Home / Rumah Tangga / Skandal Gila Suamiku / BAB 14 Bicara Enam Mata

Share

BAB 14 Bicara Enam Mata

last update Huling Na-update: 2024-03-10 19:00:50

“Serius loh, nggak tahu suamiku malam ini kena apa, tiba-tiba ngajak jalan pake mobil sama anak-anak.”

Aku bersandiwara. Tapi, entah siapa di sini sebenarnya yang sedang dipermainkan? Atau sesungguhnya kami ini saling mempermainkan?

Ya, mungkin awalnya Bang Roni dan Riya mempermainkan aku dengan hubungan terlarang mereka. Kemudian aku yang membohongi Bang Roni dengan sempat pura-pura tak mengetahui perihal perselingkuhannya. Sekarang, giliran Riya yang kami bodohi. Yang mana aku dan Bang Roni kini bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa, padahal kami bersekongkol untuk menjatuhkannya. Atau sebaliknya, apakah saat ini Riya yang sedang mempermainkan aku dan suamiku?

Entahlah. Yang jelas, sekarang akulah yang pegang kendali. Aku yang akan mengarahkan ke mana haluan ini akan menuju. Aku yang akan menorehkan kisah untuk kami bertiga ke depannya.

“Mungkin ada yang mau dia omongkan, Say.”

“Mungkin. Mau ngomong apa emangnya, Sayank?” aku memandang Bang Roni yang kini
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 15 Curhatan Riya

    “Antarkan aku ke toilet.” Kataku pada Bang Roni yang baru saja selesai membayar ke kasir.“Mau pipis?” tanyanya. Namun aku tak menjawab. Bang Roni mengikutiku dari belakang. Begitu sampai di depan pintu toilet aku membalikkan badan dan memandangnya dengan wajah penuh pertanyaan. “Masuk aja. Aku tunggu di sini.” Katanya sambil menunjuk ke arah pintu toilet.Aku menggeleng. “Aku nggak pengen ke toilet. Cuma mau ngomong dengan kamu.” Kataku dengan nada penuh kecurigaan.Bang Roni tampak waspada. “Sayank mau ngomong apa?”“Masih manggil aku Sayank? Sekarang Cuma ada kita berdua.” Kataku protes. Menunjukkan bahwa aku keberatan dengan cara ia memanggilku.“Oke...” Bang Roni mengangkat kedua tangannya, seolah mengatakan ‘terserah’. “Kamu mau ngomong apa?” tanyanya kagok. “Apa yang kalian lakukan saat berdua-duaan tadi?”“Nggak ada. Kami nggak ngapa-ngapain.” Jawabnya.“Aku nggak percaya. Perasaanku nggak enak.” “Bener, kami nggak a

    Huling Na-update : 2024-03-11
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 16 Riya Kabur Dari Rumah

    Aku menutup pintu mobil dengan pelan. Di depan teras, kulihat Bang Sarip sudah menunggu. Rumah Riya gelap, semua lampu sudah dimatikan, kecuali lampu teras dan lampu dapur. Maklum saja, ini sudah hampir jam 10 malam, hanya kurang beberapa menit lagi. Sepertinya kami pulang tak sesuai jadwal. Tak ada sedikit pun senyum yang ditunjukkan Bang Sarip. Mungkin ia sebenarnya tak suka, kami membawa Riya dan anak-anaknya pulang semalam ini. “Langsung baringkan aja di kasur depan TV.” Kata Bang Sarip pada Bang Roni yang sedang menggendong Hilda yang sudah tertidur sejak di mobil tadi. Sementara Ola berada dalam gendongan Riya, lunglai karena mengantuk berat. Aku mengekor Bang Roni masuk ke dalam rumah Riya yang remang. Bagaimanapun, aku yang tadi minta izin membawa mereka. Jadi, aku juga yang harus unjuk muka mengantar Riya dan anak-anaknya sampai ke dalam. Perlahan Bang Roni meletakkan Hilda yang sudah pulas. Ola juga langsung mengambil tempat berbaring di samping kakakny

    Huling Na-update : 2024-03-11
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 17 Di Losmen

