“Kiara, kamu ngapain di dapur?” Melinda menghampiri Kiara yang tengah sibuk mengumpulkan piring kotor. Kiara yang sedang fokus dengan piring-piring kotor bekas makan malam mereka sedikit berjengkit mendengar pertanyaan mama mertuanya yang tiba-tiba.“Mau cuci piring, Ma,” sahut Kiara.Melinda menatap menantunya dengan tatapan teduh. Lalu berjalan mendekat dan merebut piring kotor yang dipegang Kiara lalu meletakkannya di wastafel. Tak lupa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menggenggam tangan Kiara dan diarahkan ke bawah kran air. Membasuh kedua tangan menantunya dengan telaten dan tatapan teduhnya.Kiara sampai terpaku dengan perbuatan mama mertuanya. Selama ini dia terbiasa melakukannya ketika di rumah meskipun ada asisten rumah tangga yang bekerja. Kiara sengaja melatih diri untuk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai bekal ketika menikah. Dan kini, justru dia mendapatkan mertua yang sangat baik. Membuat hati Kiara yang sempat koyak akibat kedatangan Melisa,
Pertengkaran Kiara dan Samudra sebelumnya membuat wanita berhijab itu menangis sepanjang malam. Kiara benar-benar sakit hati dengan sikap suaminya, begitu pula dengan tingkah Melisa yang tak mau menghargai posisinya sebagai istri Samudra. Meskipun sejak awal dia tahu pernikahan ini hanya sebatas keuntungan, tapi tetap saja melihat suaminya tampak biasa saja disentuh wanita lain menciptakan luka di dalam hatinya.Untuk meluapkan kesedihan dan kekecewaannya, Kiara hanya bisa menangis hingga mata wanita itu berubah sembab. Dia juga tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam karena terus memikirkan Samudra dan Melisa. "Udah jam 04.00 pagi, ya?" gumam Kiara saat menatap jam yang menempel di dinding. Wanita itu benar-benar tak sadar sudah menguras air mata hingga pagi tiba.Wanita yang belum pernah dekat dengan lelaki sepanjang hidupnya itu segera mengusap wajahnya yang basah dan bergegas bangkit dari ranjang untuk memulai aktivitas. Saat melewati cermin rias, tak sengaja melihat pantulan waja
Wajah Tiara kembali muram setelah wanita itu berjumpa dengan Melisa. Model licik itu benar-benar pintar mengacaukan hati orang. Entah mengapa dia bisa menjadi artis terkenal padahal perangainya buruk dan tidak memiliki adab. Selain bermuka dua, dia Melisa juga pandai sekali memutarbalikkan fakta. Mungkin karena kepandaiannya beracting itulah dia bisa menjadi artis."Kok Mama diam aja?" tanya Cantika pada Kiara yang sejak tadi membungkam mulut selama dalam perjalanan menuju sekolah Cantika. Tidak seperti biasanya yang selalu menanggapi cerita Cantika. Bahkan terkadang keduanya akan melatih hafalan surat-surat pendek selama perjalan atau bahkan sambung ayat bersama. Namun kali ini mood Kiara benar-benar hancur sehingga kebiasaan baru itu tak ia lakukan."Kenapa, Sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Kiara pada putri kecilnya yang duduk berboncengan dengannya."Kayaknya aku lupa bawa buku, deh," ujar Cantika.Kiaara mengernyit. Setiap pagi dia akan mengecek kembali barang bawaan putrinya. R
