Pesta malam itu berjalan dengan lancar. Lampu-lampu kristal yang menggantung indah di langit-langit ruang utama memancarkan cahaya lembut, sementara suara musik yang dimainkan oleh orkestra menciptakan suasana elegan yang mengisi setiap sudut ruangan. Para tamu, dengan pakaian mewah dan raut wajah penuh kegembiraan, berbincang ringan dan menikmati hidangan lezat yang disajikan. Namun di balik kemewahan dan kebahagiaan yang tampak, ada banyak ketegangan yang tersembunyi, dan Elian merasa semakin terperangkap di dalamnya.
Pangeran Caelum, Pangeran Ketiga yang menjadi pusat perhatian malam itu, akhirnya turun dari singgasana tinggi yang selama ini ia tempati. Dengan langkah elegan, ia mulai mendekati kelompok bangsawan yang tengah berbincang. Senyum penuh kepercayaan diri terpancar di wajahnya, menarik perhatian banyak orang, terutama para gadis muda yang berusaha mendekati sang pangeran. Mereka berdiri dengan malu-malu, namun terlihat jelas bahwa niat mereka hanya satu untukAlunan musik menggema di ruangan pesta, memenuhi udara dengan nada yang merdu. Cahaya lilin dan lampu kristal berpadu sempurna, menciptakan suasana megah yang memanjakan mata. Para bangsawan berbincang, tertawa, dan bersulang, merayakan ulang tahun Pangeran Ketiga dengan penuh suka cita. Di tengah keramaian, Adipati Vaught, pemimpin wilayah barat, melangkah dengan percaya diri ke arah Elian dan Damien. Senyum khasnya menghiasi wajahnya yang berwibawa, sementara di tangannya tergenggam dua gelas wine berwarna merah rubi yang menggoda. “Apakah Anda berdua menikmati pestanya, Tuan Muda Silvercrest?” tanyanya sambil menyodorkan gelas-gelas tersebut. Elian dan Damien menunduk hormat sebelum menerima gelas masing-masing. “Selamat malam, Tuan Vaught. Menyenangkan dapat berjumpa dengan Anda,” ujar Damien dengan sopan. Adipati Vaught tertawa ringan. “Aku melihat kalian berdua hanya berdiri di sini sambil menikmati camilan. Kuharap kalian juga mencicipi
Angin malam masih berembus lembut ketika Damien membawa Elian kembali ke kamar mereka di istana. Wajah adiknya yang merah karena alkohol membuatnya menghela napas panjang. Meski sudah berulang kali memperingatkan Elian untuk tidak minum, anak itu tetap saja mengabaikannya. "Kau ini benar-benar merepotkan," gumam Damien sembari membaringkan Elian di tempat tidur. Damien merebahkan tubuh Elian dengan hati-hati. Wajah adiknya terlihat damai, tetapi alisnya sesekali berkerut, seolah sedang memimpikan sesuatu yang buruk. Tidak lama, bibir Elian bergerak, bergumam dengan suara pelan, "Jangan ambil mereka lagi dariku..." Damien yang tengah duduk di sampingnya menoleh, mendekatkan wajahnya ke arah Elian. "Apa maksudmu?" bisiknya pelan, namun tak ada jawaban selain desahan napas yang teratur. "Apa kau bermimpi buruk?" lanjutnya sambil bersandar di kursi. "Seharusnya kau lebih takut membayangkan hari esok. Bagaimana kau akan bertemu dengan Pangeran Ketiga setelah
Elian menatap bayangannya di cermin dengan wajah penuh kecemasan. Pakaian yang dikenakannya rapi seperti biasanya, tetapi ketegangan di matanya tidak bisa disembunyikan. Ia menarik napas dalam-dalam, berharap itu bisa meredakan kegelisahannya. Namun, sekeras apa pun ia mencoba, bayangan samar dari ingatan semalam terus menghantui pikirannya. Pangeran Ketiga tertawa. Kenapa? Apa yang telah ia lakukan? Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha mengingat, hanya potongan-potongan kecil yang muncul cahaya temaram, suara tawa rendah, dan perasaan canggung yang luar biasa. Semakin ia mencoba mengingat, semakin kuat rasa takutnya. Apa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak sopan? Atau lebih buruk, melakukan sesuatu yang tidak pantas? “Elian, kau sudah siap?” Suara Damien membuatnya tersentak. Ia menoleh dan melihat kakaknya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi santai. Di belakangnya, Ronan menyeringai, tampak menikmati si
