"Ma, Papa nggak bolehin aku kuliah di Aussie," ujar Kanaya, membuka percakapan ketika dia, dan Arumi saat ini sedang melakukan perawatan kuku di sebuah salon."Mama udah nyangka. Papa kamu kadang emang jalan pikirannya susah ditebak." Arumi menjawab dengan enteng, sembari mengutak-atik ponsel dengan tangan kirinya. Kanaya pun terkekeh mendengar penuturan mamanya. "Iya 'kan, Nay? Dulu dia ngotot banget minta kamu kuliah di luar negeri. Setelah kamu pulang, dia nggak bolehin kamu pergi lagi. Aneh, 'kan? Emang geje itu Papa kamu."Kanaya mengulum senyum. Sebenarnya ada sebuah kebahagiaan tersendiri dalam benak Kanaya. Penolakan Alan, atas permintaannya seolah menunjukkan jika ayahnya itu ingin tetap bersama dirinya. Meskipun, Alan hanya menganggap Kanaya sebatas putri kecilnya, tidak lebih."Makanya Nay, kemarin mama juga bilang 'kan, kamu masih punya banyak kesempatan kalo pengen kaya mama. Biarpun Papa kamu sempat nolak, tapi mama yakin, suatu saat dia bisa berubah pikiran. Dulu aja m
"Mau apa?" sahut Kanaya, ketika melihat Alan tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. "Em ... maksud Papa, apa kamu masih punya keinginan untuk kuliah di luar negeri?" Kanaya pun mengulum senyum. "Bukannya kemarin Papa nggak bolehin aku kuliah di sana?" "Jadi, kamu mau menuruti Papa?" "Sejak kapan aku jadi anak pembangkang?" jawab Kanaya dengan begitu polos, hingga membuat Alan terkekeh."Kok Papa ketawa sih? Emangnya ada yang lucu?" "Ada ...." "Apa ...?" "Kamu ...," jawab Alan, sembari mencubit kedua pipi Kanaya gemas, dan tentunya sikap Alan tersebut membuat Kanaya seketika salah tingkah. Tak hanya itu, pipi Kanaya pun kini tampak merona.Bergegas Kanaya pun bangkit, berpura-pura membersihkan meja, dan mengangkat piring bekas makan malam Alan ke arah belakang, untuk menyembunyikan rona merah di pipi.Akan tetapi, sikap Kanaya tersebut, tentunya mengundang tanda tanya dalam benak Alan. Dia bahkan berpikir, jika Kanaya bersikap cuek seperti itu karena tidak suka jika Alan menyebut
"Pa ....""Kamu ketakutan, sampe keliatan berantakan gini."Alan tersenyum, lalu menyibak helaian rambut yang ada di wajah Kanaya. Rambut gadis itu memang berantakan, disertai raut wajah yang masih terlihat takut. Sementara itu, Kanaya yang sedari tadi, otaknya sudah traveling terlalu jauh hanya bisa terdiam, sembari menatap Alan dengan tatapan datar. Perasaannya pun terasa begitu gamang."Kita ganti film-nya aja ya. Kanaya yang Papa kenal, dari dulu emang nggak suka nonton horor, 'kan?" Kanaya pun mengangguk, tak lagi menolak. Sejujurnya dia masih canggung dengan keadaan seperti ini. Tenggorokannya juga terasa begitu kelu. Berada di dekat Alan, benar-benar memacu adrenalinnya. Detik berikutnya, film sudah berganti. Namun, Kanaya yang sebenarnya sudah cukup mengantuk, akhirnya tak kuasa menahan kantuk yang mendera. Tak berapa lama, gadis itu pun sudah terlelap di samping Alan. Alan yang mendengar dengkuran halus pun menoleh, dan mendapati Kanaya saat ini sudah tertidur. Alan mena
