A U T U M N
"M-MILIKKU?" Mataku seolah ingin melompat keluar dari tempatnya ketika aku bertanya dengan gugup. Apa yang dia maksud dengan ‘Aku akan menjadi milikmu’?
Dengan tubuh kami yang saling berdekatan, aku bisa merasakan getaran saat dia tertawa kecil. “Maksudku, aku akan menjadi rahasiamu.” Dia tersenyum dan netra gelapnya berpendar di bawah cahaya lampu jalanan. Aku memandangnya tidak percaya. Sangat sulit untuk memercayai bahwa dia adalah Tyler yang sama yang selalu kukutuk di setiap pelajaran Matematika karena terlalu pintar sehingga aku tidak bisa mengalahkan nilainya. “Kenapa? Kau benar-benar menginginkanku?” Dia terbahak.
“Kau benar-benar Tyler Vincent dan bukan kembarannya, ‘kan?” Aku bertanya, masih tercengang. Mungkin dia punya kembaran. Bukankah itu selalu terjadi di buku-buku dan di film-film? Maksudku, ayolah! Tyler Vincent tidak mungkin setampan ini, bukan? Kutu buku sialan itu tidak mungkin setampan ini!
Dia mengacak-acak rambutku dan tersenyum. “The one and only, my dear.” Senyumannya berubah menjadi seringai sewaktu dia memperhatikan ekspresi curigaku. “Kenapa? Aku terlihat lebih baik tanpa kacamata, ‘kan?” Memberikanku satu kedipan, dia membelai pipiku dengan sentuhan hangatnya. Ibu jarinya menjelajahi bibirku, membuat napasku terengah. Tangannya turun menuju leherku; masih mengunci pandangannya padaku, dan terus turun hingga ke ujung tank top di balik hoodie-ku.
Aku mencengkeram tangannya sebelum bergerak lebih turun lagi. Aku akui bahwa aku terkejut melihatnya tampak tampan dan menawan, tetapi bukan berarti dia bisa seenaknya mempermainkanku seperti mainan dan meraba-rabaku.
Aku Autumn Summers, demi Odin akulah Queen Bee-nya! Dia hanyalah kutu buku di sekolah; dia tidak bisa mempermainkanku!
Memberinya tatapan tajam, mataku bertemu dengannya dan aku berkata dengan nada mengancam. “Jangan berani-berani!” Aku mengempaskan tangannya dan melangkah pergi. Anehnya, dia tidak mengejarku, ataupun membalas perkataanku, tetapi tawa bengisnya menggema di seluruh gang, mengikutiku seperti bayangan.
* * *
T Y L E R
Aku memandangnya berjalan pergi dan tidak bisa menahan tawaku. Dia adalah kombinasi dari manis dan lancang, dan harus kuakui bahwa aku menyukainya.
Dia menghabiskan hampir setahun duduk di belakang bangkuku saat kelas Mrs. F, tetapi ini kali pertama kami saling berbicara..
Dan sebagai tambahan, ini pertama kalinya aku menciumnya. Itu murni tidak sengaja. Aku tidak berencana mencium Autumn Summers, tetapi dia memandangku dengan mata gelap besarnya yang berkilat di bawah cahaya rembulan laksana anak anjing, dan menggigit bibir bawah merah mudanya, aku tahu itu tidak senonoh.
Saat itu tidak ada yang kuinginkan, selain menciumnya tanpa alasan, untuk merasakan bibir stroberi merah mudanya.
Kejutan, kejutan.
Itu tidak terasa seperti stroberi. Pun tidak terasa seperti kecupan lain atau lip-gloss yang sering digunakan banyak gadis. Bibirnya polos.
Kau boleh mengataiku gila, tetapi rasanya seperti angin musim panas. Ketika bibir kami bertemu, meskipun udaranya dingin, aku merasa hangat. Dan bahkan ini belum musim panas, ini bulan Februari. Secara teknis, masih musim dingin.
Mungkin karena namanya. Mungkin dengan mencium seseorang bernama Apel akan membuatnya terasa seperti apel. Apa pun itu, aku akan mencari tahu.
Aku berjalan menyusuri gang untuk menyusulnya. “Ty!” Aku mendengar kawanku Lucas memanggilku, jadi aku menoleh untuk memandangnya berlari kecil ke arahku melalui bahu. “Kau mau pergi sekarang?” Sangat lucu melihat orang-orang mencoba untuk berlari kecil ketika mereka mabuk, seakan-akan kaki mereka punya kemauan sendiri dan bingung harus ke kiri atau ke kanan.
