Home / Thriller / THE DEAD WALK / Dunia tanpa hukum

Share

Dunia tanpa hukum

Author: Agung Nugraha
last update Last Updated: 2025-03-08 19:58:04

Aldric, Lyra, dan Finn berjalan cepat melewati gang-gang sempit dengan napas memburu. Mereka berhasil keluar dari toko sebelum keadaan semakin buruk, tapi itu tidak berarti mereka sudah aman.

Jalanan di sekitar mereka sunyi, hanya ada bangunan kosong dan kendaraan yang ditinggalkan. Namun, keheningan itu justru lebih menakutkan daripada suara zombie.

"Ayo percepat langkah," kata Aldric.

Finn menyesuaikan tas di punggungnya. "Menurutmu, berapa lama tempat persembunyian kita bisa tetap aman?"

Aldric tidak langsung menjawab. Dia tahu bahwa tempat mereka sekarang bukan benteng yang tak bisa ditembus. Jika jumlah zombie terus bertambah, atau jika ada orang lain menemukannya, mereka harus pergi lagi.

"Kita bertahan selama mungkin," jawabnya singkat.

Saat mereka berbelok di sebuah tikungan, Lyra tiba-tiba mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti.

"Ada apa?" tanya Finn.

Lyra menunjuk ke depan. "Lihat itu."

Mereka bertiga menoleh.

Di ujung jalan, ada beberapa sosok manusia yang tampak berjaga di depan sebuah bangunan. Mereka membawa senjata api—hal yang jarang terlihat akhir-akhir ini.

Finn menelan ludah. "Orang lain?"

Aldric menyipitkan mata, mencoba mengenali mereka.

Dari pakaian mereka yang kotor dan ekspresi waspada, mereka jelas bukan warga sipil biasa.

"Kelompok penyintas," gumamnya.

Lyra menatap Aldric. "Kita harus putar balik?"

Aldric menggeleng. "Tidak. Kalau kita terlihat mencoba kabur, mereka mungkin akan mengejar kita."

Finn tampak panik. "Jadi, kita harus bicara dengan mereka?"

"Kita lihat dulu mereka tipe yang seperti apa," jawab Aldric, lalu mulai berjalan pelan ke arah mereka.

Saat mereka bertiga mendekat, salah satu pria yang berjaga mengangkat senapannya.

"Berhenti di situ!" suaranya berat dan tegas.

Aldric mengangkat tangannya dengan tenang. "Kami tidak mencari masalah."

Pria itu memperhatikan mereka dengan curiga. "Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Kami hanya mencari tempat yang aman," kata Aldric. "Kami tidak ingin berkonflik."

Pria itu mengamati mereka beberapa saat, lalu menoleh ke temannya. Salah satu dari mereka, seorang wanita berambut pendek, mendekat sambil membawa pistol di pinggangnya.

"Kalian punya persediaan?" tanyanya.

Aldric langsung menyadari maksud pertanyaannya.

Orang-orang ini bukan hanya penyintas biasa.

Mereka adalah kelompok yang hidup dengan cara mengambil dari orang lain.

Finn tampak cemas. "Kita harus pergi," bisiknya pada Aldric.

Tapi sebelum mereka sempat melangkah mundur, wanita itu mencabut pistolnya.

"Aku sarankan kalian menyerahkan tas kalian," katanya dengan nada dingin. "Kalau tidak, aku jamin kalian tidak akan keluar dari jalan ini hidup-hidup."

Aldric mengepalkan tangan.

Dunia tanpa hukum ini memang tak memberi banyak pilihan.

Namun, dia tidak akan menyerahkan persediaan mereka begitu saja.

"Finn, Lyra," katanya pelan. "Bersiaplah."

Mereka bertiga tahu.

Hari ini, mereka harus bertarung bukan hanya melawan zombie.

Tapi juga melawan manusia.

Aldric menatap wanita berambut pendek itu tanpa berkedip. Jari wanita itu sudah berada di pelatuk pistolnya.

Finn menelan ludah. "Aldric, apa rencanamu?" bisiknya.

Aldric tidak menjawab. Dia hanya sedikit menundukkan badannya, bersiap untuk bergerak.

Lyra merapatkan genggaman pada pisau kecil di tangannya.

Di dunia tanpa hukum ini, bertarung dengan manusia bisa lebih berbahaya daripada menghadapi zombie.

"Hitungan ketiga," kata wanita itu, suaranya penuh ancaman. "Satu..."

