"Maksud kamu?" tanya Luana dengan kening berkerut. "Bos kita itu kan hot sekali kesannya, dia juga seksi dan ganteng, kalau dijejerkan kamu cocok lah, ya, kalau si Cherry kan cantiknya imut, jadi kurang cocok. Kalau sama kamu ...." "Jadi maksud kamu aku tuh tidak imut gitu?" potong Luana sedikit tersinggung. Gadis itu sangat ingin dibilang imut seperti anak kecil, tapi pada kenyataannya tak pernah ada yang bilang kalau dia imut. Kecuali Kyle. Dulu. DULU SEKALI SAAT SMA. Melihat Luana yang lesu, Derry malah tertawa geli. "Kamu 'kan emang tidak imut, Luana. Kamu tuh seksi, aku aja pas lihat kamu pertama kali langsung mikir kalau kamu memang seleranya si bos makanya dipilih jadi sekertarisnya, bener, kan?" Akhirnya, ada yang menyadari bahwa kini jabatan Luana sudah berubah. Luana awalnya panik, tapi dia mencoba menjawab dengan santai. "Yaaah, aku juga sadar sih kalau aku masuk sini bukan karena kemampuan." Luana menjawab ucapan Derry dengan helaan napas panjang. "B
Mendengar pertanyaan Nathan, Kyle langsung mengepalkan tangan dengan mata menyipit karena marah. "Siapa pun orang itu, aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan Luana, karena kali ini dia harus menjadi istriku, bukan yang lain," ucap Kyle penuh tekad. Nathan berdehem satu kali, melihat atasannya tersebut dengan pandangan takjub sekaligus kasihan. "Saya akui tekad Anda ini benar-benar patut diacungi jempol, Bos. Semoga Luana segera menyadari cinta Anda yang begitu besar ini," ucapnya dengan tulus. Kyle malah menggeleng tak setuju dengan ucapan bawahannya itu. "No, no. Tolong dicatat, bukan cintaku yang terlalu besar padanya." "Lalu?" Nathan memandang bos-nya dengan tatapan tak mengerti. "Aku yang akan membuat Luana tergila-gila padaku, pokoknya dia yang akan mengejar-ngejarku," jawab Kyle penuh percaya diri sambil tersenyum lebar. Nathan hanya bisa terbatuk kecil mendengar pernyataan bos-nya. "T-Tuan, ehm, saya minta maaf tapi ... pernahkah Anda mendengar istilah bucin?"
"Selamat pagi, Luana."Kyle menyapa Luana yang duduk manis di belakang meja lebih dulu.Hari ini Kyle memangkas sedikit rambutnya dengan jenis potongan undercut dan mengubah warna rambutnya menjadi hitam.Dia juga berdandan lumayan lama untuk mencocokkan hair style barunya dengan setelan jas yang dia pakai.Kyle menghabiskan waktu lumayan lama hanya supaya Luana memujinya tampan. "S-selamat pagi juga, Bos."Gadis yang tampaknya sedang sibuk dengan pekerjaannya tersebut, berdiri menyapa Kyle dengan mulut sedikit melongo dan mata terbelalak lebar."Kenapa kamu melihat aku seperti itu?"Kyle bertanya, menunggu gadis itu berteriak histeris dan memujinya tampan. Namun, Luana malah memasang wajah datar dan menggeleng."Ehm, saya tidak melihat Anda, kok."Gadis itu mengarahkan tatapan matanya jauh di belakang Kyle saat menjawab. Kyle tidak tahu bahwa saat ini Luana sedang mati-matian mengatur raut muka agar terlihat biasa saja padahal dalam hati ingin menjerit mengatakan betapa tampannya
