Share

Pendekatan

Penulis: Jamie_Hye
last update Terakhir Diperbarui: 2022-09-28 00:43:43

“Jadi begini,,,,”

Vanika, Joe, Akhtar, dan Aditya memajukan tubuh mereka dengan wajah mereka yang terlihat sangat antusias.

“Sudah! Tamat! Kalian cari tahu sendiri ceritanya,” ujar Pramana yang diikuti tendangan kaki dari Joe yang kesal.

“Menyebalkan!” Vanika melemparkan buku pada temannya yang bertubuh gempal itu.

“Aku takut salah bicara. Kalian tanya saja langsung ke orangnya,”

“Eh, sekarang sudah terlalu sore. Kita harus pulang secepatnya. Aku juga harus bantu ibu aku untuk jualan besok,” kata Akhtar sambil melihat arlojinya.

“Aku masih ingin di sini tapi ternyata sudah sesore ini,” keluh Joe sambil merapikan bajunya.

“Ya sudah nanti kita ketemu lagi kok,” hibur Vanika sambil membuka pintu perpustakaan.

“Kita bereskan bekas makanannya ya?” Aditya mulai mengambil beberapa piring di meja.

“Sudah, jangan. Biar nanti aku dan Bi Ika yang bereskan,”

Tidak lama kemudian mereka berjalan menuju gerbang. Pramana dan Akhtar menyalakan motor masing-masing.

“Clarissa belum pulang?” tanya Joe pada Vanika.

Belum sempat Vanika menjawab, Clarissa berlari mendekat dengan wajah berbinar-binar. Ia membungkuk di hadapan Joe. Adiknya memang salah satu penggemar berat Joe. Joe adalah motivasinya agar berlatih lebih giat.

Mereka berdua memang memilki beberapa persamaan. Mereka benci sekali belajar di kelas, rambut mereka sama-sama diikat ponytail (hanya saja milik Clarissa tidak diikat dengan sangat kencang), tubuh mereka tinggi besar, dan mereka berlari seperti kuda.

“Kak Joe! Kenapa pulang?! Clarissa ‘kan baru sampai,” ujar Clarissa dengan wajah kecewa.

“Padahal sudah cukup lama aku di sini, lagipula hari sudah mulai gelap,” jawab Joe dengan senyum yang membuat freckles di wajahnya terlihat semakin jelas.

“Ahhh,, sayang sekali,” Clarissa semakin cemberut.

Joe merangkulnya, “nanti kapan-kapan latihan bareng timku yuk! Aku undang kamu dan tim kamu untuk latihan bersama,”

Senyum Clarissa tumbuh, “siap!” jawabnya.

“Lihat, Tar. Bahkan Clarissa tingginya sudah melampaui kamu,” goda Pramana yang langsung menerima cubitan keras dari Akhtar tepat di pinggangnya.

“Ah sudahlah, kalau mengobrol terus kita gak akan pulang. Ayo kita pulang!” ajak Aditya.

“Oh ya, Satrio lusa akan datang ke sini. Katanya mau menengok kamu sekalian memberi materi olimpiade,” tambah Akhtar.

“Baiklah,” ucap Vanika.

“Terima kasih ya, Van sudah menjamu kami,” ucap Pramana.

Mereka mulai pergi sambil melambaikan tangan pada Vanika dan Clarissa.

***

Hari-hari berlalu dengan cepat. Vanika menghabiskan waktu dengan membaca buku, bermain game, menonton serial film, dan melakukan hal lainnya. Sakitnya sudah tidak begitu parah seperti waktu itu. Bahkan batuknya sudah pulih total. Hanya saja tubuhnya masih demam walaupun tidak setinggi beberapa hari lalu.

Ia merasa ingin cepat-cepat sekolah. Gawainya tergeletak begitu saja di meja. Terbalik dengan remaja lainnya, Vanika jarang sekali memainkan gawainya apabila ia menghabiskan waktu di rumah. Gawainya berbunyi untuk kesekian kalinya menandakan ada pesan masuk.

Vanika yang sedang asyik membaca buku yang berjudul The Golem’s Eye langsung mengambil gawainya. Salah satu pesan yang masuk berasal dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia mulai membaca.

