Home / Romansa / Terikat Cinta Setelah Akad / Bab 6 Rencana Pernikahan

Share

Bab 6 Rencana Pernikahan

Author: Nona Enci
last update Last Updated: 2024-11-29 12:31:18

Keesokan harinya.

Hari ini adalah hari terakhir Laras cuti bekerja. Entah apa yang akan terjadi di kemudian hari, ia akan menghadapinya. Mengingat sekarang kedatangan orang tua Bian, Laras sudah rapi dengan baju tergolong sopan.

"Kamu beneran mau menikah dengan Bian, Nak?" tanya sang Ayah, Yusuf.

Laras tersenyum hangat kemungkinan mengangguk lirih. Meski masih ada keraguan di hatinya, Laras tetap yakin bahwa bersama Bian hidupnya pasti jauh lebih baik dan bahagia. Ia mendambakan rumah tangga yang rukun serta harmonis bersama pria itu. Ya, Laras menaruh banyak harapan pada pernikahannya.

Yusuf mengusap pundak sang anak. "Papa harap kamu selalu bahagia, Nak."

"Laras pun berharap yang sama, Pa," ungkapnya.

Suara bising dari pintu luar membuat Laras dan Ayahnya berjalan menghampiri suara tersebut. Sesampainya, Bian serta keluarganya sudah ada di depan. Laras mendadak panas dingin, sebab yang datang bukan hanya Weni saja, melainkan Wahyu selaku Ayahnya Bian pun ikut hadir.

"Mari masuk Pak, Bu," ucap Ibu Laras mempersilakan.

Mereka pun kini sudah berada di ruang tamu. Suasana terasa tegang. Laras bingung harus bagaimana. Sedangkan Bian terlihat biasa saja, kaku.

Wahyu menarik napas sejenak. "Ya, jadi begini Pak, Bu, kedatangan kami berkunjung ke sini ada niat baik tertentu."

"Saya selaku kepala keluarga di sini, ingin menyampaikan niat baik kami bahwasannya putra kami—Bian, berniat meminang putri Bapak Ibu sebagai menantu kami."

Ibu Laras langsung memegang jari jemari anaknya. Ia tahu bahwa sang anak sangat gugup. Dirinya pun paham betul perasaan putri tertuanya itu.

"Gimana, Sayang, kamu setuju?" tanya sang Ibu.

Laras masih terdiam. Sejujurnya, ia tidak tahu bahwa Bian akan membawa lengkap orang tuanya karena Laras pikir hanya Weni saja, itu pun ia kira hanya berkunjung seperti biasa. Jadi, ini terlalu tiba-tiba bahkan tanpa diskusi sedikit pun dengannya.

"Gimana, Nak?" tanya Wahyu sedikit tidak sabaran.

Ayah Laras langsung membalas, "Kami sekeluarga ikut senang atas kedatangan dan niat baik dari Ayah dan Ibunya Nak Bian. Karena ini adalah hal yang serius, juga yang menjalankan kedua anak kita. Saya serahkan kepada Laras, kalau Laras setuju kami dengan senang hati menerima keputusannya."

"Sayang," ucap sang Ibu menguatkan anaknya.

Laras yang sedari tadi menunduk, perlahan memperlihatkan wajahnya dengan sempurna. Tatapannya langsung tertuju kepada Bian. Entah kenapa, mata itu terlihat penuh harapan padanya.

Setelah memantapkan hatinya, Laras mengangguk pelan. Hal itu disambut baik oleh kedua orang tua Bian, juga dengan pria itu. Bian ikut tersenyum. Matanya berbinar.

"Jadi, Nak Laras setuju?" tanya Wahyu kembali memastikan.

"Iya, Laras setuju."

"Mas Bian kok nggak bilang kalau yang datang bukan Tante Weni aja!" Laras memukul lengan pria di sampingnya.

Mereka kini sedang berada di Mall, mencari cincin pernikahan.

"Itu namanya surprise," ucap Bian sangat enteng.

"Harusnya Mas Bian ngomong dulu sama aku, jangan seenaknya datang. Masih untung aku terima, loh," gerutu Laras masih tidak terima.

"Kalau saya bilang itu namanya bukan surprise, Laras."

"Ya tetap aja harus bilang. Kalau tadi Papa sama Mama pergi gimana?"