"Gimana kabar kamu sama suami kamu, Kiara? Kalian baik-baik aja, kan?" "Kia sama Mas Samudra baik-baik aja. Kami semua sehat," sahut Kiara. "Dokter ngomong apa aja? Kira-kira kapan Ayah boleh pulang?""Kata Dokter efek samping dari operasi enggak terlalu berbahaya. Tapi Dokter belum bisa mastiin kapan Ayah bisa pulang. Ayah masih butuh pengawasan ketat dari dokter pasca operasi. Ring jantung yang baru aja dipasang bisa bermasalah kapan aja, jadi Dokter belum bisa kasih izin atau pulang setelah operasi," terang ibu Kiara.Kiara manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari ibunya. "Jadi, kemungkinan Ayah masih harus dirawat di sini agak lama?" tanya Kiara membuat kesimpulan."Kurang lebih begitu, Kiara," sahut sang ayah. "Dokter cuma mau mastiin Ayah baik-baik aja setelah operasi. Ayah yakin nggak akan ada masalah. Ayah pasti bisa pulih secepatnya."Kiara mengulas senyum tipis. Kiara dan kedua orang tuanya makin asik mengobrol hingga mereka lupa waktu. Beberapa hari tak bertemu membuat
Kiara kembali dibuat menangis karena perkataan menyakitkan yang diucapkan oleh Samudra. Kiara diomeli habis-habisan oleh Samudra karena wanita itu lupa menjemput Cantika di sekolah. Kiara sudah berusaha menjelaskan pada Samudra, tapi sayangnya Samudra tak mau mendengarkan Kiara.Karena masalah ini, hubungan Samudra dan Kiara pun makin berantakan. Sejak awal, Samudra sendiri memang tidak memberikan sambutan baik pada Kiara padahal dia sendiri yang meminta Kiara untuk menjadi istri. Bukan, lebih tepatnya memang untuk menjadi mamanya Cantika. Ditambah dengan masalah ini, pria itu pun makin membenci Kiara dan semua tingkah yang dilakukan Kiara."Kenapa semuanya malah jadi gini?" gerutu Kiara kesal pada dirinya sendiri. Kalau saja Kiara tidak ceroboh dan bisa menjemput Cantika tepat waktu, hubungannya dengan Samudra tidak akan makin rapuh seperti ini. Kiara terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa mengurus Cantika dengan baik hingga membuat Samudra kecewa.Wanita berhijab itu menyes
Suasana tegang mulai menyelimuti keadaan rumah Samudra. Melisa dan Kiara saat ini tengah bersitegang, membahas tentang jam tangan milik Melisa yang tiba-tiba hilang. Kiara menatap tak suka pada wanita yang dekat suaminya itu. Selain tidak punya adab ternyata dia juga suka fitnah. "Ngaku aja, Kiara! Kamu kan yang ambil jam aku?" Melisa masih terus memojokkan Kiara. Bahkan wanita itu sangat slyakin kalau Kiaralah yang mengambil jam tangan miliknya."Kenapa kamu begitu yakin kalau aku yang mengambilnya?Aku bahkan nggak tahu apa-apa soal barang-barang milik kamu. Aku nggak nyentuh barang kamu, dan aku juga nggak tahu apa aja yang ada di tas kamu," kilah Kiara berusaha menjelaskan.Wanita berhijab yang biasanya lemah lembut itu berubah tegas. Dia menatap Melisa tanpa gentar karena merasa bahwa dirinya memang tidak pernah mengambilnya. Jangankan mengambil, melihat seperti apa barang yang dimaksud saja tidak. Seperti apa modelnya, apa warnanya, apa merk-nya, dia juga sama sekali tak tahu. L
"Benar Cantik lihat sendiri tadi? Kapan Tante itu masukin jam tangannya ke baju Mama?" tanya Kiara pada Cantika."Tadi waktu aku lihat Tante itu nabrak Mama di dapur.""Apa maksud kamu, Melisa? Kamu sengaja nabrak aku supaya kamu bisa masukin jam tangan kamu ke baju aku?" sungut Kiara. "Kamu sengaja mau fitnah aku agar Mas Sam benci padaku? Pantas saja kamu ngotot nuduh aku pencurinya. Ternyata kamu sendiri yang naruh di bajuku!"Melisa mulai panik. "Sialan! Bocah itu ganggu banget sih!" gerutu Melisa dalam hati."Maksud kamu apa sih, Kiara? Kamu beneran percaya sama omongan anak kecil?" tanya Melisa. "Cantika itu masih polos. Anak-anak juga suka ngarang cerita, kan? Kamu percaya gitu aja sama kata-kata Cantik?""Aku nggak bohong!" seru Cantika."Cukup, Cantik!" tukas Samudra menghentikan ocehan bocah kecil itu. "Papa nggak suka kamu ngarang-ngarang cerita kayak gini cuma demi belain mama kamu!"Cantika membungkam mulut rapat-rapat. Cantika tak berani lag