“Hey, selamat siang. Ini aku, Hayden dari kelas sebelah. Maaf mengganggu, tapi siang ini aku menggantikan Satrio untuk datang ke rumahmu,”

Mata Vanika terbelalak karena terkejut. Ia menengok ke arah kanan dan kiri berusaha mencari adiknya. Clarissa baru saja masuk dari halaman belakang. Ia kebingungan melihat kakaknya memasang wajah yang begitu terkejut. Ia terkikik-kikik.

“Wajah kamu kenapa?” tanyanya sambil berjalan mendekat

“Ini! Ini! Baca ini!” perintah kakaknya sambil menunjukkan isi pesan dari laki-laki yang disukainya.

“Aku harus jawab apa?” tanya kakaknya yang kebingungan.

Clarissa mengetik sesuatu dan Vanika langsung mengintipnya.

“OK. Aku tunggu. J,”

“Apa harus pakai emoji?” tanya kakaknya lagi.

“Biar kesannya kamu itu antusias kalau dia akan datang dan menimbulkan kesan ramah dan periang gitu loh,” jawab adiknya.

“Ish ish,”

“Percayalah, aku ini master di bidang percintaan,” ujar adiknya itu.

“Tapi, tadinya ‘kan Satrio yang mau ke sini. Kira-kira dia mau apa ya? Atau mungkin mau membicarakan seputar biologi?”

“Satrio yang sering ikut event Jepang? Yang penampilannya sangat out of the box itu? Yang selalu membawa buku biologi ke mana-mana?” tanya Clarissa.

“Ya, betul,”

“Hmmm pasti untuk membicarakan biologi atau cuma menengok? Tapi ini yang datang Hayden. Mungkin dia membawa cokelat atau apa. Semacam angin kesegaran di tengah-tengah cuaca panas,”

“Kamu itu bicara apa sih, Clar?” balas kakaknya.

“Sana ganti bajumu! Coba pakai sesuatu yang berbeda. Yang lebih girly. Anggap ini kencan pertama,”

“Ini bukan kencan,”

“Mungkin bukan kencan, tapi bisa jadi awal dari segalanya ‘kan?”

Tidak lama kemudian Vanika sudah berdiri di teras rumahnya. Ia memakai cardigan pemberian Hayden dan rok jeans biru tua dengan panjang selutut. Bagian atas rambutnya diikat dengan pita berwarna lilac dan sebagian rambut cokelat tuanya yang bergelombang terurai di bahunya. Poninya menyentuh kedua alis gadis itu. Wajahnya pucat dan bibirnya memakai lip balm berwarna merah muda.

Bi Ika baru saja pulang dari pasar swalayan. Ia membawa dua kantung besar belanjaan. Wanita itu melihat Vanika dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Wajahnya tersenyum lebar.

“Wah Vanika. Kamu mau pergi ke mana? Kondisi kamu ‘kan belum pulih, Néng,”

“Biasa, Bi. Hayden,” jawab Clarissa yang menengokkan kepalanya dari pintu ruang tamu ke luar.

“Ssstttt, Clarissa,” ucap kakaknya.

“Oh kencan? Cieeeee,” goda wanita itu.

“Bukan, Bi. Ada yang mau dia antar ke sini,” jawab Vanika.

“Ya sudah, Bi Ika siapkan dulu makanan dan minumannya ya,” Bi Ika masuk dengan senyum di wajahnya.

Beberapa saat kemudian sosok laki-laki bertubuh tinggi berdiri di depan gerbang. Vanika datang mendekat. Namun, Hayden sudah terlanjur memijit bel. Ia menatap gadis yang sedang berjalan itu. Matanya fokus tanpa mengalihkan pandangannya. Gadis itu memakai cardigan pemberiannya.

Vanika pun sama. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Hayden memakai kaus putih polos dengan topi hitam dan celana jeans panjang. Ia membawa dua totebag berukuran besar di masing-masing tangannya.

“Satrio harus menghadiri sebuah event. Lagipula ada banyak hal yang harus dia lakukan akhir-akhir ini. Aku datang untuk menggantikan dia,” kata Hayden sambil sedikit mengangkat barang-barang bawaannya.

“Oh begitu, sini aku bantu bawa,” ucap Vanika, tangannya meraih salah satu totebag.

“Jangan, gak terlalu berat kok,” laki-laki itu menjauhkan totebag itu dari tangan gadis di hadapannya.

“Oh kalau gitu ayo masuk,” ajakVanika.

Namun, belum sempat mereka melangkah, terdengar suatu suara yang berteriak memanggil Hayden.

