"Dia tidak di rumah?" Kaivan mengerutkan kening~sedang berbicara lewat telpon dengan seorang kenalannya.Ricardo, dokter yang tak jauh berbeda usianya dengan Kaivan. Merupakan dokter yang Hansel temukan untuk rencana licik Kaivan. Katakan saja rencana licik, karena Kaivan memang ingin menjebaknya. 'Ya. Istri saya dan saya sendiri telah ke rumah anda. Tuan tahu apa jawaban kepala pelayan Tuan? Dia bilang tidak ada yang namanya Rachel Queenza di rumah itu.'Kaivan langsung memijit kening, rahangnya langsung mengeras dan maniknya seketika menggelap. 'Padahal saya dan istri saya sudah sangat antusias bertemu dengan Nyonya. Namun-- kami juga bingung, Tuan. Bagaimana bisa Nyonya di rumah ini, istri anda sendiri tidak diakui oleh maid di rumah anda?' Ada nada sedih bercampur kecewa pada akhir kalimat. "Humm." Kaivan mematikan sambungan telpon, langsung melempar kasar handphone tersebut ke lantai--membantingnya dengan kuat dan membuat handphone mahal tersebut hancur tak berbentuk. "Apa la
Beberapa minggu kemudian, Rachel, Alsya dan juga Melisa ke gedung pernikahan tempat dilaksanakan pesta pernikahan sahabat dari Melisa tersebut. Sudah sejak semalam mereka di sini, dan pagi sekali Rachel maupun Alsya sudah bangun--bantu-bantu persiapan pengantin perempuan. Namun untuk sekarang Rachel dan juga Alsya ikut dirias oleh MUA yang telah disewa. "Adikmu cantik banget kalau lagi di make up. Baby facenya jadi sembunyi dan bikin pangling loh, Mel. Ditambah kulitnya yang eksotis, dia makin cantik dan seksi. Aku jadi iri," celutuk pengantin perempuan tersebut, sedang memakai make up sekaligus makan disuap oleh Melisa. "Alahhh … kalau kamu lihat tingkah pecicilannya sama ke random-annya, kamu bakalan ngumpat mulu. Hilang cantik-cantik nih anak. Percaya deh." "Apa sih, Kak?" Rachel mendelik, menampar paha Melisa dengan sisir lalu memanyunkan bibir karena kesal dengan Kakaknya itu. Tiada hari tanpa menjelek-jelekkan Rachel heh? Atau … fungsi seorang Kakak di dunia emang hanya itu
Deg Jantung Rachel rasanya hampir copot, matanya membelalak lebar dan tubuhnya membeku di tempat. Tepat di belakangnya ada seorang pria yang sangat ia kenal betul sedang duduk dan tengah menatap tajam serta penuh aura intimidasi ke arah Rachel.Beberapa detik keduanya saling bersitatap, Rachel dengan tatapan takut serta panik dan Kaivan dengan tatapan marah serta penuh peringatan. Tak hentinya jantung Rachel berdebar. I--ini darurat dan bahaya. Bagaimana jika Kaivan mendengarkan pembicaraannya dengan Regal tadi?"Kaivan sayang, kau mengenal perempuan ini?" Tiba-tiba saja suara lembut mengalun dari sebelah Kaivan, sontak membuat Rachel menoleh ke arah pemilik suara tersebut. Manik Rachel menatap lamat ke arah perempuan cantik tersebut. Dia memakai dress navy, elegan dan modis di tubuhnya. Juga serasi dengan tuxedo navy yang kenakan. Seketika panik Rachel berubah menjadi perasaan sedih yang entah datang dari mana. Wajahnya murung dan tak enak, menatap wanita tersebut lalu bergantia
"Minum." Kaivan mendorong gelas ke arah Rachel, menyuruh perempuan itu kembali meminum pil-- menelan pil yang telah ada di mulut Rachel. Kali ini Rachel lebih menurut. Dia meminum air putih tersebut. Dia tidak akan melawan seperti sebelumnya, takut Kaivan kasar. "Good girl." Kaivan menyeringai tipis, memasang piyama berbentuk kimono lalu beranjak dari sana--meninggalkan Rachel yang duduk di ranjang, berbalut selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos. Rachel bangkit dari ranjang, menoleh sejenak ke arah kamar mandi. Merasa aman, Rachel melepehkan pil yang sebenarnya tak ia telan. Ia sembunyikan dibalik lidahnya. "Aku tak tahu ini pil apa, dan aku tidak akan mengonsumsinya," gumam Rachel, memasang handuknya lalu ikut masuk dalam kamar mandi. Bukan nekat masuk begitu saja. Tetapi itu perintah Kaivan padanya. ***"Kau menemani pria itu duduk hanya untuk mendapatkan uang segini?" Rachel membelalak, sontak berlari ke arah Kaivan dan merampas uang yang pria itu angkat tinggi.