Finn menggigit bibir.

"Dua..."

Aldric tiba-tiba bergerak.

Dalam sekejap, dia melemparkan belati kecil ke arah pria yang memegang senapan. Pisau itu menancap tepat di bahunya, membuatnya berteriak kesakitan dan senjatanya jatuh.

Wanita berambut pendek langsung mengarahkan pistolnya ke Aldric, tapi sebelum dia sempat menembak, Lyra melompat ke arahnya dan menebas tangannya dengan pisau.

"AARGH!" wanita itu menjerit, pistolnya jatuh ke tanah.

Finn, yang semula panik, akhirnya bertindak. Dia menendang pistol itu menjauh sebelum lawannya bisa mengambilnya kembali.

Sisa anggota kelompok itu terkejut melihat pemimpinnya jatuh. Beberapa dari mereka mundur, ragu-ragu apakah mereka harus menyerang balik atau kabur.

Aldric menarik pisau dari bahu pria yang tadi dia serang dan menodongkannya ke lehernya. "Aku tidak ingin membunuhmu," katanya dingin. "Tapi kalau kalian masih mencoba mengganggu kami, aku tidak akan ragu-ragu."

Pria itu berkeringat dingin, lalu mengangguk. "K-Kami hanya ingin persediaan! Kami tidak mau mati!"

Wanita berambut pendek merintih kesakitan sambil menekan lukanya. Dia melirik ke teman-temannya, lalu mendesis, "Lepaskan mereka..."

Aldric tetap menatap mereka tajam beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan pria itu. "Jangan coba-coba bertemu kami lagi," katanya, lalu berbalik dan memberi isyarat pada Finn dan Lyra untuk pergi.

Mereka bertiga berjalan cepat, meninggalkan kelompok itu yang masih terdiam dalam ketakutan.

Begitu mereka sudah cukup jauh, Finn akhirnya menghela napas panjang. "Astaga... aku kira kita bakal mati."

"Kita masih hidup," jawab Aldric singkat.

Lyra melirik ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. "Mereka pasti akan kembali mencari kita nanti."

Aldric mengangguk. "Ya. Itu sebabnya kita harus cepat meninggalkan tempat persembunyian kita sekarang."

Finn menatapnya dengan kaget. "Kita meninggalkan tempat itu?"

"Kalau mereka punya lebih banyak orang dan menemukan tempat kita, kita akan habis," kata Aldric. "Kita harus pergi malam ini."

Finn terlihat ragu, tapi dia tahu Aldric benar.

Dunia ini sudah berubah.

Bukan hanya zombie yang harus mereka takuti.

Tapi juga manusia yang kehilangan nurani.

Mereka harus terus bergerak.

Karena di dunia tanpa hukum ini… hanya yang terkuat yang bisa bertahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • THE DEAD WALK   Malam yg mencekam

    Langit mulai gelap saat Aldric, Lyra, dan Finn kembali ke tempat persembunyian mereka. Gudang tua yang selama ini mereka gunakan masih sunyi, tapi ada perasaan tidak nyaman yang merayapi pikiran Aldric. Dia tidak percaya dunia ini memberi mereka keberuntungan dua kali. “Kita harus cepat mengemas barang-barang,” kata Aldric sambil menutup pintu gudang dengan hati-hati. Finn langsung menuju ke tumpukan persediaan mereka di sudut ruangan. “Apa kita benar-benar harus pergi? Tempat ini sudah cukup aman.” “Untuk saat ini, iya,” kata Lyra sambil mengemasi barang-barangnya. “Tapi setelah pertemuan tadi, kita tak bisa ambil risiko.” Aldric berjalan ke arah jendela dan mengintip keluar. Jalanan kosong, tapi kegelapan mulai menyelimuti kota. “Kalau kita pergi sekarang, kita harus mencari tempat lain sebelum fajar,” katanya. Finn menghela napas dan mengangkat ranselnya. “Baiklah, aku ikut saja. Tapi aku harap tempat selanjutnya punya kasur yang lebih empuk.” Aldric tersenyum tip

