Home / Romansa / TAWANAN HASRAT SANG MAFIA / Bab 13 - Janji Elena

Share

Bab 13 - Janji Elena

Author: Farsheed Mo
last update Last Updated: 2025-01-15 21:44:26
Elena berdiri terpaku di tengah ruangan, tangannya gemetar saat meraih resleting gaun yang berada di punggungnya. Tubuhnya kaku, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Malu, takut, tapi Ini demi nyawa ibunya.

Perlahan, dia menurunkan resleting gaunnya. Udara dingin segera menyentuh kulit punggungnya, membuatnya bergidik. Gaun itu mulai melorot dari bahunya, hingga akhirnya jatuh ke lantai, menumpuk di kakinya. Kini tubuhnya hanya tertutup pakaian dalam.

Dia pejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup menatap pria yang kini berjalan mendekatinya. Nafasnya terdengar berat, hatinya berdebar kencang. Setiap langkah pria itu terdengar jelas.

Dia tahu pria itu sudah berdiri di depannya, hanya berjarak beberapa inci darinya. Tangan Alvaro yang besar dan kuat terulur perlahan, menyentuh pipinya dengan lembut.

Elena terkejut, namun tak berani membuka matanya. Dia hanya bisa berdiri di sana, dengan tubuh gemetar karena rasa takut menanti apa yang akan dilakukan Alvaro padanya.

Jari-jari Alvaro ya
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 14 - Kompromi

    Elena membeku, tubuhnya terasa berat. Kata-kata Jose masih menggema di telinganya, menyesakkan dada. Kejadian di kamar Alvaro beberapa jam lalu berputar di benaknya, menyisakan perasaan takut dan bingung. Tapi, tak ada waktu untuk menghindar. Pria itu menunggunya.“Baik, saya akan segera ke sana,” jawabnya pelan, mencoba menenangkan diri.Elena bangkit perlahan, menggenggam erat gaun tidur tipis yang membalut tubuhnya. Naluri ingin lari begitu kuat, tapi dia tahu itu mustahil. Dia sudah berjanji. Setelah menarik napas panjang, dia melangkah keluar dengan langkah ragu.Mansion terasa sunyi, langkah kakinya bergema di koridor panjang. Setiap detik serasa menekan. Di depan pintu kamar Alvaro, dia berhenti. Tangannya terulur, tapi gemetar saat hampir menyentuh gagang pintu.“Masuk,” suara Alvaro tiba-tiba terdengar dari dalam, membuatnya terkejut. Seolah pria itu tahu dia ada di sana.Elena mendorong pintu dengan hati-hati. Di dalam, Alvaro duduk santai di sofa. Kemeja putihnya terbuka di

    Last Updated : 2025-01-17
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 15 - Jadi Wanitaku

    Elena bangun lebih pagi. Sengaja, dia memilih salah satu gaun yang dibelikan Alvaro. Pilihannya jatuh pada gaun berwarna krem dengan potongan yang pas di tubuhnya. Setelah memastikan penampilannya, Elena turun ke dapur. Para pelayan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan langsung terkejut melihatnya.“Nyonya Elena, ada yang bisa kami bantu?” salah satu dari mereka bertanya, terlihat bingung dengan kehadiran Elena.“Tidak, Saya hanya akan membantu menyiapkan makanan Tuan,” jawab Elena dengan nada tenang.Pelayan-pelayan itu saling pandang dengan ragu. “Tapi, Nyonya, ini tugas kami. Anda tidak perlu repot-repot.”Elena hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Saya ingin melakukannya sendiri.”Tanpa menunggu jawaban lagi, Elena mulai mengatur piring dan mempersiapkan hidangan untuk Alvaro. Meski beberapa pelayan mencoba membujuknya untuk berhenti, dia tetap bersikeras melanjutkan pekerjaannya. Tangannya cekatan menyusun makanan di atas meja makan dengan rapi.Tak lama kemudian, langkah berat

    Last Updated : 2025-01-17
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 16 - Dasar Wanita Jalang!

