Share

Terjebak Bersama Kriminal Tampan
Terjebak Bersama Kriminal Tampan
Author: Nabila

Bab. 2

Author: Nabila
last update Last Updated: 2023-12-26 03:02:33

”Sudah kubilang aku butuh makanan dan istirahat.” Ada nada baru yang aneh dalam suara lelaki itu. Sedikit kasar.

”Kau sudah beristirahat.”

”Maksudku tidur, Miss Azura. Aku butuh tidur.”

”Maksudmu… kau ingin tinggal di sini?” tanya Azura terkejut.

”berapa lama?”

”Sampai aku memutuskan untuk pergi,” sahut lelaki itu tenang.

Ia menyeberangi kamar dan menyalakan lampu di samping tempat tidur Azura.

”Tidak mungkin!” Lelaki itu kembali ke tempat Azura berdiri di dekat pintu dan meraih tangannya. Ditariknya Azura di belakangnya.

”Kau tidak dalam posisi untuk berdebat. Aku memang belum mencelakaimu, tapi itu tidak berarti aku tidak akan melakukannya kalau terpaksa.”

”Aku tidak takut padamu.”

”Kau bohong.” Lelaki itu menyeretnya ke kamar mandi yang berhubungan dengan kamar tidur dan membanting pintu.

”Atau kau mestinya takut. Dengar baik­-baik,” katanya dengan gigi dikatupkan.

Ada sesuatu yang mesti kulakukan, dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegahku, apalagi seorang putri kulit putih seperti kau. Aku telah menghantam seorang penjaga sampai pingsan untuk bisa lolos dari penjara, dan aku sudah jalan kaki sejauh ini. Aku tidak akan kehilangan apa pun, selain nyawaku, dan di penjara nyawa tidak ada artinya. Jadi, jangan macam­macam, Nona. Kau mesti menerimaku tinggal di sini sebagai tamumu, selama yang aku inginkan.

” Untuk menekankan ancamannya, ia mencabut pisau itu lagi dari balik celananya.

Azura menarik napas kaget, seolah perutnya disentuh dengan ujung pisau itu.

”Itu lebih bagus,” kata le laki itu, melihat ketakutannya.

”Sekarang duduklah.” Ia memberi isyarat dengan dagunya ke arah toilet duduk.

Azura, masih terus menatap pisau itu, mundur sampai

ia membentur toilet, lalu duduk di situ.

Rodriguez meletakkan pisaunya di tepi bathtub, jauh dari jangkauan Azura. Ia melepaskan sepatu bot dan kaus kakinya, lalu mulai menarik kemejanya yang compang­-camping dari dalam celana jeans­nya. Azura, yang duduk diam seperti patung, tidak mengatakan apa­apa saat lelaki itu melepaskan kemejanya.

Ia mulai membuka sabuk keperakan di pinggangnya. ”Kau mau apa?” tanya Azura was-was.

”Mau mandi.” Rodriguez membuka sabuknya, membiarkannya menggantung lepas saat ia membungkuk untuk menyalakan keran di bathtub. Lalu ia membuka ritsleting jeans­nya. Suara air yang memancar keras itu tak bisa menyamarkan bunyi tarikan ritsleting tersebut.

”Kau mau mandi di depanku?” teriak Azura.

”Supaya aku bisa mengawasimu.” Dengan tenang lelaki itu menurunkan celananya.

Azura memejamkan mata, merasa pening. Dicengkeramnya tepi dudukan toilet itu agar ia tidak jatuh. belum pernah ia merasa begitu dihina dan semarah ini dalam hidupnya.

Lelaki itu melangkah ke bawah pancuran air, tanpa menutup tirai. Azura memalingkan kepala dan menarik napas beberapa kali, untuk menenangkan diri.

”Ada apa, Miss Azura? belum pernah melihat laki­-laki telanjang? Atau kau gugup karena yang kau lihat adalah orang Indian yang telanjang?”Azura menoleh dengan tajam, tersengat oleh nada mengejek lelaki itu.

