Hanya saja, Roy berusaha tenang.
Dia tak ingin menambah permasalahan baru lagi jika hari pertama kerjanya itu dilalukannya dengan setengah hati akibat terlalu memikirkan pandangan negatif rekan sesama OB nya dan juga para karyawan di kantor perusahaan itu kepadanya.
Sampai jam kerja usai, Roy tetap melakukan pekerjaannya sesuai yang diarahkan seniornya.
Namun saat hampir seluruh OB meninggalkan ruangan itu, salah satu karyawan tiba-tiba memanggilnya, “Roy, sini sebentar!”
Pemuda tampan itu pun bergegas menghampirinya. “Ada yang perlu saya bantu Pak?”
“Nggak ada, aku hanya ingin ngobrol sama kamu aja. Boleh kan?”
“Oh tentu saja Pak.”
“Silahkan duduk!”
Roy pun duduk di kursi di depan meja berhadap-hadapan dengan salah seorang karyawan itu.
“Hari ini, hari pertama kamu kerja di sini sebagai OB kan?”
“Benar Pak Yudi.”
“Kalau boleh tahu, ada hubungan apa kamu dengan Bu Cindy?” Karyawan yang ternyata bernama Yudi itu bertanya kembali.
Kali ini, Roy tak langsung menjawab perasaannya kembali tidak enak akan pertanyaan yang dilontarkan itu.
Bukan dari segi pertanyaan itu saja yang membuat Roy tak nyaman, melainkan juga raut wajah sinis yang diperlihatkan Yudi jelas sekali menunjukan ketidaksukaan padanya.
Apa ini masih gara-gara tadi siang ia memenuhi ajakan Cindy untuk makan siang bareng, ya?
Cukup lama Roy hanya terdiam dan bingung harus menjawab apa akan pertanyaan yang dilontarkan Yudi itu, hingga Yudi semakin menunjukan sikap tidak suka kepadanya.
“Saya dan Bu Cindy tidak ada hubungan apa-apa, Pak. Memangnya kenapa Pak?” Akhirnya Roy menjawab lalu balik bertanya.
“Hemmm, nggak ada apa-apa. Aku hanya iseng aja bertanya, ya udah kamu boleh lanjutin kerjaan jika masih ada yang akan dikerjakan.”
Yudi pun berdiri dari duduknya, kemudian berlalu dari ruangan itu.
Meskipun perasaan Roy semakin tak nyaman, akan tetapi dia berusaha untuk tetap tersenyum ramah.
Di hari pertama kerja di kantor perusahaan milik Cindy itu Roy yang tadinya sangat gembira dan bersemangat jadi berbalik 180 derajat gara-gara insiden makan siang.
Rasa tak nyaman itu membuatnya tak tenang.
Di salah satu ruangan kantor yang dijadikan kamar tempat tinggalnya, sebungkus nasi yang tadi ia beli di luar tak jauh dari bangunan kantor, bahkan tak tersentuh!
“Ternyata nggak ada pekerjaan yang menyenangkan, semuanya mengandung resiko dan selalu aja ada masalah. Tahu begini mending aku jadi pemulung aja dan tinggal di bawah jembatan menjadi gembel, meskipun tinggal di tempat kumuh dan mencari makan dengan mengumpulkan barang-barang bekas akan tetapi lebih nyaman rasanya.” gumam Roy tanpa sadar.
Dia menyesali pekerjaan yang sekarang menjadi OB di kantor perusahaan Cindy.
Malam pun kian larut.
Karena perut terasa perih akibat menunda-nunda makan, akhirnya Roy berusaha untuk mengisi perutnya meskipun tak sampai separuh dari nasi bungkus itu yang ia makan.
Akibat tidur terlalu larut Roy bangun kesiangan, itu pun karena salah seorang rekannya sesama OB bernama Diko membangunkan dengan mengetuk-ngetuk pintu ruangan yang dijadikan kamarnya itu.
Roy pun buru-buru mandi dan memakai pakaian kerjanya sebagai OB, kemudian membuka pintu dan menemui Diko yang masih berdiri di luar menunggu.
