“Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Juwi, berdiri di depan meja pelanggannya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat kesal, marah, dan sedih, semua bercampur aduk. Mungkin karena penjelasan polisi tadi, lalu kedatangan orang ini mengingatkan Juwi dengan masalah yang mengganggu restoran miliknya. Juwi merasa... orang ini ada sangkut pautnya dengan segala masalah yang dia hadapi dan Hendra.Pria tua di depannya tampak terkejut mendengar Juwita memanggilnya dengan sebutan tuan. Seperti pada orang asing yang tidak dikenalnya.“Apa seperti itu cara pemilik resto melayani pelanggan yang datang untuk makan?” dengan santai si pria tua menjawab.“Lalu, harus bagaimana semestinya, Tuan? Anda pelanggan di sini, sudah seharusnya aku bertanya dengan sopan, betul?” Sangat formal, bahkan dengan rekan bisnis saja, Armaja tidak diperlakukan demikian.Ya, yang datang saat ini adalah Armaja, ayah dari wanita muda yang berdiri di depannya. Armaja merasa kecewa dengan sikap putrinya yang ta
Hendra masih mematung mencerna perkataan Juwita. Setelah diingat-ingat, tidak salah memang. Hari itu setelah kepulangan Armaja, saat itu pula kejadian yang sangat merugikan mereka itu terjadi.Kenapa Hendra tidak berpikir ke sana? Dia justru lebih curiga jika mungkin Arman lah yang menjadi biang keladi dari masalah ini, dia tidak berpikir itu Armaja.Lagi, kedatangan Armaja saat itu pun sangat sopan, tidak ada ucapan menghina seperti yang sudah-sudah. Juwi juga melayani pesanan papanya dengan baik, terlihat ada rasa bahagia di wajah Juwi siang itu, melihat sang papa mampir sebagai pelanggan mereka. Mungkin karena sikap baik Armaja, Hendra sampai tidak berpikir bahwa semua ini bisa saja memang ulah ayah mertuanya itu.“Sudah ingat?” kata Juwita, setelah Arman menghela napas panjang. “Kamu masih membela ayah mertua kamu itu?”“Wi, jangan marah dulu. Hari itu papa kamu sangat baik, dan kamu juga terlihat senang akan kedatangannya. Aku tidak berpikir kalau beliau mungkin melakukannya.”“T
“Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi, sebagai seorang ayah aku pikir kau sudah lebih tahu bagaimana perasaan seorang ayah pada anaknya. Apakah menurutmu aku akan mencoreng nama putriku sendiri?”Hendra terdiam, kecurigaannya terhadap Armaja menjadi pudar mendengar ucapan dari mertuanya itu. Sebagai seorang ayah, Hendra tentu saja ingin yang terbaik untuk Alan, sehingga putranya tidak merasakan kesulitan yang pernah dialaminya. Karena demi Alan pula lah Hendra menuruti kata Lilis, menikah dengan Juwita. Karena sejatinya, semua ayah di dunia ini akan melakukan apa pun juga untuk kebaikan putrinya.Apakah mungkin Armaja sebagai pembelaan kalau bukan dia yang membuat kasus daging tikus di restoran milik Juwita, atau sebagai penekanan bahwa dia akan melakukan apa pun demi Juwi bisa kembali bersama laki-laki yang lebih mapan daripada Hendra? Dia termenung di atas kakinya sampai tak sadar Armaja sudah menghilang dari restoran.“Hendra, ada apa?”Juwita mengejutkannya dari belakang, Hendra sam