“Kak Hayden! Kak Hayden!”

Mereka berdua berbalik dan seorang perempuan berkerudung berlari mendekat.

“Akifa? Kamu lagi apa di sini?” tanya Hayden kepada permpuan itu.

Akifa adalah siswi kelas 10. Orangnya periang dan ramah. Dia adalah salah satu anggota Japanese Club dan Chemistry Club yang membuat dia cukup akrab dengan geng Hayden. Terutama dengan Satrio dan Zaid. Banyak adik kelas yang iri karena Akifa bisa dekat dengan para kakak kelas.

Akifa memiliki wajah yang menyenagkan untuk dilihat karena ia selalu tersenyum. Kulit sawo matangnya selalu bersinar dan kedua matanya besar. Akifa penuh rasa antusias sehingga saat ia tertarik pada sesuatu, matanya akan semakin besar.

“Aku lewat sini, Kak. Loh Kak Hayden ini bawa bawaannya banyak sekali. Seperti mau pindahan saja,” kata Akifa dengan tawa pendek.

“Bukan, ini buku latihan olimpiade semua,” jawab Hayden.

“Ih Kak Hayden kok kencan pakai bawa buku olimpiade segala sih?” protes gadis itu.

“Ini titipan dari Satrio, Fa,” balas laki-laki itu.

“Oh ya, salam kenal, Kak. Saya Akifa. Dari kelas X-D,” ucap Akifa sambil menyodorkan tangannya pada Vanika.

Vanika menjabat tangannya, “salam kenal, aku Vanika. Kelas XII IPA 2,” balas gadis berponi itu dengan senyum di wajahnya.

“Sabar ya, Kak Vanika. Kak Hayden itu nyebelin sekali orangnya,” ucap Akifa.

“Akifa Farah Nugraha…” Hayden memberi isyarat agar gadis bawel itu berhenti.

“Akifa, ayo mampir ke dalam dulu,” ajak Vanika.

“Ah maaf, Kak Van. Aku harus pergi. Aku ada janji dengan temanku. Have fun ya kalian. Bye!” ujar Akifa sambil berlari dan melambaikan tangannya.

***

Hayden membuka topinya dan menyimpan barang-barang bawaannya di atas meja perpustakaan. Ia mengeluarkan satu per satu buku latihan olimpiade biologi. Total ada 20 buku berukuran besar. Mata Vanika terbelalak melihat semua buku itu. Beberapa saat kemudian Bi Ika dan Clarissa datang membawa makanan dan minuman.

“Aduh bukunya banyak sekali. Kalian ternyata terlalu rajin ya? Kencan pun sambil belajar,” ujar Bi Ika.

“Ini bukan kencan, Bi,” bantah Vanika.

“Luar biasa! Luar biasa! Wow! Ternyata yang dibawa seorang Hayden Irawan itu siksaan bukan angin kesegaran, wahai kakakku,” ujar Clarissa sambil menepuk-nepuk punggung kakaknya.

“Siksaan? Angin kesegaran?” tanya Hayden.

“Jangan didengar, Hay,” jawab Vanika.

“Jangan terlalu dipaksakan. Makan dulu ini. Bibi tadi buat banyak kue kering. Ada burger juga. Ini ada sosis goring ukuran ekstra. Nah, sekarang bibi dan Clarissa keluar ya,” kata Bi Ika sambil menggamit Clarissa agar pergi dari ruangan itu.

“Terima kasih,” ucap Hayden dengan senyumnya yang hangat.

“Ok, kita mulai dari mana?” tanya Vanika.

“Jangan dipaksakan, Van. Kondisi  kamu belum terlalu pulih,”

“Ya sudah. Nih, kamu minum dulu,” Vanika memberikan segelas jus buah mangga dingin pada laki-laki di hadapannya.

Mereka duduk dalam keheningan. Suasana begitu hening. Hanya ada suara jam berdetak dan suara samar-samar dari luar. Mungkin Clarissa sedang mendengarkan lagu dengan speaker di ruang tengah, pikir Vanika. Hayden beberapa kali meneguk minumannya. Meskipun suasana begitu hening, tapi pikiran Vanika begitu heboh dengan pikiran-pikirannya sendiri.

“Aku harus segera mencairkan suasana!”

“Bagaimana caranya?!”