“Makasih ya, Diko. Kalau nggak kamu bangunin, mungkin hari ini akan bangun lebih siang lagi dan pastinya akan dimarahi Bang Romi.”
“Sama-sama Roy, yuk kita apel. Nanti Bang Romi marah ke kita karena telat cukup lama,” ajak Diko.
Roy pun mengangguk lalu beriringan dengan rekannya itu menuju sebuah ruangan di lantai dua di mana di sana setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai selalu diadakan apel sesama OB di kantor itu.
“Selamat pagi Bang, maaf kami telat,” ucap Diko pada pria yang saat itu berdiri di depan beberapa orang rekan sesama OB yang berbaris sejajar.
“Hampir 10 menit kalian telat, memangnya kalian dari mana?” tanya pria yang diduga sebagai ketua dari para OB di kantor itu.
“Ini gara-gara saya yang bangun kesiangan Bang, Diko membangunkan dan menunggu saya di depan kamar hingga dia ikut-ikutan telat apel pagi ini,” ujar Roy.
“Kesiangan? Baru hari kedua kamu kerja di kantor ini udah telat untuk apel.”
“Maafkan saya Bang Romi, saya janji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Ya udah, sana berbaris gabung dengan yang lainnya.”
Romi yang ternyata sosok yang paling senior dan dipercaya sebagai ketua dari para OB di kantor perusahaan itu tampak memerintah.
Seperti hari sebelumnya, para OB kembali mendapatkan arahan-arahan sebelum melakukan pekerjaan, salah satunya menjaga kedisplinan dalam bekerja.
Sebagai OB, mereka dituntut datang dan bekerja tepat waktu, terlebih di kantor perusahaan milik Cindy yang memang terbilang salah satu perusahaan besar di kota itu.
Beruntung bagi Roy hari itu dia hanya mendapat teguran saja dari Romi.
Dan dari sekian rekan OB nya hanya Diko saja yang tak mempermasalahkan kejadian kemarin siang saat Roy memenuhi ajakan Cindy untuk makan siang di luar.
Pada saat jam istirahat siang, Roy mengajak Diko untuk makan siang bareng di rumah makan yang terletak tidak jauh dari kantor itu.
“Makan siang ini aku yang traktir ya, Diko?” ujar Roy.
“Nggak usah, kamu kan baru masuk kerja jadi biar aku aja yang bayar nanti,” tolak Diko.
“Nggak Diko, kalau hanya untuk bayar makan siang hari ini aku bisa kok. Anggap aja sebagai tanda terima kasihku, kamu udah susah payah ngebangunin aku tadi pagi.”
Roy bersikukuh.
Sebelum mulai bekerja sebagai OB di kantor itu, Cindy memang memberinya biaya harian meski dirinya sudah menolak.
Makanya, Roy berani mentraktir Diko makan siang bareng walau belum gajian.
Di samping sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan rekannya itu, Roy pun menganggap jika Diko memang berbeda dari rekan-rekan sesama OB lainnya.
“Oh ya, kamu juga tahu kan kalau kemarin siang aku diajak Bu Cindy makan siang di luar?” sambung Roy.
“Hemmm, ya. Gimana, seru diajak makan siang sama Bu Cindy?” Diko tersenyum lalu balik bertanya.
"Itu..."
