Jean berlari menuruni jalan setapak yang curam, hampir tersandung bebatuan yang licin. Napasnya terengah, tubuhnya penuh luka akibat pertarungannya dengan Dikta, tapi ia tidak peduli. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah Nilam. Ombak menghantam keras ke tepian, seolah menertawakan keputusasaan Jean. Tanpa ragu, ia melepas sepatu dan segera menerjang lautan. "Nilaaam!" suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh ombak. Ia menyelam berulang kali, mencari sosok kekasihnya yang terseret arus. Dingin mulai menusuk tubuhnya, rasa lelah menjalar, tapi ia terus berusaha. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Jean terus berenang, menerjang ombak yang semakin ganas. Dadanya sesak, napasnya putus-putus, tapi ia tidak peduli. “Nilaaaaam!!!” suaranya menggema di tengah gemuruh laut. Tapi tak ada jawaban. Air laut asin mengaburkan penglihatannya, tubuhnya mulai kehilangan tenaga, tapi ia terus menyelam. Berulang kali. Tangannya meraba dalam kegelapan, berh
"Nilaaam..." "Nilaaaam..." "Ughh..." Nilam mengerutkan keningnya efek rasa nyeri di kedua lengannya. Kelopak matanya terbuka dan langsung disambut sinar matahari dari tirai jendela. "Nilaam... Jangan tinggalkan aku... Kumohon..." Gadis itu mengangkat wajahnya. Pandangannya seketika tertuju ke arah Jean yang tampak gelisah dalam tidurnya. "Pak..." Dengan lembut Nilam memanggil si empunya nama. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Jean yang basah karena air mata. "Pak Jean..." "Nilam..." Nilam menatap wajah Jean yang basah oleh air mata, hatinya mencelos. Pria itu terlihat begitu tersiksa dalam tidurnya, berkali-kali menyebut namanya dengan suara yang nyaris seperti rintihan. Dengan ragu, ia mengusap pipi Jean, ibu jarinya menghapus jejak air mata yang mengalir di sana. "Pak Jean… bangun, ini aku…" bisiknya pelan. "Aku di sini..." Jean menggeliat, napasnya berat, seakan sedang melawan sesuatu dalam mimpinya. "Jangan pergi… Nilam... aku tidak bisa hidup tanpamu…" suaranya penu
"Kok, Papa keliatan sedih?" Qila memiringkan kepalanya, menatap Jean dengan bingung. "Lagi sakit?"Jean tersenyum keill, menggeleng. "Nggak, Qila sayang, Papa cuma masih ngantuk aja." Nilam masih menatapnya dengan tatapan penuh perhatian. Ia bisa melihat sorot mata Jean yang berbeda pagi ini—ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya. Mungkin efek mimpinya tadi."Minum kopinya dulu Pak, biar segeran dikit!" ucap Nilam.Jean menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Thank's Nilam."Setelah memastikan jika Jean dan Qila sudah sarapan, Nilam pamit untuk mandi dan bersiap untuk ke kantor. Untung saja dia sudah siap baju ganti kemarin.Yah— weekend kemarin dia sengaja menginap di rumah Jean untuk menghabiskan banyak waktu dengan Jean dan Qila. Puncaknya kemarin malam saat mereka berdua menikmati momen nonton film horor sampai ketiduran. Walaupun saat bangun, Jean harus mengalami mimpi yang tidak menyenangkan.***Mobil melaju dengan kecepatan sedang di bawah langit yang mulai cera
