FAIAku menegakkan duduk lalu menegaskan tatapanku pada Alan. Sejujurnya aku nggak masalah kalau kontrak kerja itu dipersingkat. Itu artinya aku bisa pulang ke negaraku. Masalahnya, kondisinya berbeda. Ada Cataleya yang telah mengambil bagian dalam kehidupanku. Aku belum siap berpisah dengannya secepat itu."Lan, jika pada akhirnya aku tetap dibayar full kenapa kontrak kerjaku harus diakhiri lebih cepat?" Aku menanyakannya dan berharap Alan akan memberi jawaban yang bisa memuaskan keingintahuanku."Aku mengerti pasti kamu akan bertanya begini. Aku paham kalau kamu penasaran. Dan jawabannya adalah karena aku sudah terlanjur merekrut fotografer baru. Jujur, dia kubayar jauh berkali lipat lebih rendah dari kamu, Fai. Jadi untuk satu bulan yang tersisa aku akan gunakan rentang waktu tersebut sebagai masa probation buat fotografer yang baru. Jadi setelah masa kontrak kamu selesai dia akan langsung kerja. Aku harap pengertian dari kamu, Fai. Kamu sama sekali tidak dirugikan dalam hal ini. K
FAIAku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul lima sore. Sebentar lagi kami akan boarding lalu terbang ke Denpasar. Kami yang aku maksud adalah aku, team studio serta para model Star Management yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh orang."Lo kenapa sih, Fai, dari tadi gue liat gelisah kayak orang lagi sakau," celetuk Tyo mengomentari tingkahku.Selain melihat arloji berkali-kali aku juga memeriksa ponsel berulang-ulang, hanya untuk memastikan ada balasan pesan dari Cataleya. Lalu aku berjalan mondar-mandir seperti orang bingung."Lo lagi nunggu seseorang?" tanya Tyo lagi.Aku menghela nafas panjang. Aku menunggu Cataleya. Itu pun jika dia tahu bahwa saat ini aku akan pergi untuk waktu yang lama. Tapi tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Mungkin dia memang tidak tahu. Tapi seharusnya dia mengetahuinya dari Alan."Yo, Leya tau kita berangkat ke Bali sore ini?" Aku terpaksa menanyakannya pada Tyo di ujung rasa putus asa."Lho, kenapa nanya gue? Semestinya
FAIDenpasar menyambut kami dengan cuacanya yang bersahabat. Sudah ada orang yang menunggu di bandara lalu mengantar kami ke hotel. Di saat para model dan kru lain heboh bercengkrama, aku duduk melamun sendiri. Posisiku yang berada di pinggir jendela begitu menunjang membuat pikiranku mengelana.Aku memikirkan Cataleya. Aku tidak mampu mengenyahkannya dari kepalaku. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya saat pulang ke Amerika nanti? Sedangkan saat ini saja—mengutip istilah Tyo, aku sudah seperti orang sakau.Kami tiba di hotel. Di sinilah tempatku berdomisili bersama yang lainnya selama dua minggu ke depan.Di saat para model harus berbagi kamar dengan rekannya, begitu pun dengan para kru, aku mendapat kamar untuk ditempati sendiri.Setibanya di kamar aku langsung menghubungi Cataleya. Dan hasilnya adalah berujung dengan kegagalan yang mengecewakan.Ah, Cataleya. Entah apa yang terjadi padanya.Sebesar apa kesalahan yang sudah kulakukan hingga dia menjauh? Apa ini adalah cara untuk me