    Last Updated : 2025-03-09
  • THE DEAD WALK   Kota yg mati

    Udara malam terasa dingin saat Aldric, Lyra, dan Finn berjalan melewati jalanan kota yang hancur. Lampu-lampu jalanan sudah lama mati, gedung-gedung berdiri seperti kuburan raksasa yang ditinggalkan manusia. Finn menggigil dan memeluk dirinya sendiri. “Aku benci malam. Terasa seperti ada sesuatu yang mengintai di setiap sudut.” Lyra tetap waspada, matanya meneliti setiap bayangan. “Karena memang ada sesuatu yang mengintai.” Aldric berjalan di depan, menggenggam pisaunya erat. Instingnya mengatakan mereka belum sepenuhnya aman. Mereka harus menemukan tempat berlindung sebelum fajar. Tiba-tiba, suara geraman rendah terdengar dari kejauhan. Mereka bertiga berhenti. Finn menelan ludah. “Itu…” Aldric mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk diam. Dari kegelapan, sosok-sosok bergerak lambat. Zombie. Banyak. Mereka berjalan terseok-seok, mata kosong mereka bersinar samar di bawah cahaya bulan. Finn berbisik, “Sial… kita harus putar balik?” Aldric melihat seke

    Last Updated : 2025-03-10
  • THE DEAD WALK   cahaya di tengah kegelapan

    Aldric berdiri di tepi atap, matanya mengamati kota yang sepi di bawah. Jalanan dipenuhi mobil-mobil terbengkalai, beberapa di antaranya masih menyisakan jejak darah yang sudah mengering. Di kejauhan, terdengar geraman samar. Zombie masih berkeliaran, mencari mangsa. Finn duduk bersandar di tembok, napasnya masih tersengal. “Kita nggak bisa terus kayak gini, Aldric. Kita harus cari tempat yang lebih aman.” Lyra mengangguk. “Aku setuju. Kita butuh makanan, air, dan tempat berlindung yang lebih layak.” Aldric menarik napas dalam. Mereka tidak bisa tinggal di sini selamanya. Dia menoleh ke kiri, dan matanya menangkap sesuatu yang menarik. Di kejauhan, ada sebuah gedung dengan lampu yang menyala. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Lihat itu,” katanya, menunjuk ke arah gedung bercahaya itu. Finn menyipitkan mata. “Apa itu? Ada orang di sana?” Lyra juga ikut melihat. “Mungkin… atau mungkin itu jebakan.” Aldric mengerti kekhawatiran Lyra. Di dunia seperti ini, manusia

    Last Updated : 2025-03-11
  • THE DEAD WALK   Wilayah yg di jaga

    Aldric berdiri diam, tangannya perlahan terangkat. Finn dan Lyra melakukan hal yang sama. Pria bersenjata di atas gedung masih menodongkan senapannya ke arah mereka. Wajahnya tertutup syal hitam, hanya matanya yang terlihat tajam, penuh kewaspadaan. “Kalian siapa?” suara pria itu terdengar dalam dan tegas. Aldric menelan ludah. “Kami hanya lewat.” “Jangan bohong,” pria itu mempererat genggaman pada senjatanya. “Kalian jalan ke sini dengan sengaja. Kalian mau apa?” Lyra melirik Aldric, berharap ada solusi. Aldric tetap tenang. “Kami butuh tempat berlindung. Kami lihat ada cahaya di gedung ini. Kami pikir ada orang di sini.” Pria itu menatap mereka lama, lalu melirik ke belakang, seperti sedang memastikan sesuatu. “Kalian bawa senjata?” tanyanya. Aldric ragu. Mengatakan tidak mungkin akan membuat mereka terlihat lemah, tapi jika mengakuinya, pria ini mungkin akan men

    Last Updated : 2025-03-12
  • THE DEAD WALK   Peraturan yg berlaku

    Aldric, Finn, dan Lyra berdiri di hadapan Robert, pria tua yang memimpin tempat ini. Suasana hening sesaat sebelum Robert kembali berbicara. “Kalian boleh tinggal, tapi ada aturan yang harus kalian ikuti.” Aldric menyilangkan tangan di dadanya. “Aturan seperti apa?” Robert tersenyum kecil, lalu menoleh ke wanita berambut dikepang. “Tunjukkan mereka.” Wanita itu melangkah ke meja kayu di sudut ruangan, mengambil sebuah buku catatan lusuh, lalu menyerahkannya pada Aldric. Aldric membuka halaman pertama dan membaca tulisan yang tertera di sana: **Aturan Komunitas Haven** 1. Setiap orang harus bekerja. Tidak ada pengecualian. 2. Tidak ada pencurian, perkelahian, atau pengkhianatan. Hukuman adalah pengusiran. 3. Makanan dan persediaan dibagi rata sesuai kebutuhan, bukan keinginan. 4. Tidak ada keputusan individu yang membahayakan komunitas. 5. Jika ada ancaman dari luar, s

