Home / Fantasi / Sisa Takdir / BAB 31 BAYANGAN YANG MENGINTAI

Share

BAB 31 BAYANGAN YANG MENGINTAI

Author: Rayna Velyse
last update Last Updated: 2025-01-03 21:09:39

Cahaya lembut dari lilin di meja kecil menerangi kamar Elian dengan temaram yang menenangkan. Udara malam yang sejuk menyelinap melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah setelah hujan reda. Elian berbaring dengan tenang di tempat tidurnya, meskipun rasa nyeri masih menyelimuti tubuhnya. Setidaknya, malam ini ia bisa merasakan sedikit kenyamanan di antaraa luka-lukanya.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Ethan muncul dengan nampan berisi secangkir cokelat panas di tangannya. Wajahnya terlihat cerah meskipun ada lingkaran gelap samar di bawah matanya akibat kurang tidur.

"Tuan Muda, cokelat panas pesanan Anda sudah datang," ujar Ethan dengan nada menggoda sambil mengangkat cangkir cokelat itu seakan sedang memamerkan harta karun.

Elian memutar bola matanya, tetapi senyum kecil muncul di wajahnya. "Kau membuatnya terlihat seperti harta karun langka, Ethan."

Ethan tertawa pelan sambil berjalan mendekat. "Bagaimana tidak? Ini adalah permintaa
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • Sisa Takdir   BAB 32 TAMU TAK TERDUGA

    Suasana pagi yang lembut menyelimuti kediaman Silvercrest, membawa ketenangan yang seakan menjauhkan semua kekhawatiran. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kamar Elian memantulkan kilauan samar di lantai marmer yang dingin, memberikan suasana hangat yang menyentuh hati. Aroma bunga yang menguar dari taman yang terletak di belakang kediaman menyatu dengan angin pagi yang sejuk. Elian duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke luar jendela, berpikir tentang segala hal yang telah terjadi. Rasa letih yang menggelayuti tubuhnya tidak dapat disembunyikan meskipun usahanya untuk tampak baik-baik saja. Sejak kebangkitannya, semuanya terasa berbeda. Ada rasa tidak pasti yang menyelimuti hatinya, dan beban yang berat dari masa lalu yang tak bisa begitu saja dilupakan. Suara ketukan pintu yang lembut mengalihkan perhatian Elian dari lamunannya. Ethan, pelayannya yang setia, berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang selalu cerah kini terlihat sedikit cemas, meskipun ia be

    Last Updated : 2025-01-04
  • Sisa Takdir   BAB 33 KEDATANGAN AZRAEL

    Hari itu, kediaman Silvercrest terlihat lebih sibuk dari biasanya. Para pelayan berlarian dari satu sisi ke sisi lain, membawa hidangan dan menyiapkan segala sesuatu untuk kedatangan tamu penting yang akan segera tiba. Aroma rempah-rempah memenuhi udara, bercampur dengan wewangian bunga segar yang diletakkan di setiap sudut ruangan. Elian masih duduk di tepi ranjangnya, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang melayang jauh. Meskipun ia berusaha untuk tetap tenang, ada kegelisahan yang terus menggerogoti hatinya. Sore itu, langit di atas kediaman Silvercrest terlihat sedikit muram, dengan warna oranye keemasan yang mulai meredup menjelang malam. Angin yang berhembus pelan seolah membawa firasat buruk. Elian memandang jendela kamarnya, menatap luar dengan pandangan yang kosong. Sebuah perasaan tidak enak menggelayuti hatinya. Sesuatu yang tak terduga akan segera datang. Ethan masuk dengan langkah hati-hati, membawa setelan pakaian formal berwarna hitam dengan s

    Last Updated : 2025-01-05
  • Sisa Takdir   BAB 34 BAYANGAN DI BALIK SENYUMAN

    Suasana di ruang makan Silvercrest masih dipenuhi ketegangan samar. Percakapan di antara keluarga berjalan dengan hati-hati, seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Azrael, dengan senyum yang nyaris tidak pernah pudar dari wajahnya, mengetuk pelan gelas anggurnya, menarik perhatian semua orang. "Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, aku ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian," ucap Azrael dengan nada tenang namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan. "Caine, masuklah." Pintu besar ruang makan terbuka perlahan, dan seorang pria bertudung melangkah masuk. Langkahnya tenang, namun ada aura gelap yang mengikutinya, membuat suasana ruangan mendadak lebih berat. Caine mengenakan jubah gelap yang memanjang hingga menyentuh lantai, dengan tudung yang menutupi sebagian besar wajahnya. Ia berhenti di ujung meja, di sisi Azrael, dan dengan gerakan perlahan, ia melepas tudungnya. Wajahnya akhirnya terlihat di bawah cahaya lilin yang berkelap-kelip.

