Home / Romansa / Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini / Bab 257. Kalung yang Hanya Dimiliki Oleh Dua Orang

Share

Bab 257. Kalung yang Hanya Dimiliki Oleh Dua Orang

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2024-10-27 09:30:04

Setelah pukul setengah sembilan pagi tepat, Evan sampai di kantornya. Banyak pekerjaan yang harus Evan selesaikan, namun karena pikirannya sedang kacau, dia menyerahkan sebagian tugasnya pada Asgar.

Evan pun kini tengah berada di dalam sebuah ruangan pribadi miliknya.

Laki-laki itu berdiri tegap menatap ke arah luar dinding kaca dengan satu tangannya membawa ponsel dan nampak menghubungi seseorang.

"Halo Pa..."

"Halo Van, ada apa?" tanya Arshen di balik panggilan itu.

"Pa, aku ingin meminta bantuan Papa untuk memastikan suatu hal."

"Suatu hal?" Dari balik telfon, terdengar Arshen yang bertanya-tanya.

Evan memejamkan kedua matanya dan laki-laki itu menyergah napasnya panjang.

"Datanglah ke kantor polisi, lihatlah apakah Clarisa ada di sana, atau dia benar-benar sudah bebas," tegas Evan pada Papanya.

"Apa maksudmu, Van?" Arshen terdengar kaget dan bingung.

"Aku tidak bisa bercerita panjang lebar sekarang, Pa. Aku hanya ingin Papa melakukan permintaanku pada Papa."

"Baik, baik Van
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
bilang aja klu klung itu jatuh dari saku Tania...biar Exel tau dn menjauh dari Tania...Tania misterius
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 258. Tak kan Kubiarkan Tania Menyentuh Exel

    Pertanyaan yang keluar dari bibir Exel, bersamaan dengan anak itu mengangkat kalung di tangannya, membuat Evan terkejut. Saat itu juga Evan melangkah mendekati anaknya yang masih lekat menatapnya penuh tanda tanya. "Pa..." Exel berkaca-kaca. "Exel kan sudah bilang, Exel tidak suka kalung itu!" Evan tidak menjawab, dia meraih kalung emas tersebut dari tangan putranya dan kembali meletakkannya di dalam laci."Papa kenapa diam?" Suara Exel terdengar bergetar.Evan paham, anaknya sangat membenci hal-hal yang berkaitan dengan Clarisa.Saat itu juga, Evan mencekal erat kedua pundak Exel hingga membuat Exel tersentak. Kedua sorot mata hitam Evan menelisik dalam-dalam wajah tampan mungil putranya.Keseriusan mengikat mereka dari pandangan mata yang saling bertemu. "Exel, mulai sekarang ... jauhi Bibi Tania!" ucap Evan lirih dan tegas. Kedua pupil mata cokelat Exel melebar seketika. Ucapan Papanya kali ini terdengar seperti sebuah peringatan penting yang harus dia patuhi. Ekor mata Exel

    Last Updated : 2024-10-27
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 259. Mungkinkah Dia Clarisa?!

    Malam ini Exel terlihat sedang sendirian di ruang keluarga. Bocah sembilan tahun itu terlihat asik dengan buku-buku baru yang Papanya belikan untuknya. Sedangkan Evan dan Elizabeth, tengah bersama Pauline di ruangan samping. Exel sengaja menyendiri karena anak itu ingin fokus dengan buku yang ia baca. Sampai tiba-tiba, seseorang meletakkan segelas susu di atas meja, di sampingnya. "Tuan Kecil, ini Bibi buatkan susu. Diminum selagi masih hangat," ujar Tania menatap Exel. Mendengar suara Tania, Exel langsung beranjak dan anak itu menatap waspada pada Tania dengan sorot mata takut. "A-aku akan minta dibuatkan susu oleh Mamaku. Bibi tidak usah buatkan aku susu lagi," jawab Exel menolak. Tania tampak bingung. "Tapi Tuan—""Tidak usah, ya tidak usah!" Exel nampak berdiri dengan pandangan was-was. Jemari tangannya meremas buku yang ia peluk sebelum anak itu berlari menjauh dan pergi. Dan Tania pun menatap Exel yang meninggalkannya bersama segelas susu vanila yang masih hangat di atas

    Last Updated : 2024-10-27
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 260. Membuat Wanita Licik Itu Tersinggung

