Cewek supel, ramah, polos, pintar, baik. Itu sederet sifat sempurna yang Aya bangun selama ini. Sifat yang selama ini diketahui teman-temannya. Sifat yang ia tunjukkan demi menutupi sisi lain hidup Aya. Tawa yang menutupi kantong mata karena kelelahan parttime, senyum yang menutupi air mata yang Aya tumpahkan tiap malam karena kangen dengan almarhum Papa, sampai tubuh ceking yang terus ia paksa untuk kerja ini-itu demi menutupi utang keluarga.Aya tidak pernah menyalahan siapa pun untuk hidup yang ia jalani sekarang. Menjadi bagian hidup Ibu dan Adel yang awalnya orang asing baginya. Jadi penjual roti di sekolah sampai jadi pengajar les, semuanya dia lakoni. Dan walaupun sebenarnya Aya nggak suka, dia nggak protes ketika akhirnya terpaksa menjadi penyanyi di bar. Hanya menyanyi. Asalkan nggak ada yang tahu, asalkan Ibu, Adel dan teman-temannya nggak tahu, itu nggak masalah buatnya. Sungguh!Ah, mungkin ada satu lagi. Satu orang lagi yan
“Lo…” Adit menatap cewek di depannya shock. Ditatap dari ujung sepatu hingga wajah dengan polesan make up di depannya. Ini Attaya kan? Cewek ini? Kenapa dia… di sini? Atau salah orang? Adit mengatupkan bibir. Dia mencoba berpikir apa yang sebenarnya cewek ini lakukan di tempat ini. Tengah malam, dengan kostum nge-press dan kurang bahan.“A-aku….aku….”Adit sudah lupa soal kamar mandi, lupa dengan bajunya dan lupa dengan Reza yang menelponnya karena sudah menunggu cukup lama di mobil. Dia masih bisu menatap cewek di depannya. Masih terus mencoba mengira-ira apa yang dia lakukan di sini.“Dit…aku bisa jelasin kok…” Wajah Aya sama pias. Jantungnya bergemuruh hebat.“Apa…di sini… lo ….ngapain?!” Bibir Adit bergetar pelan. Dia mengalihkan pandangan sambil mencoba menenangkan pikiran. Entah kenapa dia bisa langsung berpikir k
Seminggu ini Aya benar-benar merasakan perubahan sikap Adit. Entah Aya yang lagi sensitif atau memang sikap Adit padanya yang benar-benar berubah. Adit nggak lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Ngeloyor begitu aja dengan tampang acuh setiap melihatnya. Rapat terakhir OSIS kemarin juga dilimpahkan ke Roy, Adit lebih memilih pulang dengan alasan diare. Pas Aya datang ke rumah Adit untuk mengajar Yoga, cowok itu malah pergi entah ke mana. Dia juga bolos dari agenda English Community. Pokoknya Adit menghindari Aya sejauh-jauhnya, itu yang Aya pikirkan. “Iya ya. Kok kalian jadi aneh sih. Aku tetap ngerasa kalian pasangan paling cocok meski kamu udah jadian sama Roy,” Ocha nyelutuk. Mereka tengah mengerjakan tugas harian sambil makan di kantin sekolah.“Dia marah sama kamu?” Icha menambahkan.Aya menggeleng lemah tanda tak tahu. Buat apa Adit marah. Walau pada akhirnya dia tahu kalau aku kerja di bar,
“Lo ada masalah?” Reza keki banget dengan tingkah Adit belakangan ini. Tingkah anehnya makin menjadi pokoknya. Pergi mepet bel masuk, dan begitu bel pulang langsung melesat. Nggak ada yang namanya kongkow bareng anak OSIS atau jajan di kantin. Sampai di rumah pun Adit sebenarnya nggak ngapa-ngapain selain tidur di kasurnya sambil bunyiin MP3 keras-keras. Riani sampe menanyakan ke Reza sebenernya tuh anak sakit, kena jin atau kenapa.Reza yang sama-sama nggak ngeh akhirnya menyambangi Adit begitu dia selesai les. Dia berdecak kaget saat masuk kamar Adit yang sama ambruladul dengan pemiliknya. Gilaaaa!!! Adit beneran memporak porandakan kamarnya dengan tumpukan komik, baju bersih, baju kotor dan video PES. My God!! Ini anak beneran butuh diruqyah deh!“Nggak. Ah, lo ngapain di sini?!” Adit bergelung, menarik selimutnya. Dia merengut melihat tampang Reza yang sudah duduk manis di sudut kasurnya.“Lo kenapa sih?