    Last Updated : 2025-01-06
  • Sisa Takdir   BAB 35 JANJI DALAM BAYANGAN MALAM

    Kamar Elian dipenuhi cahaya temaram dari lilin-lilin kecil yang berjejer di meja dekat jendela. Tirai berwarna kelabu tua bergoyang lembut, membiarkan angin malam yang dingin menyelinap masuk. Aroma kayu manis samar-samar tercium di udara, menambah kesan hangat namun penuh ketegasan di ruangan itu. Pintu kamar berderit pelan, membuka jalan bagi sosok bertudung hitam yang melangkah tanpa suara. Caine berdiri di ambang pintu, menatap tajam menangkap bayangan Elian yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya. Cahaya lilin memantulkan kilauan merah di mata Elian, memberikan kesan seperti bara api yang bersembunyi di balik ketenangan. "Kau datang," ucap Elian dengan suara lembut, namun penuh kepastian. Caine melepas tudungnya, memperlihatkan wajah yang tegas dengan luka samar di pipinya. Matanya yang kelam memancarkan kehati-hatian. "Aku tidak pernah berjanji untuk datang," jawab Caine, suaranya dalam dan sedikit serak. Namun, langkahnya maju mendeka

    Last Updated : 2025-01-07
  • Sisa Takdir   BAB 36 KETIKA JALAN TERBELAH

    Caine berjalan keluar dari kamar Elian, membawa nampan berisi puding mangga yang diberikan Elian untuknya. Setiap langkahnya terasa berat, seperti ada beban yang mengikat kakinya. Di luar, Bintang bertebaran menghias langit malam, tetapi pikirannya jauh lebih kelam. Meskipun Elian terlihat tenang, Caine tahu bahwa situasi ini jauh dari kata selesai. Ada sesuatu yang tak beres, dan dia harus bersikap baik di depan Azrael, menunjukkan bahwa ia masih loyal, meskipun hatinya kini mulai goyah. Namun, saat langkahnya semakin menjauh dari kamar Elian, Caine teringat kembali masa-masa sulit yang membawanya ke titik ini. Keluarganya terjerat hutang, dan kehidupan mereka hampir hancur karena kegagalan bisnis yang tak terhindarkan. Ayahnya, berusaha keras untuk melunasi hutang-hutang tersebut, tetapi semuanya sia-sia. Dalam keputusasaannya, Azrael datang menawarkan jalan keluar, tapi dengan harga yang sangat mahal. "Jika kau ingin keluargamu selamat, kau harus bekerja untuk

    Last Updated : 2025-01-08
  • Sisa Takdir   BAB 37 HADIAH DARI AZRAEL

    Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela besar di kamar Elian, memantulkan rona keemasan di lantai marmer yang dingin. Udara terasa segar, namun suasana di dalam kamar terasa sunyi dan dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Ethan dengan hati-hati mengganti perban di punggung Elian, tangannya bergerak terampil meski ada semburat kekhawatiran di matanya. "Apakah masih terasa sakit, Tuan Muda?" tanya Ethan dengan suara lembutnya. Elian, yang duduk membelakangi Ethan, menggeleng pelan. Rambut hitamnya yang jatuh sedikit menutupi wajah pucatnya. "Aku baik-baik saja, Ethan." jawabnya singkat, meskipun ekspresinya jelas mencerminkan rasa sakit. Ethan menyelesaikan tugasnya dengan sigap, merapikan perban dan memastikan semuanya terpasang sempurna. Namun, ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Tok... tok... tok... "Masuk," ujar Elian tanpa menoleh. Pintu kamar t

