Brandon menatap tajam pada Cedric. Apa ia tidak salah dengar? Lelaki itu menawarinya salah satu penari?Mata Brandon melirik para penari. Yang benar saja ia ditawari wanita seperti itu? Brandon merasa kesal."Sebaiknya aku kembali ke kamar." Tanpa persetujuan, lelaki itu berjalan menjauhi tempat pesta bujang.Namun, Frederix menghalanginya. "Ini pestamu. Bagaimana bisa kamu meninggalkannya?""Bisa." Brandon mode datar dan dinginnya keluar."Ayolah. Sahabatmu saja sudah bersenang-senang sekarang." Cedric mengendik pada Ian yang sedang menari bersama salah satu penari."Ian belum menikah. Biarkan saja." Brandon melirik sejenak pada sang sahabat."Tinggallah sebentar lagi." Frederix memaksa.Akhirnya, Brandon berhenti. Ia mengembuskan napas berat dan menatap Cedric serta Frederix bergantian.Lalu, Brandon melirik tempat pesta. Louis mulai menemani Ian menari. Kakak-kakak kandung dan kakak-kakak iparnya malah membentuk kelompok sendiri dan mengobrol.Pesta macam apa ini?"Kita bubarkan sa
Brandon kembali ke kamar. Ia menemukan Kelly sudah berbaring di ranjang. Brandon masuk ke kamar mandi dan membilas diri.Kelly membuka mata saat Brandon menciuminya. Ia terkekeh geli karena bibir Brandon yang merajai kulitnya."Perawatan kulit apa yang kalian lakukan barusan? Kulitmu lebih halus dan harum sekali."Kelly menoleh dan mengusap wajah Brandon. "Tebak aroma.""Hmmm." Brandon menerima tantangan dengan mengendus setiap jengkal kulit sang istri."Moringa yang dominan. Sedikit milk strawberi.”Tebakan Brandon tepat. Kelly mengacungkan jari jempolnya. Brandon hanya terkekeh dan melanjutkan sentuhan-sentuhan intensifnya pada bagian-bagian tubuh Kelly yang ia sukai.Saat menghentak tubuh di atas Kelly, Brandon tiba-tiba memdengar suara genderang bertalu di telinga. Namun itu malah membuat gairahnya bertambah besar.Setelah permainan lama yang membuat Brandon dan Kelly berkeringat, mereka tidur saling berhadapan."Apa yang kalian lakukan di rooftop paviliun Kak Lou? Kamu tampak lia
Pesta pernikahan akhirnya tiba. Meski berkata pada keluarganya bahwa ia akan baik-baik saja, sebenarnya Brandon sendiri tidak yakin. Hanya saja ia merasa harus menghargai istri dan keluarganya.Saat sedang menunggu Kelly selesai dengan riasannya, Ian mendekati Brandon. Ia berbisik pada sang sahabat yang langsung mengangguk. Tak lama, Brandon pergi mengikuti Ian.“Dokter Choi.” Brandon menyapa lelaki asia yang berwajah teduh.“Brandon.”Keduanya berpelukan secara maskulin. Lelaki yang dipanggil Dokter Choi menatap Brandon dengan bangga. Ia lalu menepuk lengan atas Brandon untuk memberi dukungan.“Kamu sudah hebat hingga detik ini.” Dokter Choi berkata dengan penuh haru.“Aku masih membutuhkan bantuan anda, Dokter.” Brandon berkata santun.Dokter Choi tersenyum dan mengangguk bersamaan. Lelaki asia itu adalah psikiater yang menemani dan membimbing mental Brandon sejak remaja. Psikiater yang dinilai keluarga Richmont berhasil mengeluarkan Brandon dari pikiran buruknya sendiri.“Tenangkan