    “Kita mau ke losmen yang mana, Riya? Ke Besthouse kah?” Bang Roni menyebutkan nama sebuah hotel lokal kecil yang tempatnya tak jauh dari rumah kami. “Nggak usah ke sana. Tempat itu terlalu familiar. Kalau bang Sarip mencariku, itu adalah tempat pertama yang akan ia datangi.” Jawab Riya. “Jadi mau ke mana?” tanya Bang Roni lagi. “Terserah. Kamu aja yang Carikan tempat. Aku nggak terlalu tahu tentang penginapan di sini. Tolong Carikan penginapan yang agak jauh dan jarang didengar namanya.” Pinta Riya. Bang Roni tak menjawab lagi. Ia justru mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. “Halo Boy, lagi di mana?” Kudengar ia menelepon seseorang yang aku yakin itu adalah salah satu temannya. “Anu Boy, kamu tahu nggak, di mana losmen atau penginapan yang jarang orang tahu...? Ini buat saudaraku.... Di mana itu....? Yang mana tuh ya....? Atau gini aja deh, bisa nggak kamu antarkan aku ke sana....? Oke, aku jemput sekarang ya.....” Telepon dimatikan. Ta

    Huling Na-update : 2024-03-11
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 18 Tugas Untuk Roni

    Aku menggoyangkan tubuh Bang Roni. Awalnya pelan. Namun karena ia masih belum juga membuka mata, ku goyang tubuhnya lebih keras lagi sambil ku pukul-pukul dengan tanganku. Mungkin bawaan emosi dan benci padanya, membuatku berlaku agak kasar. Sekalian, pikirku. Sambil membangunkan, sambil menyakiti badannya.Bang Roni tersadar dan langsung memandangku saat ia membuka mata. Ia sempat menggeliat.“Kenapa Sayank? Jam berapa ini?” tanyanya.“Aku bukan Sayank kamu,” sahutku cetus. “Bangun! Semalam Riya pesan, kamu disuruh ke sana.”“Ngapain?”“Dia minta diantarkan sarapan. Terus kamu nanti juga ngantar dia ke sana-sini buat belanja baju sama beli HP baru.”Bang Roni duduk. Dengan mata yang masih tampak sepat, ia memandangiku.“Emangnya kamu bolehin?” tanyanya.“Pergi aja. Dia semalam protes kalau aku melarang kamu bantu dia. Katanya, kalian itu sepupu yang sampai kapan pun nggak akan bisa diputus hubungannya.”

    Huling Na-update : 2024-03-12
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 19 Kehilangan Jejak

    “Ada apa Bang Sarip?” tanyaku sambil memasukkan anak rambut yang sempat keluar dari mukena. Sementara Hilda dan Ola sudah berebut untuk masuk ke dalam sambil berteriak memanggil Erin dan Erlan. Aku sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan Bang Sarip seandainya ia menanyakan tentang Riya. “Mama Erin, tolong titip Hilda sama Ola ya. Saya mau ke pasar sebentar. Mau ngantar pesanan sayur orang.” Katanya. “Iya, boleh. Biar mereka main sama Erin dan Erlan. Udah pada makan belum?” tanyaku lagi. “Udah tadi saya suapin. Tapi mereka nggak mau makan banyak.” “Nggak apa, nanti biar makan lagi. Kalau makan rame-rame biasanya anak-anak jadi lebih semangat makan.” Kataku sambil memperhatikan gerak-geriknya. Bang Sarip seperti orang yang ingin menanyakan sesuatu, tapi tampak ragu. Dia bahkan sempat pamit dan membalikkan badan. Namun ia kembali dan lama berdiri menatapku. “Kenapa Bang?” Bang Sarip lagi-lagi diam, seperti sedang berpikir keras dan menimbang-nimb

    Huling Na-update : 2024-03-12
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 20 Kepulangan Riya

    Dua hari setelah tak ada kabar sama sekali dari Riya, aku pikir ia tak akan kembali lagi. Untuk sementara hatiku merasa plong karena tak ada lagi perempuan memuakkan itu di sekitarku. Namun hal itu tak bertahan lama, saat tiba-tiba saja siang ini ketika aku sedang menyapu ruang tamu, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah. Aku yang bahkan belum sempat menjawab salam, sangat terkejut melihat Riya yang tahu-tahu sudah berada di depanku dengan menenteng dua kantong plastik besar.“Riya...?”“Sssttttt..... Udah diem, jangan banyak omong.” Katanya sambil meletakkan dua kantong itu di lantai.Dengan cepat ia mengeluarkan beberapa isinya dan membagi menjadi dua. Aku terheran-heran melihat apa yang sedang ia lakukan.“Kamu ngapain? Ke mana aja kamu dua hari ini?” tanyaku. Namun sama sekali tak ada jawaban dari Riya. Ia sibuk membagi barang bawaannya yang entah untuk apa.Aku melirik ke arah dapur, di mana Bang Roni sedang makan siang. Aku yakin kalau ia p

    Huling Na-update : 2024-03-12
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 21 Membuat Riya Cemburu

    “Berarti kamu udah baikan sama Bang Sarip?” Tanyaku sambil menyerahkan piring dan pisau kecil pada Riya.“Ya... Baik-baik gitu lah.” Jawabnya agak acuh.“Maksudnya?”“Ya aku pulang seolah nggak ada terjadi apa-apa. Dia juga biasa aja. Nggak ada membahas tentang ini sama sekali.”“Emang dia nggak nanya, selama tiga hari ini kamu ke mana? Dengan siapa? Terus siapa yang nganter kamu kabur malam itu?” tanyaku masih penasaran. Sebab kulihat ia begitu santai, seperti bukan seseorang yang habis lari dari rumah.“Nggak ada. Kalaupun nanya, paling nanti kalau udah agak lama. Aku pulang aja dicuekin. Sampai sekarang aja, nggak ada dia negur aku.”Aku ternganga mendengarnya. Bagaimana bisa ada suami yang seperti itu terhadap istrinya? Aku jangankan kabur dari rumah, pergi belanja sayur agak lama aja sampai disusul dan ditanya ini itu sama Bang Roni. Ini Bang Sarip, istrinya lari dari rumah sampai berhari-hari, ditegur aja nggak.Aku baru saja hendak bertanya

    Huling Na-update : 2024-03-13
  • Skandal Gila Suamiku   BAB 22 Kejujuran Roni

    “Aku boleh duduk di sini?” tanya Bang Roni padaku, yang kini sedang duduk melamun sendirian di teras rumah. Aku tak menjawab. Malas sekali bicara dengannya. Lagi pula aku tak suka ia mengganggu waktuku bersantai sendiri seperti ini. Kami baru saja selesai makan malam sehabis shalat Isya tadi. Dan aku, memang lebih suka duduk melamun di kursi teras rumahku, memandang orang yang lalu lalang.Meski tak kujawab pertanyaannya, Bang Roni langsung duduk di sampingku. Mungkin karena aku pun tak menolak. Aku menggeser posisi, agak menjauh darinya.“Nggak usah jauh-jauh dong. Masa’ didekatin suami malah menghindar.” Bang Roni berusaha menggodaku. Tapi maaf, kali ini sudah tak mempan lagi.Bang Roni menghidupkan sebatang rokok dan mengembuskan asapnya di udara. Aku melirik ke arahnya dengan tatapan tak suka. Namun, ternyata ia pun sedang memandangiku. Jadinya tanpa sengaja kami beradu pandang. Dia sempat mengangkat kedua alisnya, namun aku melengo

    Huling Na-update : 2024-03-13

Pinakabagong kabanata

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 50 -TAMAT- (Yang Terbaik Untuk Semua)

    Pagi yang tenang, diiringi kicauan burung di pepohonan sekitar rumah. Embun membasahi tanaman bunga yang menghiasi halaman. Dan angin segar yang masih terasa dingin karena matahari belum juga menampakkan diri, menerpa wajahku yang sejak tadi duduk di teras sambil memegang tasbih digital. “Erin sama Erlan tidur lagi ya, habis shalat subuh?” tanya Ibu yang tiba-tiba saja muncul di belakangku. “Iya Bu. Biarin aja, mungkin mereka masih mengantuk.” Kataku, masih sambil menekan tasbih. “Jangan dibiasakan Sar, mereka tidur lagi habis shalat subuh. Biarpun lagi libur sekolah.” “Hari ini aja Bu. Biarlah mereka mengumpulkan tenaga buat menempuh perjalanan jauh.” “Iya juga sih.” Ibu mengambil posisi duduk di sampingku. “Udah berapa lama ya kamu nggak ketemu sama keluarga Roni? Nggak terasa kamu udah nggak pernah ke sana lagi sejak bercerai dan Roni mondok di pesantren.” “Ya kalau dihitung-hitung , sekitar dua tahunan Bu. Kan Eri

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 49 Menjauh Agar Tak Saling Menyakiti

    Aku berdecih mendengar kalimat Riya. Perempuan ini sepertinya masih belum sadar, kalau dialah yang telah membuat hubunganku dengan Bang Roni jadi kandas.Dia pikir, semudah itu aku bisa kembali dengan Bang Roni, setelah rasa cinta dan kepercayaanku dilalap habis-habisan akibat perbuatannya?“Kamu pikir aku akan kembali menerima Roni, setelah aku tahu dia selingkuh dengan sepupunya sendiri?” tanyaku tajam. “Sekarang aku tanya, kenapa nggak kamu aja yang nikah sama dia? Pun kalian sekarang udah sama-sama sendiri. Bukannya dulu kau bilang padaku kalau kau memikirkan Roni terus, sampai nggak enak makan nggak enak tidur? Sekarang ambillah dia, karena aku sudah mengalah dan meninggalkannya. Nggak ada lagi yang menghalangi hubungan kalian sekarang.” Kataku lagi.Riya diam, namun kemudian ia pun mulai kembali bicara.“Aku datang ke sini mau meminta maaf padamu secara langsung. Maaf, atas apa yang telah aku lakukan. Maaf karena aku telah membuat rumah tanggamu dengan Roni

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 48 Kembali Bertemu Dengan Riya

    Aku baru ingat, kalau uang yang tadi diberikan Bang Roni belum sempat kumasukkan ke dalam kamar, masih tergeletak di meja ruang tamu.“Sar, ini uang siapa? Kok banyak banget? Dapat dari mana kamu?” tanya Ibu kaget.Aku bingung hendak menjawab apa. Kalau kubilang dari Bang Roni, pasti anak-anak akan menangis karena tahu ayahnya pergi tak berpamitan pada mereka.“Nanti kuberitahu Bu. Sekarang aku mau menyiapkan makanan buat Erin sama Erlan dulu.” Kataku akhirnya.Ibu hanya mengangguk mengiyakan. Aku izin masuk ke dalam dan mengambil uang yang tadi diberikan Bang Roni. Untuk sementara, aku akan menyimpannya terlebih dahulu di lemari dalam kamar.Setelah anak-anak selesai makan, aku menyuruh mereka untuk tidur siang. Itu memang sebuah hal yang wajib, agar mereka tak mengantuk saat pergi mengaji nanti sore.Aku mendatangi Ibu yang sedang sibuk menjahit baju daster favoritnya sambil membawa uang yang tadi diberikan Bang Roni.“Bu, uang ini dari Bang Roni

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 47 Perpisahan Yang Menyayat Hati

    “Waktu kemarin aku mau pulang, kamu ada bilang kan, kalau aku harus melakukan sesuatu yang bisa membantuku untuk bangkit dan melupakan semuanya? Aku udah berpikir masak-masak selama beberapa hari ini. Dan aku rasa, aku tahu apa yang harus dilakukan. Aku... Udah memutuskan untuk pergi menenangkan diri di pesantren.” Ujar Bang Roni sambil menunduk.“Kamu mau mondok?” tanyaku agak terkejut. Karena tak pernah terpikir kalau Bang Roni akan mengambil keputusan seperti ini.“Iya. Aku akan melanjutkan pendidikan di salah satu pondok pesantren besar di Jawa Timur.” Jawab Bang Roni.“Kapan?”“Hari ini juga, Sar. Aku ke sini hanya singgah sebentar. Ada yang mau kuberikan padamu.”Aku mengerutkan alis. “Memangnya kamu mau memberikan apa?” tanyaku penasaran.Bang Roni tak langsung menjawab. Ia justru meletakkan di depan kami, tas ransel yang sejak tadi ada di punggungnya.Dan apa yang ia keluarkan dari dalam tas itu membuatku membelalakkan mata.Itu gepoka

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 46 Berpamitan

    Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan Azmil. Menjadi salah satu selingkuhan Riya, adalah sesuatu yang sangat tak masuk akal bagiku. Dari mana mereka bisa saling mengenal?“Kamu nggak lagi bercanda kan, Mil? Bagaimana bisa kamu jadi selingkuhan Riya? Dari mana kamu kenal dia?” tanyaku.“Aku sering melihat akun Facebook kamu, Sar. Dan nggak tahu gimana, dia meminta untuk berteman denganku di Facebook. Awalnya aku hanya berharap bisa mendapat kabar tentang kamu, karena aku tahu dia adalah sepupu Roni. Tapi....”“Tapi kenapa?” tanyaku, karena kulihat Azmil seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.“Lama-kelamaan dia minta aku untuk jadi selingkuhannya. Dia banyak cerita dan curhat soal rumah tangganya yang hambar. Dia bilang, kalau suaminya nggak perhatian dan dingin.”“Dan kamu setuju, menjadi selingkuhan istri orang?” tanyaku geram.“Aku nggak bisa nolak. Selain karena dia membayar aku, dia juga selalu melakukan hal yang mem

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 45 Kenyataan Yang Mengejutkan