Ia tidak mau orang ini menganggapnya sok malu­malu kucing atau rasis. Tapi ia tak bisa membalas ucapan lelaki itu. Ia seolah lumpuh melihat gerakan lelaki itu menyabuni tubuh telanjangnya. Air dari pancuran itu pasti panas, sebab kaca­kaca di situ mulai berkabut dan hawa terasa hangat. Kabut itu menempel di kulit Azura juga, dan ia hampir tak bisa menghidup udara berat yang lembap itu ke dalam paru-parunya.

”Seperti kau lihat, kami Narapidana juga punya alat yang sama dengan lelaki lain,” kata lelaki itu sambil menyabuni bagian bawah tubuhnya.

Tidak sama seratus persen, pikir Azura, sementara matanya melirik cepat ke bagian bawah tubuh lelaki itu.

”Kau vulgar,” katanya ketus.

”Dan seorang kriminal pula.” Lelaki itu tersenyum sinis dan melepaskan ikat kepalanya, lalu melemparkannya ke tumpukan pakaiannya yang lain. Ia membasahi rambutnya di bawah pancuran, lalu mengambil sebotol sampo.

Diciumnya isi botol itu, lalu dituangkannya isinya sedikit ke tangannya, dan diusapkannya kerambutnya.”baunya lebih enak daripada sampo di penjara,” katanya sambil terus menggosok.

Azura tidak menjawab, sebab ia sedang sibuk membuat rencana. Lelaki ini tentunya perlu waktu agak lama untuk membilas rambutnya, bukan? Azura tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Sekarang pun lelaki itu sudah mulai membilas rambutnya. Di meja samping tempat tidurnya ada telepon. Kalau ia bisa mencapainya dan menelepon nomor darurat sebelum… Lelaki itu kembali menunduk di bawah pancuran. Tidak ada waktu lagi.

Azura bergerak ke arah pintu, menariknya dengan cepat, hingga lengannya serasa akan putus, dan menyerbu ke dalam kamat tidur. Dalam sekejap ia berhasil mencapai meja kecil itu. Dengan panik ia mengangkat telepon dan mulai memencet nomor­-nomor yang sudah begitu ia ingat.

Ditunggunya nada panggil itu. Tidak ada apa­apa. Sial! Apa ia salah memencet nomor? Ia memutus sambungan dan mencoba lagi. Tangannya gemetar hebat, hingga ia hampir­hampir tak bisa menggenggam telepon itu. Sambil menoleh panik ia terkejut melihat Rodriguez muncul di ambang pintu, di antara kamar tidur dan kamar mandi. Lelaki itu bersandar dengan santai, mengawasinya.

Sehelai handuk melingkar di lehernya. Selebihnya ia telanjang. Air menetes-­netes dari rambutnya yang basah, meluncur di tubuhnya yang kecokelatan. Di tangan kanannya ia menggenggam pisau itu sambil mengetuk-ngetukkan sisinya yang tidak tajam di pahanya yang telanjang.

Azura baru menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa memakai telepon itu. ”Kau memutus teleponku.”

”Ya, begitu aku masuk kemari.” Dengan cepat Azura menarik kabel telepon itu dari balik meja.

Penghubung yang biasanya ditancapkan ke tembok sudah rusak diinjak tumit sebuah sepatu bot. Ia menjadi frustrasi. Dan sangat marah. Ia marah karena lelaki itu tampak begitu tenang, sementara ia sendiri merasa begitu bodoh. Ia menyumpah­-nyumpah dan melemparkan telepon itu ke arah Rodriguez, lalu melesat ke arah pintu, berusaha meloloskan diri dengan segala cara. Ia tahu usahanya akan sia­sia, tapi ia mesti melakukan sesuatu. Ia berhasil mencapai pintu, bahkan ia bisa membukanya sedikit sebelum lelaki itu mengulurkan tangan dan mendorong pintu itu hingga menutup lagi. Azura membalikkan tubuh dengan jemari siap mencakar.

”Hentikan!” perintah lelaki itu, lalu menyambar kedua lengan Azura.

Pisaunya melukai lengan atas Azura. Azura menjerit kesakitan. ”bodoh kau!”

Lelaki itu memekik kaget ketika Azura mengangkat lututnya dan menghantarkannya ke selangkangan lelaki itu.

Meleset, tapi lelaki itu jadi kehilangan keseimbangan saat berusaha menghindar.