    Last Updated : 2025-03-13
  • THE DEAD WALK   RAHASIA DI BALIK HEAVEN

    Pagi itu, Aldric terbangun lebih awal dari biasanya. Langit di luar masih berwarna abu-abu, matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Dia duduk di kasur tipis yang mereka gunakan semalaman, memijat pelipisnya. Tidurnya tidak nyenyak. Bukan karena tempat ini tidak nyaman, tetapi karena pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Haven memang terlihat seperti tempat perlindungan yang ideal, tapi sesuatu terasa tidak beres. Aldric berdiri dan berjalan ke dekat ventilasi kecil di sudut kamar. Dari celah itu, dia bisa melihat ke area luar gedung supermarket. Beberapa orang sudah berkumpul. Mereka membawa kantong-kantong hitam besar, sama seperti yang dia lihat semalam. “Ini aneh…” gumamnya. Di belakangnya, Finn menggeliat dan membuka mata. “Kau bicara apa, Aldric?” Aldric tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada orang-orang di luar sana. Finn duduk dan mengusap wajahnya. “Jangan bilang kau masih

    Last Updated : 2025-03-15
  • THE DEAD WALK   MISTERI YG TERSEMBUNYI

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Aldric, Lyra, dan Finn tidak bisa tidur dengan tenang. Pikiran mereka dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Apa yang sebenarnya terjadi di Haven? Apa yang mereka sembunyikan? Aldric berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit ruangan. Ia yakin seseorang mengawasi mereka tadi. Finn, yang tidur di sebelahnya, berbisik, “Aku gak nyaman, bro. Serius. Tempat ini makin aneh.” Lyra ikut berbisik, “Aku juga merasa begitu. Ada sesuatu yang salah di sini.” Aldric duduk perlahan. “Kita harus mulai penyelidikan kita sekarang. Kalau kita tunda, bisa saja besok kita sudah tidak punya kesempatan lagi.” Finn mengangkat alis. “Maksudmu?” Aldric menatapnya serius. “Aku punya firasat buruk. Bisa saja mereka sedang menguji kita. Kalau mereka tahu kita curiga, kita bisa ‘dihilangkan’.” Finn menelan ludah. “Oke, sekarang aku makin takut.” L

    Last Updated : 2025-03-17
  • THE DEAD WALK   Pelarian di Tengah malam

    Malam semakin larut, tetapi ketegangan di dalam Haven belum mereda. Aldric, Lyra, dan Finn berjalan dengan hati-hati di lorong belakang supermarket, mencoba menghindari patroli yang mungkin mencari mereka. Finn berbisik, “Oke, apa rencana kita sekarang? Kita sudah tahu Haven menyembunyikan sesuatu, tapi gimana caranya kita keluar dari sini tanpa mati?” Aldric berpikir sejenak. “Kita harus mencari jalan keluar. Kalau kita tetap di sini, mereka pasti akan menangkap kita cepat atau lambat.” Lyra mengangguk. “Ada gerbang di sisi timur, tapi selalu dijaga.” Finn menghela napas. “Tentu saja, mana ada tempat perlindungan tanpa penjagaan ketat?” Aldric menatap sekeliling. “Kalau begitu, kita harus cari jalan lain.” Mereka terus berjalan, melewati gudang dan ruangan penyimpanan yang gelap. Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Aldric langsung memberi isyarat agar mereka bersembunyi di bali

    Last Updated : 2025-03-18

Latest chapter

  • THE DEAD WALK   perburuan di kota mati

    Langkah-langkah berat menggema di jalanan yang hancur. Dari ujung gang yang gelap, puluhan sosok mulai muncul satu per satu. Mata mereka kosong. Gerakan mereka lamban, tetapi jumlah mereka… terlalu banyak. Marco menggertakkan giginya. “Mereka datang.” Aldric menarik napas dalam-dalam. “Kita harus pergi sekarang.” Mereka bertiga segera berlari ke arah berlawanan, melewati jalanan yang dipenuhi mobil-mobil terbengkalai. Di belakang mereka, gerombolan zombie mulai bergerak lebih cepat. Beberapa dari mereka **berlari.** Rhea melirik ke belakang. “Kenapa mereka bisa berlari?! Sejak kapan?!” Aldric tidak menjawab. Dia tahu jawabannya, tapi dia tidak ingin mengatakannya sekarang. Wabah ini… berevolusi. Zombie tidak lagi sekadar mayat hidup yang berjalan lambat. Beberapa dari mereka menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih pintar. Mereka sampai di s

