"Sayang, makan dulu nanti sakit," bujuk Papa Guntur mengetuk pintu kamarku. Aku tidak menyahut sama sekali, sehingga pintu sepertinya akan dibuka secara paksa. Aku hanya bisa pasrah di mana Papa Guntur mendekat. Papa Guntur menangkup pipiku merasa bersalah karena melihat putri kecilnya bersedih, aku tau tapi bagaimana lagi? Aku benar-benar jatuh dalam lubang terlalu dalam. "Makan ya? Kalo kamu gini terus, Papa bawa Adelio ke sini terus pukul dia sampai babak belur," ancam Papa Guntur, menatap tegas diriku. Refleks, aku menoleh karena mendengar itu. Papa Guntur tersenyum mengelus pipiku yang basah. "Nggak mau makan? Yaudah, tunggu di sini bakal Papa bawa Adelio ke rumah," kata Papa Guntur berdiri. Aku menahan tangan Papa Guntur menggeleng pelan, Papa Guntur kembali duduk membawaku dalam pelukannya."Papa tau, masalah ini berat untuk kamu. Jangan sampai kamu nggak makan, nanti kamu sakit gimana mau cari buktinya?" Benar juga, kenapa aku tidak berpikir ke sana? Aku terlalu terhany
"Bukannya video Ranesya tadi ke sebar ya?""Iya, ihh. Kayak udah handal banget sama cowok masa.""Nggak ada malu banget jadi cewek."Desas-desus suara terdengar, aku tidak berkata apa-apa selain terus berjalan menuju kelas. Sampai ada Tasya, Trisya dan Zara. Mereka bersama, saling senyum mengejekku. Please, jadi ini benar rencana mereka?"Wahh, liat nih yang udah handal mah beda banget," celetuk Trisya menyenggol Tasya. Tasya terkekeh kecil. "Iya ih, coba ulangin lagi jogetan loh itu kayak jalang," sindir Tasya tertawa. Kedua lainnya ikut tertawa mengejek, aku di depan mereka mengepalkan tangan kuat-kuat. "Sadar ya Ran, lo tuh emang kek hem jalang," kata Zara berbisik di telingaku. Aku menutup mata sebentar, melangkah maju mendorong bahu Zara. "Nggak usah ngatain gue ya, lo jebak gue sialan!" umpatku, emosi sudah di atas ubun-ubun. Ketiganya saling bertatapan, tertawa seolah diriku ini aneh. Asli, aku benar-benar jadi bahan ejekan. Ada 3 siswi berhenti, mengataiku hal seperti
Rekaman itu terputar, di mana Trisya, Tasya dan Zara. Berada di sebuah taman belakang, ini aku paham apa yang dimaksud oleh Gita. Sepertinya Gita dan Vivian bersembunyi dibalik pohon untuk mendapatkan bukti ini. "Jangan lupa, rencana kita buat Ranesya mabuk. Lo pake dosis lumayan kan?" tanya Trisya ke Zara menghadap keduanya. "Santai aja, itu mah beres. Gue cukup undang Ranesya, semoga dia mau," balas Zara tersenyum miring. Sementara Tasya bersedekap dada tidak menyahut kedua temannya, aku melirik Gita mengangguk. Jadi semua masalah ini, sudah dibuat sekian rupa oleh mereka? Awas saja mereka. "Lucu sih ya, tolol banget Ranesya mudah banget masuk perangkap. Berubah dikit polos, dia langsung maafin gue dong," ejek Zara tertawa puas. "Jadi kalo udah mabuk, kita bawa Ranesya ke club malam," seru Tasya diangguki kedua temannya. Ketiganya langsung pergi, setelah sudah berdiskusi menjebak diriku. Shit! Aku benar-benar sakit hati karena ulah mereka. Di mana Adelio juga tidak memperca
Aku menoleh ke sumber suara, di mana Ghifari sudah mencekal bahu Adelio. Sebenernya apa maksud dari Ghifari? Apa dia menyadari aku sedang tidak ingin bertemu dengan Adelio? "Ngapain lo ke sini, mau jadi pahlawan?" kata Adelio geram langsung menghempaskan tangan Ghifari. Tidak marah dengan perlakuan Adelio, Ghifari hanya terkekeh pelan. "Kalo lo cowok, biarin aja dia pergi. Itu juga salah lo, nggak percaya Ranesya," papar Ghifari menarik Adelio menjauh dari mobilku. Sesuai dugaan, mereka bertengkar sampai membogem satu sama lain. Bedanya Ghifari lebih berani dari sebelumnya, aku bisa melihat jika Ghifari mulai mengejarku kembali. Daripada bermasalah, aku masuk dalam mobil langsung meluncur meninggalkan Adelio yang berteriak. "Ranesya! Lo jangan pergi dulu," pekik Adelio menoleh ke kiri, mendorong Ghifari kesal. Aku yang melihat dari kaca spion hanya menggeleng, karena terlalu prustasi dengan masalah tidak jelas ini. Tidak lama kemudian, sampai di rumah aku disa