Kulit lelaki itu masih basah dan licin, dan dengan mudah ia bisa menangkis pukulan-pukulan Azura. Dalam beberapa saat saja ia sudah berhasil menelikung lengan Azura.

”buat apa melawan seperti itu? Kau bisa terluka,” bentaknya. Wajahnya dekat sekali dengan wajah Azura dan dadanya turun­ naik kelelahan.

Sorot kemarahan di matanya membuat Azura ketakutan, tapi Azura tak mau memperlihatkannya. Ia justru melotot pada lelaki itu.

”Kalau kau mau membunuhku, cepat lakukan, "kata-nya.Ia sama sekali tidak siap ketika lelaki itu menyentakkannya berdiri.

Gigi Azura bergemeletuk ngeri. Ia masih mencoba mengumpulkan keberaniannya ketika melihat pisau itu berkelebat ke arah pipinya dengan satu gerakan cepat. Ia mencoba menjerit, tapi yang keluar hanya erangan pelan saat ia melihat sejumput rambutnya tergenggam di tangan lelaki itu. Helai­-helai rambut pirang di tangan cokelat itu menunjukkan betapa lemahnya ia di tangan lelaki itu.

”Aku tidak main­main dengan ucapanku, Nona,”

kata Rodriguez, masih dengan napas terengah.

”Aku tidak akan rugi apa pun. Kau coba macam­macam lagi, bukan hanya rambutmu yang kutebas. Mengerti?”Dengan terbelalak ngeri memandangi rambut itu.

Azura mengangguk. Rodriguez membiarkan rambut di tangannya jatuh melayang ke lantai. Kemudian dilemparkannya handuk itu pada Azura.

”Lenganmu berdarah.” Azura baru menyadarinya. Ia terkejut melihat tetesan darah mengalir dari luka di atas pergelangan tangannya.

”Ada bagian lain yang terluka?” Azura menggeleng.

”Pergilah ke tempat tidur.” Rasa takut meliputi diri Azura karena ia diperintah-perintah seenaknya di rumahnya sendiri oleh seorang pelarian dari penjara.

Tanpa memprotes sepatah pun ia mematuhi perintah itu. Lengannya sudah tidak berdarah lagi sekarang. Ia menyingkirkan handuknya dan berbalik menghadap Sanderanya.

”buka pakaianmu.” Tadi ia mengira takkan bisa merasa lebih ketakutan lagi. Ternyata perkiraannya salah.

”Apa?” desisnya.

”Kau sudah dengar apa kataku.”

”Tidak.”

”Kalau kau membantah, kau akan terluka lebih parah daripada sekadar goresan di lenganmu itu.” Mata pisau itu berkilat­-kilat dalam cahaya lampu ketika lelaki itu mengacungkannya di depan wajah Azura.

”Kurasa kau tidak akan menyakitiku.”

”Jangan terlalu yakin.” Sepasang mata yang dingin dan tidak berperasaan itu menatapnya dengan garang, dan Azura terpaksa mengakui bahwa kemungkinan ia tidak akan terluka lebih jauh lagi sepanjang malam ini tampaknya kecil.

”Kenapa… kenapa aku mesti membuka… pa…pa…”

”Kau benar­-benar ingin tahu?” Tidak, rasanya ia tak ingin tahu, sebab ia bisa membayangkan jawabannya, dan kalau lelaki itu benar­benar mengucapkannya, ia pasti akan semakin ketakutan.

”Tapi kalau kau bermaksud memerkosaku, kenapa kau tidak…”

”buka pakaianmu.” Lelaki itu mengucapkan setiap kata dengan tegas.

Kalimat itu keluar dari bibirnya yang keras seperti potongan­-potongan es. Azura tak punya pilihan. Kalau menuruti perintah lelaki itu, setidaknya ia masih punya waktu lebih banyak untuk hidup. Mungkin seseorang akan meneleponnya dan mendapati teleponnya tidak berfungsi. Perusahaan telepon akan mengirim orang untuk mengecek, bukan? Atau barangkali akan ada yang datang. Anak penjual koran, misalnya. Apa pun mungkin ter jadi kalau ia bisa membuat lelaki itu berlama­lama. bahkan mungkin saat ini polisi sudah mengepung rumahnya, setelah berhasil melacak jejak Rodriguez kemari.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yuni Wartianingsih
menegangkan, juga dramatis
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 1