FAISetelah briefing dengan tim dari YU, singkatan dari Your Underwear, salah satu brand yang bekerjasama dengan Star Management, kami bergerak menuju pantai Seminyak, tempat pemotretan akan diselenggarakan.Cuaca hari ini cerah dan begitu ideal untuk pengambilan gambar, sangat kontras dengan hatiku yang mendung.Sepanjang perjalanan ke sana aku hampir tidak bersuara. Aku baru membuka mulut ketika ada yang bertanya atau mengajakku bicara.“Diam mulu dari tadi kayak orang lagi sariawan, kenapa sih?” Tyo yang duduk di sebelahku menyikut lenganku.“Nggak apa-apa,” jawabku singkat. Berharap setelahnya dia berhenti bertanya. Aku benar-benar lagi nggak mood bicara sama siapa pun.Bukannya berhenti Tyo malah menggodaku.“Jangan bilang lo nggak semangat gini karena nggak ada Mbak Leya.”“Apa hubungannya sama dia?”“Banyak banget. Kalo ada dia bisanya lo semangat empat lima. Tapi coba lihat diri lo sekarang. Lo kayak hidup segan mati nggak mau.”Aku memalingkan muka ke arah lain. Lalu dengan p
FAIPonselku berbunyi menginterupsi suasana canggung itu. Bukan aku yang canggung tapi Nadia.Kenzio yang menelepon. Semalam setelah menerima pesan dari Cataleya aku menghubunginya, mengatakan jika saat ini aku berada di Bali. Aku juga mengatakan lokasi pemotretan hari ini padanya.“Ya, Zio?”“Fai, gue udah nyampe. Lo di mananya?”“Di bean bag warna biru.”“Banyak warna biru di sini, Fai, tapi nggak ada yang mirip sama lo.”Aku berdiri bangun dari bean bag lalu berjalan beberapa langkah mencari-cari sosok Kenzio. Tampak tidak jauh dariku Kenzio sedang berdiri. Kepalanya celingukan mencariku ke mana-mana. Aku melambaikan tangan yang bebas ke arahnya sedang tanganku yang lain memegang ponsel yang menempel di telinga.“Zio, lihat ke depan lo, gue nggak jauh dari lo, gue pake baju abu-abu," beritahuku melalui telepon.Kenzio memutar kepalanya menghadap padaku. "Lo yang pake topi?""Yeah."Kenzio lalu melangkah ke arahku. Begitu dia tinggal dua meter aku kembali ke bean bag yang tadi kute
CATALEYAAku menunggu Alan pulang dengan suasana hati yang buruk. Semua rencanaku pergi dari rumah gagal total karena bodyguard yang disewanya untuk menjaga, atau lebih tepatnya mengawasiku, dan itu pun tanpa persetujuanku.Semakin ke sini Alan kian menunjukkan keegoisannya. Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Namun jangan senang dulu. Dia salah jika berpikir dengan mengekangku maka dia akan menang. Dia memang menguasaiku, tapi dia gagal memenangkan hatiku. Justru sikapnya itu membuatku semakin hilang rasa.Alan baru menginjakkan kakinya di rumah pukul sembilan malam. Begitu dia masuk aku langsung pasang wajah sangar.“Hai, Sayang, kamu baru selesai mandi? Kamu mandi malam-malam begini?” tanyanya melihat rambuutku basah.“Apa maksud kamu, Lan?” tanyaku mengabaikan ucapannya.Dia mengerutkan dahinya, menyipit menatapku. “Ini kamu bicara soal apa?”“Apa nggak cukup kamu mengurungku di rumah? Dan sekarang kamu juga mau mengekangku dengan menyewa bodyguard?” ucapku ketus.Alan terdiam
FAIAku menunggu kedatangan Devanka dengan pikiran tidak menentu. Selama menantinya aku mondar-mandir sendiri. Lelah mengitari apartemen seperti orang gila, aku duduk di sofa ruang depan dengan tatapan tidak lepas dari pintu.Begitu bel terdengar langsung kumeloncat.Sosok Devanka muncul dengan pertanyaan, "Lo kenapa?""Apanya?""Muka lo tegang banget kayak mau ketemu sama camer.""Ketemu sama lo vibes nya emang nyaingin ketemu sama camer, Dev."Devanka tertawa.Aku menggeser rokok padanya setelah kami duduk."Gimana, Dev? Lo udah ketemu Cataleya?" Aku langsung mendesak agar dia bercerita."Gue udah ke rumahnya.""Terus?""Alan bilang dia lagi nggak di Jakarta."Informasi yang ditangkap telingaku membuatku lemas."Jadi dia di mana sekarang?""Katanya di Bandung. Alan mau buka kantor cabang Star Management di sana jadi Leya yang handle karena Alan sibuk.""Berapa hari dia di sana? Lo tau alamatnya?" tanyaku cepat. Setidaknya kalau aku tahu alamatnya aku bisa bertemu dengan Cataleya. Ak
