Justin melangkah masuk ke dalam ruang meeting, dia duduk di kursi kepemimpinan. Di hadapan Justin sudah ada Nathan dan Asher Lewis, rekan bisnis Justin. Tepat di saat Justin sudah duduk di kursi kepemimpinan, Hanna, sekretaris Justin memberikan dokumen yang dibutuhkan selama meeting. Justin pun langsung mengambil dokumen yang ada di hadapannya, lalu membaca setiap lembar halaman yang ada di dokumen itu.“Aku sudah membaca proposal yang kau ajukan, Tuan Asher,” ujar Justin seraya membuka setiap lembar dokumen yang dia baca. “Kau mengajak kerja sama Afford Group dalam pembuatan perusahaan perhiasan serta mengajak Lucero Group berkolaborasi membuaat sistem keamanan sebuah perusahaan. Di sini kebetulan ada adikku, Nathan Lucero Afford. Lucero Group dalam bidang teknologi dipimpin langsung oleh Nathan. Aku di sini hanya akan membahas tentang Lewis Group yang mengajak Afford Group mendirikan perusahaan perhiasan. Terutama berlian, batu ruby, emerald. Batu mulia tentu paling dicari oleh bany
Julia mondar-mandir tidak tenang, ribuan kali panggilan telepon dari media, tapi dia abaikan. Tidak ada satu pun yang dia jawab. Terlihat Julia yang begitu cemas dan panik. Terakhir, dia melihat banyak wartawan yang mengelilingi perusahaan tempat di mana Athena melakukan sesi pemotretan. Julia bersumpah, berita sialan yang ada di seluruh media, membuat dirinya tidak mampu berpikir jernih. Jika Julia terus tidak tenang, sangat berbeda dengan Athena yang sejak tadi hanya melamun. Athena bungkam ketika melihat berita itu. Tampak Athena begitu terkejut dengan berita itu.“Athena.” Julia mendekat, lalu duduk di samping Athena.Athena masih melamun dengan pandangan lurus ke depan, dia tidak menghiraukan sama sekali sapaan Julia. Wajah Athena tampak begitu muram. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Media telah mengetahui semuanya. Sejak saat berita dirinya muncul di media, Athena menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin menjawab telepon dari siapa pun saat ini.“Athena!” Julia kembali me
“Sialan kau, Athena! Jadi selama ini kau menikah denganku hanya demi adikku? Karena untuk mendekati adikku yang tidak mencintaimu?” teriak Justin begitu keras. “Beraninya kau menjadikan aku alatmu, Athena! Kau pikir siapa dirimu!”“Justin, kau salah paham, aku tidak pernah—”“Jangan mencari alasan padaku! Semua bukti sudah jelas! Di buku harian itu tertulis, alasan kau menghilang dari adikku! Sekarang aku yakin, kau yang menjebakku! Kau yang memasukkan obat di minumanku hingga membuatku berakhir tidur denganmu! Semua itu bagian rencanamu? Katakan padaku sekarang!” Justin kembali berteriak, teriakannya kali ini begitu menggelegar. Sorot matanya menajam pada Athena yang berdiri di hadapannya.Seketika mata Athena menajam saat Justin menuduh dirinya. Napas Athena memburu, tangannya terkepal begitu kuat. Terlihat jelas raut kemarahan di wajah Athena. “Kau menuduhku yang menjebak dirimu? Kau berpikir demikian, Justin Lucero Afford?” serunya dengan sorot mata penuh dengan kemarahan.“Aku bu
