“Jadi kita akan tinggal di mana?” Untuk yang kesekian kalinya, Aju bertanya.
“Aku sudah mengajakmu ke rumahku, tapi kau yang tidak mau.” Kira jelas saja akan menegur rekan kerjanya itu. “Kau kan tinggal dengan adikmu. Takutnya aku mengganggu kalian gitu loh. Lagian Aiden nanti gimana?” “Kau tidak perlu memikirkan Aiden,” tegur Kira dengan nada sebal. “Bukannya kau bilang dia anak orang kaya? Minta saja dia pergi ke keluarganya.” Aju langsung meringis mendengar hal itu. Yang dikatakan Kira memang tidak salah, tapi entah kenapa Aju tidak rela. Terutama setelah perempuan itu, melihat betapa tidak akrabnya Aiden dengan keluarganya. Memang Aju belum melihat semua, tapi yang dilihat saat pesta kali lalu sudah cukup. “Apa kau masih merasa bersalah karena kakinya?” “Bukan hanya karena itu,” jawab Aju tanpa perlu berpikir. “Dia kan juga terluka karena rumahku di rAju mendesah ketika melihat rumah besar di depannya, lebih tepatnya baru bagian pagar dari rumah itu yang terlihat. Pagarnya menjulang tinggi dan terlihat begitu kokoh, walau sudah lama sejak pertama kali dipasang. “Kau yakin sudah menghubungi satpam yang bertugas?” Kira bertanya pada rekannya. “Sudah tadi pagi.” Aju mengangguk yakin. “Ini aku telepon dan chat, tapi belum diangkat dan dibalas.” Hari ini, kebetulan saja jadwal Aju kosong. Bukan lagi soal Reina yang ngembek, tapi bagiannya memang sudah selesai. Belum benar-benar selesai karena masih ada sesi pemotretan, tapi mereka dibiarkan istirahat lebih dulu. Karen itulah mereka memutuskan untuk mengecek rumah Aju dan di sinilah mereka. Kira yang kesal, sudah keluar dari dalam mobil untuk menengok pos satpam. Sementara Aju, dia lebih memilih menatap rumah lamanya dari dalam mobil. Lebih nyaman karena cuaca musim panas begitu menyengat. Selain itu,
“Aju.” Kira menepuk pipi teman tidurnya. Bukannya terbangun, Aju malah terlihat semakin histeris. Perempuan cantik berambut panjang itu, memberontak dengan nyaris seluruh tubuh bergerak. Dia tampak seperti orang yang sedang kesurupan saja. “Tidak. Jangan,” pekik Aju dengan suara bergetar dan keringat membasahi wajahnya. “Hei, Aju.” Sang manajer yang enggan menyerah, menampar wajah perempuan yang tengah mengigau itu lebih keras. Untungnya, kali ini cukup berhasil.“Ada apa denganmu?” Sang manajer bertanya dengan kening berkerut dan tatapan mata khawatir. “Mimpi buruk?” Aju tidak langsung menjawab. Dia masih tampak linglung, dengan mata liar menatap sekitarnya. Tangan ramping Aju pun meraba lehernya yang mulus, tampak ingin memeriksa kalau semuanya baik-baik saja. Cukup lama dan akhirnya perempuan itu pun mendesah lega. “Aju?” Kira kembali memanggil, masih dengan nada cemas. “Mau kuambilkan air?” Tentu
“Kenapa aku tidak boleh menginap?” Aju menggeram marah. “Karena di sini tidak nyaman, Kakak Malaikat,” jawab Aiden setengah menggombal. “Lagi pula, nanti Ray bakal datang kok.” “Tapi aku mau di sini.” Sayang sekali, sang selebriti tidak mau mengalah. Dia enggan pulang ke rumahnya. “Kali ini saja. Aku mohon dengarkan aku.” Aiden benar-benar memohon. Bukan tanpa alasan lelaki muda itu memohon. Dia hanya takut kalau Damian akan benar-benar melakukan hal nekat, selagi ada Aju di sekitarnya. Bagi Aiden, lelaki blasteran itu tampak begitu tega. Dia juga yakin kalau Damian yang menjadi dalang dirinya terluka seperti sekarang. “Sayang tidak ada bukti,” gumam Aiden tanpa sadar. “Apa yang tidak ada bukti?” Tentu saja Aju akan langsung bertanya. “Aku sedang memikirkan kasus kita,” jawab Aiden yang masih enggan memberitahu kecurigaannya pada sang kekasih. Dia tidak ingin Aju makin khawatir atau terlibat terlal
