Saham Perusahaan Hales sebesar 35% setara dengan uang ratusan miliar. Kini Harris terbaring di ranjang dan Susan sedang dalam masalah. Keluarga Winata hanya tersisa Sienna. Asalkan dia mati, perusahaan ini akan menjadi milik orang lain. Terry menengadah dengan bangga."Kalian tenang saja, aku bersusah payah mendapatkan obat ini dari koneksiku!" Semua orang tetap merasa ketakutan karena hal ini jelas melanggar hukum. Namun, mengingat sikap Sienna yang keras, mereka benar-benar tidak bisa menerima hal ini. Apalagi, masalah ini menyangkut 35% saham perusahaan itu.Dalam keheningan, Vito akhirnya tidak kuasa berkata, "Jangan lupa, Keluarga Winata besanan dengan Keluarga Yuwono. Kalau tidak, mana mungkin Grup Yuwono bisa membiarkan kita mendapatkan pendanaan dua kali? Kalau terjadi sesuatu padanya, bagaimana kalau Grup Yuwono meminta pertanggungjawaban?"Terry tersenyum sinis, "Coba tebak siapa yang memberikan obat ini padaku?""Siapa?""Nanda," jawab Terry.Dulunya, Susan sering sekali ter
Di sisi lain, Sienna juga sedang lembur di perusahaan. Ketika baru saja hendak berdiri dan pulang, Terry tiba-tiba masuk ke ruangannya. "Bu Sienna, ini adalah data pengunduran diri kami, silakan diperiksa."Sienna mengerutkan alisnya sejenak. Dia tidak menyangka sekelompok orang ini akan berinisiatif mengundurkan diri. Melihat hal ini, ekspresi Sienna menjadi lebih lembut. "Kalian tenang saja, aku akan memberi kalian pesangon yang pantas."Pada saat ini, Terry berdiri di samping Sienna dan Sienna sedang duduk sambil memeriksa semua data itu dengan saksama. Namun, alisnya makin berkerut saat melihat semua data itu ternyata tidak sesuai. Saat menengadah dan hendak mengatakan sesuatu, Sienna tiba-tiba mencium sebuah aroma yang menyengat. Kepalanya tiba-tiba menjadi sangat pusing.Terry menyuruh penjaga kebersihan untuk mengambilkan sebuah tong sampah besar dan mengancamnya, "Lupakan semua yang kamu lihat sekarang ini! Kalau nggak, target selanjutnya adalah kamu!"Penjaga kebersihan adalah
Jelas-jelas dirinya sudah berusaha untuk tidak membuat Jacob merasa jengkel. Apa semua itu masih belum cukup? Sienna hanya menunduk tanpa melontarkan sepatah kata pun.Setelah mengakhiri panggilan, si penculik menendangnya dan berkata, "Nona, kamu sudah dengar itu? Di mata suamimu, kamu sama sekali nggak bernilai."Rambut Sienna ditarik oleh penculik itu, juga dipaksa untuk mendongak. Begitu melihat wajah cantik Sienna, hasratnya langsung terbangkitkan. "Gila! Rupanya kamu cantik sekali! Tapi, Jacob malah nggak menginginkan wanita secantik ini."Penculik itu pun menggendong Sienna, lalu menutup kepalanya dengan karung di sebelahnya. Dia juga memasukkan kain ke mulut Sienna sebelum mengangkatnya ke dalam pabrik.Di dalam sana, kepala Elena juga ditutup dengan karung. Hanya saja, mulutnya tidak disumpal sehingga wanita ini terus menangis dan berteriak, "Lepaskan aku! Cepat lepaskan aku!"Saat ini, pria yang mengangkat Sienna masuk berseru, "Kenapa diam saja? Cepat tinggalkan tempat ini!