Perlahan Juwita membuka surat yang diberikan oleh Armaja. Hatinya berkecamuk, dadanya berdebar meniti kata demi kata yang tertera di sana. Baru dua kalimat yang dia baca membuatnya menitikkan air mata. Dadanya terasa sesak tatkala membaca surat itu. Membuat Hendra penasaran sebenarnya apa isi surat tersebut.“Ada apa, Wi? Papa kamu marah lagi?” tanya Hendra, ingin mendekat tetapi dia memberi privasi untuk istrinya membaca sendiri.Juwi masih terdiam, matanya fokus pada deretan huruf yang tertulis rapi di atas kerta, membuat Hendra semakin tidak tenang.Apakah mungkin Armaja memang marah? Padahal ketika dia berbicara dengan ayah mertuanya tadi, tampaknya Armaja tidak demikian. Atau mungkin hanya perasaan Hendra yang terlalu yakin bahwa mertuanya mungkin sudah melunak.“Juwi, kalau membaca surat itu membuatmu sedih. Biar aku robek saja suratnya!” tegas Hendra.“Tidak, aku tidak sedih seperti yang kamu pikirkan. Surat ini berisi papa yang sedang merindukanku,” balas Juwi.Hendra tidak pe
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Juwita melirik pintu kamar yang tidak jauh dari tempatnya, teringat dia akan Alan yang belakangan ini selalu mereka tinggalkan di rumah. Mengingat perbincangan dengan Hendra di resto tadi, dia pun ingin melihat anak itu malam ini.Dua kaki jenjang Juwita berjalan meninggalkan Hendra yang bingung melihat istrinya tidak jadi masuk ke kamar mereka. Ternyata Juwi justru masuk ke kamar Alan.Anak itu sudah tertidur di atas ranjangnya yang nyaman. Boneka berbentuk mobilan Alan peluk dan anak itu terlihat tersenyum dalam pulasnya.Juwi mengingat perkataan Hendra, karena anak ini lah Hendra melakukan apa pun termasuk menggadaikan harga dirinya. Sehingga sekarang Hendra menjadi suami yang begitu mencintai Juwi. Tatkala mengingatnya, Juwita tersenyum.Dia kecup lembut puncak kepala Alan dan berbisik dengan lembut, “Terima kasih, Alan, kamu sudah membawa papa kamu ke dalam hidupku.”Jika tak ada Alan, mungkin Hendra akan lebih memilih bercerai dengan Lil
Siang itu, Armaja merenung di meja kerjanya memikirkan tentang surat yang kemarin dititipkan untuk Juwita. Kenapa Juwi tidak menghubunginya? Armaja ragu jika mungkin pelayan itu tidak menyerahkan suratnya pada Juwi.Ketika itu, pintu ruang kerjanya terbuka. Armaja tersentak dan langsung melihat ke arah pintu, berharap putrinya datang seperti yang dia harapkan. Tapi nyatanya, Armaja harus kecewa melihat wajah Maria tersenyum padanya.Maria kesal, tak ada senyum di wajah suaminya melihat kedatangannya.“Kenapa dengan wajah papa? Kayak nggak senang melihat istri sendiri datang,” sindir Maria.“Kenapa sih, Ma? Nggak senang bagaimana?” Armaja malas setiap kali bertemu Maria, pasti ada saja perkataan istrinya itu yang mengajak berdebat.“Lah iya. Istri datang mukanya malah masam, ada apa sih?”“Nggak ada apa-apa, Ma. Lagian, ada apa mama ke sini siang bolong begini? Bukannya biasanya banyak kesibukan?”Maria sensi mendengar pertanyaan suaminya dan lantar menyambar seperti minyak.“Papa ngga
Melihat Armaja terdiam, Juwi sangat kecewa. Tampaknya Armaja memang tidak berubah pikiran seperti yang Hendra katakan. Juwita merasa hatinya kecewa, sudah begitu cepat dia mengambil keputusan untuk menemui papanya di sini. Jika tahu hanya akan kecewa yang dia dapat, Juwi tidak akan meninggalkan pekerjaannya demi bertemu papa yang dia harapkan akan mengerti dirinya. Seharusnya Juwi tidak secepat itu merasa senang, hanya karena Armaja berkata rindu dan ingin bertemu dengannya. Tidak mungkin muda seorang Armaja menerima keputusan Juwi memilih Hendra. Juwi merasa dirinya sudah sangat bodoh, yang dengan gampang menghadiri undangan papanya. Segera dia berdiri. “Aku harus kembali sekarang,” ucapnya, pikiran buruk segera menelusup ke dalam kepala Juwi, takut jika mungkin Arman ada di sana dan langsung menyekapnya seperti yang kemarin Juwi curigai. Tapi saat Juwi baru akan melangkah, Armaja berbicara di belakangnya. “Maafin papa yang begitu bodoh.” Kaki Juwita tidak mampu melangkah menden