Pagi sekali, aku sudah bersiap untuk ke sekolah. Hanya saat aku ingin keluar, ternyata ada Adelio sudah menungguku. Aku tidak ingin menemuinya, aku berusaha memutarkan tubuh ingin masuk kembali. Namun, ketauan oleh Adelio. "Tunggu, lo mau kemana? Bareng ya?" kata Adelio lembut, dengan wajah kacaunya. Haha, baru sadar ya. Jika bukan aku yang melakukannya? Kemarin-kemarin, kenapa nggak percaya sama aku sih?"Lebih baik gue bareng Jean aja," balasku cuek dan berdecak kesal. Adelio mengambil tanganku, menarik secara paksa. Dih, apaan sih. Kan aku nggak mau?! Dasar maksa banget sih. "Lepasin Adelio! Gue nggak mau pergi bareng lo," teriakku melepaskan diri. Bukannya terlepas, aku benar-benar ditarik ke mobil. Ah! Mana tidak ada menolongku, kemana keluargaku itu?"Diem, lo cukup di sini sama gue," kata Adelio memberikan isyarat. Kami meluncur menuju sekolah, aku hanya diam mendengarkan apa katanya. Tanpa peduli, Adelio berkali-kali meminta maaf. "Kenapa diem aja? Lo maafin gue kan?"
Dengan suara begitu penuh gertakan, Adelio menarik kerah Elgar. Benar sekali! Elgar yang tidak sengaja melakukan itu kepadaku. "Otak lo di mana? Cewek gue tadi kena bola basket gara-gara lo sialan?!" Adelio menatap tajam Elgar yang terdiam. Hawa di sini makin panas, apalagi Elgar hanya meneguk ludahnya susah payah. "Gue nggak sen-gaja," jawab Elgar terbata melirik teman sepantarannya. Lebih tepatnya, teman sebasket yang ikut terdiam. Mengetahui Adelio berandalan tidak kenal ampun, jika miliknya diganggu. Aku juga ngerasa Elgar sedikit menjauh. Namun, tidak kemungkinan menyerah. Bisa saja mencari waktu yang tepat untuk memiliki diriku. "Hanya lo ya, jarang gue pukul karena masih mikir lo anak manja," kata Adelio jujur. Sehingga siswa-siswi di lapangan saling melihat, tidak menyangka dengan perkataan Adelio. "Jangan lupain, lo pernah ngadu soal gue rebut Ranesya! Ettss, masih bisa gue maafin. Lain kali, lo jadi sasaran gue selamanya di sekolah," lanjut Adelio langsung membogem s
Sesuai apa dikatakan Adelio siang tadi, kami sudah bersiap dengan pakaian begitu formal. Aku juga tidak tau akan kemana, aku hanya pasrah mengikuti kemauan Adelio, kami saling bergandengan tangan ke sebuah restoran. "Mau temui siapa?" tanyaku menoleh ke Adelio. Hanya senyuman diberikannya tanpa menjawab, aku mendengus kesal. "Ihh, gue nanya tau!" ketusku dengan hidung kembang kempis. Adelio menggenggam erat tanganku, menghiraukan tingkahku yang sedang aneh ini. Sampai di dalam restoran, kami di antar dengan sopan oleh pelayan. Aku tidak tau apa yang terjadi, hingga ada 5 badut mendekati kami. "Wihh, kenapa ini," seruku diajak berdiri. Anehnya, suara musik menggema di dalam. Hanya ada kami berdua dengan 5 badut. "Joget gih," suruh Adelio menahan tawa sambil duduk. Aku berdecak, bagaimanapun aku tidak bisa menolak karena kali ini. Badutnya menarikku ke sebuah panggung kecil. Aaa, benar saja kami menari-nari di mana bajuku terlalu formal. Menggelikan sekali, Adelio sampai terb