“Kelihatannya Hayden juga bingung,”

Kedua kaki Vanika bergerak dengan gelisah. Dahinya sedikit berkeringat dan beberapa butir keringatnya turun melewati pelipisnya.

“Kamu gak apa-apa ‘kan?” tanya Hayden sambil memberikan sebuah sapu tangan berwarna biru tua.

“Gak apa-apa kok. Oh ya, ini sudah aku siapkan semua barang-barang kamu. Terima kasih ya dan maaf aku kembalikannya terlambat,” ucap gadis itu sambil memberikan satu buah kantung besar kepada laki-laki itu.

“Van, ada yang mau aku kasih untuk kamu,” ujar laki-laki itu sambil mengeluarkan sebuah amplop buatan berwarna baby blue.

Vanika meraih amplop itu, “apa ini?”

“Bukanya nanti saja. Aku gak begitu pandai bicara lewat pesan, aku lebih lancar menulis surat,” kata Hayden diikuti tawa kecil gadis di hadapannya.

“Jangan terlalu banyak berpikir, bicara saja,” saran Vanika.

Siang itu mereka banyak membicarakan tentang banyak hal. Mulai dari game dan berita yang sering muncul di TV, sampai kehidupan sekolah dan pertemanan mereka. Termasuk Akhtar yang sedang dimabuk cinta dengan perempuan virtualnya. Hal-hal yang sederhana, tapi membuat Hayden tidak terkesan kaku lagi.

“Aku khawatir Akhtar ditipu orang,”

“Tenang saja, dia gak akan seceroboh itu. Kalian itu berteman sejak kapan?” tanya Hayden.

“Sejak SD. Aku, Akhtar, dan Jimmy berteman sejak kecil, tapi waktu SMP Jimmy pindah ke luar kota karena ayahnya pindah tugas,”

“Oh pantas kamu dekat sekali dengan Akhtar. Orang-orang selalu bilang di mana ada Vanika pasti ada Akhtar,” ujar Hayden diikuti tawa gadis itu.

“Ya. Akhtar itu sahabat yang mungkin hanya aku temui satu kali di hidup ini. Mungkin gak akan ada Akhtar lain. Jadi mungkin kalau di masa depan Akhtar punya pasangan atau menikah. Aku mungkin cemburu. Bukan  karena naksir, tapi karena aku takut kehilangan sosok sahabat terbaik aku,” ungkap Vanika.

Hayden tersenyum dan menggenggang tangan Vanika, “Kalau kamu merasa kesepian, kamu boleh hubungi aku. Entah itu siang atau malam. Kamu bebas mau bicara apapun. Hal baik, hal buruk, pokoknya semua hal,”

Jantung Vanika dibuat berdegup kencang karena perlakuan dan kata-kata laki-laki di hadapannya. Seorang Hayden Irawan yang dikenal dingin dan kaku. Bahkan jarang sekali mengeluarkan kata-kata, ternyata bisa mengungkapkan hal seperti itu. Jantung gadis itu dibuat semakin shock ketika gawai milik Hayden berdering dengan kencang. Laki-laki itu dengan segera mengangkat panggilan masuk itu.

“Ya? Oh sebentar lagi kakak pulang ya. Hati-hati di rumah,”

Hayden mengakhiri panggilannya.

“Adik kamu? Usia berapa?” tanya Vanika dengan senyum di wajahnya yang pucat.

“Ya, namanya Audrey. Dia masih 9 tahun. Kelas 3 SD,” jawab lakilaki itu.

“Wah teryata jarak usianya cukup jauh ya! Pasti senang ya ada anak kecil di rumah?”

“Ya begitu, seringkali dia manja, cengeng juga, tapi seringkali dia bertingkah manis,” jawab Hayden sambil bersiap-siap.

“Kapan-kapan kamu harus ajak dia ke sini,” ujar Vanika dengan senyumnya yang hangat.

“Baiklah. Van, aku pamit ya,” balas Hayden.

“Tunggu, bawa semua makanan ini. Tahu ‘kan Bi Ika nanti mengamuk loh,” ujar Vanika sambil memasukkan makanan-makanan itu ke dalam plastik makanan yang sudah disediakan oleh Bi Ika.

“Terima kasih, tapi maaf ya merepotkan. Padahal kamu apalagi Clarissa sedang masa pertumbuhan,” ucap laki-laki berkaca mata itu dengan senyum kecilnya.