    Last Updated : 2025-01-09
  • Sisa Takdir   BAB 38 UNDANGAN TERSIRAT

    Pintu kamar Elian tertutup pelan di belakang Azrael dan Caine. Langkah kaki mereka menggema pelan di sepanjang koridor panjang yang dingin. Azrael berjalan santai dengan tangan di belakang punggungnya, sementara Caine mengikuti setengah langkah di belakang, menjaga jarak yang sopan namun tidak terlalu dekat. Suasana di antara mereka terasa sunyi, namun ketegangan samar menggantung di udara. Setelah beberapa saat berjalan tanpa suara, Azrael akhirnya berbicara, memecah keheningan. "Bagaimana menurutmu Elian?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya lembut, hampir kasual, tetapi dengan nada yang menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan. Ia tidak menoleh, hanya terus memandang lurus ke depan. Caine melirik sekilas ke arah Azrael sebelum menjawab hati-hati, "Saya belum bisa memberi tanggapan, Tuan." Azrael meliriknya dengan sudut matanya, seulas senyum samar menghiasi wajahnya. "Hmm... Aku rasa dia sedikit berubah. Dia menjadi lebih... sulit dipahami." Cai

    Last Updated : 2025-01-10
  • Sisa Takdir   BAB 39 SENYUM DIBALIK BAYANGAN

    Ruangan kerja Lucien memancarkan kehangatan yang kontras dengan langit kelabu di luar jendela besar. Meja kayu besar di depannya dipenuhi dokumen dan beberapa buku yang tertata rapi. Dinding ruangan dihiasi lukisan keluarga Silvercrest, memberikan sentuhan elegan namun penuh kehangatan. Lucien duduk di balik meja kerjanya dengan postur yang santai, tetapi tatapan matanya tetap memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. Ia tengah memeriksa dokumen penting ketika suara ketukan lembut di pintu mengalihkan perhatiannya. Tok… Tok… Tok… “Masuk,” ucap Lucien, menutup dokumen di tangannya. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Azrael yang melangkah masuk dengan tenang. Senyum tipis tersungging di bibirnya, menciptakan kesan ramah meski sorot matanya sulit diterjemahkan. Ia membawa aura misterius yang selalu menyertainya, sesuatu yang membuat orang lain merasa ingin tahu namun waspada. Mata Lucien mengamati adiknya sesaat lebih lam, mencari tanda-tanda di bal

    Last Updated : 2025-01-11

Latest chapter

  • Sisa Takdir   BAB 80

    Tiga hari telah berlalu, namun tak ada tanda-tanda Caelum menemui keluarga Silvercrest. Entah dia masih bingung atau ada halangan lain yang menghambatnya. Elian duduk di taman rumahnya, menyeruput teh hangat dengan tenang. Mata merahnya menatap kosong ke arah langit yang cerah, sementara angin sepoi-sepoi menerpa rambut hitamnya. "Caine, apakah ada pergerakan dari Azrael yang kau ketahui?" tanya Elian tanpa menoleh. Caine, yang berdiri tak jauh darinya, melangkah mendekat lalu mengecilkan suaranya, "Saat ini tidak ada, Tuan. Saya dengar dia selalu berada di ruang kerjanya, mengurus wilayahnya. Tidak ada kabar tentang tindakan mencurigakan yang dilakukannya." Elian meletakkan cangkirnya dengan anggun di atas meja kecil di sampingnya. "Benarkah? Apakah kau masih menemuinya?" Caine menegakkan badannya. "Tidak, saya hanya selalu mengirim surat untuk melaporkan tentang Anda." Elian tersenyum kecil, namun tak ada keceriaan dalam senyum itu

  • Sisa Takdir   BAB 79

    Caelum menghela napas frustrasi di dalam kamarnya. Tangannya mengepal di atas meja, jemarinya sedikit bergetar menahan emosi yang membuncah di dadanya. Rahangnya mengatup rapat, seakan menahan sesuatu yang ingin ia teriakkan. Matanya menatap tajam ke arah Gavier yang masih berdiri di dekat pintu, menjaga dirinya dengan penuh kewaspadaan. Sekalipun ruangan itu luas, ia merasa seolah terkurung dalam tekanan yang semakin menghimpit. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara detak jam yang seakan mempermainkan pikirannya yang kalut. "Apa aku membuat kesalahan?" tanyanya akhirnya, suaranya bergetar tipis, seolah tak yakin pada dirinya sendiri. Rahangnya mengatup, dan dadanya naik turun dalam ritme napas yang berat. Ada kepanikan yang berusaha ia tekan, tetapi semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas rasa frustrasi itu terasa. Gavier, yang sedari tadi memperhatikan sikap Caelum, menghela napas panjang sebelum akhirnya mengambil sikap yang lebih santai.