    Elena keluar dari kamar mandi, dengan berbalut handuk. Dia mengendap-endap memastikan Alvaro tidak ada di kamar ini. Langkahnya terhenti ketika matanya jatuh pada sebuah gaun yang terhampar di atas tempat tidur. Gaun merah marun dengan desain mewah yang elegan. Potongan kerah berbentuk hati, bagian bawah menjuntai anggun dengan belahan tinggi di satu sisi. Di sampingnya, ada secarik kertas kecil. Pakai ini! -Alvaro Elena mendengus. Membaca tulisan itu, dia langsung tahu bahwa itu dari Alvaro. Dia mengangkat gaun itu, memeriksa detailnya. Tanpa sadar, sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya. Gaun ini indah, terlalu indah untuk ditolak. Setelah mengenakan gaun itu, Elena berdiri di depan cermin besar. Gaun tersebut membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia benar-benar tak menyangka, sebuah gaun mahal bisa mengubah dirinya menjadi terlihat begitu berbeda. Meski juga ada sedikit gugup ketika memikirkan reaksi Alvaro nanti. Saat sedang merapikan rambut,

    Last Updated : 2025-01-19
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 17 - Sentuh Aku

    Elena tersenyum tipis, melihat ekspresi kekesalan yang tercetak jelas di wajah Delisa. sebenarnya dia tak ingin menyakiti siapapun, tetapi sikap dingin Delisa padanya, membuatnya kesal. Itu membuat Elena, sedikit memanfaatkan posisinya di pesta ini. “Elena, calon istri Alvaro,” kata Elena, sambil mengulurkan tangan ke Delisa. Elena sengaja membuat nadanya terdengar dibuat-buat, dia pun menunjukkan sikap sebagaimana dia bertindak seperti calon istri Alvaro yang sebenarnya. Bahkan wanita itu tak merasa risih saat mengalungkan kedua tangannya di leher Alvaro, menatap penuh cinta dengan senyum mesra pada pria yang selalu dia hindari itu. Sedangkan Alvaro, hanya menatap penuh arti, dengan senyum samar menikmati semua permainan yang dilakukan Elena. “Saya akan pergi, ambil minum, “ kata Delisa, mengabaikan uluran tangan Elena dan pergi. Elena berdecih, tetapi dia tersenyum puas karena merasa menang. Tingkah nakal Elena itu membuat Alvaro gemas, hingga memukul pantat wanita itu.

    Last Updated : 2025-01-19
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 18 - Obat Perangsang, Sialan!

    Elena menyelipkan tangannya ke belakang leher Alvaro, menariknya hingga jarak di antara mereka tak lagi ada. Dia mencium bibir Alvaro dengan penuh hasrat kembali, hingga membuat pria itu lupa akan janjinya. Alvaro memeluk Elena erat, membalas ciumannya dengan penuh intensitas. Saat Alvaro hendak melangkah lebih jauh menjelajah tubuh Elena, suara Jose terdengar dari luar. Alvaro tersentak, menghentikan aksinya. Dia menjauhkan wajahnya, menahan rintihan Elena yang masih menginginkannya. "Tuan, saya membawa dokter seperti yang Anda minta." Alvaro segera berdiri, dia mengatur napasnya, untuk meredam gejolak di dalam dirinya. Sesaat dia menatap Elena yang masih menggeliat gelisah, dengan desahan yang menggelitik hasrat Alvaro. “Shit!” Dia berjalan ke pintu dan membukanya dengan cepat. Jose berdiri bersama seorang pria berusia sekitar lima puluhan dengan jas putih, membawa tas medis kecil di tangannya. "Dokter akan memeriksa Nyonya Elena," jelas Jose. "Masuk," ujar Alvaro singka

    Last Updated : 2025-01-19
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 19 - Prasangka

    “Elena! Buka sekarang!” Alvaro menggedor pintu kamar Elena keras. .Di dalam kamar, Elena duduk diam di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. Gedoran semakin keras, membuatnya tak punya pilihan. Dengan napas bergetar, dia melangkah ke pintu dan membukanya perlahan.Begitu pintu terbuka, Alvaro langsung masuk, menutup pintu dengan keras. Dia berdiri tegak di depan Elena yang kembali duduk di tepi tempat tidur.“Apa maumu?” suara Alvaro dingin, kedua tangannya berkacak pinggang.“Aku hanya ingin sendiri,” jawab Elena, tidak berani menatapnya.“Sendiri?” ulang Alvaro mendekat, berdiri tepat di depannya.“Kenapa kau peduli?” balas Elena dengan nada bergetar.Alvaro menunduk sedikit, menatap Elena tajam. Netranya melirik ke atas meja, di mana telah tersaji makanan untuk Elena. “Keras kepala!” Olok Alvaro.“Ini semua karenamu! Kamu tidak bisa memegang u…” jawab Elena terputus. Karena sebelum Elena menyelesaikan kalimatnya, tanpa aba-aba, pria itu tiba-tiba menangkap wajah Elena dengan ke

    Last Updated : 2025-01-22
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 20 - Tak Seburuk itu