"Nggak usah dipermasalahkan lagi. Lagian, kamu juga udah setuju."

Mereka pun sampai di toko perhiasan.

"Selamat siang, ada yang bisa dibantu? Atau Mbak dan Masnya lagi cari apa?" tanya si pegawai toko.

"Cincin pernikahan yang simpel aja Mbak," ujar Laras bingung sendiri melihat banyaknya cincin di lemari kaca tersebut.

Pegawai tersebut mengeluarkan satu kotak yang cukup panjang ke hadapan Laras dan Bian, supaya keduanya bisa memilih.

"Ini keluaran terbaru Mbak, cukup simpel. Ada gambar hatinya, juga ada berliannya."

Bian menoleh. "Kamu suka?"

"Aku suka yang ini, Mas." Laras menunjuk ke arah Cincin berwarna putih. Dengan satu berlian di depannya. Sangat simpel.

"Kalau kamu suka, saya juga suka."

Laras menoleh ke sang pegawai. "Saya mau ambil yang ini aja, Mbak. Tapi kalau custom nama bisa nggak, ya?"

"Bisa, Mbak. Atas nama siapa?"

"Laras dan Bian," jawab Laras cepat.

"Tolong dicatat nomor yang bisa dihubungi di sini."

Laras menerima pulpen tersebut dan menuliskan nomornya di sana. Sedangkan Bian sedang melakukan transaksi, ia tipe orang yang tidak mau ribet. Harusnya DP dulu, tetapi pria itu lebih memilih melunasinya langsung.

Usai memesan cincin pernikahan.

"Aku ke toilet dulu, Mas."

Bian mengangguk sebagai balasan. Ia menunggu Laras di depan ruangan yang bertuliskan toilet.

"Mas Bian?"

Yang dipanggil pun menoleh. "Jelita. Pandu ke mana? Kenapa sendirian?"

"Mas lagi apa di sini?" tanya Jelita. Sengaja tidak menjawab pertanyaan Bian.

"Sama Laras?" tebaknya.

"Iya."

Wanita itu memasang wajah sendu. Tadinya ia ingin mengajak Bian berbicara jika pria itu sedang sendiri.

"Kenapa? Pandu di mana memang?" tanya Bian. Pria itu sebenarnya sedikit khawatir.

"Di lain waktu, apa kita bisa bicara, Mas?"

Lagi, Jelita menjawab pertanyaan Bian dengan pertanyaan lagi. Meski begitu Bian tetap mengikuti alurnya. Selama menjalin hubungan dengan Jelita, Bian sudah hapal dengan gelagat wanita di depannya. Ia pasti sedang ada masalah.

Tiba-tiba seseorang datang dari arah yang berlawanan dan menubruk tubuh Jelita, sehingga wanita itu hampir terjatuh, untung saja Bian dengan sigap menangkapnya.

"Aduh, maaf Mas Mbak saya kebelet, nggak tahan," ucap si pelaku langsung ngibrit ke dalam toilet.

Laras yang baru selesai cuci muka tidak sengaja berpapasan dengan pria yang kelihatannya sudah tidak bisa lagi menahan rasa kebeletnya.

Namun, saat sampai di luar, kakinya langsung terpaku di tempat. Napasnya mendadak berhenti. Di sana, tepat di depan mata Laras, Bian tengah memeluk seorang wanita.

Mereka menyadari dengan kedatangan Laras. Refleks pelukan tidak sengaja tersebut terurai dengan perasaan bersalah di dalamnya. Entah apa yang terjadi, Laras tidak tahu.

Yang jelas, ia tahu bahwa wanita itu Jelita. Mantan kekasihnya Bian.

Related chapters

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 7 Perkara Cemburu

    Di dalam mobil. "Tumben kamu diem aja," celetuk Bian dengan pandangan ke depan. Karena tingkat rasa penasaran yang tinggi, Laras pun dengan berani menanyakan hal yang mengganggu di hatinya. Ia bahkan sampai memiringkan tubuhnya menghadap pria itu. "Kalau mau tanya soal yang tadi, jawaban saya masih sama," ujar Bian lebih dulu. Laras berdecak sebal. Ia bukan ingin mengungkit kejadian di Mall tadi, hanya saja ia penasaran kenapa wanita itu ada di sana, lalu ke mana Pandu? "Iya, aku percaya Mas Bian sama Jelita nggak pelukan, tapi Mas tau nggak kenapa Jelita ada di Mall tadi?" "Saya bukan suaminya, jadi saya nggak tau." Jawaban Bian makin membuat Laras tidak mood untuk bicara. Ia menatap pria itu kesal, lalu kembali duduk seperti biasa. Merasa ada yang berbeda dari wanita di sampingnya, Bian pun menoleh tidak lama dari itu kembali fokus menyetir. "Saya nggak tau kenapa Jelita ada di sana. Dia juga nggak bilang apa-apa. Siapa tau memang lagi belanja sama suaminya," ujar Bian beru