"Kamu ini bawel banget, ya?" "Lagian siapa suruh ngeyel?" sahut Nilam tajam. Saat lift akhirnya terbuka, mereka melangkah masuk. Untungnya, hanya mereka berdua di dalam. Nilam menekan tombol menuju basement.Suasana sempat hening selama beberapa detik sebelum Nilam kembali bersuara. "Bapak kepikiran mimpi tadi malam sampai sakit gini."Jean menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap. "Itu karena aku benar-benar takut kehilangan kamu."Nilam mendengus. "Kan aku udah bilang itu cuma bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan!"Jean hanya melirik malas ke arah gadis di sampingnya. "Gimana aku gak kepikiran. Coba bayangkan, Dikta yang harusnya udah tobat setelah keluar dari penjara malah kerja sama dengan Talita buat nyakitin kamu."Nilam sedikit terbelalak. Namun sejurus kemudian ia justru tertawa. "Mimpi kamu absurd sekali.""Kamu pikir begitu?""Iya. Kayaknya itu juga efek nonton horor sebelum tidur.""Tapi gimana kalau itu salah satu firasat?"Nilam mengerutkan kening. "P
"Aku antar ke kamar ya!" ucap Nilam.Jean mengulurkan tangannya, dengan manja ia menggelayut di pundak Nilam. Ia memasang wajah lesu dan manja. "Mataku berat banget.""Makanya kamu istirahat. Biar aku buatin bubur supaya bisa buat ganjal pas minum obat," balas Nilam sembari melirik ke arah Jean. Meskipun sedikit keberatan dan agak susah karena badan Jean yang lebih besar, gadis itu tampak tak mempermasalahkan hal tersebut.Setelah memastikan Jean tertidur dengan nyaman di ranjangnya, Nilam keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, lalu mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak."Hari ini, aku harus masak yang bergizi biar Pak Jean cepat sembuh," gumamnya pada diri sendiri sambil membuka kulkas. Ia mengambil beberapa bahan—beras, ayam, wortel, dan daun bawang—untuk membuat bubur ayam hangat. Setelah mencuci beras dan memasukkannya ke dalam panci bersama air, ia menyalakan kompor dengan api kecil. Sementara bubur mulai mendidih, Nilam
Nilam bisa merasakan detak jantung Jean yang stabil di dadanya, juga kehangatan tubuh pria itu yang sedikit lebih panas dari biasanya karena demamnya. Awalnya, ia masih merasa canggung. Tapi melihat wajah Jean yang terlihat lelah dan tenang dalam posisi ini, perlahan ia mulai rileks. "Nilam…" suara Jean terdengar lebih lembut sekarang. "Makasih ya, udah jagain aku." Nilam tersenyum kecil. "Gak perlu bilang makasih Pak. Ini kan hal biasa.""Tapi aku perlu mengucapkan itu."Nilam menarik sudut bibirnya. "Terserah kamu aja deh.""Nilam...""Apalagi sayang?""I love you."Gadis itu agak kaget saat Jean berkata begitu, namun sejurus kemudian ia membalas pernyataan cinta Jean dengan mengatakan hal serupa.Tak lama kemudian, napas Jean mulai lebih teratur, tanda kalau pria itu akhirnya tertidur. Nilam menatap wajahnya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Akhirnya dia tidur juga," gumamnya pelan. Tapi ia tetap membiarkan Jean memeluknya. Dan tanpa ia sadari, perlahan matanya pun ikut ter
“Tumben?""Emang gak boleh?"Nilam terlihat mengulum senyum dan membalas, "Ya boleh lah. Nanti aku sampaikan.""Gak! Gak!" Talita lebih dahulu memotong. "Jangan disampaikan! Barusan aku cuma bercanda kok. Siapa aku yang berani banget nitip salam ke Bos.""Yaaah, baru aja aku mau bilang ke Pak Jean.""Gak usah ngaco!"Nilam masih terkekeh."Ya udah deh. Aku tutup telfonnya ya! Bye Nilam.""Bye Mba Tal. Semangat kerjanya.""Kamu juga."Setelah panggilan berakhir, Nilam menghela napas panjang. Ia memandang ponselnya sejenak, sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja. Bohong pada Talita sebenarnya membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Apalagi, ia tahu kalau perempuan itu tidak mungkin punya niat buruk. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang berkata bahwa ini adalah pilihan yang tepat. Mungkin karena Jean sendiri tidak pernah benar-benar terbuka dengan orang lain. Atau mungkin… karena tanpa sadar, ia ingin menjaga pria itu dari terlalu banyak pertanyaan dan perhatian yan
