Tendangan ini membuat dada Reza sakit dan dia hampir memuntahkan seteguk darah."Celine, kamu ...." Meski begitu, dia tidak lupa meyakinkan Celine untuk mengambil alih tanggung jawab.Akan tetapi kali ini sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Owen menginjak dadanya. Wajah Owen sudah terlihat marah dan tatapan penuh amarah itu membuatnya terlihat semakin menakutkan.Hanya dengan satu pandangan saja sudah membuat Reza ketakutan untuk mengucapkan sepatah kata pun.Tatapan Celine tertuju pada kamera untuk waktu yang lama. Akhirnya dia mengulurkan tangan dan meraih kamera seolah baru saja dilecehkan.Saat itulah Owen dan James menyadari keberadaan kamera.Dengan kecerdasan keduanya, mereka langsung bisa mengerti fungsi dari kamera tersebut.Setelah Celine menjauh dari ruangan, Owen meninju wajah Reza dengan kuat. Seketika itu juga Reza dipukul sampai kepalanya berkunang-kunang dan telinganya berdengung. Sebuah suara pun terdengar."Reza, dasar jahanam!"Owen menunjukkan tatapan tajam
"Kamu pikir aku suka Reza?"Suara Lily penuh dengan nada merendahkan.Irina tertegun sejenak lalu berkata, "Memangnya ... memangnya nggak?""Apanya yang iya? Kalau Reza yang dulu, aku memang suka, karena waktu itu dia tunangannya Celine dan punya identitas Tuan Muda Reza, termasuk pewaris Keluarga Linoa. Kalau aku menikah dengannya, kehidupanku pasti akan sangat baik, sayangnya ...."Lily menyesap sedikit arak.Setelah berhenti sejenak, tatapan merendahkan di wajahnya semakin jelas. "Belakangan aku baru tahu kalau status tuan mudanya itu hanya nama belaka. Bisnis yang dia pegang sudah rugi, ayahnya juga punya rencana mendukung anak haramnya. Reza belum tentu bisa jadi pewaris Keluarga Linoa.""Seorang tuan muda yang nggak punya kekuasaan bahkan lebih parah dari anjing, apalagi kalau dibandingkan dengan seseorang."Teringat dengan Tuan Andreas, Lily memasang ekspresi memuja.Reza bahkan tidak pantas menjadi budak Tuan Andreas.Irina menyadari Lily mengatakan "seseorang", kemudian dia me
Andreas turun dari mobil.Ketika Marco yang tadi membanting setirnya dan baru saja sadar kembali, Andreas sudah mengetuk jendela mobilnya.Muncul kilatan canggung di mata Marco, dia menurunkan jendelanya dan melihat Andreas tersenyum sinis. "Aku pikir siapa, ternyata kamu? Untuk apa kamu membuntutiku?""Aku ...." Marco baru saja mau beralasan kalau dia tidak membuntuti Andreas.Namun tiba-tiba, terdengar suara mobil-mobil melaju kencang. Tak lama kemudian, beberapa mobil minivan mengepung mereka berdua. Dari mobil itu turun banyak orang yang memegang tongkat.Itu adalah orang-orang Marco.Marco tahu, dengan kepintaran Andreas, Andreas kemungkinan besar sengaja memancingnya keluar.Kalau saat ini Marco mengelak, Andreas juga tidak akan percaya.Oleh karena itu, daripada mengelak untuk melepaskan diri, dia lebih baik selesaikan Andreas malam ini dan menyelesaikan misinya."Kenapa?" tanya Andreas sambil melihat orang-orang yang mengepungnya, matanya juga semakin serius.Marco mengangkat a
