"Sampe kaget gitu," ledek Maya menertawakan Firhan, padahal dia sendiri tengah mencoba menenangkan dirinya imbas perkataannya sendiri. "Harus minggir dulu, biar bisa fokus." Firhan menepikan mobil, lalu menatap Maya yang sudah memerah wajahnya. "Coba bilang sekali lagi ... yang jelas," kata Firhan menggenggam lembut tangan Maya, matanya lekat menatap manik mata sang istri. "Apaan sih, Bang. Ayo jalan lagi, katanya mau ke rumah bapak?" elak Maya menahan senyum. Firhan menggeleng merasa dipermainkan Maya. "Nggak jadi. Mau ajak ke hotel aja." "Ya ayo! Kemana aja abang mau bawa Maya, Maya ikut," balas Maya. Firhan tersenyum lebar, diciuminya tangan Maya. "Yakin?" Firhan masih mencari celah apa kebohongan itu ada. Maya menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan sangat yakin meski wajahnya kini semakin merah saja. "Beneran sudah siap jadi istri abang sepenuhnya?" lirih Firhan membelai pipi Maya, gadis itu merasakan tubuhnya panas dingin. "Y-ya," sahut May
JTA 1"Saya terima nikahnya Ismaya Seroja dengan mas kawin tersebut tunai!"Lantang suara itu membuat Maya memejamkan mata. Dia jelas tak salah mengenali suara. Dia tahu dengan pasti, laki-laki yang beberapa detik lalu menyebut namanya dalam ikrar ikatan suci, bukanlah kekasihnya, Arman."Mbak ...!" seru Maya saat melihat pintu kamarnya dibuka dari luar, sosok sang kakak datang dengan wajah yang terlihat murung."Selamat, May, kamu sudah resmi jadi seorang istri," ucap Mala memaksa segurat senyuman di bibirnya."Tapi, kenapa suara Arman terdengar berbeda, Mbak? Itu--""Kamu lihat langsung saja, ya?! Yuk, kita keluar sekarang," sela Mala tak memberikan Maya kesempatan untuk berbicara banyak. Dengan lembut ditariknya tangan Maya untuk berdiri."Mbak, semua baik-baik saja, kan?" tanya Maya menahan langkah dari tarikan tangan Mala. Hatinya berkata ada yang tidak beres."Yang barusan ngucapin janji buat sehidup semati denganku Arman 'kan, Mbak?"Mala memalingkan tatap dari tuntutan pertany
"Tolong jangan seperti ini, Maya! Saya akan menjelaskan semuanya!" kata Firhan yang mengabaikan pemberontakan Maya. "Aku mau ketemu Arman, Bang! Aku mau dia langsung yang menjelaskan semuanya padaku! Bagaimana bisa tiba-tiba pengantinku berubah jadi kamu, Bang?!" raung Maya. Suaranya terdengar sampai keluar kamar. Kerabat dan para tamu undangan bahkan bisa mendengar teriakan pengantin wanita itu. Ibu Maya menatap sedih pada pintu kamar anaknya yang tertutup rapat. Di sebelahnya, sang suami menatap tajam pada kedua besannya yang menunduk malu. Lantas saja tadi rombongan pengantin laki-laki hanya satu mobil yang datang. Ternyata rencana yang sudah disusun sedemikian rupa, berubah tak seperti awalnya. Pengantin pria, berganti orang yang tidak dia duga. Andai saja dia tidak ingat akan malu oleh tetangga, akan dia batalkan saja pernikahan anak bungsunya itu. Tapi kadung penghulu sudah datang, dia pun tak bisa menolak saat harus berganti menantu tiba-tiba. "Sebenarnya kemana Arman
