Home / Romansa / Sweet Enemy / Ainsley Kesal

Share

Ainsley Kesal

Author: Elpit
last update Last Updated: 2021-05-09 07:29:24
"Hai, sudah lama menunggu?" tanya Ainsley baru saja keluar dari gari gedung Emperor dengan langkah ssmangat dan wajah ceria karena dijemput sang kekasih.

"Tak apa, aku rela menunggu, satu tahun pun aku rela jika untuk dirimu," balas Dixon merayu.

"Dasar perayu! Aku serius, Dixon."

"Hahaha ... tidak, aku belum lama menunggu," balas Dixon setelah tertawa.

"Mau pulang sekarang?" tanya Dixon.

Ainsley mengangguk. "Ya, ayo."

Dixon pun membukakan pintu untuk kekasihnya, kemudian menyusul masuk setelah Ainsley masuk.

"Tumben sekali kau minta dijemput? Biasanya aku yang selalu memintamu pulang bersamaku," tanya Dixon seraya menyalakan mesin mobil.

"Oh, itu, daddy yang menyuruhku. Katanya daddy tidak akan cemas jika aku pulang bersamamu, karena daddy sedang ada urusan penting di luar jadi tidak bisa pulang bersamaku," jelas Ainsley. Dixon mengangguk saja.

"Kau mau langsung kuantar pulang?" tanya Dixon mennayakan kemauan Ainsley.

"Hmm ... apa kau sedang buru-buru?" tanya Ainsle
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sweet Enemy   Terancam Gagal

    Ainsley masuk ke rumahnya diikuti Dixon di belakangnya. "Aku pulang ...." seru Ainsley sambil berjalan masuk langsung menuju ke dapur untuk meletakkan belanjaan yang dibawa Dixon. "Sepertinya mom dan dad ada di ruang tengah, ayo ke sana," ajak Ainsley. Dixon mengangguk patuh. "Mom,—grandpa?" "Oh, Ainsley, kau sudah pulang?" Ainsley langsung berlari berhambur memeluk kakeknya. "Oh, cucu kesayangan grandpa," kata James memeluk cucunya penuh sayang. "Kapan grandpa datang? Mengapa tidak memberitahuku?" tanya Ainsley. "Belum lama, grandpa datang bersama daddy setelah pulang dari kantor polisi," jelas James. Ainsley mengerutkan kening. Oh, ternyata benar ayahnya pergi ke kantor kepolisian tadi. "Dixon, ayo kemari. Kau tidak lelah berdiri di sana?" tanya Ainsley seraya melambaikan tangan agar Dixon ikut bergabung. Dixon melebarkan senyum lalu berjalan mendekat. "Selamat sore, Tuan Ashton. Senang bisa berjumpa dengan Anda. Anda masih tetap gagah meskipun sudah memiliki cucu sebesar

    Last Updated : 2021-05-09
  • Sweet Enemy   Moodbooster

    "Dixon, ada apa? Apa yang Luke latakan?" tanya Ainsley setelah Dixon selesai menelpon. Dixon terdiam cukup lama. Ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, takut Ainsley marah atau kecewa. Dixon memaksakan untuk mengembangkan senyum. "Kita tunggu Luke datang, oke? Nanti kita bicarakan bersama. Sekarang kita lanjutkan membuat lasagnanya saja, ayo." Dixon berusaha mengalihkan perhatian. Dan beruntung kali ini Ainsley tidak keras kepala. "Heuh ... ya sudah, ayo. Kebetulan aku semakin lapar," celetuk Ainsley. Dixon tertawa kecil melihat ekspresi lucu Ainsley yang memanyunkan bibirnya dan terlihatt sedikit lesu. "Kau terlihat tidak bertenaga. Kalau begitu kau duduk saja, serahkan ini pada chef Dixon," kata Dixon membanggakan diri, memukul-mukul dadanya sendiri. "Hahaha ... kau seperti itu malah terlihat seperti kingkong, hahaha ...." Ainsley tertawa renyah, sangat menarik untuk dilihat. 'Kau memang harus selalu tertawa seperti ini, Ainsley,' batin Dixon. "Bagus, tertawalah, Ainsley,