Api di dalam memang sudah padam. Sienna meringkuk di sudut. Kini, tali yang mengikatnya sudah dilepaskan, begitu juga dengan benda yang menyumpal mulutnya.Barusan, api hendak menyerbu ke arah Sienna. Namun, untung ada seseorang yang sontak menariknya dengan kuat. Ketika karung di kepala dilepaskan, Sienna melihat petugas kebersihan wanita yang tidak seharusnya muncul di tempat seperti ini."Nona, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya petugas kebersihan yang tampak benar-benar cemas. Wajah kurusnya yang tampak agak kuning dipenuhi kekhawatiran.Sienna merasa wanita ini sangat familier. Namun, begitu mendengar suara Harris, wanita ini seketika menjadi panik dan melarikan diri.Harris menemukan Sienna yang meringkuk di sudut. Meskipun tidak terluka, sekujur tubuhnya terlihat sangat kotor, bahkan rambutnya dipenuhi debu. Bau asap yang menyengat memenuhi seluruh pabrik.Dengan mulut yang dipenuhi aroma darah, Harris menginstruksi bawahannya, "Cepat ... papah Sienna kemari."Dua pengawal bergeg
"Nona, tolong jangan sedih," ucap pengawal itu yang mengira Sienna tidak bersuara karena merasa sakit hati akan ucapan Jacob.Sienna menghela napas, lalu berpesan, "Kalau Ayah ingin pulang, bawa saja dia pulang setelah siuman nanti. Kalian jaga dia baik-baik, jangan sampai ada yang mengganggu, terutama kakek dan nenekku.""Kami mengerti," sahut pelayan itu dengan sopan. Sejak Susan tersingkirkan, seluruh Keluarga Winata diatur oleh Sienna. Kini, Sienna bahkan menguasai saham Keluarga Winata sehingga dia adalah pewaris yang layak.Sesudah berpesan beberapa hal, Sienna baru menyuruh sopir mengantarnya pulang. Sekarang sudah pukul 02.00. Setibanya di Kompleks Mawaria, dia becermin untuk mengamati diri sendiri.Terlihat wajah Sienna yang kotor, juga rambutnya yang penuh debu karena jerami yang terbakar. Selain itu, kemejanya juga tampak lusuh.Sienna mandi dengan santai. Setelah keluar dengan mengenakan piamanya, dia merasa sekujur tubuh sangat lelah sehingga langsung berbaring dan tertidu
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Sienna."Dua tahun," jawab Melanie.Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan Sarah dan Ruslan, Melanie sejak awal sudah tahu bahwa Harris sekeluarga tinggal di vila dan memiliki perusahaan di ibu kota. Namun, dia memilih untuk diam selama ini.Kemarin malam, Melanie juga yang mengabari Harris tentang peristiwa tersebut. Saat ini, Sienna tiba-tiba mendapati ada memar di tangan wanita ini. Sepertinya, sampai sekarang Ruslan masih melakukan KDRT terhadap istrinya.Ketika melihat Sienna hanya terdiam, Melanie tiba-tiba berlutut untuk memohon, "Bu Sienna, tolong jangan pecat aku."Sienna terkesiap melihatnya. Dia buru-buru memapah Melanie untuk berdiri, lalu bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"Melanie menunduk sembari menyahut, "Aku tahu kamu kurang menyukai kami sekeluarga ...."Sienna tidak mengatakan apa pun karena kurang mengenal Melanie. Wanita ini terlihat kurus dan lesu, bahkan tubuhnya dipenuhi bekas pukulan. Dalam sekejap, Sienna mer