“Sebenarnya, biasa aja, malahan lebih asyik makan di rumah makan sederhana seperti ini,” jawab Roy tak ada sedikitpun menunjukan rasa gembiranya akan ditraktir Cindy kemarin siang, justru batinnya merasa tak nyaman karenanya.Diko merasa heran akan sikap Roy yang sama sekali tak merasa surprise sedikitpun diajak oleh CEO perusahaan tempat mereka bekerja itu. “Masa sih? Bukannya Bu Cindy kalau makan siang selalu di restoran mewah?” “Emang Bu Cindy siang kemarin itu ngajakku ke restoran mewah, tapi jujur aja di samping kurang nyaman makan di sana aku juga merasa karenanya orang-orang di kantor mempermasalahkannya.” “Mempersalahkan gimana?” tanya Diko penasaran. Sepertinya, dia tak tahu atau memang tak mau tahu akan para rekan sesama OB mengunjingin Roy. “Ada yang bertanya ada hubungan apa antara aku dan Bu Cindy hingga aku sampai diajak makan siang di luar, padahal aku baru aja masuk kerja.” Roy menarik napasnya dalam-dalam mengingat kejadian kemarin. “Loh, emangnya kenapa ka
“Oke, ayo naik ke mobil nanti kita bicara di suatu tempat.” Tak butuh waktu lama, Roy pun naik mobil mewah milik Cindy.Keduanya lalu menuju salah satu cafe yang bukan hanya menyediakan berbagai macam minuman, tapi juga tersedia berbagai makanan.“Kamu mau pesan apa, Roy?” tanya Cindy saat mereka telah berada di dalam cafe itu.“Terserah Tante aja, tapi cukup minuman aja karena aku masih kenyang tadi siang makan bareng Diko.” “Oke.”Cindy lalu memanggil pelayan cafe itu untuk menyediakan dua jenis minuman segar.“Nah, kamu bisa ngomong di sini perihal sesuatu yang ingin kamu sampaikan tadi,” sambung Cindy ketika pelayan cafe telah berlalu dari meja mereka menyiapkan minuman yang mereka pesan.“Begini Tante, tapi sebelumnya aku harap Tante Cindy nggak marah,” pinta Roy yang tiba-tiba saja ia kembali merasa ragu dan kuatir akan hal yang hendak ia sampaikan pada Cindy.“Nggak, aku janji nggak akan marah. Ayo, bicaralah!”Roy menarik napasnya dalam-dalam sebelum berkata, “Begini Tante,
“Aku dengar baru hari pertama kamu kerja di sini udah diajak Bu Cindy makan siang bareng di luar dan itu tentunya amat menyenangkan sekali. Selama ini kami yang udah kerja belasan tahun di sini belum pernah ada yang sampai diajak Bu Cindy makan siang bareng di luar selain tamu dan rekan bisnisnya, kalau boleh tahu ada hubungan apa antara kamu dengan Bu Cindy sampai-sampai Bu Cindy di hari pertama kerjamu di sini udah diajak makan siang di luar?” Kembali Riki bertanya. Selain rasa penasaran Riki juga merasa tidak habis pikir akan Roy yang notabenenya hanya seorang OB baru di kantor itu diperlakukan spesial oleh atasannya. “Aku keponakannya Bu Cindy.” “Hah?! Masa sih?” Riki terkejut dan tak percaya, sementara Roy memastikan kembali jawabannya dengan menganggukan kepalanya sembari tersenyum ramah. “Oh, pantas aja kamu diperlakukan spesial secara kamu keponakan Bu Cindy,” sambung Riki, meskipun di hatinya masih tak percaya dan ragu akan jawaban yang diberikan Roy itu. “Ada yang per