    Last Updated : 2024-11-30
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 8 Gosip Kantor

    Setelah cuti panjang, hari ini Laras kembali disibukkan dengan aktivitasnya sebagai seorang pegawai kantor yang hari-harinya berkutat di depan komputer. Sayangnya, baru saja ia menginjakkan kaki di kantor tercinta omongan tidak sedap dari beberapa pegawai masuk ke dalam indera pendengarannya. Mereka tidak tanggung-tanggung membahas perihal cinta segitiga antara ia, Pandu dan Jelita. Ah, tidak. Lebih tepatnya cinta segi empat. Bian pun ikut andil. "Kayanya Jelita masih ada hubungan sama mantan pacarnya, deh, kemarin aku liat mereka ketemuan di cafe. Kaya lagi ngobrol serius gitu," ungkap si ketua gosip di kantor. Wanita di sampingnya pun menyahut. "Maksud kamu, Pak Bian?" "Iya, Pak Bian rekan bisnisnya Pak Hendra."Laras yang sedang di dalam toilet pun sampai enggan keluar dari bilik kamar mandi karena kepo sendiri, mengingat nama Bian tercetus dari kedua mulut wanita itu. "Tapi, tadi aku nggak sengaja denger dari Mas Pandu, kalau Mbak Laras mau nikah sama Pak Bian.""Kamu serius?

    Last Updated : 2024-12-01
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 9 Fitting Baju Pengantin

    "Laras!" panggil seseorang. Laras yang merasa terpanggil pun langsung menoleh. Di sana sudah ada Bian bersama Hendra di sampingnya. Kedua pria itu datang menghampiri Laras dan Pandu. "Udah selesai?" tanya Bian. Laras kebingungan sendiri sebelum akhirnya ia mengangguk lirih. "Kamu belum pulang Pandu?" Kali ini Hendra yang bicara. "Ini mau pulang, Pak." Pandu menatap Laras sebentar. "Lain kali kita bicara, Ras."Setelah kepergian Pandu. "Laporan yang saya minta udah kamu kirim?" tanya Hendra. "Udah, Pak. Udah saya kirim ke email Bapak." Hal itu langsung diangguki oleh Hendra. Bian berujar, "Udah 'kan? Ayo pulang." "Buru-buru amat lo, Bi. Mau ajak karyawan gue ke mana?" goda Hendra. Sebenarnya, Hendra dan Bian itu bukan sekadar rekan bisnis saja. Mereka sudah sahabatan dari zaman kuliah. "Nggak usah kepo jadi orang," sinis Bian, lalu ia menoleh ke arah Laras. "Ayo, Ras?""Nasib kamu bagus, Ras. Putus dari Pandu, dapetnya Bian. Tapi hati-hati, Bian suka nerkam orang," ujar Hend

    Last Updated : 2024-12-02
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 10 Hari Pernikahan

    Waktu berjalan begitu cepat bagi Laras. Wanita dengan gaun pengantin itu mencoba tersenyum ramah karena hari ini adalah hari di mana ia menyandang status bagian dari keluarga Nugraha. "Kak udah belum? Semuanya udah nunggu," ujar Laura datang dari bilik pintu. "Kamu udah nggak marah lagi sama Kakak?" tanya Laras, sebab sang adik sempat mendiamkannya kala tahu ia dan Bian resmi akan menikah. "Nggak ada waktu buat bahas itu. Cepet keluar, Mama dari tadi udah bawel di bawah."Laras mengangguk paham. Ia pun berjalan keluar kamar hotel karena pernikahan berlangsung di dalam gedung. "Aku udah putus sama Gibran," ungkap Laura tiba-tiba. Gibran itu adik kandungnya Bian. Bian yang sebentar lagi akan menjadi suaminya Laras, juga Kakak iparnya Laura. "Kamu serius?" kaget Laras. Laura terdiam sebentar, lalu menjawab. "Aku mau kuliah dulu. Seperti yang Kak Laras bilang, aku harus jadi orang sukses. Banggain Mama, Papa sama Kak Laras." Laras tersenyum mendengar bijaknya jawaban sang adik. Me