Ingatan Firhan lantas kembali pada saat dia menemukan selembar surat di atas tempat tidurnya. Dia baru saja datang khusus untuk acara pernikahan adiknya itu, tapi bukannya dia mengucapkan selamat atas pernikahan Arman, justru dia yang jadi terjebak dalam pernikahan dengan calon adik iparnya. "Kamu jangan gila, Arman! Kembali cepat!" murka Firhan setelah membaca goresan tangan Arman di surat yang ditulis untuknya. Namun percuma karena setelah menjelaskan kalau dia tidak bisa mengubah keputusannya, Arman lantas memutuskan sambungan teleponnya. Dengan amarah juga kebingungan yang memenuhi kepala, Firhan berjalan menuju ke kamar Arman. Langkah tergesa Arman yang baru saja sampai, membuat Rudi dan Lidya yang tengah melihat kelengkapan hantaran untuk esok, bertanya. "Bang, istirahat dulu. Biarkan Arman--" "Arman nggak ada, Ma, Pa! Anak itu pergi!" sela Firhan dengan menahan kekesalan juga amarah. "Apa? Pergi gimana maksudnya?" Lidya langsung mendekat Pada Firhan. Dia tahu Arman mem
Kata-kata penuh pertanyaan Maya menyentil ego Firhan. Dia tahu dia tak diinginkan oleh gadis itu. Begitu pun dengan dirinya yang merasa terpaksa mengikuti keinginan adiknya, untuk menjadi pengantin pengganti. Namun pantang bagi Firhan mempermainkan satu hubungan. Pernikahannya dengan Maya jelas sah secara agama juga negara, meskipun buku tanda statusnya kembali menjadi seorang imam, belum ada dalam genggaman. Lantas, akankah dia mengikuti keinginan Maya yang ingin ikatan suci mereka dibatalkan? "Kamu sadar dengan apa yang kamu tanyakan, Dik?" tanya Firhan dengan tatapan tajam, berbeda dengan sorot mata tadi yang menatapnya penuh rasa bersalah. "Memangnya Abang berniat serius dengan pernikahan ini? Kita sama-sama terpaksa, Bang! Abang dengan paksaan Arman." Maya memejamkan mata saat harus mengucapkan nama itu, nama yang selama lima bulan terakhir selalu ada dalam hati dan pikirannya. Namun nama itu yang sekarang sangat enggan dia sebut untuk satu alasan pun. "Dan aku yang merasa di
Nova [May, ini nama kamu bukan, sih?] Satu screenshoot melengkapi pesan Nova, jelas nama yang tertera di sana adalah namanya. Tulisan yang menyertai postingan tersebut, yang menunjukan Firhan tengah ijab kabul dengan ayahnya tercetak jelas.[Kasihan, adiknya lari dari pernikahan, kakaknya yang menggantikan. Yang sabar ya, Mbak.] Air mata Maya kembali berjatuhan. Tapi tak lama gadis itu tersenyum, lalu tertawa dengan air mata yang membasahi pipi. "Kamu lihat, Arman? Gara-gara kamu aku jadi terkenal. Hahaha!" Lagi satu dan pesan lainnya masuk. Nova [May, kamu ok, kan?] "Pertanyaan yang bodoh, Nova." Nova: [Yang sabar, ya May. Tapi suami kamu ganteng, kok! Emang kamu sama si Arman ada masalah apa, sih? Kok, tiba-tiba dia batalin pernikahan kalian?] Maya: [Aku baik-baik aja, Nov. Kamu tenang aja.] Nova: [Alhamdulillah. Nanti pulang kerja aku ke rumah kamu, yang sabar, ya?!] Maya tak membalas pesan Nova lagi, pun dengan pesan lainnya yang masuk tak dihiraukannya sama sekali
Sementara di kamar rawat Idham, Lani merasa lega karena suaminya sudah sadar, selang oksigen terpasang untuk membantu pernapasan. "Maya mana, Bu?" tanya Idham sambil mengamati di mana dia sekarang. "Sebentar lagi pasti sampai, lagi dijemput Nak Firhan." Lani membenarkan selimut yang menutupi perut suaminya. Di dekatnya Rudi dan Lidya menatap wajah lelah besannya yang terbaring lemah. "Pak Rudi," panggil Idham pada besannya. "Iya, Pak." Rudi lantas mendekat. "Saya mohon maaf, kalau sekiranya nanti saya lebih memilih bagaimana keputusan Maya untuk kelanjutan pernikahan dia dengan Nak Firhan. Saya tahu saya juga salah, karena tidak meminta persetujuannya saat calon suaminya harus diganti Nak Firhan." "Jangan bicarakan ini dulu, Pak. Sekarang ini, kesehatan bapak lebih penting. Saya yakin Maya pun bisa--" "Assalamua'aikum." Suara salam menghentikan perkataan Rudi, Maya memasuki kamar rawat ayahnya dengan tergesa. "Pak, Bapak baik-baik saja, kan?" Wajah panik dan sedih Maya semakin