"Pak Jean—""Aku gak mau tidur lagi," bisik pria itu, suaranya rendah dan serak di dekat wajah Nilam. "Aku lebih suka kayak gini…"Nilam bisa merasakan bagaimana genggaman Jean menghangat di kulitnya, menciptakan debar aneh di dadanya. Ia ingin menarik diri, tapi matanya bertemu dengan tatapan Jean yang begitu dalam, begitu lembut. Sejenak mereka hanya saling menatap dalam keheningan. Hanya ada suara napas mereka yang pelan, bercampur dengan dentingan halus jam dinding di kamar itu. Jean mengangkat tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut yang jatuh di pipi Nilam. "Kamu capek, ya?" tanyanya pelan. Nilam mengerjapkan mata, tidak menyangka Jean justru bertanya hal seperti itu. "Kenapa nanya gitu?"Jean tersenyum kecil. "Karena aku tahu. Kamu pasti sibuk ngurusin aku, belum lagi nemenin Qila. Kamu gak istirahat, kan?" Nilam menghela napas kecil. "Aku baik-baik aja, kok. Yang penting sekarang kamu dan Qila ada yang urus.""Aku jadi makin gak enak ama kamu."Nilam langsung mence
Di tempat berbeda, Nilam sedang sibuk menelepon Nana sambil menatap layar laptopnya. Di hadapannya, beberapa undangan pernikahan sudah tertata rapi, siap untuk dikirimkan."Aku bakal nikah bulan depan, Na!" seru Nilam dengan nada ceria.Dari seberang telepon, Nana menghela napas panjang sebelum menjawab, "Apa? Nikah?""Iyaa. Aku mau nikah.""Sama siapa? Jean?"Perempuan itu tersenyum malu-malu sambil memainkan pulpennya. "Iyalah. Emangnya sama siapa lagi?""Kayak baru kemarin kamu balikan lagi ama Jean. Sekarang udah siap nikah aja?"Nilam tertawa kecil. "Ya mau gimana lagi? Kita udah lama bareng. Pak Jean bilang gak ada alasan buat nunda-nunda lagi. Lagipula, semua persiapan udah beres. Tinggal sebar undangan aja.""Akhirnyaaa...." Terdengar helaan nafas panjang dari line seberang. "Sumpah aku lega banget dengernya. Setelah sekian lama dan setelah mengalami banyak cobaan, akhirnya kamu dan Jean nikah juga."Nilam tersenyum kecil, merasa senang tapi juga sedikit malu saat mendengar uc
Devi mendengus. "Duh, peka dikit dong Elisha. Dia kayaknya na—"Elisha mendesah. "Kamu gak capek ngomong gitu terus?"Devi langsung menutup mulutnya dengan rapat. Kalimat Elisha barusan memang terdengar biasa saja. Tapi nada bicaranya yang dalam dan sedikit menusuk itu membuatnya agak merinding."Jujur saja aku udah gak tertarik berhubungan sama laki-laki."Hah? Devi kaget. "Maksudnya?""Maksudnya... Aku mending single aja, Dev. Fokus sama anak dan masa depan daripada punya hubungan sama cowok yang ujung-ujungnya cuma bikin aku kecewa dan salah jalan lagi." Saat berkata seperti itu tatapan Elisha nampak menerawang jauh.Memori tentang masa lalunya dengan Jean dan Dikta selama ini, memberikan goresan trauma dalam dadanya. Selain membuat ia jadi salah jalan, ia juga mengacaukan semua impiannya hanya karena ambisinya pada laki-laki."Semangat ya Elisha." Devi menepuk pundak rekannya itu. "Aku harap suatu hari nanti kamu bisa mengubur semua trauma kamu dan hidup bahagia sama pria yang kam
