Melangkah cepat di lorong yang gelap, Dante merasakan ketegangan yang belum juga surut meski mereka telah mengalahkan para penyerang. Ada perasaan yang lebih berat menghinggapi dirinya, seperti bayangan tak terlihat yang mengikuti mereka. Di setiap sudut ruangan dan setiap langkah yang mereka ambil, ada ancaman yang terus mengintai. Bahkan Ayra dan Elena merasakannya, meskipun mereka tidak mengungkapkannya dengan kata-kata. "๐ฟ๐๐ฃ๐ฉ๐," suara Elena terdengar, lembut, namun ada ketegangan yang menyertai kata-katanya. "Kau yakin kita akan aman di tempat ini?" Dante menoleh, matanya tetap waspada, meski senyum tipis terukir di bibirnya. "๐ผ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ช. ๐๐๐ฅ๐ ๐ ๐๐ฉ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐ฅ๐๐ก๐๐๐๐ฃ ๐ก๐๐๐ฃ." Ayra berjalan di sampingnya, dan meski sikapnya tampak tegar, ada sesuatu dalam matanya yang menunjukkan ia juga merasakan hal yang sama. "๐ ๐๐ ๐ ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ข๐ช๐ฃ๐๐ช๐ง ๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐ ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ ๐๐ฉ๐ ๐ฉ๐๐ง๐ก๐๐ก๐ช ๐ ๐ช๐๐ฉ, ๐ข๐๐ง๐๐ ๐
Lorong bawah tanah itu masih menggema dengan sisa suara ledakan dan benturan. Dante memimpin jalan, tubuhnya tegang, tapi tatapannya tajam seperti biasa. Di belakangnya, Ayra berusaha menyeimbangkan langkah di antara puing-puing, sementara Elena tak henti-hentinya menoleh ke belakang, memastikan tidak ada ancaman yang mengejar mereka. "๐ฟ๐๐ฃ๐ฉ๐, ๐๐ฅ๐ ๐ ๐๐ช ๐ฎ๐๐ ๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ข๐ฅ๐๐ฉ ๐๐ฃ๐ ๐๐ข๐๐ฃ?" Ayra akhirnya bersuara, suaranya rendah tapi jelas menyimpan keraguan. Dante tidak langsung menjawab. Ia berhenti di depan sebuah persimpangan, menatap dua jalan berbeda di hadapannya. Tangannya menyentuh dinding dingin, mencari tanda-tanda petunjuk. "๐ผ๐ข๐๐ฃ ๐๐ฉ๐๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ , ๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐ฉ๐ช-๐จ๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ก๐๐ฃ ๐ ๐๐ฉ๐ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง," gumamnya, setengah pada dirinya sendiri. Elena menarik napas panjang, menahan rasa frustrasi yang mulai muncul. "๐ผ๐ ๐ช ๐๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐๐ช, ๐๐ฅ๐ ๐ ๐๐ฉ๐ ๐๐ ๐๐ฃ ๐ข๐๐ฃ๐๐ข๐ช๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ฌ๐๐๐๐ฃ ๐๐๐จ๐๐ฃ๐? ๐ผ๐ฉ๐๐ช ๐ ?