    ”Namaku Rodriguez .”Suaranya pelan dan serak, seperti angin padang pasir.Suara itu lembut, Tapi Azura Tidak terkecoh karenanya. Seperti halnya angin, Si Pemilik Suara Pasti Bisa berubah ganas Kalau terdesak. Dan mengingat Siapa Pemilik Suara Itu, kemungkinan yang ditakutkannya tersebut mungkin saja terjadi. Nama Rodriguez Sudah berkali­-kali disebutkan di Acara­-Acara TV Dan Radio sepanjang Hari Itu. Semalam Aktivis keturunan indian itu melarikan diri daripenjara Alcatraz di San Francisco , yang jauhnya sekitar delapan puluh kilometer. Pihak-­pihak yang berwenang sedang menyisir seluruh daerah itu untuk mencari pelarian Tersebut.Dan ternyata orang ini berada di dapurnya!”Aku butuh makanan. Dan istirahat. Aku tidak akan menyakitimu kalau kau mau bekerja sama,” katanya di Telinga Azura.”Kalau Kau Mencoba berteriak, AkuTerpaksa mesti menyumbat mulutmu.Mengerti?” Azura mengangguk, dan lelaki itu melepaskan bekapan tangannya dengan hati­-hati.Azura langsung Megap­-Megap Menarik Na

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 3

    dengan mata sekeras kristal. Rasa harga diri membuat Azura tak mau memohon­mohon, apalagi ia yakin kalaupun ia memohon, lelaki itu tidak akan tergerak sedikit pun.Dibukanya kancingnya satu per satu.”Cepat!” Azura menatap lelaki telanjang yang hanya berdiri beberapa meter darinya itu.Rodriguez dengan tenang Membalas tatapan marahnya. Sengaja Azura berlama-lama melepaskan kancing-­kancingnya, untuk menguji kesabaran si lelaki. Akhirnya semua kancing sudah dibuka.”Lepaskan pakaianmu.” Rodriguez membuat gerakan tegas dengan pisaunya.Sambil menunduk Azura melepaskan blusnya, tapi lalu menggunakannya untuk menutupi dadanya.”Turunkan.” Tanpa menatap lelaki itu, Azura menjatuhkan blusnya ke lantai.Setelah melewati keheningan yang panjang, lelaki itu berkata,”Sekarang yang lainnya.” Saat itu sedang musim panas di San Francisco. Azura menutup studionya lebih awal sore itu, sebab ia tak punya janji temu lagi. Setelah berolahraga di klub kesehatan, ia pulang hanya mengenakan rok, blus, dan

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 4

    Di depan bar ada sederetan kursi tinggi dengan alas vinil merah. Setidaknya dulu pernah berwarna merah, meski sekarang hanya tampak berwarna gelap kotor dan berminyak. Hanya tiga kursi yang diisi. begitu pintu tertutup kembali, tiga pasang mata jahat menoleh dan menelusuri sosok mereka dengan curiga. Salah satu di antara ketiga orang itu adalah seorang perempuan pirang ber­makeup tebal yang duduk mengangkat kaki ke kursi di sampingnya. Ia sedang mengecat kuku jari kakinya.”Hei, Ray, ada tamu,” teriaknya. Ray adalah lelaki tambun yang ada di belakang bar.Ia sedang asyik menonton opera sabun di televisi yang dipasang tinggi di sudut, sepasang lengannya yang sangat besar bertumpu di kulkas.”Kau saja yang melayani,” ia balas berteriak tanpa mengalihkan mata dari layar.”Kukuku belum kering.” Ray memaki dengan ucapan kotor yang dikira Azura hanya bisa dibaca di tembok­tembok WC umum di pelabuhan.Ray beranjak meninggalkan kulkas dan menatap mereka dengan pandangan marah. Azura melihatny