    Last Updated : 2021-05-10
  • Sweet Enemy   Perubahan Rencana

    Pertanyaan Ainsley mampu membuat Luke berhenti mengunyah, ia juga melirik ke arah Dixon seakan bertanya 'apa kau belum menjelaskan pada Ainsley?' tetapi Dixon tidak merespon apa pun. Luke menghabiskan makanan di dalam mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. "Ya, aku tadi menelpon Dixon untuk memberinya kabar bahwa perjalanan kita dibatalkan oleh pihak yang mengurus. Lokasi yang akan menjadi tujuan kita untuk berlibur mengalami bencana alam. Kita terpaksa harus membatalkan rencana itu," tutur Luke menjelaskan. "Oh my God! Bencana apa? Kasihan sekali mereka yang tinggal di wilayah sana." Sama sekali tidak terpikirkan oleh Dixon bahwa Ainsley akan berekasi seperti itu. Dia pikir Ainsley akan marah, kecewa atau semacamnya. Namun kenyataannya Ainsley malah menunjukkan rasa simpatinya pada korban bencana itu. Dixon merasa lega sekaligus bangga pada Ainsley. Freddy, James dan Brianna memperhatikan saja para anak muda itu saling bercakap, sambil memasang telinga le

    Last Updated : 2021-05-11
  • Sweet Enemy   Permohonan

    Dua hari kemudian .... Desau angin menerpa kulit, menerbangkan anak rambut yang tergerai indah. Deru ombak berbisik di telinga, menggoda dan mengundang untuk lebih mendekat. Pasir pantai yang lembut dan hangat, seakan siap menjadi pijakan yang nyaman. Udara lembap dan lengket menyapa kulit mereka yang tak sabar untuk bermain air. "Kau kelihatan sangat senang," celetuk seorang laki-laki yang berdiri di sisi gadisnya. "Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai. Mungkin terakhir kali saat aku masih berusia lima tahun, saat aku masih taman kanak-kanak," sahut si gadis membalas. Tangan pria itu perlahan meraih tangan gadisnya dan menggenggamnya erat. Laki-laki itu melarikan tangannya ke bibirnya lalu mengecup punggung tangan gadisnya mesra. "Hei, kalian, mau sampai kapan berdiri di sana? Ayo kemarila!," seru salah seorang pria yang sudah siap menaiki jetski. "Ainsley, ayo kemari!" imbuh salah seorang gadis yang juga sudah bersiap. Ya, sepasang kekasih yang terus berdiri menikmat

    Last Updated : 2021-05-11
  • Sweet Enemy   Pecinta Sesama Jenis?

    Ainsley tengah bersantai di atas tempat tidur sedangkan Emily masih sibuk berkutat si depan cermin. Ah ya, awalnya mereka tidak berniat menginap tetapi karena mereka merasa lelah akhirnya mereka memutuskan untuk menginap barang satu malam. Sekaligus menikmati sunrise esok hari. "Ainsley, menurutmu aku lebih cocok menggunakan lipstick yang mana? Warna cerah atau yang gelap seperti ini?" tanya Emily. Ainsley berhenti menscroll layar ponselnya dan beralih memperhatikan sahabatnya itu. "Hmm ... bibirmu berwarna cerah jadi menggunakan warna apa saja kau akan cocok. Tinggal mood mu saja malam ini ingin menggunakan warna apa?" kata Ainsley memberi saran. "Hmm ... aku akan menggunakan warna ini saja, aku sedang dalam mood yang baik jadi aku akan menggunakan warna cerah saja," ujar Emily. "Oke," balas Ainsley singkat. Lalu Ainsley kembali memainkan ponselnya. Tok tok tok! Mendengar pntu diketuk embuat Emily beranjak dan segera membukakan pintu. "Kalian sudah makan malam?" tanya seseoran

