LOGINAttending an academy for supernaturals has always been Syanna's biggest dream. And finding the mysterious bad boy who haunted her dreams for two years was even more heart-wrenching. But when she learns that Cole can torch an entire city to the ground, and she uncovers the danger that her own blood comes with, will she be able to handle Cole's sudden but deadly urge to protect her? Or will her fears and mistrust burn them both? To fall in love with a supernatural was crazy. But to fall for the devil was much worse.
View More“Lho kok gaji saya cuma segini, Pak?” tanya seorang lelaki muda di ruangan atasannya.
“Kerja aja nggak becus, kalau mau gajimu utuh tagih semua klien-klien kamu! Klien pada nggak bayar kok minta gaji besar,”omel sang atasan.
“Tetapi saya mohon Pak, bulan ini jangan dipotong lagi. Saya akan kerja lebih keras lagi,” ujarnya.
“Kerja keras apa? diikutkan promosi jabatan malah hasilnya begitu, tender nggak pernah menang, proyekmu gagal. Beruntung kamu masih saya pertahankan, kalau tidak kasian karena kamu mau nikah, sudah saya pecat dari bulan kemarin,” lanjut pria tua dan gendut dengan kacamata yang tebal.
Skak Mat!!
“Saya janji Pak, saya akan berubah. Tetapi tolong-lah Pak, jangan potong gaji saya bulan ini.”
“Hei Ardhan, saya bisa kembalikan gaji kamu tetapi semua tunggakan klienmu harus beres dalam waktu dua hari.”
“Baik Pak, terima kasih banyak.”
Usai mengucapkan hal tersebut, ia pun berjalan keluar menuju ruangannya. Ketika pria bertubuh kurus itu akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Mas Ardhan, ini daftar klien yang harus ditagih dan pastikan semua tunggakan mereka beres secepatnya ya Mas. Atau gajimu bulan depan juga akan dipotong!!”
“Baik Bu, akan saya usahakan,” jawab Ardhan.
Ardhan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dalam ruangan kerjanya. Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, ia memilih klien yang akan didatangi hari ini. Ardhan akan lakukan semua hal agar gajinya bisa kembali utuh.
Setelah memilah dan memilih, ia menetapkan empat perusahaan karena etaknya yang berdekatan. Ardhan mempersiapkan semua berkas yang diperlukan kemudian keluar dari ruangannya dan bergerak menuju parkiran. Dengan motor bututnya lelaki itu siap menunaikan tugasnya.
Usai berjibaku di jalanan selama 45 menit akhirnya lelaki itu sampai di perusahaan yang pertama. Ardhan langsung menghadapa ke bagian resepsionis dan mengatakan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang hendak ia temui langsung mendatanginya.
“Selamat Pagi Pak, maaf saya men—“
“Kamu ini apa-apaan Pak Ardhan, saya tahu kewajiban saya apa. Tidak perlu kamu datang dan menagih ke kantor seperti ini!” ujar lelaki berkacamata tebal itu, ia tampak marah dengan kedatangan Ardhan.
“Saya datang ke mari dengan maksud yang baik, asal bapak tahu ya tagihan bapak ini sudah lewat—“
“Saya tahu dan saya tidak mangkir, perusahaan kami akan bayar tagihannya. Tetapi tidak perlu datang ke sini, memalukan saja!!” potong lelaki itu, ia semakin marah. Keributan antara dua orang itu membuat pihak keamanan perusahaan tersebut mendekati mereka.
“Ya kalau tidak mau malu, bayar tagihannya Pak! Saya yang kena getahnya!” jawab Ardhan tak kalah garang, emosinya sudah meluap.
“Usir dia Pak! Datang ke mari dengan tidak sopan,” titah lelaki itu kepada dua security tersebut. Kedua pria berbadan tegap itu seketika membawa Ardhan keluar dari ruang lobby perusahaan. Mereka mendorong Ardhan hingga terjatuh di lantai yang keras.
“Pergi kamu!! Jangan pernah datang ke perusahaan ini lagi!!”