“Kalau itu saya juga tidak tahu Bu, katanya salah seorang karyawan di dalam.” Satpam itu tampak tak enak juga. Terlebih kala menyadari, raut wajah Nyonya CEO itu tampak kesal.“Oh gitu, ya udah aku akan tunggu dia di dalam,” balas Cindy cepat. Di sisi lain, tak seorang karyawan di lantai dasar itu yang mengetahui jika Cindy berada di luar ruangan mereka.Wanita itu bahkan sekarang duduk di sebuah kursi tepat di depan ruangan yang dijadikan tempat tinggal Roy.Cindy bahkan tampak geram. “Kurang ajar! Siapa karyawan yang menyuruh Roy untuk membeli pena dan memfoto copy ke luar? Bukankah di kantor peratan tulis udah tersedia begitu juga buat memfoto copy berkas-berkas.” Untungnya, tak berselang lama, Roy pun datang dan bermaksud mengantarkan pena dan hasil foto copy berkas ke dalam ruangan di mana salah seorang karyawan menyuruhnya untuk membeli pena sekaligus memfoto copy beberapa lembar berkas kerjaannya itu.“Roy..!” panggil Cindy cepat.“Eh, Bu Cindy?” “Dari mana kamu?” tanya Ci
“Kamu udah makan siang?” tanya Cindy. “Belum Tante.” jawab Roy, kembali Cindy geleng-geleng kepala. “Ya udah, sekarang naik ke mobil kita makan siang di luar!” Ajak Cindy, Roy menganggukan kepalanya lalu naik ke mobil mewah milik CEO perusahaan itu. Seperti makan siang bareng beberapa hari yang lalu, Cindy kembali mengajak Roy ngobrol sembari menikmati menu yang dipesan. “Kamu tahu nggak jika Dion dan teman-temannya tadi telah memperlakukan kamu tak sepantasnya?” tanya Cindy, Roy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lain kali jangan pernah kamu ulangi lagi, sampai-sampai kamu mengabaikan jam istirahat dan makan siang. Tadi kamu dengarkan? Aku udah memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi menyuruh kamu di luar ketentuan kerjamu sebagai OB di kantorku,” ujar Cindy. “Ya Tante, aku nggak akan bersedia lagi mereka suruh ke luar karena itu bukan tugas dan tanggung jawabku sebagai OB di kantor Tante.” ulas Roy. “Bagus, dengar ya Roy tugasmu sebagai OB di kantorku sesuai d
“Lantas bagaimana solusi yang tepat menurut Bu Cindy untuk Roy?” tanya Tari. “Aku mau menguliahkan dia agar nanti bisa aku tempati di posisi yang strategis di kantor ini, untuk sementara waktu dia aku jadikan pembantu pribadiku aja di sini. Jika dia tetap aku pekerjakan sebagai OB, bukan tidak mungkin tanpa sepengetauanku dia akan diperlakukan seenaknya lagi oleh para karyawan,” tutur Cindy. Tari terlihat mengangguk-anggukan kepalanya “Iya Bu, saya rasa itu solusi yang terbaik.” “Aku juga akan mencari kos-kosan buat dia yang lokasinya dekat dari kantor ini,” tambah Cindy. “Benar Bu, tinggal di kos-kosan atau rumah kontrakan akan lebih nyaman dibandingkan tinggal di salah satu ruangan kantor perusahaan ini yang tentunya terlalu tertutup dan bisa jadi sewaktu-waktu dia akan merasa pengap karena bersekat dengan dinding ruangan lainnya,” ujar Tari selaku sekretaris merangkap kepala personalia perusahaan Cindy. Jam istirahat siang kantor masih akan tiba 15 menit lagi, akan tetapi Cind
“Ada apa Tante? Kok Tante Cindy senyum-senyum sendiri?” tanya Roy membuat Cindy yang baru saja membantin jadi tersentak. “Nggak ada apa-apa Roy, barusan Pak Dimo bilang kalau kos-kosan kamu udah dapat dan letaknya nggak jauh dari kantor,” jawab Cindy. “Oh, aku kira ada apa? Ngapain sih Tante pakai repot-repot segala mencari kos-kosan, di salah satu ruangan yang aku tempati itu aku rasa udah cukup dan aku senang kok tinggal di sana,” ujar Roy. “Nggak, menurutku alangkah lebih baiknya kamu tinggal di luar. Seperti yang tadi aku katakan, kamu akan lebih merasa nyaman tinggal di kos-kosan karena jika di dalam ruangan kantor ruang gerakmu terbatas. Seperti orang tawanan aja, terlebih ketika malam datang kamu nggak akan bisa ke luar karena pagar gedung kantor di kunci oleh satpam penjaga di luar,” jelas Cindy. “Bisa kok Tante, buktinya aku bisa minta izin ke luar buat beli nasi bungkus dan rokok,” ujar Roy. “Iya, tapi kamu kan nggak bisa ke luar lama-lama karena pastinya satpam di sana