Sienna pun tertegun mendengarnya. Dia tidak mengerti apa maksud pria ini. Akan tetapi, dia tetap kembali ke Kompleks Mawaria untuk mengambil peralatan melukis yang paling disukainya, lalu pergi ke hotel.Sesampainya di kamar, Sienna langsung melihat sebuah lukisan di depan jendela besar. Begitu melihat, dia pun tahu itu adalah lukisan gurunya."Tuan Jacob?" panggil Sienna ketika mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Tidak berselang lama, Jacob membuka pintu dan keluar sambil mengelap rambutnya yang basah."Wiandro memberiku lukisan ini, dengar-dengar Rowen yang melukisnya sampai setengah. Apa kamu bisa menyelesaikannya?" tanya Jacob.Sienna menatap lukisan pemandangan itu. Dia hanya perlu meniru teknik melukis Rowen yang santai. Jadi, dia mengangguk dan mendongak, lalu bertanya dengan tenang, "Kamu mau membayar berapa?"Sikap dinginnya ini seakan-akan menyiratkan bahwa dirinya akan langsung meninggalkan kamar hotel jika Jacob tidak membayarnya. Mendengar ini, Jacob menatap Sie
Sienna memiliki lekukan mata yang indah, terutama saat matanya merah, dia akan tampak sangat kasihan.Sienna yang tampak begitu kesal pun menggertakkan gigi tanpa melontarkan sepatah kata pun. Raut wajah seperti ini membuat Jacob ingin sekali menciumnya.Namun, Sienna sudah lebih tenang sekarang karena teringat Jacob mentransfernya uang 80 miliar. Ini sudah cukup untuk meredakan kekesalan dalam hatinya.Sienna menurunkan pandangannya, lalu berucap, "Maafkan aku, Tuan Jacob." Dia sudah salah karena tidak seharusnya mengamuk kepada klien. Bagaimanapun, keduanya masih bekerja sama.Sementara itu, tidak ada yang berani bersikap seperti ini pada Jacob, kecuali Darwo. Akan tetapi, dia sama sekali tidak marah, melainkan merasa agak terkejut.Tatapan Sienna dipenuhi amarah saat menatap Jacob. Melihat ini, gairah Jacob seketika terbangkitkan. Bagian tubuh bawahnya sudah bereaksi.Jacob menelan ludahnya sembari memegang belakang kepala Sienna. Saat berikutnya, dia tidak bisa menahan diri untuk m
Ed melempar pisau itu ke tong sampah, lalu menyerahkan 00 kepada Hans dan berujar, "Tanya Bu Mae sekarang Fredie ada di mana."Orang abnormal seperti Fredie pasti tidak akan melepaskan wanita yang sangat mirip dengan Luna. Niat jahat Ed muncul, dia merasa seperti Sienna yang menderita jika 00 dinodai Fredie. Mana mungkin Fredie sama sekali tidak menyentuh Luna setelah mengurungnya selama bertahun-tahun?Jika Luna dan putrinya sama-sama dinodai Fredie, ini hal yang menarik. Ed merasa antusias begitu memikirkan hal ini.Sebelumnya 00 memang dilatih secara profesional, tetapi dia hanya berlatih untuk meniru Sienna. Kemampuan bertarung 00 tidak begitu hebat. Dia tidak bisa melindungi dirinya dari orang munafik seperti Ed.Sekarang kedua tangan 00 ditahan sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak. Dia berteriak, "Lepaskan aku!"Ed menyahut, "Aku bisa lepaskan kamu. Tapi, kamu harus beri tahu aku di mana Jacob dan apa tujuannya."Apa Jacob benar-benar masuk ke markas penelitian? Namun, un
Namun, sekarang mereka tidak bisa mengeluarkan Arlo. Begitu bahan eksperimen hilang, semua anggota markas penelitian akan menyadari ada orang yang menyusup. Nantinya semua orang di markas penelitian akan diperiksa.Jacob dan lainnya yang belum berhasil kabur akan terekspos. Mereka tidak akan bisa keluar lagi. Sekarang Jacob harus kembali ke ventilasi, lalu mengambil kembali botol-botol obat dan mengembalikannya ke tempat semula. Dengan begitu, Jacob baru bisa menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya."Bakti, kamu kembali ke tempatmu dulu," ucap Jacob.Bakti bertanya, "Bagaimana dengan Arlo?"Jacob memijat kening seraya menyahut, "Aku lihat dia masih bernapas. Seharusnya dia belum mati. Kalau kita mengeluarkannya, kita semua pasti mati."Tentu saja Bakti memahami hal ini. Kemudian, Bakti pergi. Jacob kembali ke ruang penelitian Sharon. Ruangan ini tidak terpengaruh, tetapi Sharon menghilang.Jacob tidak curiga. Dia langsung kembali ke kamarnya, lalu memanjat ke ventilasi dan mengambil