“Alasan dia ngelakuin hal yang bikin lo gondok kayak gini, mending lo tanyain ke orangnya. Dia pasti punya alasan kenapa dia nglakuin itu.”Adit membeku sejenak. Reza tau? Apa dia ngebaca pikiran gue ya?“Gue cuma asal tebak kok,” Reza nyengir begitu sadar pandangan Adit tajam menatapnya.Adit kembali ke posisi duduknya. Dia menghela napas lalu tersenyum masygul. Jitu banget perkataan Reza. Cowok itu menghela napas lagi. Dibenahi kembali pantatnya di samping Reza.“Gue kenal dia bukan sehari dua hari, Za. Bisa dibilang gue banyak ngabisin waktu sama dia. Gue kenal dia sebagai orang baik, supel, pokoknya semua yang baik-baik deh. Tapi apa yang gue tahu belakangan ini memutar balikkan sosok dia di mata gue. Orang yang selama gue anggap baik, entah kenapa jadi sosok yang pingin gue hindari sejauh-jauhnya. Gue bahkan merasa rugi banget buat waktu yang gue habisin bareng dia. Tapi di sisi lain, gue nggak punya alasan yang jelas buat ngehin
Hari ini tepat setahun 40 hari masa bakti Adit dan kawan-kawannya di OSIS berakhir. Pagi tadi, kepala sekolah dengan resmi menyerahkan kepengurusan OSIS pada Very dan kawan-kawannya yang sudah terpilih. Cowok yang masih duduk di kelas XI itu menepuk pundak Adit begitu upacara bendera selesai. Ketara banget kalau Adit beneran jadi role model buat si Ketua OSIS baru. “Cie, yang fansnya makin banyak,” Niken nyinyir disamping Adit. Mereka alias anak-anak yang sudah mantan pengurus OSIS, tengah makan-makan di salah satu rumah makan di bilangan Babarsari sepulang sekolah. Merayakan akhir tugas mereka, ngilangin stress, sekaligus ngabisin dana sisa yang berhasil dikumpulkan Niken, the best treasure in this year. “Iya dong! Dari lahir udah banyak fans nih!” Jawaban Adit kontan mendapat timpukan dari kawan-kawannya. “Heh, Dit!! Ambil satu fans lo tuh buat jadi cewek. Apa gunanya punya banyak fans, cewek satu aja nggak punya,” Roy komentar. Dia mengusap rambut Aya yang duduk di sebelahnya
Udah sampe? Lamaaa.Set 9 nggak sampe, aku cabut yaAdit nyaris membanting ponselnya. Dia gondok setengah mati pada cewek itu. Sumpah!!! Dia minta penjelasan dari kemarin dan yang didapatnya cuma pesan nggak jelas yang menyuruhnya ke stasiun Tugu-Yogyakarta, Jumat jam setengah 9 malam.Stasiun Tugu-Yogyakarta. 20.20 kudu tet sampe di tempat. Aku akan ngasih tau semuanyaa.Sial!! Dan herannya Adit nurut begitu saja padanya. Bahkan saat cewek itu memintanya membeli beberapa camilan dan air mineral. Kesel kan?! Mana sekarang dia kebingungan harus memarkir motornya di mana lagi. Akhir pekan parkiran stasiun rebutan dengan mahasiswa yang mau pulang kampung dengan kereta.Dan kenapa dia minta ketemu di stasiun coba? Kenapa nggak di sekolah besok. Atau besok Senin. Atau pas dia ke rumah Adit buat ngelesin Yoga. Kayak besok dunia bakal kiamat dan Adit bakal mati di tempat. Hishhh! Kesel.Pukul 20.15 WIB. Adit cukup bengong melihat Aya yang tergopoh mendekatinya. Ketara banget desah kelegaan