"A-Ada apa dengan Brandon?" Kelly menatap suaminya yang kembali dipapah masuk ke ruangan.Ia lebih kaget lagi saat melihat seorang lelaki berpakaian dokter menangani Brandon. Matanya langsung berkaca-kaca.Ian menghalangi keluarga yang akan masuk. Ia harus memberi waktu pada Dokter Choi untuk membimbing Brandon. "Aku jelaskan di sini saja." Ian berkata pada Kelly.Tanpa buang waktu, Ian merinci tentang keadaan Brandon. Saat Ian bercerita, mata Kelly tak lepas dari pintu di mana suaminya sedang bersandar lemah di sofa."Brandon memiliki masalah kecemasan berlebihan?" gumam Kelly.Kini semua lebih jelas. Mengapa Brandon begitu suka kesunyian. Di kantor, ia hanya rapat dengan petinggi perusahaan. Jika ada pesta, Brandon hanya berdiri di ujung ruangan dan tidak pernah tinggal hingga pesta selesai.Tetapi, kenapa Brandon tidak memberitahunya?"Brandon ingin melakukan apa yang diinginkan keluarga Dalton. Ia ragu, tapi karena kamu sangat bersemangat, Brandon tidak tega membatalkannya."Kell
Tidak ada yang bertanya kenapa Kelly dan Brandon tidak hadir saat sarapan bersama. Mereka memaklumi, meski keadaan Brandon masih menjadi topik utama pembahasaan saat dua keluarga besar bertemu."Tidak bisa diobati?" William bertanya serius pada Doker Choi."Kalaupun diobati, suatu saat jika ada pemicunya, gejala itu akan timbul lagi.""Selama ini Brandon sudah berhasil lepas dari obat-obatan kecemasan karena ia memang mengontrol diri untuk tidak berada di keramaian." Granny Eliza menimpali."Kami jadi tidak enak hati. Maaf." Keyna berkata dengan penuh penyesalan.Keluarga Richmont menggeleng tegas. Mereka tidak menyalahkan keluarga Dalton. Malah berterima kasih karena sangat pengertian dengan keadaan Brandon.Semuanya lalu menoleh bersamaan saat terdengar gelak tawa dari meja sebelah. Para remaja cucu-cucu keluarga Dalton dan Richmont sedang mengobrol dan bercanda."Mereka sangat cepat akrab." Granny Eliza tersenyum bahagia melihat kebersamaan tersebut."Aku dengar dari Bastian, merek
Tiga hari setelah pesta, Brandon baru keluar dari kamar. Kelly benar-benar ingin suaminya pulih lebih dulu. Setelah sebelumnya melihat keramaian pesta mereka di televisi saja membuat Brandon mual.Sebagian tamu yang menginap di hotel sudah pulang. Begitu juga dengan keluarga Dalton dan Richmont. Hingga Kelly dan Brandon kini hanya sarapan bersama Eros dan Ian.“Aku akan kembali besok dengan Dokter Choi. Kamu yakin sudah nggak papa?” Ian menatap serius pada sahabatnya.“Obatku ada di sini.” Brandon mengendik pada sang istri yang duduk di sampingnya.Kelly mencebik. “Padahal, aku tak harus melakukan apa jika Brandon terkena panic attach lagi.”Mereka terkekeh. Ian bilang, Brandon hanya butuh tidur. Eros mengangguk setuju.“Kamar yang sejuk, penerangan minim, aromaterapi camomile akan sangat membantu.” Eros menambahkan.“Mungkin sekarang ditambah kegiatan ranjang.” Ian bercanda sambil mengedipkan satu matanya pada Brandon.Brandon mendengus pelan, namun tak menampik penyataan tersebut. K
Setelah keluarga Richmont pulang ke negara mereka, Kelly dan Brandon kembali ke mansion William. Keyna memeluk Kelly sesaat setelah mereka sampai.“Setelah berbagi dirimu dengan pekerjaan, sekarang Mommy harus berbagi dirimu dengan suami dan keluarganya.” Keyna mengungkapkan rasa rindu.“Maaf, Mommy.” Kelly mencium Keyna di kedua pipinya. “Sebelum bulan madu, kami akan tinggal di mansion kok.”Keyna mengangguk. Setelah itu ia mencium kedua pipi Brandon, sementara Kelly sudah berada di pelukan sang daddy yang juga berkata merindukan putrinya.Berempat mereka mengobrol di taman sambil minum teh. Kelly berniat mengantar sang Mommy ke rumah sakit. Brandon mengangguk menyetujui.Sebelum mengantar Keyna bekerja, William melaporkan bahwa penyaringan udara di aviary sudah selesai. Kepala Brandon langsung menoleh menatap ujung aviary di kejauhan.“Daddy sudah ke sana?”“Belum sempat. Rencananya sore ini setelah Keyna selesai praktek.”Brandon mengangguk. “Oke, Dad. Kami akan temani.”Keyna ter