FAIJakarta Selatan, 31 Desember, 19.15 WIBIni adalah hari terakhirku berada di Indonesia. Kontrak kerjaku berakhir sejak kemarin. Aku sudah mengembalikan apartemen serta mobil yang kupakai. Bukan pada Alan tapi melalui asistennya. Dia bilang Alan dan Cataleya pergi liburan akhir tahun. Bukan hanya Alan, tapi Bjorka serta keluarganya juga plesiran ke luar negeri menikmati liburan panjang yang sudah datang.Hanya aku yang masih di sini. Duduk di sudut kamar hotel sambil melamun sendiri. Tidak jauh dari tempatku duduk deretan koper besar bersisi pakaian dan barang-barang sudah siap untuk dibawa. Penerbanganku tinggal beberapa jam lagi. Dan mendadak perasaan sedih mulai merayapi hati. Ini bukan hanya tentang meninggalkan Indonesia tapi juga tentang ... Cataleya.Aku tidak berhasil bertemu dengannya. Jujur, aku sempat mencari ke Bandung sehari setelah bertemu dengan Devanka malam itu. Aku memaksa Devanka. Lalu keesokan harinya kami pergi. Kami mengitari kota Bandung selama dua hari tanp
FAI“Itu kalau kamu mengizinkan.”“Memangnya apa alasan aku untuk nggak mengizinkan kamu? Kamu yang punya kuda ini. Aku cuma numpang.”“Ssstttt … aku nggak suka kamu bilang begitu, Leya. Sekarang ayo naik. Kamu mau di depan atau di belakang?”“Di depan.” Cataleya menjawab mantap tanpa keraguan.Aku membantunya naik, lalu setelah dia berada pada posisi yang pas di atas punggung Queen, aku menyusul duduk di belakangnya.Queen mulai bergerak membawa kami mengitari halaman belakang rumah tanpa kuperintahkan.“Seru banget ternyata,” kata Cataleya dari depan.Aku tersenyum di belakangnya.“Fai, nggak bisa ya kalau lebih kencang lagi?”“Kamu nggak takut memangnya?”“Kenapa harus takut? kan ada kamu.” Cataleya menjawab diiringi gerakan kepalanya menoleh ke arahku.Ucapan Cataleya membuatku kehilangan kata untuk sesaat. Hanya ucapan biasa tapi bisa-bisanya membuatku terbawa perasaan.“Sekarang kamu tarik talinya tiga kali,” suruhku kemudian.Cataleya melakukan intruksiku. Detik itu juga Queen
CATALEYAMalam ini akhirnya aku check out dari hotel ditemani Fai dan Rasti. Sejak tadi Rasti tidak pulang ke rumahnya. Dia selalu menempel pada Fai seperti lintah. Aku berpikir jangan-jangan sudah berhari-hari Rasti menginap di rumah Fai. Dan mereka hanya berdua. Mereka bisa melakukan segalanya.Lalu sekarang hatiku kembali diuji saat menyaksikan keduanya bermesraan di hadapanku. Fai menyetir. Rasti duduk di sebelahnya sambil sesekali menyandarkan kepala ke pundak Fai sedangkan aku duduk sendiri menjadi nyamuk di belakang. Saat Fai bersiul mengikuti musik dari audio mobil, Rasti ikut bersenandung kecil. Mereka terlihat begitu kompak dan mesra. Mereka selaras dan serasi. Keduanya couple goals abad ini yang pernah aku lihat.Setiba di rumah, Rasti mengatakan padaku bahwa aku harus pindah kamar."Leya, kamu tidur di kamar Cleo aja ya."Aku hanya bisa menurut apa kata tuan rumah. Aku hanya tamu di sini. Dan bisa kutebak Rasti akan tidur berdua di kamar Fai. Kenapa bukan aku saja yang ber
