari rumah. Ada banyak musuh yang mencari kesempatan untuk menyakiti mereka.” Leon menghela napas dengan berat. Dia melirik Keano yang tampak tenang. Pria itu bisa melihat Wijaya di dalam diri tuan mudanya.“Ah!” Amira menghempas tubuh di sofa.“Ada apa, Ma?” tanya Devano lembut.“Hari ini cukup melelahkan.” Amira tersenyum.“Maafkan aku dan Keano.” Devano memijut pundak Amira.“Minta maaf untuk apa? Kalian tidak melakukan kesalahan apa pun.” Amira menarik Devano ke dalam pelukannya.“Mama saja yang belum terbiasa menemani kalian di luar.” Amira tersenyum. Dia mencium dahi Keano dan Devano.“Kami tidak akan ikut pertandingan di lapangan terbuka lagi,” tegas Keano.“Kenapa, Sayang? Tidak masalah. Mama akan berusaha untuk selalu berada di sisi kalian.” Amira mencubit hidung mancu
Keano benar-benar tidak suka dengan desakan dari para penonton. Anak lelaki itu makin tidak suka dengan keramaian.“Setelah ini, jangan pernah ikut lomba di luar lagi. Ini sangat berbahaya,” tegas Keano.“Benar. Mama pasti kesulitan menemani kita. Mama tidak pernah meninggalkan rumah, tetapi keluar demi bisa hadir di pertandingan ini.” Devano pun tampak menyesal karena memaksa Keano untuk bertanding dalam tim.“Kita sudah tahu pasti menang, jadi tidak usah ikut apa pun lagi. Apalagi banyak penonotn seperti ni. Aku benar-benar tidak suka.” Keano menatap tajam pada Devano.“Maafkan aku,” ucap Devano pelan.“Silakan masuk, Tuan Muda.” Para pengawal berhasil mengantarkan Devano dan Keano masuk ke dalam ruangan peserta. Dua anak lelaki itu duduk dengan tidak tenang.“Di mana Mama?” tanya Keano.“Nyonya sedang dalam perjalanan kemari. Mereka cukup kesulitan untuk melewati para penonton,” jawab pengawal.“Minta Om Leon gendong mama saja, biar cepat,” ucap Devano mengejutkan para pengawal. Su
Para penonton bersorak melihat anak remaja yang sudah berada di atas kuda mereka masing-masing. Keano dan Devano selalu menjadi pusat perhatian di mana pun mereka berada. Orang tua yang memang popular dan anak-anak yang juga selalu menjadi kebanggaan.“Dua anak itu benar-benar terlalu terang sehingga saingan mereka tidak terlihat.” Pujian terdengar dari mulut para penonton. Mata mereka hanya fokus pada adik beradik yang tampak kompak dengan kuda dan anak panah yang ditembakkan.“Tidak akan ada peserta yang mampu mengalkan kecepatan dan kecerdasan putra Wijaya Kusuma.” Para penonton bersorang. Dua bersaudara itu meninggakan saingan mereka dengan sangat jauh.“Tidak sulit menentukan pemenang. Jarak mereka terlalu jauh dan skor yang di miliki kedua bersaudara itusangat sempurna.” Para juri pun hanya tersenyum karena dari awal mereka sudah bisa menebak bahwa anak dari Amira dan Wijaya Kusuma sudah dapat dipastikan jadi pemenang. Mereka memiliki tempat Latihan pribadi.“Wah hebat.” Amira
Amira duduk di depan cermin. Dia memandangi wajah cantik diri yang awet muda. Wanita itu bersiap untuk menemani anak-anaknya untuk mengikuti perlombaan berkuda dan memanah. Keano dan Devano bergerak dalam satu tim.“Kenapa masih ada penjahat yang mengintaiku? Apa mereka hanya perampok biasa? Rasanya tidak mungkin.” Amira menggerai rambut hitamnya melewati pundak.“Tetapi siapa musuhku? Siapa orang yang membenciku selain Luna dan Cantika? Apa Andika?” Amira berbicara pada bayangannya yang dipantulkan oleh cermin.“Padahal sudah beberapa tahun ini kehidupanku sangat tenang. Tidak ada gangguan dari siapa pun, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba mereka datang lagi? Apa masih ada dendam?” Amira cukup gelisah dan khawatir. Dia takut kejadian yang cukup berbahaya itu akan terulang kembali. Apalagi ketika perlombaab, area pacuan kuda akan jauh lebih ramai oleh para pengunjung dan penonton.“Mama,” sapa Keano dan Devano di depan pintu kamar Amira yang terbuka.“Iya, Sayang.” Amira segera beranjak
Amira berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Wanita itu baru saja akan mematikan ponsel dan melihat panggilan dari Wijaya.“Wijaya.” Amira segera menerim panggilan dari suaminya.“Halo, Sayang.” Wijaya tersenyum pada Amira yang terlihat di layar ponsel.“Halo, Sayang. Bagaimana perkerjaan di sana? Apa kamu lelah?” tanya Amira.“Aku tidak lelah, tetapi tersiksa karena merindukan kamu,” jawab Wijaya.“Apa kamu akan tidur?” Wijaya melihat yang istri yang sudah mengenakan piyama.“Aku sedang bersiap untuk tidur,” ucap Amira merebahkan tubuhnya di kasur.“Apa kamu menggodaku?” tanya Wijaya.“Tidak, Sayang. Kamu terlihat sedang bekerja,” jawab Amira.“Ya. Aku tahu kamu akan tidur jadi dengan cepat menghubungi istriku tercinta. Bagaimana hari ini?” Wijaya tersenyum.“Hari ini menyenangkan. Aku menemani anak-anak Latihan berkuda dan memanah. Mereka benar-benar luar biasa. Aku sangat bangga.” Amira terlihat bersemangat menceritakaan kebersamaanya dengan Keano dan Devano. Dia tidak membe
