Kelly merengungi cerita Brandon. Meski bergelimang harta, ternyata Brandon tidak bahagia. Ia tidak pernah merasa mendapat perhatian yang sebenarnya.Kerapkali, Kelly memperhatikan saat Brandon sakit, seluruh keluarga Dalton memberi perhatian dan Brandon tampak canggung. Namun begitu, Brandon berterus-terang ia sangat menyukai perhatian dari Kelly hingga rela sakit.“Nanti Mommy ke sini sehabis praktek. Apa ada yang kamu butuhkan? Kelly bertanya pada Brandon.“Kamu. Aku hanya butuh kamu di sisiku.” Brandon menggenggam erat tangan Kelly.Kelly menggeleng samar sambil menatap wajah Brandon. “Ke mana lelaki sedingin antartika itu pergi?”“Siapa?” Brandon mengerutkan kening tak mengerti.“Dulu, aku menamaimu lelaki dari antartika karena sikapmu yang dingin.” Kelly menyeringai.Kekehan pelan terdengar dari hidung Brandon. “Aku pasti sering sekali membuatmu sakit hati, ya?”“Sudah berlalu. Aku bukan tipe wanita pendendam. Tenang saja.” Kelly menepuk lengan Brandon.Brandon mengecup telapak t
Satu minggu berikutnya, Brandon datang ke mansion William. Kelly mengatakan bahwa sang Daddy bersedia bicara dengannya. Brandon cukup percaya diri, apalagi setelah Kelly berkata Mommy Keyna mendukung mereka.Kelly menyambut Brandon di foyer. Mereka berpelukan dan saling melepas rindu setelah beberapa hari belakangan hanya berkomunikasi melalui telepon."Keluargaku sudah menunggu." Kelly mendongakkan kepalanya menatap wajah Brandon."Keluargamu? Aku pikir aku hanya akan bertemu dengan Tuan William.""Mungkin nanti Daddy akan mengajakmu bicara di ruang kerja."Brandon mengangguk. Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Begitu masuk, Brandon tertegun sesaat melihat keluarga Dalton berkumpul lengkap."Selamat datang, Brandon. Bagaimana kakimu?" Keyna lah yang pertama menyambut."Terima kasih, Nyonya. Kakiku baik-baik saja.""Silahkan duduk."Kelly mengarahkan Brandon duduk di dekat kursi orang tuanya. Brandon menunduk santun pada William."Aku khusus datang untuk bicara dengan Anda, Tuan W
Kelly merangkul lengan William. Mereka berjalan menuju ruang keluarga kembali. Kelly sudah dapat melihat wajah Brandon yang tampak tegang.Keyna berdiri menyambut suami dan putrinya. Wanita elegan itu mencium Kelly dan tersenyum pada William.“Brandon,” panggil William.Perlahan, dengan jantung berdebar kencang, Brandon bangkit dari duduknya. Ia menghampiri William dan mengangguk santun. William mengulurkan tangan yang langsung disambut Brandon dengan raut wajah bingung.“Sampai sekarang, aku tidak membenarkan cara keluargamu menjebak putriku. Tetapi, Tuhan berkehendak lain dengan menitipkan benih cinta di hati kalian.”William lalu meraih tangan Kelly dan menyatukannya dengan tangan Brandon. Ia mengamati kedua tangan tersebut bertaut dengan wajah terharu. Lalu, menatap Brandon kembali.“Mulai sekarang, aku titipkan kebahagiaan putriku padamu, Brandon. Kamu menyakitinya sama saja dengan menyakitiku dua kali lipat. Jaga dan sayangi putriku. Jika Princess salah, jangan kamu marahi, tegur
"Apa?"Brandon tidak menjawab. Kepalanya miring dan lebih mendekat ke wajah Kelly. Detik berikutnya, Brandon memagut bibir sang istri.Kelly sungguh tak menyangka Brandon sangat tidak sabaran malam ini. Sentuhan-sentuhan lembut hingga liar di tubuhnya membuat Kelly meremang.Ternyata, ia juga sangat merindukan ini. Kelly berusaha rileks dan membiarkan Brandon menelusuri dan meraba setiap inci tubuhnya. Tubuh Kelly kini bergetar oleh rasa nikmat."Aku sudah lama menginginkan ini, Kelly." Brandon mendesah di sela-sela kegiatannya mencumbu sang istri."A -- Aku sudah siap." Kelly membalas pelan, memberi sinyal agar Brandon menyatukan mereka.Sambutan itu membuat Brandon tersenyum. Penantiannya terbayar. Keduanya mendapat pelepasan hampir bersamaan.Brandon menjatuhkan diri di samping Kelly. Embusan napas yang menderu dari hidung mereka seolah bersahut-sahutan. Lalu Brandon menatap Kelly yang berbaring dengan mata terpejam."Apa kamu merasakan sakit saat pertama kali kita melakukannya?"K