Mobil Firhan memasuki pekarangan, tenda yang masih terpasang, juga tumpukan kursi yang tadi pagi sempat dipakai, membuat hati Maya kembali teriris. Inilah salah satu alasan dia ingin secepatnya pergi kembali ke mess. Semua bukti hari bahagianya yang berantakan, terpampang jelas di depan mata. Hembusan napas kasar Maya terdengar oleh Firhan, belum lagi tatapan gadis itu yang berubah jadi sendu saat melihat pekarangan rumahnya. Mengerti dengan apa yang tengah dirasakan Maya, Firhan langsung memaklumi kenapa Maya ingin langsung pergi besok. "Kita akan berusaha bareng-bareng, Dik," ujar Firhan saat dia bisa menebak arah pikiran Maya saat ini. Maya menghempas punggungnya ke sandaran kursi. "Kalau ternyata gagal?" ujarnya kemudian. "Setidaknya kita sudah mencoba melakukan yang terbaik untuk takdir yang sudah tertulis ini," ucap Firhan yang sebenarnya sedang mengingatkan dirinya sendiri juga. "Memangnya Abang tidak punya pacar, jadi langsung mau aja nerima jadi pengatin pengganti?
"Sampe kaget gitu," ledek Maya menertawakan Firhan, padahal dia sendiri tengah mencoba menenangkan dirinya imbas perkataannya sendiri. "Harus minggir dulu, biar bisa fokus." Firhan menepikan mobil, lalu menatap Maya yang sudah memerah wajahnya. "Coba bilang sekali lagi ... yang jelas," kata Firhan menggenggam lembut tangan Maya, matanya lekat menatap manik mata sang istri. "Apaan sih, Bang. Ayo jalan lagi, katanya mau ke rumah bapak?" elak Maya menahan senyum. Firhan menggeleng merasa dipermainkan Maya. "Nggak jadi. Mau ajak ke hotel aja." "Ya ayo! Kemana aja abang mau bawa Maya, Maya ikut," balas Maya. Firhan tersenyum lebar, diciuminya tangan Maya. "Yakin?" Firhan masih mencari celah apa kebohongan itu ada. Maya menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan sangat yakin meski wajahnya kini semakin merah saja. "Beneran sudah siap jadi istri abang sepenuhnya?" lirih Firhan membelai pipi Maya, gadis itu merasakan tubuhnya panas dingin. "Y-ya," sahut May
"Kamu pulang ke mana, May?" tanya Nova saat jam kerja habis. Setelah semua orang tahu tentang status pernikahannya dengan Firhan, Nova yakin Maya tidak akan tinggal di mess lagi. "Rumah abang," jawab Maya dengan malu. "Udah aku tebak, sih. Huh, aku jadi nggak ada temen ngegosip. Sepi," keluh Nova sedih namun dibalut canda. "Maaf, ya?! Abis mau gimana lagi?" ucap Maya, mereka tengah berjalan menuju keluar bangunan produksi, dia sudah tidak terlalu menjadi perhatian setelah para karyawan tahu dirinya istri Firhan, meski tentu saja sikap Rima jadi berubah drastis padanya. Atasannya itu jadi judes, sangat menyebalkan. Tapi Maya memilih abai, selama Rima tak membuat kontak fisik untuk menyakitinya, meski jadi suka membentak kalau memberikan perintah padanya. Biarlah, mungkin Rima sangat berharap pada Firhan sebelumnya, jadi begitu tahu laki-laki yang disukainya ternyata sudah menikah, dia jadi kecewa dan patah hati. "Loh, ya nggak papa, May. Aku paham, kok. Emang seharusny