Amira yang menyadari kedua putra yang masih menunggu dirinya segera menepi. Dia tidak butuh lama untuk memuaskan diri berkuda. Wanita itu merasa tidak muda lagi.“Ini menyenangkan.” Amira turun dari kuda dengan bantuan Leon.“Terima kasih,” ucap Amira.“Apa sudah selesai, Ma?” tanya Keano memegang tangan Amira.“Tentu saja, Sayang. Mama hanya perlu naik kuda dan menungganginya. Itu cukup.” Amira mengusap kepala dua putranya yang sudah memiliki postur tubuh tinggi di usia yang masih sangat muda.“Kalian berdua yang harus banyak Latihan karena akan mengikuti lombat,” ucap Amira.“Baik, Ma. Kami akan memperlihatkan penampilan terbaik di depan, Mama.” Keano sudah melompat ke atas kuda. “Wah. Keren.” Amira terkejut melihat gerakan lincah dan gesit dari Keano dan Devano.“Luar biasa. Anak Mama memang hebat.” Amira bertepuk tangan. Dia benar-benar kagum melihat kedua putranya. Wanita itu tidak pernah mengikuti Keano dan Devano ketika Latihan di luar rumah. Dia harus tetap bersama anak kembar
Wijaya telah terbang ke luar negeri. Pria itu benar-benar harus meninggalkan anak istrinya karena pertemuan yang tidak bisa diwakilkan. Dia sudah lama tidak pertemu dengan para pendukungnya sehingga dia tetap bisa terus berada pada puncak kesuksesan. Bisnis legal dan illegal dijalaninya.“Pastikan Leon tetap di rumah bersama anak dan istriku,” tegas Wijaya.“Iya, Pak. Anak-anak akan terus berada dalam pengawasan dan penjagaan,” ucap Jack.“Beberapa tahun ini hidup kita terlalu tenang. Jadi, mulai tingkatkan kembali kewaspadaan. Mungkin musuh dari masa lalu masih mencari kesempatan untuk menyerang balik,” jelas Wijaya.“Pasti, Pak.” Jack mengangguk.Amira selalu senang memasak. Dia dibantu para pelayan membuat cemilan sehat untuk anak-anaknya. Wanita itu tidak bisa hanya diam saja.“Nyonya, Anda dilarang lelah.” Leon menyusul ke dapur. Pria itu benar-benar mendapatkan tugas yang berat yaitu menjaga istri Wijaya Kusuma.“Aku tidak lelah, Leon. Aku biasa melakukan ini.” Amira tersenyum
Cantika meringkuk di atas kasur lusuh. Dia kedinginan karena curah hujan yang cukup tinggi. Wanita itu tidak memiliki selimut.“Dingin sekali. Tubuhku panas dan sakit. Luka ini akan infeksi jika tidak diobati.” Cantika beranjak dari kasur dan berusaha membuka pintu, tetapi terkunci.“Apa?” Cantika kembali ke kasur dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya.“Gudang ini sangat pengap. Bagaimana caranya aku keluar?” tanya Cantika yang mulai menangis. “Ma, Pa. Tolong aku.” Cantika terisak seorang diri.Andika mengaktifan ponsel Cantika. Dia melihat pesan dari Ranika dan beberapa panggilan yang tidak terjawab.“Aku akan meminta kembali milikku.” Andika tersenyum. Dia menghubungi ulang Ranika.“Cantika, di mana kamu?” tanya Ranika gelisah karena putrinya belum juga pulang dan hari sudah sangat laru serta hujan lebar.“Di rumahku,” jawab Andika.“Apa?” Ranika terkejut mendengarkan suara seorang pria yang tidak asing.“Siapa kamu?” tanya Ranika.“Apa Anda tidak mengenali saya lagi? Berapa tahun t
Pria yang marah dan terluka benar-benar menjadi sangat kejam. Tidak ada perasaan sama sekali. Dia menyiksa wanita dengan menggila.“Aku sangat sakit, Cantika. Kamu ditolong, tetapi tidak sadar diri. Aku dan Amira sudah sangat baik padamu di masa lalu.” Andika menggendong tubuh Cantika yang penuh luka dan memasukan ke dalam bak mandi yang terisi penuh air sabun.“Aaarhh!” Cantika tersadar karena rasa perih pada luka-luka tubuhnya.“Hah!” Wanita itu benar-benar terkejut mendapatkan dirinya yang sudah berada di dalam bak mandi.“Andika, aku mohon. Lepaskan aku. Aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan.” Tangan gemetar Cantika memegang tepi bak mandi yang licin. Tubuhnya mulai menggigil karena kesakitan dan kedinginan.“Aku akan mati,” ucap Cantika.“Tidak, Cantika. Kamu tidak boleh mati dengan mudah.” Andika menarik tubuh Cantika keluar dari bak dan meletakkan dia atas lantai yang basah serta dingin. Pria itu membungkus tubuh mantan istrinya dengan handuk.“Keringkan tubuh kamu!” An