Beberapa tahun yang lalu.“Athena, kau tidak bisa lagi bersekolah di Smith Internasional School. Kami mohon maaf, dengan berat hati kami harus mengeluarkanmu, Athena.”Bagai tersambar petir, Athena tidak mampu lagi berkata-kata ketika sang guru mengatakan dirinya tidak bisa lagi bersekolah di Smith Internasional School. Beasiswa yang dia dapat, harus gugur, dan kini dia pun tidak tahu harus melakukan apa.Kini Athena masih berdiri di depan ruang guru, dia menatap nanar pintu ruang gurunya. Tidak ada satu pun guru yang mau mendengarkannya. Air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Tubuhnya terasa begitu lemas, semua harapan dan impiannya telah hancur. Sejak dulu, Athena selalu bermimpi bisa bersekolah di sekolah yang terkenal. Perjuangannya mendapatkan beasiswa harus hilang begitu saja.Athena mengatur napasnya, dia menghapus sisa air mata di wajahnya dengan jemarinya. Athena berusaha untuk menguatkan diri. Dia membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan ruang guru.Brakkk!Athena
“Nathan!” Athena berteriak keras, dia berlari menghampiri Nathan yang duduk di taman dan menunggunya. Tepat di saat Athena berlari, Nathan langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk erat tubuh wanita itu.“Ada apa, Scarllett? Kenapa kau sangat bahagia?” ujar Nathan seraya mengurai pelukannya.“Nathan, aku diterima di Foster Internasional School! Sekolah yang kau rekomendasikan waktu itu! Aku lolos, Nathan. Aku juga mendapatkan beasiswa, Nathan. Tidak hanya itu, mereka juga memberikanku uang karena aku memenangkan kompetisi science, Nathan!” Athena memekik kegirangan, dia terus berkali-kali memeluk tubuh Nathan.“Selamat, Scarlett! Aku tahu, kau pasti akan lolos. Kau sangat hebat. Aku bangga padamu, Scarlett.” Nathan mengusap pelan rambut Athena. “Kelak ketika kau dewasa, kejarlah mimpimu. Aku yakin, kau akan memiliki masa depan yang hebat. Jangan pernah menyerah hanya karena ada orang yang menjatuhkanmu. Aku pernah membaca suatu buku. Di buku itu tertulis, jika kita lahir menj
Justin bungkam mendengar apa yang diceritakan Athena. Sesaat Justin hanya menatap Athena yang kini tengah meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka dengan apa yang dialami wanita itu. Selama ini Athena tampak begitu kuat, tapi kenyataannya wanita itu berjuang bertahan hidup dengan begitu banyaknya luka. Diusir, direndahkan, dihina banyak orang, tetap membuat Athena terus bertahan. Mungkin, jika orang lain yang mengalami itu, mereka tidak akan mampu.Kini Justin mulai membawa tangannya menyentuh wajah Athena, dia mengusap air mata yang membasahi pipi wanita itu. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam di mata Athena. “Kau pernah kecelakaan? Bagaimana kedaanmu saat itu?” tanyanya dengan nada rendah dan tersirat penuh kelembutan.Athena mengangguk lemah, dia menatap Justin dengan mata yang memerah. “Aku luka parah. Tepat bersamaan dengan kecelakaan itu, aku mengalami gagal jantung. Saat itu Dokter sudah mengatakan kemungkinan hidupku sangat kecil. Dokter juga sudah menyerah dengan kead
Justin turun dari mobilnya, dia melangkah masuk ke dalam perusahaannya dengan wajah yang begitu dingin. Terlihat sorot matanya yang tersirat penuh amarah. Di gerbang masuk Afford Group, banyak wartawan yang hendak meminta keterangan. Namun, tentu saja penjagaan ketat di Afford Group yang tidak mungkin bisa ditembus para media. Kini Justin melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, bersama dengan Peter yang sejak tadi selalu mengikutinya dari belakang.Saat tiba di ruang kerja, Justin langsung duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya masih menunjukkan kemarahan. Namun, Justin berusaha bersikap tenang. Terutama banyak wartawan yang tadi ingin meminta keterangan darinya. Tentu Justin akan bersikap seolah tidak terjadi sesuatu pada pernikahannya. Ya, ini adalah hal yang Justin benci. Sejak dulu, Justin tidak pernah suka kehidupannya disorot media. Karena dia tahu, tidak selamanya kehidupannya akan baik-baik saja. Seperti saat ini, jika ada masalah yang menimpa dirinya, maka media akan mengangk