"Dia pasti terpilih menjadi sekretaris karena wajahnya saja, kan? Aku yakin dia tak punya kemampuan, jadi pecat saja dia," lanjut Jasmine dengan nada sinis. Luana begitu shock dengan tuduhan Jasmine tersebut sampai matanya berkaca-kaca, bagaimana mungkin dia selalu dituduh terpilih menjadi sekertaris karena wajahnya, sementara dia sendiri selalu bekerja keras dalam pekerjaannya ini?Bahkan, bukan dia yang memilih pekerjaan ini, melainkan Kyle sendiri. Bagaimana bisa Jasmine seenaknya bicara seperti itu? Luana menatap Kyle, memohon bantuan. Tapi Kyle malah mengalihkan pandangan sehingga membuat Luana merasa sakit hati. Untungnya, Nathan segera menengahi pembicaraan saat melihat kondisi yang mulai tidak kondusif."N-nona Jasmine, tolong jaga kata-kata .....""Terus?"Justru Kyle malah bertanya dengan nada tenang, membuat Nathan menatap bingung kepada Kyle kenapa malah meladeni Jasmine, bukannya menjaga perasaan Luana? Sementara itu, jutaan kekecewaan menghimpit dada Luana saat melih
"Ih."Luana yang kini membenamkan wajahnya di dada Kyle hanya bersungut-sungut karena pria itu malah balik bertanya dan tak menghibur dirinya."Jadi Anda mengangkat saya sebagai sekertaris memang karena wajah saya, ya?""Memangnya kamu berpikir kalau kamu cantik atau tidak?"Kyle malah dengan sengaja membuat gadis itu semakin kesal."Menurut saya, sih. Saya imut," jawab Luana dengan bibir mengerucut karena kesal bos-nya tersebut tak pernah serius menanggapi perkataannya."Kalau kamu marah dikatakan menjadi sekretaris di sini karena tampang, kenapa kamu tidak mencoba membuktikan kemampuan kamu saja?""Caranya bagaimana?"Luana bertanya sambil memejamkan mata, terlalu nyaman dengan pelukan bos-nya tersebut dan tak ingin hal ini berakhir."Kamu merasa sudah setara Katy atau Rion, atau tidak?""Tentu saja tidak. Mereka kan lebih ahli dan lebih senior dari saya," jawab Luana sambil cemberut. "Kalau begitu, cobalah berusaha setara dengan mereka."Kyle menyahut dengan nada lembut. Luana me
"Aku benar-benar tidak bisa berkutik dengan hal ini."Kyle berkata lagi, kini dengan ekspresi sendu karena tahu Luana mulai menaruh iba padanya.Seandainya saat ini ada Nathan di ruangan ini, Kyle mungkin tidak akan berhasil berbohong dengan sangat mulus seperti sekarang.Dijodohkan? Tak bisa berkutik dengan keputusan dewan direksi? Yang ada para anggota dewan itu yang tak pernah bisa berkutik dengan segala keputusan Kyle. "Aku tidak mau menikah dengan orang yang nggak aku suka, apalagi dengan Jasmine."Kyle dengan lancar mengucapkan kebohongannya saat melihat Luana yang tampaknya mulai bimbang."T-tapi...."Luana masih terlihat ragu sehingga Kyle kembali memberikan serangan balasan. "Aku juga tidak suka sama kamu, jangan pikir aku minta kamu melakukan hal ni karena aku suka kamu," ralat Kyle segera dengan ekspresi serius."Oke, saya tahu."Hati Luana yang tadinya sudah mengembang karena Kyle lebih memilih dirinya daripada Jasmine, seketika kembali menciut. "Tapi tolong bantu aku,
"Kenapa?"Jantung Luana berdebar kencang ketika ujung jemari Kyle mengusap lembut bibirnya."Karena ...."Seperti sengaja, Kyle tidak meneruskan ucapan, justru mendekatkan bibirnya ke bibir Luana yang ranum dan berwarna merah muda.Sedikit lagi, mereka akan berciuman. Namun ....Brak.Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, lagi-lagi Nathan yang tak tahu situasi urgen di dalam, nyelonong masuk dengan cepat."Bos! Saya sudah menemukan solusi yang tepat untuk pembicaraan dengan Jasmine tadi pagi dan ...."Kaki pria itu seakan terpaku di lantai, menatap horor ke apa yang ada di depannya."M-maaf!"Nathan segera berseru dengan wajah pucat.Luana yang terkejut segera menyingkirkan tangan Kyle dari pipinya dan berlari keluar."Saya pergi dulu!" serunya dengan wajah merah padam, segera kabur dan menghilang di balik pintu."Sialan."Kyle menyugar rambutnya untuk melampiaskan rasa kesal, sedangkan Nathan, diam-diam mundur dengan ekspresi putus asa."Bos, tolong bunuh saya!"Nathan benar-benar menyes