Hari ini adalah hari kepulangan Samudra. Melisa yang mengetahui jadwal penerbangan Samudra, langsung segera bersiap untuk menjemput Samudra di bandara. Dia sampai membatalkan jadwal pemotretan demi bisa menjemput pria yang diincarnya."Hari ini ada jadwal pemotretan."Melisa menatap sang manager sekilas lalu kembali bersiap. Tampak sekali dia sibuk memperbaiki penampilannya. Bahkan dia sampai membeli baju baru khusus untuk menjemput Samudra. "Batalkan semua jadwal! Aku harus ke bandara 1 jam lagi," ucap Melisa pada manajernya.Alina-sang manager melotot mendengar perintah itu. Akhir-akhir ini kata itu sering kali ia dengar. "Kita udah terlalu sering batalin jadwal. Kalau kayak gini terus, kamu bisa kesulitan dapat job nantinya.""Kesulitan dapat job?" cetus Melisa sembari tertawa kecil. "Apa aku terlihat seperti model yang udah nggak laku? Aku nggak masalah nggak dapetin job di tempat lain. Aku cuma butuh job dari perusahaan Samudra."Dengan jumawa Melisa menatap sinis Alina. Meskip
Pagi ini ada yang berbeda dengan Kiara. Jika biasanya sepagi ini ia sibuk menyiapkan putrinya untuk berangkat sekolah dengan membuatkan bekal makan yang lezat dengan bentuk yang unik, kali ini wanita itu meminta bibik untuk menggantikan tugasnya. Bukan karena sudah tak mau lagi menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Hanya saja semenjak sang suami memberinya tugas di kantor untuk menjadi seorang CFO, dia tak memiliki banyak waktu luang di rumah. Selain bekerja, Kiara diwajibkan untuk belajar secara privat agar bisa menjalankan tugasnya. Beruntung Kiara termasuk seorang pembelajar dan pengingat yang baik. Sehingga dia tidak kesulitan salam memahami setiap materi yang diberikan.Dan saat ini, Kiara sudah siap dengan gamis warna mocca dipadu blazer hitamnya. Tampak anggun dan berkelas meskipun memakai pakaian syar'i. Di depan cermin, Kiara berdiri mengamati pantulan tubuhnya yang tampak berbeda. Samudra tersenyum menatap sang istri penuh cinta. Perlahan pria itu mendekat lalu meling
"Kenapa aku harus ikut? Apa Mas nggak takut keberadaanku justru mengganggu pekerjaan Mas?" Tak mudah tersenyum penuh makna. Sudah ada kejutan yang ia siapkan di kantor untuk menyambut kedatangan sang istri. Melihat suaminya hanya senyum-senyum wanita itu tak tahan lalu mencubit lengan sang suami. "Mas, aku serius bertanya. Kenapa malah senyum-senyum nggak jelas?" Ingin rasanya Kiara menjitak kepala suaminya adik iya tak takut dosa. Sungguh saat ini ia merasa suaminya begitu misterius. Tidak lebih tepatnya sejak dua hari yang lalu. Setelah mobil terparkir sempurna pasangan suami istri itu keluar dan berjalan dengan elegan menuju kantor yang begitu menjulang. Anehnya Kiara merasa kondisi kantor terasa tidak biasa. Dalam hati ia bertanya kenapa jam segini masih sangat sepi bahkan tidak ada seorangpun yang terlibat di lobi. Belum hilang rasa penasaran Kiara tiba-tiba dia mendengar derap langkah yang saling bersahutan dari balik lift yang tiba-tiba terbuka. Kiara menutup mulutnya den