Ardhan yang kesal dan merasa malu segera angkat kaki dari perusahaan itu, ia berjalan menuju motornya dan langsung pergi begitu saja. Hal pahit yang didapatkan Ardhan tadi tak membuatnya patah semangat, dirinya sudah bertekad akan menyelesaikan semua tunggakan klien-nya. Dan kini Ardhan bergerak menuju perusahaan yang kedua.
Berbeda dengan perusahaan sebelumnya, di tempat kedua kali ini Ardhan tak bertemu dengan pihak keuangan melainkan hanya bagian frontliner-nya saja. “Mohon maaf sekali Pak Ardhan, perusahaan kami belum bisa membayar sekarang tetapi kami akan melunasi tagihannya sesegera mungkin,” jelas pegawai wanita tersebut.
“Kira-kira berapa lama ya mbak? Saya perlu kepastian waktunya untuk laporan ke atasan saya. Tanggal jatuh temponya sudah terlewat jauh,” desak Ardhan.
“Kami belum bisa memastikan tanggal tepatnya, kami akan usahakan sesegera mungkin.”
“Begini saja mbak, katakan pada boss anda jika besok saya akan kembali ke sini lagi. Karena saya harus mendapatkan kejelasan tanggal pembayaran, terima kasih.”
Usai mengatakan hal tersebut kemudian Ardhan pergi dari perusahaan tersebut, ia bergerak cepat menuju perusahaan yang lainnya. Dua perusahaan yang didatanginya belum bisa membayar sedangkan hari sudah semakin siang membuat lelaki itu menjadi panik.
Ardhan bergegas menuju parkiran, menyalakan mesin motor bututnya dan bersiap ke perusahaan yang ketiga. Di tengah jalan motornya mendadak mati, Ardhan berdecak kesal. “Sial, pake mogok segala!” umpatnya sembari menepikan motor.
Ardhan mencoba memperbaiki motornya, ia memeriksa mesinnya berulang kali dengan teliti namun tak juga bisa menyala. Ardhan yang kesal mencoba beristirahat sebentar untuk meredam emosinya dan kekalutan dalam dirinya.
Ketika dirinya duduk di bahu jalan, netra coklatnya tak sengaja melihat seorang kakek renta sedang mengorek bak sampah. Kakek itu seperti hendak mencari makanan sisa, Ardhan yang teringat akan sosok kakeknya merasa iba. Ia lantas menghampiri pria tua tersebut.
“Permisi Kek, Kakek lagi cari apa di kotak itu?”
“Saya lapar Nak, dari kemarin belum makan,” jawab Kakek tersebut sembari menunduk.
Benar dugaan Ardhan, lelaki berpakaian formal itu berada dalam kebimbangan. Di satu sisi dirinya kasihan pada si Kakek, di sisi lainnya ia juga merasa lapar ditambah pula uangnya hanya tinggal sedikit.
“Saya ada sedikit rejeki buat Kakek, tolong diterima. Tidak usah mencari makanan di situ, beli saja di warung,” kata Ardhan seraya mengeluarkan uang receh dari saku celananya. Ternyata rasa ibanya lebih besar dibanding rasa laparnya.
“Terima kasih ya Nak, akhirnya saya bisa makan,” ujar Kakek tersebut tersenyum. Ardhan ikut senang melihat Kakek itu senang. “Saya tidak bisa membalas kebaikanmu tetapi saya punya sesuatu untukmu.”
Pria tua berbaju lusuh itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. Sebuah kacamata putih diberikan oleh Kakek itu kepada Ardhan. “Tidak usah Kakek, saya tidak memerlukan kacamata ini,” tolak Ardhan.
“Terima saja, hanya ini yang saya punya. Mudah-mudah bisa membantu pekerjaan kamu ya,” ujar lelaki itu memaksa Ardhan untuk menerimanya. Akhirnya Ardhan menerima benda pemberian lelaki tua itu walau dengan berat hati.
“Kacamata ini tampak jadul, sepertinya ini kacamata baca,” gumamnya, lelaki itu kembali ke tempatnya semula. Ardhan yang penasaran lalu mencoba memakai kacamata tersebut, ia bercermin di kaca spion. “Lumayan cocok untukku.”