Alan pun menoleh, dan mendapati Arumi telah berdiri di belakangnya. Dalam benak Alan, sebenarnya dia cukup terkejut jika ternyata Arumi sudah pulang, karena wanita itu mengatakan akan pulang siang, atau sore ini."Aku pulang lebih awal, karena ...." Belum selesai Arumi berkata, tiba-tiba Alan sudah membalikkan tubuh, seolah tak ingin mendengar penjelasan istrinya."Mas Alan, kamu kenapa?" panggil Arumi. Dia kemudian berlari ke arah Alan, dan memeluknya dari arah belakang."Mas aku kangen ...."Alan hanya terdiam, tak membalikkan tubuh, ataupun membalas pelukan itu. "Kenapa Mas, apa kamu nggak kangen sama aku?"Alan kemudian tersenyum sinis, sembari melepaskan pelukan istrinya. "Apa itu penting bagimu? Selama ini aku selalu merindukanmu, tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku? Yang kau pikirkan cuma kepentinganmu!""Apa maksudmu, Mas?""Jadi kau belum menyadari keegoisanmu? Kau selalu pergi kapanpun kau mau tanpa memikirkan bagaimana perasaanku, dan anak-anak. Setelah itu, tanpa ras
Butiran bening, kini mulai jatuh, dan membasahi wajah cantik Kanaya. Tak dapat dipungkiri, hatinya terasa begitu sakit. Meskipun sebisa mungkin, dia menyakinkan diri jika dirinya baik-baik saja, dan tak pantas merasakan perasaan seperti ini. Namun, hati tak bisa berbohong.Kanaya kemudian berlari ke kamar, menutup pintu kamar itu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. Setelah itu, tangisnya pun pecah. Walaupun Kanaya sudah mati-matian membendungnya, tapi rasanya begitu sulit.Kanaya tahu ini salah. Tidak sepantasnya dia bersikap seperti ini. Namun, rasa sakit itu terasa begitu menusuk kalbu."Rasa cinta memang terkadang begitu menyakitkan, dan aku terjerumus pada luka akibat jatuh dari mimpi yang melampaui bintang. Kini, aku ingin melupakan, dan kembali pada kenyataan, dari mimpi yang sulit digenggam."Sayup-sayup lantunan sebuah lagu pun terdengar dari layar televisi di kamar Kanaya."Kembali pada kenyataan, dari mimpi yang sulit digenggam." Gumaman lirih pun terdengar dari bibir
Alan kembali menghubungi Kanaya, tapi ponsel itu masih saja tidak aktif."Astaga, apa yang sebenarnya dilakukan anak itu?"Tak kehilangan akal, Alan pun mencari tahu posisi mobi Kanaya melalui GPS yang dia taruh di mobil tersebut."Astaga, kenapa mobilnya berhenti di sana? Lagi apa dia di tempat seperti itu?" pekik Alan panik, ketika menyadari jika mobil Kanaya tengah berhenti di sebuah tempat yang dikenal cukup berbahaya. Tempat itu, tak hanya sepi, tapi juga banyak preman. Alan sebenarnya memang sengaja memasang GPS di mobil milik Kanaya. Entah mengapa, sejak Kanaya pulang, dia sering kali merasa cemas jika Kanaya pergi ke luar.Alan hanya ingin memantau pergaulan putrinya, dan si saat seperti ini, tampaknya hal tersebut sangat bermanfaat.Melihat Kanaya yang sekarang begitu cantik, sering kali, Alan takut, sesuatu hal yang buruk terjadi pada Kanaya. Apalagi, di tengah pergaulan remaja di masa seperti sekarang, Alan hanya ingin kehidupan Kanaya terkontrol.Setelah memastikan di man
Kanaya terdiam mendengar perkataan Alan. Kata sayang yang terucap dari bibir Alan terdengar begitu menggetarkan hatinya . Meskipun, dia pun tahu jika yang dimaksud dengan sayang itu, rasa sayang orang tua pada anaknya, tidak lebih. "Kanaya, kamu nggak apa-apa, 'kan?" "Kenapa malah Papa yang tanya kaya gitu sama Kanaya? Bukankah Papa yang saat ini terluka? Tuh lihat, bibir Papa aja berdarah," jawab Kanaya saat melihat tetesan darah yang keluar dari sudut bibir Alan. Sebenarnya kemampuan bela Alan cukup bagus, dan membuat ketiga preman itu kewalahan. Namun, jumlah yang tak seimbang, tentunya membuat ada beberapa bagian tubuh Alan yang terluka. "Papa nggak apa-apa, ini udah biasa. Kamu udah telpon Om Brata, 'kan? Biar mobil kamu diurus sama Om Brata, dan anak buah Papa." "Iya, sekarang kita pulang ya. Atau, Papa mau Kanaya antar ke rumah sakit?" Alan menggelengkan kepala. "Ini luka kecil Kanaya. Kamu nggak usah lebay kaya gini." "Ya udah nanti Naya obati aja ya. Sekarang, ki