"Kalau sebaliknya gimana?"Devi mengangkat alis, menatap Elisha dengan penasaran. "Maksud kamu, kalau Jean sengaja ngejauhkan Qila dari kamu?" Elisha menggigit bibirnya, matanya menerawang jauh. "Aku gak tahu. Tapi selama tiga tahun ini, aku selalu ngerasa ada jarak. Bukan cuma karena aku di sini, tapi... aku takut dia gak mau Qila inget aku lagi. Apalagi setelah apa yang aku lakukan selama ini ke Jean."Devi tertawa kecil, bukan untuk mengejek, tapi lebih kepada ketidakpercayaannya. "Elisha, kita ngomongin Jean di sini. Mantan suami kamu. Ayah dari anak kamu. Kamu pikir dia bisa sejahat itu?" Elisha menghela napas, ragu-ragu. "Aku gak bilang dia jahat, tapi aku juga sadar diri sama kesalahan yang aku perbuat. Siapa tau dia melampiaskan semua kemarahannya dengan mendoktrin Qila buat benci sama aku."Devi menatap Elisha dengan lekat, lalu menghela napas. "Lis, kamu sadar gak sih? Dari tadi kamu cuma nyalahin diri sendiri dan ngebayangin skenario paling buruk. Emang sih, kamu udah n
Sinar matahari pagi menyapu halaman panti asuhan, memberikan kehangatan yang lembut pada bangunan sederhana itu. Di teras depan, beberapa anak-anak berlarian riang, sementara di dalam, suasana lebih tenang namun penuh semangat. Elisha berdiri di depan kelas kecil, mengenakan seragam biru muda yang menjadi tanda bahwa ia sedang menjalani program asimilasi. Program ini memungkinkan narapidana dengan perilaku baik untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar lapas sebelum benar-benar bebas. Dalam masa asimilasi ini, mereka diberikan kesempatan untuk bekerja atau melakukan kegiatan sosial di luar lapas, namun tetap dalam pengawasan petugas. Tujuannya adalah agar mereka dapat kembali ke masyarakat dengan lebih mudah dan mengurangi risiko kembali melakukan pelanggaran hukum. Bersama beberapa rekannya, Elisha mendapatkan tugas mengajar anak-anak di panti asuhan ini. Hari ini, ia bertanggung jawab mengajarkan membaca dan menulis untuk anak-anak usia dini. "Baik, adik-adik," kata Elisha de
Setelah mobil Jean berhenti di depan rumah, Nilam melepas seatbelt dan menghela napas. Hari ini benar-benar melelahkan, tapi juga menyenangkan. "Kamu gak mau mampir dulu?" tanya Nilam saat Jean membukakan pintu mobil untuknya. Jean tersenyum kecil. "Aku ikut masuk sebentar, tapi gak lama, ya. Aku harus pulang cepet, kasian Qila nungguin." Nilam mengangguk. Lalu mereka berjalan berdampingan menuju pintu rumah. Begitu masuk, mereka langsung disambut oleh Bu Mala yang sedang duduk santai di ruang tengah dengan secangkir teh di tangannya. "Oh, kalian sudah pulang," kata Bu Mala sambil tersenyum. Matanya bergantian menatap Nilam dan Jean dengan penuh arti. "Udah, Ma," jawab Nilam sambil berjalan ke arah sang Mama. "Hari ini capek banget." Dengan manjanya, Nilam langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Bu Mala.Sementara Jean mengikuti Nilam dan duduk berseberangan dengan mereka."Capek kenapa?" tanya Bu Mala penasaran."Pulang kantor tadi kita langsung fitting baju pengantin Ma. A
"Ahh..." Jantung Nilam berdegup lebih cepat. "Pak..."Jean tersenyum kecil mendengar panggilan itu. "Kamu masih manggil aku 'Pak' dalam situasi seperti ini?" suaranya terdengar serak, mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar godaan.Nilam tidak menjawab. Ia bahkan nyaris lupa cara bernapas saat Jean tiba-tiba menunduk, mendekatkan wajahnya ke tengkuknya yang terbuka.Dan tanpa peringatan, ia mengecupnya. Sebuah ciuman lembut yang hanya berlangsung beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Nilam tersentak. Bibir Jean menyentuh kulitnya dengan penuh kehati-hatian, seolah takut kalau ia terlalu kasar, Nilam akan menghilang begitu saja. Nilam menutup mata, merasakan sensasi aneh yang menggelitik seluruh sarafnya. Hangat. Lembut. Dan di atas segalanya, begitu intim. "Pak Jean..." suaranya keluar seperti bisikan. "Mmn..."Jean tersenyum kecil, tidak terburu-buru untuk menjauh. "Aku suka melihat kamu seperti ini," gumamnya, suaranya begitu dekat dengan telinganya. "Begitu canti