    Last Updated : 2024-12-03
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 11 Kontrak Pernikahan

    Pagi hari pun tiba. Laras membuka matanya perlahan. Menyadari hanya tersisa dirinya yang tidur di atas ranjang. Dengan setengah sadar, matanya mengedar ke arah lain mencari keberadaan suaminya. Nihil. Ia tidak menemukan Bian di dalam kamar. Lantas, ke mana pria itu pergi? Ia pun memutuskan turun dari ranjang. Membuka pintu kamar, lalu menuju ke ruangan lain, siapa tau Bian ada di sana. Akhirnya langkah Laras berhenti di dapur. Ia mendudukkan pantatnya di atas kursi meja makan karena di sana sudah tersedia sarapan pagi, nasi goreng. "Mas masak?" tanya Laras menatap nasi goreng yang tersaji di depannya. Lalu pandangannya tidak sengaja melihat kertas putih di atas meja, tepat di samping kanan sebelah nasi goreng. Ia menatap Bian kebingungan. "Itu kontrak pernikahan selama 1 tahun, seperti yang dulu kita sepakati," jelas Bian. Laras pikir, Bian lupa akan kesepakatan waktu itu. Laras pikir, mereka menikah atas dasar suka sama suka. Ternyata wanita itu salah, ekspektasinya ketinggian.

    Last Updated : 2024-12-04
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 12 Malam yang Dingin

    "Laura, antar makanan ke rumah Kakakmu sana," teriak sang Ibu. Laura menuruni anak tangga dengan ponsel di tangannya. "Emang Kak Laras udah pindah?" "Udah. Makanya kamu jangan di kamar terus. Kerjaannya main HP terus. Sesekali bantu Mama beres-beres, ngepel, cuci piring atau apalah yang bisa kamu kerjain," omel wanita di depannya itu. Laura mengerucutkan bibirnya sebal. "Mana sini makanannya?""Jangan dibuang, loh," ancam sang Ibu. "Siapa juga yang mau buang makanan, Ma. Mubazir yang ada," jawab Laura. "Kamu ini. Udah sana berangkat, titip salam buat Kakak kamu, ya."Hal itu hanya dibalas anggukan oleh Laura. Ia bergegas pergi keluar dengan tangan yang menenteng makanan untuk sang Kakak. Usai menyeberangi jalan, Laura masuk ke dalam rumah tersebut untungnya gerbang tidak dikunci. Entah ke mana satpam yang jaga. Ia pun menekan bel hingga tiga kali. Menunggu pintu dua tersebut terbuka. "Laura, ngapain kamu ke sini?" Laras langsung salah fokus ke bawaan adiknya. "Bawain makanan?"

    Last Updated : 2024-12-06
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 13 Perasaan yang Diabaikan

    Hari itu, Jelita datang menemui Bian untuk yang pertama kalinya setelah ia menikah dengan Pandu. Entah punya keberanian dari mana, wanita tersebut meminta Bian untuk tidak menikah dengan Laras. Hal yang membuat hati Bian hampir goyah dibuatnya. *Flashback. "Kenapa, Li?" tanya Bian usai mendatangi wanita itu. Awalnya Jelita hanya terdiam. Mata wanita itu sembab, terlihat seperti orang yang habis menangis. Tentu hal tersebut menarik perhatian Bian. "Kamu habis nangis?" tanya Bian lagi. Jelita dengan mata yang kembali berair pun menatap Bian cukup prihatin. Sedangkan yang ditatap malah kebingungan sendiri. "Oke, nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita. Tapi, bisa kamu kasih tau aku kenapa kamu nyuruh aku ke sini?" tanya Bian. Ia mencoba menulusuri apa yang sebenarnya terjadi dengan Jelita. "Aku hamil, Mas." Tiga kata itu yang membuat Bian terdiam. Ia terus menerka-nerka maksud dari ucapan yang wanita di depannya lontarkan barusan. "Mas Pandu menikahi aku bukan karena cinta, ta

