Share

Bab 438

Penulis: Helena Ayu
Rika melepaskan celemeknya dan berjalan keluar.

Ketika melewati ruang tamu, dia melihat Aldo, ayah Farel, sedang duduk di sofa membaca koran. Dia menghentikan langkahnya, menyapa dengan sopan, "Halo, Paman."

Aldo agak terkejut, tidak tahu Rika ada di rumah. "Rika sudah datang, ya, sini, duduklah!"

Rika tersenyum. "Aku ada urusan, jadi harus pulang dulu!"

Sejujurnya, dia tidak pernah bisa memahami apa yang dipikirkan Aldo.

Menurutnya, Aldo adalah orang yang sangat misterius.

"Temani Paman sebentar. Aku akan suruh pembantu panggil Farel turun," ujar Aldo dengan ramah, sambil mendorong bingkai kacamatanya.

"Nggak perlu, aku benaran ada urusan, jadi harus segera pulang. Aku pamit dulu, Paman," ujar Rika dengan sopan sambil tersenyum, lalu berbalik pergi.

Aldo menatap punggung Rika yang menjauh, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun emosi.

Ketika Rika sudah keluar dari pintu, dia pun bangkit dari sofa, lalu naik ke atas menuju ruang kerja.

Farel menerima telepon dari ayahnya, lalu berbicara
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 439

    Farel menyeringai sinis. "Jadi, maksudmu, demi masa depanmu sendiri, kamu bisa menjual putra putrimu sendiri!"Saat kecil, Farel berpikir bahwa ayahnya adalah sosok yang jujur dan sangat hebat.Sekarang, dia baru sadar bahwa dia telah salah menilai ayahnya.Ekspresi Aldo langsung menjadi masam setelah mendengar itu. "Farel, jangan mengira sekarang kamu sudah dewasa, aku tidak bisa mengaturmu lagi! Hubunganmu dengan Rika hanya bisa maju, tidak bisa mundur! Keluar!"Farel hanya menatapnya dalam-dalam sebelum berbalik pergi.Melihat Farel pergi, Aldo merasa kesal sambil memijat keningnya.Dia tiba-tiba merasa Farel benar-benar sudah dewasa, sudah tidak bisa dia kendalikan.Kenyataan tersebut membuatnya takut.Karena ambisi terbesar dalam hidupnya adalah mencapai puncak tertinggi.Dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencapai posisinya sekarang, dan puncak kesuksesan sudah sangat dekat. Bagaimana mungkin dia rela melepaskan kesempatan itu!Farel pergi ke garasi. Setelah mas

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 440

    Henry tertawa. "Papi nggak tahu siapa kakak yang kamu bilang, tapi ibunya hanya milik kakak itu, nggak bisa jadi milikmu, tahu?"Rania masih kecil, tidak mengerti hubungan antara orang tua dan anak, mengira siapa saja bisa menjadi ibunya.Rania tampak kecewa. "Begitu, ya."Melihat ekspresi Rania, Henry merasa sedih. "Bagaimana kalau lain kali kamu bertemu kakak itu lagi, kamu tanya apakah dia mau berbagi ibunya denganmu."Mata Rania berbinar-binar. "Oke!"Pada saat ini, panggilan dari Rumordi masuk.Henry segera keluar dar kamar inap untuk mengangkatnya."Ada apa?""Dokter hebat itu sudah menerima permintaan kita. Dia mengatakan akan datang langsung ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi putrimu.""Kapan dia datang?"Detak jantung Henry berdetak lebih cepat.'Rania akhirnya bisa diselamatkan!'"Dia bilang padaku akan datang pukul tiga sore, langsung ke kamar putrimu.""Oke, aku mengerti.""Aku sudah berhasil menghubungi dokter hebat itu, kenapa kamu nggak berterima kasih padaku!" Nada

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 441

    Mendengar suara Henry, dokter wanita itu tiba-tiba tampak kaku. Kemudian, dia berkata dengan suara dingin, "Keluarga pasien keluar dulu, jangan menggangguku melakukan pemeriksaan!""Aku di sini nggak akan mengganggumu! Dok, cepat periksa putriku." Henry tidak akan tenang meninggalkan Rania pada orang asing sendirian."Kalau kamu bersikeras, aku akan pergi," balas dokter wanita itu, suaranya makin dingin.Henry mengernyit, ekspresinya berubah menjadi masam. "Bagaimana aku bisa yakin kamu benar-benar dokter hebat terkenal itu?" Dia merasa dokter di depannya ini terlalu muda, bisa saja seorang penipu."Kamu bisa tanyakan pada temanmu, bukan? Kalau kamu nggak keluar, aku akan pergi sekarang!" seru dokter wanita itu dengan tegas.Tepat pada saat ini, panggilan dari Rumordi masuk, dan Henry segara mengangkatnya.Baru saja dia ingin menelepon Rumordi, ternyata Rumordi sudah meneleponnya lebih dulu."Henry, kamu sudah bertemu dokter hebat itu, 'kan? Apakah dia seorang pria tua berjanggut putih