Berita menyebar dengan cepat, hingga Maya merasa sungkan saat pergi ke kantin dengan Delia dan Nova. Dirinya terus mendapat tatapan dari para karyawan, tak jarang tatapan sinis juga bisik-bisik yang membuat Maya semakin tak nyaman. Sebagian besar mereka tak menyangka kalau pemeran utama laki-laki yang sempat viral jadi pengantin pengganti itu adalah; Firhan. Dan itu mereka sesalkan, lalu membandingkan Maya dan Rima yang selama ini mereka pikir mempunyai hubungan khusus dengan Firhan. "Boleh gabung di sini, kan?" Suara Firhan membuat Maya mengangkat kepalanya dari menekuri makan siangnya. "Bang," ucapnya, lalu melihat sekeliling yang kini menjadikan dia pusat perhatian. "Geser, Sayang," titah Firhan menyimpan nampan di sebelah nampan milik Maya. Nova dan Delia saling lirik dengan mengulum senyum, jelas sekali kalau Firhan benar-benar mencintai Maya. "Kenapa abang makan di sini? Bukannya di meja para staf?" Firhan tak menggubris pertanyaan Maya, dia langsung menjatuhkan
Maya sudah kembali bekerja, dua hari waktu istirahatnya sudah habis. Saat ini dia sedang tegang membayangkan reaksi semua orang yang pastinya sudah mengetahui tentang statusnya dan Firhan. Nova sudah memberitahu Maya, bagaimana dirinya diberondong pertanyaan oleh banyak karyawan. "Tegang amat," kekeh Firhan yang fokus mengemudi. "Takut," balas Maya tak ingin berbohong. "Santai saja, nanti juga nggak akan ada yang berani nanya. Liat saja," ucap Firhan sangat yakin. Maya berdecak, dia sudah tidak sungkan menunjukkan sikap di depan Firhan. "Sok tau!" Firhan tertawa, dengan Maya dirinya kini bisa tertawa lepas tanpa beban. Jadi bagaimana mungkin dia akan melepas Maya untuk Arman lagi? Maya istrinya, dia akan egois mempertahankan Maya. Meski selama dua malam tidur bareng, hubungan mereka belum lanjut ke tahap lebih intim, Firhan menunggu Maya benar-benar siap. Justru saat ini dia sedang membuat rencana, untuk mengundang rekan kantornya sebagai bentuk syukuran pernikaha
Arman tak pernah menyangka dirinya akan berada di titik ini. Keputusannya meninggalkan Maya, membuka kebenaran lain tentang siapa dirinya. Meski saat Lidya mengatakan, kalau wanita yang selama ini disangkanya sang ibu memang berniat membuka siapa jati diri Arman setelah dia menikah dengan Maya, pasti efeknya tidak akan seperti ini kalau Maya benar-benar menjadi miliknya. Dia pastinya tidak akan merasa sendiri, ada Maya yang akan menemaninya melewati semua kebenaran yang baru terungkap itu. Air mata Arman bercucuran, dadanya sesak serasa ada batu yang menghimpit di sana, berkali-kali dia menyesali lagi keputusannya yang keliru, namun semua terlanjur terjadi. Dia hanya berharap kesempatan memiliki Maya bisa terjadi. Seperti katanya pada Firhan tadi, dia hanya menitipkan jodohnya pada lelaki itu. Meski semua kekeliruannya harus dibayar dengan melajang seumur hidup. Mungkinkah? Sedang Firhan berhadapan dengan Lidya dan Rudi, dia mendengarkan dengan runut cerita yang dijabar
"Kamu belum baca surat ini, bukan? Padahal dalam surat ini aku menjelaskan semuanya dengan rinci, rencana juga tujuan aku melakukan semua ini. Tapi, kamu justru belum membacanya. Atau … bang Firhan sengaja menyembunyikan surat itu dan tak menginginkan kamu membacanya?" tuduh Arman dengan sangat tak tahu diri. "Jaga ucapanmu, Arman!" sergah Firhan atas tuduhan tak jelas Arman. "Aku justru menyelamatkan surat si-alan itu saat Maya akan merobeknya!" sambungnya. "Oh, ya? Lalu bagaimana bisa surat ini bisa Angga temukan di stasiun? Kalau benar Maya ingin merobeknya, pasti surat ini--" "Justru aku yang harusnya bertanya kenapa surat itu bisa ada di tanganmu?" Firhan menarik Maya hingga mereka kembali berdiri berdampingan. Pertanyaan Firhan mewakili pertanyaan Maya, dia mencoba menebak kalau Angga menemukan surat itu saat mereka bertemu dan memberikannya pada Arman. Berarti kecurigaannya benar kalau Angga memang mengetahui Arman ada di mana. "Tak penting! Yang terpenting seka
Maya memalingkan wajah, dia bisa merasakan Firhan menatapnya dari samping. Tak ingin larut dalam rasa yang belum semuanya bisa terganti, Maya mengajak Firhan untuk segera pergi dari sana seperti apa yang Rudi katakan tadi. "Aku akan jelaskan semuanya nanti, Maya. Tunggu aku!" seru Arman saat Maya malah pergi dengan Firhan yang terus merangkul pinggangnya, sedang Nova mengikuti di belakang suami istri tersebut. Maya tak menoleh sama sekali, bahkan sampai di dalam mobil pun suaranya tak terdengar. Firhan membiarkan istrinya dalam mode senyap, tapi tidak dengan tangannya yang sesekali menggengam jemari Maya. "Mbak Nova ikut ke rumah saya, ya?!" ajak Firhan, tapi Nova langsung menolak karena dia tahu ada banyak hal yang pastinya akan dibahas oleh keluarga suami Maya itu. "Nova berhenti di pertigaan saja, Bang. Biar naik ojek nanti." Namun Firhan tentunya tidak akan menuruti perkataan Nova, mobil dia arahkan dulu ke mess untuk mengantarkan Nova. "Makasih ya, Mbak. Maaf
"Loh, mbak Maya dari mana? Tadi suaminya nyariin, loh," ujar perawat yang tadi datang ke kamar Maya dan berbicara pada Firhan. "Saya dari taman, Sus. Emang suami saya udah ada, ya?!" tanya Maya dengan cemas. "Iya. Sama tiga orang lainnya gitu tadi." "Oh, iya, Sus. Makasih infonya," ucap Maya yang dibalas anggukan perawat tersebut. "Apa aku bilang, May? Babang Ican pasti udah datang," kata Nova. "Ya kenapa nggak bales pesan aku," jawab Maya, langkah keduanya melambat saat semakin dekat ke kamar Maya yang pintunya terbuka. Samar Maya dan Nova mendengar perdebatan dari dalam sana. Bahkan Maya bisa dengan jelas mengenali suara siapa saja yang tengah berbicara dengan nada kekesalan yang begitu kentara. "May, siapa di dalam? Aku nggak denger suara babang Ican tapi," kata Nova berhenti tepat di dekat pintu. "Itu suara mama, papa, dan …." "Si brengsek, kan?" lirih Nova yang diangguki Maya. "Jangan panggil aku mama lagi. Cukup sudah aku menahan semuanya. Menerima sem
"Mana Maya, Bang?" tanya Arman yang bahkan tidak ditanggapi Firhan, dia mencari Maya ke kamar mandi mengira istrinya ada di sana. "May, kamu di dalam, Sayang?" Panas hati Arman mendengar Firhan memanggil Maya dengan panggilan itu. "Sok romantis!" decihnya. "Apa urusanmu?!" balas Firhan menatap tajam. "Sudah cukup!" hardik Rudi. Arman membuang muka, sedang Firhan masih terus mengetuk pintu kamar mandi. Hingga tak lama seorang perawat masuk membawa kertas. "Ini resepnya, Pak," ujar perawat tersebut memberikan kertas tersebut pada Firhan. "Resep baru lagi, Sus?" tanya Firhan. "Oh bukan, itu untuk obat yang harus diminum istri bapak di rumah nanti. Silakan selesaikan administrasinya, ya Pak," jawab suster tersebut lalu berbalik. "Apa? Istri saya sudah bisa pulang?" tanya Firhan bingung. "Iya, Pak. Tadi dokter sudah mengizinkan bu Maya pulang, infus juga sudah dibuka. Tadi kata bu Maya bapak sedang ada perlu," jelas suster tersebut. "Lalu istri saya ke