William dan Keyna kagum dengan apa yang dilakukan Brandon di aviary. Sore setelah menjemput Keyna di rumah sakit mereka langsung ke sangkar burung raksasa. Udara di sana sangat segar dengan aroma wood.“Tidak ada bau kotoran sama sekali.” Keyna menatap William yang mengangguk setuju.Brandon menjelaskan bagaimana timnya memperbaiki saluran penyaringan udara di aviary dan memberikan biang pewangi alami hutan. William mengangguk-angguk lalu menikmati suasana aviary bersama Keyna.Kelly dan Brandon memisahkan diri untuk memberi orang tuanya berduaan. Mereka duduk-duduk di depan kolam ikan yang terdapat air terjun buatan.“Terima kasih, ya. Daddy terlihat senang sekali.” Kelly tersenyum pada sang suami.“Ini bukan apa-apa.” Brandon balas tersenyum. “Bagiku ini urusan kecil.”Kelly terkekeh. “Jika orang lain mendengar perkataanmu, mereka pasti akan mengatakan kamu sombong.”Lelaki itu berkata tak pedulli dengan omongan orang. Yang jelas, ia bisa membuat mertuanya senang dengan keahliannya.
Setelah satu minggu, Kelly dan Brandon bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi bayi-bayi mereka, akhirnya si kembar tiga diperbolehkan pulang. Mommy Keyna menggendong Mimi, sementara si kembar Arsen dan Reno duduk di kereta dorong.Kelly dan Brandon mengucapkan terima kasih pada tim dokter dan perawat yang telah membantu mereka. Brandon tentu saja menolak keinginan direktur rumah sakit yang ingin foto keluarganya dipajang di dinding rumah sakit.“Maaf. Demi privasi keluarga Brandon Richmont, saya tidak dapat menuruti permintaan anda.” Ian menolak tegas.“Apa anda sudah mengatakannya pada Nyonya Kelly? Saya pikir Nyonya Kelly tidak akan keberatan.” Tetap saja, direktur memaksa.“Untuk urusan ini, saya yang bertanggung jawab.”Ian melunasi biaya rumah sakit, lalu keluar dari ruang direktur. Audrey yang sejak tadi menemani kagum pada ketegasan Ian.“Memangnya, Brandon sudah bilang tidak mau didokumentasikan?” Audrey bertanya seraya mengiringi langkah Ian.“Tidak. Tapi, aku tau watak
"Iihhh... jangan disentuh! Sakit!" Kelly memindahkan tangan suaminya yang mengenai dada."Sakit?" Spontan, Brandon mengamati dada Kelly."Ini sedang bengkak. Perlu dipompa ASI-nya." Kelly berkata santai sambil menatap langit malam yang dihiasi gemerlap kembang api."Kenapa nggak dipompa sekarang kalau sakit?""Aku tunggu Mommy Key.""Mau aku bantu?"Kelly menggeleng. Bukan membantu namanya jika Brandon yang membimbing. Yang ada suaminya itu malah khawatir berlebihan."Nanti kalau aku sudah mahir, kamu boleh lihat. Sekarang, masih belajar.""Kenapa masih belajar aku nggak boleh lihat?""Aku malu, Brad."Meskipun masih ingin membahas masalah pompa ASI ini, Brandon memilih diam. Salah bicara bisa berakibat istrinya ngambek dan Brandon tidak ingin itu terjadi.Entah berapa uang yang dihabiskan Marc malam ini untuk pesta kembang api. Kalau dipikir-pikir, keluarga Dalton memang sering merayakan moment bahagia dengan cara seperti ini.Sambil memeluk pinggang Kelly, Brandon mengamati sekitar.