    Last Updated : 2024-12-07
  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 14 Memilukan

    Usai kejadian tadi malam, Laras belum berani mengucapkan satu kalimat pun. Ia tidak lagi membahas ke mana perginya pria itu, sebab pagi ini mereka sarapan dengan keheningan. Laras menyudahi sarapan paginya, lalu bangkit dan berjalan menghampiri pembantunya. "Bi, liat botol minum saya yang tadi ditaruh di meja makan nggak?" tanya Laras. Bi Sri pun menjawab, "Liat, Bu. Udah Bibi isikan air minum juga. Tadi Bibi taruh di kulkas."Buru-buru Bi Sri menuju kulkas dan memberikan botol tersebut ke majikannya. "Makasih, ya, Bi," ujar Laras setelah menerima botol minumnya yang sudah terisi penuh. "Ibu mau berangkat kerja, ya? Udah sarapan atau mau dibuatkan bekal sama Bibi?"Laras menggeleng. "Nggak usah, Bi. Tadi udah sarapan, kok.""Ya udah, semangat kerjanya, Bu. Hati-hati di jalan juga," ucap Bi Sri. Kemudian wanita itu mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Setelahnya kembali ke meja makan, niatnya pamitan dengan sang suami. "Aku berangkat kerja dulu, Mas," kata Laras seraya meng

    Last Updated : 2024-12-08

Latest chapter

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 48 Hari Bahagia (Tamat)

    Jam makan siang."Laras!" panggil Lolita karena masih tidak terima bahwa surat penguduran dirinya tidak kunjung dapat persetujuan.Sarah yang melihat Lolita memanggil sahabatnya itu sontak menatap Laras seakan meminta jawaban."Kenapa, Ras?" tanya Sarah.Yang ditanya malah menggeleng pelan. Ia juga sebenarnya kurang tahu kenapa Lolita memanggilnya dengan nada cukup keras tersebut. "Yang bener aja kamu, Ras. Masa resign nggak ada omongan sama sekali ke aku," ujar Lolita masih tidak terima. Sarah yang mendengar seperti itu langsung menyahut, "Kamu resign, Ras?""Siapa yang resign?" Kali ini suara Bima yang muncul.Lolita menatap Laras dengan kesal. "Laras. Gara-gara dia surat resign saya batal di acc sama Pak Hendra.""Itu si nasib Bu Lolita." Bima memegang kopi dengan laptop di tangannya. "Pak Hendra mana mungkin lepasin sekretaris kesayangannya." "Diam kamu, Bima," balas Lolita tajam.Sebenarnya Lolita tidak marah, hanya saja kesal karena ia sudah menunggu-nunggu hari tersebut. Ia

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 47 Resign Bersama

    —Beberapa bulan kemudian. "Mas ... Mas Bian bangun." Laras menepuk-nepuk pipi suaminya pelan.Tidak lama pria itu membuka matanya usai mendapat satu kecupan di pipi. Mungkin itu jimat ketika Bian susah dibangunkan."Mas aku berangkat duluan, ya? Hari ini ada meeting," ujar Laras di jam 8 pagi.Bian yang masih tertidur di atas ranjang pun sontak terbangun. Ini masih pagi, kenapa sang istri sudah mau berangkat kerja?"Cium dulu," balas Bian setengah sadar.Laras memandang malas. Ia sudah mau telat, tetapi Bian malah meminta hal aneh yang pasti berujung memakan waktu lama.Cup! Ciuman itu mendarat di pipi untuk yang kedua kalinya."Udah. Aku berangkat, ya."Namun, baru saja hendak bangkit tangan Laras dicekal oleh Bian sehingga wanita itu kembali jatuh ke ranjang."Mas," gerutu Laras.Sayangnya Bian tidak peduli, pria itu malah menunjuk bibirnya dengan ibu jari. Menyodorkan pada sang istri seolah meminta lebih."Aku udah mau telat, Mas. Nanti aja, ya?"Akhirnya aksi tawar-menawaran Lara