Ceklek' Rachel melirik takut ke arah pintu kamar. Dia bisa melihat Kaivan masuk ke dalam kamar ini dengan langkah santai namun penampilan yang cukup berantakan. "Dia kenapa?" gumam Rachel diam-diam melirik Kaivan. "Ah, jangan peduli, Chel, jangan peduli!" ucapnya kemudian, masih bergumam pelan~mensugesti dirinya agar tak peduli pada keadaan Kaivan. Lagi-lagi karena sangat gugup dan takut, Rachel memilih memainkan game bubble shoot di HP-nya. Dia berupaya tidak peduli pada Kaivan, meski hatinya terus khawatir pada pria itu. Dan … dia juga berupaya untuk melupakan pertengkarannya dengan pria ini. Itu mengerikan! Hampir saja Kaivan kembali mengasarinya. Hampir!Dug'Rachel melirik hati-hati. Deg deg deg.'Jantungnya langsung berpacu dengan cepat, matanya melotot ke arah layar Handphone dan jempolnya asalan menelan layar. Beberapa kali kalah, tetapi Rachel terus mengulang. Dia benar-benar gugup dan tremor, Kaivan tiba-tiba duduk disebelahnya. "Ini." Pria itu merampas handphone Rache
"Sepertinya aku memilih untuk mencari pekerjaan yang perhari gitu deh. Supaya aku bisa ngumpulin uang dua puluh jutanya. Kalau cari pekerjaan yang gaji perbulan, ada yang dua puluh juta tapi nggak langsung gitu ajah--baru kerja langsung digaji dua puluh juta. Ya kali." Rachel bermonolog sendiri, berjalan dengan langkah ringan di lorong rumah. Kali ini dia ingin mencari pekerjaan lagi. Dia termotivasi oleh ucapan Kaivan semalam. Entah kenapa, Rachel merasa Kaivan sedang mendukungnya. Namun pria itu melakukannya secara diam-diam dan tak langsung. Mungkin Kaivan ingin Rachel lebih tangguh, membuktikan diri jika Rachel layak dan lebih berani lagi. 'Mas Kaivan bilang aku bisa memilih untuk mengabaikan Nenek Tapasya atau mendengarkannya. Tapi aku ingin membuktikan diri pada Nenek Tapasya itu jika aku bisa menghasilkan uang sendiri dan tidak bergantung pada Mas Kaivan. Aku bisa mandiri, aku bukan matre. Apalagi beban di sini. Aku wanita hebat dan cerdas, bukan wanita bodoh seperti yang se
"Coba saja Pak Kaivan mencintaimu, aku pasti mendukungmu. Tetapi ini … sekalipun kamu bertahan, kamu nggak akan dapat apa-apa, Chel. Hinaan, caci dan makian yang akan kamu terima dari keluarga doi." Alsya kembali menasehati. "Cukup kita jadi badut ayam, Chel. Jadi badut kehidupan jangan." Rachel lagi-lagi menoleh ke arah Alsya. Dia menganggukkan kepala sembari kembali tersenyum manis. "Aku merasa aku semakin lemah.""Aku juga merasakannya. Kamu lebih banyak melamun." "Menurutmu aku harus bagaimana, Al? Di satu sisi kamu dan Kak Melisa menyuruhku mundur saja, sedangkan di satu sisi Pak Kaivan mengancamku jika berani meminta cerai."Mendengar itu, Alsya membelalak tak percaya. Dia menatap sepenuhnya pada Rachel, bahkan memegang tangan perempuan itu. Dia benar-benar kaget. "Pak Kaivan me--mengancammu?" Rachel menghela nafas. "Aku juga tidak tahu itu ancaman atau tidak. Tapi tadi malam aku mencoba meminta damai, cerai maksudku. Dan …-" Rachel memilih menggantungkan kalimatnya. "Pak K
