Home / Romansa / Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini / Bab 235. Mereka Mulai Dekat

Share

Bab 235. Mereka Mulai Dekat

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2024-10-19 09:17:56

Kediaman Evan dan Elizabeth sangat sepi setelah semua seisi rumah itu pergi dengan kesibukan masing-masing.

Di rumah itu hanya ada Tania dan satu pembantu lainnya yang sudah sedikit lebih tua. Mereka pun bersama-sama membersihkan rumah.

"Loh, Tan ... ini bekalnya siapa tidak dibawa?" tanya Bibi menoleh pada Tania.

"Bekal?" Tania mengerutkan keningnya dan melihat bekal di atas meja.

Bekal itu berada dalam wadah yang kemarin Tania belikan, itu milik Exel. Dan Tania ingat betul, bagaimana Exel sangat menyukai tempat bekal baru yang kemarin dia belikan.

Wanita itu meletakkan kain lap yang dia bawa dan berjalan mendekati meja makan.

"Ini punya Tuan Kecil, Bi. Berarti dia tidak membawa bekal sama sekali, dan pulangnya selalu saja sore. Kasihan dia..." Tania mulai merasa cemas.

"Iya. Tapi mau bagaimana lagi? Jarak dari sekolah Tuan Kecil ke rumah kan jauh sekali. Belum lagi di rumah sekarang tidak ada orang," jelas Bibi menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan Tania.

Tania menghel
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
makin takut aja...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 236. Kedekatan Exel dan Tania, Kegelisahan pun Muncul

    Dengan bantuan sang Mama, Exel pun kini telah menyiapkan sesuatu yang ingin ia berikan pada Tania. Anak laki-laki itu berjalan menuju ke paviliun milik Tania. Dengan langkah yang sangat pelan, Exel berdiri di depan pintu paviliun. Di tangannya terdapat satu box kue keju yang tadi sore dia beli bersama Elizabeth. "Bibi Tania..." Exel mengangguk Tania. "Bibi, ini Exel!" Tidak ada jawaban atau sahutan sama sekali dari dalam sana. Mau tidak mau, Exel pun membuka pintu paviliun tersebut. Di dalam sangat senyap dan sepi, entah di mana Tania saat ini. "Di mana Bibi Tania?" lirih Exel berjalan dengan pelan-pelan dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari. Anak laki-laki itu berjalan ke arah kamar Tania, dan Exel menghentikan langkahnya saat dia melihat Tania berada di dalam sana. Wanita itu tengah menatap sebuah gambar dalam figura foto dan tersenyum mengusap-usapnya. "Pertemuan ini tidak pernah aku sangka-sangka, ini semua seperti mimpi indah yang telah lama aku tunggu," ujar Tani

    Last Updated : 2024-10-19
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 237. Sayang, Jangan Khawatir

    Keesokan harinya, Elizabeth menjemput Exel bersekolah bersama Pauline dan Evan. Setelah Pauline membeli beberapa mainan baru, anak itu antusias menunggu Kakaknya di sekolah. Hingga Exel baru saja keluar dari sekolahnya, dan langsung bergegas masuk ke dalam mobil. "Kakak, lihat ... Mama belikan mainan ini buat Pauline. Kita main sama-sama kalau sudah di rumah, ya," ujar Pauline menatap sang Kakak. Exel tersenyum dan menggeleng. "Tidak bisa, Kakak ada janji dengan Bibi Tania. Kakak mau mendengarkan Bibi Tania bercerita lagi," ujar Exel menolak ajakan sang adik. "Yahh ... Pauline sudah beli dua, ini buat Kakak Exel yang warna biru." Pauline menyerahkan mainannya pada sang Kakak. "Tidak bisa, Pauline. Kakak kan sudah bilang!" seru Exel. Elizabeth menoleh ke belakang di mana anak-anaknya berada. Ia menatap Exel yang baru kali ini menolak ajakan bermain dari adiknya. Tidak biasanya Exel membuat adiknya bersedih. Anak laki-laki itu padahal selalu menomorsatukan Pauline dalam segala ha

    Last Updated : 2024-10-20
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 238. Liburan Berdua

