FAIPonselku berbunyi menginterupsi suasana canggung itu. Bukan aku yang canggung tapi Nadia.Kenzio yang menelepon. Semalam setelah menerima pesan dari Cataleya aku menghubunginya, mengatakan jika saat ini aku berada di Bali. Aku juga mengatakan lokasi pemotretan hari ini padanya.“Ya, Zio?”“Fai, gue udah nyampe. Lo di mananya?”“Di bean bag warna biru.”“Banyak warna biru di sini, Fai, tapi nggak ada yang mirip sama lo.”Aku berdiri bangun dari bean bag lalu berjalan beberapa langkah mencari-cari sosok Kenzio. Tampak tidak jauh dariku Kenzio sedang berdiri. Kepalanya celingukan mencariku ke mana-mana. Aku melambaikan tangan yang bebas ke arahnya sedang tanganku yang lain memegang ponsel yang menempel di telinga.“Zio, lihat ke depan lo, gue nggak jauh dari lo, gue pake baju abu-abu," beritahuku melalui telepon.Kenzio memutar kepalanya menghadap padaku. "Lo yang pake topi?""Yeah."Kenzio lalu melangkah ke arahku. Begitu dia tinggal dua meter aku kembali ke bean bag yang tadi kute
CATALEYAAku menunggu Alan pulang dengan suasana hati yang buruk. Semua rencanaku pergi dari rumah gagal total karena bodyguard yang disewanya untuk menjaga, atau lebih tepatnya mengawasiku, dan itu pun tanpa persetujuanku.Semakin ke sini Alan kian menunjukkan keegoisannya. Aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Namun jangan senang dulu. Dia salah jika berpikir dengan mengekangku maka dia akan menang. Dia memang menguasaiku, tapi dia gagal memenangkan hatiku. Justru sikapnya itu membuatku semakin hilang rasa.Alan baru menginjakkan kakinya di rumah pukul sembilan malam. Begitu dia masuk aku langsung pasang wajah sangar.“Hai, Sayang, kamu baru selesai mandi? Kamu mandi malam-malam begini?” tanyanya melihat rambuutku basah.“Apa maksud kamu, Lan?” tanyaku mengabaikan ucapannya.Dia mengerutkan dahinya, menyipit menatapku. “Ini kamu bicara soal apa?”“Apa nggak cukup kamu mengurungku di rumah? Dan sekarang kamu juga mau mengekangku dengan menyewa bodyguard?” ucapku ketus.Alan terdiam
FAIAku menunggu kedatangan Devanka dengan pikiran tidak menentu. Selama menantinya aku mondar-mandir sendiri. Lelah mengitari apartemen seperti orang gila, aku duduk di sofa ruang depan dengan tatapan tidak lepas dari pintu.Begitu bel terdengar langsung kumeloncat.Sosok Devanka muncul dengan pertanyaan, "Lo kenapa?""Apanya?""Muka lo tegang banget kayak mau ketemu sama camer.""Ketemu sama lo vibes nya emang nyaingin ketemu sama camer, Dev."Devanka tertawa.Aku menggeser rokok padanya setelah kami duduk."Gimana, Dev? Lo udah ketemu Cataleya?" Aku langsung mendesak agar dia bercerita."Gue udah ke rumahnya.""Terus?""Alan bilang dia lagi nggak di Jakarta."Informasi yang ditangkap telingaku membuatku lemas."Jadi dia di mana sekarang?""Katanya di Bandung. Alan mau buka kantor cabang Star Management di sana jadi Leya yang handle karena Alan sibuk.""Berapa hari dia di sana? Lo tau alamatnya?" tanyaku cepat. Setidaknya kalau aku tahu alamatnya aku bisa bertemu dengan Cataleya. Ak
