Kasihan kamu Beb, menikah dengan Herman cuman mau diajak ke jurang penderitaan." Bayu tertawa kecil. "Iya. Itulah mungkin seharusnya sebelum menikah kita Jangan melihat dari hartanya dulu. Karena harta itu nggak menjamin, contohnya Herman. Dulu kelihatannya tajir apa-apa dikasih. Gak tau setelah menikah, jangankan duit , makan enak pun tak pernah," sinis Melly."Makanya Beb bagus kamu menikah sama pria seperti aku ini aja. Dari awal udah kelihatan kere, jadi kamu gak akan kecewa." Bayu ngakak setelah berkata seperti itu."Eh daripada nganggur mendingan kita jalan-jalan yuk. Kita ke pasar malam aja nanti kita jajan yang murah-murah, yang penting kita keluar," ucap Melly.Bayu pun setuju dengan usul Melly.lalu mereka berdua pun pergi ke pasar malam. Melly tapak bahagia bersama dengan Bayu mereka naik mainan yang ada di pasar malam. Mereka tertawa dan bercanda. Bahkan makan bakso di pinggir jalan sambil bercerita. Tak sedikitpun dipikiran Melly memikirkan bagaimana keadaan Herman. Bagi
Ibu, hari ini aku diperbolehkan pulang. Apa Ibu bisa menjemputku?"tanya Herman melalui panggilan telepon. "Ibu repot, ibu harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga menjual gorengan seperti biasa. Kamu urus aja diri kamu sendiri!" Panggilan pun dimatikan sepihak. Herman menggigit bibirnya. Kepalanya terasa pusing, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan uang untuk membayar administrasi rumah sakit. Otak laki-laki itu terus berputar mencari akal supaya dia bisa membayar administrasi rumah sakit. "Mas," sapa Herman kepada salah seorang pengunjung ketika duduk di taman."Ada apa ya Mas?"tanya pengunjung itu. "Begini mas, saya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tapi, saya nggak memiliki uang. Mas mau nggak membeli jam tangan saya sama HP saya ini. HP saya masih baru, saya beli dengan harga 5 juta.. Sementantara jam tangan saya ini harganya 2 juta. Untuk Mas, bayar saja lah 2 juta semuanya. Soalnya saya perlu banget untuk biaya administrasi." Herman terlihat memohon. Dia benar
Aku bersedia menggantikan posisi Herman. Aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri."Mona terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Mahendra, seketika wanita itu menatap laki-laki tampan yang kini berdiri di hadapannya. Mulutnya terbuka hendak bertanya tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya saat mendengar suara tangis bayinya."Sepertinya dia lapar,"ucap Mahendra. "Iya. Kamu bisa keluar terlebih dahulu?"tanya Mona."Kenapa?"pria itu mengkerutkan keningnya. "Aku mau menyusui bayiku."Mahendra menggangguk paham lalu kemudian dia melangkah keluar dari kamar. Pria itu duduk di bangku panjang yang biasa digunakan untuk para pengunjung jika menunggu pasien. Tiba-tiba saja dia tersenyum entah apa yang dia pikirkan._"Turun di sini pak,"ucap Herman kepada ojol yang membawanya pulang. "Oke Mas."Herman meraih uang dari dalam saku lalu kemudian memberikan kepada Ojol tersebut. Dengan langkah yang sedikit pincang karena memang kakinya belum terlalu pulih Dia masuk menuju rumahnya. "A