    “Ayah jangan pulang....”Erin dan Erlan merengek bersamaan saat Bang Roni pamit pulang pagi ini. Sudah lima hari Bang Roni di sini, dan memang sudah saatnya untuk pergi.Meski ikut sedih melihat betapa beratnya melihat perpisahan di depan mata antara ayah dan anak, aku berusaha untuk bersikap biasa saja.“Aku pulang dulu ya Sar. Kamu yakin nggak apa-apa kalau aku tinggal? Aku khawatir Azmil dan ibunya akan mengganggu kamu lagi.” Ujar Bang Roni, sesaat setelah ia melepaskan pelukan pada kedua anaknya.“Nggak apa. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” Kataku datar.Bang Roni mengangguk. “Aku tahu, kamu pasti akan baik-baik aja. Kamu adalah perempuan yang hebat.” Katanya dengan nada sedih.Kami berdua sempat terdiam. Bang Roni juga seakan enggan untuk langsung pergi. Mungkin saja dalam hati ia berharap agar aku menahan langkahnya.Tapi itu tak mungkin aku lakukan karena aku sudah melepaskan dan mengikhlaskan dia untuk pergi dari hidupku.“Sartika, s

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 44 Dilabrak

    “Masuk dulu, Bu.” Kataku sambil menunjuk ke dalam rumah, mencoba untuk beramah-tamah.“Saya nggak mau lama-lama di sini. Saya datang ke sini karena saya dengar kamu menggoda Azmil.”Dahiku berkerut. “Mungkin Ibu salah paham, saya nggak melakukan hal yang seperti itu.” Kataku kemudian.“Halah nggak ada gimana? Kamu ngajak Azmil ketemuan sampai dua kali kan? Gara-gara itu, Azmil juga jadi nggak mau dijodohin, padahal kemarin udah setuju. Dia bilang mau nikahin kamu aja, karena sekarang kamu udah jadi janda.” Bu Erna terus nyerocos. Terlihat sekali kalau dia tidak menyukaiku.“Saya ketemu dengan Azmil Cuma sebagai teman kok, Bu.”“Bohong! Saya nggak percaya! Denger ya, saya nggak suka kalau Azmil sampai nikah sama kamu. Saya nggak mau anak saya kawin sama janda yang udah punya anak. Enak aja, nanti capek-capek kerja Cuma buat ngumpanin makan anak orang. Kamu itu udah berapa lama sih menjanda? Masih baru kan? Belum lama. Nggak bisa apa tahan sedikit, biar nggak

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 43 Permintaan Azmil

    “Azmil, maukah kau memberitahu jawaban dari apa yang kutanyakan tadi?” desakku, karena kulihat ia terus diam.Azmil bergeming. Ia tampak takut menatap wajahku.“Sartika, bisa nggak kau tak menanyakan hal itu lagi? Anggap aja aku Cuma sembarangan bicara.” Katanya kemudian. “Sejak kemarin aku mengajakmu bertemu, karena ada yang mau aku katakan padamu. Bukan hendak membahas masalah rumah tangga kalian.” Ujarnya lagi.Aku menghela nafas. Meski hatiku masih merasa tak puas karena belum mendapatkan jawaban, aku memilih untuk mengalah dan memberikan kesempatan pada Azmil untuk bicara.“Baiklah. Kalau gitu, katakan. Apa yang mau kamu omongin ke aku?” tanyaku.Azmil membuang nafas melalui mulut, seolah sedang melepas beban berat di dadanya. Ia memandangku lekat namun tampak ragu untuk memulai kalimat.“Aku nggak bisa lama-lama di sini, Mil. Sebelum adzan Dzuhur aku udah harus ada di rumah. Kalau memang ada hal penting yang ingin kau sampaikan, tolong bilang seka

  • Skandal Gila Suamiku   BAB 42 Hal Yang Mengganjal Dari Azmil

    “Memangnya apa yang Roni perbuat? Ibu tahu persis, kalau suamimu ini nggak pernah macam-macam kok. Dia nggak tahu ini itu. Roni anaknya sopan sama orang tua. Dan selama ini, Ibu lihat dia itu sangat menyayangi kamu. Ya mungkin dia memang hampir tak memiliki waktu untuk anak istri. Tapi itu karena dia kerja kan? Dia cari uang untuk menghidupi kalian. Masalah kalau yang dia dapat itu sedikit, kan semua tergantung rezeki dari Allah. Dia anak baik, Sar. Kalau pun kamu menikah lagi, belum tentu akan dapat suami yang seperti dia lagi. Kalau dia memang pernah berbuat salah, maafkan. Beri kesempatan. Siapa di dunia ini yang nggak pernah berbuat salah?” Ibu mencecarku dengan segala argumennya. Aku hanya bisa menghela napas panjang sambil menunduk dan memejamkan mata. Aku beristighfar dalam hati.Hampir saja aku membuka aib Bang Roni. Padahal bukankah aku punya komitmen untuk membuat nama Bang Roni tetap bagus di hadapan Ibu dan keluargaku yang lain? Aku berjanji pada diriku sendir

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status