    Elena duduk diam di kursi belakang mobil, sambil menatap jendela. Langit biru yang cerah dan hiruk-pikuk kota tidak cukup menarik perhatiannya. Pikirannya masih berputar pada kejadian semalam. Dia mencoba mengingat apapun yang bisa diingat, tentang kejadian semalam. Tetapi sekeras apapun dia mencoba, dia tak bisa mengaitkan potongan-potongan ingatan yang muncul di ingatannya itu. Meski dia tak yakin telah terjadi sesuatu, tapi kenapa Alvaro tak menjelaskannya dengan jelas. Sedangkan dirinya, sudah terlanjur panik dan menuduh pria itu. Siapapun pasti akan shock mendapati dirinya yang tak mengenakan sehelai benang pun dengan pria yang tertidur di sampingnya. Apalagi pria itu, selalu mengincar kesuciannya itu. “Apakah aku keterlaluan dengannya?” batin Elena, sambil menggigit ujung kuku. Dia melirik Jose yang sedang fokus menyetir. Sesuatu dalam hatinya mendorongnya untuk bertanya pada pria yang kini sedang fokus menyetir. barangkali, pria ini tahu sesuatu tentang kejadian semalam

    Last Updated : 2025-01-22
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 21 - Hadiah Spesial

    Elena segera masuk ke toko barang antik itu. Aroma kayu tua dan debu memenuhi ruangan, tetapi ada sesuatu yang hangat dan menarik dari tempat ini. Mata Elena menyapu deretan barang-barang kuno yang berjajar rapi. Pandangannya berhenti pada sebuah benda yang dipajang di sudut ruangan. “Ini dia,” gumam Elena, sambil berjalan mendekat. Seorang pria tua yang sepertinya pemilik toko muncul dari balik rak. “Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” “Bisa saya lihat itu,” kata Elena sambil menunjuk benda di sudut ruangan yang menyita perhatiannya. “Tentu saja!” Pemilik toko itu, melangkah mendekat dan mengambil barang yang diminta Elena. Elena tersenyum, tetapi tak lama wajahnya memucat saat pria itu mengatakan harga barang itu. “Lima ribu dolar, ini barang antik buatan tangan dengan detail yang sangat rumit,” kata pemilik toko itu dengan nada percaya diri. “Boleh kurang?” tanya Elena, penuh harap. Pemilik toko tersenyum ramah, tetapi tegas menolak. “Maaf, Nyonya

    Last Updated : 2025-01-23

Latest chapter

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 56 - Tuduhan Palsu

    “Apa? Tidak mungkin!” sanggah Alvaro. Dalam beberapa bulan terakhir ini, hanya Elena wanita yang dia sentuh. Bagaimana bisa Delisa hamil. Alvaro memejamkan mata, mencoba mengingat siapa saja wanita yang dekat dengannya. Tetapi tak ada dalam ingatannya dia pernah menyentuh Delisa sekalipun. Yang ada, wanita itu yang agresif mendekatinya tetapi selalu berhasil dia gagalkan. “Jangan berkelit lagi, nikahi Delisa.” Alvaro tertawa sinis, “sampai kapanpun, tidak!” Alvaro masih teguh dengan pendiriannya. Terlebih lagi dia tidak pernah merasa menyentuh Delisa. Jelas ada sesuatu yang tidak beres. Wanita itu pasti ingin menjebaknya. “Beraninya dia,” gumamnya. “Kepala pelayan, tunjukkan video itu.” Kepala pelayan mengambil sebuah ponsel di atas meja dan kemudian mendekat ke Alvaro. Lalu dia memberikan ponsel itu pada Alvaro. Garis bibir Alvaro tertarik ke dalam. Sekarang dia benar-benar merasa yakin bahwa ini salah satu akal bulus Delisa untuk menjebaknya. “Video ini sudah di edit.” “Apakah

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 55 - Ternyata pernikahan palsu

    “Apa isi dokumen itu?” kata Kakek. Pria tua itu berdiri, dan menarik dokumen dari tangan Vincent. Elena sendiri hanya bisa menatap kedua orang yang sedang saling berebut dokumen itu. Sesaat wanita itu melirik Alvaro yang sedang menahan senyum di sampingnya. “Kira-kira apa isi dokumen itu?” batin Elena.“Lepaskan Vincent!” teriak Kakek. Tangannya menarik paksa dokumen dari tangan Vincent, terlihat jelas bahwa Vincent sangat tidak ingin Kakek mengetahui isi dokumen itu. Begitu Kakek melihat dokumen yang ada di map itu, dia seperti terpukul. Dia mundur satu langkah, dan terduduk lemas. “Vincent beraninya kau! Kau membohongiku selama ini?” Wajah Kakek sudah merah karena amarah. “Ampun Kek, ini semua bohong. Ini hanya rekayasa bajingan ini.”Vincent masih saja berkelit, dan tidak mengakui kesalahannya. “Maaf Kek, bisa saya lihat dokumen itu?” tanya Elena, penasaran. Bagaimanapun juga ini berhubungan dengan hidupnya. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kau tidak tahu tent

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 54 - Bajingan, Kau!