Brandon kembali ke kamar. Kelly langsung duduk bersandar begitu melihat suaminya datang dengan baki di tangan.“Kok lama?” tanya Kelly.“Aku ngobrol sebentar sama Mommy Key di ruang makan.”Sambil menerima gelas berisi air mineral, Kelly mengerutkan kening. “Mommy masih bangun?”“Sepertinya terbangun dan sedang mempelajari berkas.”Kelly mengangguk mengerti. Setelah minum, ia masuk ke dalam pelukan Brandon. Kelly memejamkan matanya menikmati belaian tangan Brandon di punggungnya.“Kita harus tidur. Besok pagi pasti kita ditunggu untuk sarapan bersama.” Kelly menggumam.“Jam berapa biasanya kalian sarapan?”“Jam tujuh.”“Sepertinya, kita masih tidur.” Brandon terkekeh saat melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.Kepala Kelly mendongak. “Tapi, kita harus ikut sarapan. Mereka tidak akan mulai jika kita tidak datang.”Kelly menjelaskan kebiasaan di keluarga Dalton. Kebersamaan adalah hal penting. Apalagi jika mereka memiliki tamu atau anggota keluarga baru, biasanya sel
Dalam perjalanan menuju penthouse, Kelly dan Brandon membahas pembicaraan mereka dengan Keyna. Brandon hanya beralasan ingin bicara dengan mommy mertuanya, padahal ia ingin Keyna bicara dengan Kelly.“Jadi, kamu tidak tau Mommy Keyna selama ini melakukan penelitian penggunaan plasentamu yang dibekukan untuk pengobatan Daddy William?”Kelly menggeleng. “Aku tau, Mommy selalu bekerja di ruang perpustakaannya sehabis praktek. Tapi tidak pernah bertanya apa yang Mommy lakukan.”“Ya sudah. Sekarang kamu tau. Tenang saja. Akan ada jalannya.” Brandon menenangkan sang istri.Mereka tiba di penthouse dan disambut Donald, Florence, Granny Eliza dan Kak Dheena. Kedatangan Brandon dan Kelly sepertinya sudah dinanti-nanti.“Menantu cantikku.” Florence segera menyambut Kelly dengan pelukan.“Kami turut bahagia.” Donald menepuk bahu sang putra bungsu.Semuanya duduk santai di ruang keluarga. Dengan bahasa tertata, Brandon menceritakan bagaimana akhirnya ia bisa diterima oleh William Dalton. Donald m
"Saat menjalani program kesehatan, Kelly tidak bisa hamil selama satu tahun."Pernyataan dari Daddy Donald membuat Kelly tersentak. Ia dan Brandon saling bertatapan.Melihat kebingungan di wajah putra dan menantunya, Florence lalu menjelaskan. Selama proses pengobatan, darah Kelly sangat dibutuhkan William. Kelly tidak mungkin menjadi pendonor jika dalam keadaan hamil.Donald dan Florence lalu mengajak Brandon dan Kelly bicara secara terpisah. Menurut mereka akan lebih baik sesama wanita dan lelaki bicara masing-masing.Florence mengajak Kelly ke dapur, sementara Donald dan Brandon tetap di ruang keluarga. Florence dengan cekatan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk mereka makan siang sambil mengobrol.“Apa kalian memang berencana langsung memiliki momongan?” Florence bertanya sambil memilah sayuran segar.“Terus-terang, kami belum pernah membicarakan hal tersebut, Mom.”Florence mengangguk singkat. “Kamu sendiri bagaimana?”Kelly berpikir sebentar. Ia juga tidak pernah memikirkan ini
“Daddy benar. Jangan sampai kamu keburu hamil – ini jika kamu memutuskan untuk menjadi pendonor darah untuk Daddy William.”Setelah makan siang, Brandon dan Kelly beristirahat di kamar. Mereka membicarakan tentang pengobatan Daddy William dan keputusan untuk menunda momongan.Kelly tentu saja akan menjadi garda depan untuk membantu sang Daddy. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Brandon untuk membuatnya lebih nyaman.“Nanti aku tanya Kak Cha. Kira-kira kontrasepsi apa yang nyaman. Kak Cha pernah menunda memiliki anak karena masih ada kontrak dengan agensi model.” Kelly menjelaskan.“Apa sekarang kita coba dengan pengaman?” Brandon menggoda istrinya. “Tapi, terus-terang aku tidak suka. Tidak puas.”“Gimana, sih? Kamu yang mengusulkan, kamu juga yang menolak,” protes Kelly.Brandon terkekeh. “Habis mau bagaimana lagi? Kita sedang aktif-aktifnya bercinta. Dulu dua kali saja langsung jadi.”“Aku pernah dengar Mommy bilang, kalau terlalu sering malah nggak jadi.”“Oh ya? Ya sudah, kita
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Hany