“Maaf ya, Dit…”Adit membuka matanya pelan, setengah mati menahan kantuk yang sudah melanda dari tadi. Dilirik arlojinya. Lewat tengah malam. Nyaris semua penumpang sudah pulas. Perjalanan belum sampai separuh dan kereta sudah benar-benar sunyi. Hanya decit roda beradu dengan rel yang terdengar, mengalahkan dengkuran halus seorang bapak yang duduk di sebelah Adit.“…aku pingin cerita ke seseorang. Semuanya tentang hidupku yang nggak pernah baik-baik saja. Tapi aku nggak pernah bisa. Aku nggak pernah menemukan orang yang bisa kupercaya. Dan hidupku adalah titik kelemahanku, Dit.”“Trus, lo mau cerita ke gue?”Aya menggeleng.Adit langsung melek lalu bengong. Trus apa gunanya gue duduk sampai pantat tepos di sini? Hadehhh, kereta bisnis jarak jauh meamang bikin badan meriang semua.“Aku…,” mata Aya lurus menatap Adit. Memohon sedikit pengertian. “…setidaknya, aku butuh seseorang untuk berbagi tentang siapa sebenarnya diriku. Itu sih…”Ada sesuatu yang melesak cepat di pembuluh darah Adi
Sejak kemarin, Adit jadi sering menghilang ke masjid atau perpustakaan tiap istirahat. Sendirian. Dia bahkan balik lagi seperti dulu saat dia marah ke Aya. Datang setiap mepet bel masuk dan langsung melesat pulang begitu bel pulang. Udah merasa bebas banget sejak kepengursan lepas dari dia. Dia juga makin serius baca buku. Dia bahkan menolak saat diajak main futsal bareng. Alasannya sih nggak masuk akal banget. “Gue mau belajar!” What the hell?!! Sumpah, konyol banget!! Sejak kapan Adit belajar. Otak manusia itu kan kayak windows 10 yang nyimpen semua hal yang dia lihat, processor RAM 8GB, dengan memori 5 tera. Jadi mustahil banget Adit bilang kalau dia mau belajar. “Lo kenapa lagi sih?” Reza menyambangi perpustakan begitu melihat cowok itu tengah bergumul dengan buku…koreksi…komik ding. “Hah? Gue kenapa? Nggak kenapa-napa kok.” Padahal kemarin Reza sudah melihat Aya dan Adit baik-baik aja. Mereka udah
“Kenapa mawar putih?” Aya bersandar di bodi depan mobil Roy. Roy mengajaknya ke Merapi sepulang sekolah. Menikmati angin sore di titik pendakian gunung di Yogyakarta itu. Semburat kekuningan yang menampar pipi Aya membuat wajah bersih gadis itu kelihatan bercahaya. Ya gimana ya, mau ngajak cewek ini dugem keknya juga Aya yang bakal kabur duluan.“Itu tandanya aku respect padamu. Masa’ nggak tau?”“Respect?”Roy mengangguk. Dia mengambil tempat di samping Aya. Melemparkan pandangannya pada sawah yang mulai menghijau di depannya. Beberapa bagian masih disemai malah. Meninggalkan kesan permadani hijau di lumpur coklat. “Mawar merah itu tanda cinta, mawar putih itu tanda penghormatan. Aku salut sama kamu, Ay. Semuanya yang ada dalam diri kamu itu aku suka. Tentang betapa baik, polos dan supelnya dirimu. Aku suka semuanya. Sampai di titik aku sadar betapa beruntungnya aku jadi cowok kamu. T