"Ranesya, lo harus percaya sama gue," kata Adelio mengejarku. Di mana ini sekarang berada di sekolah, aku berkali-kali menolak telepon Adelio. Aku bangun pagi juga terasa sangat lesu, inipun terpaksa karena aku tidak mau alpha saja. "Gue bakal buktiin ke lo," ucap Adelio mencengkram tanganku. Adelio memutarkan tubuhku, sehingga kami saling bertatapan di lorong sekolah. Suasana kali ini sangat sepi, karena belum banyak yang datang. "Gue beberapa hari ini terlalu fokus tentang lo, mana sempet ngelirik Zara. Gue cuma kena fitnah doang," jelas Adelio menangkup pipiku. Aku menepis dengan kasar, menatap sinis orang di depanku ini. "Jangan banyak alasan deh, lo salah di sini! Nggak akan ngaku kalo itu lo brengsek!"Suaraku begitu nyaring, hingga beberapa orang lewat langsung berhenti. "Kali ini aja, gue ajak lo nyari bukti bareng," kata Adelio membuatku berpikir. Kenapa aku terlalu terhanyut dalam perkataan Zara? Bukannya mulut dia begitu busuk, oke aku harus berpikir jernih. "Hem
Akhirnya tidak ada gangguan ketiga manusia itu, malam ini kami rencananya ingin makan bakso di tempat langganan. Di mana waktu itu ada banci, semoga sekarang nggak ada. Takutnya Adelio risih dengannya. "Baksonya satu Mang!" seru Adelio dengan mengangkat tangannya berbentuk V. Mamang bakso itu hanya mengangguk, aku sangat senang berada di sini. Walaupun capek siang tadi, kan malamnya bisa berduaan kembali. Dalam suasana malam yang dingin dengan bintang bertaburan. "Baksonya enak?" tanya Adelio mendongak menatapku. Aku mengangguk dengan senyum manis. "Enak banget! Juaranya bakso ini mah.""Iya atuh Neng! Palinh enak bakso saya pastinya," sahut Mamang bakso itu dengan senang. Aku dan Adelio hanya terkekeh kecil, tapi memang seenak itu. Apalagi aku jarang ke sini, jadinya sangat rindu ya. "Kalo gitu gratisin kita dong, kan udah dipuji," goda Adelio ke Mamang bakso. Seketika gelengan Mamang bakso terlihat, aku hanya terkekeh. Orang jualan kok minta gratisan dasar Adelio. "Nggak u
Perjalanan kali ini tidak ada halangan sama sekali dari tiga orang gila itu, bahkan ini di bandara dijemput oleh keluarga kami. Aku merasa senang, mereka semua berada sini termasuk Jean. Walau hanya beberapa hari, setidaknya lebih baik cepat pulang daripada semua akan terbongkar seiring waktu. "Kalian ini!" kesal Jean menabok Adelio. Sementara hidungku ditariknya, ihh kenapa dia ini. Sok jadi Kakak pula yang jahil idih. "Sakit dodol," balas Adelio menatap sinis Jean hanya terkekeh. "Elah men gitu doang mah nggak sakit," kata Jean cengengesan. Pada akhirnya, Adelio membalasnya lebih kuat. Di mana kami menertawakan Jean terkena getahnya. "Gue pelan loh, lo balasnya kayak mau bunuh gue," kesal Jean menjauhi Adelio memilih mendekati Mama Cahaya. "Makanya, lo jadi Abang tuh waras dikit. Gue baru pulang nyari perkara lo," sahutku menatapnya sinis. Tidak merasa bersalah, Jean hanya tersenyum lebar. Dih apaan banget nih orang, untung gue sabar ya. Sementara Bunda Delyna memberi kode
Malamnya aku merenung, apa besok pulang saja? Daripada mereka bertiga mengira melakukan hal lebih dari ini. Bagaimanapun, Zara dan Gracia mengetahui. Jika kami memesan satu ruang, walau satu kamar aku pasti sedikit menjauh tidurnya dari Adelio. "Setuju nggak, kalo kita pulang aja besok?" tanyaku ke Adelio yang sedang makan dengan tenang. Yap, setelah seharian mengobrol dan tidur. Kami tidak kemana-mana lagi, karena mengetahui ketiga manusia itu akan merusuh. Adelio mendongak dan tatapan kami bertemu. "Gue ngikut aja," balas Adelio tersenyum. Aku menghela napas panjang mengingat beberapa hari ini bukannya bahagia. Tapi banyak hal yang tidak diduga aku rasakan, belum lagi Ghifari bisa-bisanya menghampiriku ke Bali. "Yaudah, gue mau besok pulang. Nggak betah di sini," balasku kembali memakan udang goreng tepung. Enak banget asli, kayak masakan Mamaku hehe. Jadi rindu mereka apalagi Jean huhu. Setelah selesai makan, kami ke ruang santai untuk menonton televisi. Sebenarnya sangat