  • Sisa Takdir   BAB 78

    Setelah keributan yang terjadi di aula utama, Caelum mengajak mereka untuk berdiskusi di kamar pribadinya. Udara malam yang dingin menyelinap melalui celah jendela yang terbuka, membawa serta keheningan yang mencekam setelah insiden yang baru saja terjadi. Sisa aroma darah samar masih terasa, bercampur dengan hawa lembap yang menyusup hingga ke tulang. Di luar, suara burung malam sesekali terdengar, tetapi di dalam ruangan ini, tidak ada yang berbicara lebih dulu. "Silakan duduk di mana pun kalian merasa nyaman," ujar Caelum santai. "Mari kita lupakan status kita sejenak." Tanpa ragu, ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di tengah ruangan. Gerakannya tampak santai, namun sorot matanya tajam, memperlihatkan bahwa pikirannya tengah bekerja. "Apa kau merekamnya, Gavier?" tanyanya, melirik ajudannya yang berdiri di dekat pintu. Gavier mengangguk, mendekat, dan menyerahkan sebuah bola perekam kepada Caelum. Sang pangeran menerimanya d

  • Sisa Takdir   BAB 77

    Rotherham menatap terkejut, matanya tertuju pada tangan Caelum yang tampak normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, keterkejutan itu segera tergantikan oleh seringai licik yang perlahan muncul di wajahnya. "Menarik," gumamnya, sorot matanya penuh arti. Bibirnya melengkung membentuk seringai tipis, tetapi di baliknya ada jejak ketegangan halus seperti binatang yang sadar dirinya sedang diawasi oleh pemangsa lain. Rotherham melangkah mendekat, seolah ingin memastikan sesuatu, tetapi Caelum tidak bergerak mundur sedikit pun. Tatapan mereka bertemu, dan dalam keheningan itu, ada ketegangan yang tak kasat mata, seperti dua binatang buas yang saling menilai lawan. Caelum menurunkan tangannya, ekspresinya tetap dingin, tetapi matanya berkilat tajam. Ia tidak suka permainan ini, tetapi jika Rotherham ingin bermain, maka ia akan memastikan permainan itu berakhir dengan kekalahan lawannya. "Mari kita lihat sampai kapan Anda bisa menyembunyikannya, P

  • Sisa Takdir   BAB 76

    Ruang pesta yang sebelumnya dipenuhi oleh kemewahan kini telah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Permadani merah tua yang biasanya membentang dengan megah di lantai kini terkoyak, seperti luka menganga di tubuh yang tak bisa dijahit kembali. Noda anggur yang mengering menciptakan semburat gelap, bercampur dengan pecahan kaca dari gelas-gelas kristal yang terlempar dalam kekacauan. Bau alkohol menyengat, bercampur dengan aroma darah samar yang entah berasal dari siapa. Meja-meja besar yang seharusnya dipenuhi dengan hidangan lezat kini berserakan, beberapa terbalik dengan makanan yang berceceran, menciptakan aroma yang bercampur antara harum daging panggang dan bau anyir dari sesuatu yang tidak seharusnya ada di perjamuan kerajaan. Lilin-lilin yang seharusnya menerangi ruangan dengan cahaya temaram, kini bergoyang-goyang, beberapa di antaranya telah padam akibat hantaman atau angin yang masuk dari jendela yang pecah. Tirai sutra yang tergantung di pilar