Merasa tak puas hanya mengirim satu pesan, Luana pun mengetik pesan berikutnya.[Sungguh! Aku berani sumpah, tak ada apa-apa lagi antara aku dengan Revon, yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu bayangkan, aku tak ada hubungan apa-apa dengan Revon, Kyle. Kami sudah benar-benar selesai. Sungguh.]"Haa."Luana mengusap air matanya, mencari tempat duduk dan mulai mengetik pesan lagi dengan kalap.[Tolong, tolong percaya aku. Jangan seperti kejadian di SMA, tolong baca pesan ini, Kyle! Aku benar-benar tak ada apa-apa dengan Revon, aku sudah tak pernah ketemu Revon sebelumnya! Aku benar-benar tak mau kamu salah paham, please.][Tolong dengarkan aku. Please. Tolong jangan salah paham. Tadi Revon juga tahu-tahu meluk aku begitu saja. Kami tak berpelukan, dia yang meluk lebih dulu, Kyle!!]Setelah mengetik pesan yang begitu panjang, Luana mengacak pelan rambutnya, menarik napas panjang karena dadanya terasa begitu sesak.Dia tahu Kyle mungkin masih amnesia dan tak ingat kejadian di masa
Setelah diam beberapa saat, dengan suara berat Kyle menjawab. "Sebenarnya itu juga hal yang terus mengganggu pikiranku beberapa hari ini, Rion. Masalah tentang jika suatu hari Luana ingin mengandung buah cinta kami berdua." "Astaga, lalu apakah Anda sudah menemukan jalan keluar, Tuan?" Dengan sangat berat hati, Kyle menggeleng. "Enggak. Ehm, untuk saat ini belum. Aku sama sekali nggak menemukan jalan keluar atas masalah itu." Kyle berkata seraya mengusap wajahnya dengan gerakan kasar menandakan betapa putus asanya dirinya. Pria itu sama sekali tidak masalah jika tak bisa memiliki keturunan untuk menjaga Luana dari kematian, tapi bagaimana dengan Luana? Gadis itu mungkin saja memiliki pemikiran berbeda. Itulah yang dikhawatirkan oleh Kyle. "Jadi ... apakah Anda akan menyerah untuk menikah dengannya? Karena jika menikah maka masalah itu pasti ..." "Aku tetap nggak akan menyerah untuk menjadikan dirinya istriku. Tapi tentang masalah mengandung bayiku setelah kami menikah ters
"Ah, Tuan."Tiba-tiba Rion teringat kembali tentang percakapannya dengan ayah Kyle tadi pagi tentang cinta Kyle kepada Luana sehingga ingin bertanya sedikit kepada bos-nya tersebut."Menurut Anda, apakah jika kalian sudah menikah besok, Anda akan membiarkan Luana meninggal demi melahirkan buah hati Anda?"Pertanyaan ringan dari Rion tersebut serta merta membuat Kyle menutup dengan keras map yang sedang dibacanya dan menghadiahi Rion tatapan tajam."Apa maksudmu?"Kyle bertanya dengan suara dingin yang membuat Rion seketika gelagapan karena tak menyangka kalau Kyle akan bereaksi seperti itu.Dia buru-buru menggeser kursi di depan meja Kyle dan duduk dengan ekspresi pucat."Tolong jangan tersinggung atas ucapan saya, Tuan. Saya hanya tiba-tiba teringat akan ibu Anda melihat kemesraan Anda dan Luana tadi. Saya berpikir ... mungkin ayah dan ibu Anda dulu juga semesra ini hubungannya, sebelum akhirnya ibu Anda meninggal dunia," ralat Rion buru-buru.Rion menyembunyikan maksud sebenarnya da
