WARNING: chapter ini mengandung adegan dewasa! “Ahh ….” Desahan manja Annelies menyatu dengan napas hangat Dan Theo yang kini beradu cumbu. Pria itu perlahan menyusupkan tangan ke belakang leher Annelies, lalu dengan mudahnya melumat bibir wanita tersebut dengan lembut. Sial, sensasi menegangkan membuat perut Annelies berkedut seiring matanya yang terpejam. Tangannya tanpa sadar meraih pundak Dan Theo, lantas meremasnya. Bahkan tanpa ragu, Dan Theo mendorong Annelies hingga istrinya itu bersandar di badan sofa. Dia menggigit bibir bawah Annelies, lalu menjajah mulutnya dengan lidah panasnya seiring tangannya yang menarik resleting di punggung Annelies. Seketika Annelies terkejut, saat tangan hangat Dan Theo menyentuh kulitnya yang halus. Irisnya terbuka, lalu mendorong pria itu menjauh darinya. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung. “Ada apa?” Dan Theo pertama kali buka suara. Alih-alih menjawab, Annelies malah menggigit bibir bawahnya yang bengkak sampai berdarah. “
Annelies menggertakkan gigi seraya mendecak, “kenapa saya harus memberi Anda sepuluh milliar?!” “Kau tuli? Sudah aku bilang beri uang kompensasi! Dengan begitu, aku tidak akan menuntut perusahaanmu atas kematian putriku!” sambar lelaki paruh baya yang masih menjambak rambutnya. Alih-alih setuju, Annelies hanya menyeringai sinis. Dia menampik tangan lelaki itu hingga membuat amarahnya naik. “Sialan! Beraninya kau meremehkanku, hah?!” umpat lelaki tadi yang lantas melayangkan tangan, hendak menampar Annelies. Beruntung Annelies langsung menahan lengan lelaki itu seraya mendengus, “jika putri Anda meninggal, bukankah harusnya Anda sibuk berkabung? Kenapa malah berkeliaran mencari kompensasi? Benarkah dia putri Anda?!” “Kurang ajar! Dia memang putri kami!” sahut si wanita paruh baya kesal. Annelies meliriknya tajam dan lantas menyambar, “benarkah? Baru kali ini saya melihat orang tua rela memendam kematian putrinya hanya untuk uang kompensasi!” Ucapan Annelies seketika membua
Wajah Annelies berangsur muram. Dengan tatapan tajam, dia pun mendecak, “untuk apa datang ke sini?!”“Cih! Apa maksudmu? Memangnya salah kalau aku mengunjungi adikku?!” sahut Dave menaikkan sebelah alisnya. Dia memicing pada Cloe, memberi kode untuk pergi. Namun, sekretaris itu hanya mematuhi perintah Annelies. “Anda boleh keluar, Nona Cloe,” tutur Annelies kemudian. “Ba-baik, silakan panggil saya jika butuh sesuatu, Direktur,” sahut Cloe ragu-ragu.Meski tak pernah mendengarnya langsung, tapi sudah rahasia umum kalau Annelies tidak rukun dengan kakak-kakaknya. Cloe jadi khawatir, tapi dia tak bisa terus berada di ruangan tersebut.‘Bukankah tadi Direktur bersama Tuan Dan Theo? Kenapa sekarang sendirian? Apa Tuan Dan Theo sudah pergi?’ batin Cloe cemas.Masih di dalam ruangan direktur, Dave pun mendekati Annelies.‘Ugh, bau alkohol!’ batin Annelies mengernyit.Melihat penampilan Dave yang berantakan dengan setelan jas merah dan kemeja putih yang kancingnya putus, jelas sekali kakak
“Kenapa? Bukankah saat itu kau sangat bergairah menggigit bibirku sampai berdarah?” Harvey semakin memancing. Annelies menyatukan alisnya jijik seraya mendecak, “kau gila?! Tutup mulut busukmu—” “Ya, aku memang gila. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya hampir gila, Annelies!” sambar Harvey yang lantas menyentuh bahu Annelies. Wanita itu menyingkur. Dan Theo pun seketika mencekal tangan Harvey dengan ekspresi dinginnya. “Singkirkan tanganmu dari istriku!” decaknya pelan, tapi nadanya mengandung ancaman. Harvey menghempas cengkeraman Dan Theo. Dia menyeringai, lalu mencibir, “istri? Aku ragu kalian benar-benar pasangan suami-istri!” “Harvey, sebaiknya kau diam. Karena apapun yang kau katakan, tidak akan mempengaruhi hubungan kami!” Annelies menyahut tegas. “Aku tahu kau tidak mencintai pria ini, Annelies. Jika kalian menikah karena cinta, bukankah harusnya kalian pergi bulan madu? Kenapa kau malah sibuk bekerja?!” Belum sempat Annelies menanggapi, pintu lift sudah terbuka. Anne
“Selamat siang, Nona Annelies,” tutur Kuasa Hukum mendiang Feanton yang baru saja datang. Annelies pun bangkit, lantas meraih jabatan tangannya. “Saya tidak menyangka bertemu Anda di sini, Tuan.” “Saya datang atas permintaan Tuan Narrow,” sahut Kuasa Hukum itu yang lantas beralih menatap Dan Theo. “Beliau ini ….” “Ah, ini suami saya, Dan Theo,” tutur Annelies tanggap. Dan Theo pun menjabat tangan Kuasa Hukum itu seraya berkata, “senang bertemu Anda, Tuan.” “Saya memanggil Anda ke sini karena saya tahu bahwa Anda sangat setia pada mendiang Tuan Feanton. Jadi Anda pasti akan mendukung keputusan mendiang, bukan?” tutur Kepala Yayasan Narrow menginterupsi. “Saya mengerti maksud Anda, Tuan Narrow. Saya juga tahu mendiang Tuan Feanton ingin Nona Annelies yang mewarisi semuanya. Tapi sepertinya ini tidak mudah,” sahut Kuasa Hukum tersebut. Annelies mengernyit. Dia bingung karena kuasa hukum itu seperti menyembunyikan sesuatu. “Apa maksud Anda, Tuan? Bukankah syarat dari Ayah, saya har
‘Sepertinya kami diikuti,’ batin Dan Theo melirik kaca kecil di bagian depan mobilnya.Dugaannya kian kuat saat mobil putih itu terus membuntuti meski dirinya sudah berbelok beberapa kali. Dan Theo menyeringai seraya berkata, “aku akan mengambil jalan memutar.”“Tidak perlu,” sahut Annelies tiba-tiba.Itu membuat Dan Theo mengernyit bingung.Namun, belum sempat bertanya, istrinya itu lebih dulu melanjutkan. “Mereka Wartawan. Aku sudah tahu mereka mengikuti kita dari penthouse. Biarkan saja, mereka membutuhkan berita dan itu akan menguntungkan kita.”Benar saja, begitu Dan Theo dan Annelies sampai di pelabuhan, para wartawan itu semakin gencar mengambil potret mereka. Annelies sengaja berpose mesra dengan menggelayut manja di lengan Dan Theo.“Jangan salah paham, aku melakukannya agar mereka mendapat foto yang sempurna,” bisik Annelies sambil berjalan.Ini memicu seringai tipis melenggang di bibir Dan Theo.“Jika ingin foto yang sempurna, kau harus akting dengan baik, istriku!” sahut
Dan Theo bergegas menarik Annelies yang berdiri di dekat pembatas geladak, lalu mencengkeram kedua lengannya. “Apa yang kau pikirkan? Ini cara bodoh untuk mati!” Dan Theo mendecak tajam. Alisnya menyatu saat melihat wajah pucat wanita itu. Tapi belum sempat menceramahinya lagi, Annelies malah mendorongnya menjauh. “Siapa yang ingin mati, hah?!” sentaknya. “Aku tidak akan mati. Tidak sebelum aku mencapai segalanya!” Saat itulah Dan Theo langsung bungkam. Dia bisa melihat semangat wanita itu membara di matanya. ‘Sekarang Annelies terlihat penuh ambisi, tapi kenapa tadi dia seperti mau bunuh diri?’ batinnya bingung. Dan Theo menatapnya lekat, lalu bertanya, “lalu kenapa kau ada di sini?” “Pergilah, aku hanya ingin mencari udara segar sendiri,” sahut wanita itu dengan ekspresi datarnya. Alih-alih mengiyakan, Dan Theo justru menyatukan alisnya. Dia bisa melihat jelas kalau istrinya itu tidak baik-baik saja. “Hari mulai gelap, kau akan masuk angin jika terus ada di sini,” tukas Dan
WARNING: Chapter ini mengandung konten dewasa.‘Ugh … kenapa aku tiba-tiba pusing?’ batin Annelies mengernyit.Dia berniat menahannya, tapi semakin lama Annelies merasa kepalanya semakin berat. Bahkan sensasi panas yang aneh merayapi tubuhnya juga.Dirinya berpaling pada Adeline, lalu berkata dengan bibir gemetar. “Ma-maaf, saya harus ke toilet sebentar.”Tanpa menunggu jawaban lawan bincangnya, Annelies pun meletakkan gelas wine yang baru disesapnya sekali, lantas bergegas menuju kamar kecil.‘Astaga, wajahnya kembali pucat. Apa dia sakit lagi?’ batin Adeline menatap cemas.Annelies pun menghilang di antara orang-orang. Entah mengapa tatapannya berubah kabur hingga dirinya tak bisa melihat dengan jelas.‘Ada apa denganku? Ahh … kenapa, ke-kenapa aku merasa panas? Apa di sini memang sepanas ini?’ Annelies bergeming seraya berpegangan dinding kapal.Dirinya terhenti saat seluruh tubuhnya gemetar, terlebih kemaluannya yang berdenyut-denyut, sungguh membuatnya kacau.‘Toilet, air … aku
“Dan Theo ….” Annelies berpaling pada sang suami.Maniknya yang gemetar seakan meminta kepastian pria itu bahwa dirinya tidak salah lihat.“Ya, istriku. Bukankah kau merindukan beliau?” tutur Dan Theo menaikkan kedua alisnya.Annelies mengerjap. Dia nyaris tak percaya, tapi pengelihatan dan ucapan Dan Theo benar-benar nyata.“Mari kita temui Ibu mertua!” Pria itu melanjutkan katanya sambil memandu sang istri melangkah ke depan.Mereka pun berjalan mendekati Serena yang kini berada di antara antek-antek geng Ceko. Wanita itu berdiri dengan suit putih tulang dan syal elegan yang melingkari lehernya.Benar, setelah berbulan-bulan menghilang akibat insiden penembakan di dermaga De Forte, akhirnya Serena kembali. Semua orang berpikir dirinya sudah tiada, tapi anak buah Velos berhasil menemukannya. Dan selama Annelies di Sociolla, Serena telah menerima perawatan hingga berhasil pulih.Serena menarik sudut bibirnya tipis begitu Annelies dan sang suami berhenti di hadapannya.“Lama tidak bert
“Menurutlah selagi aku belum berubah pikiran, Theodore!” Anthony berujar dengan tatapan tegas.Dan Theo tahu, mustahil jika melawan. Bahkan mungkin akan membuat posisinya dan Annelies dalam bahaya karena hal ini memang perjanjian awal.Dengan rahang berubah ketat, Dan Theo pun berujar, “baiklah, aku akan pergi bersama Annelies. Tapi Ayah harus menepati janji. Jangan pernah mengganggu kami lagi!”“Apa kau pernah melihatku berkhianat?!” sambar Anthony yang lantas meraih cerutunya.Tangan Dan Theo mengepal geram, sampai kapan pun dia tak rela meninggalkan satu putranya bersama Anthony.‘Tunggu Daddy, Dylan. Suatu hari, Daddy pasti menjemputmu!’ batin pria itu penuh tekad. Dirinya lantas menunduk hormat di hadapan sang ayah. Tanpa bertukar suara lagi, Dan Theo pun mangkir dari ruangan tersebut.Sialnya, Eugen masih menunggu di luar. Rasanya Dan Theo ingin menghajarnya, tapi Annelies pasti sudah menunggu. Dia tak akan membuang waktu untuk hal yang sia-sia.Namun, bukannya membiarkan Dan T
“Mohon maaf, Tuan Theodore. Tuan Eugen sudah membawa pergi bayi pertama Anda!” tukas sang Perawat menunduk.Dan Theo yang mendengarnya pun mengernyit geram. Belum juga Annelies dan dirinya menggendong bayi itu, tapi sang ayah sudah buru-buru mengambilnya. Bukankah bayi itu butuh Annelies untuk menyusu?‘Sial! Kenapa Ayah sampai bertindak seperti ini? Anak itu masih bayi dan butuh ibunya!’ batin Dan Theo meradang dalam dada.Dirinya tak sanggup menyampaikan perkara ini pada sang istri. Terlebih kondisi Annelies masih lemas. Dia tak mau wanita itu cemas, bahkan kesehatannya menurun jika memikirkan bayi pertamanya.‘Sebaiknya aku tidak membahas bayi dulu,’ geming Dan Theo dengan alis berkedut.Dia akhirnya kembali mendekati Annelies dan berupaya mengalihkan perhatian.“Istriku, para Perawat akan memandikan bayi-bayi kita dulu. Kau tenang saja, bayi-bayi kita sangat tampan dan memiliki mata yang indah sepertimu,” tutur Dan Theo merengkuh tangan Annelies.Sang wanita tersenyum binar, semba
“Ah!” Annelies merintih sakit selaras dengan kontraksi yang mendominasi perutnya.Dia mundur, coba mencari pegangan untuk menyangga diri. Beruntung di sebelahnya ada nakas, hingga Annelies sigap berpegangan. Tapi tangannya yang asal menumpu, tak sengaja menyenggol vas bunga sampai jatuh ke lantai.Bunyi pekak beling yang pecah, seketika menyita perhatian dua bodyguard yang berjaga di depan pintu.“Apa yang terjadi?” tukas salah satu di antara mereka.Rekannya tampak bingung sembari menimpali, “Big Boss sedang keluar. Apa terjadi sesuatu pada Nyonya?”“Mari kita lihat!” Bodyguard berambut cepak bergegas mengetuk pintu.Keduanya memanggil Annelies bergantian, tapi tidak mendapat sahutan. Hanya suara rintihan samar yang terdengar menyakitakan.“Minggir!” tukas Bodyguard rambut cepak tadi.Dirinya mundur, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu ruang tidur Annelies.Ya, dengan satu tendangan keras, pintu tersebut berhasil terbuka. Tapi begitu menilik ke dalam, kedua bodyguard tadi l
“Bukankah ini lebih baik dari ice cream?” bisik Dan Theo saat melepas pagutannya sejenak. Sang istri tersenyum tipis, lalu menimpali, “kau curang, Dan Theo!”“Apanya yang curang? Bukankah kau menyukainya?” Pria itu membalas sambil mengusap bibir bawah Annelies dengan ibu jarinya. Sentuhan itu membuatnya ingin menjajah kian dalam, hingga detik berikunya Dan Theo tak ragu mengulum bibir Annelies lagi. Kali ini Dan Theo melumatnya lebih manja, sengaja menyalurkan hasrat menggelora yang cukup lama ditahannya. Ya, sebab selama di mansion Caligo, Anthony lebih ketat mengawasi Annelies. Bahkan Dan Theo juga disibukkan dengan beberapa pekerjaan di organisasi. Malam ini Dan Theo ingin melipur diri dan membuat Annelies bahagia. Tangan pria itu menyusup ke belakang leher sang istri, seiring dengan lidah yang masuk ke mulutnya. Mereka saling beradu saliva dengan manik terpejam. Bahkan desiran ombak pantai itu, seakan lebih menghanyutkan keduanya dalam aliran gairah. “Ahh ….” Annelies meleng
Dan Theo yang menyadari amukan di wajah istrinya, langsung mengangkat tangan kiri sebagai tanda penolakan pada wanita seksi tadi. “Are you serious, Sir?” tukas wanita itu seakan memberi kesempatan lagi. Entah mengapa dia menonjolkan payudara padat di balik bikini merahnya. Itu membuat Annelies semakin risih. Bahkan di manik hazelnya sudah menggantung amarah yang membara. Dan Theo mungkin akan sulit memadamkannya. Hingga dengan tegas, pria itu pun berkata, “sorry!” Sorot matanya yang tajam, seketika membuat wanita seksi tadi melepas pagutan. Dia lantas berlalu tanpa merasa bersalah. “Hah! Aku harus memberi pelajaran Eugen! Dia tidak bilang jika di tempat ini ada wanita seperti itu,” ujar Dan Theo tiba-tiba. Ya, dia inisiatif menjelaskan sebelum Annelies merajuk dan kesal. Terlebih suasana hati istrinya lebih sensitive akhir-akhir ini. Hanya dia yang Annelies punya. Jadi Dan Theo tak mau membuatnya sedih. Tapi bukannya menjawab, Annelies justru menggenggam garpu amat erat. Dia be
*** Di persimpangan jalan Etnea tiba-tiba pengemudi motor sport bermantel hitam mengejar Dan Theo. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan menyalip beberapa mobil yang ada di depannya. “Lebih cepat! Kita harus hentikan motor sport hitam di depan!” tukas P7 yang baru menerima perintah Eugen dari earpiece-nya.“Baiklah!” sahut K4-rekannya yang tengah mengemudi. K4 menginjak pedal gas amat dalam, memicu mobilnya melesat cepat menembus jalanan malam. Sementara P7, kini menekan tombol earpicenya, lalu berkata pada rekannya di mobil lain, “kejar bajingan itu dari berbagai sisi. Prioritas kita melindungi Big Boss dan Nyonya!”Di depan sana, pengemudi misterius tadi sudah lebih dulu mendekati Dan Theo. Dari jarak beberapa meter, dia mengeluarkan belati lipat dari sakunya dan terus memutar gas. ‘Tamatlah riwayat kalian!’ cecarnya dalam batin. Tangannya pun membelokkan setir agar lebih mepet motor Dan Theo, lalu bersiap menusuk Annelies yang duduk di jok belakang motor Harley itu. Nam
“Kau mau dengar?” Annelies berujar sambil tersenyum tipis. Dan Theo berkedip tak mengerti. Saat itulah Annelies merengkuh wajanya, lalu mengarahkan kembali ke perutnya. “Dia berbisik ‘kan? Aku tidak bohong,” sambung Annelies melebarkan sepasang manik hazelnya. Dan Theo menyeringai samar. Baru kali ini dia mendapati tingkah Annelies di luar kebiasaannya. Dan itu sungguh lucu. ‘Apa dia seperti ini karena bawaan bayi dalam kandungan? Hem … apa ya istilahnya?’ batin Dan Theo bertanya-tanya.“Dan Theo, kau tidak ingin bayi kita merajuk di perutku ‘kan?” tutur Annelies tiba-tiba manja. Sang suami mendongak dengan tatapan binar. Sungguh, wajah memohon istrinya benar-benar menggemaskan. Rasanya dia ingin memanggul wanita itu dan merebahkannya di ranjang. Tapi kewarasan masih menahannya. Tangan Dan Theo membelai pipi Annelies seraya berujar, “apapun keinginanmu, istriku.”Malam itu juga, Dan Theo meminta Eugen menyiapkan motor Harley yang selalu dia gunakan saat masih remaja. Ya, selain
“Kau lihat? Ayahku tidak akan membiarkan Caligo begitu saja!” dengus Jesslyn yang diakhiri tawa ejekan. Eugen yang berada di hadapannya kembali menyelipkan pistol ke belakang pinggang. Dia tak menyangka Howard bergerak secepat itu. “Di mana dia sekarang?” tanya Eugen menyidik. “Ada di ruang tunggu mansion. Beliau ingin bertemu Big Boss, tapi saya rasa lebih baik memanggil Anda dulu,” tukas Bodyguard tadi.Eugen mengangguk paham. Dia pun beranjak dan berniat menemui orang yang dimaksud bawahannya tersebut. Namun, tiba-tiba saja Jesslyn memekik, “hei, Eugen! Jangan pergi sebelum kau melepaskanku. Hei, dasar sialan. Kau sengaja tidak mendengarku?!”Mau sekeras apapun Jesslyn menjerit, Eugen tetap tak peduli. Jika Dan Theo atau Anthony belum menurunkan perintah, Jesslyn tak akan dilepaskan. Begitu tiba di sana, rupanya Dan Theo sudah menemui orang suruhan dari Howard tersebut. ‘Hah! Ternyata yang datang Jackson Howard?!’ batin Eugen mengerjap tegang. Ya, tak disangka kakak angkat J