Kini giliran Kanaya yang memejamkan mata, tak tahu harus berbuat apa. Jangan ditanya tentang perasaannya. Yang jelas, campur aduk, hingga rasanya hampir kehilangan kewarasan.Berciuman dengan laki-laki yang dicintai, memang terdengar normal. Namun, beda ceritanya jika lelaki itu adalah ayah angkatnya.Di mata Kanaya, Alan adalah sosok laki-laki yang sangat mencintai istrinya. Namun, entah mengapa di saat seperti ini, dia justru mau menciumnya. Kanaya benar-benar tak tahu jawabannya. Otaknya kini sudah terlalu riuh. Begitu pula dengan perasaannya.Sementara itu, apa yang dirasakan Alan pun tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Kanaya. Kejadian itu, rasanya begitu cepat.Alan yang sedari tadi sudah tergoda dengan Kanaya, kian didukung oleh keadaan yang membelenggu pada situasi yang membuat dirinya, tak bisa berkutik pada pesona Kanaya.Setelah mati-matian, Alan menampik, dan mencoba menghindar darinya. Kini, pertahanan itu luruh. Pertahanan itu luluh lantak seketika, dan sekarang y
Rain melirik Arumi, kekasihnya, yang tampak sendu saat menatap prosesi akad nikah Alan dan Kanaya. Tatapan wanita itu kosong, seolah pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Rain mengeratkan genggamannya di tangan Arumi, mencoba mengalirkan kehangatan, tetapi Arumi tetap terpaku.Alan, mantan suami Arumi, duduk dengan tenang di seberang mereka, mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu seperti bilah pisau yang mengiris perasaan Arumi. Rain bisa merasakan tarikan napas berat dari kekasihnya, seolah dia sedang berjuang keras menahan sesuatu di dalam hatinya.Rain tahu, meski kini Arumi adalah miliknya, ada bagian dari hati wanita itu yang masih berdamai dengan luka lama, dan di momen ini, Rain yakin, luka itu kembali menganga.Wanita itu masih terpaku menatap prosesi akad nikah Alan dan Kanaya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit diartikan.Perlahan, Rain meraih tangan Arumi, menggenggamnya dengan lembut
Pagi ini, mentari bersinar lembut, menyapa dengan kehangatan yang membalut langit dalam semburat jingga keemasan. Angin sepoi-sepoi berbisik di antara dedaunan, menyertai aroma bunga-bunga segar yang menghiasi pelataran rumah besar tempat pernikahan Kanaya berlangsung.Kanaya baru saja selesai dirias. Wajahnya tampak begitu cantik dengan balutan make-up pernikahan yang sempurna. Dia menatap bayangannya di cermin, mengagumi bagaimana setiap detail dirancang untuk hari istimewanya. Jemarinya perlahan merapikan gaun yang membalut tubuhnya, memastikan segalanya tampak sempurna.Senyum manisnya merekah seperti mawar yang baru bermekaran. Matanya berbinar, mencerminkan harapan dan kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Hari ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya, dan dia siap melangkah dengan penuh keyakinan.Saat ini, gadis itu berdiri di depan cermin dengan gaun pengantinnya yang anggun. Jemarinya sedikit gemetar saat merapikan kerudung yang menjuntai indah. Dia menatap bayangannya de