"Dia siapa, Kaivan?"Kaivan menoleh sebelahnya, mendapati Claudia sudah berdiri di sana. Kaivan di dalam kamar nya, duduk merenung sembari menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri. Mungkin karena terlalu larut dengan pikirannya sendiri, Kaivan tak menyadari jika sosok ini masuk dalam kamarnya dan kini berdiri di sebelah sisi ranjang~tepatnya di sebelah Kaivan. "Istrimu?" Claudia berkata lirih, menatap Kaivan dengan mata berkaca-kaca kemudian beralih menatap gadis cantik dan menarik tersebut dengan tatapan sayup dan sedih. "Humm." Kaivan berdehem sebagai jawaban. "Kau pulanglah," lanjutnya dengan nada datar, tanpa menoleh ke arah Claudia dan hanya menatap wajah Rachel yang masih pingsan. "Dia perempuan di pesta pernikahan Novan dan Ratih. Dia … duduk di depan kita saat itu, dan kau terus memandanginya. Aku pikir saat itu kau hanya berusaha membuatku cemburu karena itu kau melihat perempuan lain sedangkan aku di sebelahmu. Ternyata kau sedang melihat istrimu yang mengobrol d
Setelah mengusir orang tuanya dari kamar, Adera hanya diam murung di sana. Hingga tiba-tiba saja …-Ceklek' Pintu kamar Adera terbuka, memperlihatkan seorang pria menjulang tinggi di ambang pintu. Adera menghela napas pelan, berdecak kesal kemudian menatap sinis pada pria tersebut. "Ngapain Papa kemari?" sinisnya, membuang jauh pandangan lalu pura-pura fokus pada HP. Kebetulan HP Adera berada tak jauh darinya saat itu. "Hah." Hembusan napas berat terdengar keluar dari bibir Kaivan. Dia menatap putri bungsunya lamat, kemudian berjalan masuk untuk mendekat. "Papa ingin bicara padamu."Adera melirik sejenak, memilih cuek dengan bermain ponsel. Sayangnya, itu pengalihan karena pada kenyataannya Adera hanya men-scroll galeri ponsel. "Begini sikapmu jika berbicara dengan orang tua?" Saat itu juga Adera meletakkan HP ke atas meja. "Cik." Dia berdecak malas. "Tumben-tumbenan Papa ke sini menemuiku, pake acara sok sokan berbicara denganku lagi. Biasanya juga malas. Berpapasan denganku s
"Aku tidak punya uang. Minta," jawab Adera, mengulurkan tangan ke arah Davin tetapi dengan menatap lurus ke arah depan– enggan menatap pada pria dingin dan berbahaya tersebut. Davin menaikkan sebelah alis, menatap intens ke arah wajah jutek Adera. Cih, apa perempuan ini pikir dia menakutkan seperti itu? Tidak! She's so cute. Bahkan karena sangat menggemaskannya perempuan ini di mata Davin, rasanya Davin ingin sekali mencium Adera sampai perempuan ini kehabisan napas. Yah, ingin rasanya Davin mencuri napas perempuan yang duduk di sebelahnya ini. Davin mengeluarkan dompetnya lalu menaruhnya di atas telapak tangan Adera. Perempuan menggemaskan itu seketika menoleh ke arah Davin, menatap tak percaya pada Davin. Adera sedikit menganga, tercengang karena Davin memberikan dompet padanya. 'Eih, dikasih sumbernya langsung. Beneran ini?' batin Adera, menatap ragu pada dompet hitam berbahan kulit tersebut. "Beli apapun yang kau inginkan, Era," ucap Davin, menatap wajah cengang Kanza yang sa
"Kau masih yakin ingin memperistrinya?" Davin menganggukkan kepala, tersenyum penuh keyakinan pada Kaivan. "Semakin yakin, Uncle," jawabnya tanpa ragu. "Ah, yah. Aku sudah menghubungi Daddy-ku, mengatakan jika nanti aku pulang dengan membawa menantu untuknya. Dan Daddy setuju." "Hell." Kaivan mengumpat pelan, semakin frustasi karena mendengar penuturan calon menantunya, "tidak secepat itu juga. Cik, lagipula Adera-ku belum tentu menerimamu, Nak." Kaivan menyunggingkan smirk tipis. "Kau lihat sendiri, dia tidak peduli keberadaanmu," ejek Kaivan selanjutnya, mendapat tawa dukungan dari William dan Hansel. "Adera hanya malu-malu, Uncle," jawab Davin, menyunggingkan smirk tipis di bibirnya. "Ah terserah. Asal kau tidak memaksa putriku dan-- pernikahan itu hanya terjadi jika Adera setuju," ucap Kaivan tegas. Dalam hati dia sangat yakin jika putrinya tidak akan mau menerima Davin. Bukan tidak setuju Davin menjadi menantunya, malah dia merasa senang karena dia tahu Davin siapa dan menge