    Seolah tidak terjadi apapun dan tak mengetahui apapun. Evan bersikap seperti biasanya pagi ini. Laki-laki itu dengan sikapnya yang terlihat tenang, dia melangkah ke lantai satu berjalan dengan santai ke arah meja makan. "Selamat pagi," sapa Evan mendekati kedua buah hatinya. "Pagi, Papa..." Pauline dan Exel kompak menjawab. Anak-anak itu berebut pelukan Evan seperti biasa, mereka nampak cerah ceria pagi ini. "Pagi, Sayang," sapa Elizabeth, wanita cantik itu baru saja muncul dari arah dapur. "Oh, pagi juga, Sayang ... kau dari mana?" Evan merangkul pinggang Elizabeth saat wanita itu mendekat. "Aku membuatkan bekal untuk Exel. Dia ingin aku yang memasaknya," jawab Elizabeth. "Emm, baiklah." Evan menarik kursi dan meminta Elizabeth untuk duduk di sampingnya. Dari belakang, muncul Tania bersama Bibi Lidia yang kini menata hidangan sarapan untuk Evan dan keluarga kecilnya. Pagi ini, Evan sengaja ingin melakukan beberapa hal untuk melihat apakah rasa penasarann

    Last Updated : 2024-10-28
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 261. Hal yang Kau Sembunyikan

    Setelah beberapa hari Elizabeth merasakan perubahan sifat Evan yang membuatnya selalu bertanya-tanya. Tidak sekali dua kali Evan selalu mengincar Tania seolah musuh terbesar di dalam rumah. Elizabeth sampai tidak bisa merasa tenang memikirkannya. 'Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan sikap Evan ... kenapa aku merasa dia tidak terbuka padaku, saat ini? Apa ada yang coba dia rahasiakan dariku?' batin Elizabeth pun bertanya-tanya. Wanita itu duduk di tepi ranjang dan mengusap wajahnya pelan. Elizabeth belum tidur hingga pukul dua belas malam, bahkan ia hanya berdua dengan Pauline di kamarnya, karena Evan harus menggarap cepat pekerjaannya untuk esok pagi. Suara gagang pintu kamar yang terbuka membuat Elizabeth menoleh cepat. Berdiri Evan di sana menatapnya dengan tatapan kaget. "Loh, kenapa belum tidur? Ini sudah tengah malam, Eli..." Evan meletakkan mentel hangatnya di sofa yang berada di kamarnya. Elizabeth hanya menggeleng pelan. "Aku tidak bisa tidur. Aku kepiki

    Last Updated : 2024-10-28
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 262. Berbagai Fakta Dalam Satu Malam

    Penerangan rumah megah Evan telah dimatikan malam ini. Namun, tak seorang pun tahu kalau Evan tengah bersama Jericho dan James di teras belakang. Mereka nampak mengawasi Tania yang berjalan mengendap-endap keluar dari dalam paviliunnya, dan berlari meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa hari ini dia selalu terlihat gelisah, dan sudah beberapa hari ini pula Tania sering pergi diam-diam di malam hari. Evan menepuk pundak Jericho. "Ikuti dia ke manapun dia pergi, Jer!" seru Evan dengan suara lirih. "Baik Tuan, saya berangkat sekarang." Jericho langsung memakai mantel hitam dan topinya. Laki-laki itu berjalan melangkah meninggalkan pekarangan rumah dan mengejar Tania yang sudah keluar lebih dulu, entah ke mana wanita itu pergi. Sedangkan Evan, laki-laki itu kini bersama James. "Apa Tuan yakin, akan menggeledah paviliun Tania?" tanya James. "Ya, kau membawa kunci cadangannya, kan?" "Ya Tuan. Saya membawanya," jawab James. "Bagus." Dia laki-laki itu pun segera melangkah cepat k

    Last Updated : 2024-10-28
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 263. Jangan Harap Kau Bisa Melarikan Diri!

