Perhentian pertama mereka setelah turun dari pesawat dan menuju mobil sewaan adalah hotel, atau setidaknya itulah yang Lizzie pikirkan. Itu bukanlah perjalanan yang memakan banyak waktu dan justru menjadi yang paling singkat. Mereka mulai menurunkan barang bawaan masing-masing, dan Lizzie agak terkesan dengan bangunan yang sedang dia lihat sekaligus fakta bahwa Daxon punya kuncinya.“Ini bukan hotel pribadi kan?” tanya Lizzie terperangah sambil menatap ke sekeliling.“Ya, awalnya aku memang berencana untuk menyewa kamar hotel,” sahut Daxon. “Sebenarnya setiap kali aku berkunjung, aku tinggal bersama teman dan kali ini aku tidak ingin mengganggu privasinya. Tapi aku menyerah karena dia bersikeras sekali agar kita berdua tinggal dirumahnya.”Lizzie menelan ludahnya sendiri tatkala Daxon memberikannya penjelasan demikian. Gadis itu menggenggam kopernya erat-erat. Menyadari kegugupan Lizzie, Daxon hanya tersenyum singkat sebelum memutar kunci.“Tenang saja, dia pergi ke luar negeri untuk
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Lizzie sebelum dia dapat menghentikannya. Dia langsung menyesal dan tidak tahu harus berbuat apa setelah itu. Sejujurnya dia tidak ingin Daxon tahu, karena takut pria itu akan meninggalkannya. Ini terlalu memalukan, dan Lizzie tidak dapat memperlihatkan dirinya sebanyak itu kepada seseorang. Daxon adalah pria matang yang sempurna, dia memiliki segalanya dan Lizzie tahu bahwa dirinya jauh dari kata layak untuk pria itu. Bukan dari ukuran kasih sayang, kebaikan, hadiah dan perhatian. Daxon baginya lebih pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik, seseorang yang tidak hancur atau tidak takut hancur.Daxon meraih tangan Lizzie dan mengangkatnya ke bibir. Memberikan kecupan di punggung tangannya. “Aku pun mencintaimu, Lizzie.”Kedua mata Lizzie membelalak, apa itu barusan? Apakah Daxon melakukan apa yang Lizzie tidak harapkan? Rasa mendamba, rasa perhatian, dan bagaimana pria itu melakukannya membuat Lizzie merasa sangat lemah. Apalagi k
Mereka berdua menghabiskan beberapa hari berikutnya dengan berkeliling Paris, menikmati sebanyak mungkin hal yang hanya dapat di dapatkan hanya di Paris. Lizzie memotret semua hal yang dia rasa menarik, mulai dari arsitekturnya yang luar biasa, juga beberapa pemandangan alam dan manusia. Diselingi juga meminta orang lain untuk memotret dirinya dan Daxon bersama. Sejauh ini dia berhasil menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang membayanginya beberapa hari ke belakangan sepanjang hari. Tapi setiap malam tiba, Lizzie tidak tahu mengapa tapi kecemasan itu kembali datang tanpa bisa dicegah.Dia takut akan mengalami mimpi buruk lagi. Khawatir akan terbangun dengan keringat dingin di seluruh tubuh dan membuat Daxon harus bersusah payah menenangkannya hingga dia bisa tidur lelap lagi.Paranoia dari hubungan terakhirnya yang hancur total karena rasa ketidakamanannya sendiri adalah sesuatu yang barangkali telah mengakar dalam diri. Lizzie tahu bahwa gara-gara itu dia juga nyaris akan merebut ke