Rion ingin berkata bahwa cinta Kyle kepada Luana tidaklah sedangkal itu, dia bahkan rela menghancurkan dunia demi bisa bersama dengan Luana. Rion yakin jika usaha ayah Kyle ini akan sia-sia saja bahkan jika yang datang itu Leanna yang merupakan teman masa kecil Kyle. Namun, Rion tidak bisa menjamin jika Luana lagi-lagi tahu bahwa Kyle kembali dijodohkan saat dia dalam posisi yang 'katanya' diuji sebagai menantu baik, apakah gadis itu akan bertahan?Dia bisa merasakan bagaimana putus adanya Luana jika tahu hal ini, karena itu Rion bertekad untuk menyembunyikan kabar berita ini sampai Luana selesai melakukan misinya.Rion mengepalkan tangan dan benar-benar bertekad untuk menutup sumber berita apa pun tentang hal ini dari Luana, sehingga dia bisa bekerja dengan tenang."Aku tahu mungkin kamu memandang aku sebagai orangtua egois, tapi aku benar-benar tidak ingin Kyle di masa depan akan menjadi pria menyedihkan seperti aku, karena itu aku melakukan semua ini."Rion berusaha membujuk ayah
Pagi hari di kantor. "Selamat pagi, Tuan." Luana segera berdiri dari tempat duduknya dan menyapa Kyle yang baru saja dari luar bersama dengan Rion di belakangnya. Kyle berhenti berjalan menuju ruangannya dan menoleh kepada Luana yang sedang berdiri di balik meja kerja. Pria itu berjalan mendekat dan melayangkan kecupan lembut di pipi sang gadis yang membuat Rion terperanjat kaget, sedang Kyle sendiri tersenyum penuh kasih kepada gadis mungil itu. "Maaf morning kiss-nya telat," ucapnya lembut, yang dibalas Luana dengan gelengan. "Tidak apa, saya tahu Anda sibuk." Kyle menaruh tangannya di pipi Luana dan membelai penuh kasih sayang dengan sorot mata penuh minta maaf. "Sudah makan?" "Sudah." Semenjak Luana menginap di tempat tinggal Kyle selama seminggu, Kyle memang membuat peraturan bahwa harus ada morning kiss sebelum keduanya sama-sama berangkat bekerja. Namun, karena hari ini dia sudah harus berangkat bekerja sejak pukul enam pagi maka morning kiss tersebut pun telat d
Luana menyingkirkan tangan Kyle dari pundaknya dan menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Ini seperti disuruh memilih antara mati di tangan para hantu demi menikah dengan orang yang dicintai atau hidup dengan melepaskan satu-satunya pria yang sangat dicintainya tersebut. "Mau bagaimana lagi, Lun? Aku jugannggak punya kuasa untuk menolaknperintah ayah. Aku ingin membuktikan pada ayah kalau wanita pilihanku ini benar-benar bisa diharapkan. Kamu bisa membantu aku,'kan, Lun?" "Terima kasih atas kepercayaanmu padaku yang begitu besar ini, Kyle. Meski aku .. aku merasa nggak yakin kalau bisa mengatasi semua ini," tukas Luana dengan lemas lunglai. "Kamu pasti bisa, Lun. Kamu selalu bisa menghadapi kesulitan apa pun, jadi kali ini pun aku yakin kamu pasti bisa menyingkirkan rumor tersebut." Melihat keyakinan di mata Kyle, tiba-tiba Luana teringat akan sesuatu. "Aaah, sebentar. Kenapa nggak kamu buktikan sendiri apakah tempat itunberhantu atau enggak? Bukankah kamu berteman dengan
"K-kamu serius? Berhantu?" Luana bahkan tidak tahu sekarang harus berekspresi bagaimana, dia sudah sangat terkejut ketika diberi tahu bahwa akan dipindah kerja karena ayah Kyle yang tak ingin melihat calon menantunya dirumorkan sebagai wanita penggoda. Lalu sekarang, tempat kerja barunya adalah.. hotel berhantu? Ingin sekali rasanya Luana berteriak melontarkan pertanyaan kepada pemilik utama Zeus grup tersebut seperti ini: "Are you kidding me?" Luana bertanya, hanya bisa tertawa sumbang sambil menyugar rambutnya. Sepertinya, sepertinya ini hanya alasan Tuan Besar itu untuk mengusir Luana jauh-jauh dari sisi Kyle, putranya, bukan karena ingin memberi tantangan padanya untuk membuktikan kualitas yang dia miliki. Dia memandang pria yang terasa semakin sulit digapai tersebut dengan sorot putus asa dan bahu lunglai. "Apakah kamu serius saat mengatakan hal itu, Kyle? Serius, apakah hotel itu benar-benar dirumorkan berhantu?" Kyle mengangguk pelan seakan itu bukanlah sebuah masalah