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 5

    SAMbIL membuka topi, polisi itu mengusap dahinya yang berkeringat dengan bagian lengan seragamnya. Azura duduk tegak dan memperhatikan. Seragam yang dikenakan orang itu adalah seragam sherif, setidaknyaseragam seorang deputi.”Stella, satu bir untukku,” seru lelaki itu begitu pintu tertutup di belakangnya.Si pramusaji berambut pirang menoleh dan tersenyum lebar melihatnya. Rupanya mereka sudah akrab.”Hm, coba lihat siapa yang datang.” Si pramusaji bersandar di bar, dengan pose yang membuat payudaranya yang besar tampak sangat mengundang.Sherif itu tersenyum mesum padanya.”Kangen aku, ya?””Huh, tidak,” sahut si pramusaji sambil merangkul leher Sherif yang kemerahan ketika lelaki itu mencondongkan tubuh ke arahnya dari kursi tingginya.”Kau kan tahu aku. Tidak ketemu, ya tidak dipikirkan.””Sudah dua hari ini aku mencari­cari seorang buronan sialan yang sama sekali tidak ketahuan di mana batang hidungnya. Aku butuh bir dingin dan perhatian yang manis.””bir dan perhatian? Urusanny

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 6

    ”Sedikit apa?””Sedikit perempuan yang menghabiskan lebih dari satu malam bersamaku.””Jangan harap aku merasa tersanjung mendengarnya.””Tidak. Aku yakin perawan kulit putih seperti kau tidak bisa membayangkan hal yang lebih buruk selain dipeluk oleh seorang lelaki .””Kau sangat vulgar. Dan aku bukan perawan.””Kau sudah menikah?””belum.””Kalau begitu, kau hidup bersama dengan pacarmu?””Tidak.””Punya hubungan istimewa?””bukan urusanmu.” Azura lebih suka mati daripada menceritakan pada orang ini bahwa hanya pernah ada satu lelaki dalam hidupnya.Itu pun tidak layak diingat­ingat, karena apayang dialaminya dulu sangat mengecewakan, dan ia melakukannya terutama sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahunya.Di antara dirinya dan lelaki yang dulu menjalin hubungan dengannya hanya terjalin sedikit rasa suka, sedikit komunikasi, tanpa kehangatan atau kedekatan, bahkan tidak terlalu banyak gairah. Sesudahnya ia sangat kecewa, dan ia merasa pasangannya pun merasakan hal yang sama.Ia tid

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 7

    ”Rodriguez!” teriaknya panik.”Rodriguez!””Ada apa, Azura?””Pintunya tidak bisa dibuka.””Memang.” Azura ternganga kaget.Lelaki itu sengaja menguncinya di dalam.”bukakan!” jeritnya sambil menggedor­gedor pintu.”Akan kubukakan begitu aku kembali.””Kembali? Kembali? Kau mau kemana? Jangan berani-­beraninya meninggalkan aku terkunci di sini!””Terpaksa. Aku tidak mau kau menggunakan telepon yang pura­pura tidak kaulihat itu. Kau akan kulepas begitu aku kembali."”Kau mau ke mana?” tanya Azura lagi.Ia putus asa membayangkan terkurung dalam toilet ini entah untuk berapa lama.”Kembali ke mobil. begitu slang airnya sudah kuganti, aku akan kembali untuk menjemputmu.””Ke mobil? Kau mau kembali ke mobil? bagaimana caranya kau ke sana?””Aku akan lari.””Lari?” Azura mengucapkan kata itu tanpa suara.Lalu sesuatu terlintas dalam pikirannya dan ia mengatakan.”begitu pemilik tempat ini datang kembali jamempat, mereka akan menemukan aku. Aku akan menjerit sekeras mungkin.””Aku sudah kem

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 8

    Rodriguez ingin cepat­cepat kembali. Matanya yang tajam melayang dan menyimpan denah keseluruhan wilayah itu. Ia tahu bahwa ia tinggal menempuh beberapa kilometer lagi. Paling banyak lima kilo meter. Ditekannya pedal gas mobil tersebut. Untunglah kendaraan itu bereaksi. Mobil itu bisaberfungsi kembali dengan baik. Tidak sukar mengganti slang­slangnya. Yang sulit adalah berlari sepanjang jalan untuk mencapai mobil itu tadi, dengan membawa peralatan berat di saku, berikut segalon air untuk menggantikan yang merembes keluar. Rodriguez sudah biasaberlari, bahkan dalam udara terik pertengahan musim panas sekalipun. Tapi membawa tambahan beban berat memang merupakan tantangan.Rodriguez bersukur mendapat kesempatan untuk berpikir, sementara mobilnya melaju. Angin panas menerpa pipi dan rambutnya. Ia lebih suka menikmati angin pada pasir dari jendela mobil yang dibuka, daripada kesejukan buatan dari AC. Hanya karena adaperempuan itu ia mau menutup kaca jendela mobil.Perempuan itu…Ia me