Elian tidak bisa menikmati sarapannya. Meskipun berbagai hidangan lezat tersaji di hadapannya, setiap suapan terasa hambar. Wajahnya masih terasa panas, dan ia terus menunduk, berusaha menghindari tatapan Pangeran Ketiga yang jelas-jelas masih menikmati situasi ini. Ronan yang duduk di sebelahnya tampak menikmati makanannya tanpa beban, tetapi sesekali ia melirik Elian dengan senyum geli yang sama sekali tidak membantu. Sementara itu, Damien hanya menghela napas pelan, meski ada kilatan hiburan di matanya. "Kau tidak makan, Elian?" Suara Pangeran Ketiga membuatnya tersentak. “Apa kau perlu aku menyuapimu juga?” goda Pangeran Caelum, suaranya terdengar begitu santai, seolah benar-benar mempertimbangkan tawarannya. Telinga Elian terasa panas, dan ia merasakan tatapan orang-orang di meja makan seakan menekan tubuhnya. Jari-jarinya menggenggam garpu erat, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang berdebar tak wajar. Apa orang ini tidak punya malu?
Elian masih duduk di tempatnya, memperhatikan Pangeran Caelum yang berbicara dengannya. Elian menangkap gerakan canggung itu lagi. Tangan kiri Caelum sedikit berkedut sebelum ia buru-buru meremasnya, seolah menahan sesuatu. Apakah itu rasa sakit? Atau ada hal lain yang ia sembunyikan? Tapi Caelum tidak menunjukkan ekspresi yang mencurigakan, jadi Elian hanya bisa menyimpan rasa ingin tahunya untuk nanti. Tangan itu tertutup sarung tangan, jadi jika ada yang salah, Elian tidak bisa melihatnya secara langsung. "Jadi, kau tidak terlalu menyukai keramaian?" tanya Caelum, membelokkan percakapan mereka ke arah yang lebih ringan. Elian mengangkat bahunya sedikit. "Aku tidak keberatan dengan keramaian, hanya saja aku lebih suka tempat yang tenang." Caelum tertawa kecil, meskipun ada sedikit ketegangan yang terselip di dalamnya. "Kurasa kita mirip dalam hal itu. Terkadang aku juga ingin menjauh dari tuntutan istana. Tapi, sayangnya, aku tidak memiliki kemewahan
Elian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Pertemuan singkat dengan Azrael meninggalkan ketegangan yang sulit diabaikan, tetapi ia tetap harus bersikap wajar. Dengan sedikit membungkuk kepada Caelum, ia berbicara dengan nada tenang. "Mohon maaf, Yang Mulia. Saya mohon undur diri terlebih dahulu, saya harus bersiap untuk pesta malam ini. Terima kasih atas waktunya." Caelum menatapnya sejenak sebelum mengangguk. "Tentu. Aku akan melihatmu di pesta nanti." Elian memberikan senyum tipis sebelum berbalik dan berjalan menjauh. Saat sosoknya menghilang di balik lorong, Caelum menghela napas pelan dan melirik ke arah Gavier yang berdiri di sisinya. Dengan suara rendah, ia bertanya, "Bagaimana?" Gavier melangkah lebih dekat dan berbicara pelan agar hanya Caelum yang mendengarnya. "Saya tidak merasakan mana dalam tubuh Tuan Elian." Caelum menyeringai, matanya berkilat dengan minat yang lebih dalam. "Benarkah? Apa