“Eh? Kebakaran?” tanya Aju dengan kedua alis terangkat. “Di mana kebakaran?” Aiden yang masih belum lelap langsung bertanya. “Rumahku,” jawab sang selebriti dengan raut wajah panik. “Katanya ada puntung rokok yang masih menyala tidak sengaja terkena bantalan sofa pintu belakang.” “Kalau begitu, kita pulang?” Kira bertanya dengan hati-hati. “Atau mau gimana?” “Kau tidak apa-apa kutinggal sebentar?” Alih-alih menjawab sang manajer, aju malah menoleh dan bertanya pada pasien yang ada di kamar. “Aku tidak apa-apa.” Tentu saja Aiden akan mengangguk dengan tegas. “Sebentar lagi Ray juga akan datang kok.” Walau sudah diberi jawaban seperti itu, Aju tetap merasa cemas. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya dan berpikir, namun kedatangan Ray membuatnya bergegas. Walau sudah pernah berkenalan, sahabat Aiden itu belum pernah benar-benar melihat wajah Aju. Masker jadi
“Bagaimana bisa?” Aju bertanya pada dua satpam rumahnya. Salah satunya Pak Udin. “Saya juga bingung, Neng.” Pak Udin yang menjawab. “Padahal tidak ada yang merokok di rumah dan lokasinya juga jauh dari dinding halaman belakang. Rasanya gak mungkin ada puntung rokok yang terbang.” “Kalau begitu kenapa bisa terbakar? Sebagian dapur juga ikut terbakar loh, Pak.” Kali ini Kira yang mengomel. Kira tahu dirinya tidak punya hak untuk berkomentar, tapi rumah sahabatnya hampir hangus terbakar. Ada banyak barang pribadinya di rumah besar ini dan juga beberapa barang Aju yang digunakan untuk bekerja. Setidaknya, Kira pantas marah untuk hal ini karena ada yang lalai. “Itu, Bu.” Satpam yang lebih muda berbicara. “Mungkin memang ada anak-anak yang sengaja lempar petasan ke dalam rumah dan kena sofa.” “Tapi itu jaraknya jauh loh, Pak Joko. Lagian, tembok belakang itu juga tinggi loh. Rasanya a
Demi apa pun, Aiden tidak pernah menyangka akan memakai ilmu karate yang dia pelajari saat remaja. Bahkan Ray pun sempat ikut belajar karena dirinya. Walau jelas dia akan sangat kesulitan karena sebelah kakinya cedera. Setidaknya, itu yang dipikirkan Aiden. “Ayo maju.” Belum juga apa-apa, Ray sudah menantang. Lelaki muda itu malah menggerakkan dua jarinya untuk meminta penjahatnya maju. “Tidak usah macam-macam.” Yang perempuan berdecih pelan untuk mengejek. “Sudah sakit, tidak usah sok jadi jagoan.” “Maaf, tapi bukan aku yang sok.” Jelas saja Aiden akan membantah karena memang itulah yang sebenarnya. “Dia yang sok jadi jagoan.” Sang pasien tidak segan menunjuk sahabatnya. “Sudahlah.” Penjahat yang lelaki akhirnya melepas maskernya juga. “Kita punya tugas yang harus cepat diselesaikan, jadi hajar saja mereka. Kau urus yang terluka itu.” Dengan mata berputar karena kesal, yang per
“Halo.” Damian muncul keesokan harinya dengan senyum lebar, bahkan ketika dia tidak disambut. “Wah, sepertinya aku datang saat yang tidak tepat ya,” lanjut lelaki blasteran itu dengan senyum yang belum luntur. “Kau sudah mau pulang?” “Kalau kau punya mata, pasti sudah tahu jawabannya,” jawab Aiden dengan raut wajah kesal yang tidak dia tutupi sama sekali. Ya. Harusnya dalam sekali lihat saja Damian sudah tahu kalau pasien yang menempati kamar mewah itu akan pulang. Ada tas besar di atas ranjang dan Aiden sudah tidak menggunakan baju pasien lagi. “Bagaimana hadiahku yang semalam?” Tanpa diduga, Damian langsung mengakui kejahatannya. “Luar biasa kan?” “Biasa aja tuh,” jawab Aiden dengan sombongnya. “Buktinya aku masih hidup kan?” Sudut bibir Damian berkedut. Bukan karena tawa, tapi karena sedang berusaha menahan umpatan yang sudah siap keluar dari bibirnya. Lelaki itu jelas terlihat tidak senang sama sekali.