“Ah gak. Clarissa sudah terlalu besar untuk masa pertumbuhan,” balas gadis itu.

***

Bi Ika sedang sibuk membersihkan lantai atas dan Clarissa tertidur di atas sofa ruang tengah dengan mulut yang menganga.

“Sungguh pemandangan yang memalukan,” ujar Vanika sambil memotret adiknya itu.

Hayden tersenyum melihat kelakuan gadis itu. Tak lama kemudian mereka sudah di luar. Cukup sedih melihat Hayden pergi. Rasanya satu hari saja tidak cukup untuk bertemu laki-laki itu. Vanika ingin hari Senin cepat-cepat datang.

Hayden yang sekarng berbeda sekali dengan Hayden yang ditemuinya semester lalu. Vanika tiba-tiba ingat surat yang diberikan pujaan hatinya itu beberapa saat lalu. Ia berlari menuju perpustakaan dan meraih surat itu. Ia membawanya ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjangnya.

Dengan hati-hati, ia mulai membuka amplop dengan jantung yang berdebar-debar. Gadis itu memperhatikan setiap detail dari surat di tangannya.

“Sebentar, bukannya ini,,, surat cinta?!”

Bab terkait

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Bimbang

    From: Hayden IrawanTo: Vanika Xavera TedjaDear Vanika,Aku gak begitu pandai merangkai kata-kata, so… “I just wanna tell you somethingLately you’ve been on my mind”(Adore You - Harry Styles) “I know I shouldn’t tell you but I just can’t stop thinking of you” (Wherever You Are - 5 Seconds of Summer) “Before you came into my life everything was black and whiteNow all I see is colour like a rainbow in the sky” (Colour – MNEK ft Hailee Steinfeld) “I can’t write one song that’s not about youCan’t drink without thinkin’ about youIs it too late to tell you that everything means nothing if I can’t have you?”(If I Can’t Have You - Shawn Mendes) “Anyone who’s seen us knows what’s goin’ on between usIt doesn’t take a genius to read between the linesAnd it’s not just wishful thinking or only me who’s dreamingI know what these are symptoms ofWe could be in love”(We Could be In Love - Brad Kane ft Lea Salonga) “Love doesn’t come in a minuteSometimes it doesn’t come at allI o

    Terakhir Diperbarui : 2022-09-29
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Momen Pertama

    Jantung Vanika hampir saja copot. Kedua mata bulatnya membesar karena sangat terkejut bahwa laki-laki yang seharian ini dihindarinya sekarang tepat berada di sampingnya. Vanika melihat Jimmy sudah menurunkan lambaian tangannya dan berlalu begitu saja.“Nonton Jimmy latihan?”“Aku hanya kebetulan diajak Akifa istirahat di sini. Dia sekarang lagi di toilet,” jawab Vanika.Tiba-tiba dua orang sahabat Jimmy yang lewat sambil menepuk bahu Vanika.“Ciee nonton Jimboy main bola,” ujar mereka berdua sambil berlalu dan tertawa.Dua laki-laki itu bernama Huang dan Derry. Mereka berdua adalah sahabat kental Jimmy sejak kelas 10. Jimmy, Huang, Derry, dan Vanika dahulu berada di kelas yang sama, yaitu kelas X-A. Sudah menjadi rahasia umum di kelas X-A kalau gadis berkulit putih itu sangat menyukai Jimmy.“Oh lagi nonton Jimmy main bola,” ucap Hayden.“Ya, aku sekalian nonton dia latihan. Rasanya sudah lama gak lihat dia main secara langsung,”Hayden tersenyum, “Tenang saja, aku juga suka kalau dia

    Terakhir Diperbarui : 2022-09-30
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Hayden

    Hayden tersenyum di sepanjang jalan pulang. Ia merasa tidak pernah sebahagia ini. Ia memasuki halaman rumah bergaya khas zaman Belanda itu dengan perasaan riang. Rumah dengan satu lantai tersebut memiliki halaman dan bagian teras yang luas. Cat temboknya berwarna putih bersih dan bangunannya sangat luas. Di bagian depan terdapat beberapa pilar beton yang kokoh. Rumah itu juga dihiasi beberapa jendela kuno yang berukuran besar dan indah.Laki-laki bertubuh tinggi itu memasuki ruang tamu dan di situ terdapat adiknya yang sedang asyik bermain puzzle. Audrey masih berusia 9 tahun. Tubuhnya tinggi dan ramping. Panjang rambutnya tepat sebahu dan keriting. Terlihat klasik.“Kakak pulang, Rey,” sapa Hayden yang menghampiri adiknya dan mencium keningnya.“Kakak lama. Mama juga belum pulang,” keluh Audrey.“Ya, maaf. Kamu sudah makan ‘kan?” tanya kakaknya.“Udah,” jawab adiknya.“Kakak beres-beres rumah dulu ya, Rey. Ini kakak bawa cokelat untuk kamu,” Hayden memberikan sebatang besar cokelat p