Herman semakin emosi, nalurinya sebagai laki-laki merasa direndahkan dan dibanting berkali-kali oleh Melly. Sementara Melly dan Anton tertawa melihat Herman. Apalagi melihat kemarahan yang ada di wajah laki-laki itu. "Kamu itu jangan kebangetan Mel. Apa kamu lupa kalau dia itu masih suami kamu. Nggak takut kualat kamu," ucap Anton dengan ujung mata melirik ke arah Herman.Namun, bukan tatapan mata simpati tapi tatapan mata mengejek."Suami kalau nggak berguna seperti itu buat apa disimpan. Diobral juga nggak bakalan laku Siapa juga yang mau menikah sama pria seperti itu. Sudaah mokondo, nggak tahu diri lagi!"Herman tidak bisa lagi menahan emosinya pria itu seketika berdiri lalu berusaha keras mendekati Melly. Namun saat tangannya terangkat dan ingin menampar Melly wanita itu dengan cepat menepisnya, jika membuat tubuh Herman terdorong ke belakang dan terjatuh. Bahkan kepala lelaki itu sampai menghantuk dinding"Aduh," ucapnya saat kepalanya beradu dengan kerasnya dinding. "Kamu itu
"Bapak nggak usah berterima kasih sama saya karena saya itu cuman utusan. Yang melakukan semua ini adalah bos saya," jawab laki-laki itu."Oh ya, tolong sampaikan terima kasih saya sama bos Mas. Semoga ya bisa diberikan rezeki yang melimpah.""Nanti aja saat dia berada di sini Mas bilang langsung sama dia. Nanti juga dia ke sini Kok kebetulan tadi dia lagi bagi-bagi rezeki di sebelah sana."Herman mengganggu lalu kemudian dengan cepat pria itu membuka plastik yang tadi dia bawa. Dia tersenyum ketika melihat sepotong daging yang dimasak dengan sempurna lalu dibumbui rendang dan juga daun singkong rebus beserta dengan sambal hijau kesukaannya. Menatap itu semua dia kembali teringat Mona.Perlahan Herman mengambil nasi yang sudah digaul dengan bumbu rendang. Cacing di perutnya rasanya tidak sabar ingin menerima suapan itu. Tiba-tiba.."Eh ibu Mona. Ya sudah Bu Kami sudah membagikan semua orang-orang yang ada di sini dengan makanan itu. Sekarang semua sudah selesai dan itu tadi ada pengem
Sopir menanyakan apakah sudah siap untuk melajukan mobil atau belum Mona pun menganggukkan kepalanya dan mobil pun melaju dengan pelan. "Ya nggak papa kan kita makanya sama-sama. Kamu juga harus mencicipi masakanku."Mona tersenyum kecil, entah kenapa dia merasa Mahendra itu sangat perhatian padanya dan juga anaknya. "Mama sudah mau pulang Om?"tanya Gea kepada Mahendra yang baru saja selesai menelpon Mona."Iya ini mau pulang nanti kita makan sama-sama. Kamu mau dibuatin makanan apa lagi, Om ini biarpun laki-laki tapi bisa masak loh," ucap Mahendra. Dia terbiasa tinggal di apartemen sendirian karena orang tuanya yang selalu tinggal di luar negeri jadi dia sangat mahir memasak. "Sepertinya ini sudah cukup Om kan tadi kita pesan pizza," jawab Gea. Gadis itu tidak berhenti tersenyum Dia sangat bahagia bersama dengan Mahendra. "Iya juga. Tapi bener loh Om ini pandai masak. Om kan dari kecil ditinggal orang tua Om ke luar negeri. Jadi kalau Om malas beli ya Om masak. Pertama rasanya it
Dia juga lembut dan penuh perhatian itulah yang membuat Mahendra langsung jatuh cinta kepada Mona. Pria itu patah hati bahkan berhari-hari tidak makan ketika mendengar Mona ternyata sudah memiliki suami dan juga anak. Harapannya seperti hancur. Apalagi ketika dia mulai menyadari bahwa Mona adalah wanita yang memiliki hubungan masa lalu dengannya."Sampai kapan kamu akan terus seperti ini Mahendra, sudahlah! Sekarang lupakan saja soal wanita itu dan carilah wanita baru. Kamu sudah bukan lagi anak kecil usia kamu sudah cukup dewasa untuk menikah," ucap wanita yang bergelar sebagai seorang ibu Mahendra waktu itu.Usia Mahendra memang bukan tergolong muda. Usia laki-laki itu bahkan hampir saja menyentuh angka kepala tiga, itulah yang membuat ibunya berkali-kali mendesak untuk menikah.Namun, sebuah kenangan masa lalu tidak bisa dia lupakan. Saat itu dia masih duduk di bangku SD ketika sebuah tawuran antar sekolah terjadi. Mahendra yang waktu itu sebenarnya tidak terlibat apa-apa tiba-ti