Pada akhirnya kami berada di pantai, menikmati hari berdua. Namun, itu tidak berjalan semestinya. Karena gangguan dari ketiga gila itu masih berlanjut, inipun aku ditarik Ghifari untuk pergi berdua."Gue bakal ngajak lo ke tempat yang indah di sini," paksa Ghifari dengan wajah memelas. Aku melirik Adelio yang kini dipegang dua orang sekaligus, siapa lagi kalo Zara dan Gracia. Mereka ini, astaga! Aku dan Adelio ingin berlibur saja susah, pasti ada masalah datang. "Lepasin nggak! Gue nggak mau Ghifari," kataku mengamuk di depan banyak orang melintas. "Ini lagi kalian berdua, apa nggak sadar? Gue tuh mau berdua sama Ranesya," ucap Adelio terdengar dingin. Aku menatap Adelio menarik paksa tangannya sampai jeratan dari dua manusia itu terlepas. Adelio mendekatiku berusaha melepaskan aku dari Ghifari yang tidak mau mengalah. "Seharusnya lo jangan deketin Ranesya, dia bakal jadi milik gue." Ghifari berkata percaya diri. Aku tertawa karena menyadari, jika Ghifari terlalu berlebihan.
Aku menguak sangat lebar merasakan kehangatan luar biasa, saat aku membuka mata terdapat Adelio terlelap. Aku tersenyum lembut mengelus pipinya, mataku melotot karena menyadari kami tidur bersama. "Eh? Kok bisa sih," gumamku memperhatikan sekitar. Menyadari jika kami berada di kamarku, kejadian malam tadi hanya dikejar Adelio dan saling bercanda. Oh ya! Tidak sengaja tertidur berdua. Huh, syukurlah kukira kami melakukan hal berlebihan. "Duh, jangan bangun ya," kataku melepaskan diri dari Adelio perlahan. Aku berdiri menatap wajah Adelio yang begitu menawan, apa tidak salah Tuhan memberikan Adelio kepadaku?Bahkan, banyak dari cewek-cewek mengejarnya. Walaupun tingkah nakalnya membuat guru kesal, tapi dia adalah suami terbaik untukku. "Masak apa ya?" gumamku menuju dapur. Apa aku masak nasi goreng saja ya? Pasti enak banget, tapikan nggak ada peralatannya. Huh! Yasudahlah, aku memilih menonton tv di mana suara teleponku begitu nyaring di kamar. "Ganggu banget, ini jam 7 loh,"
Khusus hari ini, aku tidak ingin keluar karena takut bermasalah lagi dengan kedua makhluk gila itu. Membayangkan saja kejadian kemarin membuatku naik darah, huh! Apa aku buang saja ke lubang buaya sehingga tidak ingin merebut Adelio. "Lo kenapa sih remas remote itu kuat banget?" tanya Adelio menatapku bingung. Aku menggigit bibir bawah, saat melihatnya. Ya gimana lagi, aku masih sangat kesal tau!"Gapapa kok," jawabku seadanya dengan senyuman kecil. Kami berada di ruang santai menonton sebuah film romantis, adegannya begitu manis membuatku melayang. Tapi sesaat membayangkan tadi, moodku hancur seketika. Untungnya Adelio menyuapiku seperti sekarang. "Suka nggak?" tanya Adelio memberikanmu sebuah susu kotak. Aww, pagi-pagi sekali Adelio membawakan beberapa makanan entah dari mana. Aku yang baru bangun melihat Adelio tersenyum saat aku membuka mata, romantis bukan? "Ngelamun lagi?" kata Adelio membuatku tersadar. Aku hanya tersenyum kecil, memakan beberapa cemilan di atas meja.