“Yeah.” Aku mengangguk. “Ada cewek yang menungguku.” Luke tersenyum, mungkin berpikir aku akan berhubungan badan dengan seseorang malam ini. Aku membiarkannya berpikir seperti itu, dan ketika dia berteriak “semoga beruntung”, aku pun tertawa kecil dan menjauh pergi.
Itu benar. Ada cewek yang menungguku di rumah. Akan tetapi, itu bukanlah pacar ataupun teman seks, melainkan seorang wanita yang kuhormati dan kucintai, ibuku. Audrey. Dia bekerja dengan sangat keras setiap harinya sebagai pelayan untuk menafkahi kami berdua. Si Bajingan, yang seharusnya menjadi ayahku, pergi meninggalkan kami ketika aku berusia sepuluh tahun. Dan Ibu selalu mendukung kami sejak saat itu.
Jadi, ketika akhirnya aku berhasil mendapatkan beasiswa dari SMA swasta Carlton, kami mengemasi barang-barang kami dan pindah ke Amerika. Dan itulah tepatnya mengapa aku memainkan peran sebagai anak baik di sekolah. Aku tidak mampu bila harus kehilangan beasiswa dan aku butuh nilai yang bagus sehingga aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan membuat ibuku berhenti bekerja. Dia harus beristirahat setelah bekerja keras sepanjang hidupnya, dan aku akan memberinya itu.
Mengapa aku mengisap ganja di malam hari? Itu bukan karena aku seorang pecandu, melainkan aku adalah dope slanger alias bandar narkoba.Pilihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak adalah dengan menyakiti diri sendiri, atau menjual narkoba. Aku memilih pilihan kedua.
Sekarang Autumn Summers telah memergokiku. Kukira aku telah memilih tempat yang sempurna di mana tidak ada seorang pun dari Carlton akan datang kemari.
Namun, dia malah bertolak dari gang seolah dia pemilik tempat ini, yang mana mengejutkanku lagi. Dan bodohnya aku tidak mengenalnya dari hoodie yang dia kenakan dan mungkin berpikir mungkin aku bisa membuat kesepakatan. Penawaran kesepakatan, tentu saja.
Sekarang aku harus mengurusi situasi ini. Dia cerdas, gadis tercerdas yang kutahu, dan dia mungkin datang dengan selusin alasan mengapa aku berada di sini.
Aku telah mencapai jalan utama, dan dua gadis terkikik begitu melihatku. Sebuah ide muncul di kepalaku. Mungkin saja dia cerdas, tetapi dia tetaplah gadis. Mungkin daripada harus memikirkan tentang mengapa aku ada di sana, fokusnya dapat dialihkan dengan ciuman dan memikirkannya.
Yeah. Dia mungkin sedang bermimpi menciumi seseorang sekarang. Menjejalkan tanganku di saku jaket, aku pulang dengan perasaan puas.
* * *
A U T U M N
Tanganku sibuk mencari ponsel untuk mematikan alarm. Aku berani bersumpah aku menaruhnya di kasur tepat di sebelahku, tetapi aku tidak bisa menemukannya. Mengerang, aku terpaksa membuka mata dan mulai mencarinya. Setelah menghabiskan waktu kira-kira sepuluh menit, aku mencerlingi jam dinding dan menyadari bahwa sudah hampir lima menit berlalu. Rebahan di lantai, aku mengintip kolong kasur dan akhirnya menemukan ponselku di sana, berkelap-kelip laksana cahaya bintang.
Kugunakan kakiku untuk meraihnya karena tanganku tidak sampai. “Gotcha!” Aku mengibarkan senyum bahagia ketika jemari kakiku berhasil menggapai ponsel. Kuambil ponselku dan mematikan alarm. Setelah percobaan dan kemenanganku baru-baru ini, aku tidak mengantuk lagi jadilah aku menarik langkah ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Aku sedang memakai maskara ketika kakak bodohku membuka pintu. “Morning, sunshine!” serunya dan nyaris membutakanku dengan menyodokkan maskara ke bola mataku.
Aku berbalik dan melemparkan pisau belati ke arahnya. “Bisakah kau tidak melakukan itu setiap pagi!”