Mahendra tersenyum antara rasa penasaran kenapa Mona tiba-tiba ia tidak ingat semuanya dan juga rasa senang karena ternyata hatinya tidak salah sasaran. "Baiklah. Kamu selidiki lagi apa yang terjadi selanjutnya di desa kenapa sampai Mona tidak mengingat aku sama sekali padahal dulu waktu kecil dia temanku. Nggak mungkin dia bisa lupa begitu saja!" Tegas Mahendra."Baik Pak!"Laki-laki itu pergi setelah berbicara panjang lebar dengan Mahendra dan mendapatkan upah yang dijanjikan oleh Mahendra. Sementara setelah pria itu pergi seorang wanita cantik turun dari anak tangga. Dia adalah Nyonya Ratna Ibu kandung Mahendra."Kamu dari mana saja Hendra. Kok akhir-akhir ini kamu tuh sering sekali kelayapan, Ibu telepon ke kantor katanya kamu sudah tidak ada tapi kamu nggak pulang-pulang."Mahendra segera berdiri menyambut kehadiran wanita itu lalu kemudian dia mencium punggung tangannya dengan sopan. "Iya Mahendra ada urusan, Bu. Apa Ibu sudah makan?"tanya lelaki itu dengan sopan. Walaupun umu
erima kasih, Pak," ucap Herman."Yang lain tolong panggilkan ambulans sepertinya Pak Herman sedang memerlukan pertolongan medis,"ucap seseorang yang belum jelas Siapa dia. "Sekarang bapak ceritakan kronologinya seperti apa. Kok bisa istri bapak memanfaatkan Bapak dan mengatakan kalau bapak ini sakit. Apa benar bapak punya penyakit ginjal?"Herman menggelengkan kepalanya tegas. "Gak, Pak. Sebetulnya saya itu nggak sakit pak hanya masuk angin karena memang kondisi tubuh saya lemah. Saya nggak bisa tidur di lantai tapi istri saya maksa saya untuk tidur di lantai karena tempat tidurnya mau dipakai sama dia dan suami mudanya.""Loh, jadi laki-laki itu Bukan adiknya pak?"Salah seorang warga bertanya sepertinya Jika ditanya orang Melly menjawab bahwa Mereka bersaudara."Bukan Pak, mereka itu suami istri. Jadi istri saya itu poliandri Pak.""Astaghfirullahaladzim. Bapak ini diduakan. Terus mereka berdua sengaja membuat Bapak menjadi sakit demi keuntungan pribadi. Demi kontan supaya dapat d
Tapi kalau Mas Herman nggak ikut sama kita. Bagaimana kita mau cari uang mas, kamu tau sendiri kan. Kita cari uang itu karena menjual kesedihan dengan pura-pura bersedih atas penyakit Mas Herman. Kalau dia nggak ada bagaimana kita mau cari uang."Bayu berdecak,"dengar! Sekarang yang terpenting kamu kemasi semua barang-barang kamu. Kita cari tempat yang aman, uang kita sudah lebih dari cukup untuk kita buat modal."Sebenarnya Melly ragu untuk pergi ikut dengan Bayu. Semenjak melihat kejahatan Bayu pada Herman yang kita tidak percaya. Melly jadi takut untuk ikut dengan laki-laki itu. Bisa saja suatu saat ketika Bayu tidak memiliki uang, dia dipaksa untuk melayani orang demi mendapatkan uang. Sungguh Melly merasa ngeri.Sementara Herman hanya mendengarkan saja percakapan mereka.. walaupun dia lemah dan matanya tertutup tetapi dia masih bisa mendengar dengan jelas, apa yang dibicarakan Melly dan juga Bayu. Mereka berdua bukanlah manusia mereka adalah iblis yang bertopengkan wajah manusia.