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 46 Cinta yang Setara

    "Dari bibir kamu lebih manis," goda Bian.Laras refleks memukul tubuh sang suami. "Mas Bian!"Sayangnya pria itu justru terkekeh geli. Seolah hal yang paling menyenangkan adalah menganggu dan membuat istrinya marah."Muka kamu lucu," celetuk Bian. Laras pun merenggut. "Jangan kaya gitu lagi.""Kenapa?" Bian kembali mengikis jarak dengan sang istri. "Di sini aman. Mau nyoba lagi?"Tiba-tiba kedua orang tua Bian datang membuat keduanya berdiri dengan posisi normal. Laras merasa lega karena merasa diselamatkan."Kalian masih mau di sini atau ikut pulang bareng kami?" tanya Ibu Bian.Laras melirik ke arah Bian. Kemudian memamerkan senyum tipisnya. "Kita juga mau pulang, Bu. Takut hujan."Kedua orang tua Bian mengangguk lirih, berjalan lebih dulu meninggalkan kedua pasutri yang tengah berlibur tersebut. Entah sejak kapan Bian menjadi pria yang hangat dan romantis. Namun yang jelas Laras tidak henti tersenyum. Seperti saat ini, pria itu berjalan seraya menautkan jari-jemarinya dengan mili

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 45 Merasa Indah

    Usai berganti pakaian kedua pasangan suami istri tersebut menuruni anak tangga dengan senyum rekah di bibirnya. "Gibran?" panggil Laras saat sampai di bawah."Ibu sama ayah di mana?" tanyanya."Oh ... ibu sama ayah kayanya pergi ke kebun," balas Gibran.Tentu saja Laras kebingungan sendiri. Bukankah kesibukan kedua orang tua Bian adalah mengurus perusahaan mereka? Karena selama tinggal satu komplek yang ia tahu Bian ini dari keluarga berada. Ayahnya saja pemilik perusahaan tempat pria itu bekerja. "Ibu sama ayah saya memang urus perkebunan di sini, lebih tepatnya ibu. Karena hobinya berkebun," jelas Bian.Kemudian Gibran kembali membuka suara. "Kata ibu, Kak Bian disuruh ajak Kak Laras jalan-jalan. Jangan di rumah terus.""Makasih Gibran. Kamu pengertian, deh," celetuk Laras.Bian pun melirik ke samping. "Memangnya kamu nggak capek?""Stamina tubuh aku itu kuat, Mas. Jangan diragukan. Gimana kalau kita susul ibu sama ayah. Aku pengen liat-liat," ucap Laras tampak bersemangat. Gibra

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 44 Bertemu Mertua

    Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bali, kini Laras dan Bian sudah berada di Taxi usai menempuh perjalanan pulang dari Bali—Bandung yang menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih. "Mas, udah hubungi Ibu kalau kita udah perjalanan ke rumah?" tanya Laras di dalam mobil. Bian pun mengangguk. "Udah. Kenapa, kamu kok keliatannya seneng banget?""Aku nggak sabar ketemu orang tua Mas Bian. Apalagi ini pertama kalinya aku diajak berkunjung langsung setelah kita nikah," jujur Laras tidak lupa menebarkan senyum.Bian ikut senang karena sang istri terlihat bahagia dengan hal-hal kecil yang akan ia jumpai setelah. Ia tidak hentinya tersenyum. Kemudian tangan lembut itu mengusap rambut Laras dengan sayang. "Laras ...."Laras menoleh lalu membalas, "Kenapa, Mas?""Nggak apa-apa. Saya seneng aja liat kamu senyum lebar kaya gini," ungkapnya."Emang selama ini aku jarang senyum?" tanya Laras kebingungan. Lagi lagi Bian menggeleng lirih. Istrinya itu selalu saja membuat gemas. Tidak ayal

  • Terikat Cinta Setelah Akad   43 Honeymoon

    Beberapa hari berlalu. Kini, Laras dan Bian sedang berkunjung ke salah satu pantai yang menyediakan penginapan dengan nuansa pantai pasir putih yang terletak di kota Denpasar, Bali. Kedua pasangan suami istri itu sedang bersiap-siap karena sebentar lagi langit akan berganti warna jingga. "Kamu beneran honeymoon ke Bali, Ras?" tanya Sarah dari balik telepon. Laras pun mengangguk dengan wajah menghadap ke cermin hias. Memoles tipis riasan agar wajahnya tidak terlalu pucat. "Aku kangen pantai, Sar. Kebetulan kita mau berkunjung ke rumah mertua, jadi biar sekalian aja pulang dari Bali ke Bandung," balas Laras. "Astaga, Ras. Kamu istrinya Direktur, loh, minta honeymoon ke Eropa, kek. Jangan nanggung-nanggung, mau keliling dunianya juga Bian duitnya nggak bakalan abis," celetuk Sarah sengaja. "Perjalanan jauh yang bikin capek, Sar. Mending yang deket-deket aja lebih menghemat tenaga," jelas Laras apa adanya. "Padahal kapan lagi jalan-jalan jauh sebelum punya anak, nanti kalo udah ada