Elian berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan stelan putih yang ia kenakan malam ini. Warna cerah itu semakin menonjolkan kontras dengan rambut hitam pekatnya dan mata merahnya yang seperti bara api. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Malam ini adalah malam penting. Bukan hanya karena pesta ini akan dihadiri oleh para bangsawan dari berbagai kerajaan, tetapi juga karena keluarga kerajaan Eldoria akan hadir lengkap. Di belakangnya, Ronan dan Damien sudah siap dengan pakaian resmi mereka. Kakak-kakaknya tidak menanyakan apa pun tentang pembicaraannya dengan Pangeran Ketiga tadi siang. Mungkin karena mereka tahu Elian tidak akan memberikan jawaban yang jelas, atau mungkin mereka hanya memilih untuk tidak membahasnya. "Ayo pergi," kata Ronan, menyeringai kecil sebelum berjalan lebih dulu. Damien mengikuti di belakangnya, sementara Elian mengambil langkah terakhir untuk meninggalkan kamarnya. Saat mereka tiba di aula pest
Elian menukar gelas anggurnya dengan jus jeruk, mengangkatnya perlahan sebelum meneguknya. Rasa asam manis menyegarkan tenggorokannya, berbeda dengan rasa anggur yang sering kali membuat kepalanya sedikit pening. Ia melangkah menjauh dari Ronan dan Damien yang masih sibuk bercakap-cakap dengan para bangsawan lain. Pembicaraan mereka terdengar penuh pujian di permukaan, namun Elian tahu betul bahwa di balik senyuman itu, masing-masing dari mereka menyimpan pisau tajam yang siap ditusukkan ke punggung satu sama lain. Ia berjalan ke meja hidangan, mengambil sepotong kue dan menggigitnya perlahan. Matanya menyapu ruangan dengan penuh kehati-hatian, mengamati setiap orang yang hadir. Pesta ini adalah tempat yang tepat bagi para bangsawan untuk mempertontonkan kepalsuan mereka, mempererat aliansi sementara, dan menyusun strategi baru untuk menjatuhkan lawan. Elian mengganti gelas kosongnya dengan gelas jus jeruk yang baru sebelum melangkah ke arah balkon. Angin malam yang berhem
Langkah kaki mereka bergema di lorong gelap dan lembap. Udara dingin berbau tanah basah dan besi berkarat memenuhi ruang bawah tanah itu. Cahaya obor yang berpendar redup memantulkan bayangan panjang di dinding batu kasar, menciptakan ilusi makhluk-makhluk bersembunyi di setiap sudut gelap. Elian berjalan di depan, diapit oleh Ronan, Caine, Damien dan Kaelian yang menjaga posisi mereka dengan waspada. "Tempat ini... penuh dengan sihir terkutuk," gumam Caine, matanya menyipit saat memandang jauh ke dalam kegelapan. Ronan mendengus. "Azrael selalu terobsesi dengan kekuatan terlarang. Tempat ini adalah bukti betapa gilanya dia." Elian diam saja, pikirannya terfokus pada apa yang akan mereka hadapi. Setiap langkah yang diambil mendekatkannya pada sosok yang dikurung di balik jeruji besi—makhluk yang pernah menjadi manusia sebelum direnggut oleh kutukan yang jahat. Suara desahan dan erangan samar mulai terdengar, menggema seperti bisikan hantu. Akh
Hutan yang dilalui Elian semakin lebat seiring langkah kudanya yang terus melaju. Pepohonan menjulang tinggi dengan ranting-ranting kering yang menggantung seperti tangan kurus hendak merenggut siapa saja yang lewat. Daun-daun gugur berdesir tertiup angin, menciptakan bunyi lirih yang mengiringi perjalanan mereka. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk menyusup ke dalam hidung, menciptakan sensasi mencekam seolah makhluk tak kasat mata mengawasi dari balik semak-semak. Bayangan pepohonan bergerak pelan saat angin berhembus, membuatnya tampak seperti sosok-sosok mengintai dalam kegelapan. Suara burung hantu sesekali terdengar, serupa bisikan ancaman di tengah hutan yang kelam. Ethan dan Caine mengikuti di belakang Elian dengan waspada. Sorot mata mereka terus mengawasi lingkungan sekitar, seakan siap menghadapi serangan mendadak. Jalan setapak yang sempit dan penuh akar pohon mengharuskan mereka berjalan perlahan, tapi Elian tak mau memperlambat laju kudanya. Meski luka di tu
