Rafly mendekati ibunya yang terlihat tersenyum puas. Niken meminta Nyonya Megumi untuk menekan Rafly dan mengancam untuk putus hubungan dengan ibunya. Karena Niken tahu sekali kalau Rafly sangat dekat dengan ibunya. Jadi, cara mereka saat ini, seperti saat ini dilakukan oleh Nyonya Megumi. "Ibu meminta aku mengusir Olla?" tanya Nyonya Megumi. "Iya," jawabnya tegas. Nyonya Megumi sudah senang dan berada di awan, dia berhasil mempengaruhi Rafly. Senyum penuh kemenangan sudah dia perlihatkan di wajahnya. Dan dia juga mengejek Olla bahwa dia menang dan bisa membuat Rafly tunduk padanya. Begitu juga Niken, ternyata rencana dia untuk mengusir Olla berhasil dan lihatlah, dia bisa membuat Olla tidak bisa berbicara dan Niken yakin saat ini Olla akan pergi dari kehidupan Rafly selamanya dengan membawa bayi itu. "Jangan bermimpi aku mengusir Olla. Dia istriku, selamanya dia istriku. Jadi, jika ibu mau memutuskan hubungan anak dan ibunya, aku tidak bisa berbuat apapun, silahkan lakukan send
Rafly segera masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia ingin membahas masalah dunia mafianya. "Tuan, Anda coba cek ini dulu," ucap Dion menunjukkan tablet android ke Rafly. Rafly yang sudah duduk di kursi kebesarannya melihat begitu banyaknya data mengenai penyelundupan yang gagal dan semuanya digagalkan oleh kepolisian air dan FBI. "Bagaimana bisa gagal dan semua mafia juga ikut terjaring. Apakah ada mata-mata yang memberitahukan kepada mereka kalau ada penyeludupan itu?" tanya Rafly. "Saya juga kurang tahu, karena saat ini, mereka belum ada memberikan kabar. Hanya saja, beberapa mafia mengatakan kalau semua ini karena mafia dari klan Oliver. Mereka yang melakukannya karena mereka ingin barangnya aman untuk itu dia korbankan barang mafia lain," jawab Dion menjelaskan apa yang terjadi. "Maksudnya mafia Oliver siapa?" tanya Ferrel. "Mafia yang menjadi musuh lama Anda dan Tuan Rafly Tuan," sahut asisten Ferrel bernama Leon. Ferrel menoleh ke arah asistennya dan dia ingin meyakinkan de
Rafly yang penasaran bertemu sahabatnya yang sudah menunggu dirinya. Sampai di tempat di mana sahabatnya berada, Rafly memberikan kode untuk mereka segera pergi untuk menggagalkan rencana penyeludupan tersebut. "Kamu tanya kenapa mereka pindah markas, mana aku tahu. Aku saja baru tahu tadi mau kirim pesan kamu sudah kirim lebih dulu, bagaimana kamu ini, Rafly." Edgar menjelaskan kalau dia tidak tahu pemindahan markas klan Oliver. "Ya sudah, kita ke sana saja sekarang, aku harap ini bukan jebakan dari mereka. Aku sangat risau Olla di rumah sendirian," ungkap Rafly yang tiba-tiba khawatir dengan Olla yang ada di rumah sendirian walaupun ada pengawal tetap saja dia khawatir. "Anak buahku akan menjaga rumah ini," ujar Ferrel mengatakan kalau rumah Rafly sudah akan dijaga oleh anak buahnya. "Benar itu, anak buah aku dan Keano juga sudah di sini dan kalau terjadi sesuatu pasti akan memberitahukan kita dan mereka bisa melawan siapapun yang datang, asal dua wanita tadi, mereka tidak bisa,