Lizzie menatap Daxon dengan kedua mata yang terbelalak lebar, jantungnya berdebar dengan begitu kencang. Bagaimana kau bisa begitu sangat pemaaf?”“Karena aku tahu kau tidak sempurna, dan aku juga sama saja. Levin tidak sempurna, dan meskipun kau mungkin tidak setuju dengan statement yang aku katakan tapi Marie juga tidaklah sesempurna itu. Kita ini manusia biasa dan terkadang membuat kesalahan serta pilihan yang buruk. Aku bisa saja membencimu tapi buatku itu tidak menghasilkan apa-apa. Kau bisa terus percaya bahwa kau adalah orang yang gagal, tapi seperti yang kau lihat itu tidak sepenuhnya benar. Kau bisa mencapai apa yang kau targetkan, jadi kuatlah, karena aku tahu kau bisa.”Lizzie mulai gemetar, dia ingin menangis, menjerit, dan memeluk Daxon sekaligus. Dia sungguh terharu dengan penerimaan yang pria itu berikan kepadanya dan cara dia memperlakukannya. Dan Daxon sendiri pasti melihat semua itu karena kini pria itu menangkup pipi Lizzie dan mencium keningnya, menahannya untuk te
Sedikit pulih dari kedatangannya sendiri, Lizzie setengah menerjang Daxon. Meski tubuhnya masih terasa lemas lantaran mencapai puncaknya dia fokus untuk membalas apa yang pria itu perbuat kepadanya. Melingkarkan lengannya yang gemetar pada bagian vital sang pria untuk memompa, menggunakan cairan cinta miliknya sebagai pelumas.Daxon meraih seprai tatkala Lizzie bekerja di bawah sana. Merasakan merinding yang luar biasa ketika ibu jari gadis itu menggosok bagian kepala, menyentuh tindikannya, urat nadinya yang mengesankan, dan kebagian yang lainnya. Gadis itu melakukannya secara terbalik ketika dia naik kembali.“Mmm … that’s fucking nice.” Daxon mengerang, alisnya berkerut dalam ketika dia merasakan detik mendekati orgasme.Lizzie menyeringai dan membungkuk sedikit. Menghabisi om-om senangnya dengan memberikan ciuman kecil secara perlahan ke sisi miliknya, dengan sangat hati-hati menggoreskan giginya ke permukaan kulit pria itu. Sejujurnya pergerakan tersebut sudah cukup mengirimkan D
Lizzie mengeluarkan buku sketsanya seraya memandang ke arah Daxon agak lama. “Om?”“Hm?”“Boleh aku menggambarmu?”Daxon mendongak dari korannya, menatap wajah Lizzie yang saat itu tampak menaruh harapan besar. “Apa?”“Aku tahu ini aneh, maksudku anggap saja bahwa ini adalah artblock seorang seniman. Aku ingin membuat pengakuan bahwa aku selalu membuat skesta kasar tentangmu. Tapi sekarang aku merasa ingin menggambarmu secara utuh,” jelas Lizzie dengan sedikit malu-malu dari pada yang dia kira. “Aku ingin menggambarmu.”Ekspresi yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu terlihat dari wajah Daxon, dia bisa melihat ada rona tipis merah muda di pipi si gadis dan itu sangat menggemaskan. Hasilnya Daxon meletakan cangkirnya dan memberikan perhatian penuh kepada Lizzie. “Apa kau serius?”“Sangat,” kata Lizzie sambil memegangi buku sketsanya, meski begitu Daxon masih bisa melihat bahwa gadis itu menggigit bibir bawahnya gugup. “Menurutku kau akan menjadi model yang hebat untuk karyaku.”Daxon kemud
Mereka berdua berjalan menuju ke pusat perbelanjaan terdekat, untuk merealisasikan ajakan Daxon tepat setelah Lizzie selesai melukisnya. Pada akhirnya mereka memilih duduk dan menyantap makan siang di sebuah kafe dan menu yang dipilih adalah garlic bread, wine, dan keju (Lizzie ingin keju sebagai camilan karena dia sangat menyukainya) dan kemudian Daxon menyarankan untuk membeli bahan-bahan keperluan pembuatan sup lobster. Dan ketika mereka berbelanja, saat itulah Lizzie menyadari bahwa ini adalah kali pertama mereka keluar berdua tanpa dirinya merasa harus cemas dan diketahui oleh orang lain. Dia merasa pengalaman pertama ini membuat gemuruh besar di hatinya.Sebenarnya segalanya berjalan dengan sangat sederhana, tidak ada yang istimewa dari berbelanja bahan makanan. Itu hanyalah sebuah kegiatan yang agak membosankan dan dilakukan oleh pasangan yang rata-rata sudah menikah. Tapi anehnya, Lizzie justru merasa bahwa disanalah pesona terbaiknya berada. Dia bisa melakukan sesuatu yang ka