    Tiga hari berturut-turut Evan memperhatikan istrinya yang terlihat sangat murung. Elizabeth galau saat anaknya lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, bahkan kadang dengan Tania, terlebih Exel. Evan tahu, istrinya pasti jenuh dan bosan memikirkannya. Hingga malam ini, Evan mengajak Elizabeth untuk menyempatkan waktu duduk berdua setelah anak-anak tertidur. Mereka berdua duduk di balkon menikmati malam gelap dan sunyi, juga angin yang berhembus sejuk. "Kau tidak mengantuk, Sayang?" tanya Evan merangkul pundak Elizabeth. Istrinya itu menggelengkan kepala pelan. Elizabeth memilih menyandarkan kepalanya di pundak Evan dan melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh sang suami."Aku kepikiran Exel. Kenapa dia seperti menjauh dari kita ... bahkan sore tadi dia menolak untuk berkumpul dengan kita berdua," ujar Elizabeth cemberut. "Pasti ada alasan di balik semua itu, mungkin saja dia suka saat kita sedang bersama, jadi dia menolak bergabung," ungkap Evan, dia tidak senang bila Elizab

    Last Updated : 2024-10-20
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 239. Tempat Favorit Bersama Orang Tersayang

    Butuh waktu berjam-jam untuk Elizabeth dan Evan sampai di Koln. Mereka berdua tiba tepat pukul dua siang, dan Asgar yang mengemudikan mobil pun langsung menuju ke hotel tempat di mana Elizabeth dan Evan menginap. Hotel itu berada tidak jauh dari salah satu bangunan megah dengan Arsitektur Gotik yang sangat indah. Elizabeth pun sampai ternganga menatap Katedral Cologne yang berada di depan sana. "Woaahh ... indah sekali," ucap wanita itu tersenyum senang. "Meskipun aku bertahun-tahun tinggal di sini, tapi baru kali ini aku bisa melihat bangunan istimewa itu di depan mata kepalaku sendiri. Ya, walaupun jaraknya sedikit jauh dari hotel." Elizabeth tersenyum senang, ia menghirup udara segar dengan bebas di sana. Sebelum Evan melangkah ke arahnya sembari membawa segelas minuman yang sudah dia pesan dari luar sebelum mereka masuk. "Kau menyukainya?" tanya Evan ikut menatap ke arah pandang Elizabeth. "Heem. Aku sudah lama memimpikan ingin ke sini. Dulu aku hanya berencana terus dengan

    Last Updated : 2024-10-20
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 240. Liburan Singkat dan Sesuatu yang Mendadak

    Keesokan harinya, Elizabeth dan Evan pagi sudah berpakaian rapi dan bersiap. Mereka berdua pun kini berada di kediaman salah satu rekan Evan yang meminta Evan untuk datang ke kediamannya yang berada di Koln. Laki-laki itu adalah Jorce, dia pebisnis hebat yang telah berteman lama dengan Evan, bahkan mereka kenal sejak jaman kuliah. Hanya saja baru terhubung lagi setelah beberapa tahun ini. "Aku tidak menyangka kau benar-benar datang ke rumahku! Aku pikir kau hanya bercanda, Evander!" seru laki-laki itu dengan wajah berbunga-bunga. "Aku tidak mungkin berbohong bila aku benar-benar datang, Jorce!" seru Evan menjabat tangan temannya itu. Jorce pun membalasnya dengan tertawa, laki-laki yang menyambut kedatangan Evan dengan sangat senang hati. Bahkan sudah terlihat akrab seperti saudaranya sendiri. "Baiklah, mari ... silakan masuk," ajaknya pada Elizabeth dan Evan. Mereka berdua masuk ke dalam rumah yang memiliki arsitektur bagaikan istana, milik Jorce. Dan mereka melangkah ke arah ru

    Last Updated : 2024-10-21
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 241. Sayang, Semoga Kalian Mengerti