Rafly sangat tahu benda yang ditemukan oleh Keano. Benda itu merupakan maskot dari mafia yang menjadi musuhnya."Bibi Ann dan yang lainny, tenanglah dulu semua baik-baik saja, sekarang ikut denganku, kita akan ke tempat yang aman. Ayo cepat ikut denganku." Dion meminta kepada Bibi Ann dan juga para pelayan untuk ikut dengannya. Dion juga memberi instruksi kepada anak buahnya yang lain untuk segera mengungsikan Bibi Ann dan juga para pelayan yang lain untuk ke tempat yang lebih aman sedangkan Rafly dan teman-temannya segera pergi mengejar mafia yang menculik Olla. Anak buah yang terbunuh segera dibersihkan oleh pengawal Rafly yang masih hidup, merekalah yang membawa rekan mereka untuk dikebumikan. "Rafly, kamu tahu di mana keberadaannya, kalau kamu tahu kita harus segera ke sana, kita jangan menunggu terlalu lama karena takutnya Olla akan disiksa oleh mereka, aku tahu betul mafia tersebut dia sangat kejam, dia tidak sedikitpun memberi ampun kepada sanderanya," jawab Edgar. "Aku ta
"Tuan Rafly... Wah, ternyata Anda datang juga, senang bisa melihat Anda apakah Anda tidak memakai topeng?" tanya musuh Rafly. Ketua klan Oliver yang bernama Max Oliver tidak menyangka kalau Rafly tidak memakai topeng seperti biasanya. "Kenapa, kamu tidak suka jika aku memperlihatkan wajahku yang tampan ini. Ayolah, Max jangan seperti ini, di dalam peraturan kamu tidak bisa untuk melukai wanita. Apa kamu sudah siap jika aku balik melukai mereka?" tanya Rafly yang membuat Max mengepalkan tangannya. Rafly tahu kelemahannya, jadi Max tidak bisa berbuat apa-apa. "Jangan sentuh mereka, jika tidak ingin wanita ini aku sakiti," jawab Max yang meminta kepada Rafly untuk tidak menyentuh orang yang dimaksudkan oleh Rafly tadi. "Kamu tidak ingin aku menyentuh mereka, tapi kamu menyentuh dia. Bukankah itu artinya sama kita imbang, sekarang lepaskan dia secara baik-baik jika tidak ingin yang aku maksudkan tadi bernasib sama dengan apa yang aku lakukan dulu padamu," jawab Rafly yang membuat Max
"Kamu tidak akan selamat, Rafly," jawab Max yang langsung jatuh ke bawah sedangkan Rafly mencoba bertahan dia berbalik ke belakang dan menatap Olla dan sambil tersenyum mengatakan sesuatu. "Olla, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," jawab Rafly yang seketika terjatuh. Olla yang mendengar Rafly mengatakan cinta kepadanya hanya bisa terpaku. Dan dia seperti terhipnotis dengan kata-kata itu, sedangkan sahabat Rafly langsung mengejar Rafly yang sudah roboh dan dengan cepat mereka menyelamatkan Rafly karena saat ini, Rafly sudah luka. "Cepat bawa Rafly pergi dari sini, ayo cepat. Dan kamu, Olla ikut dengan kami segera, ayo cepat!" teriak Edgar meminta Olla untuk segera pergi dari sini. Sedangkan dia dan Ferrel membawa Rafly ke rumah sakit. Keano menuntun Olla untuk meninggalkan markas milik Max. Dan membiarkan Max seorang diri di sana. Mereka tidak peduli apakah Max meninggal atau tidak. Olla mengikuti sahabat Rafly dan menangis melihat Rafly yang sudah tidak sadarkan diri. "Jangan
Olla yang mendengar perkataan dari Edgar menganggukkan kepala, terlebih lagi saat ini pintu kamar Rafly terbuka, terlihatlah orang-orang yang membencinya muncul tetapi di saat bersamaan ada Tuan Mathias yang ikut hadir padahal dia masih sakit tapi dia datang ke rumah sakit dengan menggunakan kursi roda demi melihat Rafly dan Olla. Tuan Mathias didorong oleh anaknya, Tuan Abraham. Tuan Mathias menatap Olla yang terluka dan itu membuat Tuan Mathias merasa sedih. "Apa yang terjadi, kenapa kalian bisa terluka, klien mana yang sudah membuat kalian seperti ini. Ayo katakan kepadaku dan kamu Abraham, putuskan hubungan kerjasama kita dengan mereka, aku tidak ingin klienku melukai anak cucu dan cicitku." Tuan Mathias memerintahkan kepada Tuan Abraham untuk segera mengakhiri hubungan kerjasama mereka."Akan aku lakukan, Daddy jangan takut, aku akan mencari tahu siapa klien yang sudah membuat mereka seperti ini," jawab Tuan Abraham. "Anda tidak perlu khawatir, saya sudah melakukannya, semua