Pagi-pagi sekali di kediaman Samudra sudah terjadi keributan lantaran Cantika masih ngambek karena belum bisa melihat papa dan mamanya. Gadis kecil itu terus membuat ulah sampai pengasuh yang biasa membantunya kewalahan."Gak mau! Cantik nggak mau mandi kalau nggak sama mama!" teriak gadis kecil itu sambil melempar bantal serta bonekanya hingga berserakan di lantai. "Oma bohong! Katanya mama akan pulang tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga?" Suara Cantika makin melemah karena kelelahan. Melinda menghela nafas panjang menyaksikan cucu kesayangan tampak begitu rapuh menunggu kehadiran menantunya, Kiara. Sebenarnya bisa saja wanita paruh baya itu langsung menghubungi Mama sambung Cantika tapi dia tidak melakukannya karena ada niat berselubung. Mumpung ada kesempatan mereka bisa keluar berduaan maka tak ingin menyia-nyiakan. Dia sangat yakin Kiara akan bertahan jika sudah hamil.Walaupun saat ini gadis yang dinikahi secara dadakan oleh putra semata wayangnya itu sudah memaafkan
Aroma masakan menguar hingga memenuhi rongga hidung wanita cantik yang masih terbaring di atas kasur. Kedua matanya perlahan membuka seiring dengan perutnya yang berbunyi. Kiara menoleh ke kanan dan sebuah senyum menyambutnya. Samudra menatap sang istri dengan mata berbinar. Posisinya yang menghadap Sanga istri dengan tangan menyangga kepala dan siku sebagai tumpuan. Kiara mengerjap-ngerjapkan matanya. Mendadak bayangan peristiwa beberapa jam lalu berputar bak film di benaknya membuat pipi putihnya memerah karena malu. Terlebih saat ini sang suami tengah menatapnya begitu intens. "Ma-mas?" ucapnya terbata-bata.Samudra tersenyum lalu menyelipkan helaian rambut sang istri ke belakang telinga. "Nyenyak sekali boboknya. Sampai-sampai aku mengira tengah bersama putri tidur," ujar lelaki itu. Kiara memukul dada bidang suaminya dengan pukulan yang lebih terasa seperti elusan bagi Samudra. Setelah beberapa menit menggoda sang istri, Lelaki berhidung mancung itu membuka selimut hingga tub
"Kita butuh waktu berdua untuk membuatkan adik Cantika. Kalau di rumah terus, adik pesanan Cantika nggak akan pernah terbentuk," bisik Samudra membuat wajah Kiara memanas. Lelaki itu tersenyum nakal ketika sudah memasuki suit room yang begitu mewah. Dengan menggunakan satu kaki, ia mendorong pintu hingga tertutup dan terkunci otomatis. Sedangkan tangan pria itu tak mau lepas dari pinggang ramping sang istri. Tatapan mereka saling beradu dengan deru nafas saling berlomba. Kiara tahu bagaimana cara meredam api cemburu yang sempat membakar dada lelaki yang telah menghalalkannya itu akibat kehadiran pria bernama Aldo. Meski dengan wajah malu-malu, tapi wanita berhijab itu tahu tugasnya untuk membuat sang suami meleleh. Detik berikutnya hanya ledakan kembang api yang begitu indah mendominasi perasaan pasangan suami istri tersebut. Entah kapan Samudra menyiapkan semua ini. Yang jelas dari dekorasi kamar hotel ini dengan banyaknya kelopak bunga mawar, lilin aroma terapi, musik klasik yang
Sepanjang perjalanan dari mall menuju ke rumah Samudra tidak buka suara. Tiara sendiri hanya bisa takut-takut pada suaminya. Wanita berhijab itu tahu kalau saat ini sang suami sedang menahan emosi. Tapi dia tidak berani untuk mengatakan sesuatu sampai pria itu sendiri yang mengajaknya berbicara. Tepat saat mobil berhenti di lampu merah Samudra menoleh ke samping kiri lalu kedua matanya menatap dalam sang istri. "Sejauh mana hubunganmu dengan Aldo dulu?" Pertanyaan Samudra membuat hati Kiara tergelitik. Bagaimana tidak Tiara tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun sebelum menikah karena dia memiliki prinsip pacaran setelah menikah. Itulah sebabnya dulu meskipun Aldo adalah pria populer di kampusnya dan digilai oleh para mahasiswi dia sendiri tidak tertarik untuk mengenal lebih dekat walaupun pria tersebut berusaha untuk mendekatinya. Kiara menatap suaminya dengan tatapan lembut lalu telapak tangannya diletakkan di atas punggung telapak tangan sang suami yang sedang ber