FAIAku menemukan Rasti dan Cataleya sedang berbincang di kamarku. Keduanya langsung menutup mulut rapat-rapat saat melihatku muncul.“Kok pada diam? Pasti tadi lagi ngomongin aku?” tudingku memandang keduanya bergantian.“Ih, GR!” Rasti mengelus pipiku mesra yang membuatku salah tingkah karena dia melakukannya di depan Cataleya.Sedangkan Cataleya hanya tersenyum tipis menyaksikan kami.“Dari mana aja sih tadi?”“Beliin apel buat Queen, sama buat Leya juga.” Aku menunjukkan dua bungkusan yang berbeda.Rasti menatapku penuh tanda tanya tapi tidak mengatakan apa-apa.“Queen itu kuda yang kamu pernah kamu ceritain ya, Fai?” tanya Cataleya menyela.“Yup. She is my girl.”“Nope. She’s not your girl anymore,” sanggah Rasti tidak setuju. “I’m your girl.” Dia melanjutkan sambil menyandarkan kepalanya ke perutku yang berdiri di dekatnya sedangkan kedua tangannya melingkariku dengan begitu protektif.Aku memaksakan senyum kaku. Situasi ini membuatku canggung.“Anyway, kamu udah makan, Leya?” A
CATALEYARasti lalu terdiam. Dia memandangku lekat dan dalam yang membuatku sedikit salah tingkah. Apa yang saat ini sedang dipikirkannya mengenaiku?"Cataleya, kamu ngerasa nggak sih kalau kita itu mirip?"Ternyata bukan hanya pikiranku. Rasti juga merasakannya."Dari awal tadi kita kenalan aku juga ngerasa gitu, Ras. Makanya aku heran."Rasti tersenyum. "Katanya ada tujuh kembaran kita di dunia. Jangan-jangan aku dan kamu adalah di antaranya," ucapnya berfilosofi."Bisa jadi sih,” jawabku setuju. Aku juga pernah mendengar mengenai hal tersebut. Dulu aku masih kurang percaya. Namun setelah bertemu dengan Rasti aku mulai meyakininya sedikit demi sedikit."Leya, kamu di Indonesia tinggal di mana?""Jakarta.""Kamu asli Indonesia?"Kalau sudah menyangkut mengenai silsilah dan asal usul terasa ada yang mengganjal di hatiku. Walau menyakitkan tapi aku nggak ingin mengingkari asal usulku. Aku ada di dunia karena kedua orang tuaku."Nggak juga. Aku ada darah Belanda."Pengakuan jujurku memb
CATALEYASaat pertama kali membuka mata yang tertangkap oleh lensaku adalah wajah cemas Fai dan kekasihnya. Sedangkan aku terbaring lemah dikelilingi keduanya. Menilik dari cat dinding ruangan ini aku yakin ini bukanlah hotel tempatku menginap."Fai, aku di mana? Aku kenapa?" suaraku lirih."Tadi kamu pingsan, Leya," jawab Fai memberitahu."Pingsan?" Dahiku berkerut.Aku memaksa otakku mereka ulang kejadian itu. Seingatku tadi aku numpang ke kamar mandi diantar Rasti. Lalu dia meninggalkanku sendiri. Setelah selesai buang air aku merasa kepalaku yang berat tidak hanya sekadar berat tapi juga pusing. Lalu setelahnya aku jatuh terkulai dalam keadaan duduk di depan pintu kamar mandi.Sontak aku memegang perut. Untung tadi aku tidak jatuh saat berdiri yang akan membahayakan calon anakku. Calon anak Fai. Calon anak kami berdua."Sudah ingat?" tanya Fai memandangiku.Kepalaku bergerak perlahan membentuk anggukan."Sekarang aku di mana?""Kamu di kamarku, Leya. Tadi aku menelfon dokter, tapi
CATALEYAGadis yang berdiri di hadapanku saat ini dengan hanya menggunakan sweatshirt dan loose pants terlihat begitu cantik kendati rambutnya terlihat kusut. Mungkin dia sedang tidur saat aku membunyikan bel.Siapa dia sesungguhnya? Fai bilang jika dia hanya dua bersaudara. Dan perempuan di hadapanku bukan Cleo. Fai pernah menunjukkan foto adiknya padaku yang jelas-jelas bukan gadis ini. Karena gadis di hadapanku ini terlihat memiliki sedikit kemiripan denganku. Hidungnya, bibirnya, terlebih matanya bagai meng-copy milikku. Yang berbeda dari kami adalah tubuhnya yang tidak seberisi aku.Kami saling menatap dengan pikiran yang tersimpan di kepala masing-masing. Dia juga tampak bingung. Mungkin pikirannya sama denganku. Menyadari bahwa kami memiliki beberapa kesamaan.“Good morning, is this Fai’s House?” Aku menyapanya setelah terbangun dari ketermanguan.Gadis itu mengangguk sebelum berkata, “Who are you?”“I’m Cataleya from Indonesia.” Aku mengenalkan diri dengan ramah, tak lupa mema