"Dokter Adrian. Apa kabar, dokter. Sudah lama tidak bertemu," sapa Olla kepada dokter Adrian yang saat ini memandang ke arahnya dan dia duduk tepat di depan Olla. Dion yang awalnya duduk berhadapan dengan Olla kini Adrian yang menggantikan posisi tersebut. Dion hanya bisa diam,.dia tidak mengatakan apapun. Hanya memperhatikan tingkah laku Adrian agar tidak berlebihan dengan istri dari tuannya yang saat ini masih dalam proses penyembuhan atau lebih tepatnya belum sadarkan diri pasca operasi dan mungkin sebentar lagi sadar, pikirnya. "Permisi, dokter Adrian. Ada urusan apa Anda ke sini? Maksud saya, kenapa Anda mengenal dengan istri dari sahabat saya, apa Anda dokter kandungannya dulu atau Anda ini salah satu penagih hutanh yang suka memberikan uang eh meminjamkan uang maksudnya. Apakah istri dari teman saya ini ada hutang dengan Anda, jika memang ada, katakanlah kami akan membayarnya berapapun jumlahnya," jawab Edgar yang tidak suka dengan Adrian karena baginya Adrian sangat sombong
Olla menutup mulutnya, dia tidak menyangka kalau Rafly memberikan dirinya cincin yang sangat indah. Cincin bertatahkan batu zamrud yang berkilau dan ditaburi berlian dan swarovski. "Ini untukmu. Aku persembahkan kepadamu, sebagai tanda bahwa aku sangat mencintaimu seumur hidupku sampai maut memisahkan kita berdua," ucap Rafly dengan suara bergetar dan tatapan mata yang berkaca-kaca. Rafly mempersiapkan hadiah kepada Olla sebagai bentuk cintanya. Sebenarnya, cintanya ke Olla sangat besar dan dia tidak akan pernah bisa digantikan apapun. Tapi, cincin ini sebagai simbol sahaja untuk Olla agar mengingat dirinya yang tulus mencintai dirinya. "Kamu romantis sekali, Sayang. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku benar-benar terharu. Aku mencintaimu juga, Sayang," balas Olla ke Rafly. Rafly tersenyum mendengar apa yang Olla katakan. Rafly segera memasangkan cincin ke Olla dan tidak lupa Rafly mengecup tangan Olla setelah memasangkan cincin tersebut. Olla menarik Rafly berdiri dan memelukn
Adrian tersadar dan dia diselamatkan. Adrian dilarikan ke rumah sakit tanpa sepengetahuan dari Rafly. Itu pemikiran Adrian tapi nyatanya, anak buah Rafly lah yang menyelamatkan Adrian atas perintah Rafli. Adrian dibawa ke rumah sakit dan diobati kenapa Rafly melakukan itu, karena Rafly melihat kalau Adrian menyelamatkan istrinya dengan tulus untuk itu dia diberikan kesempatan untuk menyelamatkan Adrian. Terlepas nantinya Adrian seperti apa dia tidak peduli. Dan sekarang semuanya sudah berakhir, nuklir sudah dibawa pergi oleh Rafly dan sahabatnya. Rafly segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Olla, sedangkan markas tersebut dihancurkan olehnya. "Ini sudah selesai, kita menang," ucap Keano saat melihat markas musuhnya dan markas musuh sahabatnya musnah. Tidak ada satu pun yang tersisa di markas musuh-musuh Rafly, semuanya terkubur di markas tersebut. Rafly saat ini berada di ruangan melihat kondisi Olla yang masih lemah. Ditemani oleh Nyonya Megumi. "Rafly, Mommy bersy