  • THE DEAD WALK   KOTA YG HILANG

    Angin malam bertiup dingin, membawa aroma busuk yang semakin menusuk hidung. Aldric, Marco, dan Rhea berdiri di tengah jalanan yang gelap. Cahaya bulan samar-samar menerangi bangunan runtuh di sekitar mereka. Dari kejauhan, puluhan sosok berjalan terseok-seok. “Banyak sekali…” gumam Rhea dengan suara gemetar. Aldric menggenggam senjatanya erat-erat. “Kita harus segera pergi dari sini.” Mereka mulai berjalan perlahan, berusaha menghindari perhatian para zombie. Tapi saat mereka berbelok di sebuah gang sempit, mereka melihat sesuatu yang lebih buruk. Sebuah papan besar dengan tulisan pudar: **"SELAMAT DATANG DI RAVENWOOD."** Marco menelan ludah. “Kita di Ravenwood?” Aldric mengangguk pelan. “Ya. Dan itu kabar buruk.” Ravenwood dulunya adalah sebuah kota besar yang dipenuhi gedung pencakar langit. Tapi setelah wabah menyebar, kota ini berubah menjadi neraka

  • THE DEAD WALK   Sarang Para Pemburu

    Langkah kaki di luar semakin mendekat. Aldric langsung menarik pisau dari sarungnya, sementara Marco menggenggam senjatanya erat-erat. Rhea melirik Wallace dengan tatapan tajam. “Apa mereka tahu kita ada di sini?” Wallace mengangguk pelan. “Mereka tahu.” Aldric merasakan amarah membuncah di dadanya. “Jadi kau benar-benar menjebak kami?” Wallace menghela napas. “Aku tidak punya pilihan.” Sebelum ada yang sempat bereaksi, suara ketukan terdengar dari pintu besi. *Tok... tok... tok.* Diikuti suara berat seseorang dari luar. “Aku tahu kalian di dalam.” Suara itu terdengar serak dan dalam, seperti seseorang yang sudah lama hidup di tengah kekacauan. “Buka pintunya… atau kami akan masuk dengan cara kami sendiri.” Rhea mencengkeram lengan Aldric. “Kita harus pergi sekarang!” bisiknya panik. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara benturan

  • THE DEAD WALK   Neraka di bawa tanah

    Aldric membeku di tempat. Di hadapan mereka, puluhan mayat yang berserakan mulai bergerak. Tangan-tangan kurus dengan kulit mengelupas berusaha bangkit, mulut-mulut membusuk terbuka, mengeluarkan geraman mengerikan. “Kita harus keluar dari sini,” bisik Marco, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Rhea menyalakan senter kecilnya dan menyapu ruangan. Tidak ada pintu lain. Satu-satunya jalan adalah kembali ke atas, tapi itu berarti kembali ke tempat para pemburu berada. “Aldric, keputusanmu!” Rhea menarik pisau dari sarungnya, bersiap bertarung jika diperlukan. Aldric berpikir cepat. Jika mereka bertahan di sini, mereka akan dikepung. Jika kembali ke atas, mereka bisa langsung ditembak. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di sudut ruangan. “Ke sana!” Dia menunjuk ke sebuah lubang ventilasi di sisi kanan ruangan. Besarnya cukup untuk mereka bertiga masuk satu per satu. Tapi sebelum

  • THE DEAD WALK   Perlawanan terakhir

    Aldric menatap sekeliling dengan cepat. Mereka terjebak di tangga darurat. Di atas, para pemburu sudah mengokang senjata. Di bawah, zombie terus bergerak naik, siap merobek daging mereka kapan saja. Tidak ada jalan keluar. “Kalau harus mati, aku ingin membawa satu orang bersama,” gumam Marco sambil mengencangkan genggaman pada parangnya. Rhea menarik napas dalam, masih berusaha berdiri setelah kakinya tertindih zombie tadi. “Kita tidak akan mati di sini.” Aldric mengangguk. “Kita lawan.” Tanpa peringatan, dia meraih sebuah kursi kayu yang terbengkalai di sudut tangga dan melemparkannya ke arah para pemburu. *BRAK!* Salah satu dari mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa zombie di bawah. Yang lain terkejut. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Marco dan Rhea yang langsung berlari maju. *Tembak!* Dor! Dor! Dor! Peluru menghantam di