“Kamu harus tetap fokus dan rajin bekerja sesuai dengan pekerjaan yang aku percayakan padamu sekarang,” ulas Cindy.“Tentu Tante, aku janji akan bekerja sebaik mungkin dan berusaha untuk tidak mengecewakan Tante nantinya,” janji Roy.“Oh ya Roy, besok aku akan beliin kamu HP agar sewaktu-waktu dapat aku hubungi baik saat aku berada di luar kantor maupun saat kamu berada di kos-kosan ini,” ujar Cindy.“Nggak usah Tante, aku punya HP kok. Hanya saja HP ku itu ketinggalan di rumah majikanku sebelum aku jadi gembel di bawah jembatan, besok sepulang dari kantor aku jemput,” tutur Roy, Cindy terlihat kerutkan keningnya.“Majikan? Jadi sebelum kamu jadi gembel di bawah jembatan itu, kamu bekerja dengan seseorang?” tanya Cindy, Roy menganggukan kepalanya.Cindy sebenarnya ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai Roy yang sebelumnya memiliki majikan, akan tetapi karena ia musti pulang ke rumah maka ia urungkan.“Ya udah kalau begitu aku pamit pulang dulu, Roy. Soal kamu yang akan menjemput HP d
Di sebuah meja makan malam itu di Qatar, Pak Husein dan Bu Astrid bercakap-cakap sembari menikmati makan malam mereka.“Bagaimana cara kita menyampaikan perihal Viola yang menolak dijodohkan dengan Rehan pada kedua orang tuanya, Pi?” tanya Bu Astrid.“Itulah yang membuatku pusing karena mereka terlalu berharap perjodohan itu akan terlaksana,” jawab Pak Husein dengan raut wajah yang risau.“Tapi kita nggak boleh diam aja, apapun itu harus kita beri tahu mereka agar nanti masalahnya nggak semakin rumit,” Bu Astrid menyarankan.“Ya, aku cari waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada mereka.” ulas Pak Husein tak bersemangat.“Papa dan Mama sepertinya memang nggak ingin Viola berpisah dengan mereka makanya mereka ngotot membela penolakan Viola yang akan kita jodohkan dengan Rehan,” ujar Bu Astrid.“Aku sampai nggak kepikiran jika Papa dan Mama akan menyangkut pautkan dengan masa lalu kita hingga kita nggak berkutik dibuatnya, tapi aku tetap nggak akan setuju jika Viola memilih Roy untuk
“Ada yang perlu aku bantu Non Alice?” tanya Ardi saat bule cantik berambut pirang itu menghampirinya di ruangan manajer hotel itu.“Sepertinya Roy marah sama aku, beberapa kali aku telpon nggak diangkatnya,” jawab Alice.“Loh, emangnya ada masalah apa sampai Roy nggak mau mengangkat telpon dari Non?” tanya Ardi lagi.“Mungkin karena kejadian malam itu,” ulas Alice merasa ragu untuk menjelaskan lebih rinci.“Kejadian? Kejadian apa?” Ardi penasaran.“Malam itu aku ngajak Roy jalan dan pulang ke hotel ini lewat dari jam 11 malam, sebelum kembali ke sini kami singgah dulu di night club dan karena cukup banyak minum membuat kami setengah mabuk. Saat itulah setiba di kamar kami hampir saja berhubungan badan, Roy kemudian pergi dengan raut wajah kesal karena aku memang aku yang memancingnya untuk melakukan hubungan badan itu.” jelas Alice.“Wah, kok sampai kamu kepikiran untuk melakukan hubungan badan dengannya?” Ardi terkejut.“Aku juga nggak tahu kenapa setiap kali aku jalan dengan Roy, ak