    Last Updated : 2023-12-26
  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   Bab. 9

    Setelah terpotong, dilemparkannya kemeja itu kembali pada Azura.”Kenakan itu. Kita sudah cukup banyak buang­-buang waktu di sini.” Ia keluar dan memutar ke kursi pengemudi.Dalam diam Azura memandangi bagian belakang kepala lelaki itu. Sementara mobil melaju di jalanan yang tidak rata, Azura berusaha memikirkan berbagai cara untukmengalahkan lelaki itu. Tapi semua cara yang terpikir olehnya dicoretnya dari rencananya. Ia terpikir untuk membuat tali jerat dari salah satu lengan kemejanya, untuk mencekik lelaki itu dari belakang. Tapi lalu bagaimana dengan nasibnya sendiri? Ia akan seorang diridi tengah tempat terpencil ini, tanpa peta ataupun air. bensin di mobil itu lama­kelamaan pasti akan habis. Kalaupun ia berhasil melumpuhkan Rodriguez, kesempatannya sendiri untuk bisa bertahan di belantara inisangat tipis.Jadi, Azura terus berdiam diri, sampai rasa lelah merayapinya dan sekali lagi ia jatuh tertidur. Ia terbangun ketika mobil itu berhenti perlahan­lahan. Dengan susah payah i

    Last Updated : 2023-12-26

Latest chapter

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   95

    Pembicaraan, disela sejenak (topik, Politik dan Olahraga dan kemudian, ketika diperlukan perubahan, Olahraga dan Politik), dilanjutkan kembali sepanjang tahun meja. Di bawah kedok percakapan, dan di sela-sela penerimaan perhatian tuan-tuan, Alucia berbisik kepada Sir Martin, “Jangan mulai, paman. Shane ada di perpustakaan.” (Tuan Smith yang sopan menawarkan ham. Dengan penuh rasa terima kasih ditolak.) “Berdoa, berdoa, berdoa pergilah kepadanya; dia menunggu untuk bertemu denganmu dia ada di dalam masalah yang mengerikan.” (Tuan Jones yang gagah berani mengusulkan kue tart buah dan krim. Diterima dengan ucapan terima kasih.) “Bawa dia ke rumah musim panas: Aku akan mengikutimu saat aku mendapatkannya peluang. Dan segera kelola, paman, jika kamu mencintaiku, atau kamu akan terlambat.” Sebelum Sir Martin sempat membalas sepatah kata pun, Nyonya Lylia memotong kue komposisi Skotlandia terkaya, di ujung lain meja, di depan umum menyatakan bahwa itu adalah “kuenya sendiri,”

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   94

    "Ya. Apa itu?" “Siapakah tuan-tuan yang tinggal di rumah ini?” Alucia melihat sekelilingnya lagi, tiba-tiba merasa heran dan khawatir. rasa takut yang samar-samar menguasainya hingga pikiran Shane melemah karena beban yang berat masalah ada di atasnya. Shane tetap memaksakan permintaan anehnya. “Cari nama mereka, Alucia. Aku punya alasan untuk ingin tahu siapa orangnya tuan-tuan adalah yang tinggal di rumah.” Alucia mengulangi nama-nama tamu Nyonya Lylia, dan melanjutkan hingga akhir tamu yang datang terakhir. “Dua lagi kembali pagi ini,” dia melanjutkan. “Arnold Brinkworth dan temannya yang penuh kebencian itu, Tuan Figo.” Kepala Shane kembali bersandar di kursi. Dia telah menemukan jalannya tanpa menimbulkan kecurigaan akan kebenaran, terhadap satu-satunya penemuan yang telah dia dapatkan ke Windygates untuk dibuat. Dia berada di Skotlandia lagi, dan dia baru saja tiba dari sana London pagi itu. Hampir tidak ada waktu baginya untuk berkomunikasi Craig Fernie se