Kalau boleh milih, Aya ingin sembunyi saja seharian ini dari Roy. Tingkah cowok itu udah kelewatan abnormal. Contohnya saat istirahat pertama ini. Aya mendapatkan satu buket mawar putih dari Cahya.“Dari Roy,” itu kata Cahya saat menyadari wajah cengoh Aya.Langsung saja anak sekelas gempar. “Sejak kapan Roy jadi seromantis itu, woy?”“Ay, sini, deh!” Adit memanggilnya dari pinggir pagar pembatas lantai dua. Dia menunjuk pada Roy dan cs-annya yang tengah melambai dari lantai bawah. Membawakan buket bunga merah dan boneka berbentuk love.Muka Aya memerah malu. Sumpah!! Cowok itu kenapa??? Digigit ujung bibirnya ketakutan. Seumur-umur dia kenal Roy, belum pernah dia ngeliat Roy memperlakukan cewek—koreksi: mantan ceweknya—seperti apa yang dia lakukan ke Aya barusan.“Lo nyantet cowok lo sendiri?” Adit nyaris terbahak melihat tingkah Roy. Tuh, orang kesambet apa
“Lo serius ngomong barusan?” Cahya memastikan lagi tingkah Roy yang aneh. Belum pernah dia ngeliat Roy bela-belain nongkrong di parkiran sekolah dari jam 6 pagi. Mantengin parkiran mortor dan harap-harap cemas kalau ceweknya bakal datang pagi.Roy mengangguk tegas. “Gue ngerasa bersalah banget sama Aya. Selama ini gue sering main dibelakang dia. Mulai sekarang gue mau serius. Bantuin gue ngurusin cewek-cewek gue yang lain ya?”PLAK!!“Shittt!! Aduhhh!! Sakit tau!!” Roy menggerang saat tangan Cahya menamparnya. Berani bener cowok ini nampar gue!! “Lo pasti kesantet, Roy!”Roy menghela napas. Dia tertawa sejurus kemudian.“… Mbak Aya itu mengorbankan semuanya, Kak. Waktu main, waktu hangout cuma buat kerja parttime. Mulai dari jualan pukis, jualan pulsa, ngajar les, sampe sesekali terima orderan desain dari beberapa orang…”“Buat
“Udah, jangan diliatin terus. Entar lama-lama suka lho,” Papa menowel pinggang Adit subuh tadi, saat mengantar ke stasiun. Dia menggoda Adit yang menatap Aya berlari ke sana kemari seperti kelinci hanya untuk mencetak kode booking tiket yang mereka punya. Dasar cewek rempong!“Sama dia?!! Itu nggak akan terjadi, Pa!!” Adit melengos keki.“Apanya yang nggak mungkin. Cowok hanya butuh waktu 8 detik untuk menyukai seseorang, Dit.”“Pokoknya nggak mungkin aku suka sama dia. Dia itu udah punya cowok, Pa. Dan sekalipun dia nggak punya cowok, aku udah ilfeel sama cewek freak kayak dia.”Kata-kata yang Adit ucapkan tadi pagi, seperti menguap begitu mereka berdua mulai duduk di dalam kereta. Adit menggaruk kepalanya setengah gelisah ketika duduk di depan kursi Aya. Padahal tiket bisnis yang dibelikan Papanya seharusnya membuatnya lebih nyaman dibanding saat berangkat kemarin. Tapi entah kenapa dia justru makin nggak nyaman dengan duduk tepat di depan Aya seperti ini. Padahal gadis itu sudah p
“Kenapa? Ada yang salah sama wajahku ya?” tanya Aya polos begitu sadar kalau cowok di depannya menatapnya lama. Adit bahkan nggak bereaksi saat Aya mengulurkan gula-gula kapas padanya.Hembusan napas Adit keluar. “Jangan ngomong kayak gitu ke gue. Terserah lo mau ngomong ke siapapun, tapi jangan ke gue!!”“Why?” “Karena lo nggak tahu, di mana titik ketika kata-kata lo membuat gue….” Adit melengos. Nyebelin banget sih nih anak.“Membuat kamu….?” Bisa menatap lo lebih dari seorang temen.“Udahlah!! Lupain!!!” Adit menyambar gula-gula dari tangan Aya. Dihela napasnya dalam-dalam. Gue positif gilaaa! “Nyobain Kora-kora yuk! Let’s break our adrenalin!”Aya tersenyum sumringah. “Serius?!!”Apa ya…Adit juga nggak tahu kenapa dia punya ide untuk jalan-jalan—jalan-jalan dalam arti yang sebenarnya—sebagai bentuk permintaan maafnya kemarin. Dia nggak minat sebenarnya, apalagi cuma berdua dengan Aya. Salah-salah dikira mereka lagi pacaran pula. Tapi ide jalan-jalan itu lebih baik ketimbang cu