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 442

    Saat menatap gadis kecil di depannya, Miana terpaku. Dia tiba-tiba menyadari bahwa mata gadis kecil ini sangat mirip dengan mata Nevan, dan hatinya seketika tersentuh.Kenangan meluap seperti air pasang, tentang kehidupan kecil yang belum pernah ditemuinya tetapi sudah berlalu, setiap detailnya seperti pisau yang mengiris hatinya.Mengingat putrinya yang telah meninggal, matanya mulai berkaca-kaca. Air mata berputar di kelopak matanya, tetapi dia berusaha menahan agar air matanya tidak menetes, khawatir kelemahannya akan menakuti anak yang dengan berani mengungkapkan perasaannya.Melihat hal tersebut, Rania tampak cemas dan bingung. Dia segera mencondongkan tubuhnya, tangan kecilnya dengan lembut menyentuh lengan Miana, seolah-olah ingin menenangkan luka yang tidak terlihat. "Kakak cantik, jangan sedih .... Kalau Kakak nggak mau jadi ibuku, nggak apa-apa, jangan menangis ...."Suara Rania terdengar bergetar, seolah takut bahwa satu kata yang salah akan membuat Miana menangis lebih kera

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 443

    Miana tertegun, lalu teringat Nevan pernah menceritakan dia bertemu seorang gadis kecil di depan toilet di bandara.Nevan juga mengatakan ibu gadis kecil itu sangat galak.Tidak hanya mencubit pipinya, ibu gadis itu juga menarik lengannya dengan kuat.'Kalau gadis kecil itu adalah Rania, berarti dia pasti sering dipukuli dan dimarahi. Kalau nggak, dia nggak akan bilang ingin aku menjadi ibunya.'"Ada apa? Apakah aku salah bicara?" tanya Rania yang menatap Miana dengan cemas.'Aku salah bicara, ya? Kakak cantik ini nggak akan peduli padaku lagi, ya?'Miana memakai masker, jadi wajahnya tidak terlihat sepenuhnya, tetapi Rania tetap merasa dia sangat cantik.Mungkin karena Miana memiliki sepasang mata yang sangat indah."Kamu nggak salah bicara." Miana mencubit pipi Rania dengan lembut, tersenyum, dan lanjut berkata, "Jangan berpikir yang aneh-aneh!""Tapi, aku merasa Kakak nggak senang." Rania meremas tangannya, tampak sangat gelisah.Dia memiliki kebiasaan itu, meremas tangannya setiap

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 444

    "Mia, bagaimana? Apakah penyakit anak itu bisa disembuhkan?" Giyan bertanya dengan suara lembut, memberikan perasaan tenang kepada semua yang mendengarnya."Penyakitnya bisa disembuhkan, nggak ada masalah. Hanya saja, tubuhnya lemah dan perlu diperkuat dulu," jelas Miana. "Oh ya, Nevan sudah diterima di TK Mentari. Aku lupa membawanya untuk pemeriksaan kesehatan. Kamu bisa bawa dia ke rumah sakit sekarang? Aku menunggu kalian di sini.""Oke, aku akan segera membawa Nevan ke sana."Usai menutup telepon dan menyimpan ponselnya, Miana menyadari bahwa Rania menatapnya dengan sorot mata yang berbinar-binar.Karena merasa aneh, Miana pun bertanya, "Ada apa?""Aku juga sekolah di TK Mentari, tapi aku sering sakit, jadi jarang masuk." Rania mengedipkan matanya sebelum melanjutkan, "Kakak cantik, bisa nggak hari ini sembuhin penyakitku, biar besok aku bisa sekolah!"Setiap kali pergi ke sekolah, dia selalu didampingi oleh pengawal. Anak-anak lain menjadi tidak berani bermain dengannya. Selain i