  • Sisa Takdir   BAB 75

    Gavier melompat ke samping, menghindari cakar tajam monster itu yang menghantam lantai hingga retak. Serangan makhluk itu brutal dan tak terduga, setiap gerakannya dipenuhi dengan kekuatan liar yang mengerikan. Dengan kecepatan luar biasa, ia kembali menerjang, tetapi Gavier sudah lebih dulu bergerak, menghindar ke belakang sembari menebaskan pedangnya ke sisi tubuh makhluk itu. Namun, seperti sebelumnya, luka yang ia buat segera menutup. Monster itu hanya menggeram marah dan berbalik dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan makhluk sebesar itu. "Tidak ada gunanya menyerang secara biasa!" seru Gavier sambil melompat mundur. Ronan mengangguk, tangannya menggenggam pedang erat-erat. Cahaya merah semakin terang di bilah pedangnya, energi sihir mengalir dengan intensitas yang terus meningkat. Api mulai merambat dari gagang ke ujung bilahnya, berkobar dengan ganas, seolah merespons niat membunuh yang mulai tumbuh dalam dirinya

  • Sisa Takdir   BAB 74

    Gavier dengan sigap meraih pedang Caelum yang terselip di sarungnya, lalu melemparkannya ke arah sang pangeran. Caelum menangkapnya dengan mudah, menggenggam gagang pedang dengan mantap, seolah sudah siap menghadapi apa pun yang akan datang. Di sisi lain, Ronan mengamati seorang prajurit yang tergeletak dengan luka di bahunya. Ia menunduk, meraih pedang prajurit itu, lalu berdiri tegak. Napasnya sedikit berat, tetapi sorot matanya tajam, penuh kewaspadaan. "Kau jangan jauh-jauh dariku," ujar Ronan kepada Elian. Suaranya tegas, tak terbantahkan. Elian hanya bisa mengangguk. Ia tahu betapa serius situasinya. Namun sebelum ada yang sempat bergerak lebih jauh, seorang pelayan tiba-tiba masuk ke ruangan dengan langkah tergesa. Tangannya gemetar saat mengacungkan belati di udara. Mata Elian membelalak. Itu pelayan yang ia lihat sebelumnya! Yang membawa belati di antara kerumunan. "Ma… maafkan saya…" suara pelayan itu terdengar bergetar, pe

  • Sisa Takdir   BAB 73

    Elian masih berada di dekat Caelum, memperhatikan setiap gerak-geriknya. Perlahan, Gavier mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Caelum. Senyum menyeringai muncul di wajahnya, seolah menyimpan sesuatu yang hanya ia dan Gavier ketahui. Caelum mendekatkan wajahnya ke arah Elian, menatapnya dengan intens. Matanya yang tajam seolah menyelami pikirannya, mencoba membaca ekspresi Elian yang tetap tenang di permukaan. "Nampaknya pesta akan segera dimulai, Tuan Elian. Saya harap Anda berkenan tetap berada di sisi saya," ucapnya dengan senyum yang sulit diartikan. Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sesuatu yang ganjil di sana. Bukan sekadar undangan biasa, melainkan peringatan terselubung. Elian merasakan bulu kuduknya meremang. Elian menoleh, hendak bertanya maksud perkataan itu, tetapi ekspresi marah di wajah Caelum membuatnya terkejut. Sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan melihat Pangeran Kedua yang juga tengah menyeringai menata

  • Sisa Takdir   BAB 72

    Elian menukar gelas anggurnya dengan jus jeruk, mengangkatnya perlahan sebelum meneguknya. Rasa asam manis menyegarkan tenggorokannya, berbeda dengan rasa anggur yang sering kali membuat kepalanya sedikit pening. Ia melangkah menjauh dari Ronan dan Damien yang masih sibuk bercakap-cakap dengan para bangsawan lain. Pembicaraan mereka terdengar penuh pujian di permukaan, namun Elian tahu betul bahwa di balik senyuman itu, masing-masing dari mereka menyimpan pisau tajam yang siap ditusukkan ke punggung satu sama lain. Ia berjalan ke meja hidangan, mengambil sepotong kue dan menggigitnya perlahan. Matanya menyapu ruangan dengan penuh kehati-hatian, mengamati setiap orang yang hadir. Pesta ini adalah tempat yang tepat bagi para bangsawan untuk mempertontonkan kepalsuan mereka, mempererat aliansi sementara, dan menyusun strategi baru untuk menjatuhkan lawan. Elian mengganti gelas kosongnya dengan gelas jus jeruk yang baru sebelum melangkah ke arah balkon. Angin malam yang berhem

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status