FAIAku membiarkan Rasti pergi lalu memejamkan mata merenungi perbuatanku. Rasti mungkin akan merasa tersakiti kalau tahu aku menganggapnya sebagai Cataleya. Tapi jujur, aku tidak bermaksud menjadikannya sebagai pelarian.Aroma chamomile kembali menyerbu hidungku bersamaan dengan suara gadisku.“Fai, someone is looking for you.”CATALEYAAku tersentak ketika mendengar suara alarm. Spontan tanganku meraba-raba mencari ponsel. Tadi aku memang menyalakan alarm karena takut kebablasan tidur sampai sore.Sambil menutupi mulut yang menguap dengan telapak tangan, aku mematikan alarm. Tidur hanya satu jam tidak membantu memulihkan tenagaku. Kepalaku terasa berat serta ingin muntah. Entah ini karena jet lag atau karena pengaruh kehamilanku.Dan aku benar-benar muntah ketika masuk ke kamar mandi. Saat berkaca di cermin aku melihat mukaku pucat selain pipiku yang tampak lebih berisi dari sebelum hamil dulu.Wajah Fai melintas seketika.Pikiran-pikiran tentang bagaimana reaksinya setelah tahu men
FAIKamarku terasa begitu dingin walau pendingin udara tidak menyala. Sampai saat ini musim dingin masih berlangsung yang menurut prediksi baru akan selesai akhir Maret nanti.Aku merapatkan selimut lalu menyambung tidur yang belum puas. Hari ini aku akan tidur seharian. Mumpung hari libur, mumpung nggak ada Mama Papa. Sejak kemarin kedua orang tuaku itu pergi. Papa mengajak Mama ke Arizona untuk menyaksikan pertandingan basket klub favorit mereka berdua, Phoenix Suns.Dengan mata terperjam, dahiku mengenyit saat merasakan ada tangan melingkupi tubuhku. Seseorang memelukku dari belakang.Baru akan menebak siapa dia, dengan cepat indera penciumanku mengenali aromanya. Aku sudah sangat hafal bau chamomile yang saat ini terhirup oleh hidungku.“Guess what?” Bisikan lembut itu tertangkap gendang telingaku.“Definitely my queen,” jawabku asal dengan bibir melengkungkan senyum.Rasti tertawa yang mengukuhkan dugaanku bahwa itu adalah dia. Pelukannya bertambah erat di tubuhku.“Fai, Tante Zo
CATALEYAAngin dingin menyampaikan selamat datang padaku saat aku menginjakkan kaki di Dulles International Airport. Aku merapatkan long coat yang membungkus tubuhku sejak di pesawat.Berdasarkan petunjuk dari Devanka, aku langsung mencari taksi untuk kemudian menuju alamat hotel yang diberikannya.Badanku terasa remuk akibat penerbangan panjang yang melelahkan. Seharusnya aku tiba sejak kemarin malam. Namun, penerbangan terasa lebih panjang karena transit di Doha berjam-jam lebih lama dari yang seharusnya.Semakin jauh meninggalkan bandara, suasana tidak lagi seramai tadi. Beberapa kendaraan masih terlihat di jalan raya namun tidak sepadat tadi. Aku mengambil ponsel lalu membuka Maps untuk mengetahui posisiku saat ini. Sekitar tiga kilometer lagi aku akan tiba di One Season Hotel. Bersamaan dengan itu detak jantungku mulai mengencang. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Fai. Aku akan berterus terang padanya mengenai keadaanku tanpa ada satu pun yang di-skip.“We’ve arrived.”Perkat