Fajar menyingsing dengan langit berwarna jingga, menyelimuti Kota Bawah dalam keheningan yang jarang terjadi. Dante berdiri di tepi gang sempit, memandangi peta digital di tangannya. Sekilas, pikirannya melayang pada Marcus. Apakah temannya itu masih hidup? Ataukah Marcus telah kehilangan dirinya sepenuhnya, menjadi boneka organisasi? Ayra dan Elena muncul dari bayangan di belakangnya, keduanya membawa perlengkapan yang diperlukan untuk perjalanan ini. Ayra, dengan wajah penuh tekad, menyentuh lengan Dante. "Kita siap." Dante menoleh dan mengangguk. "Baiklah. Kita berangkat sekarang. Tidak ada jalan kembali." Elena menghela napas panjang, memastikan senjata kecil di pinggangnya siap digunakan. "Pastikan kau tidak membiarkan emosi menguasaimu, Dante. Kali ini, kita butuh kepala dingin." "Aku tahu," jawab Dante, meski jauh di dalam dirinya, ia tahu itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Perjalanan melalui hutan menuju fasilitas utama tidak hanya melelahkan secara fisi
Malam itu, di bawah gelapnya langit tanpa bintang, Dante berjalan melewati lorong-lorong yang sepi. Ayra berada di sampingnya, tangannya masih memegang senjata, siap menghadapi apa pun. Elena, di sisi lain, tampak kelelahan. Ia berusaha menjaga jarak dengan keduanya, tetapi ada sorot keraguan dalam matanya. "Kita tidak bisa terus seperti ini," gumam Elena pelan. "Mereka akan selalu menemukan kita." Dante berhenti, menoleh ke belakang. Tatapan matanya tajam, namun penuh rasa bersalah. "Aku tahu. Tapi menyerah bukan pilihan, Elena." Ayra mendengus pelan. "Dia benar. Kalau kita berhenti sekarang, kita hanya memberi mereka kesempatan untuk menang." Namun Elena tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan. Ketegangan di antara mereka semakin terasa saat mereka memasuki ruangan kecil yang menjadi tempat persembunyian sementara. Dante duduk di sudut ruangan, menatap peta
Hujan mulai turun ketika Dante, Ayra, dan Elena akhirnya tiba di sebuah gua yang tersembunyi di lereng bukit. Nafas mereka memburu, tubuh lelah dan basah kuyup. Dante memimpin masuk ke dalam gua dengan senjata terangkat, memastikan tempat itu aman. Ayra menutup pintu masuk dengan ranting besar yang mereka temukan di perjalanan, memastikan tidak ada jejak yang terlalu jelas. Sementara itu, Elena hanya berdiri di tengah gua, pandangannya kosong, tetapi tangannya menggenggam alat kecilnya dengan erat. "Kita tidak bisa terus seperti ini," gumam Dante, memecah keheningan. Suaranya datar, tapi cukup tajam untuk membuat Ayra menoleh dengan ekspresi tak percaya. "Apa maksudmu?" Ayra bertanya, meski dia tahu Dante tidak sedang berbicara kepadanya. Dante menatap Elena, matanya menuntut penjelasan. "Elena, ini sudah terlalu jauh. Kau harus memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi. Siapa kau, dan kenapa mereka tidak pernah berhenti mengejar kita?" Elena tidak langsung menjawab. Ia hanya
Hutan yang mereka masuki terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada desau angin atau nyanyian burung malam, hanya suara langkah kaki mereka yang tenggelam dalam dedaunan basah. Dante memimpin rombongan kecil itu dengan ekspresi yang tak bisa diterka. Ayra berjalan di belakangnya, menggenggam erat senjata kecil di tangannya, sementara Elena berada di belakang, menutup barisan dengan waspada.Ketegangan melingkupi mereka, seperti kabut yang tak kasat mata namun pekat."Apakah menurutmu ledakan itu disengaja untuk mengalihkan perhatian kita?" suara Ayra memecah keheningan.Dante tidak menjawab segera. Dia berhenti sejenak, matanya menatap lurus ke depan, menyapu kegelapan di antara pepohonan. Akhirnya, dia berkata pelan, "Entah itu untuk mengalihkan perhatian, atau mungkin peringatan bagi kita.""Peringatan?" Elena mendekat, wajahnya penuh tanya. "Siapa yang mencoba memperingatkan kita, dan untuk apa?"Dante menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu. Tapi kita tidak bisa mengabaikan kemungki
Matahari mulai terbit di ufuk timur, menyinari gurun yang tampak tak berujung. Angin hangat membawa debu halus yang menyapu wajah-wajah lelah. Dante berdiri di puncak bukit pasir, tatapannya tajam mengamati horizon yang kosong. Di belakangnya, Ayra dan Elena sibuk mengemas perlengkapan, sementara Finn tampak termenung di sudut, masih mencoba memulihkan diri."Kita bergerak sekarang," suara Dante memecah keheningan.Ayra menoleh, matanya sedikit menyipit karena sinar matahari. "Apakah kita punya cukup air dan makanan untuk perjalanan sejauh ini?"Elena menjawab dengan cepat, suaranya tegas namun lembut. "Aku sudah menghitungnya. Jika kita bergerak dengan kecepatan stabil, persediaan kita cukup sampai ke tujuan. Tapi tidak ada ruang untuk kesalahan."Dante mengangguk, lalu menatap Finn. "Apakah kau cukup kuat untuk berjalan sejauh itu?"Finn menatap balik dengan mata penuh tekad. "Aku harus kuat. Aku yang membawa kalian ke sini, dan aku akan membantu membawa kita keluar dari neraka ini.