    Last Updated : 2021-05-11
  • Sweet Enemy   Sama Berharganya

    Ainsley dan Emiky bahkan menghentikan aktifitasnya, mereka berhenti makan demi untuk menunggu jawaban apa yang keluar dari mulut Dixon. Mereka berdua menatap seksama ke arah Dixon. Begitu juga dengan Luke yang menunggu jawab Dixon dengan menaik-turunkan alisnya. Dixon memandangi Luke, Emily dan Ainsley secara bergantian. "Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kalian seperti ingin menikamku. Mengerikan," kata Dixon bergidik ngeri. "Kami menunggu jawabanmu, Dixon Hamilton!" Emily menjawab dengan gemas. "Kau bertanya apa?" balas Dixon sangat santai, seakan tak peduli. Tuk! Ainsley mengetuk dahi Dixon dengan sendok. "Aww! Kau senang sekali menyiksaku, Sayang," protes Dixon. "Masa bodo! Ayo jawab pertanyaan Luke," kata Ainsley memaksa. "Pertanyaan yang mana?" "Jadi, apa kau kesal, cemburu, marah, atau dendam pada Luke saat tahu Luke mendekati pujaan hatimu? Bagaimana perasaanmu? Coba katakan!" Emily menegaskan kembali pertanyaan yang tadi Luke ajukan. "Oh itu," balas Dixon acuh.

    Last Updated : 2021-05-11
  • Sweet Enemy   Mataharinya Malu

    Drrtt ... drrtt .... Suara telpon masuk membangunkan Ainsley yang masih tidur cukup pulas. Dengan malas, gadis itu meraba-raba di mana keberadaan ponselnya. Setelah menangkap ponselnya, dengan mata sebelah terbuka sebelah tertutup ia mengangkat teleponnya, tanpa melihat siapa penelponnya karena ia hanya melihat di mana tombol hijau untuk mengangkat telepon. "Hallo," sapa gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur. "Selamat pagi, bidadari cantik, yang membuatku tertarik, dan tidak berhenti melirik," balas seorang penelpon di seberang sana. Mendengar suara itu Ainsley langsung melebarkan senyum, sangat mengenal suara itu. Suara kekehannya terdengar pelan sampai ke seberang sana. "Kau pasti masih belum bangun?" tanya si penelpon—Dixon. "Iya, aku baru bangun setelah kau menelponku," balas Ainsley dengan nada manja. "Sekarang cepat bangun dan bersiaplah." "Kita akan pulang sekarang?" tanya Ainsley. "Tidak, kita akan menikmati sunrise terlebih dulu, kau tidak lupa, kan? Mana mun

    Last Updated : 2021-05-12
  • Sweet Enemy   Sunrise Menjadi Saksi

    "Suit suit ...." Luke besiul. Ainsley melirik ke arah Luke dan Emily yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu tertawa kecil sambil menunduk. "Mataharinya mulai naik," celetuk Emily. Dixon menoleh sebentar ke arah matahari terbit. Lalu detik berikutnya Dixon berlutut di hadapan Ainsley. Tangannya membuka kotak merah beludru yang telah ia persiapkan, yang baru saja ia pesan tadi malam, dan semoga saja ukurannya pas. "Ainsley, kau adalah bukti cinta yang indah, aku tidak bisa jauh dari dirimu. Pagi ini, disaksikan oleh lautan dan terbitnya matahari di tempat yang indah ini, aku ingin melamarmu. Maukah kau menjadi pendamping hidupku? Menjadi teman hidupku dan setia disisiku?" Selain perlakuannya yang romantis, kata-kata yang diucapkan Dixon juga terdengar lembut membuat candu. Dixon bertahan berlutut sambil menatap penuh harap, sedangkan Ainsley menutup mulutnya karena saking bahagianya. "Ainsley, cepat berikan jawaban, sebelum matahari semakin tinggi!" seru Emily sedangka