“Kak Dheena , kakak itu lagi... hamil?” Kelly bertanya lembut sambil menatap mata kakak ipar-nya.Dheena tersentak sedikit. Ia dan Della berpandangan, hingga Della memberi Kelly senyum.“Beneran, Kak?” Brandon mendesak jawaban.“Nggak papa. Sudah terlanjur ketauan.” Della terkekeh pada Dheena.Detik berikut Kelly menjerit dan memeluk Kak Dheena. Membuat semua anggota keluarga menatap mereka. Tentu saja akhirnya, kini mereka dikerubungi keluarga.“Kak Dheena hamil!” Kelly berteriak membuat semua orang melongo terutama Daddy Donald dan Mommy Florence.“Dheena! Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Sudah berapa bulan?” Mommy Florence menghampiri putrinya dan mengelus perutnya. “Ya Tuhan, ini sudah cukup besar.”Dheena tersenyum lalu mengusap perutnya. Clark mendampingi istrinya dan mengusap-usap punggung Dheena.“Usia kandungannya sudah hampir enam bulan, Mom.” Clark yang menjawab pertanyaan Mommy Florence.Detik berikutnya, banyak pelukan yang didapat Dheena dan jabatan tangan yang harus dib
Dengan raut bahagia, Kelly menunjukkan pada keluarganya tentang hadiah dari Brandon. Mommy Florence menatap putranya dan mengacungkan jempol karena bangga sang putra begjtu menyayangi istrinya."Meski bentuknya berbeda, aku harap semua cincin itu memiliki harga yang sama." William berbisik pada Keyna.Cepat, Keyna menyikut pinggang sang suami. "Kenapa kamu mempermasalahkan nilai-nya? Yang penting adalah makna-nya."Namun, William tetap membalas, "Takut nanti anak-anak itu merasa dibedakan.""Pasti sebelum cincin itu diserahkan, Arsen, Reno dan Mimi sudah diberi pengertian." Keyna balas berbisik."Apa yang kalian bicarakan?" Daddy Donald tiba-tiba mencondongkan tubuh dan ikut berbisik pada William dan Keyna.Tanpa malu, Keyna bertanya pada Donald. Tak lama kemudian, lelaki itu permisi untuk menelepon.Tak lama kemudian, Donald kembali. Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada William. Lalu ponselnya berpindah ke Keyna, terakhir ke Florence."Aku tau putraku memesan perhiasan dari RichJ
“Paling mirip kamu? Kayanya Arsen. Dia lebih kalem.”Brandon mendekat, lalu berjongkok di samping sang istri yang masih menyusui. “Maksudku bukan wajahnya, Babe. Tapi cara mereka menyusu.” Brandon menyeringai kala melihat istrinya melotot padanya.“Bisa-bisanya bercanda begitu. Kalau kedengeran suster gimana?”“Nggak papa. Pasti mereka paham.” Brandon menyahut tak peduli.Butuh waktu hampir satu jam bagi Kelly untuk memastikan bayi-bayinya telah kenyang. Saat telah selesai dengan Arsen dan Mimi, suster membantu mengembalikan bayi-bayi itu ke box mereka.Brandon sendiri masih belum berani menggendong bayi-bayinya. Ia langsung menggeleng dan mundur satu langkah saat suster ingin membimbingnya cara menggendong bayi.“Jangan sekarang. Aku belum siap. Mereka sepertinya masih rapuh sekali.” Brandon mendesah melihat tubuh bayi-bayinya yang mungil.Saat akan keluar dari ruangan, terdengar bayi menangis. Kelly menoleh dan melihat Reno terbangun.“Kok sebentar banget Reno tidurnya, Sus?” Kelly