Tangan Andreas perlahan-lahan mengepal.Dia tidak bisa menunggu lagi, begitu dia membuka pintu, di dalam hanya ada kegelapan.Andreas juga tidak menyalakan lampu, melainkan langsung menuju ke kamar Celine. Namun, pintunya terkunci rapat dan terdengar suara air mengalir dari dalam.Di dalam kamar mandi,Celine terus menyiram tubuhnya dengan air.Reza memang tidak berhasil memerkosa dia, tapi dia tetap merasa sangat jijik.Dia sangat ingin melepaskan selapis kulitnya agar noda di seluruh tubuhnya hilang.Kalau tadi James terlambat datang sedikit saja, dia mungkin sudah diperkosa oleh Reza sialan itu."Sialan!" Celine menggertakkan giginya. Namun, karena lidahnya yang terluka tertarik, Celine kesakitan sampai giginya gemetar.Karena barusan dia mengumpat, dia lagi-lagi merasakan darah di mulutnya.Lukanya harus diurus!Setelah kira-kira satu jam, Celine baru mematikan keran.Di luar, begitu mendengar sudah tidak ada suara air, Andreas tertegun sejenak lalu hendak mengetuk pintu, tapi dia
Maksud dari kata-katanya adalah menyuruh Andreas jangan mengganggunya, lebih baik lagi kalau dia keluar.Andreas tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu tangannya gemetar sejenak. Dia merasa hatinya seakan-akan diremas, rasanya sangat sakit.Dia tidak ingin keluar, ingin menemaninya, tapi juga takut gerakannya akan membuat Celine marah."Kamu tidur saja, aku ada di pintu, kamu tidur dengan tenang." Andreas diam-diam menghirup napas dalam sambil terus melihat Celine yang ada di atas kasur, tidak ingin mengalihkan tatapannya.Setelah beberapa saat, dia baru berjalan ke pintu.Andreas tidak keluar, melainkan duduk di kursi yang ada di samping pintu.Celine juga tidak mengatakan apa-apa lagi.Tidak mau keluar ya sudah.Dia benar-benar sudah mau tidur!Dia tidak ingin berpikiran jernih memikirkan adegan yang menjijikkan itu.Mungkin karena kelelahan, tak lama kemudian, Celine sudah terlelap.Mendengar napas Celine yang perlahan-lahan jadi ringan, Andreas tetap duduk sangat lama di dalam kam
Reza menghirup napas dalam-dalam, merasa dia baru saja selamat dari kematian.Namun, kesenangan mendapatkan hidup baru hanya berlangsung beberapa detik sebelum Reza dilempar ke lantai yang keras."Ah ...." Reza merasa tulangnya bahkan bergeser.Namun, dia tidak sempat memikirkan kesakitannya. Dia langsung berlutut dan menghadap ke arah orang yang datang tadi berdiri. Kemudian, dia langsung bersujud berkali-kali."Tolong ampuni aku, tolong sampaikan kata-kataku ke Paman Andreas."Meski takut, Reza tahu kalau di belakang orang-orang ini pasti adalah Tuan Andreas.Setelah dia selesai bicara, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan nada dingin, "Kamu mau bilang apa?"Meski sudah lewat beberapa bulan, Reza masih ingat kalau ini adalah suara Tuan Andreas."Paman, Paman ...." Andreas pun merangkak ke arah Andreas. Begitu dia tiba di sisi kaki Andreas, tangannya langsung diinjak.Tangannya kesakitan, tapi Reza sama sekali tidak berani menghindar.Andreas menatap Reza, di kamera itu, Reza
Bahkan sampai sekarang, Reza masih keras kepala.Namun kenyataannya memang begitu, dia keras kepala juga tidak ada gunanya.Andreas hanya tertawa sinis. Saat ini kepala Reza dibungkus, dia bahkan tidak bisa melihat ekspresi Andreas sekarang, tapi keheningan setelah tawa sinis itu membuat ketakutannya meningkat sampai ke batas tertinggi.Dia tiba-tiba teringat, di sistem KUA, di kolom pasangan Celine tertulis "Tidak diketahui".Siapa yang bisa menyuruh pihak KUA menyembunyikan informasi itu?Mungkin hanya Tuan Andreas!Teringat dengan perbuatannya terhadap Celine, Reza seketika merasa ada pisau besar yang tergantung di atas kepalanya dan kapan pun mungkin akan jatuh memenggal kepalanya."Paman ... maafkan aku, aku salah, aku nggak seharusnya mengganggu Ce ...."Awalnya Reza ingin langsung menyebut nama Celine, tapi dia tiba-tiba teringat sesuatu dan langsung mengubah panggilannya. "Tante .... Benar, aku tidak seharusnya mempunyai niat seperti itu kepada Tante."Reza diam-diam mengingatk