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 42 Bian Mode Bucin

    Laras mendatangi Bian dengan langkah tergesa. Pria itu tidak kenal kerja kali, ya? Bahkan di jam harus bergulat dengan komputer pun malah pria itu mengganggunya. "Astaga Mas Bian ... ngapain ke sini?" tanya Laras menghampiri sang suami. Pria itu mengangkat kedua tangannya, menunjukkan plastik yang ia tenteng tersebut. Senyum manisnya justru membuat Laras ingin sekali menghajarnya. "Ngapain bawa makanan sebanyak itu?" ucap Laras dengan nada sedikit tidak suka. Bian menurunkan kedua tangannya dengan lesu. "Kamu kan belum sarapan tadi pagi. Ini saya belikan sekalian sama temen-temen kamu juga.""Tapi ini berlebihan Mas Bian."Pria itu seakan tidak peduli, lalu memindahkan kedua kantong plastik itu hingga beralih tangan kepada Laras. "Kalau nggak habis bisa dimakan lagi nanti siang. Terima, ya? Apa mau saya pesankan yang lain?"Mendengar itu Laras refleks menggeleng kuat. "Cukup. Ini aja udah banyak, Mas.""Ya udah sini," ucapnya cukup ambigu. Sedangkan Laras menatap heran. Sini mak

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 41 Tamparan

    "Laras!"Dengan kepanikan yang ada ia terus berjalan menuju lift, menekan tombol tersebut dengan tergesa berharap pintu lift cepat terbuka. Sungguh, ia tidak ingin bertemu dengan Pandu . Pria yang terus mengejarnya itu merupakan suami Jelita. "Laras," cegah Pandu berhasil menarik tangan Laras sehingga wanita itu tidak jadi masuk lift. Sayangnya Laras menepis cekalan itu dengan kasar. Menatap Pandu dengan tatapan tajam. Di dalam sorot matanya terlihat aura kebencian muncul di sana. Apakah benar pria di depannya itu Pandu yang ia kenal? Pandu yang tidak pernah menaikan nada bicara apalagi sampai bermain fisik. Apakah yang berdiri di hadapannya itu sosok Pandu yang berhati lembut? "Tolong jangan ganggu aku," tegas Laras. Kembali Pandu mencekal lengan wanita itu, menghentikan pergerakan Laras. Menatapnya cukup dalam"Ras," lirih Pandu. "Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu, Mas," tekan Laras. Pandu menatap tidak percaya atas apa yang barusan wanita itu ucapkan. Bukankah dulu baik-

  • Terikat Cinta Setelah Akad   Bab 40 Mulai Membaik

    "Morning," kecup Bian di kening sang istri. Laras justru menggeliat geli, wanita itu membuka matanya secara perlahan. Di sampingnya sudah ada Bian yang tengah tersenyum hangat dengan posisi dada masih telanjang. Rasa lelah selepas tempur kemarin terasa membekas pagi ini, Laras seakan malas beranjak dari tempat tidur. "Kenapa tidur lagi, kamu nggak kerja?" tanya Bian melihat Laras memejamkan matanya. Wanita itu membalas, "Masih ngantuk, Mas.""Ya udah nggak usah kerja. Kamu di rumah aja istirahat, pasti capek karena semalam, ya?" goda Bian sengaja. Laras mendengus sebal. Pagi-pagi gini masih saja membahas soal semalam. Lagipula, siapa yang tidak capek melayani orang gila macam Bian? Ia bahkan baru bisa tidur di jam 2 pagi. Melelahkan memang. "Mas mandi duluan sana, aku mau tidur 15 menitan lagi," ujar Laras. Bian makin mendekatkan wajahnya. "Mandi bareng aja, gimana?""Mas!" kesal Laras langsung mendorong pria itu menjauh. Ia pun mengganti posisinya menjadi duduk dengan selimut y

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status