Tanpa menoleh, Brandon hapal suara siapa yang bicara dengannya. Ia mengangguk dan membalas, "Terima kasih.""Kamu masih marah padaku?"Brandon menoleh menatap Ian. "Marah?""Kamu jarang bahkan hampir tidak pernah menghubungiku." Ian menghela napas berat. "Bahkan saat istrimu melahirkan pun, kamu tidak mengabariku.""Kupikir kamu sibuk dengan... Audrey."Gantian kini Ian yang menoleh ke samping menatap Brandon. "Aku sibuk mengurusi semua bisnismu!"Brandon mengerutkan kening, lalu membalik tubuhnya ke samping menghadap Ian. "Mulai keberatan dengan pekerjaan? Apa sekarang kamu kekurangan waktu karena telah memiliki tunangan? Mau resign?"Ian menatap tajam mata sahabatnya. "Aku nggak pernah ngomong begitu. Tapi kalau kamu memang mau aku mundur, ya sudah."Hening seketika. Dalam sejarah persahabatan mereka, moment ini adalah yang pertama kalinya mereka bertengkar sengit.Brandon menghela napas panjang, lalu kembali menatap jendela di mana bayi-bayinya sedang tidur. Ian mengikuti apa yang
“Kenalkan, Arsenio Elzhan Richmont, Arvenio Elvert Richmont dan Kyomi Lovella Richmont.” Brandon menunjuk bayi satu, dua dan tiga pada keluarga Richmont dan Dalton.Bayi-bayi mungil itu sekarang berada di dalam inkubator dalam satu ruangan steril. Mereka dapat melihat jelas melalui jendela lebar. Wajah-wajah tampan dan cantik itu menarik perhatian semua anggota keluarga.“Kecil banget, Tuhan.” Sacha menatap ketiga bayi dengan takjub.“Ya kali, bayi lahir langsung gede, Kak.” Louis menyahut sewot. “Kaya nggak pernah lahiran aja komentarnya.”Sacha mencebik pada Louis. Keduanya lalu sibuk mengabadikan keponakan-keponakan mereka dan membagi foto-foto tersebut ke kerabat dan media sosial.Mommy Keyna tampak tak dapat menahan rasa haru. Setelah sebelumnya menyaksikan ketiga anak sambungnya melahirkan, kini ia dapat merasakan putri kandung satu-satunya memiliki anak. Tiga sekaligus.“Akhirnya aku memiliki cucu dari darah dagingku sendiri.” Mommy Keyna bergumam.“Jangan sampai Fred, Sacha da
Netra Ian berputar ke sekeliling kafe, mencari sosok yang ia tunggu. Lalu, lelaki itu melirik arlogi mewahnya.Sudah terlambat lima belas menit dari janji yang ditetapkan.Untuk membuang waktu, Ian menatap ponsel. Beberapa hari ini tidak pernah ada pesan dari Brandon. Padahal sebelumnya, sahabatnya itu bisa mengirim pesan dua sampai lima kali sehari.Apa Brandon semarah itu padanya? Sungguh, Ian merasa cukup tersiksa dengan keadaan ini."Hai, Yan.""Oh." Ian tersentak kaget saat melamun. Ia langsung tersenyum pada wanita yang menyapanya. "Hai, Jasmine.""Maaf menunggu lama." Jasmine membalas dan duduk di depan Ian.Ian tersenyum penuh pengertian. "Itu tandanya, pasienmu banyak, bukan?"Jasmine terkekeh. "Lumayan lah."Ian memandang wanita di depannya yang sedang menyeduh teh. Jasmine lebih kalem saat ini. Boleh dibilang ia telah menjelma menjadi wanita dewasa yang lebih elegan."Terima kasih mau menemuiku, ya." Ian berucap.Jasmine hanya tersenyum dan mengangguk. Ini kali pertama mere
“Tuan Brandon?” Seorang perawat lelaki membangunkan Brandon dengan memberikan aroma menyengat di hidungnya.Brandon mengendus, lalu membuka mata. Ia langsung sadar bahwa sekarang berada di ruang rumah sakit.“Kenapa aku di sini? Mana istriku?” Brandon bertanya panik.“Anda pingsan di ruang operasi, Tuan.”“Sial!” Brandon memijat keningnya dan teringat kala dokter akan membedah perut Kelly, ia langsung merasa lunglai. “Apa istriku sudah melahirkan?”“Nyonya Kelly minta ditunda sampai anda sadar.”Kembali ke ruang operasi, Brandon segera menghampiri Kelly.“Babe, maaf.” Brandon menciumi wajah Kelly. “Kita mulai sekarang agar kamu tidak kesakitan lagi, ya.”Dokter tersenyum dan mengangguk. “Sebaiknya anda fokus pada istri anda saja, Tuan. Proses mengeluarkan bayi ini memang tidak nyaman.”Pernyataan dokter membuat Brandon menatap wajah Kelly. Keduanya berbincang, meski sesekali Kelly meringis kecil.“Sakit, Babe?” Brandon mencium genggaman tangan Kelly.Kelly menggeleng. “Tidak, sih. Hany