“Aaaaaaaaaaaaaaaa.”Aya memuaskan teriakannya saat roller coaster yang ia naiki berada di titik tertinggi Dufan. Disebelahnya Adit tengah menahan mual dan napasnya secara bersamaan.Tadi pagi, Adit nyamperin Aya di apartemen sebelah dengan tampilan rapi. Dengan polo yang dilapis kemeja dan jins abu-abu gelap. Rambutnya bahkan di gel licin. Dia menyerahkan plastik berisi sarapan dan baju. “Dari bokap gue. Abis ini keluar yuk. Kita masih punya waktu seharian di Jakarta kan?” “Ke mana?” “Terserah. Ke manapun asal nggak nganggur di rumah.” Aya mengiyakan saja saat akhirnya Adit memutuskan untuk menyambangi Dufan. Main aja sih. Sekalian menjajal semua wahana di taman bermain cukup terkenal di Jakarta itu. Tentu saja Papa Adit yang mensubsidi. Katanya sebagai permintaan maaf pada Adit karena harus meninggalkannya demi meeting.Dalam hati kecil Adit, dia memang berniat mengajak Aya keluar jalan-jalan. Dengan atau tanpa subsidi Papanya, Adit bakal mengajak cewek itu hangout. Itung-itung
Sabtu, sebenarnya hanya diisi dengan kegaitan ekstrakulikuler sampai tengah hari. Tapi memang semua siswa SMA PP wajib masuk tanpa kecuali.“Aya nggak masuk?!” Roy langsung dongkol begitu tidak menemukan Aya sepulang sekolah. Ditatap ponselnya sekali lagi. Kok cewek itu nggak ngasih tahu apa-apa kalau dia nggak masuk? pesan yang dari pagi dia kirim pun nggak dibaca sama sekali. Dia kenapa sih?!!“Tapi dia ngasih tahu kalian gitu nggak, kenapa nggak masuk?”Icha yang lagi ngobrol sambil main kartu dengan Reza menggeleng cepat. “Aku chat juga nggak dibales. PMS mungkin. Aya kan kalau mau dapet biasanya pake acara tepar di rumah.”“Ngomong-ngomong, Adit juga nggak masuk lho. Dia udah ngilang dari semalem,” Reza memberi tahu.Roy cuma nyinyir menanggapi. Dia mah nggak ambil pusing soal Adit. Mau cowok itu tewas diterkam harimau juga Roy nggak bakal peduli. “Paling dia nyari wangsit biar bisa n
Meski malam, udara Jakarta tidak pernah kurang dari 32 derajat Celcius. Panas, pengap dan gerah banget. Nggak ada bedanya antara malam dan siang. Itulah alasan kenapa Adit dan dua adiknya nggak mau hidup di Jakarta meski ayah mereka kerja di kota megapolitan itu. Meski begitu, Mama dan Wisnu yang paling sering ke Jakarta buat nengokin Papa kalau laki-laki itu nggak bisa pulang.Cowok itu kini mematung di balkon mungil apartemen ayahnya. Berdiri dengan secangkir caffe latte tanpa krim di tangan. Hasil delivery yang dipesan ayahnya bersama dengan sekotak pizza tadi. Sebenarnya Adit berniat tidur setelah mandi, secara tubuhnya sudah berontak menyuruhnya merebahkan diri. Tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Apalagi duduk di sebelah Papanya membuat Adit ingin mengobrol banyak dengan laki-laki itu. Menceritakan perjalanan penuh adrenalin dari Yogja dan Jakarta bareng Aya, termasuk kelelahannya mendengarkan kisah hidup Aya yang menurutnya benar-benar dramatis. Rasan