“Husein...!” Opa yang sejak tadi hanya diam mendengar tiba-tiba membentak.Pak Husein seketika itu juga terkejut, ia tak menyangka jika Opa akan membentaknya setelah berbicara lantang pada Viola, ia hanya berani menatap Opa sejenak lalu alihkan pandangan pada Bu Astrid.“Apa kamu lupa dulu sewaktu kedua orang tuamu menjodohkan kamu dengan wanita di Qatar sana? Kamu juga menolak dan bersikeras untuk memilih Astrid jadi istrimu. Waktu itu Astrid baru saja menyelesaikan kuliahnya dan hanya bekerja membantuku mengelola sebuah hotel,” sambung Opa, Pak Husein dan Bu Astrid hanya diam.“Kedua orang tuamu nggak merestui hubungan kalian dan tetap bersikeras pula agar kamu menikah dengan wanita pilihan mereka yang memiliki beberapa perusahaan itu, mereka sempat pula meremehkan Astrid dan juga kami dan hal itu membuat aku sangat tersinggung hingga tak menyetujui pula Astrid menjalin hubungan denganmu. Namun kamu tetap bersikukuh untuk menyakinkan kedua orang tuamu itu termasuk kami dan akhirnya
“Iya Pi, besok kita udah harus kembali ke Qatar. Tapi apa nggak sebaiknya kita tunggu Viola pulang dari kantor agar pembicaraan kita nantinya lebih jelas arahnya dan kita juga bisa langsung mengetahui tanggapan dari Viola?” ujar Bu Astrid.“Ya kita tunggu Viola pulang dari kantor dulu baru kita bicara sama Papa dan Mama, menurut Mami apakah Viola nggak akan menolak jika kita jodohkan dengan Rehan?” ulas Pak Husein yang ternyata tak sepenuhnya yakin jika putrinya itu bersedia dijodohkan dengan Rehan.“Kita dengar saja nanti bagaimana tanggapan Viola ketika kita menyampaikan keinginan kita itu di hadapan Papa dan Mama,” ujar Bu Astrid.“Ini adalah kesempatan baik karena Hamid bilang Rehan sendiri yang berkeinginan untuk dijodohkan dengan Viola, dulunya dia nggak merespon saat Hamid mengusulkan perjodohan itu,” tutur Pak Husein.“Oh, jadi dulunya Papi dan Bang Hamid udah pernah bicara soal keinginan menjodohkan Viola dengan Rehan? Kok aku nggak dikasih tahu?” ujar Bu Astrid terkejut.“Iy
“Sebaiknya mulai saat ini aku nggak lagi menerima ajakan Alice, jangankan menemaninya jalan bertemu pun kalau bisa jangan sampai terjadi lagi.” gumam Roy yang membuat keputusan tidak akan jalan bahkan bertemu dengan bule cantik berambut pirang itu.Sementara siang itu setelah Viola dan kedua orang tuanya mengantar Rehan sekeluarga ke bandara untuk kembali ke Qatar lebih dulu, Viola yang tiba di rumah pamit pada Papi dan Maminya untuk ke kantor karena sudah dua hari ini ia tidak masuk demi menghormati Rehan dan kedua orang tuanya.“Loh, kan sekarang udah siang dan sebentar lagi waktunya istirahat kerja. Apa nggak sebaiknya besok pagi aja kamu ke kantornya?” ujar Bu Astrid.“Udah dua hari aku nggak masuk Mi, aku rasa di kantor udah banyak kerjaan yang menumpuk yang musti aku tangani.” Tutur Viola.“Oh ya udah kalau gitu, berangkatlah tapi hati-hati di jalan nggak usah terburu-buru!” ujar Bu Astrid, Viola menggangguk dan setelah mencium tangan kedua orang tuanya itu, Viola pun menuju ke
Makanya sampai saat ini sosok Viola sangat berarti dalam hidupnya, CEO muda berparas sangat cantik itu juga mampu menghadirkan rasa cinta di hatinya yang selama ini seakan mati rasa dan tak pernah percaya akan cinta dari seorang wanita.Dalam lamunannya itu juga hadir sosok Rehan yang saat ini tentu masih bersama kekasihnya itu, hal itu membuat ia tiba-tiba saja terlihat cemberut karena siapapun prianya pasti tidak akan rela jika ada pria lain yang saat ini sedang mendekati kekasihnya terlebih pria itu menjadi pilihan kedua orang tua kekasihnya untuk mereka jodohkan.“Roy, kamu kenapa diam aja?” tanya Alice membuat Roy tersentak dari lamunannya.“Oh, nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Roy.“Kalau kamu udah mulai bosan di sini, yuk kita jalan lagi!” ajak Alice.“Oke, yuk.” Ulas Roy yang tak ingin kembali mengingat masalah Rehan yang sekarang bersama Viola di rumah Opa.Beberapa menit berkeliling di seputar kawasan tempat wisata malam hari di Pulau Bali itu, Alice kembali mengajak Roy ke n