Armaja mengusap wajahnya. Dia merasa malu di depan putrinya setelah begitu mempercayai semua kebohongan Arman. “Aku menemui istri Hendra,” kata Armaja, mengingat pertemuannya dengan perempuan yang menjual suaminya itu. “Istri Hendra?” Juwi terkejut, kenapa papanya bertemu dengan Lilis? “Iya, papa mencari tahu siapa istri Hendra sebelumnya dan bertemu dengan wanita yang bernama Lisa itu. Dia sudah menikah dengan aktor, dan dia... dia mengatakan segalanya pada papa.” Juwi tidak sabar mendengar ucapan papanya. Dia kembali ke kursi yang tadi dia duduki dan siap untuk mendengar percakapan Armaja dan Lilis. “Apa yang dia katakan? Lilis bilang apa sama papa?” “Dia memberitahu kalau Hendra suami yang tidak berguna, miskin, dan tak bisa diandalkan. Dia menjualnya karena tidak memiliki masa depan dengan Hendra.” Ketika Armaja menemui perempuan itu, tampak Lilis sangat arogan dan merasa dirinya sangat tinggi dibandingkan Hendra. Lilis juga memamerkan kehidupannya yang jauh lebih baik se
Sejenak Hendra menunduk. Dia menatap lantai di bawah kakinya dan memikirkan pertanyaan itu. Cinta... Hendra tersenyum kecil.Tentu saja dia mencintai Juwita, dan cinta itu pula yang membuatnya selalu sabar dengan semua cobaan pernikahan mereka. Tapi Hendra tidak akan lupa bahwa cinta pula yang membuatnya menjadi suami yang terjual. Karena rasa cintanya pada Lilis dan tidak ingin istrinya bercerai, Hendra yang bodoh pun menerima pernikahan tertulis dengan Juwita.Bukankah cinta itu pula yang membuatnya menjadi menderita? Meski sangat mencintai Juwita, Hendra juga ingin mempertahankan harga dirinya.“Mencintai adalah hal yang sangat mematikan, sampai aku menjadi menantu Anda pun itu karena dulu aku mencintai mantan istriku. Jika sekali lagi aku mengalah demi cinta, bukan tak mungkin akan kehilangan harga diri lagi. Maka kuputuskan, bercerai adalah jalan yang sudah sepatutnya,” ucap Hendra dengan yakin.Juwita tidak kuasa mendengar perkataan Hendra, air matannya mengalir lebih deras oleh
Hendra mengangguk, tidak ingin mengulur waktu sehingga membuat orang-orang berharap banyak padanya. Semuanya harus diakhiri agar Juwita tidak terus merendahkannya.“Nggak mungkin,” bisik Juwita patah hati, kedua tangan memegangi kepalanya yang belum mampu menerima kenyataan. “Kamu nggak mungkin menanda tanganinya, kamu pasti berbohong.” Dia tatap suaminya dengan mata memelas, sungguh tidak Juwita harapkan benar-benar bercerai dari Hendra.“Maaf mengecewakan kamu. Tapi... kedatanganku ke sini untuk mengantarkan surat cerai itu.” Hendra mengeluarkan amplop yang Juwita kirimkan itu, dan membuka bagian yang sudah dia tanda tangani. Dia letakkan berkas itu di atas meja agar semua orang bisa melihatnya. “Aku hanya mengabulkan permintaan kamu. Dan lagi, aku rasa kita tidak mungkin meneruskan pernikahan yang sejak awal tidak sehat. Aku tidak ingin terus dikenal sebagai suami yang dibeli, maka itu memang sebaiknya kita bercerai saja.”Sebagai lelaki, Hendra punya harga diri. Meski di awal sud