    Keesokan paginya, Elena sudah di dapur. Dia memang sengaja bangun lebih dulu karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Alvaro. Berbeda dengan di Mansion, di Penthouse ini tidak ada satu pun pelayan. Tetapi, entah kenapa Elena merasa senang di sini. Di Mansion dia merasa seperti tahanan. Elena memasak dengan sesekali bergumam lagu kesukaannya. Sampai kemudian…“Ah!” pekik Elena, kaget. Saat Alvaro memeluknya dari belakang. Kepalanya menyusup di leher Elena. “Kau membuatku kaget, untung aku tidak memukulmu pakai ini.”Elena mengangkat alat untuk menggoreng ke atas. Tetapi sepertinya ucapannya tak berpengaruh pada pria ini. Alvaro memutar tubuh Elena menghadapnya, lalu menatapnya dengan kedua tangan mengukung tubuh wanita itu. “Kenapa tak membangunkanku?” tanya Alvaro, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Alvaro mengubah posisi kepalanya yang semula miring ke kiri jadi ke kanan. Seolah menuntut penjelasan atas pertanyaannya itu. Tetapi tatapannya masih intens ke Elena.

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 53 - Makan Malam

    Bug! Pukulan demi pukulan diberikan Alvaro pada Vincent. Hingga pria itu tak sempat berdiri. Pria itu terlihat begitu marah. Kini Alvaro sudah diatas tubuh Vincent, bersiap untuk memberikan bogem mentah kembali. Vincent sudah terkapar tak berdaya di lantai, wajahnya babak belur.Elena berusaha bangkit, meskipun dia sangat membenci Vincent, dia tak mau melihat siapapun mati karenanya. Elena menahan tangan Alvaro.“Hentikan,” kata Elena, sembari menggelengkan kepalanya.Alvaro menoleh, melihat Elena yang terlihat lemas. Dia berdiri, lalu menatap Elena dengan cemas.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alvaro. Kedua tangannya dan netranya melihat seluruh tubuh Elena. Seolah memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.Elena mengangguk. “Aku ingin pulang,” kata Elena, suaranya lemah. “Jose bereskan sisanya.”“Baik Tuan.”Alvaro segera mengangkat tubuh Elena ala bridal style dan membawanya ke mobil. Dia perlahan menurunkan Elena ke jok penumpang. Lalu duduk di sebelahnya. Dia mengambil kotak obat

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 52 - Seribu Kali Lebih Baik

    Tetapi Elena memikirkan ancaman Vincent, meskipun sekarang ibunya dalam penjagaan anak buah Alvaro. Tetapi, Vincent orang yang licik. Dia bisa saja melakukan apapun untuk menyakiti ibunya. Tangan Elena terkepal. “Aku harus menemuinya, dan mengetahui apa maunya.”Elena melihat sekitarnya, Alvaro sudah pergi beberapa saat yang lalu. Bagaimana jika Vincent memaksanya ikut dengannya. Elena segera bangkit. Dia menuju dapur, dia mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai pelindung. “Sepertinya ini cukup,” kata Elena, tangannya menggenggam pisau dapur kecil. Lalu dia kembali ke kamar dan menyimpan pisau itu di tasnya. Dia membawa tas itu bersamanya, dan pergi keluar untuk menemui Vincent. Tidak perlu waktu lama, Elena sudah sampai di alamat yang diberikan Vincent padanya. Di depannya sebuah rumah makan mewah yang tidak jauh dari kawasan Penthouse Alvaro. Elena tetap waspada, dia kenal betul watak suaminya itu. Elena masuk ke rumah makan itu, dia melihat sekitar. Hanya ada beberapa tam

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 51 - Apa Maumu?