    Last Updated : 2021-05-12

Latest chapter

  • Sweet Enemy   Happy Ending

    Seorang gadis termenung sendiri di depan cermin. Wajah ayunya dihiasi air mata yang membasahi pipinya. Paras yang berseri itu tampak tersirat kesedihan, atau entah itu perasaan haru. Dia tengah mengingat masa-masa yang telah berlalu. Dia sama sekali tidak menyangka hari ini akan tiba, hari yang akan menjadi hari berbahagianya. Ia tidak percaya bahwa orang yang ia pikir sangat ia benci ternyata hari ini akan menikahinya. Hari ini ia akan melepas masa lajangnya dan setelah hari ini statusnya akan berubah. Gadis itu mengangkat tangannya dan menggerakkan jemarinya untuk menghapus air matanya yang jatuh semakin deras. Puk! Sepasang tangan menepuk bahu gadis itu pelan sambil menatap gambaran diri yang terpantul pada cermin. "Aku tidak percaya aku sudah dewasa, Mom, aku masih ingat saat aku menangis meminta dibelikan permen kapas tapi daddy melarang," ujar gadis itu yang tak lain adalah Ainsley. Seorang yang dipanggil mommy itu tersenyum hangat. "Putri mommy memang sudah dewasa, dan dia

  • Sweet Enemy   Project Kedua Launching

    Dua minggu telah berlalu dengan begitu cepatnya. Tanpa disadari waktu terus berputar. Tanpa disadari hari demi hari telah terlewati. Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu. DE BRIGHTENING akhirnya akan launching produk barunya. Di ballroom sudah dipadati para tamu undangan yang begitu banyak. Kali ini dua perusahaan Emperor dan Dynamit menggelar acara dengan sangat meriah. Lebih meriah berkali-kali lipat dibandingkan saat launcing produk mereka pertama kalinya. Pelaksaan acara hari ini berbeda dengan saat itu. Selain acaranya yang lebih meriah, kali ini juga tersedia banyak hadiah berisi paket DE BRIGHTENING yang lengkap untuk para tamu yang beruntung dan tentunya para tamu yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara. "Kita semua bisa lihat penampilan facial wash yang resmi keluar hari ini, sangat cantik, bukan?" seorang narator tengah memandu acara saat ini, yang akan menjelaskan tentang produk-produk yang baru saja mereka luncurkan. "Hanya ada satu varian facial wash?" tanya salah s

  • Sweet Enemy   Ujian

    Jalanan yang mulai lengang membuat Ainsley berani menaikkan kecepetan berkendaranya. Namun tiba-tiba ia terpaksa harus menghentikan laju mobilnya karena sebuah mobil berhenti di tengah jalan, menghalangi jalan yang akan Ainsley lewati. Ainsley membunyikan klakson berkali-kali namun beberapa orang di sana tak ada yang bereaksi.. "Sial! Apa mereka semua tuli? Apa yang mereka lakukan di sana? Jika mobil mereka mogok kenapa tidak memanggil montir saja? Haih ... aku tidak boleh tertahan di sini," gerutu Ainsley pelan. Ainsley memutuskan untuk turun dari mobilnya dan segera menghampiri mereka. "Maaf, apa yang terjadi pada mobil kalian? Kenapa berhenti sembarangan dan menghalangi jalan?" tanya Ainsley berusaha untuk sopan. Empat orang laki-laki itu berbalik badan dan menatap nyalang ke arah Ainsley bersamaan. "Maaf, jika mobil kalian mogok dan butuh montir aku bisa panggilkan montir untuk kalian, tapi bisakah kalian menepikan mobilnya dulu, aku harus pergi sekarang," lanjut Ainsley. "K