“Iya begitulah, biasanya ada yang menggunakan jasaku untuk memotret moment pernikahan misal pre-wedding, moment ulang tahun yang mewah, tapi yang paling aku suka tentu saja memotret pemandangan alam,” sahut Isabella sambil tersenyum lebar. “Gambaran dari alam selalu membuatku terkesima, karena penciptaannya sendiri langsung oleh Tuhan. Tapi penghasilan terbesar tentu saja dari memotret moment pernikahan.”Lizzie memandangi foto-foto yang dibingkai rapi di dinding. Kebanyakan memang hasil dari pemandangan alam, pemandangan kota, dan yang lainnya pemandangan di pedesaan . Ada beberapa pula foto pasangan yang dipajang. Barangkali sebagai sample untuk menggunakan jasanya. Tentu saja semuanya berasal dari Prancis, karena beberapa diantaranya ada hamparan kebun anggur yang ada di Italia, atau lautan yang berada di sekitar Turki, ada juga hamparan pulau Lombok dari Indonesia. Dia mengambil salah satu yang paling indah menatapnya lekat-lekat.“Orang tuamu, tidak keberatan kah kau memilih mela
Lizzie mengangguk sambil menarik kemeja Daxon. Pria itu menggigit puncak dadanya, seraya menanggalkan pakaiannya sendiri begitu pula Lizzie yang melakukan hal serupa. Daxon meraih gadis itu dan menciumnya dalam-dalam, membuat mulutnya terasa panas. Daxon kembali meraih sela-sela kaki Lizzie, kali ini melepaskan mainan yang menyumbatnya menciptakan bunyi yang lucu dan basah disana. Lizzie bergidik karena Daxon memeluk erat dirinya ketika sensasi tersebut menyapu dirinya. Sambil melingkarkan lengannya di pinggang Lizzie, Daxon membantu gadis itu untuk duduk dipangkuannya. Lizzie membuka lebar kedua kakinya, seraya memegang bahu Daxon dengan jarinya yang gemetaran. Dengan hati-hati Lizzie memposisikan dirinya di pangkuan Daxon, menemukan bagian diri dari Daxon yang menggodanya ketika dia mencoba memposisikan dirinya disana. Secara perlahan Lizzie meraihnya, menyelipkan bagian itu ke dalam dirinya. Dengan pelan, dengan sangat hati-hati setiap inchi dari bend aitu mulai melesak masuk pada
Tiga tahun kemudian …Lizzie bersenandung seraya meletakan paletnya, mundur selangkah dari posisi untuk mengagumi lukisan baru hasil buah tangannya selama berjam-jam. Bunga-bunga berwarna biru dengan gradasi ungu yang disusun sedemikian rupa di sebuah lapangan yang hijau, sangatlah kontras dengan lukisan yang sebelumnya dia selesaikan dan bertemakan soal medan perang terpencil yang hanya memuat tiga bunga yang tercecer darah dari prajurit. Jika disuruh memilih jelas, Lizzie lebih suka lukisan terbarunya. Tentang ladang bunga yang sedang mekar dan memberikan nuansa penuh kedamaian dan ketenangan di bandingkan lukisan perang. Tentu ada perbedaan signifikan, mulai dari hasil akhirnya sampai pada bagaimana cara dia menyapukan kuasnya dan pemilihan warna juga. Tetapi karena perasaan yang ditimbulkan setelah dia menyelesaikan luksian itu, dia entah kenapa merasakan seperti sebuah kenangan disana. Padahal jelas-jelas Lizzie tidak hidup pada zaman itu. Tetapi lukisan ini adalah representasi a