Malam jatuh dengan keheningan yang nyaris mencekam. Gua kecil yang mereka pilih sebagai tempat persembunyian terasa seperti perangkap. Hembusan angin malam membawa aroma tanah basah, bercampur dengan samar bau logam dari luka-luka mereka.Dante bersandar di dinding gua, memandang keluar dengan tatapan yang kosong namun penuh waspada. Bayangan tubuhnya memanjang di lantai gua yang berkerikil, bergoyang lemah mengikuti nyala api kecil.Di sudut lain, Ayra membersihkan panah dengan gerakan pelan, namun setiap gesekan kain pada kayu seolah meluapkan ketegangan yang memenuhi udara. Elena, dengan wajah serius, memeriksa luka Finn. Jemarinya bekerja cepat, namun sentuhan lembutnya menunjukkan rasa khawatir yang tidak terucap."Apa kau masih memikirkan itu?" suara Ayra memecah keheningan.Dante menghela napas, tidak menoleh. "Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Benda itu terlalu berbahaya jika dibiarkan."Elena menghentikan pekerjaannya sejenak, pandangannya tertuju pada tas kulit yang ter
Malam itu, langit dihiasi ribuan bintang yang berkelap-kelip, seakan menjadi saksi dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Dante berdiri di tepi tebing, menatap ke kejauhan. Angin dingin menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di belakangnya, Elena dan Ayra berdiri dengan ekspresi berbedaโAyra dengan tatapan lembut, sementara Elena menatap Dante dengan ragu. "Apa yang kita cari selama ini akhirnya ada di depan mata," ucap Ayra, suaranya nyaris seperti bisikan. Dia melirik Elena sebelum kembali menatap Dante. "Semua ini hanya tentang pilihan." Dante menarik napas panjang, dadanya terasa berat. Pilihan. Satu kata sederhana yang membawa beban tak terhingga. Semua kenangan, perjuangan, dan kehilangan selama perjalanan ini berputar di pikirannya. "Ini bukan hanya soal pilihan," jawab Dante akhirnya Dante berbalik, wajahnya diselimuti kerut keseriusan. Mata Elena dan Ayra saling bertemu, seperti ada yang mereka coba ungkapkan, namun belum sepenuhnya bis
Mentari pagi memancarkan sinar hangatnya, menyusup di antara tirai jendela rumah Dante dan Ayra. Udara terasa segar, membawa harapan baru. Di meja makan, Ayra sudah sibuk menata sarapan. Aroma kopi bercampur dengan harum roti panggang memenuhi ruangan.Dante muncul dari lorong, mengenakan kaus santai dan celana pendek. Ia menghampiri Ayra, melingkarkan tangannya di pinggangnya dengan lembut. "Pagi, cantik," bisiknya dengan suara berat yang masih terasa hangat dari tidur.Ayra tersenyum, mengaduk teh di cangkirnya. "Pagi juga. Tidurmu nyenyak?""Nyenyak. Tapi aku lebih suka begini, bangun pagi dan melihatmu." Dante mencium pipi Ayra sekilas sebelum duduk di kursi meja makan.Ayra menggeleng, tawa kecilnya melayang di udara. "Kau tahu cara membuat hari seseorang jadi lebih cerah, ya?"Dante hanya tersenyum lebar, lalu mulai menyantap sarapannya. "Apa rencanamu hari ini?"Ayra duduk di depannya, menyesap teh hangat. "Aku ingin