Alih-alih marah, Steven berjalan ke arah meja riasku dan mencium puncak kepalaku dengan satu tangan mencubit pipiku. “Aku juga menyayangimu, adikku tersayang!” Aku memutar bola mataku padanya, tetapi dalam hati aku bersyukur akan kasih sayangnya padaku. Dia satu-satunya orang yang tidak hanya tahu tentang keluarga yang hancur, tetapi juga tinggal di sana bersamaku.
“Kenapa kau sangat ceria pagi ini?” Aku kembali fokus pada bulu mataku. Menaruh maskara kembali, aku memandang refleksinya di cermin. Mata kami bertemu, dan aku bergidik karena aku melihat mata yang serupa sepertiku. Kami berdua memiliki sepasang mata gelap. Aku ingat bahwa aku menginginkan mata biru yang indah seperti Ibu, tetapi begitu tahu perangai rahasianya, lebih baik tidak. Bukan karena Ayah lebih baik darinya, melainkan bukan dia yang memulai berselingkuh.
“Tidak ada yang baru.” Dia mengangkat bahu, jelas-jelas menyembunyikan sesuatu.
Aku menyipitkan mata. “Katakan, Steven. Kau tahu aku akan mengetahuinya cepat atau lambat.”
Kata-kata yang terlontar dari mulutnya dalam satu seruan, “Aku dapat pekerjaan!” Aku menggosok telingaku, dan dia mengumamkan permintaan maaf meskipun dia menyeringai padaku, dia tidak merasa bersalah sama sekali. “Bukan film layar lebar, hanya serial TV, tetapi untuk pertama kalinya aku mendapatkan pemeran utama.”
Rasa sakit di telingaku seketika memudar. Aku melompat kegirangan dan memeluk kakakku. Dia telah melalui banyak audisi, berharap dia mendapat pemeran pembantu dan akhirnya dia mendapatkan durian runtuh. Dan akhirnya dia mendapatkannya, dan aku sangat bahagia untuknya. “Bagus sekali, Steve!” The pain in my ear was forgotten instantly. I jumped to my feet and hugged my brother. He has gone to numerous of auditions, hoping that he would stop landing supporting roles and finally get a big break. And finally he got it, and I was so damn happy for him. "Way to go, Steve!" Aku menarik diri dan berkelakar memukul lengannya.
Masih menyeringai seperti orang idiot, dia menambahkan, “Itulah kenapa aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini!”
Aku mengedipkan mata sekali. Dua kali. “Tunggu, apa?”
“Kenapa?” Senyumannya sedikit memudar. “Kau tidak menyukainya?”
Sudah sekian lama sejak terakhir kali dia mengantarkanku ke sekolah, mungkin karena saat itu aku masih kelas sembilan dan dia kelas dua belas. Setelah itu, dia mengambil kelas akting dan sibuk menggapai mimpinya. Orang-orang berpikir bahwa terlahir sebagai anak orang kaya dengan ibu seorang selebritas; dia akan mendapatkannya dengan mudah. Salah.
Tidak ada hidup yang mudah. Kau harus bekerja keras jika ingin menggapai mimpimu. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. (Nothing is easy in life. You have to work your butt off if you want to live your dream. No pain, no gain).
Memandang wajahnya, aku tidak bisa menolak jadi aku meraih ponselku di meja rias dan mengirimkan pesan pada Jess agar dia tahu bahwa aku tidak butuh tumpangan ke sekolah hari ini.
“Apa yang kau lakukan?” Steven menunduk dan berusaha untuk mengintip.
Berbalik, aku tersenyum. “Aku mau.”
“Bagus.” Dia menyeringai lagi. “Karena akan susah ketika aku sudah terkenal dan rumah kita akan dibanjiri paparazi.
“Yeah, yeah benar. Orang tenar!” Aku tertawa dan memutarkan mataku padanya. Jika ini bisa membuatnya senang, kenapa tidak?
* * *
T Y L E R
Saat itu hari Kamis, itu berarti kelas Matematika lagi di jam kedua. Kau boleh memanggilku paranormal, tetapi aku bisa merasakan matanya menembus punggungku. Setelah yang terjadi, aku tidak menghampirinya dan kami sama sekali tidak bertemu satu sama lain bahkan di sekolah. Bagaimana bisa? Dia Queen Bee dan aku bukanlah siapa-siapa.
Bahkan di kantin, anak-anak populer selalu mengelilinginya, sedangkan aku selalu sendirian di pojokan. Akan tetapi, sekarang kami berada di ruangan yang sama dan dia selalu dekat denganku sehingga aku bisa menghirup aroma parfumnya. Lilac.