    “Aku harus berpisah dulu, untuk itu,” batin Elena. Tetapi dia tak ingin memprovokasi pria disebelahnya. Karena itu, dia memilih diam. Selain itu, bayangan wajah Don yang terlihat sangat marah terus menghantui benaknya. Pria tua itu jelas kecewa setelah Alvaro menolak permintaannya untuk menikahi Delisa. Sejak meninggalkan rumah Don, Elena tak banyak bicara, bahkan setelah mereka sampai di gedung penthouse Alvaro. Alvaro, yang sejak tadi memperhatikan Elena, akhirnya tak tahan untuk bertanya. "Ada yang mengganggumu?" suaranya dalam, penuh ketertarikan. Elena tersentak saat merasakan sentuhan hangat di pundaknya. Dia menoleh, menatap pria itu dengan ragu. "Aku hanya kepikiran dengan ayahmu... apakah sikap kita tadi tidak membuatnya semakin sakit?" Alvaro menarik sudut bibirnya ke dalam, lalu memegang kedua pundak Elena dengan lembut. "Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," katanya, seolah ingin menghapus keraguan dari mata Elena. "Syukurlah kalau begitu," gumam Elena pelan. Mereka

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 50 - Menikahimu

    Elena melihat kontrak perjanjian yang ditawarkan Alvaro saat di Penthouse tadi. Tetapi hatinya masih sedikit ragu, dia mungkin akan bisa lepas dari genggaman Vincent tapi hidupnya akan terikat dengan pria di depannya sekarang entah sampai kapan. “Tanda tangani, dia tak akan mengganggumu lagi.” Nada bicara Alvaro terdengar memaksa, tetapi juga sangat serius. “Tapi…haruskah aku?” Elena mencoba mengatakan sesuatu tetapi sebelum dia menyelesaikan bicaranya, Alvaro berbicara. “Menikah denganku, sebagai imbalannya.” Kepala Alvaro mengangguk, seolah mengerti apa yang akan dia bicarakan. Elena terdiam, menatap kontrak di tangannya. Dia memikirkan segala yang mungkin bisa terjadi. Alvaro terlihat menghela napas, lalu berkata dengan nada dingin. “Aku pilihan terbaikmu.” Elena mengangkat wajahnya, menatap pria itu. “Kenapa kau begitu yakin?” Alvaro mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Elena tanpa ragu. “Aku bisa melindungimu dari Vincent.” Elena terdiam, merem

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 49 - Vincent Brengsek

    Elena menegang saat melihat layar ponselnya. Video call dari Vincent membuat nafasnya tercekat, tetapi yang benar-benar membuat darahnya membeku adalah pemandangan di balik layar. Vincent berdiri di kamar rumah sakit ibunya, jari-jarinya dengan santai menyentuh alat bantu pernapasan yang menopang hidup wanita itu. “Apa yang kau lakukan?!” suara Elena bergetar, panik. Vincent hanya menyeringai. "Kau tahu, Elena, aku bisa membuat semuanya berakhir sekarang juga," katanya santai, sementara jemarinya melayang di atas alat bantu itu, seolah siap mencabutnya kapan saja. Elena hendak berteriak, tetapi panggilan itu tiba-tiba terputus. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melompat dari tempat duduknya dengan napas terengah-engah. "Aku harus pergi!" Alvaro yang duduk di sofa, menatapnya tajam. "Ada apa?" “Vincent—dia—dia mengancam akan membunuh ibuku sekarang!” suara Elena nyaris putus asa. "Aku harus ke rumah sakit!" Tanpa banyak bertanya lagi, Alvaro berdiri. "Aku antar." Mereka be

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 48 - Menikah Denganku

    Siapa yang tidak kenal dengan kawasan elite di pusat kota ini. Kawasan bisnis di jantung kota yang letaknya sangat strategis, dekat dengan rumah sakit, perusahaan besar dan hunian prestige yang mewah. Dulu Elena ingin sekali tinggal di salah satu apartemen kawasan ini, karena dia tidak perlu jauh dari ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Tetapi Vincent selalu menolak, bukan dengan alasan harga apartemen yang mahal. Tetapi lebih karena Vincent menganggap Elena tak pantas tinggal di sana. Tetapi hari ini dia bahkan menginjakkan kakinya di penthouse termahal di gedung ini karena Alvaro. Hal ini membuat Elena semakin menyadari kebodohannya selama ini. Karena selalu tulis melayani Vincent dengan harapan pria itu akan menganggapnya sebagai seorang istri. Tetapi ternyata, bagi Vincent, dia tak lebih dari barang dagangan yang bisa dilempar kesana kemari. Karena itu, tekadnya semakin bulat untuk berpisah dengan bajingan itu. “Silakan Nyonya Elena,” kata Jose. Elena tersadar dari lam

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status