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 445

    Miana mengernyit dan menjelaskan, "Kondisi tubuh Rania terlalu lemah. Jika operasi dilakukan sekarang, risikonya sangat tinggi. Aku sarankan untuk memperbaiki kondisi tubuhnya dulu, baru kemudian mempertimbangkan operasi."Mata Henry kehilangan sinarnya. "Dokter sebelumnya bilang, kalau nggak segera dioperasi, nyawanya bisa terancam kapan saja!""Transplantasi jantung bukan operasi kecil. Kalau kondisi tubuh pasien terlalu lemah, risikonya sangat besar. Tugasmu sekarang adalah memperbaiki kondisi tubuh anakmu dan memastikan donor jantung tersedia. Itu saja yang perlu saya sampaikan, beberapa hari lagi aku akan datang lagi!" Mengingat mata Rania penuh harapan, entah mengapa hati Miana terasa sakit."Aku akan mencari ahli gizi untuknya." Wajah Henry tampak lelah, tetapi matanya terlihat lebih lembut dan tidak sedingin sebelumnya. Auranya pun tidak lagi sedingin dulu.Selama lebih dari tiga tahun, dia memang telah banyak berubah.Tatapan Miana pada wajah pria yang dulu sangat dicintainya

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 446

    Miana hanya menunjukkan sikap marahnya di hadapan Giyan.Dia seolah tahu bahwa Giyan pasti akan menenangkannya.Miana sepertinya sudah makin terbiasa dengan keberadaan Giyan di sisinya."Aku janji nggak akan melakukannya lagi!" seru Giyan sambil mengangkat tangannya. Wajah seriusnya membuat Miana tertawa."Ayah, Ibu, cepat bawa aku untuk diperiksa! Kalau terus berbicara di sini, kita akan terlihat seperti Panda di kebun binatang, dikelilingi oleh orang-orang!" bisik Nevan yang mendekatkan wajahnya ke telinga Giyan.Mendengar itu, Miana baru menyadari mata orang-orang yang tertuju pada mereka. Seketika, dia menegakkan punggungnya dan berkata dengan suara kecil, "Ayo cepat kita pergi!""Wah, wajah anggota keluarga itu luar biasa tampan dan cantik! Mungkin mereka artis?""Mereka terlihat sangat mesra! Aku suka sekali lihat pasangan seperti mereka!""Putranya juga sangat tampan! Aku juga ingin punya putra setampan itu!"Komentar-komentar itu membuat Giyan menatap wanita di sampingnya denga

Bab terbaru

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 512

    Miana merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pena.'Nggak ada cara lain, aku hanya bisa menggunakan ini.'Saat dia bersiap memasukkan pena itu ke rongga pleura pasien, ada yang tiba-tiba menyentaknya, "Miana! Apa yang kamu lakukan!"Miana mengernyit, mengangkat pandangannya, dan mendapati Celine sedang menatapnya."Menyelamatkan nyawa lebih penting, aku nggak punya waktu untuk berbicara denganmu!"Miana menolak untuk membuang energi menanggapi Celine, terutama dalam situasi genting seperti ini."Menyelamatkan nyawa? Kamu seorang dokter? Kamu punya lisensi medis? Nggak, 'kan?" Celine menyeringai penuh ejekan. "Yang kamu lakukan ini bukan menyelamatkan, tapi membunuh!""Hentikan ocehanmu, Celine!" Miana menatapnya dengan dingin. "Kalau orang ini kehilangan nyawanya karena nggak segera ditangani, kamu nggak akan bisa menanggung akibatnya!"Saat Miana bersiap memberikan pertolongan, sebuah suara penuh kecemasan menghentikannya, "Berhenti! Jangan sentuh suamiku!"Seketika, suasana di sekit

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 511

    Sherry menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Orang tua Farel nggak pernah menyukaiku dan selalu menentang hubungan kami. Selain itu, Farel sebenarnya sudah bertunangan dengan putri keluarga Sutara tiga tahun yang lalu. Orang tua Farel terus mendesak agar mereka segera menikah, tapi entah kenapa pernikahan itu terus tertunda. Sementara itu, hubunganku dengan Farel juga belum sepenuhnya ...."Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi Miana mengerti maksudnya."Aku mengerti maksudmu," ujar Miana dengan nada serius sambil mengerutkan kening. "Aku sudah mengatur beberapa orang untuk berjaga di luar. Kejadian tadi nggak akan terjadi lagi. Jadi, selama waktu ini, fokuslah untuk beristirahat. Jangan berpikir yang macam-macam, oke? Kita pernah berjanji akan selalu bersama seumur hidup, jangan lupa itu."Kehilangan satu kaki membawa dampak besar bagi Sherry, bukan hanya masalah penampilan, tetapi juga dalam rutinitas sehari-hari.Miana khawatir, ketika sendirian, Sherry akan terlalu ba