Aku memberanikan diri dan melirik ke arahnya melalui bahu, dan aku terkejut ketika mataku tertangkap matanya telak. Jadi, aku benar, dia memperhatikanku sepanjang waktu. Aku berbalik dan membetulkan kacamataku saat Mrs. F menanyakan satu pertanyaan padaku.
Jelas, aku bisa menjawabnya tanpa perlu berpikir keras. Matematika adalah pelajaran yang mudah untukku karena aku menyukai angka dan memecahkan masalah.
Aku mencuri-curi pandang padanya, dan kali ini pandangannya melayang ke luar jendela. Tatapannya tampak melamun seolah menandakan bahwa pikirannya berada nun jauh di sana. Mrs. F bertanya padanya, tetapi jelas dia tidak memperhatikan karena tidak menanggapi.
“Miss Summers! Mungkin kau bisa menerangkan kami tentang apa yang kaulamunkan!” Nadanya terdengar keras dan lantang, dan aku memandang Autumn sedikit menoleh seakan-akan dia baru bangun dari mimpinya.
Dia tampak bimbang, berkedip beberapa kali. “Bisa diulangi pertanyaannya, Mam?” Mrs. F mendengkus kesal, tetapi dia mengulangi pertanyaannya.
Sebuah pikiran terlintas di benakku. Mungkin dia masih memikirkan tentang ciuman itu. Mungkin dia masih merasakan sengatan yang kurasakan ketika bibir kami beradu. Seulas senyum tersungging di bibirku dan aku berusaha menyembunyikannya.
Apa pun yang terjadi, aku punya satu tujuan penting yang harus kulakukan jadi kukuburkan pikiran itu kembali dalam benakku.
B A B E M P A T : P e r f e c t B o y f r i e n d , P e r f e c t I l l u s i o n A U T U M N Dasar sialan! Dasar Kutu Buku sialan! Sejak kelas Matematika di jam kedua, aku terus mencatat alasan mengapa dia berada di gang malam itu, memandangku layaknya pecandu. Sekarang di jam ketujuh dan entah mau berapa lama aku membuang waktuku untuk memikirkannya, aku tidak menemukan satu pun jawaban yang tepat. Dia siswa terbaik di sekolah ini, jadi mengapa dia melakukan itu untuk merusak prestasinya dan mungkin membuatnya dikeluarkan dari sekolah jika rahasianya terbongkar. Pertanyaan yang paling tidak penting, yang masih menggangguku—meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya—adalah, “Kenapa dia menciumku?” Tubuhku bergidik ngeri setiap kali aku mengingat ciuman itu, itu bukan ciuman yang buruk, sebenarnya teras
B A B 5 : P R O M I S E A U T U M N DIA MEMBALIKKANKU, dan hal selanjutnya yang kutahu bahwa aku dicium. Bibirnya menangkap bibirku selepas kata-kata keluar dari mulutnya. Aku benar-benar bingung karena yang bisa kulakukan hanyalah memandang seorang lelaki sedang menciumku penuh gairah. Dia berhenti beberapa saat setelahnya, mungkin menyadari bahwa aku tidak menanggapi. Aku benar-benar membeku, tetapi entah kenapa mulutku bisa menyembur apa pun yang kupikirkan. “Kita di sekolah.” Aku menjilat bibirku dan memandangnya. Dia berdiri dengan tinggi 6,4 kaki, menunggu di dekatku. “Yeah, jadi?” Dia terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. Aku beranjak dari bangku dan menjumput earphone
B A B 6 : T H A T K I S S A U T U M N S U M M E R S "Ini masih jauh dari selesai, Sayang." Dia menatapku dengan intens, dan aku bisa melihat kegembiraan bercampur dengan sesuatu yang lain berkilauan di matanya yang gelap. Perpustakaan tiba-tiba terasa lebih kecil dan meskipun udara dingin, rasanya lebih panas. Aku menelan ludah dengan gugup. Kendalikan dirimu, Autumn! Hanya Tyler Vincent. Sekolah Nerd, demi Tuhan! Cukup dengan omong kosongnya. Aku menyipitkan mataku dan mengarahkan pandanganku. "Apa yang kamu inginkan?" "Jadilah gadis yang baik, oke?" Aksennya muncul ketika dia mengucapkan kata-kata itu, membuatku sadar bahwa dia orang Kanada. Lucu bagaimana dia berbagi kebangsaan yang sama dengan pacar internet yang sempurna, Shawn Mendes, namun dia tidak memiliki sikap seperti pria yang sama. Kanada. Orang asing. Itu memberiku ide.
Autumn POV Tyler. Matanya yang gelap melembut dan ketika ia bertanya kepadaku, nadanya suaranya sudah melupakan. “Apa kamu baik-baik saja?” Aku tahu saat ini aku pasti terlihat menyedihkan apalagi setelah mewek barusan. Aku berusaha melawan keinginan untuk pergi dan mengaca di cermin. Sudah pasti mascara ku berantakan kemana-mana. Tyler masih menatapku dan mengharapkan jawaban, maka aku pun mengangguk. “Aku nggak papa.” “Kamu bohong.” Tyler menghela napas putus asa. Senyuman sedih terukir di wajahnya. “Aku benar-benar minta maaf atas apa yang aku bilang ke kamu di perpustakaan tadi.” Pemuda itu mengacak-acak rambutnya yang acak-acakan dengan satu tangan. “Kamu benar. Aku tidak seharusnya menghakimimu. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Kita hanya dua orang asing yang kebetulan sekelas di pelajaran Matematika.” Dia tersenyum meminta maaf. “Ya, perfect strangers.” Aku memba
B A B S A T U : M a t c h a n d G a s o l i n e Kilas Balik Tidak diketahui ( P e n j a h a t X ) Dua tahun lagi. Aku sudah setengah jalan dalam empat tahun penjara yang mereka sebut SMA. Aku bisa melakukannya, aku mengatakannya berulang kali seperti mantra ketika aku berjalan melewati pintu. Pandanganku menyapu kantin, semua murid sedang istirahat makan siang sekarang dan sepertinya seluruh bangku sudah terisi. Aku sedang tidak berselera untuk makan siang, tidak setelah berita mengejutkan yang kuterima pagi ini. Akan tetapi, satu hal yang kutahu tentang SMA adalah untuk tidak pernah menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya. Tidak peduli apa pun itu, orang-orang selalu men
B A B D U A : R a h a s i a S i N e r d A U T U M N S U M M E R S NAMAKU MENYEBALKAN, and aku sudah tahu fakta itu selama aku hidup. Bahkan nama North West lebih baik daripada Autumn Summers. Satu-satunya hal bagus adalah aku tidak mendapat perundungan karena itu. Well, aku tidak mendapat perundungan secara keseluruhan karena aku seorang Queen Bee. Aku mengatur sekolah seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada yang berani merundungku. Tidak untuk namaku ataupun betapa kacaunya keluargaku. Ayahku, Thornton Summers, seorang bajingan tampan. Semua orang—dari penulis ma
Autumn POV Tyler. Matanya yang gelap melembut dan ketika ia bertanya kepadaku, nadanya suaranya sudah melupakan. “Apa kamu baik-baik saja?” Aku tahu saat ini aku pasti terlihat menyedihkan apalagi setelah mewek barusan. Aku berusaha melawan keinginan untuk pergi dan mengaca di cermin. Sudah pasti mascara ku berantakan kemana-mana. Tyler masih menatapku dan mengharapkan jawaban, maka aku pun mengangguk. “Aku nggak papa.” “Kamu bohong.” Tyler menghela napas putus asa. Senyuman sedih terukir di wajahnya. “Aku benar-benar minta maaf atas apa yang aku bilang ke kamu di perpustakaan tadi.” Pemuda itu mengacak-acak rambutnya yang acak-acakan dengan satu tangan. “Kamu benar. Aku tidak seharusnya menghakimimu. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Kita hanya dua orang asing yang kebetulan sekelas di pelajaran Matematika.” Dia tersenyum meminta maaf. “Ya, perfect strangers.” Aku memba
B A B 6 : T H A T K I S S A U T U M N S U M M E R S "Ini masih jauh dari selesai, Sayang." Dia menatapku dengan intens, dan aku bisa melihat kegembiraan bercampur dengan sesuatu yang lain berkilauan di matanya yang gelap. Perpustakaan tiba-tiba terasa lebih kecil dan meskipun udara dingin, rasanya lebih panas. Aku menelan ludah dengan gugup. Kendalikan dirimu, Autumn! Hanya Tyler Vincent. Sekolah Nerd, demi Tuhan! Cukup dengan omong kosongnya. Aku menyipitkan mataku dan mengarahkan pandanganku. "Apa yang kamu inginkan?" "Jadilah gadis yang baik, oke?" Aksennya muncul ketika dia mengucapkan kata-kata itu, membuatku sadar bahwa dia orang Kanada. Lucu bagaimana dia berbagi kebangsaan yang sama dengan pacar internet yang sempurna, Shawn Mendes, namun dia tidak memiliki sikap seperti pria yang sama. Kanada. Orang asing. Itu memberiku ide.
B A B 5 : P R O M I S E A U T U M N DIA MEMBALIKKANKU, dan hal selanjutnya yang kutahu bahwa aku dicium. Bibirnya menangkap bibirku selepas kata-kata keluar dari mulutnya. Aku benar-benar bingung karena yang bisa kulakukan hanyalah memandang seorang lelaki sedang menciumku penuh gairah. Dia berhenti beberapa saat setelahnya, mungkin menyadari bahwa aku tidak menanggapi. Aku benar-benar membeku, tetapi entah kenapa mulutku bisa menyembur apa pun yang kupikirkan. “Kita di sekolah.” Aku menjilat bibirku dan memandangnya. Dia berdiri dengan tinggi 6,4 kaki, menunggu di dekatku. “Yeah, jadi?” Dia terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. Aku beranjak dari bangku dan menjumput earphone
B A B E M P A T : P e r f e c t B o y f r i e n d , P e r f e c t I l l u s i o n A U T U M N Dasar sialan! Dasar Kutu Buku sialan! Sejak kelas Matematika di jam kedua, aku terus mencatat alasan mengapa dia berada di gang malam itu, memandangku layaknya pecandu. Sekarang di jam ketujuh dan entah mau berapa lama aku membuang waktuku untuk memikirkannya, aku tidak menemukan satu pun jawaban yang tepat. Dia siswa terbaik di sekolah ini, jadi mengapa dia melakukan itu untuk merusak prestasinya dan mungkin membuatnya dikeluarkan dari sekolah jika rahasianya terbongkar. Pertanyaan yang paling tidak penting, yang masih menggangguku—meskipun aku sudah berusaha mengabaikannya—adalah, “Kenapa dia menciumku?” Tubuhku bergidik ngeri setiap kali aku mengingat ciuman itu, itu bukan ciuman yang buruk, sebenarnya teras
B A B T I G A : F i r s t K i s s A U T U M N "M-MILIKKU?" Mataku seolah ingin melompat keluar dari tempatnya ketika aku bertanya dengan gugup. Apa yang dia maksud dengan ‘Aku akan menjadi milikmu’? Dengan tubuh kami yang saling berdekatan, aku bisa merasakan getaran saat dia tertawa kecil. “Maksudku, aku akan menjadi rahasiamu.” Dia tersenyum dan netra gelapnya berpendar di bawah cahaya lampu jalanan. Aku memandangnya tidak percaya. Sangat sulit untuk memercayai bahwa dia adalah Tyler yang sama yang selalu kukutuk di setiap pelajaran Matematika karena terlalu pintar sehingga aku tidak bisa mengalahkan nilainya. “Kenapa? Kau benar-benar menginginkanku?” Dia terbahak. “Kau benar-benar Tyler Vincent dan bukan kem
B A B D U A : R a h a s i a S i N e r d A U T U M N S U M M E R S NAMAKU MENYEBALKAN, and aku sudah tahu fakta itu selama aku hidup. Bahkan nama North West lebih baik daripada Autumn Summers. Satu-satunya hal bagus adalah aku tidak mendapat perundungan karena itu. Well, aku tidak mendapat perundungan secara keseluruhan karena aku seorang Queen Bee. Aku mengatur sekolah seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada yang berani merundungku. Tidak untuk namaku ataupun betapa kacaunya keluargaku. Ayahku, Thornton Summers, seorang bajingan tampan. Semua orang—dari penulis ma
B A B S A T U : M a t c h a n d G a s o l i n e Kilas Balik Tidak diketahui ( P e n j a h a t X ) Dua tahun lagi. Aku sudah setengah jalan dalam empat tahun penjara yang mereka sebut SMA. Aku bisa melakukannya, aku mengatakannya berulang kali seperti mantra ketika aku berjalan melewati pintu. Pandanganku menyapu kantin, semua murid sedang istirahat makan siang sekarang dan sepertinya seluruh bangku sudah terisi. Aku sedang tidak berselera untuk makan siang, tidak setelah berita mengejutkan yang kuterima pagi ini. Akan tetapi, satu hal yang kutahu tentang SMA adalah untuk tidak pernah menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya. Tidak peduli apa pun itu, orang-orang selalu men