  • Sweet Enemy   Akhir Pelatihan

    "Secara keseluruhan kau sudah menguasai semuanya, Ainsley. Apalagi dalam menembak kau sangat jago. Sebentar lagi aku akan memberikan ujian padamu dan jika kau mampu bertahan maka kau bisa dinyatakan lulus," ujar Alex. "Sebenarnya lulus atau tidak itu hanya formalitas saja, yang terpenting kau sudah menguasai tekniknya. Kau hanya harus berani menerapkannya di medan pertarungan," sambung Brandon. "Aku sangat senang bisa berlatih disini, bisa dilatih oleh kalian. Tetima kasih atas segala hal yang sudah kalian ajarkan padaku. Aku akan siap menjalani ujiannya, kapan pun itu. Aku juga akan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian. Kalian sudah bekerja keras jadi aku juga harus bekerja keras," ujar Ainsley serius. "Kau siap untuk ujian?" tanya Alex mengulang pertanyaan. "Aku siap!" balas Ainsley mantap. "Meskipun itu mendadak?" tanya Alex lagi. "Ya, itu tidak masalah." "Bagus. Aku suka semangatmu, Ainsley," puji Brandon. "Oh ya, hari ini kebetulan aku ada acara, jadi kau bisa pulang l

  • Sweet Enemy   Penguat Rasa

    Iklan untuk promosi sudah disebarluaskan di internet. Banyak sekali warganet yang berkomentar positif. Mereka sangat penasaran pada produk baru DE BRIGHTENING setelah keluarnya body wash dan body lotion yang sangat fantastis itu. "Aku senang mereka memberikan respon positif. Ini membuat kita bisa semakin semangat dan maju, benar?" kata Ainsley sebagai pembuka percakapan. Tadinya Ainsley ingin berkumpul dengan rekan-rekannya sebentar saja, tapi karena mendapati komentar-komentar warganet yang menunjukkan ketidak sabarannya terhadap produk baru mereka, Ainsley jadi lupa pada rasa lelahnya. "Benar, aku jadi semakin tidak sabar ingin segera meluncurkan produk kita secepatnya," sambung Emily bersemangat. "Sepertinya kita perlu mengadakan perayaan untuk pencapaian kita," imbuh Luke. "Tidak, janga dulu. Kita belum mencapai apa-apa. Kita bahkan belum meluncurkan produknya," lanjut Dixon. "Hanya makan-makan saja, Dixon. Lagipula mumpung Ainsley ada di sini, kan? Jarang-jarang Ainsley bisa

  • Sweet Enemy   Promosi Sudah Siap

    "Selamat pagi," sapa Ainsley datang ke meja makan. "Pagi, Sayang, bagaimana kabarmu hari ini?" balas Freddy bertanya. "Aku baik, Dad." "Kau sepertinya semakin kurus, Ainsley, ayo makanlah yang banyak," sambung Brianna. "Oh ya? Aku sama sekali tidak kurus, Mom, itu pasti hanya perasaanmu saja," jawab Ainsley. "Pokoknya kau harus makan yang banyak. Ini, mommy ambilkan. Kau butuh banyak nutrisi untuk latihan, jadi kau juga harus makan yang banyak, jangan pikirkan tentang diet," kata Brianna menasehati. "Iya, Mommy sayang. Memangnya siapa pula yang diet? Dan kapan aku pernah diet?" "Tapi kau selalu makan sedikit. Sekarang kau tidak boleh makan sedikit, apalagi hanya makan buah saja." "Kau sedang menasehati dirimu sendiri, Brianna?" sela Freddy menggoda. "Apa?" "Hahaha ... ya begitulah saat kau muda. Kau bisa lihat dirimu dalam diri putri kita," celetuk Freddy. "Tapi mommy benar, kau memang harus makan yang banyak, Ainsley," lanjut Freddy lagi. "Iya iya, Dad. Aku akan habiskan i