Di sudut taman rumah sakit jiwa, di bawah pohon kamboja yang bunganya mulai berguguran, seorang wanita tua duduk sendiri di bangku besi yang mulai berkarat.Rambutnya kusut, sebagian telah memutih, dan gaun lusuh yang dia kenakan tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang semakin kurus. Namun, ada sesuatu yang menenangkan dalam caranya duduk, tenang, dan anggun, seolah dunia yang dulu pernah menghancurkannya kini tak lagi punya kuasa atasnya.Dia tersenyum, senyum yang bukan dibuat-buat. Senyum yang bukan karena bahagia, tetapi karena menerima. Matanya kosong, tapi di kedalaman sorotnya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan—keikhlasan. Seakan semua luka, semua kepedihan yang pernah membawanya ke tempat ini, telah dia genggam, lalu dia lepaskan dengan ringan.Angin sore berembus lembut, mengayun ujung selendangnya yang lusuh. Beberapa pasien lain berjalan mondar-mandir di taman itu, beberapa berbicara sendiri, beberapa hanya diam seperti patung. Namun, Bu Dahlia berbeda, dia tidak berbicara
Hujan turun dengan lembut, membasahi dedaunan di halaman rumah Rain. Hawa dingin menyusup melalui celah jendela, menciptakan suasana sendu yang seolah menggambarkan isi hatinya.Sudah beberapa hari sejak Arumi kembali, kepulangannya tidak seperti yang diharapkan Rain. Wanita yang dia cintai selalu berdiri di depannya dengan tatapan kosong, tak lagi mengenalnya, tak lagi mengingat kisah mereka. Yang lebih menyakitkan, ingatan yang tersisa justru tentang pria lain, mantan suaminya, Alan.Hal tersebut, membuat Rain ragu untuk menemui Arumi, dan beberapa hari terakhir, dia memilih tak datang ke rumah kekasihnya. Padahal Arumi sudah menunggunya. Malam itu, Arumi pun memutuskan untuk datang ke rumah Rain. Gadis itu berdiri di ambang pintu, mengetuk pelan pintu rumah tersebut. Lalu, tak berapa lama, pintu itu pun terbuka, dan Bu Hani berdiri di depannya."Selamat malam, Bu.""Oh Arumi, ayo masuk, Nak." Bu Hani menyuruh Arumi masuk ke dalam rumah dengan lembut, sambil memperhatikan wajah ga
Arumi menatap secangkir cappuccino di hadapannya, uap hangat mengepul pelan, seolah menari di udara. Namun, pikirannya jauh lebih dingin dan berkabut daripada minuman itu. Di depannya, Kanaya duduk dengan tenang, sesekali mengaduk minumannya tanpa benar-benar meminumnya."Jadi ...." Arumi membuka suara, suaranya terdengar ragu. "Apa aku benar-benar mencintainya?"Kanaya mengangkat wajahnya, menatap kakak tirinya dengan sorot lembut tapi penuh berhati-hati. "Yang aku tahu, kalian sudah menjalin hubungan cukup lama. Kalau tentang bagaimana perasaanmu padanya, aku nggak tahu."Arumi mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-kata itu. Kekasih, kata itu terdengar begitu asing. Dia menggigit bibir, menatap jemarinya sendiri yang menggenggam sendok kecil. "Tapi, aku sama sekali nggak ingat sedikitpun tentang dia. Bahkan, saat berada di sampingnya tak ada sama sekali getaran layaknya orang jatuh cinta."Kanaya menghela napas. "Itu wajar. Amnesiamu membuatmu melupakan banyak hal. Tapi Rain ....