FAIJakarta Selatan, 31 Desember, 19.15 WIBIni adalah hari terakhirku berada di Indonesia. Kontrak kerjaku berakhir sejak kemarin. Aku sudah mengembalikan apartemen serta mobil yang kupakai. Bukan pada Alan tapi melalui asistennya. Dia bilang Alan dan Cataleya pergi liburan akhir tahun. Bukan hanya Alan, tapi Bjorka serta keluarganya juga plesiran ke luar negeri menikmati liburan panjang yang sudah datang.Hanya aku yang masih di sini. Duduk di sudut kamar hotel sambil melamun sendiri. Tidak jauh dari tempatku duduk deretan koper besar bersisi pakaian dan barang-barang sudah siap untuk dibawa. Penerbanganku tinggal beberapa jam lagi. Dan mendadak perasaan sedih mulai merayapi hati. Ini bukan hanya tentang meninggalkan Indonesia tapi juga tentang ... Cataleya.Aku tidak berhasil bertemu dengannya. Jujur, aku sempat mencari ke Bandung sehari setelah bertemu dengan Devanka malam itu. Aku memaksa Devanka. Lalu keesokan harinya kami pergi. Kami mengitari kota Bandung selama dua hari tanp
CATALEYAJakarta Selatan, 31 Desember“Ini bahan-bahannya sudah saya beliin, Mbak Leya.”Aku menatap tumpukan kantong belanjaan yang diletakkan ART di atas meja. Tadi aku memintanya belanja bahan-bahan untuk membuat kue berhubung aku dilarang keras keluar dari rumah.Alan memang sedang ke Thailand, tapi bodyguad nya stand by dua puluh empat jam untuk menjagaku.Berhari-hari aku mempelajari tutorial membuat birthday cake di YT. Lalu hari ini adalah waktunya untuk eksekusi.“Makasih ya, Bi,” ucapku pada si Bibi.“Ada yang bisa saya bantu lagi, Mbak Leya?”“Nggak ada, Bi, Bibi lanjutin aja kerjanya.”Si Bibi tetap tidak beranjak meski sudah kuusir.“Bi, kenapa masih di sini?”“Mbak Leya kan lagi hamil, jangan sampai capek.”“Iya, Bi, makasih ya. Tapi saya nggak capek kok. Kalau udah berasa capek saya akan istirahat.”Barulah pembantuku pergi.Kebetulan Mama Nuri juga tidak di rumah jadi aku bebas melakukan apa saja.Aku menyalakan laptop lalu membuka kanal baking langgananku di YT. Setel
FAI“Fai …” Suara Mama sayup-sayup terdengar bersama usapan di kepalaku.“Bangun, Fai, bentar lagi acaranya dimulai.”Aku memaksakan diri membuka kelopak mata yang berat. Tampak Mama sedang duduk di pinggir ranjang tempatku tidur. Mama berparas cantik. Tipe wajahnya seperti muka-muka sendu. Begitu kontras dengan karakternya. Papa bilang dulu waktu masih muda Mama orangnya keras kepala dan ngambekan. Tapi bagiku Mama adalah seorang ibu yang baik.“Acara apa, Ma?” tanyaku sambil mengumpulkan nyawa.“Lho, kok malah nanya lagi? Ya ngerayain best day kamulah.”Bibirku melengkung. Seketika teringat pada pesan Mama yang kuterima waktu masih di Jakarta. Mama mengambil handuk lalu meletakkan ke atas perutku yang masih berbaring.“Mandi dulu sana.”Aku baru turun dari tempat tidur setelah Mama keluar dari kamar.Ternyata Mama sudah menyiapkan air hangat di bathtub.Aku berendam di sana sambil menikmati wangi menenangkan dari lilin aromaterapi yang menguar ke setiap sudut kamar mandi. Mama juga
CATALEYA“Sayang, lagi mikirin apa?” pelukan di pinggangku beserta suara Alan yang terdengar membuatku terbangun dari lamunan. Sudah sejak tadi aku berdiri menyandarkan tubuh di tepi jendela dengan tatapan lepas ke luar sana.Aku mengambil tangan Alan yang melingkari perutku lantas menepisnya. Namun hanya sesaat, beberapa detik setelahnya Alan kembali menempelkan tangannya di perutku.“Jadi ceritanya kamu masih marah sama aku?”Aku mendengkus mendengar kata-kata Alan. Gimana aku nggak marah kalau dia bersikap semena-mena bagai diktator. Alan mengurungku di rumah ini dengan pengawasan bodyguard sewaannya yang membuatku muak.Embusan napas hangat Alan menerpa kulit pundakku namun nggak ngefek apa-apa. Aku merasa biasa saja. Jika Fai yang melakukannya aku akan meremang. Tubuhku seakan sudah kebal terhadap sentuhan pria mana pun kecuali Fai.“Kamu bosan berada di rumah?” Pertanyaan itu yang selanjutnya mengisi ruang dengarku.Percuma aku menjawab karena nggak akan ada artinya buat Alan. A