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   93

    “Jangan pedulikan para wanita! Persamaan subjek apa yang bisa Kamu dan Tn. Figo mungkin harus dibicarakan? Dan kenapa aku melihat kerutan di antara kamu alis, sekarang kamu sudah selesai dengannya? sebuah kerutan yang tentu saja tidak di sana sebelum kamu mengadakan konferensi pribadi bersama?” Sebelum menjawab, Sir Martin mempertimbangkan apakah dia harus mengajak Alucia masuk kepercayaan dirinya atau tidak. Upaya untuk mengidentifikasi “wanita” Mark yang tidak disebutkan namanya dia bertekad untuk melakukannya, akan membawanya ke Craig Fernie, dan pasti akan melakukannya akhirnya mewajibkan dia untuk menyapa Shane. Pengetahuan mendalam Alucia temannya pasti bisa berguna baginya dalam hal ini keadaan; dan kebijaksanaan Alucia harus dipercaya dalam segala hal Kepentingan Miss Amanda sangat memprihatinkan. Di sisi lain, ada kehati-hatian sangat diperlukan, dalam kondisi informasinya yang tidak sempurna saat ini dan kehati-hatian, dalam benak Sir Martin, membawa dampaknya. Dia m

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   92

    Dia mengeluarkan kantong tembakaunya; dan tiba-tiba menghentikan operasi di saat membukanya. Objek apa yang dilihatnya, di balik deretan pohon pir kerdil, menjauh ke kanan? Seorang wanita tampaknya seorang pelayan dari balik pakaiannya membungkuk dengan membelakangi dia, mengumpulkan sesuatu: tumbuhan yang terlihat seperti itu, begitu juga dia bisa melihat mereka dari kejauhan. Benda apa yang tergantung pada tali di sisi wanita itu? Sebuah batu tulis? Ya. Apa yang dia inginkan dengan batu tulis di sisinya? Dia sedang mencari sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dan di sinilah hal itu ditemukan. “Apa pun bisa dilakukan aku,” pikirnya. “Bagaimana kalau aku 'mengolok-olok' dia sedikit tentang batu tulisnya?” Dia memanggil wanita di seberang pohon pir. “Halo!” Wanita itu bangkit, dan maju ke arahnya perlahan menatapnya, saat dia datang, dengan mata cekung, wajah sedih, batu ketenangan Hester Dethridge. Mark terhuyung. Dia tidak menawar untuk menukar barang yang paling membos

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   91

    "Kamu disana!" katanya, dan menyerahkan catatannya kepada pria itu. “Baiklah, Mark?” tanya suara ramah di belakangnya. Dia berbalik dan melihat Arnold, sangat ingin mendengar kabar konsultasi dengan Sir Martin. “Ya,” katanya. "Baiklah." Arnold sedikit terkejut dengan sikap singkat Mark jawab dia. “Apakah Sir Martin pernah mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan?” Dia bertanya. “Sir Martin telah mengatakan apa yang saya ingin dia katakan.” “Tidak ada kesulitan dalam pernikahan?” "Tidak ada." “Jangan takut pada Alucia ” “Dia tidak akan memintamu menemui Craig Fernie aku akan menjawabnya!” Dia mengatakan kata-kata yang sangat ditekankan, mengambil surat saudaranya dari meja, mengambil topinya, dan keluar. Teman-temannya, yang sedang bermalas-malasan di halaman, memujinya. Dia melewati mereka dengan cepat tanpa menjawab, tanpa melirik mereka dari balik bahunya. Sesampainya di taman mawar, ia berhenti dan mengeluarkan pipanya; kemudian tiba-tiba berubah pikiran, da

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   90

    Mark mengangguk. "Itu dia!" katanya dengan penuh semangat. “Menurut pengalaman saya, Tuan Figo, pria lajang mana pun di Skotlandia bisa melakukannya nikahi wanita lajang mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Pendeknya, setelah tiga puluh tahun berpraktik sebagai pengacara, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan pernikahan Skotlandia." “Dalam bahasa Inggris yang sederhana,” kata Mark.“maksudmu dia istrinya?” Terlepas dari kelicikannya; meskipun dia bisa memerintah dirinya sendiri, matanya bersinar-sinar mengucapkan kata-kata itu. Dan nada bicaranya walaupun dijaga dengan sangat hati-hati menjadi nada kemenangan di telinga yang baik, jelas merupakan nada lega. Baik tatapan maupun nada bicara Sir Martin tidak hilang. Kecurigaannya yang pertama, ketika dia duduk di konferensi, sudah jelas terlihat kecurigaan bahwa, ketika berbicara tentang “temannya”, Mark sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Namun, seperti semua pengacara, dia biasanya tidak mempercayai kesan