"Kamu bilang apa barusan?""Gak ada! Aku cuma bilang lanjutkan sampai para jomblo kejer-kejer lihat tingkah kalian berdua yang norak!" Sontak tawa Kiara dan Samudera berderai. Yeni yang semula kesal mendadak terkesima dengan ketampanan Samudra yang meningkat berkali-kali lipat ketika tertawa. "Busyet, ada malaikat tak bersayap," batinnya memuji. "Tuhan, masih adakah stock pria seperti dia," batin Yeni lagi. Namun detik berikutnya iawngucap istigfar karena sudah memuji bahkan menginginkan orang yang dibencinya. Di saat situasi masih belum terkendali, tiba-tiba datang seorang pria. "Maaf, apa saya boleh bergabung?""Maaf apa saya boleh bergabung?"Sontak tiga orang dewasa yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing itu menoleh. Ketiganya menatap pria yang berdiri dengan pakaian casual itu dengan ekspresi berbeda-beda. Yeni dengan senyumnya yang mengembang sempurna, Kiara dengan ekspresi tak tergambarkan, sedangkan Samudra dengan wajah datar seperti biasanya. "Aldo!" Yeni be
"Sayang, apa susah selesai?" Samudra sengaja merangkul pundak sang istri untuk menunjukkan kepemilikannya. "Eh, Ma-mas Sam su-sudah dari tadi di sini?" Mendadak Kiara gagap."Ya lumayan. Sejak temanmu mengatakan ada pria bernama Aldo masih mencintaimu."Sontak dua wanita itu membuka mulutnya karena ucapan Samudra yang terang-terangan.Samudra mengabaikan pertanyaan sang istri lalu memilih untuk duduk di samping wanita yang ia cinta itu. Dengan satu wajah datar yaitu menatap Yeni sekilas lalu kembali menatap sang istri dengan senyum menawannya. "Sudah selesai makannya, sayang?"Meskipun Samudra bertanya dengan bibir tersenyum tapi kilatan cemburu di matanya membuat Kiara senam jantung. Wanita berhijab itu duduk dengan gelisah karena ia tahu persis bagaimana suaminya kalau sedang cemburu. Kedua bola mata Tiara melirik Yeni yang menatap dirinya dan suaminya bergantian. Tidak seperti sebelumnya Yeni tampak tidak suka dengan kedatangan Samudra. Wanita itu merekam semua perkataan ibunya
Kiara melangkah dengan elegan menuju tempat janjian dengan teman lamanya, Yeni. Sementara Samudra berbelok arah menuju ruang manager karena memang tujuannya datang kemari untuk bertemu dengan manager. "Kiara, sini!" Yeni melambaikan tangan dengan antusias melihat kehadiran Kiara. Meskipun mereka sudah lama tidak bertemu, tapi Yeni masih bisa mengenali Kiara. Memang penampilan Kiara sekarang jauh lebih berkelas dan elegan dibanding dulu saat kuliah yang sederhana. Namun cara berjalan dan postur tubuhnya tidak berubah sama sekali sehingga Yeni bisa langsung mengenali meskipun jarak mereka cukup jauh. Kiara mengulas senyum sambil terus melangkah maju. Tidak ada suara ketukan sepatu yang bikin berisik karena Kiara berjalan dengan sangat tenang. Tidak tergesa-gesa dan tidak juga terlalu lambat. "Assalamualaikum my sister!" Kiara tersenyum melihat antusiasme Yeni. Wanita yang dulu sangat tomboi itu kini tampak lebih anggun meski sikapnya yang heboh tetap tidak berubah. Iya langsung ber