CATALEYAAku meninggalkan studio diiringi tatapan heran Tyo. Dia pasti bertanya-tanya bagaimana mungkin aku tidak tahu mengenai kepergian Fai mengingat aku selama ini begitu akrab dengan Fai.Sekarang hanya Devanka harapanku satu-satunya. Sebagai teman dekat Fai aku yakin dia menyimpan nomor ponsel Fai.‘Fai, aku bakalan gila kalo kita nggak ketemu.’Aku mencari Devanka ke kantornya. Reaksinya sudah kuduga. Dia kaget aku muncul di sana."Leya?""Dev, Fai mana?" tanyaku to the point tanpa kalimat basa-basi.Aku harap jawaban yang kudengar akan berbeda. Tapi nyatanya tidak berubah."Fai udah balik ke Amrik. Kamu nggak tahu?" Devanka menatapku persis Tyo tadi. Tatapan bernada heran yang begitu kentara.Aku menggelengkan kepala. "Kalau aku tau aku nggak mungkin nanya kamu, Dev.”Devanka terdiam."Kapan dia pergi, Dev?""Dua minggu yang lalu, waktu malam tahun baru.""Kenapa dia nggak bilang sama aku? Kenapa dia main langsung pergi?" cecarku melampiaskan emosi padahal Devanka tidak salah a
CATALEYAMalam ini akhirnya aku check out dari hotel ditemani Fai dan Rasti. Sejak tadi Rasti tidak pulang ke rumahnya. Dia selalu menempel pada Fai seperti lintah. Aku berpikir jangan-jangan sudah berhari-hari Rasti menginap di rumah Fai. Dan mereka hanya berdua. Mereka bisa melakukan segalanya.Lalu sekarang hatiku kembali diuji saat menyaksikan keduanya bermesraan di hadapanku. Fai menyetir. Rasti duduk di sebelahnya sambil sesekali menyandarkan kepala ke pundak Fai sedangkan aku duduk sendiri menjadi nyamuk di belakang. Saat Fai bersiul mengikuti musik dari audio mobil, Rasti ikut bersenandung kecil. Mereka terlihat begitu kompak dan mesra. Mereka selaras dan serasi. Keduanya couple goals abad ini yang pernah aku lihat.Setiba di rumah, Rasti mengatakan padaku bahwa aku harus pindah kamar."Leya, kamu tidur di kamar Cleo aja ya."Aku hanya bisa menurut apa kata tuan rumah. Aku hanya tamu di sini. Dan bisa kutebak Rasti akan tidur berdua di kamar Fai. Kenapa bukan aku saja yang ber
FAIAku menemukan Rasti dan Cataleya sedang berbincang di kamarku. Keduanya langsung menutup mulut rapat-rapat saat melihatku muncul.“Kok pada diam? Pasti tadi lagi ngomongin aku?” tudingku memandang keduanya bergantian.“Ih, GR!” Rasti mengelus pipiku mesra yang membuatku salah tingkah karena dia melakukannya di depan Cataleya.Sedangkan Cataleya hanya tersenyum tipis menyaksikan kami.“Dari mana aja sih tadi?”“Beliin apel buat Queen, sama buat Leya juga.” Aku menunjukkan dua bungkusan yang berbeda.Rasti menatapku penuh tanda tanya tapi tidak mengatakan apa-apa.“Queen itu kuda yang kamu pernah kamu ceritain ya, Fai?” tanya Cataleya menyela.“Yup. She is my girl.”“Nope. She’s not your girl anymore,” sanggah Rasti tidak setuju. “I’m your girl.” Dia melanjutkan sambil menyandarkan kepalanya ke perutku yang berdiri di dekatnya sedangkan kedua tangannya melingkariku dengan begitu protektif.Aku memaksakan senyum kaku. Situasi ini membuatku canggung.“Anyway, kamu udah makan, Leya?” A