Angin pagi yang sejuk menyusup melalui celah jendela kamar Elian, membawa aroma dedaunan basah dan embusan kabut tipis. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis, memercikkan warna keemasan pada lantai kayu yang mengilap. Namun, ketenangan itu terasa rapuh seolah-olah pagi yang damai ini menyembunyikan badai yang akan datang. Suasana kamar terasa sunyi, terlalu sunyi, seakan menunggu sesuatu yang tak terelakkan. Ia berdiri di depan cermin tinggi dengan ekspresi datar, mengenakan kemeja putih sederhana yang disulam halus. Jubah tebal berwarna hitam dengan lapisan bulu abu-abu terlipat rapi di kursi dekatnya, terabaikan. Caine berdiri di samping meja dengan tangan terlipat di dada, tatapannya keras dan penuh keteguhan. “Tuan Muda, Anda harus mengenakan jubah ini,” tegas Caine, nadanya tajam namun berlapis kekhawatiran yang tak tersamarkan. Elian mendengus dan mengibaskan tangan, tapi gerakannya kaku, seolah mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa
Suara detik jam terdengar jelas dalam kesunyian kamar Elian. Udara dingin menusuk, membuat api di perapian berkedip-kedip memancarkan cahaya keemasan yang samar. Elian duduk bersandar di ranjangnya, tatapannya fokus pada meja rendah di depannya yang penuh dengan kertas, peta, dan catatan tentang pergerakan Azrael dan kutukan yang menyebar. Ethan berdiri beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak namun selalu siap menerima perintah. Caine berdiri di sisi lain, sikapnya kaku dengan tangan terlipat di dada. “Aku ingin melihat korban yang masih sadar,” ucap Elian tiba-tiba, memecah kesunyian. Ethan dan Caine saling pandang sebelum Ethan membungkuk hormat. “Tuan Muda, apakah Anda yakin? Korban-korban itu sudah berada dalam tahap kutukan yang parah. Pangeran Pertama dan Tuan Ronan sudah mengamankan mereka dengan pengawasan ketat.” “Itu sebabnya aku harus melihat mereka langsung,” tegas Elian. “Aku ingin memahami apa yang kita hadapi.”
Caine menggeliat pelan dari tempat duduknya, tubuhnya terasa pegal dan kaku setelah tertidur dalam posisi yang kurang nyaman. Suara kursi berderit pelan saat ia bergerak, menciptakan bunyi yang terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Matanya perlahan membuka, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kantuk, sementara cahaya pagi yang menyelinap dari balik jendela besar membuat matanya sedikit menyipit. Udara dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma teh hangat yang samar namun menenangkan. Di depannya, Elian duduk tenang di tepi ranjang dengan secangkir teh hangat dalam genggamannya, uapnya masih mengepul. "Selamat pagi, Caine," sapa Elian dengan senyum lembut yang terasa begitu menenangkan, uap teh hangat masih mengepul di cangkirnya. Caine mengerjap lagi, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih tercecer. Matanya tertuju pada Elian yang tampak santai, kontras dengan kekhawatiran yang memenuhi pikirannya sejak kemarin. Pikirannya berusaha me