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 510

    'Mungkinkah Miana dan Nevan?'"Papi, bagaimana? Sudah dapat nomor kakak cantik itu?" Rania bertanya riang, seolah melupakan pembicaraan sebelumnya.Henry menggeleng pelan dengan ekspresi bersalah. "Belum, Rania."Dokter hebat itu sangat misterius, bahkan untuk mendapatkan kontaknya saja sangat sulit.Namun, ketika dipikirkan lagi, Henry merasa, jika kontak dokter itu mudah didapatkan, pasti akan kewalahan menghadapi orang-orang yang mencarinya setiap hari."Nggak apa-apa, aku nggak buru-buru!" ujar Rania dengan senyum penuh pengertian.Dia merasa ayahnya sudah melakukan yang terbaik, dan itu cukup untuknya.Miana baru saja menyelesaikan pemeriksaan untuk Sherry ketika ponselnya berdering."Bos, keluarga pasien kecil dengan masalah jantung berusia tiga tahun meminta nomor kontakmu, apakah boleh diberikan?""Nggak!" jawab Miana dengan tegas. 'Untuk apa Henry membutuhkan kontakku?''Apakah dia sudah tahu identitasku?'"Baik, aku akan segera memberi tahu mereka.""Untuk sementara, aku ngga

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 509

    "Hmm?" Henry menggumam pelan, hatinya terasa sedikit campur aduk.Jika orang tua kandung Rania ditemukan, apakah itu berarti Rania harus kembali pada mereka?Apakah itu berarti dia tidak akan pernah bisa bertemu Rania lagi?"Orang tuanya bekerja di Kota Rofar," ujar Rumordi lagi. "Perlu panggil mereka untuk bertemu dan melakukan tes DNA?"Henry menarik napas panjang. "Aku pikirkan lagi dulu."Setelah merawat Rania selama tiga tahun penuh kasih sayang, Henry tak ingin melepaskannya begitu saja.Kini, dia harus mempertimbangkan langkah berikutnya dengan hati-hati."Baiklah, cepatlah pikirkan!" Rumordi menguap. "Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup sekarang! Lain kali jangan meneleponku sepagi ini lagi, oke?"Dalam dunia mimpinya, dia hampir bersama dengan Miana.Namun, dering telepon dari Henry menariknya kembali ke kenyataan.Rasanya frustrasi sekali!Henry mendengus, lalu langsung menutup telepon.Rumordi, "...."'Malah gampang marah daripada diriku. Sungguh orang aneh!'Henry memega

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 508

    Farel tahu betul bahwa perintah orang tuanya bukanlah sesuatu yang bisa dia tolak, tetapi sikapnya dengan jelas menunjukkan penolakannya.Dia memilih diam, berbalik, dan meninggalkan ruangan.Menikahi Rika? Baginya, itu adalah hal yang mustahil.Melihat Farel berjalan pergi, Aldo makin marah. "Farel! Berhenti!"'Anak berengsek ini benar-benar membuatku marah!'Keluar dengan langkah cepat, Farel segera menghubungi Henry lewat ponselnya.Segera, panggilan tersambung. "Ada apa?" tanya Henry dengan suara dingin.Meneleponnya sepagi ini pasti ada sesuatu yang serius."Apakah Zeno dan Veno kembar?" tanya Farel langsung.Henry terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku hanya tahu Zeno. Veno ... nggak kenal!"Nama itu, yang baru dia dengar dari Rumordi tadi malam, dan sekarang Farel kembali menyebutnya."Aku menemukan Veno memiliki wajah persis seperti Zeno.""Aku akan mengirim seseorang untuk menyelidikinya," ujar Henry dengan nada tegas. Bahkan tanpa panggilan dari Farel, dia sudah berencana unt