CATALEYARasti lalu terdiam. Dia memandangku lekat dan dalam yang membuatku sedikit salah tingkah. Apa yang saat ini sedang dipikirkannya mengenaiku?"Cataleya, kamu ngerasa nggak sih kalau kita itu mirip?"Ternyata bukan hanya pikiranku. Rasti juga merasakannya."Dari awal tadi kita kenalan aku juga ngerasa gitu, Ras. Makanya aku heran."Rasti tersenyum. "Katanya ada tujuh kembaran kita di dunia. Jangan-jangan aku dan kamu adalah di antaranya," ucapnya berfilosofi."Bisa jadi sih,” jawabku setuju. Aku juga pernah mendengar mengenai hal tersebut. Dulu aku masih kurang percaya. Namun setelah bertemu dengan Rasti aku mulai meyakininya sedikit demi sedikit."Leya, kamu di Indonesia tinggal di mana?""Jakarta.""Kamu asli Indonesia?"Kalau sudah menyangkut mengenai silsilah dan asal usul terasa ada yang mengganjal di hatiku. Walau menyakitkan tapi aku nggak ingin mengingkari asal usulku. Aku ada di dunia karena kedua orang tuaku."Nggak juga. Aku ada darah Belanda."Pengakuan jujurku memb
CATALEYASaat pertama kali membuka mata yang tertangkap oleh lensaku adalah wajah cemas Fai dan kekasihnya. Sedangkan aku terbaring lemah dikelilingi keduanya. Menilik dari cat dinding ruangan ini aku yakin ini bukanlah hotel tempatku menginap."Fai, aku di mana? Aku kenapa?" suaraku lirih."Tadi kamu pingsan, Leya," jawab Fai memberitahu."Pingsan?" Dahiku berkerut.Aku memaksa otakku mereka ulang kejadian itu. Seingatku tadi aku numpang ke kamar mandi diantar Rasti. Lalu dia meninggalkanku sendiri. Setelah selesai buang air aku merasa kepalaku yang berat tidak hanya sekadar berat tapi juga pusing. Lalu setelahnya aku jatuh terkulai dalam keadaan duduk di depan pintu kamar mandi.Sontak aku memegang perut. Untung tadi aku tidak jatuh saat berdiri yang akan membahayakan calon anakku. Calon anak Fai. Calon anak kami berdua."Sudah ingat?" tanya Fai memandangiku.Kepalaku bergerak perlahan membentuk anggukan."Sekarang aku di mana?""Kamu di kamarku, Leya. Tadi aku menelfon dokter, tapi
CATALEYAGadis yang berdiri di hadapanku saat ini dengan hanya menggunakan sweatshirt dan loose pants terlihat begitu cantik kendati rambutnya terlihat kusut. Mungkin dia sedang tidur saat aku membunyikan bel.Siapa dia sesungguhnya? Fai bilang jika dia hanya dua bersaudara. Dan perempuan di hadapanku bukan Cleo. Fai pernah menunjukkan foto adiknya padaku yang jelas-jelas bukan gadis ini. Karena gadis di hadapanku ini terlihat memiliki sedikit kemiripan denganku. Hidungnya, bibirnya, terlebih matanya bagai meng-copy milikku. Yang berbeda dari kami adalah tubuhnya yang tidak seberisi aku.Kami saling menatap dengan pikiran yang tersimpan di kepala masing-masing. Dia juga tampak bingung. Mungkin pikirannya sama denganku. Menyadari bahwa kami memiliki beberapa kesamaan.“Good morning, is this Fai’s House?” Aku menyapanya setelah terbangun dari ketermanguan.Gadis itu mengangguk sebelum berkata, “Who are you?”“I’m Cataleya from Indonesia.” Aku mengenalkan diri dengan ramah, tak lupa mema
FAIAku membiarkan Rasti pergi lalu memejamkan mata merenungi perbuatanku. Rasti mungkin akan merasa tersakiti kalau tahu aku menganggapnya sebagai Cataleya. Tapi jujur, aku tidak bermaksud menjadikannya sebagai pelarian.Aroma chamomile kembali menyerbu hidungku bersamaan dengan suara gadisku.“Fai, someone is looking for you.”CATALEYAAku tersentak ketika mendengar suara alarm. Spontan tanganku meraba-raba mencari ponsel. Tadi aku memang menyalakan alarm karena takut kebablasan tidur sampai sore.Sambil menutupi mulut yang menguap dengan telapak tangan, aku mematikan alarm. Tidur hanya satu jam tidak membantu memulihkan tenagaku. Kepalaku terasa berat serta ingin muntah. Entah ini karena jet lag atau karena pengaruh kehamilanku.Dan aku benar-benar muntah ketika masuk ke kamar mandi. Saat berkaca di cermin aku melihat mukaku pucat selain pipiku yang tampak lebih berisi dari sebelum hamil dulu.Wajah Fai melintas seketika.Pikiran-pikiran tentang bagaimana reaksinya setelah tahu men