“Tunggu dulu!” Aiden memekik, ketika taksinya berhenti di depan pagar tinggi. “Ini rumahmu?” “Rumah orang tuaku, lebih tepatnya.” Ray menjawab, setelah dia menyapa satpam. “Iya ... maksudku itu.” Aiden makin berkerut saja mendengarnya. “Aku tidak tahu kalau kau ternyata orang kaya.” “Maksudku .... Aku tahu kau kaya, tapi kupikir tidak sekaya ini.” Aiden menunjuk rumah besar yang kini terpampang nyata di depannya. Rumah Ray memang tidak sebesar rumah keluarga Aiden, tapi tetap saja. Hanya orang yang benar-benar kaya yang bisa punya rumah megah bergaya Eropa seperti ini. Aiden langsung tahu hanya dengan sekali lihat. “Rasanya biasa saja,” jawab Ray yang menggaruk kepalanya dengan bingung. “Lagi pula yang kaya itu kan orang tuaku.” “Wah, pemikiran yang luar biasa.” Mau tidak mau, Aiden merasa kagum pada sahabatnya itu. “Tidak usah memu
“Selamat, kandungannya sudah sebulan.” Mey-sepupu dari Aju adalah orang yang paling pertama bersorak. Kebetulan dia yang merekomendasikan dokter kandungan. Aiden ikut senang mendengar hal itu. Dia bahkan menangis haru, ketika melihat titik hitam yang akan menjadi calon anaknya nanti. Sayang sekali, Aju tidak bereaksi serupa. Perempuan itu justru terlihat sangat frustrasi. “Kak Aju.” Sadar ada yang salah, Aiden memanggil istrinya. “Kok malah murung?” “Bagaimana aku harus menghadapi dunia dan pekerjaanku?” tanya Aju, tidak berusaha menutupi apa yang membuatnya gelisah. “Hadapi seperti biasa saja.” Aiden mencoba memberi saran. “Maksudku, ini kan bukan suatu kesalahan, jadi tidak perlu dipikirkan.” “Aku tahu kehadiran anak ini bukan kesalahan, tapi cara mendapatkan jelas salah. Itu yang membuatku kepikiran, terutama karena mulut orang-orang sangat sulit dikendalikan. Kau tidak tahu saja kalau ucapan orang-orang di media sosial media itu sangat keterlaluan.” Semua yang ikut ke r
“Hamil?” tanya Aiden dengan mata yang melebar karena kaget. “Tidak tahu.” Aju dengan cepat menggeleng. “Tadi aku memang sempat mual, tapi belum diperiksa.” Walau sudah dikatakan seperti itu, tapi Aiden tetap saja melongo. Dia bahkan mengabaikan makanan yang ada di depannya karena masih tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. “Aku akan jadi ....” “Belum diperiksa.” Aju refleks memukul bibir suaminya, walau banyak yang mungkin melihat. Mereka memang masih di ruangan pesta. Sebagian tamu memang sudah pulang, tapi bukan berarti tidak ada orang. Masih cukup banyak yang ingin tinggal untuk after party yang akan berlangsung sebentar lagi. Lalu karena masih ada waktu, Aju dan Aiden memutuskan untuk makan dulu. Kebetulan mereka sudah berganti pakaian. “Aku akan jadi ayah.” Aiden bergumam, tanpa mendengarkan apa yang dikatakan istrinya. “Kau itu kenapa sih?” Aju kembali memukul sang suami, tapi kali ini di bagian lengan. “Aku kan sudah bilang kalau belum diperiksa.” “Tapi teta