Nathan melempar pajangan yang ada di hadapannya. Dia menggeram, menahan amarahnya. Ya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Justin, kakaknya, membawa Athena dari kerumunan para wartawan. Namun bukan itu yang dipermasalahkan Nathan. Hal yang membuat Nathan sangat yakin berita itu benar adalah ketika wajah Athena yang tampak begitu gugup dan memaksakan senyuman di wajahnya. Tentu dia sangat mengenal Athena dengan baik. Meski sudah beberapa tahun tidak bertemu, tapi wajah gugup Athena ketika menghadapi sesuatu masalah tidak mungkin dia lupakan.Nathan memejamkan mata singkat, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Buku harian Athena yang terekspos di media benar-benar seperti tulisan Athena. Kali ini dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dia ingin sekali bertemu dengan Athena, menanyakan semuanya ini.“Tuan Nathan.” Cedric, assistant Nathan, berjalan terburu-buru masuk ke dalam ruang kerja Nathan.Nathan membuang napas kasar, dia menatap dingin assistant-nya yang berdiri di
Central Park, Manhattan, New York. “Jasper, Joana, Jesslyn, Arnold, Alaric jangan berlari seperti itu. Nanti kalian terjatuh. Astaga…” Suara Athena berseru kala melihat kelima anak-anaknya itu berlari saling mengejar satu sama lainnya.Ya, kini Athena bersama dengan Justin dan kelima anak-anaknya tengah menikmati sore di Central Park. Salah satu taman di Manhattan yang sangat indah jika dikunjungi di sore hari, terlebih saat musim semi. Musim terbaik di mana banyak bunga-bunga bertumbuhan. Dan cuaca yang sejuk, mendukung para pengunjung bersantai di taman yang berlokasikan di Manhattan.“Sayang, biarkan saja. Ada pengasuh dan juga pengawal yang selalu menjaga mereka.” Justin merengkuh bahu sang istri. “Lebih baik kita duduk di sana,” tunjuknya pada kursi yang ada di taman.Athena mendesah pelan. Kemudian dia mengangguk dan melangkah mengikuti sang suami yang mengajaknya duduk di kursi taman itu.“Justin,” panggil Athena seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.“Ya?” J
Matahari sudah tinggi. Suara kicauan burung bersahutan menandakan pagi telah menyapa. Selama lima tahun terakhir, Athena sudah terbiasa bangun pagi. Seperti saat ini, kala suami dan anak-anaknya masih tertidur lelap, Athena sudah lebih dulu terbangun. Bagaimana tidak? Athena yang selama ini mengurus suami dan anak-anaknya. Meski Athena memiliki pengasuh untuk kelima anaknya, tetap saja Athena turut andil dalam segala hal yang dibutuhkan oleh kelima anaknya. Athena tidak ingin kelima anaknya hanya dekat dengan para pengasuhnya saja. Dia pun ingin menemani tumbuh kembang kelima anak-anaknya.“Mommy… Good morning.” Jasper, Joana, Jesslyn, Arnold dan Alaric kini sudah bangun, dan sudah selesai mandi. Mereka melangkah mendekat ke arah Athena yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga.“Anak-anak kesayangan Mommy sudah bangun?” Athena merentangkan kedua tangannya, menyambut kelima anaknya yang mengamburkan tubuh mereka ke pelukannya.“Sudah, Mommy. Kami sudah bangun. Mommy. Di mana Daddy
Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Athena dan dibantu para pelayan menyajikan makanan ke atas meja. Ya, meski Athena memiliki banyak pelayan tapi Athena harus memastikan di atas meja adalah makanan kesukaan anak-anaknya. Karena memang kelima anaknya memiliki selera kesukaan makanan yang berbeda.“Tolong di sana salmon steaknya sajikan dengan kentang goreng,” ucap Athena pada sang pelayan seraya menunjuk kursi meja makan yang biasa diduduki oleh Joana.“Baik, Nyonya,” jawab sang pelayan dengan patuh.Ya, Salmon steak dipadukan dengan kentang goreng adalah kesukaan Joana. Berbeda dengan Jesslyn yang lebih memilih dipadukan dengan mashed potato dan extra keju. Lain halnya dengan Jasper. Makanan kesukaan Jasper adalah Rib Eye Steak, sama seperto makanan yang disukai oleh Justin. Sedangkan Arnold dan Alaric yang menyukai sirloin steak dan tenderloin steak. Itu kenapa banyak sekali jenis makanan yang berbeda yang dihidangkan di atas meja makan. Begitu pun dengan makanan penutup. Setiap ana
Suara keributan membuat Justin dan Athena langsung berlari menghampiri kamar anak-anak mereka dengan cepat. Seketika Athena terbelalak terkejut melihat Arnold dan Alaric memperebutka sebuah robot di tangan mereka.“Arnold, Alaric! Apa-apaan ini! Mommy tidak ingin kalian bertengkar seperti ini!” seru Athena memberikan peringatan pada kedua putraynya itu.Perkataan tegas Athena sukses membuat Arnold dan Alaric tidak lagi membuar keributan. Kedua putranya kini menundukan kepalanya. Ya, seperti bias ajika Arnold dan Alaric bersalah mereka akan menunduan kepala mereka, sebagai ungkapan mereka telah menyesal.“Arnold, Alaric, kenapa kalian bertengkar?” Suara Justin bertanya pada kedua putranya“Daddy, tadi Ka Arnold membuat tangan robotku patah. Dia menariknya robot Ka Arnold,” ucap Alaric dengan suara polosnya.Justin mengembuskan napas kasar. “Arnold, kenapa kau membat tangan robot Alaric patah?”“Maaf, Daddy. Aku sungguh tidak sengaja,” jawab Arnold dengan kepala tertunduk.Athena mendes
Lima tahun kemudian…“Mommy…..” Suara teriakan anak-anak, membuat Athena yang tengah manata makanan di atas meja makan langsung mengalihkan pandangannya pada suara yang memanggilnya.“Hey, anak-anak kesayangan Mommy sudah pulang.” Athena langsung merentangkan kedua tangannya, memeluk Jasper, Joana, dan Jesslyn yang baru saja pulang sekolah.“Mommy kami merindukanmu.” Jasper, Joana, dan Jesslyn berucap dengan suara polosnya.“Mommy juga merindukan kalian.” Athena mengecupi puncak kepala anak-anaknya itu. “Sayang kenapa kalian pulang bertiga? Di mana Arnold dan Alaric?” tanyanya.“Mommy, tadi Arnold dan Alaric sangat lama. Kami pulang duluan. Arnold dan Alaric ada kelas bahasa Jepang,” jawab Joana dengan suara polosnya.Athena mendesah pelan. “Kenapa kalian tidak menunggu Arnold dan Alaric? Kan sopir jadi tidak perlu bolak-balik menjemput Arnold dan Alaric.”“Mommy, tadi Paman Nathan meneleponku, Paman bilang akan menjemput Arnold dan Alaric,” jawab Jesslyn dengan pupil mata hijau yang
Sydney, Australia.Athena berjalan menelusuri bibir pantai bersama dengan Justin. Athena menggendong Jeslyn, putri bungsunya. Sedangkan Justin menggendong Jasper dan Joana. Kini Justin dan Athena tengah berada di Mainly Beach, sebuah pantai yang wajib dikunjungi selama berada di Sydney. Banyak turis datang di pantai ini.Terlebih sekarang adalah musim panas di Sydney, musim di mana banyak pengunjung yang datang. Jika di Sydney saat ini musim panas, berbeda dengan New York yang sekarang adalah musim dingin. Perbedaan musim, yang membuat Athena menyiapkan segala kebutuhan dengan baik untuk suami dan anak-anaknya.Di belakang Justin dan Athena ada tiga pengasuh serta dua orang pengawal yang selalu beriringan dengan mereka. Sesaat tatapan Athena teralih pada beberapa orang diujung sana yang diam-diam mengambil gambar dirinya dan Justin serta ketiga anaknya. Athena pun memilih untuk mengulas senyuman di wajahnya dan membiarkan orang-orang di sana mengambil gambarnya. Jujur saja, Athena tid