Simon berhadapan dengan Rafly dan setelah sekian bulan purnama akhirnya, keduanya saling berhadapan. "Akhirnya, kita bertemu, teman lama. Apa kamu sudah siapkan peti mati? Kalau sudah baguslah, aku sangat suka dan aku akan mempercepat kematianmu kalau begitu. Bagaimana, apakah kamu siap?" tanya Simon yang menantang Rafly. Rafly yang mendengar perkataan dari Simon tertawa. Dia tidak menyangka kalau musuhnya ini mengatakan itu. Sudah dipastikan kalau dia akan menghabisi musuhnya ini yang sudah menculik istri dan anaknya yang masih bayi terlebih lagi istrinya terluka karena musuhnya ini. "Aku sudah siapkan tapi untukmu, apakah kamu mau melihatnya? Jika mau, boleh, aku akan berikan. Tapi tunggu dulu, aku tidak akan memberikan peti mati itu untukmu. Kamu harus membayarnya terlebih dahulu, sekarang tunjukkan dimana nuklir itu kamu simpan. Tapi, sepertinya tidak perlu lah, biar aku yang mencarinya, coba lihat wajahnya ketakutan, sepertinya dia takut denganmu, Edgar. Apa kamu mau menghabis
"Rafly dengar dulu, bukan itu maksudnya. Dia berbohong. Aku tidak melukai pembantu itu eh maksudnya Olla. Bukan aku, Adrian yang melakukannya, sumpah Demi Tuhan. Bukan aku," jawab Niken yang mengatakan bukan dia yang melakukannya tapi Adrian. Niken menuduh Adrian pelakunya, tapi Rafly tidak peduli dia tahu kalau Adrian tidak berbohong dan dia juga tahu kalau yang dilakukan oleh Adrian untuk selamatkan dia tapi yang dia tidak sukai adalah Adrian menculik istri dan anaknya hingga istrinya seperti itu makanya dia menghukum Adrian sebagai balasan atas apa yang Adrian telah lakukan. "Benarkah? Dia pelakunya. Jadi, buat apa kamu di sini? Apa hubungan kamu dengan Simon dan Marcel. Apa kamu minta dia untuk menculik anak dan istriku, Niken?" tanya Rafly ke Niken dengan sorot mata tajam. Niken mundur ke belakang dia tidak mau berdekatan dengan Rafly dia takut sangat takut dan dia ingin menjauh dan melarikan diri tapi, sepertinya dia tidak bisa dan pada akhirnya, dia terkepung. Tepat di belak
Rafly akhirnya tiba di markas asli milik Simon dan Marcel. Dia tidak sedikitpun melepaskan anak buah dari Simon dan Marcel juga kedua orang yang sudah menculik Olla. Rafly ingin mendapatkan Olla kembali karena dia yakin saat ini Olla pasti ketakutan dan menunggu kedatangan dia. "Tunggulah, Sayang. Aku akan menjemputmu," gumam Rafly yang segera memakai topeng dan menghabisi seluruh anak buah dari Simon dan Marcel yang terus menembakinya. Rafly sama sekali tidak takut dengan serangan dari anak buah Simon dan Marcel, dia tetap menyerang dengan sangat barbar. Teman-teman Rafly melindungi Rafly untuk segera masuk ke dalam ruangan agar Rafly bisa menyelamatkan istrinya dan anaknya. "Aku akan melindungimu, Rafly. Kamu tetaplah tenang dan jangan takut, masuk saja aku ada di belakangmu," ucap Edgar yang mengatakan kepada Rafly untuk segera masuk dan mencari keberadaan Olla dan bayi kembar yang entah dimana keberadaannya.Rafly yang mendengar perkataan dari Edgar menganggukkan kepala, Rafly
Olla masih tidak beranjak dari tempat tidurnya, Olla masih menenangkan bayi kembarnya yang masih menangis. Dengan tenang dan tidak senandung kecil dari Olla, perlahan tangisan bayi tersebut mulai reda dan mereka kembali tertidur. Olla merasakan kepalanya sangat pusing dan pada akhirnya Olla yang tidak tahan menahan semua rasa sakitnya pingsan. Olla manusia biasa, dia bisa tidak tahan rasa sakit di bagian perutnya yang teramat sakit. Meihat Olla pingsan, Adrian semakin panik, dia mencoba untuk memeriksa Olla namun hanya periksa diluar tidak sampai menyeluruh. Badan Olla terasa panas dan itu sangat tinggi."Kapan dokter itu datang, apa masih lama?" tanya Adrian yang panik. "Sabarlah, mereka akan sampai. Kamu dokter harusnya tahu apa yang akan kamu lakukan," jawab Marcel yang meninggalkan Olla dan Adrian. Adrian mendengar perkataan Marcel kesal, dia marah karena Marcel cuek dengan Olla. Marcel seperti tidak peduli dengan Olla begitu juga Simon. Keduanya keluar meninggalkan Olla yang