Jacob tahu itu adalah suara pria berseragam yang muncul di aula utama. Seharusnya dia mengikuti rapat di Armania, tetapi banyak kamera pengawas dipasang di berbagai sudut markas penelitian. Cepat atau lambat pria berseragam pasti akan mengetahui kekacauan di sini.Hanya saja, Jacob tidak menyangka pria itu akan mengetahuinya begitu cepat. Jacob terus memutar otak, lalu membuka pintu kandang binatang buas. Semua binatang buas pun keluar.Bakti yang berdiri di samping bertanya, "Memangnya ada gunanya? Kekacauan yang kita buat langsung digagalkan oleh suara bel yang aneh. Aku rasa orang-orang di sini sudah dihipnosis. Apa pun kondisinya, mereka akan segera bangun begitu mendengar suara bel itu."Jacob menjawab, "Ada. Sekelompok binatang buas ini sudah dijinakkan. Kalau mereka dilepaskan, mereka hanya ingin kabur. Binatang buas ini cuma berani makan orang yang dimasukkan ke kandang."Jacob melanjutkan, "Waktu melihat orang di luar kandang, semua binatang buas ini akan ketakutan dan mengamu
Dulu Ed memang ingin mendapatkan lencana itu, tetapi sekarang dia sama sekali tidak menyentuhnya. Hans yang mengambil lencana itu dan memainkannya sejenak sebelum menyematkannya di pakaian Ed.Ed tiba-tiba merasa sesak. Amarahnya hampir meledak. Ed menarik napas dalam-dalam, lalu melihat lencana di dadanya. Dia menepis tangan Hans.Hans melirik Ed dengan gugup dan berjalan ke pintu. Setelah pintu ditutup, Ed merasa gusar. Dia menarik napas lagi, lalu mengambil rokok. Begitu Ed menyalakan rokok, tiba-tiba terdengar suara raungan yang keras.Ed membuang abu rokok dan pergi ke aula utama untuk memeriksa kondisinya. Suasana di aula kacau balau. Pemuda di ruang eksperimen nomor 8 dilepaskan. Sekarang terdengar suara tembakan.Selain itu, asap putih mengepul dan menyebar dengan cepat. Seketika, seluruh ruangan diselimuti asap.Para staf penelitian di aula panik. Mereka meringkuk di sudut karena takut diincar senjata mematikan itu.Senjata mematikan itu paling membenci staf penelitian. Setida
Pria berseragam mengamati Sharon dan bertanya, "Sepertinya Bu Sharon nggak menyukai Ed. Padahal itu orang yang direkomendasikan Mae."Sharon lanjut menyusun tabung reaksi, lalu menjawab dengan datar, "Aku cuma nggak merasa cocok."Ketujuh petinggi tidak mengatakan apa pun. Mereka tahu sifat Sharon agak aneh. Jacob yang berdiri di depan Sharon bisa melihat layar dengan jelas.Seharusnya ruang rapat para petinggi tidak terletak di area ini. Desain ruangannya jauh berbeda. Yang membuat Jacob bingung adalah latar belakang tempat para petinggi berada tampak sangat familier. Namun, Jacob tidak bisa mengingatnya.Jacob yakin tempat itu bukan bagian internal markas penelitian. Dia mengernyit, mungkin mereka memang tidak berada di area ini. Bahkan, mereka tidak berada di Kango.Tidak ada yang tahu identitas ketujuh petinggi ini. Kemungkinan besar mereka adalah petinggi dari negara lain, jadi mereka memakai topeng. Mungkin juga mereka tidak mengetahui identitas satu sama lain dan hanya merupakan