Lelaki itu kemudian mencoba melihat ke arah jalanan. Detik berikutnya ia menjadi ketakutan sendiri hingga memundurkan langkahnya. Ardhan yang panik berusaha melepaskan kacamata misterius tersebut tetapi benda itu terus menempel, tidak bisa dilepaskan sekeras apapun ia mencobanya.
Apa yang dilakukan oleh Ardhan tentu saja menjadi pusat perhatian pengendara lain. Salah satu pengendara memberhentikan kendaraan dan bermaksud untuk membantu Ardhan. “Lho ini Mas Ardhan ya? Kenapa Mas?”
“Ah tidak apa-apa, Pak,” jawabnya.
“Beneran Mas Ardhan tidak apa-apa?” ulang lelaki itu dan Ardhan menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Kebetulan saya menunggu kedatangan Mas Ardhan lho. Bisa kita sekarang ke kantor saya?”
“Bapak menunggu kedatangan saya?”
It had been six hours since Genevieve was still not back yet. But Cole wasn’t worried about her. No matter how long she was away, he knew she could take care of herself. So there really was no reason for him to worry about her. He knew she didn’t walk there this time. She must’ve taken a portal or something, so she shouldn’t have taken to long to return. But Cole tried not to let it bother him so much. He had to stay calm. Yet, he couldn’t help his nerved. Because if something happened to Genevieve, then that meant he might never get Syanna back. And, hell, the thought was scary. It that didn’t stop the feeling he had in his stomach every passing second. It was almost the same like what he felt the first time he realised that something bad would happen to Syanna, and to think that something else might happen when Genevieve wasn’t here made his stomach ache. There was no way he would’ve known what to do if something were to indeed happen. And if anything happened to Isaac or Sya
Cole was relieved Genevieve was back from the academy, although she won't talk about the demon attack on her last night. He tried to pry it out of her, but she remained tight-lipped. Cole couldn't blame her, though. His own experience with demons had taught him that sometimes, speaking about them could lead to even more trouble.While Genevieve locked herself away in her room, Cole headed out to find the demon that attacked her. He was determined to put an end to it before it harmed anyone else.As he roamed the streets, he kept his senses sharp. He could feel the demon's presence nearby, but it was elusive, flitting from shadow to shadow, never staying in one place for too long. It was like chasing a ghost.Finally, after hours of fruitless searching, Cole saw the demon. It was a hulking beast, towering over him, with skin as black as night and eyes that glowed like embers. Its wings were torn and ragged, and its claws glinted in the moonlight.Cole didn't hesitate. He drew his sword
It had been six hours since Genevieve was still not back yet. But Cole wasn’t worried about her. No matter how long she was away, he knew she could take care of herself. So there really was no reason for him to worry about her. He knew she didn’t walk there this time. She must’ve taken a portal or something, so she shouldn’t have taken to long to return. But Cole tried not to let it bother him so much. He had to stay calm. Yet, he couldn’t help his nerved. Because if something happened to Genevieve, then that meant he might never get Syanna back. And, hell, the thought was scary. It that didn’t stop the feeling he had in his stomach every passing second. It was almost the same like what he felt the first time he realised that something bad would happen to Syanna, and to think that something else might happen when Genevieve wasn’t here made his stomach ache. There was no way he would’ve known what to do if something were to indeed happen. And if anything happened to Isaac or Syannna
Two hours had passed since Genevieve left, and Cole was begging to get antsy. He knew she didn’t walk there this time. She must’ve taken a portal or something, so she shouldn’t have taken to long to return. But Cole tried not to let it bother him so much. He had to stay calm. Yet, he couldn’t help his nerved. Because if something happened to Genevieve, then that meant he might never get Syanna back. And, hell, the thought was scary. He moved from his seat to the chair next to Syanna’s side of the bed, where he held her hand. He knew that her body was practically lifeless, and the real Syanna was inside of Isaac, but he couldn’t sit in front of Isaac and talk to her. It would just seem too weird. “Hey,” he whispered, caressing her cheek with his thumb. “I miss you, Syanna. But I’ll get you back, okay?” He kissed her forehead, and if he didn’t know better, he would’ve thought he saw Isaac’s lips twitch. Cole had to give it to the guy, he was a real friend. He didn’t think he wou






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews