Share

BAB 78

Penulis: Rayna Velyse
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-20 22:36:59

Setelah keributan yang terjadi di aula utama, Caelum mengajak mereka untuk berdiskusi di kamar pribadinya. Udara malam yang dingin menyelinap melalui celah jendela yang terbuka, membawa serta keheningan yang mencekam setelah insiden yang baru saja terjadi. Sisa aroma darah samar masih terasa, bercampur dengan hawa lembap yang menyusup hingga ke tulang. Di luar, suara burung malam sesekali terdengar, tetapi di dalam ruangan ini, tidak ada yang berbicara lebih dulu.

"Silakan duduk di mana pun kalian merasa nyaman," ujar Caelum santai. "Mari kita lupakan status kita sejenak."

Tanpa ragu, ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di tengah ruangan. Gerakannya tampak santai, namun sorot matanya tajam, memperlihatkan bahwa pikirannya tengah bekerja.

"Apa kau merekamnya, Gavier?" tanyanya, melirik ajudannya yang berdiri di dekat pintu.

Gavier mengangguk, mendekat, dan menyerahkan sebuah bola perekam kepada Caelum. Sang pangeran menerimanya d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Sisa Takdir   BAB 79

    Caelum menghela napas frustrasi di dalam kamarnya. Tangannya mengepal di atas meja, jemarinya sedikit bergetar menahan emosi yang membuncah di dadanya. Rahangnya mengatup rapat, seakan menahan sesuatu yang ingin ia teriakkan. Matanya menatap tajam ke arah Gavier yang masih berdiri di dekat pintu, menjaga dirinya dengan penuh kewaspadaan. Sekalipun ruangan itu luas, ia merasa seolah terkurung dalam tekanan yang semakin menghimpit. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara detak jam yang seakan mempermainkan pikirannya yang kalut. "Apa aku membuat kesalahan?" tanyanya akhirnya, suaranya bergetar tipis, seolah tak yakin pada dirinya sendiri. Rahangnya mengatup, dan dadanya naik turun dalam ritme napas yang berat. Ada kepanikan yang berusaha ia tekan, tetapi semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas rasa frustrasi itu terasa. Gavier, yang sedari tadi memperhatikan sikap Caelum, menghela napas panjang sebelum akhirnya mengambil sikap yang lebih santai.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Sisa Takdir   BAB 80

    Tiga hari telah berlalu, namun tak ada tanda-tanda Caelum menemui keluarga Silvercrest. Entah dia masih bingung atau ada halangan lain yang menghambatnya. Elian duduk di taman rumahnya, menyeruput teh hangat dengan tenang. Mata merahnya menatap kosong ke arah langit yang cerah, sementara angin sepoi-sepoi menerpa rambut hitamnya. "Caine, apakah ada pergerakan dari Azrael yang kau ketahui?" tanya Elian tanpa menoleh. Caine, yang berdiri tak jauh darinya, melangkah mendekat lalu mengecilkan suaranya, "Saat ini tidak ada, Tuan. Saya dengar dia selalu berada di ruang kerjanya, mengurus wilayahnya. Tidak ada kabar tentang tindakan mencurigakan yang dilakukannya." Elian meletakkan cangkirnya dengan anggun di atas meja kecil di sampingnya. "Benarkah? Apakah kau masih menemuinya?" Caine menegakkan badannya. "Tidak, saya hanya selalu mengirim surat untuk melaporkan tentang Anda." Elian tersenyum kecil, namun tak ada keceriaan dalam senyum itu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Sisa Takdir   BAB 81

    Suasana di ruang tamu keluarga Silvercrest masih terasa tegang setelah pernyataan mengejutkan dari Pangeran Caelum. Ronan menyandarkan punggungnya ke kursi, ekspresinya tetap tajam saat menilai pria yang berlutut di hadapannya. Sementara itu, Damien tampak lebih tenang, menunggu Caelum menjelaskan lebih lanjut. Lucien menyilangkan jemarinya, menatap sang pangeran dengan sorot penuh pertimbangan. "Pangeran, kesetiaan bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja tanpa konsekuensi. Anda sendiri pasti memahami hal itu. Apa yang membuat Anda begitu yakin ingin bersekutu dengan kami?" Caelum mengangkat kepalanya, matanya masih menyiratkan tekad yang sama seperti sebelumnya. "Saya telah menghabiskan waktu memikirkan ini. Ayah saya, Raja, mulai menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap rakyat. Pangeran Kedua memiliki ambisi besar, dan jika dibiarkan, ia akan menyeret kerajaan ke dalam kekacauan. Saya tidak bisa tinggal diam lagi." Damien mengangguk kecil. "Jadi,

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-23
  • Sisa Takdir   BAB 82

    Percakapan itu akhirnya mereka sudahi. Pangeran Caelum diminta untuk beristirahat lebih dahulu agar dapat memulihkan tenaganya. Lucien keluar lebih dulu dari ruangan itu, diikuti oleh Elsya yang dengan sigap melangkah di belakangnya. Ronan, Damien, dan Elian masih berada di dalam ruangan, baru akan beranjak pergi ketika suara Caelum menghentikan langkah mereka. "Bolehkah aku berbicara dengan kalian?" Ronan melirik Damien sekilas sebelum kembali duduk. Ada keraguan di matanya, tetapi ketegasannya tak berkurang. "Aku mendengarkan." Caelum menarik napas dalam, matanya menatap tajam ke arah mereka. "Apakah kalian mengingat pesan monster malam itu? Dia mengatakan bahwa utusan dewa telah bangkit." Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Ronan mengusap dagunya, berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Ya, aku ingat. Lalu?" tanyanya, matanya menatap tajam ke arah Caelum. Caelum menggenggam kedua tangannya erat. "Tolong bantu aku menemukannya."

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-24
  • Sisa Takdir   BAB 83

    Ronan menatap Caelum dengan sorot mata tajam, lalu melirik Damien yang masih tampak tidak percaya dengan permintaan sang pangeran. Keheningan menyelimuti ruangan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Akhirnya, Ronan menarik napas dalam dan berkata dengan tegas, "Aku tidak bisa memberi jawaban sekarang. Kami akan membicarakannya dengan keluarga terlebih dahulu. Setelah itu, baru kami akan memutuskan apakah kami akan membantumu mencari utusan dewa atau tidak." Caelum tampak ingin membantah, tetapi ia menahan dirinya. Ia tahu bahwa ini bukan keputusan yang bisa dibuat dengan mudah. "Baiklah," katanya akhirnya, meskipun jelas terlihat bahwa ia menginginkan jawaban yang lebih cepat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ronan berdiri dan melangkah keluar, diikuti oleh Damien dan Elian. Damien masih sesekali menoleh ke belakang, memastikan bahwa Caelum tidak akan mencoba melakukan sesuatu yang mencurigakan. Ketika mereka sudah cukup jauh dari ruangan, Damien akhirny

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Sisa Takdir   BAB 84

    Malam terasa panjang bagi Elian. Meskipun Damien sudah meninggalkan kamarnya, pikirannya masih terus berputar. Apa yang akan terjadi jika keluarganya mengetahui kebenaran ini? Bagaimana mereka akan menanggapinya? Ketakutan yang selama ini berusaha ia kubur perlahan kembali mengusik pikirannya. Apakah mereka akan tetap melihatnya sebagai Elian Silvercrest atau sebagai ancaman yang bisa membahayakan keluarga mereka? Ia menatap langit-langit kamarnya yang diterangi cahaya remang dari lilin di sudut ruangan. Bayangan nyala lilin menari di dinding, seolah menciptakan sosok-sosok samar yang mengintainya dalam kesunyian. Angin malam yang masuk melalui celah jendela terasa dingin, menusuk hingga ke tulangnya, membuatnya semakin gelisah. Ada keinginan untuk beranjak, keluar dari kamarnya, dan menguping pembicaraan mereka. Namun, ia menahan diri. Apa pun yang terjadi malam ini, ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa dirinya adalah utusan dewa yang mereka cari. Ia

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Sisa Takdir   BAB 85

    Suasana pagi terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai tidak mampu mengusir hawa dingin yang menyelimuti kamar Elian. Ia terbangun dengan kepala yang masih berat, pikirannya berkabut oleh berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi setelah percakapan semalam. Ia tidak tahu keputusan seperti apa yang telah diambil keluarganya, tapi firasatnya mengatakan bahwa malam itu mengubah segalanya. Elian duduk di atas ranjang, merasakan kelembutan selimut yang membalut tubuhnya. Namun, kenyamanan itu tidak mampu menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam, tetapi bayangan percakapan Damien dan orang tuanya terus berputar di kepalanya. Apakah mereka memutuskan untuk menjauhinya? Ataukah mereka masih bisa menerimanya sebagai bagian dari keluarga Silvercrest? Terdengar ketukan pelan di pintu. Elian menoleh, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum menjawa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Sisa Takdir   BAB 86

    Hari-hari berlalu dengan cepat setelah keputusan keluarga Silvercrest untuk mendukung Pangeran Caelum. Mereka tidak berjanji akan menemukan utusan dewa, tetapi mereka berkomitmen untuk membantu pangeran ketiga dalam perjuangannya. Sementara itu, keributan yang sempat terjadi mulai mereda seiring dengan persidangan yang akan segera digelar. Pangeran Caelum telah mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan hukuman pada Tuan Rotherham, dalang dari kekacauan yang hampir menghancurkan kestabilan kerajaan. Bukti itu bukan hanya sekadar kesaksian, tetapi juga dokumen dan kesaksian para saksi yang mengarah langsung pada keterlibatan Rotherham dalam konspirasi yang terjadi. Meskipun telah memutuskan untuk berada di kubu Pangeran Caelum, keluarga Silvercrest memilih untuk tetap mengamati dan memastikan kepercayaan mereka sebelum benar-benar menyerahkan kesetiaan mereka sepenuhnya. *** Di sisi lain, Pangeran Kedua, Leander, mengamuk di kamarnya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28

Bab terbaru

  • Sisa Takdir   BAB 121

    Suasana di dalam ruang bawah tanah itu berubah menjadi mencekam setelah tubuh makhluk itu terjatuh, terbelah antara tubuh dan kepala yang kini terpisah, kedua bagian tersebut tergeletak terpisah di lantai dengan darah hitam yang mengalir deras, berkilau di bawah cahaya redup obor. Darah itu memercik, bercampur dengan kotoran dan sisa-sisa kotoran lainnya yang membuat ruangan itu semakin bau. Namun yang lebih menakutkan adalah keheningan yang langsung menyelimuti tempat itu. Seakan-akan seluruh dunia terdiam, hanya menyisakan suara tetesan darah yang jatuh perlahan dari kepala makhluk itu yang terperangkap di antara jeruji besi. Setiap tetes darah yang jatuh itu terdengar nyaring di telinga mereka, seolah menggema di seluruh ruangan yang gelap dan kotor itu. Masing-masing dari mereka berdiri terdiam, merasakan beratnya suasana yang mencekam. Semua terhanyut dalam keterkejutannya, menatap bagian tubuh yang telah terpisah itu dengan rasa ngeri yang sulit dijelaskan.

  • Sisa Takdir   BAB 120

    Langkah kaki mereka bergema di lorong gelap dan lembap. Udara dingin berbau tanah basah dan besi berkarat memenuhi ruang bawah tanah itu. Cahaya obor yang berpendar redup memantulkan bayangan panjang di dinding batu kasar, menciptakan ilusi makhluk-makhluk bersembunyi di setiap sudut gelap. Elian berjalan di depan, diapit oleh Ronan, Caine, Damien dan Kaelian yang menjaga posisi mereka dengan waspada. "Tempat ini... penuh dengan sihir terkutuk," gumam Caine, matanya menyipit saat memandang jauh ke dalam kegelapan. Ronan mendengus. "Azrael selalu terobsesi dengan kekuatan terlarang. Tempat ini adalah bukti betapa gilanya dia." Elian diam saja, pikirannya terfokus pada apa yang akan mereka hadapi. Setiap langkah yang diambil mendekatkannya pada sosok yang dikurung di balik jeruji besi—makhluk yang pernah menjadi manusia sebelum direnggut oleh kutukan yang jahat. Suara desahan dan erangan samar mulai terdengar, menggema seperti bisikan hantu. Akh

  • Sisa Takdir   BAB 119

    Hutan yang dilalui Elian semakin lebat seiring langkah kudanya yang terus melaju. Pepohonan menjulang tinggi dengan ranting-ranting kering yang menggantung seperti tangan kurus hendak merenggut siapa saja yang lewat. Daun-daun gugur berdesir tertiup angin, menciptakan bunyi lirih yang mengiringi perjalanan mereka. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk menyusup ke dalam hidung, menciptakan sensasi mencekam seolah makhluk tak kasat mata mengawasi dari balik semak-semak. Bayangan pepohonan bergerak pelan saat angin berhembus, membuatnya tampak seperti sosok-sosok mengintai dalam kegelapan. Suara burung hantu sesekali terdengar, serupa bisikan ancaman di tengah hutan yang kelam. Ethan dan Caine mengikuti di belakang Elian dengan waspada. Sorot mata mereka terus mengawasi lingkungan sekitar, seakan siap menghadapi serangan mendadak. Jalan setapak yang sempit dan penuh akar pohon mengharuskan mereka berjalan perlahan, tapi Elian tak mau memperlambat laju kudanya. Meski luka di tu

  • Sisa Takdir   BAB 118

    Angin pagi yang sejuk menyusup melalui celah jendela kamar Elian, membawa aroma dedaunan basah dan embusan kabut tipis. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis, memercikkan warna keemasan pada lantai kayu yang mengilap. Namun, ketenangan itu terasa rapuh seolah-olah pagi yang damai ini menyembunyikan badai yang akan datang. Suasana kamar terasa sunyi, terlalu sunyi, seakan menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Ia berdiri di depan cermin tinggi dengan ekspresi datar, mengenakan kemeja putih sederhana yang disulam halus. Jubah tebal berwarna hitam dengan lapisan bulu abu-abu terlipat rapi di kursi dekatnya, terabaikan. Caine berdiri di samping meja dengan tangan terlipat di dada, tatapannya keras dan penuh keteguhan. “Tuan Muda, Anda harus mengenakan jubah ini,” tegas Caine, nadanya tajam namun berlapis kekhawatiran yang tak tersamarkan. Elian mendengus dan mengibaskan tangan, tapi gerakannya kaku, seolah mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa

  • Sisa Takdir   BAB 117

    Suara detik jam terdengar jelas dalam kesunyian kamar Elian. Udara dingin menusuk, membuat api di perapian berkedip-kedip memancarkan cahaya keemasan yang samar. Elian duduk bersandar di ranjangnya, tatapannya fokus pada meja rendah di depannya yang penuh dengan kertas, peta, dan catatan tentang pergerakan Azrael dan kutukan yang menyebar. Ethan berdiri beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak namun selalu siap menerima perintah. Caine berdiri di sisi lain, sikapnya kaku dengan tangan terlipat di dada. “Aku ingin melihat korban yang masih sadar,” ucap Elian tiba-tiba, memecah kesunyian. Ethan dan Caine saling pandang sebelum Ethan membungkuk hormat. “Tuan Muda, apakah Anda yakin? Korban-korban itu sudah berada dalam tahap kutukan yang parah. Pangeran Pertama dan Tuan Ronan sudah mengamankan mereka dengan pengawasan ketat.” “Itu sebabnya aku harus melihat mereka langsung,” tegas Elian. “Aku ingin memahami apa yang kita hadapi.”

  • Sisa Takdir   BAB 116

    Caine menggeliat pelan dari tempat duduknya, tubuhnya terasa pegal dan kaku setelah tertidur dalam posisi yang kurang nyaman. Suara kursi berderit pelan saat ia bergerak, menciptakan bunyi yang terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Matanya perlahan membuka, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kantuk, sementara cahaya pagi yang menyelinap dari balik jendela besar membuat matanya sedikit menyipit. Udara dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma teh hangat yang samar namun menenangkan. Di depannya, Elian duduk tenang di tepi ranjang dengan secangkir teh hangat dalam genggamannya, uapnya masih mengepul. "Selamat pagi, Caine," sapa Elian dengan senyum lembut yang terasa begitu menenangkan, uap teh hangat masih mengepul di cangkirnya. Caine mengerjap lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih tercecer. Matanya tertuju pada Elian yang tampak santai, kontras dengan kekhawatiran yang memenuhi pikirannya sejak kemarin. Pikirannya berusaha me

  • Sisa Takdir   BAB 115

    Di dalam ruang kerja megah keluarga Silvercrest, rak-rak buku tinggi menjulang penuh dengan buku-buku tua berlapis emas dan kulit mewah. Aroma kayu tua dan tinta memenuhi udara, menciptakan suasana serius dan penuh wibawa. Di sudut ruangan, api perapian berkobar hangat, namun hawa dingin dan tegang terasa menusuk hingga ke tulang. Pintu besar berlapis ukiran rumit terbuka perlahan, suara deritannya mengoyak keheningan. Azrael melangkah masuk dengan langkah mantap, setiap gerakannya dipenuhi percaya diri dan sikap penuh kemenangan. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang pucat, tatapan matanya menyiratkan kepuasan licik. Lucien berdiri tegak di balik meja kerjanya, tangan-tangan kokohnya menggenggam erat tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Cahaya api perapian memantulkan bayangan kelam pada wajahnya yang penuh ketegangan, mata merah menyala penuh amarah terarah pada sosok saudaranya yang berdiri dengan angkuh di ambang pintu. Hawa panas dari api yang berkob

  • Sisa Takdir   BAB 114

    Dalam sebuah ruangan megah yang dipenuhi pernak-pernik emas dan permadani mahal, Azrael berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan seorang pria muda berambut hitam legam dengan mata tajam berkilat. Leander, Pangeran Kedua Kerajaan Eldoria, mengenakan pakaian megah yang memancarkan aura kekuasaan. Wajahnya tampan, namun sorot matanya dingin dan penuh ketegasan. “Yang Mulia, ada hal mendesak yang perlu saya sampaikan,” Azrael memulai dengan nada hormat, tubuhnya sedikit membungkuk. Meski bibirnya tersenyum ramah, sorot matanya penuh kepuasan tersembunyi. Leander menatapnya dengan ketidaksabaran yang samar-samar, jarinya mengetuk sandaran kursi dengan irama teratur. “Bicaralah, Azrael. Jangan buang waktuku,” perintah Leander dengan suara rendah yang tajam. Ketika kata-kata itu terucap, alis Leander sedikit mengernyit, tanda kejengkelannya yang mulai muncul. Azrael menyeringai tipis, matanya berkilat penuh intrik. Ia menurunkan suaranya, seolah ingin menj

  • Sisa Takdir   BAB 113

    Ethan masih duduk di kursinya, matanya menatap lembut ke arah dua sosok yang tertidur di hadapannya. Cahaya lilin yang berpendar redup menciptakan bayangan samar di wajah mereka, seolah mengukir kelembutan dan ketenangan yang jarang terlihat. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit, tetapi keheningan ini lebih hangat dibanding malam-malam penuh ketegangan yang mereka lewati. Sesaat, Ethan menghela napas panjang, menikmati momen langka ini. Elian, yang biasanya selalu tampak tegang dan penuh waspada, kini tampak begitu damai. Napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan di bawah selimut yang tertata rapi. Wajahnya yang pucat masih memperlihatkan jejak kelelahan, tetapi setidaknya kali ini, ia bisa beristirahat tanpa beban. Di sisi lain, Caine tertidur dalam posisi duduk. Bahunya sedikit merosot, kepalanya hampir terjatuh ke depan jika bukan karena tangannya yang tersilang di atas perutnya. Ethan bisa melihat jejak kepenatan di wajah pria itu. Mereka semua telah

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status