Reza ingin bertanya, tapi dia merasa aliran listrik melalui tubuhnya dan seketika dia pun pingsan....Ketika Andreas pulang ke Kompleks Tiara, Celine masih tertidur.Di rumah Keluarga Maira.Irina pagi-pagi sudah bangun. Setelah selesai mandi, dia langsung masuk ke kamar Lily tanpa sarapan."Kak Lily, sudah ada kabar dari Tuan Muda Reza, belum?" tanya Irina sambil membangunkan Lily.Lily awalnya mau lanjut tidur, tapi teringat hari ini akan ada pertunjukan seru, dia langsung semangat.Lily mengambil ponselnya dan menelepon Reza.Di sebuah kamar hotel, sebuah ponsel terus berbunyi, tapi tidak ada yang mengangkat."Ada apa ini?" Lily mengernyit, tapi seketika dia mengangkat alisnya dan tertawa. Dalam hati dia berpikir pasti karena semalam Reza terlalu lelah, jadi sekarang masih tidur."Kak Lily? Jangan-jangan ada yang salah?" Muncul kekhawatiran di mata Irina.Selama ini Celine selalu pintar dan beruntung, jangan-jangan ....Sebelum dia sempat berpikir kemungkinan yang terjadi, Lily sud
Matanya yang melihat Donny berbinar-binar, membuat Donny merasa sangat bangga."Ayah ternyata ...."Begitu Celine berbicara, Donny akhirnya tidak tahan lagi. "Waktu merindukan ibumu, aku melatih tulisanku, membayangkan sosoknya waktu menulis ...."Saat berbicara, wajah Donny penuh dengan senyuman yang bangga dan juga lembut.Celine merasa kehangatan di hatinya.Dia membayangkan sepasang pria dan wanita muda. Wanita itu menulis dengan serius, lalu pria itu melihat wanita itu dengan mata penuh cinta. Celine pun tanpa sadar berkata, "Seandainya Ibu masih ada."Kalau Ibu masih ada, mereka bisa bertemu kembali, pasti sangat bahagia.Donny tertegun sejenak, lalu di matanya terlihat kekecewaan.Mereka berdua berbicara dengan suara kecil, ditutupi oleh suara-suara pujian. Senyuman terpaksa di wajah Yuni akhirnya tidak bisa dipertahankan lagi.Tulisan Donny sebagus ini, membuatnya tidak bisa menyerahkan karya asli yang sudah dia siapkan itu.Namun, hadiah yang sudah disiapkan mana bisa tidak di
Senyuman di wajah Andreas membuat orang-orang tidak bisa menebak tujuan dari kata-katanya itu.Namun, setelah berpikir sejenak, semuanya mengerti.Orang Keluarga Jayadi tentu saja membantu Keluarga Jayadi.Seketika, semua orang di sana menahan napas, tapi dalam hati mereka sangat semangat.Situasi apa ini?Keluarga Jayadi dan Keluarga Tjangnaka yang merupakan dua keluarga terbesar ... bermusuhan?Mereka mengira hari ini datang untuk menghadiri pesta ulang tahun, tapi ternyata mau menyaksikan permusuhan antara dua keluarga besar.Begitu Andreas membuka mulut, bahkan "sikap baik" Yuni terhadap Keluarga Tjangnaka tadi seketika dilupakan semua orang.Tuan Andreas mewakili seluruh Grup Jayadi!Namun, senyuman Andreas itu malah membuat Omar dan Fera gelisah.Andreas memang anggota Keluarga Jayadi, tapi dia tidak pernah suka dengan Fera, juga tidak pernah menganggap Fera sebagai keluarganya. Dia mana mungkin melindungi Fera?"Andreas ... " panggil Omar.Namun, suaranya yang memanggil Andreas