"Kamu ingat nggak, Lun, waktu dulu aku pernah bilang kalau dijodohkan oleh ayah dan para petinggi perusahaan?" "Ah, aku ingat, dan aku baru tahu hari ini kalo gadis itu adalah Jasmine. Hm, kalo pilihan ayahmu adalah gadis seperti Jasmine, dia pasti nggak akan mudah menerima diriku, ya, 'kan Seperti orang tua Rexy." Gadis itu tiba-tiba menunduk, entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa sangat sakit hanya karena membayangkan bahwa ayah Kyle ternyata sama dengan ayah Rexy, mantan pacarnya. Melihat Luana yang tiba-tiba bersedih, buru-buru Kyle menjelaskan. "Nggak, bukan gitu, Luana. Ayahku nggak kayak orang tua si berengsek ituyang melihat orang lewat strata sosial. Dia nggak peduli latar belakangmu kayak apa, Luana. Percayalah padaku. Tapi dia sangat peduli dengan image perusahaan dan image-ku." Jawaban dari Kyle sama sekali tidak membuat Luana lega. "lya, lalu? Apakah itu artinya kita ... kita nggak bakal bisa menikah, Kyle?" tanya Luana pesimis. Kyle segera meraih pipi gadis itu da
Kyle tersenyum lebar sambil berbaring miring dengan satu tangan sebagai bantal sedang tangan yang lain membelai pipi Luana. "Terima kasih banyak, ya, Lun." Senyum pria itu begitu cerah dengan.mata berbinar-binar, wajahnya segar seperti orang yang baru saja mendapatkan jackpot. Luana balas menggenggam tangan Kyle yang berada di pipinya dan mengangguk sambil tersenyum manis. "Sama-sama." Memang seperti tidak masuk di akal,.tapi apa yang dikatakan oleh Kyle benar. Luana adalah obat yang amat sangat manjur untuk dirinya secara harfiah. Setelah Kyle seperti biasa meminta Luana untuk 'membantunya' dengan segala sentuhan dan keindahan tubuh sang gadis agar cairan kental milik Kyle bisa keluar, perlahan-lahan luka di tubuh Kyle pun membaik. Bahkan bibirnya yang tadi sedikit lebam kebiruan kini terlihat baik-baik saja. Hanya tersisa sedikit warna merah di ujung bibir pria tersebut. Luana mengulurkan tangan dan mengelus rambut Kyle dengan penuh kasih sayang. "Aku senang lihat kamu sem
"Jadi bagaimana? Apakah aku salah?" tanya Luana dengan gelisah. Kyle mengusap lembut pipi gadis itu untuk menghilangkan kekhawatiran di matanya sebelum kemudian menarik napas panjang. "Kamu nggak salah. Yang salah itu Jasmine," jawab Kyle. "Astaga, Jasmine benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya Jasmine mengarang hal seperti itu, dia benar-benar harus dienyahkan," geram Kyle dengan kesal. "Apa yang dia katakan benar-benar nggak masuk akal, bayi monster yang memakan daging manusia? Kenapa nggak sekalian memakan beruang atau serigala?" Pria itu menyugar rambutnya dan tertawa hambar dan berakhir dengan senyum pahit saat lagi-lagi tahu bahwa Jasmine yang tadi siang dia beri ampunan ternyata telah menyebar berita buruk seperti ini tentangnya. Gadis itu benar-benar sampah! Kyle harus mencari kesempatan untuk melenyapkan dirinya diam-diam, agar tidak terus mengganggu kehidupannya seperti sekarang. "J-jadi semua yang dikatakan Jasmine utu salah?" Ragu-ragu Luana memberanikan diri unt