Di Afrikan. Sienna terus memperhatikan berita di dalam negeri. Setelah memastikan Cristin dihujat habis-habisan, Sienna baru merasa puas.Sienna tidak menelepon Wanda. Nantinya Wanda pasti akan meminta maaf kepada Sienna lagi. Lebih baik dia tidak mengganggu Wanda dan membiarkannya istirahat untuk beberapa waktu.Sienna mengusap matanya, lalu meletakkan laptop di atas meja. Wanita di samping mengingatkan, "Ibu hamil harus batasi penggunaan peralatan elektronik."Sienna pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika keluar, matanya tetap memerah. Belum ada kabar dari Jacob. Minggu ini Sienna kurang istirahat, dia sering terbangun saat tengah malam karena mimpi buruk.Sekarang Sienna merasa lelah sesudah mengurus masalah di dalam negeri. Setelah menunggu 1 hari lagi, Sienna sudah kehilangan kesabaran.Sienna menelepon Jero, mungkin saja Jero sudah mendapatkan petunjuk. Jero berucap, "Nggak ada, Sienna. Kamu nggak usah khawatir. Sistem di markas penelitian sangat rumit, kemungkinan merek
Keesokan harinya, Wanda baru mendengar kabar Cristin pergi ke luar negeri. Rebecca mengira Wanda akan merasa senang, tetapi Wanda tetap terlihat tenang. Wanda terus memandang ke luar jendela. Setelah beberapa saat, dia baru mengangguk.Wanda makin kurus. Wajahnya tampak tirus. Saat bermimpi di malam hari, Wanda akan memanggil, "Wanwan."Wanda tidak berani membayangkan bagaimana Wanwan mati. Setiap mengingat hal ini, Wanda akan membenci dirinya yang tidak berguna.Rebecca mengkhawatirkan kondisi mental Wanda, jadi dia ingin mengundang psikolog. Wanda menolak, "Nggak usah, cuma tubuhku yang sakit. Aku cuma butuh istirahat yang cukup."Wanda diantar pulang. Makanan anjing dan air di mangkuk masih ada, tetapi Wanwan sudah pergi. Wanda takut dirinya menangis di depan Rebecca. Dia segera tersenyum dan berujar, "Rebecca, jadwalmu sudah terganggu. Sebaiknya kamu kembali syuting. Kamu tenang saja, aku pasti istirahat di rumah."Rebecca mengangguk, lalu berpesan setelah berpikir sejenak, "Aku s
Cristin masih linglung ketika dibawa keluar dari kediaman Keluarga Salim. Dia sudah berlutut sambil memohon pada keluarganya, tetapi tidak ada yang membelanya. Bahkan, kakak Cristin juga menghindari adiknya. Semua orang tetap terdiam.Dulu, kehidupan Cristin sangat indah. Sekarang dia berakhir tragis. Sebelumnya, Cristin merasa Wanda sangat kasihan. Wanda dicampakkan orang tuanya dan semua orang, bahkan Benny juga tidak menginginkannya lagi. Biarpun Wanda memohon, Benny juga tidak memedulikannya. Namun, saat ini nasib Cristin sama seperti Wanda. Dia juga dicampakkan begitu saja.Cristin naik ke mobil, lalu dia dibawa ke sebuah vila. Sopir berkata, "Nona Cristin, cepat bereskan kopermu. Pesawat terbang 3 jam lagi. Ke depannya kamu nggak usah pulang."Ini adalah keputusan Keluarga Salim. Mereka juga telah mengumumkan keputusan ini di internet dan memberi keluarga siswa yang mati itu kompensasi sebesar 20 miliar.Namun, para netizen tetap menghujat Cristin dan Keluarga Salim. Semua masal
Tubuh Cristin lemas. Dia meremas ponselnya dan air matanya terus mengalir. Anggota Keluarga Salim masih mengetuk pintu kamar Cristin sambil berseru."Cristin, apa kamu sudah lihat berita di internet? Saham Keluarga Salim anjlok lagi. Sebaiknya kamu minta maaf. Tindakanmu memang keterlaluan.""Hujatan di internet terus bertambah. Para pemegang saham mulai marah-marah. Kalau kamu nggak bersuara, kemungkinan besar Keluarga Salim akan diperiksa petinggi."Cristin yang duduk di lantai memeluk kedua kakinya. Bahunya terus bergetar. Dia berteriak, "Aku nggak mau minta maaf pada wanita rendahan itu!"Anggota Keluarga Salim di luar berang setelah mendengar ucapan Cristin. Bisa-bisanya Cristin bersikap kekanak-kanakan pada saat-saat seperti ini!Salah satu anggota Keluarga Salim membalas, "Oke. Kalau kamu nggak mau minta maaf, Keluarga Salim akan segera mengumumkan bahwa kamu sudah diusir! Ke depannya semua tindakanmu nggak ada hubungannya dengan Keluarga Salim! Kamu pikirkan baik-baik!"Keluarg