Langit malam menghamparkan taburan bintang yang membisikkan ketenangan. Dante berdiri di beranda rumahnya, memandang jauh ke cakrawala. Pikirannya melayang pada pertemuan terakhir antara Ayra dan Elena. Sebuah akhir yang damai, tetapi baginya, itu juga menjadi awal baru."Masih belum bisa tidur?" Ayra muncul dari balik pintu, membawakan secangkir teh hangat. Ia mengenakan sweater rajut yang longgar, rambutnya dibiarkan tergerai.Dante tersenyum kecil, menerima cangkir itu. "Aku hanya berpikir... tentang semua yang telah terjadi."Ayra berdiri di sampingnya, ikut memandang langit malam. "Kadang sulit dipercaya, bukan? Bahwa kita masih di sini, bersama, setelah semua yang kita lalui."Dante menatap Ayra, matanya mengandung kehangatan. "Aku selalu percaya kita bisa melewati semuanya, Ayra. Karena aku tahu... kau adalah rumahku."Ayra tertegun mendengar kata-kata itu. Ia menatap Dante, merasa hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan yang hang
Angin pagi meniupkan kesejukan yang lembut saat Dante memarkir mobilnya di depan rumah Ayra. Langit masih pucat, pertanda matahari baru saja bangkit dari tidurnya. Dante keluar, membuka pintu untuk Ayra, yang tampak sedikit lelah tetapi tetap bersemangat. "Aku masih merasa seperti mimpi," Ayra berkata sambil melangkah keluar. Matanya menatap Dante dengan sorot bingung dan kagum. "Mimpi seperti apa?" Dante bertanya, menutup pintu mobil di belakangnya. "Bahwa aku bisa merasa begini... merasa cukup hanya dengan satu orang." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti gumaman, tetapi Dante mendengarnya jelas. Dante mendekat, menyentuh lengan Ayra dengan lembut. "Aku ingin kau tahu, aku juga merasa begitu. Dan aku akan memastikan kau selalu merasa cukup denganku." Ayra tersenyum kecil. "Aku percaya padamu." Langkah mereka menuju teras terasa seperti simbol dari awal yang baru. Tidak ada lagi beba
Angin malam menyentuh wajah Dante saat ia berdiri di balkon kecil apartemennya. Tangannya menggenggam secangkir kopi hangat, tetapi pikirannya jauh dari kehangatan yang seharusnya dirasakannya. Cahaya lampu kota berkelap-kelip di bawah sana, membentuk pemandangan yang sepi meskipun penuh warna.Di belakangnya, suara langkah pelan mengisi keheningan. Ayra berdiri di ambang pintu balkon, mengenakan sweater oversize yang menggantung hingga lututnya. Matanya memancarkan keraguan, seakan langkah kecil itu memerlukan keberanian besar."Dante," suaranya hampir tenggelam dalam angin, tetapi Dante mendengarnya. Ia berbalik, pandangannya bertemu dengan mata cokelat Ayra yang dipenuhi pergolakan."Ada apa?" tanyanya lembut, menurunkan cangkir kopi ke meja kecil di sebelahnya.Ayra terdiam sesaat, menatap ke lantai sebelum mengangkat pandangannya kembali. "Aku... aku ingin kita bicara. Tentang semuanya."Dante menatapnya dengan penuh perhatian.