ayu tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh istrinya. Lelaki itu milih pergi. "Aku cuma ngasih izin untuk memberi dia minum teh manis doang. Jangan berikan makanan dan juga jangan belikan obat!" Ucap lelaki itu sambil berlalu begitu saja. Entah mau pergi ke mana. Sementara Melly melanjutkan aktivitasnya. Dia mengintip suaminya sebentar dan setelah mematikan suaminya tidak ada, perlahan dia mengambil roti yang dia sembunyikan. Walau bagaimanapun Herman tetaplah manusia yang memiliki hak untuk hidup. Perlahan wanita itu mendekat ke arah Herman."Mas, maafkan suami aku ya. Sekarang kamu coba buka mulutmu pelan-pelan, ini aku buatkan teh manis."Herman hanya diam sambil memejamkan matanya, air mata laki-laki itu mengalir entah apa yang dia rasakan. Sementara Melly perlahan menyuapkan teh manis yang tadi dia buat. Namun, begitu masuk justru dimuntahkan lagi oleh Herman."Jika aku mati, tolong kuburkan aku. Jangan biarkan aku terlantar," ucap Herman pelan. "Mas, kamu nggak akan mati.
Mell. Tolong bawa aku ke dokter. Aku sudah gak tahan," ucap Herman pelan. Semalaman dia muntah. Tubuhnya lemah dan wajahnya kian pucat. Namun, ketika meminta bantuan Bayu untuk menolong. Bukannya menolong lelaki itu justru sibuk memvideo Herman. Entah kenapa Melly merasa kasihan. Sisi kemanusiaan wanita itu sepertinya masih berfungsi dengan baik. Wanita itu perlahan mendekat ke arah Herman. Dia memegang dahi Herman yang panas dan berkeringat. Tubuhnya gemetar bahkan bibirnya juga. "Kamu mau minum, Mas?" tanya Melly.Herman hanya menatap Melly. Entah apa yang ada di batin laki-laki itu. Mungkin seribu penyesalan yang tak bertepi, mengingat segala dosa yang dia lakukan. Dulu, jangankan sampai sakit separah ini. Melihat Herman bersin saja , Mona langsung sigap membelikan obat. Merawat dan tak membiarkan laki-laki itu bekerja.Melly yang merasa kasihan pergi ke dapur. Dia berpikir mungkin dengan memberikan segelas teh manis, itu akan membantu memberikan kekuatan kepada Herman. Setelah
"Kelak jika anak kamu dewasa dia juga akan mengerti kenapa kamu melakukan akukan ini. Yang jahat bukan kamu tetapi dia. Kamu telah banyak berkorban untuk dia tapi dia justru menghianati kamu dan juga memanfaatkan kebaikan hati. Jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama."Setelah berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Mahendra akhirnya Mona pun mengambil keputusan "Baiklah, kalau begitu aku akan terus melanjutkan tentang gugatan ceraiku. Tapi tolong Kamu cari tahu bagaimana keadaannya, Kalau memang dia sakit aku akan bantu dia. Ini bukan karena aku masih cinta atau apa, bicara soal cinta aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Sekarang aku pikirkan adalah anak-anakku karena boleh bagaimanapun dia adalah Ayah dari anak-anakku."Mahendra menggangguk baginya yang terpenting adalah Mona tidak kembali kepada Herman."Om Herman, Om Herman." Herman membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara Gea dari arah belakang. Lelaki itu tersenyum pada anak kecil yang kini berjalan menuju ke arahn