Tapi?Bagus ya bagus saja, kenapa masih ada tapi?Yuni berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan senyumannya. Dia mendongak dan melihat wajah Donny yang tadinya tersenyum sekarang sudah mengernyit.Yuni semakin berusaha untuk mempertahankan senyumannya.Kemudian, dia mendengar Donny berkata, "Nyonya Yuni memang ahli, tulisannya memang biasa saja, sayang sekali. Tulisannya nggak pantas untuk menulis "Seri Lastu"!"Setelah itu, Donny tidak melihat karya Fera lagi, seakan-akan sangat tidak suka dengan karya itu.Para tamu langsung membelalak.Sebentar, kalau begitu, bagaimana dengan mereka yang tadi memuji?Semua orang melihat Donny, lalu melihat tulisan kaligrafi itu, seketika merasa pujian mereka tadi hanyalah pujian terhadap status Keluarga Jayadi.Memang benar mereka terlalu mementingkan kekuasaan dan status.Bos Keluarga Tjangnaka memang pemberani.Albert juga menambahkan di saat yang tepat. "Tulisan ini memang biasa saja, kalian semua hebat bisa memuji sampai seperti itu!"Orang-o
Fera diam-diam melirik Celine sekilas dengan ekspresi sombong seorang pemenang.Dalam sedetik, dia sudah mengalihkan tatapannya. Ekspresi sombong itu juga tidak terlihat lama, tapi Celine tetap menangkapnya.Celine kebingungan.Tatapan Nyonya Fera terhadapnya ini sangat aneh.Tepat ketika Celine mau memikirkan makna dari tatapan itu, Fera sudah berdiri tegak.Dia sudah selesai menulis!Menghadapi karya lengkap yang sudah selesai ditulis, semua orang menjadi semakin rajin memuji.Mereka semua saling bergantian, pujian terus terdengar, seakan-akan ini adalah karya seorang master."Terima kasih, terima kasih atas pujian kalian terhadap menantuku, maaf kalau ada yang kurang." Yuni tersenyum berseri-seri.Meski dia suka melihat kaligrafi, tapi kalau diteliti lagi, dia sebenarnya tidak mengerti apa-apa.Dia pernah melihat "Seri Lastu" yang asli, dibandingkan dengan tulisan Fera ini, sepertinya tidak jauh berbeda.Mendengar begitu banyak pujian, Yuni juga merasa tulisan ini pasti bagus.Namun
Saat ini, Ayah, Kakak selalu memanjakannya, ingin sekali setiap saat bisa melihatnya.Kalau tahu hari ini dia akan datang ke kediaman Jayadi, mereka pasti akan datang.Inilah yang Yuni inginkan.Celine merasa sedikit bersalah.Yuni mencari kesempatan menyanjung Donny, maka permintaan yang datang bersamanya pasti akan semakin besar.Donny tahu apa maksud Celine.Dia tidak peduli dengan permintaan Yuni, dia cuma mau melihat putrinya. Donny pun menepuk tangan Celine dan menenangkannya. "Nggak apa-apa, nggak repot."Melihat mereka berdua terus mengobrol dengan kepala menunduk, Yuni jadi gelisah.Dia mau Donny melihat ke sini! Melihat Fera menulis!"Fera, sudah siap? Tulis baik-baik!" ujar Yuni dengan suara keras.Suara ini menarik kembali perhatian Celine dan Donny. Mereka berdua bertatapan lalu melihat ke pusat kerumunan. Di depan meja, ada Fera yang sudah siap memulai karyanya.Memang terlihat pernah berlatih dalam seni.Fera pada dasarnya sudah punya aura yang lembut. Saat ini, sosoknya
Master Yasha adalah ahli kaligrafi yang paling terkenal di Mastika.Pencapaiannya dalam kaligrafi sangat tinggi. Sebelum meninggal, karya kaligrafi yang dia tinggalkan sangat sedikit, tapi semuanya adalah mahakarya, harganya sangat tinggi.Tidak disangka, nyonya Keluarga Jayadi ini adalah muridnya Master Yasha. Asal tahu saja, Master Yasha tidak menerima murid sembarangan, kecuali kalau orang itu sangat berbakat.Seketika, semua orang yang ada di sana melihat Fera dengan tatapan kagum.Bagaimanapun juga, Fera adalah Nyonya Keluarga Jayadi, juga tokoh utama dari pesta ulang tahun hari ini. Meski dia menjadi tidak terlalu penting karena ada Celine yang belakangan ini sangat mencolok dan juga ada orang Grup Angkasa,orang-orang tetap harus menunjukkan sikap yang sopan terhadap anggota Keluarga Jayadi.Semua tamu yang datang hari ini adalah orang-orang pintar, Yuni sengaja mengungkit hal ini pasti ada alasannya.Ada beberapa orang yang terlihat menanti-nanti."Nggak kusangka ternyata Nyony