Arumi terdiam di dalam mobil yang berhenti di depan rumah megah itu, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Udara dingin menusuk kulitnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar, melainkan ketakutan yang mencengkeram hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya dia memberanikan diri datang ke rumah mantan mertuanya, tempat Kenan kini tinggal.Di sampingnya, Kanaya menyentuh lengannya pelan. “Kak, kalau belum siap, kita bisa balik,” bisiknya, suaranya lembut tapi penuh dukungan. Kayana mengatakan itu bukannya tanpa alasan, karena pesan yang dikirimkan Alan pun terlihat ambigu.Alan tak mengatakan Kenan mau bertemu dengan Arumi atau tidak, hanya menyuruh mereka untuk datang.Arumi menghela napas panjang. “Aku harus melakukan ini, Nay. Aku sudah terlalu lama membiarkan jarak di antara kami.”Kanaya mengangguk, meski dia tahu ini tidak akan mudah. Dia tahu, Kenan, yang selama ini menyimpan luka dan kebencian, mungkin tidak akan menerima Arumi begitu saja dengan mudah.Keduanya pun turun dari
Alan dan Bu Sinta duduk berhadapan dengan Kenan di ruang tengah. Wajah mereka penuh harap, sementara Kenan menundukkan kepala, tangannya erat menggenggam mobil-mobilan birunya.“Mama mau ketemu kamu, Kenan.”Suara Bu Sinta terdengar lembut, seolah takut membuatnya marah. Namun, Kenan menggeleng cepat. “Nggak mau.”Anak itu masih menolak, meskipun sudah lama dia tak bertemu dengan Arumi. Alan sebenarnya paham, memang hal tersebut membuat luka yang besar di dalam hati. Kejadian itu memang sudah lama berlalu, tapi Kenan masih ingat malam itu, di mana dia melihat Arumi bermesraan dengan pria lain yang bukan ayahnya. Meskipun sebenarnya laki-laki itu adalah ayah kandungnya sendiri. Namun, Kenan tak mengetahui itu, yang Kenan tahu, ayah kandungnya hanyalah Alan.Sejak saat itu, Arumi menjadi sesuatu yang asing baginya. Kenan seolah membuat jauh-jauh wanita itu dalam hidupnya.“Tapi, Kenan. Mama Arumi kangen sama kamu,” bujuk Bu Sinta lagi. Meskipun Bu Sinta tak terlalu menyukai Arumi. Nam
Di dalam kamar milik Arumi yang berwarna pastel dengan pencahayaan temaram dari lampu meja, Arumi dan Kanaya, duduk di atas sofa. Arumi bersandar pada sofa tersebut, sementara Kanaya duduk dengan gelagat canggung di sampingnya, memainkan ujung pakaian yang dia kenakan dengan jemarinya.Kanaya tak tahu apa yang akan Arumi bicarakan. Sejujurnya di dalam hati Kanaya, ada rasa cemas dengan apa yang akan dikatakan oleh Arumi. Kanaya menggigit bibirnya, menahan perasaan yang campur aduk.Sedangkan Arumi, menghela napas pelan, menatap langit-langit sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Kanaya."Aku minta maaf ...."Suara lirih Arumi memutus keheningan. Matanya kini tampak berkaca-kaca, menggenggam gelas kopi yang mulai mendingin. Beberapa minggu terakhir adalah mimpi buruk baginya—kehilangan ingatan, perasaan kacau, dan prasangka yang salah terhadap Kanaya."Minta maaf untuk apa, Kak?"Kanaya menatap Arumi dengan sabar, meskipun jelas ada luka di matanya. Arumi menarik napas dalam, m
Arumi menatap wajah lelaki paruh baya di depannya dengan mata nanar. Ayahnya baru saja menceritakan tentang siapa dirinya sebelum amnesia merenggut sebagian ingatannya. Namun, alih-alih menemukan ketenangan, yang dia rasakan justru kesedihan yang begitu dalam.Apalagi saat mengetahui jika ternyata ibunya masuk rumah sakit jiwa akibat tekanan batin karena telah berbuat jahat pada ibu kandung Kanaya sampai meninggal. Arumi benar-benar tak menyangka jika kehidupan masa lalunya seburuk itu."Dulu Mama kamu juga sengaja suruh kamu buat angkat Kanaya sebagai anak, beberapa hari setelah ibunya Kanaya meninggal. Dia melakukan itu karena merasa bersalah, apalagi saat itu Kanaya juga menjadi gelandang."Arumi memejamkan mata, hatinya seakan teriris mendengar penuturan demi penuturan ayahnya yang terasa begitu menyakitkan."Jadi, aku dulu seperti itu?" Suara Arumi bergetar, nyaris tak terdengar.Pak Rama mengangguk perlahan, wajahnya penuh luka yang tak kasat mata. "Kau pernah menjadi wanita yan