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 507

    "Rika kamu sudah tahu siapa yang melakukannya?" Melihat Rika menggeleng dan mengernyit, Jodi yakin Rika mengetahui sesuatu.Rika menggeleng dan bersikeras menjawab, "Nggak tahu!"Farel menangani seluruh proses pemakaman ibunya dengan penuh tanggung jawab sebagai menantu keluarga Sutara.Pada saat itu, dia menerima banyak pujian karena memiliki pasangan yang begitu perhatian dan peduli, hingga membuat banyak orang merasa iri.Dulu, dia percaya bahwa hidupnya begitu sempurna, dipenuhi kebahagiaan, dan yakin mereka akan selalu bersama hingga akhir hayat.Sejak hari Farel mengajukan pembatalan pernikahan, dia mulai merasakan adanya retakan pada citra sempurna Farel.Mungkin saja, di balik sikapnya yang terlihat baik, tersimpan sisi yang lebih kejam dari yang pernah dia bayangkan."Bagaimana hubunganmu dengan Farel sekarang? Apa dia pernah menyebutkan kapan kalian akan menikah?" tanya Jodi, dia baru teringat bahwa sudah cukup lama Farel tidak datang ke rumah.Sikap Farel sudah berubah!"Hub

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 506

    Hanya Nyonya Winata yang menganggap suaminya seperti harta karun."Aku sudah membaca semua riwayat pesan mereka di ponsel suamiku!" Mendengar dari orang lain tidak akan cukup meyakinkan, tetapi dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri."Kenapa kamu nggak berpikir lebih jauh, kenapa suamimu membiarkanmu melihat riwayat pesannya? Atau apakah dia selalu menunjukkannya kepadamu?" tanya Miana secara langsung.Mendengar itu, Nyonya Winata tertegun.Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan seperti itu.Setelah melihat riwayat pesan itu, dia langsung marah besar dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Sherry, tanpa memikirkan kemungkinan lain yang sebenarnya terjadi."Sebagai wakil CEO di Grup Arca, aku bisa memastikan bahwa setiap pembicaraan kerja sama dengan Pak Eko selalu melibatkan aku dan Sherry bersama. Nggak pernah hanya mereka berdua saja!" Dalam hati, Miana mulai menduga-duga siapa yang mungkin merencanakan semua ini.Wajah Miana di mata Nyonya Winata seolah lukisan sempurn

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 505

    Saat bibir Miana baru saja menyentuh bibir Giyan, tiba-tiba suara dering ponsel memotong momen itu. Miana menghela napas, lalu berdiri tegak dan mengeluarkan ponsel dari sakunya.Ekspresi kecewa melintas sejenak di wajah Giyan, tetapi segera sirna.Miana menjawab telepon."Nona Miana, segera datang ke sini! Ada seorang wanita yang membuat keributan di kamar pasien!" seru perawat Sherry, yang dipilih langsung oleh Miana, dengan suara penuh kecemasan.Raut wajah Miana berubah serius. "Aku akan segera ke sana. Tekan tombol panggil untuk meminta bantuan mengusirnya!""Baik, aku mengerti!"Miana menutup telepon dan memeluk Giyan dengan wajah penuh penyesalan. "Giyan, aku harus pergi ke rumah sakit untuk melihat Sherry. Maaf, aku nggak bisa menemanimu sarapan."Giyan bangun pagi-pagi untuk memasak, tetapi Miana harus pergi tanpa mencicipi masakan tersebut, membuatnya merasa sangat bersalah.Giyan tahu betapa pentingnya Sherry bagi Miana, jadi dia segera menarik tangannya dan berjalan keluar.

  • Terjerat dalam Kecanduan Cinta   Bab 504

    Miana berjalan mendekat, merentangkan lengannya dan memeluk pinggang Giyan. "Giyan, terima kasih."'Terima kasih telah mencintaiku, merawatku, menemani aku.'Giyan terkejut untuk sesaat, lalu mematikan kompor, berbalik, dan memegang wajah Miana dengan kedua tangan."Bukankah sudah kubilang nggak perlu sungkan? Kenapa berterima kasih lagi padaku?" ujar Giyan dengan kening yang sedikit berkerut, menunjukkan ketidaksenangan."Aku merasa, kata terima kasih adalah satu-satunya cara untuk mengungkapkan perasaanku saat ini." Miana mengulurkan tangan dan memijat kening Giyan yang berkerut. "Semalam kamu mabuk berat, sekarang masih terasa nggak nyaman?"Usai berbicara, Miana memegang pergelangan tangan Giyan dan memeriksa denyut nadinya.Giyan tertawa melihat tindakannya. "Bagaimana hasil pemeriksaan? Apakah tubuhku ada masalah?""Tubuhmu baik-baik saja!" jawab Miana dengan serius."Oh iya, semalam aku mabuk, apakah aku melakukan sesuatu yang tidak pantas?" Giyan tidak ingat apa yang dilakukann

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status