Langit mendung menggantung, menyelimuti kota dengan suasana muram. Hujan yang turun sejak dini hari menciptakan genangan di sepanjang jalan, seperti memantulkan perasaan Dante yang masih diliputi kebimbangan.Dante duduk di ruang kerjanya, matanya menatap kosong layar komputer yang menyala di depannya. Deretan angka dan data yang biasa memberinya rasa aman kini hanya terlihat seperti simbol-simbol tak berarti. Suara hujan yang menghantam kaca jendela menjadi satu-satunya hal yang mengisi kesunyian ruangan.โDante,โ suara Ayra memecah lamunannya.Dia berdiri di ambang pintu, mengenakan sweater abu-abu yang kebesaran, rambutnya tergerai alami. Ada kekhawatiran dalam matanya yang cokelat pekat, seolah dia bisa melihat pergulatan yang bergejolak di dalam hati Dante.โAku sudah memanggilmu tiga kali,โ katanya, melangkah masuk.โMaaf.โ Dante mengalihkan pandangan, menggosok pelipisnya dengan frustrasi. โAku hanyaโada banyak hal di pikirank
Langit mendung menggantung rendah, seolah meramalkan badai besar yang akan datang. Lembah di depan mereka memancarkan kesunyian yang mencekam, hanya diselingi suara angin yang berdesir melewati pepohonan. Dante berdiri di tepi jurang kecil, menatap pemandangan di depannya dengan mata tajam. Jauh di kejauhan, bangunan besar yang menjadi markas musuh tampak seperti bayangan kelabu di tengah kabut.Elena mendekat perlahan, membawa sebotol air untuk Dante. Ia tahu Dante sudah terlalu lama memandang ke arah itu tanpa beristirahat. โKau harus menjaga energimu, Dante,โ katanya lembut sambil menyerahkan botol itu.Dante menerimanya, tetapi ia tidak langsung meminumnya. โMarkas ituโฆ tampak lebih terjaga dari yang kuduga,โ gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.Elena memandang bangunan itu dengan mata yang tidak kalah serius. โKita tahu ini tidak akan mudah. Tapi kita sudah sejauh ini. Tidak ada jalan kembali.โDari kejauhan, Ayra duduk di atas sebata
Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, menggigilkan tubuh Ayra yang masih lemah akibat perjalanan semalam. Ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu lemah di depan Dante dan Elena. Kedua orang itu kini tampak lebih tegas dalam gerakan mereka, seolah mereka sudah menetapkan tujuan yang jelas. Dante memimpin langkah, mengamati setiap sudut dengan saksama. Pepohonan lebat yang melingkupi mereka memberikan perlindungan sementara, tetapi tidak menghilangkan bahaya yang terus membayangi. โBerapa lama lagi kita akan sampai di tempat persembunyian itu?โ Ayra bertanya dengan suara pelan, mencoba menyembunyikan kecemasan di balik kata-katanya. Dante menoleh sekilas, matanya tajam namun tetap teduh. โTidak jauh lagi. Jika kita tetap bergerak tanpa berhenti, kita bisa sampai sebelum matahari terbenam.โ Ayra mengangguk, meski tubuhnya sudah mulai kehilangan tenaga. Ia tidak ingin menjadi b
Matahari perlahan merangkak naik, menyemburatkan cahaya lembut ke langit kelabu. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, tetapi Dante tidak bergeming dari posisinya di puncak batu besar yang menghadap lembah. Tangannya menggenggam gagang belati kecil yang selalu ia bawa, seolah benda itu adalah jangkar terakhir dari kewarasan di tengah badai pikirannya. Di belakangnya, Ayra duduk dengan tangan terlipat di dada, punggungnya bersandar pada pohon besar. Ia tak berbicara sepatah kata pun sejak pertengkaran malam sebelumnya. Sinar matahari menyoroti wajahnya yang terlihat lelah tetapi tetap anggun, dengan mata yang memandang kosong ke depan. Sementara itu, Elena berdiri tak jauh dari keduanya, mengamati Dante dengan tatapan penuh tanya. Ia tahu, sejak pertemuan mereka pertama kali, ada luka yang selalu Dante sembunyikan di balik sikap tegasnya. Namun, luka itu kini tampak lebih jelas dari sebelumnya, seperti retakan kecil di kaca yang perlahan melebar.