Aku gak setuju!" Tegas Mahendra setelah Mona menyatakan keinginannya untuk membatalkan gugatan cerainya. "Walau bagaimanapun dia adalah Ayah dari anak-anakku. Kami boleh berpisah tapi dia tidak, Aku tidak mau jika nanti aku di cap jahat oleh anak-anakku. Di saat ayahnya sakit dan sekarat seperti itu justru aku menggugat cerai dia.Mona menarik napas, rasa cintanya kepada Herman sudah habis tanpa sisa. Iya bahkan sudah lupa bagaimana dia mencintai Herman dulu. Tapi, satu yang dia ingat Herman adalah ayah dan kedua anak nya. "Mona! Kamu jangan lupa. Herman adalah pria yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja dia berbohong hanya untuk mengambil keuntungan pribadi. Jika dia berani korupsi dan memakai uang perusahaan untuk kesenangan pribadinya tentu dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan uang apabila dalam keadaan jatuh seperti ini." Mahendra memegang kedua pundak Mona. Walau bagaimanapun pria itu tidak akan rela jika Mona sampai terjatuh kepelukan suaminya kembali. "Kamu jangan sam
Hah?" Melly seperti hendak lompat kegirangan ternyata sangat mudah mencari uang. Hanya memanfaatkan suami tidak percaya lalu membuat video seolah suaminya sekarat dia telah mendapatkan uang yang dia inginkan. "Wah. Bagus sekali. Tuh kan Mas ide aku bagus. Dengan begini kamu nggak usah sesal lagi untuk ngojek. Karena kita sudah dapat uang."Herman yang mendengar hal itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan segila itu."Mel. Aku makin pusing dan badanku semakin meriang. Kalau kamu nggak mau bawa aku klinik tolong berikan aku obat," mohon Herman. Wajah laki-laki Itu tampak pucat. "Iya, iya. Bawel banget sih. Sakit begitu aja mengeluh," omel Melly.Dia bermaksud keluar untuk membeli obat tetapi tangannya segera dicekal oleh Bayu."Ada apa sih Mas? Dia minta obat warung. Nggak papa lah Lagian juga harganya nggak bisa berapa kalau buat warung paling juga rp1000"Bayu Anton Bagaskara, berdecak kesal melihat tingkah istrinya. "Kamu itu kenapa sih b
Melly menangis sesenggukan. Air matanya tidak tertahan lagi, terus mengalir bagaikan anak sungai yang deras. Air mata itu mengalir membasahi pipi lalu kemudian sampai ke leher. Wanita itu bahkan sampai mengeluarkan ingus. Sungguh, keadaan Melly memilukan bagi orang yang melihatnya. "Beginilah keadaan suami saya. Hu, hu. Dia sakit sudah lama, tiap bulan harus cuci darah. Kakinya cacat. Sementara kami tidak punya BPJS. Dulu waktu sehat kami tidak punya pikiran untuk mengurusnya," dia menarik napas lalu kembali berkata dengan napas tersengal," mak-maka-nya. Kali-kalian jangan lupa urus BPJS. Biar gak susah seperti kita."Wanita itu mengeluarkan ingusnya. Nafasnya sampai tersengal. "Sekarang saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Suami saya harus cuci darah tiap Minggu. Sementara kami tidak memiliki biaya. Jika tidak mau cuci darah maka entah apa yang akan terjadi pada suami saya." Lagi wanita itu menangis sejadinya. Dia memeluk Herman yang berbaring di depannya dalam keadaan menggigil s
Kamu memang pintar. Ada sajakah kamu." Anton tersenyum sambil mencubit hidung istrinya. "Makanya segala sesuatu tuh dengerin dulu. Jangan asal marah-marah aja. Nanti kalau berhasil kan kita yang untung."Pria itu melingkarkan lengannya di pundak sang istri lalu menciumnya. Dia sungguh bangga dengan ide cemerlang sang istri. _Di tempat lain Mona tampak sedang berada di tempat perbelanjaan. Hari ini semua barang kebutuhannya telah habis hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke mall guna membeli barang-barang kebutuhannya. "Gea, kamu mau beli apa nak?" tanya Mona pada Putri pertamanya. "Gea mau dibelikan buku ma sama boneka.""Ya sudah nanti kita beli ya. Sekarang mama mau belikan baju buat adik dulu."Gea mengangguk. Gadis kecil itu sebenarnya tidak terlalu rewel semenjak memiliki adik. Dia juga lebih dewasa, sikap manjanya yang dulu selalu dia tunjukkan saat masih bersama dengan papanya sekarang seperti telah hilang. Bahkan terkadang Mona merasa heran dengan perubahan sikap G