Jean mendekat, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu..." Nilam mengangkat alis, menunggu kelanjutannya. "Aku apa?" Jean menarik napas pelan, lalu tersenyum lembut. "Kamu luar biasa cantik." Pipi Nilam langsung terasa panas. "Jangan gombal, Pak. Udah gak mempan." "Tapi kali ini beda," jawab Jean serius. "Ngeliat kamu pake gaun ini, aku makin gak sabar buat nikahin kamu." Nilam menunduk, berusaha menyembunyikan senyum malunya. Sementara itu, Nayya yang melihat interaksi mereka hanya bisa tertawa kecil. "Kalau gitu, kita langsung lanjut fitting jas Jean ya?" kata Nayya akhirnya. Jean mengangguk, lalu masuk ke ruang fitting. Tak butuh waktu lama, ia keluar dengan setelan jas berwarna hitam elegan yang pas membentuk tubuhnya. Sekarang giliran Nilam yang terdiam. Matanya menelusuri sosok Jean yang tampak begitu gagah dengan setelan itu. "Wow..." gumamnya tanpa sadar. Jean menaikkan sebelah alis, menahan senyum. "Aku ganteng kan?"Nilam berdeham pelan, be
“Rahasia,” balas Nilam sambil tersenyum jahil.“Jangan gitu iiih! Kita kan bestie, ayo cerita ada apa?” Rina melipat tangan di dada, menatap Nilam penuh harap."Tapi ini emang masih rahasia Mba."Rina semakin mendekat, menatap Nilam dengan mata yang hampir menyipit. “Halah, kamu jangan gitu ama temen sendiri. Masa kamu sama Pak Jean janjian gak masuk, terus sekarang datang dengan aura beda gini? Pasti ada sesuatu kan? Gak usah ditutupin deh!"Nilam hanya terkekeh kecil, memainkan ujung blouse-nya dengan ekspresi penuh teka-teki. “Pokoknya, sabar ya. Sebulan lagi, aku bakal kasih berita besar buat kalian semua.” “Berita besar apa?!” Rina hampir saja berteriak kalau saja mereka tidak sedang di kantor."Kan aku bilang tunggu dulu sebulan lagi."“Gak bisa gitu, Nilam! Aku kan kepo, plis dong kasih bocoran dikit aja. Sebulan itu kelamaan!"Nilam menggeleng, masih dengan senyum misteriusnya. “Nanti juga kamu tahu, Mba Rin. Kuncinya adalah sabar."Belum sempat Rina merengek lebih lanjut, T
"Dikta..." "Kamu cukup kasih info aja Talita," sela Dikta sebelum perempuan itu selesai bicara. "Biar aku yang urus semuanya." Talita menghela napas panjang, menatap Dikta dengan ekspresi penuh pertimbangan. "Dikta, serius, aku beneran takut kamu bertindak gegabah." Dikta menyilangkan tangan di depan dada, ekspresinya masih dingin. "Aku gak gegabah, Talita. Aku udah mikirin ini baik-baik. Percaya sama aku." Talita tahu ketika Dikta sudah berbicara dengan nada seperti ini, tidak ada gunanya lagi berdebat. Pria itu keras kepala, dan dendamnya terhadap Jean sudah terlalu dalam untuk dicegah. "Jadi kamu tetap mau lanjutin rencana kamu?" Dikta menyeringai tipis. "Tentu saja." Talita menghela napas berat, lalu bersandar ke kursi. "Baiklah. Aku gak bisa mengubah keputusanmu, kan?" Dikta menggeleng. Talita terdiam sejenak, menatap pria di depannya dengan tatapan penuh arti. "Kalau rencana kamu ini gagal, kamu siap menanggung akibatnya?" "Aku gak akan gagal." Talita menggele