Ketika itu cukup pagi, Lizzie dan ibunya telah berada di bandara. Armant yang bertugas mengantarkan mereka sampai ke sana, karena Dion harus bekerja, tetapi faktanya Lizzie memang punya niatan untuk pergi pagi-pagi sekali supaya tidak perlu berpamitan dengan pria itu. Sungguh, meski hubungan mereka sudah jauh lebih baik tetapi dia masih saja merasa canggung kepada pria itu. Terlepas dari hal-hal gila yang terjadi diantara mereka berdua yang dipicu oleh Lizzie yang memutuskan keluar dari jalur yang digariskan ayahnya dan memilih menjadi seorang seniman alih-alih menjadi dokter idaman. Tetapi setidaknya hubungan mereka berada sekarang sudah terbilang sedikit lebih sehat dibandingkan sebelum-sebelumnya. Bisa dibilang insiden yang tercipta dari perpisahannya dengan Daxon dua tahun lalu, memberikan sebuah hikmah tersendiri. Lizzie mendapatkan kembali hubungan baik dengan ayahnya. Ya, itu patut disyukuri.Lizzie memeluk mereka berdua sebelum benar-benar pergi. “Kamu tidak merasa terlalu pay
“Aku mencintaimu, Om,” bisik Lizzie, matanya terpejam rapat. “Aku mencintaimu dan aku akan selalu begitu.”Kata-kata itu sesungguhnya kata yang manis, tetapi sekarang saat dia mendengarnya itu jadi begitu menyakitkan. Meskipun memang dia bersungguh-sungguh mengatakannya tetapi setelah dia melakukan sabotase seperti ini. Sudah jelas tidak mungkin pria itu masih ada di balik pintu dan menunggunya, atau mendobrak pintu dan menyangkal penolakan Lizzie terhadapnya. Namun dia tahu, jauh dilubuk hatinya, Lizzie telah menghancurkan segala kemungkinan hal itu terjadi.Dua tahun adalah waktu yang telah dia lewati dalam kesengsaraan, apakah aneh baginya untuk menerima begitu saja kesempatan yang Daxon tawarkan kepadanya? Dan untuk apa semua itu? kesempatan untuk memperbaiki karena saat itu dia belum cukup dewasa? Tapi kesalahan akan terus membayangi dan Lizzie tahu bahwa dia sesungguhnya harus bedamai dengan dirinya dahulu.Meskipun cara memotong ikatannya sangatlah egois, tetapi itu yang terbai
Daxon mengetuk pintu dan kemudian dia mundur selangkah. Dia kembali menatap ponselnya sendiri, tidak untuk menghubungi Lizzie tetapi justru nama Armant yang terdapat disana. Dia membaca ulang seluruh teks yang dikirimkan pemuda itu terhadapnya. Izin telah diberikan…Pintu dibukan dan dia langsung disambut oleh sepasang mata cantik yang telah lama tidak pernah dia lihat. Ada kantung mata yang tercipta dan matanya sedikit membengkak. Sepertinya dia kurang tidur dan sedang putus asa. Kini kedua mata itu dipaksa untuk membelalak lebih lebar.“Daxon …,” bisik Lizzie dengan napas yang terengah-engah.Daxon hanya bisa tersenyum mendengar namanya disebut oleh suara yang teramat dia rindukan. Begitu pula pergerakan bibir itu ketika melafalkannya. Dua tahun tidak banyak mengubah orang rupanya.Dia menatap bibir itu, bibir yang menjadi miliknya dan beberapa kali telah dia cium, diklaim, dan dia gigit ketika tiba pada titik dimana gairah luar biasa menyapu dirinya. Ya, setidaknya hal itu berlaku
Smith menyerbu ke arahnya dan mencoba menghentikan Daxon. Pria itu memandangnya dengan amarah yang menggebu, disertai ekspresi wajah yang tertekan luar biasa.“T-Tidak!” Daxon berteriak ketika Smith menyeretnya untuk masuk kembali ke dalam ruangan. “Smith berhenti! Lepaskan aku sialan!”Smith mendorong Daxon ke lantai seperti pria itu adalah boneka kain. Terlepas dari ukuran dan massa otot Daxon, Smith masih jauh lebih kuat darinya. Oleh karena itu Smith dengan mudah berada diatasnya. Berkuasa atas Daxon dan mengendalikannya seperti seorang ayah yang mencoba menenangkan anak laki-lakinya yang sedang mengamuk dan histeris. Daxon membuka mulutnya untuk terus berteriak tetapi Daxon pada akhirnya menampar pipi pria itu sebelum dia bisa melakukannya.Daxon terkejut.“Ada apa denganmu, Daxon?” bentak Smith. “Demi Tuhan, apa yang ada di kepalamu saat ini? kau sedang bekerja. Ada banyak orang disini, tapi kau sudah kehilangan akal. Ini benar-benar sangat tidak professional.”Daxon menarik nap