    Elizabeth dan Evan memutuskan untuk mengakhiri liburannya dan pulang dengan buru-buru, setelah Elizabeth mendapatkan kabar dari Adelaide yang mengatakan ada masalah besar di butik. Ada beberapa berkas keuangan milik butik yang hilang, hingga hal ini membuat Elizabeth ikut merasakan kebingungan dan ia pun tidak langsung pulang ke rumah, melainkan meminta ditinggalkan di tempat kerjanya. Sedangkan Evan, laki-laki itu pulang sendirian ke rumahnya saat ini. Karena anak-anak sudah menunggu oleh-oleh yang dia bawakan. "Loh, Papa ... Mama mana? Kenapa Papa sendirian?" tanya Exel menatap sang Papa. "Mama tadi langsung Papa antar ke butik, Sayang. Ada urusan penting di butik Mama, jadi setelah ini Papa akan kembali menjemput Mama kalian," ujar Evan mengusap pucuk kepala anak-anaknya. "Hemmm ... padahal Pauline ingin memeluk Mama. Pauline kangen sama Mama, Pa!" protes si kecil yang kini mengulurkan kedua tangannya pada sang Papa. Evan dengan cepat menggendong putri cantiknya yang cemberut

    Last Updated : 2024-10-21
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 242. Kegelisahan di Hati Elizabeth

    Esok paginya, Elizabeth bersiap-siap pergi ke butik sejak awal pagi. Meskipun hari ini hari libur, namun masalah di butiknya yang cukup rumit membuat wanita itu ingin segera menyelesaikannya segera. Elizabeth kini mendekati dua anaknya yang sedang berada menonton kartun di ruang TV. "Sayang ... Exel, Pauline..." Elizabeth berjalan ke arah mereka. "Mama mau berangkat sekarang, ya?" tanya mereka berdua pada sang Mama. "Iya Sayang. Doakan semoga nanti pekerjaan Mama cepat selesai, biar Mama bisa bermain dengan kalian berdua, ya!" seru Elizabeth pada kedua anaknya. "Iya Mama." Pauline memeluknya sebentar. "Tapi Ma, ini kan hari minggu," cicit Exel mengerjapkan kedua matanya. Elizabeth tersenyum lembut. "Hanya minggu ini saja Mama ke butik, Sayang. Minggu besok sudah tidak lagi," jawab Elizabeth. Exel dan Pauline hanya diam patuh dan mereka tidak lagi bertanya ini dan itu. Apalagi nanti pun Mamanya juga pasti akan pulang. Elizabeth pun menoleh saat ada Tanja dia belakangnya yang k

    Last Updated : 2024-10-21
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 243. Sebuah Hasutan

    Setelah beberapa hari, Exel dan Pauline pun masih sering bermain di bawah pengawasan Tania. Dan siang ini, tanpa sepengetahuan orang rumah, Tania mengajak Exel dan Pauline pergi ke sebuah cafe bersamanya, Tania cukup membelikan es krim dan makanan untuk Pauline dan Exel. "Tuan dan Nona kecil jangan nakal, ya ... Bibi mau berbincang dengan saudara Bibi dulu," ujar Tania menunjuk ke arah seorang laki-laki di sebuah tempat di dalam cafe teras. Dengan polosnya, kedua anak-anak manis itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bibi." Barulah Tania berjalan mendekati laki-laki yang sudah membuat janji dengannya sejak beberapa hari yang lalu tersebut. Dan Pauline bersama Exel, keduanya saling berbincang sendiri. "Kakak, Bibi sudah bilang Mama kalau kita pergi jalan-jalan?" tanya Pauline sembari menikmati es krimnya. "Kenapa harus bilang Mama? Mama kan, sibuk terus. Kata Bibi Tania, Mama lupa waktu, lupa juga sama kita," jawab Exel dengan bibir cemberut. Pauline pun ikut cemberut dibuatnya

    Last Updated : 2024-10-22

Latest chapter

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 511. (PAULINE STORY) Pemilik Hatiku yang Sebenarnya

    Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 510. (PAULINE STORY) Hubungan yang Dulunya Retak, Kini Terjalin Kembali

    Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 509. (PAULINE STORY) Pauline, Bukalah Pintu Hatimu untuk Xander

    Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 508. (PAULINE STORY) Sebuah Restu

    Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 507. (PAULINE STORY) Sosok Laki-laki yang Setia

    Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 506. (PAULINE STORY) Sosok Papa yang Diinginkan Alicia

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 505. (PAULINE STORY) Alicia Ingin Punya Seorang Papa

    Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 504. (PAULINE STORY) Sosok Papa untuk Alicia

    Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 503. (PAULINE STORY) Siapa Papanya Alicia?

    Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status