Berkali-kali Juwita melirik ke pintu utama rumah orang tuanya. Duduknya tak bisa diam, bergeser setiap menit seakan tidak sabaran. Sofa yang didesain sangat empuk itu seakan tidak nyaman menjadi tempatnya. Dia melirik lagi, dan itu terus saja terulang setiap kali dia mendengar suara pergerakan seseorang di sekitarnya.Maria mengamati putrinya itu dari anak tangga, tampak penyesalan dan ragu-ragu di wajah cantik Juwi yang belakangan ini terlihat semakin kurus. Dia mendatangi putrinya dan duduk di sebelah Juwi.“Wi, tenangkan dirimu,” kata Maria, mungkin dengan ucapan itu putrinya bisa merasa lebih baik. “Pikirkan anak di kandungan kamu. Jika mamanya stres, anak kamu juga akan ikut stres di dalam sana.Mata sayu Juwi menatap mamanya ragu dan dia berkata, “Entah lah, Ma. Aku tidak bisa tenang sebelum melihat Hendra datang. Aku takut jika dia tidak benar-benar menemuiku,” katanya.Hendra memang tidak pernah berkata akan datang menemui Juwita, melainkan Armaja lah yang akan ditemui lelaki
Setelah mendapatkan bukti itu, polisi langsung memeriksanya. Benar saja, video yang Steve berikan sebagai bukti jelas adalah editan. Banyak bukti yang Armaja bawa sehingga Steve tidak bisa berkutik sekarang. Bukan hanya itu, Armaja juga berhasil menangkap pelaku yang selama ini bersembunyi di belakang Steve, sebagai orang yang mengunggah di media sosial.“Bukan saya yang bersalah, Pak! Dia yang lebih dulu memukul saya!” Steve meronta di tangan polisi. Dia terus menuduh Hendra lah yang sudah memukulnya terlebih dahulu, tapi bukti-bukti yang dibawa oleh Armaja tidak bisa dibohongi.Hendra yang masih sangat shock dengan kejadian ini, hanya bisa diam menyaksikan Armaja dan polisi menyelesaikan masalah mereka. Lelaki itu memeluk putranya erat, menenangkan Alan yang masih sesunggukan.“Dia yang memukul saya! Dia yang seharusnya ditangkap!” Steve menunjuk-nunjuk pada Hendra, sangat memuakkan. Bahkan ketika semua bukti sudah terarah padanya, lelaki itu masih saja ingin menyalahkan Hendra.And
Jalan raya itu sangat ramai oleh mobil-mobil yang berlalu lalang. Tak ada cela jika pun Hendra ingin lari dari kejaran polisi yang tengah menunggunya di luar sana. Pasrah. Hanya itu yang bisa Hendra lakukan sekarang. Dia tidak mungkin berlarian di jalanan menggendong Alan, seperti yang tadi dilakukannya. Bisa-bisa membuat Alan menjadi celaka.“Pak, bagaimana selanjutnya? Kita tidak bisa lewat, apakah kita harus menabrak mobil lainnya agar memberikan jalan?” tanya Rahmat dari bangku kemudi, dia tidak rela bosnya tertangkap begitu saja.Akan tetapi, Hendra sudah lelah. Perkataan Rahmat terlalu berisiko dan dia tidak ingin membuat masalah yang lebih besar.Dia melepaskan sebelah tangan dari punggung Alan, kemudian membuka pintu mobil itu sangat pelan.“Pak, jangan keluar. Bagaimana nasib Alan jika bapak sampai ke kantor polisi?” Rahmat masih mengingatkan.“Kita tidak mungkin membuat masalah yang lebih besar lagi, Mat. Aku tidak ingin kamu ikut ke dalam masalah ini.” Dia pun keluar dari
Taksi yang Hendra tumpangi dengan Alan pun meluncur di jalanan. Sopir taksi itu merasa iba melihat Alan yang menangis berkata takut, dia membayangkan andaikan dirinya bersama anaknya yang ada di posisi Hendra sekarang. Meski sebenarnya pak sopir juga terlihat ketakutan, wajahnya berkeringat saat melihat dua petugas polisi dari kaca spion-nya.“Bapak ini mau ke mana, toh? Saya nggak berani kalo Suria Hotel, itu terlalu jauh, takutnya dikejar sama polisi. Saya juga punya anak istri, Pak, tidak berani berurusan dengan mereka,” kata pak sopir, nadanya gemetar saat bertanya.Hendra pun tidak mungkin melibatkan orang lain dalam kasusnya. Suria Hotel terbilang jauh dari posisi mereka sekarang, sangat benar yang dikatakan sang sopir kalau petugas kepolisian itu mungkin tengah mengejarnya. Lagian, Hendra juga tidak mungkin pergi ke sana lagi, akan sangat gampang jika polisi melacaknya.Beruntung saja ponselnya terselip di saku celana Hendra, sehingga dia bisa menghubungi Rahmat untuk meminta