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   89

    Begitu dia berbicara, hati nurani Arnold menegurnya: "bukan karena taruhan (siapa yang malu dengan bentuk perjudian di Inggris?) tapi untuk dukungan dokter." Dengan niat terbaik terhadap temannya, dia berspekulasi tentang hal itu kegagalan kesehatan temannya. Dia dengan cemas meyakinkan Mark bahwa tidak ada seorang pun di dalam ruangan bisa lebih yakin bahwa ahli bedah itu salah daripada dirinya sendiri. “ Aku tidak menangis karena taruhan itu,” katanya. “Tetapi, kawan, mohon pahamilah hal itu Aku hanya mengambilnya untuk menyenangkanmu.” “Ganggu semua itu!” jawab Mark, dengan fokus pada bisnis, yang mana adalah salah satu kebajikan pilihan dalam karakternya. “Taruhan tetaplah taruhan dan gantunglah sentimen!" Dia menarik lengan Arnold agar tidak terdengar oleh orang lain. “ Aku katakan!” Dia bertanya dengan cemas. “Apakah menurutmu aku sudah menyiapkan kembali kabut lama itu?” Maksud Kamu, Tuan Martin? Mark mengangguk, dan melanjutkan. “Aku belum menanyakan hal

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   88

    “Saya berkata,” Sir Martin mengakui.“bahwa seseorang akan melakukan yang terbaik dalam halpembukuannya latihan fisiknya yang sehat. Dan saya mengatakannya lagi asalkan fisiknya latihan dibatasi dalam batas fit. Namun ketika perasaan masyarakat masuk ke dalam pertanyaan, dan secara langsung mengagungkan latihan tubuh di atas buku lalu saya katakan perasaan masyarakat berada pada titik ekstrim yang berbahaya. Latihan tubuh, dalam hal ini, akan berhasil menjadi yang terdepan dalam pemikiran remaja, akan mempunyai pengaruh yang paling kuat terhadap minatnya, akan menyita sebagian besar waktunya, dan dengan cara itu kecuali beberapa kejadian yang benar-benar luar biasa perlahan-lahan dan pasti akan berakhir dengan meninggalkannya, demi kebaikan semua orang. tujuan moral dan mental, tentu saja tidak digarap, dan, mungkin, berbahaya pria." Seruan dari kubu musuh: “Akhirnya dia berhasil! Seorang pria yang menjalani kehidupan di luar rumah, dan menggunakan kekuatan yang diberikan Tuha

  • Terjebak Bersama Kriminal Tampan   87

    kamu benar lagi kami tidak bisa. Kamu bilang kamu tidak tahu mengapa pria menyukai Aku, dan orang-orang seperti Mereka, tidak boleh memulai dengan mendayung dan berlari dan sejenisnya, dan berakhir dengan melakukan semua kejahatan dalam kalender: termasuk pembunuhan. Dengan baik! kamu mungkin ada lagi di sana. Siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi padanya? atau apa dia mungkin tidak akan berakhir dalam perbuatannya sebelum dia meninggal? Mungkin Orang Lain, atau mungkin Aku. Bagaimana Apakah saya tahu? dan bagaimana kabarmu?” Dia tiba-tiba menghadap utusan itu, berdiri disambar petir di belakangnya. “Jika kamu ingin tahu apa yang saya pikirkan, ini dia untuk kamu, dengan kata-kata sederhana.” Ada sesuatu, bukan hanya pada sikap tidak tahu malu dari deklarasi itu sendiri, tetapi dalam kenikmatan luar biasa yang tampaknya dirasakan oleh pembicara dalam membuatnya, yang mana menghantam lingkaran pendengar, termasuk Sir Martin, dengan rasa merinding sesaat. Di tengah kes

DMCA.com Protection Status