Kalaupun dia ganti gaun, atau menambah syal di lehernya untuk menutupinya, malamnya tetap akan ketahuan Omar.Oleh karena itu, Fera menahan sakit dan sengaja menggores tempat itu dengan ranting pohon.Meski hanya luka kecil, Lucen tetap merasa sakit hati."Fera, semua ini salahku, nggak berhasil meminta Nona C dari K&K untuk mendesain sebuah gaun untukmu." Omar merasa sangat bersalah.Fera suka desain Nona C itu.Omar sudah mencari bos K&K, bahkan meminta bos itu yang mengajukannya, tapi tetap tidak berhasil mendapat persetujuan dari Nona C itu.Dia hanya mendapat satu balasan. "Nona C sedang sibuk, tidak ada waktu untuk mendesain gaun."Sibuk?Seorang desainer baju memangnya bisa sesibuk apa?Omar bahkan sudah menunjukkan identitasnya, tapi jawabannya tetap sama, yaitu "Nona C sibuk."Waktu tahu hal ini, Fera terlihat sedikit kecewa.Untungnya Fera orangnya pengertian, kalaupun kecewa, dia tidak akan menunjukkannya, malah menghibur Omar. "Nggak apa-apa, aku pakai gaun yang dulu didesa
Orang yang berbicara itu adalah tukang kebun di kediaman Jayadi.Gedung medis?Gedung medis lumayan jauh dari sini, untuk apa Fera ke sana?Omar tersenyum pada para tamu lalu segera pergi ke gedung medis.Langit sudah gelap.Saat ini, para tamu sudah berkumpul di dalam hall utama, jadi meski di luar ada lampu jalan, tapi kosong, tidak ada orang.Semakin mendekati gedung medis, jantung Omar berdetak semakin kencang, seakan-akan firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk.Ketika masuk ke gedung medis, dia melihat seseorang."Tuan Omar." Lucen berdiri di depan pintu gedung medis, memakai jas hitam, kacamata hitam. Tubuhnya tegap dan berotot.Meski anggota Swastamita sangat banyak,sebagai mantan kepala keluarga, seluruh anggota Swastamita pernah ada di bawah perintahnya.Omar mengenali Lucen.Sangat kompeten, keahlian bela dirinya bagus, pintar membaca suasana, setia, pendiam, ada banyak kelebihan yang disukai Omar di Lucen.Hanya saja ...."Kamu nggak menjaga keamanan di gedung utama,
Lucen ingin memastikan maksud Fera. "Maksudmu biarkan dia menikah dengan Tuan Muda Dylan?"Fera berpikir sejenak lalu berkata, "Kalau dia menikah dengan Dylan, ancamannya memang jauh lebih kecil. Tapi ... dia dan Andreas saling mencintai, mana mungkin mau menikah dengan Dylan?"Fera mengernyit.Lucen tidak ingin melihat wanita yang dia cintai mengernyit, juga tidak ingin kedudukan Fera di keluarga Jayadi terancam.Oleh karena itu, dia tidak peduli Celine adalah kekasihnya Andreas dan langsung berkata dengan gegabah, "Aku ... mungkin punya cara.""Cara apa?"Mata Fera langsung berbinar.Lucen menggenggam tangan Fera. "Aku lihat Tuan Omar pergi, katanya mau menjemput Tuan Muda Dylan, berarti Tuan Muda Dylan akan pulang hari ini, jadi aku mungkin bisa ...."Lucen menceritakan rencananya.Mendengar rencana Lucen, Fera sangat puas.Namun, meski begitu, dia tetap merasa khawatir. "Celine itu putrinya Keluarga Tjangnaka, juga penanggung jawab Grup Nadine yang sekarang, terus Andreas .... Kala