  • THE DEAD WALK   Kota yg di kuasai mayat hidup

    *GRAAAAAKKKK!* Suara geraman dari bawah semakin nyaring. Aldric, Rhea, dan Marco menatap jalanan di bawah dengan napas tertahan. Ratusan zombie bergerak lambat, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Tubuh-tubuh membusuk itu berjalan terseok-seok, beberapa menyeret kakinya yang hampir putus. Marco menelan ludah. “Aku lebih baik ditembak daripada jatuh ke bawah sana.” “Kita tidak boleh membuat suara,” bisik Rhea. Mereka bertiga merangkak di atas atap, berusaha tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun. Namun… *Brak!* Sebuah batu lepas dari tepi atap dan jatuh ke jalanan. Suara itu menggema di antara bangunan-bangunan kosong. Seluruh zombie di bawah serentak menoleh. Kemudian— *GRAAAAAHHHH!* Mereka mulai berlari. Aldric membeku. “Sejak kapan mereka bisa berlari?!” “LARI!” Rhea menarik tangan mereka. Mereka

  • THE DEAD WALK   Tak ada tempat untuk bersembunyi

    Gagang pintu berputar perlahan. Aldric, Marco, dan Rhea menahan napas. Di luar, langkah kaki berat terdengar jelas. Aldric meraih belati di ikat pinggangnya. Jika seseorang masuk, ia harus bertindak cepat. Pintu sedikit terbuka. Sebuah mata mengintip dari celah. Aldric bersiap melompat. Tapi kemudian… “Tidak ada di sini,” suara serak itu berkata. Pintu kembali tertutup. Mereka bertiga tetap diam, tidak bergerak sedikit pun. Langkah kaki di luar semakin menjauh. Butuh beberapa menit sebelum Rhea berani berbicara dengan suara pelan, “Kita harus keluar dari sini.” Marco mengangguk cepat. “Aku setuju. Aku tidak mau mati di tempat ini.” Aldric mendekati jendela dan mengintip ke luar. Kota mati terbentang di depan mata mereka, sepi dan mencekam. “Bagaimana kalau kita keluar lewat belakang?” usulnya. Rhea menggeleng.

  • THE DEAD WALK   Dikejar di kota mati

    Aldric, Marco, dan Rhea berlari keluar dari pintu belakang gudang. Udara dingin menerpa wajah mereka, tetapi mereka tidak bisa berhenti. Di belakang, suara langkah kaki bergema di dalam supermarket. Orang-orang itu sudah masuk. Rhea berbisik tajam, “Ikut aku!” Tanpa pikir panjang, Aldric dan Marco mengikutinya menelusuri gang sempit di belakang gedung. Aroma busuk dari mayat yang membusuk di dekat tempat sampah menyengat hidung mereka, tapi mereka tetap melangkah cepat. “Siapa mereka?” Aldric bertanya sambil berlari. “Kelompok pemburu. Mereka bukan penyintas biasa. Mereka memburu orang lain untuk bertahan hidup.” Marco menoleh dengan wajah ngeri. “Mereka… kanibal?” Rhea tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup untuk memberi jawaban. Sial. Langkah kaki di belakang mereka semakin dekat. Suara-suara kasar terdengar jelas. “Di sana! Mereka lari ke gang belakang!”

  • THE DEAD WALK   PERBURUAN DI KOTA MATI

    Pagi datang dengan langit kelabu. Matahari hanya samar-samar menembus kabut tipis yang menyelimuti kota yang hancur. Aldric membuka matanya dan langsung siaga. Malam ini mereka selamat, tapi itu tidak berarti bahaya sudah berlalu. Di sudut ruangan, Lyra masih terjaga, menggenggam pistolnya erat. Marco tidur meringkuk di pojok dengan napas berat, sementara Finn menguap panjang saat bangun dari tidurnya yang tidak nyaman. “Sudah pagi?” Finn bergumam, mengusap matanya yang masih mengantuk. Aldric mengangguk. “Kita harus bergerak. Stok makanan kita habis. Kota ini luas, pasti ada sesuatu yang bisa kita temukan.” Lyra menghela napas, mengamati Marco yang masih terlelap. “Apa kita benar-benar bisa percaya dia?” Aldric menatap Marco sejenak. “Dia lemah, kelaparan, dan sendirian. Aku tidak melihat alasan dia berbohong.” Finn berdiri, meregangkan tubuhnya. “Kalau begitu, ayo kita mulai berburu. Aku tidak m

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status