Di dalam ruang kerja megah keluarga Silvercrest, rak-rak buku tinggi menjulang penuh dengan buku-buku tua berlapis emas dan kulit mewah. Aroma kayu tua dan tinta memenuhi udara, menciptakan suasana serius dan penuh wibawa. Di sudut ruangan, api perapian berkobar hangat, namun hawa dingin dan tegang terasa menusuk hingga ke tulang. Pintu besar berlapis ukiran rumit terbuka perlahan, suara deritannya mengoyak keheningan. Azrael melangkah masuk dengan langkah mantap, setiap gerakannya dipenuhi percaya diri dan sikap penuh kemenangan. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang pucat, tatapan matanya menyiratkan kepuasan licik. Lucien berdiri tegak di balik meja kerjanya, tangan-tangan kokohnya menggenggam erat tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Cahaya api perapian memantulkan bayangan kelam pada wajahnya yang penuh ketegangan, mata merah menyala penuh amarah terarah pada sosok saudaranya yang berdiri dengan angkuh di ambang pintu. Hawa panas dari api yang berkob
Dalam sebuah ruangan megah yang dipenuhi pernak-pernik emas dan permadani mahal, Azrael berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan seorang pria muda berambut hitam legam dengan mata tajam berkilat. Leander, Pangeran Kedua Kerajaan Eldoria, mengenakan pakaian megah yang memancarkan aura kekuasaan. Wajahnya tampan, namun sorot matanya dingin dan penuh ketegasan. “Yang Mulia, ada hal mendesak yang perlu saya sampaikan,” Azrael memulai dengan nada hormat, tubuhnya sedikit membungkuk. Meski bibirnya tersenyum ramah, sorot matanya penuh kepuasan tersembunyi. Leander menatapnya dengan ketidaksabaran yang samar-samar, jarinya mengetuk sandaran kursi dengan irama teratur. “Bicaralah, Azrael. Jangan buang waktuku,” perintah Leander dengan suara rendah yang tajam. Ketika kata-kata itu terucap, alis Leander sedikit mengernyit, tanda kejengkelannya yang mulai muncul. Azrael menyeringai tipis, matanya berkilat penuh intrik. Ia menurunkan suaranya, seolah ingin menj
Ethan masih duduk di kursinya, matanya menatap lembut ke arah dua sosok yang tertidur di hadapannya. Cahaya lilin yang berpendar redup menciptakan bayangan samar di wajah mereka, seolah mengukir kelembutan dan ketenangan yang jarang terlihat. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit, tetapi keheningan ini lebih hangat dibanding malam-malam penuh ketegangan yang mereka lewati. Sesaat, Ethan menghela napas panjang, menikmati momen langka ini. Elian, yang biasanya selalu tampak tegang dan penuh waspada, kini tampak begitu damai. Napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan di bawah selimut yang tertata rapi. Wajahnya yang pucat masih memperlihatkan jejak kelelahan, tetapi setidaknya kali ini, ia bisa beristirahat tanpa beban. Di sisi lain, Caine tertidur dalam posisi duduk. Bahunya sedikit merosot, kepalanya hampir terjatuh ke depan jika bukan karena tangannya yang tersilang di atas perutnya. Ethan bisa melihat jejak kepenatan di wajah pria itu. Mereka semua telah
Caine menutup matanya di sisi ranjang Elian, bersandar pada kursi empuk milik tuannya. Suara napas Elian terdengar tenang dan teratur, pertanda bahwa ia tertidur pulas setelah sekian lama bergelut dengan kelelahan dan rasa sakit. Caine menghela napas dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan malam yang jarang ia nikmati. Tanpa sadar, kelopak matanya pun semakin berat, hingga akhirnya ia jatuh tertidur dengan posisi duduk. Pintu kamar Elian terbuka perlahan tanpa suara. Ethan masuk dengan langkah hati-hati, matanya langsung menangkap pemandangan dua orang yang tengah tertidur. Ia terdiam sejenak, lalu mendekati Caine yang tertidur dengan posisi duduk yang tampak tidak nyaman. Dengan gerakan lembut, Ethan mengambil selimut tipis dari ujung ranjang dan menyelimutinya, memastikan tubuhnya tetap hangat di malam yang dingin. Setelah itu, Ethan beralih ke sisi Elian. Ia menatap wajah tuannya yang tampak lebih tenang dibanding sebelumnya. Raut wajah Elian yang