“Hemmm, mungkin itu karena kamu emang baru pertama kali ke sini makanya begitu.” ulas Roy.“Emang setiap orang yang baru pertama kali berkunjung ke sini akan merasakan hal yang sama ya, seperti hal aku merasa betah dan ingin di sini lebih lama lagi?” tanya Alice.“Ya nggak tahu sih, aku hanya nebak aja. Tapi emang kebanyakan dari para pengunjung yang baru datang ke sini akan merasa betah dan ingin kembali ke sini lagi,” jawab Roy.Setelah makan malam Roy dan Alice memang ke luar dari dalam restoran itu, akan tetapi Alice masih ingin menikmati panorama laut dari atas perbukitan itu, makanya mereka memutuskan untuk tetap berada di sana yang kali ini mereka duduk lebih dekat ke tebing bukit di mana di sana juga tersedia tempat duduk untuk bersantai.Alice benar-benar takjub akan pemandangan pantai di kala malam dilihat dari atas perbukitan itu, meskipun malam bukan berarti tak dapat memandang lepas ke tengah lautan, di sana banyak sekali terlihat pancaran lampu dari kapal kecil dan perah
“Ya, di Qatar memang tempat wisata yang disuguhkan kebanyakan merupakan bangunan-bangunan yang dibuat megah begitu pula pemandangan di sekitar kawasan itu. Sedangkan di sini meskipun bangunan perhotelan, cafe dan juga Vila dibangun cukup megah pula akan tetapi pemandangan alamnya benar-benar alami seperti tempat ini,” jelas Viola.“Kamu benar Viola, kawasan di sini memang sangat menyenangkan bagi para wisatawan dan hal itu juga tentunya yang menjadi faktor utama pendapatan dari perusahaan pariwisata yang kamu kelola sekarang kan?” ujar Rehan sembari menebak.“Ya, di Pulau Bali ini boleh dikatakan mata pencarian masyarakat di sini adalah jasa dan usaha yang berkaitan erat dengan pariwisata.” Tutur Viola.“Oh ya Viola apa benar penduduk di sini mayoritas beragama Hindhu?” tanya Rehan.“Benar, lebih dari 85% penduduk di sini beragama Hindhu. Yang beragama Islam lebih kurang 10% sisanya agama lainnya, meskipun begitu di sini dan di seluruh kawasan pulau di Indonesia toleransi antar umat
Setelah selesai makan siang bersama, dari restoran itu Viola dan rombongan kembali ke rumah Opa dan Oma nya. Setiba di rumah baik Rehan dan kedua orang tuanya maupun Pak Husein dan Bu Astrid langsung beristirahat di kamar masing-masing, sementara Viola sendiri yang juga pamit ke kamar memang merebahkan tubuhnya di ranjang akan tetapi ia tak tidur siang melainkan melakukan panggilan melalui ponsel ke nomor kontak Roy.“Hallo Viola,” sapa Roy mengangkat panggilan dari kekasihnya itu.“Mas lagi di mana?” tanya Viola.“Nih lagi di perjalanan kembali ke lapangan,” jawab Roy, yang memang saat itu di perjalanan menuju tempat kerjanya setelah mengantar Alice kembali ke hotelnya.“Loh, bukannya dari restoran tadi Mas menuju lapangan kok sekarang masih di jalan?” tanya Viola heran.“Hemmm, dari restoran tadi aku singgah di cafe dulu karena waktu istirahat siang masih lama,” jawab Roy diiringi senyumnya.“Oh gitu, maaf ya Mas atas kejadian tadi hingga Mas Roy musti terburu-buru makan siang dan p