"Siap--" Ucapan Adera terhenti ketika melihat siapa orang yang berada di depan kamarnya– Davin Sbastian Lucas, pria yang ia takuti melebihi rasa takutnya pada Papanya sendiri. Davin mendorong pintu kamar Adera, masuk begitu saja dalam kamar perempuan yang telah sah menjadi calon istrinya tersebut. Langkah Davin berhenti tepat di depan sebuah cincin yang tergeletak mengenaskan di lantai. Davin mengambil cincin tersebut, kemudian menghampiri Adera yang masih berada di depan pintu. "Kau melempar cincin pertunangan kita?" ucapnya dengan mendekati perempuan itu, menutup pintu karena dia tahu Adera berniat kabur. 'Ah, sialan. Dia menutup pintu kamar ku. Yang benar saja dia mengurungku dalam kamarku sendiri,' batin Adera, terdiam dengan posisi tetap membelakangi Davin. Dia tidak mau menghadap pria ini karena dia takut– malu tak ada muka jika harus bersitatap dengan Davin. Bayang-bayang kejadian itu menghantui Adera. "Jawab, Era," ucap Davin pelan, nadanya rendah dan berat. Terkesan seks
"Ahahaha … tidak begitu, Tuan Kaivan. Anda salah paham. Niat kami kemari untuk membicarakan hubungan antara Gisella dan Danial ke jenjang yang lebih serius, agar … Danial bisa lebih memprioritaskan putriku dan putri-putri anda tidak mengganggu hubungan mereka lagi."Kaivan menaikkan sebelah alis, lagi-lagi menyunggingkan smirk tipis sembari menatap dingin ke arah Bagaskara. "Danial, kau masih ingin melanjutkan hubunganmu dengan putri dari Pak Bagaskara?" tanya Kaivan, tanpa menoleh ke arah putranya dan tetap menatap dingin ke arah Bagaskara. "Tidak, Pah," jawab Danial datar. "Apa-apaan kau ini?!" Tak terima mendengar jawaban kekasihnya, Gisella berdiri dan dengan marah langsung melempar tasnya ke arah Danial. Namun, dengan mudah Danial menangkisnya. "Aku serius padamu, tetapi kau …-!""Ini putrimu?!" Kaivan berdecis remeh. Bagaskara dan istrinya sontak saling bersitatap, sama-sama panik dan malu akibat ulah putri mereka. Dengan kesal Bagaskara menarik pergelangan tangan putrinya da
"Ada ribut apa ini?" tanya Kaivan yang tiba-tiba muncul di sana dengan Jake, William dan Hansel. Seketika itu juga mendadak ruangan itu terdiam. Tak ada suara sedikitpun di sana. "Diam?" Kaivan menatap bingung pada istri dan anak-anaknya. "Ah, tidak apa-apa, Mas. Hanya permasalahan anak-anak saja," jawab Rachel sembari tersenyum manis ke arah suaminya tersebut, "ouh iya, Mas ingin kopi kan? Tunggu, aku buatkan," tambah Rachel sembari berniat beranjak dari sana. Namun, langkahnya tiba-tiba tertahan. Tangannya dicekal oleh sang suami. "Ma--Mas," cicit Rachel pelan, menatap cekalan suaminya di pergelangan tangan kemudian beralih menatap Kaivan dengan air muka murung. "Kau tidak pandai berbohong, Ichi. Katakan, apa yang terjadi?!" tanya Kaivan pelan, berdesis dan berbisik pelan. Dia menatap penuh peringatan pada Rachel– tak suka jika istrinya ini menyembunyikan sesuatu darinya. "Jangan di sini," bisik Rachel pada Kaivan, kemudian dia melepas cekalan suaminya lalu beranjak dari sana.
Adera dengan santai mendorong kepala Yohan, agar menjauh dari wajahnya. "Jangan kedekatan juga, Cok," ucapnya santai. Setelah itu tanpa peduli dengan pandangan siapapun di sana, Adera mendekati Alden kemudian tanpa ba bi bu dia langsung menendang kuat perut pria itu. "Kamu!""Ade!"Adera mengabaikan mereka semua, menatap dingin ke arah Alden dengan tangan terkepal kuat. "Lo siapa ngancem-ngancem gue?!" ketus Adera. "Kak." Alden menoleh ke arah Kakaknya, meminta bantuan agar dia diselamatkan dari amukan Adera. Sial! Dia kita Adera takut dengan ancamannya. Untungnya Gisella memihak padanya, membantu Alden berdiri– di mana Alden sempat tersungkur karena tendangan Adera di perutnya. "Kamu siapa sih? Datang-datang nendang Alden," marah Gisella, berniat menampar Adera namun dengan santai Adera menangkis dan menghempas kasar tangan perempuan itu. "Adera," peringat Danial pada adiknya. "Kau kenapa lagi? Kenapa …-" "Diam, Kak," potong Adera cepat, meraih pergelangan tangan Dayana kemudia
Sreettt'Suara gesekan kursi dengan lantai terdengar, itu berlangsung tepat di sebelah Adera– membuat perempuan manis tersebut menoleh ke arah sebelah, walau hanya singkat dan cepat. Air muka Adera berubah kaku bercampur masam. Sial! Davin duduk di sebelahnya. 'Sialan! Sialan! Aku lupa kalau dia bakalan nginap di sini selama dua minggu. Anjir, ngapain dia duduk di sebelahku sih? Dari banyaknya kursi kosong di sini. Sebelah Dayana juga masih kosong.' batin Adera, mendadak tidak tenang karena Davin duduk di sebelahnya. Saat ini mereka akan makan malam bersama. Seperti biasa, Adera selalu duduk di sebelah Kakaknya-- Danial, di mana Danial duduk bersebelahan dengan Papa mereka yang duduk di kepala meja. Sedangkan Mama mereka serta Dayana duduk di seberang Danial dan Adera. Namun, ada satu tambahan orang di sini. Davin! "Rumahmu dan rumah Uncle tidak ada bedanya, jadi makan yang banyak," ucap Kaivan pada anak dari teman dekatnya dalam dunia bisnis. "Tentu, Uncle," jawab Davin sembari t
Seketika itu juga sontak Adera mendongak dengan air muka cengang-- hanya karena mendengar nama pria yang sangat-sangat dia hindari tersebut. Matanya langsung membelalak, pucat pias ketika melihat pria yang dia hindari tersebut ternyata memang ada di kamarnya– berada di sebelah Kakaknya. "Bagaimana, Humm?" tanya Danial, kembali untuk memastikan. Tangannya masih di atas kepala sang adik, mengelus pucuk kepala Adera dengan acak dan gemas. Ah, ekspresi kaget adiknya ini sangat menggemaskan. "Mama menyuruh kemari. Mama melarang Kakak membeli sepatu. Kata Mama kau punya banyak," lanjutnya. "Ya sudah," jawab Adera kikuk, menoleh cepat ke arah HP dan memilih melanjutkan game-nya. "Thanks, Sweety." Danial mengacak surai adiknya secara gemas, beranjak dari sana menuju wardrobe room sang adik. Sedangkan Davin, dia masih diam di tempatnya– menatap sebuah kotak coklat yang ia berikan pada Adera dengan tatapan sedang. Coklat pemberiannya dimakan oleh gadis ini dan sudah habis setengah. Gadis-ny