  • Sweet Enemy   Manis

    "Kenapa? Memangnya aku tidak boleh merindukan kekasihku sendiri?" kata Dixon menggoda. Ainsley tersipu malu. "Tentu saja boleh, aku pun merindukanmu," balas Ainsley. "Sial! Kenapa kalian bermesraan di depan kami?" Brandon menggerutu kesal. "Kau masih belum memiliki kekasih? Aku pikir kau mengejar Rose teman satu tim camp-mu," celetuk Dixon. "Jangan bahas itu lagi. Kau seperti tidak tahu bagaimana dan siapa Rose saja. Akan aku hadiahi villa mewah untuk siapa pun yang berhasil memiliki Rose," kata Brandon sedikit sinis. Pasalnya Rose orang yang sangat cuek dan sangat sulit didekati. Selama lima tahun berada di satu tim yang sama, belum pernah sskali pun Brandon mendapatkan perhatian dari Rose. Tidak Brandon, tidak siapa pun. Karena memang begitulah Rose. Dixon tertawa. "Bagaimana kalau aku yang berhasil mendapatkan Rose? Aku tidak ingin hanya mendapatkan villa, aku ingin dihadiahi pulau yang kau miliki itu," celetuk Dixon. "Kau mau itu? Ambil saja. Khusus untukmu aku akan berikan a

  • Sweet Enemy   Latihan Pertahanan

    "Aku ingin mengusulkan sesuatu untuk produk kita, boleh?" tanya Emily. "Hm, apa?" tanya Dixon tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya. "Bagaimana kalau kita sekaligus mengeluarkan shampoo?" kata Emily. Dixon seketika menghentikan aktivitasnya lalu mengalihkan perhatiannya pada Emily. Begitu pula dengan Luke yang juga mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang tengah ia garap. "Shampoo?" "Iya. Produk yang keluar lebih dulu sudah ada body scrub, untuk melengkapi kebutuhan toiletries kita juga harus meluncurkan shampoo, bukan? Untuk kebutuhan wajah kita meluncurkan facial wash, jadi aku rasa tidak ada salahnya kita luncurkan shampoo juga," tutur Emily. "Bagaimana menurutmu, Dixon? Akan kita luncurkan bersamaan dengan ini atau mungkin kau punya rencana lain?" tanya Luke meminta pendapat Dixon, yang sejatinya adalah orang yang mengepalai proyek tersebut. "Hmm, kalau aku sih setuju-setuju saja. Menurutku bagus juga jika kita mengeluarkan produk shampoo juga. Karena aku sudah memilik

  • Sweet Enemy   Melepas Kerinduan

    Ainsley sudah selesai mandi sejak belasan menit yang lalu. Kini ia duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kedatangan Dixon sambil memainkan ponselnya. Ainsley menelpon seseorang yang akan ia ajak kerjasama dalam beberapa waktu ini. "Hallo, Jeremy, maafkan aku mengganggumu malam-malam begini. Aku tahu seharusnya tidak membicarakan soal pekerjaan di luar jam kerja," ujar Ainalsley sudah menyampaikan permintaan maafnya sebelumnya. "It's okay, Ainsley. Aku mengerti kesibukanmu. Tidak perlu sungkan," balas orang bernama Jeremy itu, yang adalah orang dari jasa periklanan. Mereka sudah cukup akrab setelah beberapa kali pertemuan dan juga sering mengobrol via telepon, tentu saja untuk membicarakan pekerjaan. "Jadi, apa yang kau perlukan, Ainsley?" tanya Jeremy. "Hmmm ... begini, Jeremy. Aku ingin kau buatkan iklan yang berisi beberapa clue untuk menarik perhatian calon pelanggan. Buat iklan itu agar ramah di internet dan juga aku ingin kau pasang iklan itu di gedung Emperor," pinta Ainsl

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status