Ketika Hendra masih memaksa Lilis agar keluar dari mobilnya, dua mobil lainnya datang ke tempat itu. Berhenti tepat di sebelah Hendra, membuatnya bertanya-tanya siapa kira-kira orang yang datang di dalam sana. Hendra menghela napas panjang ketika melihat itu adalah Steve dan beberapa orang dengan kamera besar.Reporter lagi?Astaga... entah sampai kapan Hendra harus bertemu dengan orang-orang itu, dia sudah sangat lelah.Tidak cukup hanya Steve dan reporter saja yang datang ke sana. Tidak lebih dari dua menit, ada mobil polisi yang juga ikut parkir di halaman warga yang luas itu. Entah apa yang akan terjadi di ke depan nanti, Hendra sudah sangat lelah berpikir. Menghadapi Lilis saja sudah membuatnya kesulitan, kenapa Steve harus datang ke sini membawa reporter dan polisi?“Itu perempuan yang menghancurkan kaca mobil saya, tolong tangkap dia, Pak. Meski Lisa adalah istri saya, saya tidak terima mobil saya dirusak begitu saja,” kata Steve pada polisi, menunjuk Lilis di dalam mobil Hendr
“Jangan bawa Alan, Hendra! Kamu nggak boleh bawa dia sebelum kasih duit ke aku!”Hendra sudah berhasil merebut paksa Alan dari Lilis dan Ratna, tapi saat akan membawanya masuk ke mobil, Lilis segera menghentikan Hendra. Perempuan itu betul-betul tak merelakan Hendra pergi tanpa memberinya uang. Lilis bahkan bergantung di kaki Hendra, memegangi agar lelaki itu tidak bisa bergerak.“Kasih aku uang dulu! Kamu nggak boleh pergi dari sini sebelum ngasih aku uang!” kata Lilis terus berteriak, memeluk kaki Hendra sangat erat.Setiap kali Hendra akan melangkah, kakinya selalu ditahan oleh Lilis. Bahkan hampir saja Hendra terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan.“Lepasin, Lilis! Kamu ini jangan bikin malu!” Hendra berkata geram, orang-orang sudah berkerumun menyaksikan mereka di halaman itu. Sudah seperti suami kejam saja Hendra dengan posisi Lilis memeluk kakinya.“Nggak! Aku nggak bakal lepasin kaki kamu, sebelum kasih aku uang!” sahut Lilis semakin mempererat pelukannya di kaki Hend
Dalam kecewanya yang mendalam terhadap Steve, Lilis mencengkeram baju lelaki itu, lalu merosot perlahan-lahan. Saat itu dia mendengar deru mesin mobil di sebelahnya, dalam keputusasaan dia melihat ke kanan, berharap seseorang mungkin mendengar pertengkarannya dengan Steve. Mungkin seseorang itu bisa bersaksi untuk Lilis, bahwa semua ini sudah direncanakan Steve, dan laki-laki itu adalah alasannya bercerai dari Hendra.“He-Hendra. I-itu Hendra!” seru Lilis penuh harap. Dia berpikir Hendra bisa membantunya untuk itu.Namun, benarkah Hendra mau membantunya? Meski laki-laki itu mendengar pertengkarannya dengan Steve, Hendra tidak mungkin mau membantu Lilis. Harapan yang tadi sempat singgah, perlahan menjadi rasa takut.“Tidak! Dia tidak boleh mengambil Alan!” seru Lilis lantas berdiri. “Jangan ambil Alan! Alan milikku!”Tidak Lilis hiraukan lagi Steve yang kebingungan melihatnya, Lilis sudah berlari kembali ke dalam mobil. Dia harus menghentikan Hendra sebelum lebih dulu mengambil Alan.