“Wah, kenapa gaunmu bagus sekali?” Tiara langsung merasa takjub dengan perempuan yang berdiri di depannya. “Bukankah katanya ada bagian yang rusak?” “Ya.” Aju tanpa ragu mengangguk. “Tapi mereka memutuskan untuk memotong bagian depan ini dan membiarkannya menjadi pendek di bagian depan, tapi tetap panjang di bagian belakang.” “Lebih tepatnya, mereka memotong bagian rok agar jadi pendek dan menambahkan kain lagi untuk menutupi bagian belakang dan samping.” Tiara mengangguk, sembari terus melihat gaun milik sang pengantin. “Ide yang sebenarnya sudah lama ada, tapi aku pribadi tidak berpikir akan terlihat cantik di gaun pengantin,” lanjut Tiara yang masih saja takjub. “Terutama yang menggunakan gaun ini adalah orang yang juga sangat cantik.” “Ah, Tante bisa saja.” Mau tidak mau, Aju tersipu juga. “Dari pada membahas pakaian, mending membahas mentalmu.” Sepupu Aju yang bernama Mey bertanya. "Bagaimana? Apa sudah siap?” “Siap gak siap sih.” Aju meringis ketika menjawabnya. “Benar
“Selamat siang menjelang sore, Mbak Aju.” Seorang pegawai butik menyambut. “Aduh, maaf ya Mbak Adel. Saya agak terlambat karena ternyata pekerjaan saya selesai lebih lambat.” Aju tentu saja akan meminta maaf lebih dulu karena sudah datang sangat terlambat dari waktu yang dijanjikan. “Sama sekali tidak masalah karena Aidennya sudah datang duluan.” “Ya?” Mata Aju melotot mendengar apa yang barusan diucapkan petugas butik. “Siapa yang datang?” “Calon suaminya, Mbak.” Pegawai butik menjawab dengan nada gemas. “Dia telat juga sih, tapi yang penting kan sudah datang.” Walau Aju masih agak terkejut dengan apa yang dia dengar, tapi dirinya masih berusaha tenang. Padahal tadi dia sudah mencoba mengecek jadwal sang tunangan lewat asisten, tapi tidak menemukan ada kunjungan ke butik. Jadi kenapa Aidenada di sini? “Kak Aju.” Aiden yang menunggu di ruang tunggu, langsung bangkit dan menyapa tunangannya. “Kenapa ada di sini?” Alih-alih menyambut rentangan tangan sang tunangan, Aju malah
“Aiden. Apa kau sibuk?” Aju menanyakan hal itu lewat telepon dengan ekspresi yang terlihat frustrasi. “Maaf, Kak. Aku udah selesai kuliah sih, tapi habis ini mau ikut rapat di kantor. Memangnya ada apa ya?” Aju mengatupkan matanya. Dia tampak kesal, sekaligus terlihat lelah saat bersamaan. Inginnya marah, tapi pada akhirnya dia tidak bisa melakukan itu. Apalagi sekarang ini Aju sedang berada di tempat umum. “Ya sudah.” Pada akhirnya sang selebriti hanya bisa mendesah saja. “Tapi nanti kalau sudah selesai telepon aku ya.” “Oke. Nanti aku juga akan kirim pesan kalau sudah sampai di kantor.” Sang selebriti kembali mendesah lelah, sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon. Aju kemudian menatap pesan yang baru saja dia terima, tepat sebelum menelepon sang kekasih. Itu adalah pesan dari butik tempat Aju memesan gaun pengantin. [Butik: Mbak, ada sedikit masalah dengan gaun dan jasnya. Masih bisa diperbaiki, tapi mu
“Kenapa kau terlihat lesu?” Ray bertanya pada sang sahabat. “Bertengkar dengan Kak Aju?” “Tentu saja tidak,” jawab Aiden dengan wajah yang ditutupi buku. “Walau tidak separah bertengkar, tapi aku punya masalah yang tidak kalah gawatnya.” “Apa itu?” “Kakek mulai memintaku untuk memikirkan pernikahan.” “Wow.” Ray tidak bisa menahan rasa terkejutnya dan berakhir mendapat pelototan dari orang-orang yang ada di perpustakaan. Aiden dan Ray tentu saja sedang berada di perpustakaan kampus. Mereka saat ini sedang mengerjakan tugas, sembari menunggu mata kuliah berikutnya. Sayang sekali Aiden sama sekali tidak bisa fokus sama sekali, walau masalah yang dia pikirkan sudah lewat beberapa minggu. “Jadi sekarang aku harus bagaimana?” tanya Aiden yang kini menatap sang sahabat. “Ya kalau mau nikah ya nikah saja.” Ray berbicara dengan santainya. “Yang penting Kak Aju juga mau. Gitu aja kok repot.” “Kau pikir menikah itu mainan?” Aiden tidak segan memukul bagian kepala sahabatnya yang