    Keesokan harinya, Elizabeth dan Evan kembali menjalani harinya seperti biasa. Sibuk dengan dengan pekerjaan, dan yang satu sibuk dengan anak-anak mereka.Pagi ini Exel terlihat lemas, dia malas pergi ke sekolah karena hari ini jadwal pelajaran matematika yang sangat banyak. Anak laki-laki itu duduk di kursi ruang makan, bersama adiknya yang asik sendiri di sampingnya. "Selamat pagi, Tuan dan Nona Kecil," sapa Tania, wanita itu meletakkan segelas susu di hadapan Exel dan Pauline. "Ini susunya, mumpung masih hangat, susu cokelat untuk Tuan Kecil." Exel tidak menjawab, anak itu melirik Tania dengan ekor matanya yang tajam. "Emm, apa Tuan Kecil menginginkan sesuatu lagi?" tanya Tania mengusap punggung kecil Exel. Anak laki-laki itu menatapnya lekat dengan pandangan mata dingin dan kedua alisnya yang tiba-tiba saja bertaut tajam. "Tidak. Bibi Tania mau sampai kapan berpura-pura di depanku?" tanya Exel tiba-tiba. Deg...Tania melebarkan kedua matanya seketika, mendengar apa yang haru

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 264. Sebuah Sindiran yang Tajam

    Setelah Elizabeth berhasil membuat Tania bertahan bekerja di rumahnya, wanita itu ingin mendekati Tania secara perlahan-lahan. Seperti sing ini, mereka berdua tengah berada di dapur dan sedang membuat kue kering untuk Pauline. "Tan, bila hari minggu kau pulang menjenguk ibumu, bagaimana kalau aku dan suamiku ikut? Aku juga ingin menjenguk dan bertemu dengan ibumu," ujar Elizabeth menatap Tania di sampingnya. Kegiatan Tania memotong buah-buahan kering pun terhenti, dia terlihat seperti sejenak diam berpikir.Elizabeth tersenyum meraih sebuah mangkuk kecil di hadapan Tania hingga sukses membuat lamunan Tania buyar. "Kita kan sudah kenal, kau juga sudah bekerja di sini cukup lama. Sesekali saja aku ingin tahu di mana rumahmu," imbuh Elizabeth melirik Tania. "Ti-tidak perlu Nyonya. Rumah saya sangat kecil, dan saya takut Nyonya tidak nyaman dengan rumah saya yang rasanya tidak pantas dikunjungi oleh Tuan dan Nyonya," jawab Tania, tentu saja dia beralasan. Elizabeth menyergah napasny

    Last Updated : 2024-10-29
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 265. Tamu yang Membuat Tania Panik

    Dua hari kemudian...Elizabeth membawa banyak barang-barang, dan kue yang ia beli dari luar bersama dengan suaminya siang ini. Setelah mengajak anak-anak pergi jalan-jalan, mereka menyempatkan berbelanja banyak makanan, minuman, dan barang-barang lainnya. "Wahh, Nyonya berbelanja banyak sekali?" tanya Tania saat Elizabeth meminta bantuannya untuk membawakan barang ke belakang. "Iya, Tan. Ada tamu hari ini, jadi aku sengaja membeli banyak cemilan, kue, dan buah-buahan," jawab Elizabeth sembari membukakan tutup botol minuman milik Pauline. "Oh, begitu ya, Nyonya..." Tania tersenyum manis. Muncul Evan yang kini masuk ke dalam ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Laki-laki itu membawa buket bunga yang tadi Elizabeth beli di toko bunga Bibi Meria. "Sayang, buket bungamu tertinggal," ujar Evan."Oh ya ampun, aku lupa..." Elizabeth meraih buket bunga itu, sebelum dia menatap Evan. "Orang-orang ke sini jam berapa, Sayang?" "Entahlah, sepertinya sore," jawab Evan mendekati Paulin

    Last Updated : 2024-10-29

Latest chapter

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 511. (PAULINE STORY) Pemilik Hatiku yang Sebenarnya

    Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 510. (PAULINE STORY) Hubungan yang Dulunya Retak, Kini Terjalin Kembali

    Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 509. (PAULINE STORY) Pauline, Bukalah Pintu Hatimu untuk Xander

    Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 508. (PAULINE STORY) Sebuah Restu

    Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 507. (PAULINE STORY) Sosok Laki-laki yang Setia

    Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 506. (PAULINE STORY) Sosok Papa yang Diinginkan Alicia

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 505. (PAULINE STORY) Alicia Ingin Punya Seorang Papa

    Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 504. (PAULINE STORY) Sosok Papa untuk Alicia

    Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 503. (PAULINE STORY) Siapa Papanya Alicia?

    Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status