Malam harinya, aku dan Adelio ingin pergi kencan berdua. Namun, hal tidak diduga terjadi. Di mana Zara dan Gracia, berada di tempat yang sama dengan kami. Jujur aku kadang bingung, mereka ada di mana-mana. "Kenapa Ranesya?" tanya Adelio melihatku. Aku mendengus menatap lulus, di mana Adelio mengikuti mataku. "Loh, kenapa mereka ada di sini ya?" balas Adelio begitu bingung. Pake nanya lagi, ya aku juga nggak tau loh. Mereka seolah tau, kami akan pergi kemana sampai ke restoran ini sekalipun. Berusaha mengabaikan keduanya, aku menarik Adelio ke dalam. Duduk di meja yang cukup jauh dari Zara dan Gracia. "Bentar, kita pesan dulu," kata Adelio mengangkat tangan seketika pelayan datang menghampiri kami. Sebuah buku menu, aku memilih beberapa dan sebaliknya dilakukan hal sama dengan Adelio. Pelayan itu pergi, hanya kami berdua di sini yang lain sibuk dengan urusan mereka. "Gimana rasanya liburan sekarang? Seru nggak?" tanya Adelio menatapku begitu dalam. Aku mendongak memperhatika
Berusaha melupakan Zara dan Gracia, kami lebih memilih kepantai kembali berjemur di sana. Siapa sangka, orang yang tidak aku harapkan mendekati kami mana bajunya kurang bahan. "Adelio, lo makin ganteng aja," kata Gracia melirik tubuh Adelio tanpa baju. Dih, aku menaikkan satu alis merasa aneh dengan pemandangan di mana wajah Gracia memerah. Jijik sekali, apalagi tidak lepas matanya ke Adelio. Heh! Jangan gitu please, aku sangat cemburu sialan. "Gue emang ganteng, sekarang lo berdua pergi sana," usir Adelio menurunkan kacamata lalu menaikkan kembali. "Lo berdua mau jadi lonte atau apa? Bahannya terlalu kurang, mau godain siapa?" hina Adelio tanpa menoleh ke arah mereka berdua. Aku menahan tawa, siapa mengira. Jika Adelio akan berkata begitu tanpa peduli perasaan Zara maupun Gracia. "Buat godain lo," sahut Zara mendekati Adelio. Jujur menjijikan sekali, mereka tanpa malu tersenyum amat manis dan menggoda. Iuhh, untung aku berusaha kalem ya. "Najis tau nggak!" umpat Adelio mene
Di pagi hari, berbeda dari biasanya. Saat aku terbangun, Adelio sudah berada di depanku. Siapa sangka, aku melotot tidak percaya. Bahkan, Adelio mengelus puncak kepalaku. "Lo udah bangun?" tanya Adelio mengecup keningku penuh perhatian. Aku yang masih tidak menyangka hanya bisa berkedip-kedip, yaa aku kan masih terkejut. Dengan tubuhku mundur membuat Adelio terlihat bingung. "Kenapa?" Aku menggeleng cepat, berusaha berdiri dan melirik sekitaran. Asli, aku sangat malu. "Nggak kok," jawabku sedikit gugup. "Seriusan? Kenapa wajah lo langsung tegang gitu," sahut Adelio terkekeh pelan. Yah, siapa coba tidak kaget dengan tingkahnya. Kan aku sangat terkejut, dahal dia sangat jarang begini kepadaku. Paling sesuatu hal penting, atau pergi suatu tempat dia akan menghampiriku terlebih dahulu. "Eh, nggak kok cuma tadi," balasku bingung mengigit bibir bawah. Aku mendorong tubuh Adelio. "Sana gih, lo pesen aja makanan gue laper soalnya," kataku mengalihkan pembicaraan. "Lo laper? Bentar