“Bagaimana mungkin aku tiba-tiba punya saham?” Suara teriakan Aju terdengar bahkan sampai keluar ruangan sang kakek. Para asisten dan sekretaris yang menguping saja sampai tersentak saking kerasnya suara itu. “Sabarlah, Sayang.” Aiden tentu akan bertugas sebagai penenang. “Aku pun baru tahu hari ini.” “Karena itu aku bertanya pada Kakek.” Aju tidak segan memukul meja yang ada di depannya. “Kenapa membuat keputusan yang gegabah seperti itu?” “Itu sama sekali bukan keputusan yang gegabah.” Walau orang-orang di depannya terlihat sangat serius, tapi Raja sama sekali tidak terpengaruh. Sebaliknya, dia malah sangat tenang. “Sebenarnya, ini sudah Kakek pikirkan selama berbulan-bulan,” lanjut pria sepuh itu dengan mata yang memejam, seolah sedang lelah. “Sekali pun begitu, Kakek tidak bisa seenaknya memutuskan.” Kali ini, Atlas yang protes. Tadi dia memang ikut masuk ke ruangan sang kakek, setelah rapat selesai. “Itu adalah saham milikku, Atlas.” Raja membuka mata, hanya untuk
“Eh? Aku juga ikut?” tanya Aju dengan kedua mata yang membulat karena terkejut. “Untuk apa Aju harus ikut?” Kini Aiden yang bertanya dengan mata melotot. “Kita kan hanya akan pergi ke rapat umum pemegang saham. Aju tidak perlu ikut.” “Justru karena kita akan pergi ke rapat itu, makanya Aju harus ikut.” Sayangnya, Raja tetap kukuh pada pendiriannya. “Kecuali kalau hari ini Aju ada jadwal kerja.” “Hari ini tidak ada sih, tapi ....” Jujur saja Aju sangat bingung dengan ajakan yang sangat tiba-tiba ini. “Tapi memangnya tidak masalah? Aku kan tidak bakal ngapa-ngapaiin di sana. Nanti malah mengganggu saja.” “Kau tidak akan mengganggu, justru kau akan bosan.” Aiden yang berbicara. “Aku tidak ingin kau bosan ketika mengikuti rapat yang memang membosankan itu.” “Rapat membosankan kepalamu.” Raja tidak segan memukul cucunya. “Kinerjamu selama magang di kantor akan dinilai semua orang.” “Tapi tetap saja rapat itu pasti akan membosankan bagi Aju.” Aiden yang tidak mau kalah, malah berdeba
“Selamat pagi.” “Selamat pagi juga, Aju.” Tiara membalas sapaan itu dengan sama hangatnya. “Hari ini kau terlihat sangat bersemangat, apa ada sesuatu yang baik terjadi?” “Ada sih, tapi aku tidak akan mengatakannya.” Aju mengedipkan mata dengan jahil. Jujur saja, ini membuat Tiara agak terkejut. Hari ini memang Aju sudah kembali bekerja seperti biasa dan akan melanjutkan pemotretan dengannya, tapi tidak disangka kalau sang selebriti akan seriang itu. Jangankan Tiara, Kira sebagai manajer saja merasa bingung. [Malaikat: Baby, aku sudah sampai di tempat Tante Tiara dan akan bekerja. Kamu juga yang semangat ya di kampus.] Aju menyempatkan diri mengirimkan pesan itu pada sang kekasih dan membuatnya makin tersenyum. Iya, dirinya dan Aiden pada akhirnya resmi menjadi kekasih lagi. Itu pun setelah Aju berhasil membuat Aiden tersipu malu dengan kalimatnya sendiri. Aiden sudah mengakui perasaan dan ketakutannya akan masa