Olla dipukul dan di tampar oleh Niken dengan cukup kuat hingga Olla harus terbangun dan dia masih dihajar oleh Niken tanpa belas kasihan padanya. Olla yang baru saja melahirkan merasakan sakit di perutnya. Sembari memegang perut dltujuannya untuk melindungi perutnya yang ditendang tanpa belas kasihan.Adrian segera mendekati Niken dan menarik Niken. Adrian tidak melihat Niken itu wanita atau tidak. Adrian membalas apa yang telah Niken lakukan ke Olla. Tindakan Adrian diperhatikan oleh Marcel dan Simon. Keduanya hanya memandang ke arah ketiganya tanpa ada niat untuk melerai. Olla menangis merasakan sakit di tubuhnya, terlebih lagi dirinya tidak bisa bergerak. Sesuatu yang dia rasakan keluar dari dalam tubuhnya mengalir ke paha dan kakinya. Olla menggelengkan kepala melihatnya. "Gila kamu, Niken. Kenapa kamu memukulnya, apa salah dia, berani-beraninya kamu melakukan itu kepadanya, tidak bisakah kamu sedikit saja berbelas kasihan dengannya!" teriak Adrian yang mencoba untuk membantu O
Olla hanya bisa meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berapa lama lagi dia di sini. Si kembar sudah tidak menangis, mereka kembali tertidur. Adrian kembali masuk ke ruangan di mana ada Niken dan Simon serta Marcel. Simon sudah mendapatkan aduan dari anak buahnya dan dia kesal dengan Adrian. "Masih bisa kamu datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan dengan tahananku," protes Simon. Suara Simon terdengar dingin saat dia menatap Adrian. Simon kesal karena Adrian membuat ketidaknyamanan tawanannya. "Aku salah jika melihat dia?" tanya Adrian. Niken memandang ke arah Adrian dan Simon bergantian. Dia heran kenapa Simon marah dengan Adrian. "Apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu membuat masalah, tawanan apa yang dikatakan oleh Simon? Kamu membawa tawanan ke sini?" tanya Niken. Niken tidak tahu jika Olla ada di sini. Karena dia berpikir Olla dibawa ke tempat lain, nyatanya tidak. "Olla di sini," sahut Adrian. Niken membolakan matanya, tidak menyangka kalau Olla bisa di sini.
"Apa kabar Olla. Maaf kalau kamu harus dibawa ke sini. Aku ...." Adrian sejenak menghentikan ucapannya dan dia melangkahkan kakinya. Namun, tangan Olla mengangkat ke arah Adrian. Tatapan mata Olla tajam, dia tidak menyangka kalau Adrian dalang dari semua ini. Adrian terkejut melihat reaksi dari Olla yang menolak dirinya mendekatinya. "Olla, ka-kamu kenapa?" tanya Adrian yang bingung kenapa sikap Olla seperti itu. Biasanya, Olla tidak seperti itu dan dia sangat bersahabat tapi kini tidak. Adrian masih berdiri di depan pintu dia tidak berani mendekati Olla. Adrian melihat si kembar yang tertidur. Baru kali ini dia melihat si kembar. Mereka tampan dan lucu. "Anakmu lucu, akhirnya aku bisa melihat mereka. Waktu di dalam kandungan aku ingin melihat mereka bertiga, akhirnya aku bisa melihatnya. Bisa aku menyentuhnya?" tanya Adrian. Olla masih belum menjawab dia masih menatap ke arah Adrian. Kebencian memuncak di hatinya. Adrian yang dia anggap teman bisa-bisanya menculiknya dan si ke