Julia memuntahkan semua sisi perutnya di wastafel. Kepala Julia memberat. Tubuhnya terasa begitu lemah. Sudah beberapa hari ini, dia selalu memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke perutnya. Ya, dia memang begitu tersiksa beberapa hari ini. Ditambah dia masih harus mengurus J.A Modeling School. Meski demikian Athena mulai datang ke J.A Modeling School, membantu dirinya mengurus sekolah modeling itu. Jika tidak entah bagaimana mengurus J.A Modeling School yang kini berkembang begitu pesat.Saat Julia hendak keluar dari kamar mandi, pandangan Julia mulai buram. Kepalanya memberat. Tubuhnya tidak mampu berdiri. Hingga saat semua pandangan Julia menggelap, dan tubuhnya hampir ambruk, Peter yang baru saja keluar dari walk-in closetnya dengan cepat berlari dan menangkap tubuh Julia yang kini sudah jatuh pingsan.“Julia? Julia bangunlah?” Peter menepuk pelan pipi sang istri, tapi Julia tak kunjung membuka matanya. Raut wajah Peter berubah menjadi panik. Dia langsung membopong tubuh Julia
Beberapa bulan kemudian…Suara tangis Jasper dan Joana membuat Athena yang tengah berkemas-kemas langsung menghentikan aktifitasnya. Kini Athena mengambil alih Joana, sedangkan Jasper diambil alih oleh pengasuh. Athena harus lebih dulu menggendong Joana, pasalnya Joana yang sering menangis kencang.Beruntung Jesslyn tidak pernah rewel. Jika saja Jesslyn sama seperti Jasper dan Joana, entah apa yang harus di lakukan Athena. Sungguh, memiliki tiga bayi kembar sekaligus benar-benar membuat Athena kerepotan.Namun, meski demikian tentu saja Athena sangat bahagia. Athena tidak sendiri, Justin menyiapkan tiga pengasuh untuk anak-anak mereka. Hanya saja, Joana yang paling rewel dan sering sekali menangis. Itu kenapa Athena harus menggendong Joana lebih dulu.“Sayang? Kenapa kau menangis? Lihatlah adikmu sangat tenang.” Athena mengecupi pipi gemuk Joana. “Jangan menangis lagi, ya? Mommy sedang bersiap-siap. Hari ini kita akan berlibur ke Sydney.”Ya, sebenarnya tadi Athena tengah berkemas-kem
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Peter dan Julia. Setelah perjuangan panjang hubungan mereka, akhirnya semuanya berjalan dengan manis. Mereka bisa menikah, ini adalah impian Julia sejak dulu. Jujur Julia masih tidak menyangka bisa menikah dengan pria yang dia cintai. Penantian panjang Julia terbalaskan, kini dia telah berhasil meluluhkan hati Peter. Sosok pria yang sejak awal menarik perhatiannya. Meski Peter belum sepenuhnya mencintai dirinya, tapi Julia yakin Peter akan berusaha untuk membahagiakannya.Di hari pernikahan Peter dan Julia, Athena khusus meminta Brian, ayahnya menjadi pendamping Julia. Mengingat Julia sudah tidak lagi memiliki orang tua. Begitu pun dengan Peter, Justin khusus meminta Arthur, ayahnya sebagai pendamping Peter. Samahalnya dengan Julia, Peter sudah tidak lagi memiliki kedua orang tua. Selama ini Justin dan Athena sudah menganggap Peter dan Julia sebagai keluarga mereka.Kini Julia mematut cermin, tubuhnya sudah terbalut sebuah gaun pengantin rancang