FAIKamarku terasa begitu dingin walau pendingin udara tidak menyala. Sampai saat ini musim dingin masih berlangsung yang menurut prediksi baru akan selesai akhir Maret nanti.Aku merapatkan selimut lalu menyambung tidur yang belum puas. Hari ini aku akan tidur seharian. Mumpung hari libur, mumpung nggak ada Mama Papa. Sejak kemarin kedua orang tuaku itu pergi. Papa mengajak Mama ke Arizona untuk menyaksikan pertandingan basket klub favorit mereka berdua, Phoenix Suns.Dengan mata terperjam, dahiku mengenyit saat merasakan ada tangan melingkupi tubuhku. Seseorang memelukku dari belakang.Baru akan menebak siapa dia, dengan cepat indera penciumanku mengenali aromanya. Aku sudah sangat hafal bau chamomile yang saat ini terhirup oleh hidungku.“Guess what?” Bisikan lembut itu tertangkap gendang telingaku.“Definitely my queen,” jawabku asal dengan bibir melengkungkan senyum.Rasti tertawa yang mengukuhkan dugaanku bahwa itu adalah dia. Pelukannya bertambah erat di tubuhku.“Fai, Tante Zo
CATALEYAAngin dingin menyampaikan selamat datang padaku saat aku menginjakkan kaki di Dulles International Airport. Aku merapatkan long coat yang membungkus tubuhku sejak di pesawat.Berdasarkan petunjuk dari Devanka, aku langsung mencari taksi untuk kemudian menuju alamat hotel yang diberikannya.Badanku terasa remuk akibat penerbangan panjang yang melelahkan. Seharusnya aku tiba sejak kemarin malam. Namun, penerbangan terasa lebih panjang karena transit di Doha berjam-jam lebih lama dari yang seharusnya.Semakin jauh meninggalkan bandara, suasana tidak lagi seramai tadi. Beberapa kendaraan masih terlihat di jalan raya namun tidak sepadat tadi. Aku mengambil ponsel lalu membuka Maps untuk mengetahui posisiku saat ini. Sekitar tiga kilometer lagi aku akan tiba di One Season Hotel. Bersamaan dengan itu detak jantungku mulai mengencang. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Fai. Aku akan berterus terang padanya mengenai keadaanku tanpa ada satu pun yang di-skip.“We’ve arrived.”Perkat
FAI"TPOA ngadain kompetisi, kamu nggak mau ikut?"Aku mengangkat wajah dari balik kamera lalu memindahkan pusat atensi pada Papa yang mengajakku bicara. TPOA adalah nama salah satu komunitas fotografi profesional di Amerika yang sering mengadakan lomba atau kompetisi foto bergengsi."Boleh, Pa. Temanya apa?""Her little food."Jawaban Papa membuatku mengernyit. Dulu waktu masih muda Papa sering sekali ikut kompetisi dan berkali-kali memenangkannya. Dari sana karir fotografi Papa berkembang sampai Papa menjadi seorang fotografer profesional dengan segudang penghargaan dan pengalaman."Kenapa, Fai?” tanya Papa heran menyaksikan ekspresiku."Lagi nggak ada ide, Pa.""Gampang kok. Cuma mesti ada her and food.""Wajib banget ada her nya, Pa? Kalau cuma food gimana?"Papa tertawa. "Ya nggak sesuai tema namanya. Foto-foto lama juga nggak apa-apa. Coba submit aja dulu.""Deadline-nya kapan?""Tiga hari lagi.""Telat banget Papa ngasih taunya,” kataku menyesalkan."Papa lupa, apalagi sekarang