Daxon sejujurnya agak malas pergi ke kantor. Tetapi dia harus mengirimkan pakaiannya ke binatu dan semenetara itu dia mulai membersihkan rumahnya yang kacau balau. Melakukan pembersihan sebagai bagian dari pada menjernihkan pikirannya lebih dari sekadar memakan ice cream yang manis. Tetapi ice cream sejujurnya menjadi pendamping yang bagus untuk pesta menonton film horror (Daxon berterima kasih kepada Smith yang meminjamkannya kaset flm horror terbaru) anehnya itu cukup untuk dia jadikan sebagai penghiburan.Daxon menatap arloji di tangan kirinya dan mulai berjalan memasuki kantor dengan bahu yang terasa jauh lebih berat dari pada biasanya. Dia datang satu jam setelah kantor dibuka dan dia melihat sekeliling. Ada mike dan asistennya, Smith yang berada diruangannya. Daxon melirik ke arah seseorang pekerja baru di kantornya. Levin. Pemuda yang disarankan oleh Lizzie kepadanya dan memintanya untuk memberikan orang itu kesempatan. Sesuai dengan perkataan gadis itu, kinerja Levin memang te
Perjalanan pulang benar-benar sunyi. Bahkan suara gemuruh kendaraan roda empat dan dua diluar sana tidak cukup memecahkan keheningan di dalam. Suara deru mesin mobil yang mereka naiki juga tidak banyak membantu membuat suara. Tidak ada kata-kata yang dipertukarkan. Tidak ada yang dikatakan, bahkan saat Lizzie keluar dari mobil Daxon. Keheningan sekali lagi tercipta begitu Daxon pergi dari hadapannya.Lizzie menyeka air matanya dan mengetuk pintu rumah sebelum mencari-cari kunci cadangan yang ibunya berikan. Saat dia mendapatkannya, pintu sudah keburu dibuka dan sayangnya bukan sambutan hangat yang dia dapatkan, melainkan sorot mata dingin dari sang ayah.“Hai Ayah ….”Dion tidak banyak beraksi, dia melangkah ke samping membiarkan Lizzie masuk ke dalam. Gadis itu mencoba mengendalikan dirinya di hadapan sang ayah, tetapi dia merasa tekadnya mulai hilang isi kepalanya carut marut sekarang.“Apakah uh … apa Ibu ada dirumah?”Dion menggelengkan kepalanya. “Dia sedang keluar.”Lizzie menga
“Senang bertemu denganmu, Nak,” kata si lelaki tua itu sambil memperlihatkan cengiran malasnya kepada Daxon. “Kupikir kau tidak akan datang dan mengabaikanku.”“Aku memang tergoda sekali,” kata Daxon. “Kenny, ini Lizzie. Lizzie, tua bangka ini adalah ayahku.”Lizzie menarik napas dan memasang ekspresi wajah yang paling tebal yang pernah dia bisa buat. Dia tersenyum sopan dan menganggukan kepala. “Senang berkenalan dengan Anda.”“Senang—” Kenny memulai, dia memiringkan kepalanya seolah dia mengetahui sesuatu. Lizzie merasa tercekik, tetapi dia menolak untuk terlihat seperti itu di depan ayahnya Daxon. “—bertemu denganmu?”Daxon menaikan sebelah alis, merasakan adanya keanehan diantara ayahnya dan Lizzie. Dia menghela napas. “Aku sadar, dia memang jauh lebih muda dariku.”“Ya, memang. Aku tidak tahu kau penikmat daun muda, bocah,” kata Kenny dengan nada yang jelas sinis. Daxon memandang ke arah Lizzie dan gadis itu hanya angkat bahu. Daxon menyipitkan matanya.“Kalian berdua pernah ber