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-02
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Hayden, Vanika, dan Jimmy

    Vanika membuka jendela sedikit dan perlahan-lahan. Ia begitu senang kekasihnya muncul di tengah kejenuhannya.“Hey, aku gak bisa lama, sebentar lagi aku harus segera pergi,” ujar Hayden.“Ada apa? Kenapa?”“Aku dipanggil ke ruang guru untuk persiapan olimpiade. Di kelas lagi gak ada guru juga. Nanti, setelah bel pulang aku harus latihan paduan suara sebentar. Katanya Pak Fairuz mau kumpulkan semua siswa laki-laki untuk latihan vokal. Nah, tadi Pak Ade katanya mau minta tolong kamu untuk urus beberapa hewan setelah pulang sekolah. Sesudah bel kamu tunggu Pak Ade di tempat duduk pinggir lapangan ya. Setelah semuanya selesai aku hampiri kamu. Jadi pulangnya kita bisa bareng,”Pak Ade adalah salah satu pegawai di sekolah yang bertanggung jawab mengurus hewan-hewan peliharaan sekolah. Sekolah itu memelihara beberapa macam burung, beberapa ekor kelinci, berbagai jenis ikan, beberapa ekor kucing dan anjing, juga beberapa ekor reptil.“Oh ok, terima kasih ya infonya,” jawab Vanika.“Heh, Hayd

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-05
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Resah

    “Ada apa, Jimmy Mahardika?” tanya Hayden dengan wajah yang begitu dingin.Jimmy mendekat dan duduk di kursi sebelah kiri ranjang. Ia memberikan tas itu kepada Vanika. Jimmy memperhatikan Vanika dengan wajah yang cemas.“Kamu basah begini. Kamu gak apa-apa ‘kan?” tanya laki-laki itu.“Gak apa-apa, Jim,” jawab Vanika pada sahabatnya itu.Jimmy memegang lengan gadis itu, “ada yang luka? Bagian mana yang sakit?”“Tenang, Jim. Aku gak apa-apa kok,” balas gadis itu.“Mau aku temani?” tanya laki-laki bermata cokelat itu.“Gak usah, aku pasti temani Vanika. Nanti aku juga yang antar dia pulang,” sambar Hayden dengan wajah datarnya.“Ya sudah, aku pulang duluan ya, Van. Hati-hati selalu,” pesan Jimmy sambil menggenggam erat tangan Vanika.Sadar bahwa itu pasti menyakiti hati kekasihnya, gadis itu menarik tangannya dari genggaman tangan Jimmy. Jimmy memeluk sahabatnya itu dengan singkat.“Bye, Van,” ucap Jimmy dengan senyumnya yang hangat.“Hati-hati, Jim,” pesan gadis itu.Joe menerobos masuk

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-07
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Overthinking

    “Jangan dengar omong kosong yang gak jelas,” bisik orang yang menutup telinganya.Emily yang melihat orang itu menutup telinga Vanika langsung pergi dengan wajah yang terlihat kesal.“Kak Jonathan!!” seru Akifa dengan wajah senang.Vanika melihat siapa orang yang menutup telinganya sekaligus berbisik tepat di telinganya. Orang itu Joe.“Jonathan? Kenapa kamu panggil dia Jonathan?” tanya Vanika pada adik kelasnya itu.“Semua anak di kelasku panggil Kak Joe itu Jonathan,” jawab Akifa.“Jonathan? Lumayan,” balas Joe dengan senyum.Ia duduk seperti seorang laki-laki. Ia tidak memakai roknya. Ia memakai kemeja lengkap dengan rompi abu-abu dan celana panjang yang biasa ia pakai untuk latihan memanah. Kancing bagian atas kemejanya terbuka dan bagian bawah kemajanya keluar dari celananya begitu saja. Bahkan, ia tidak memakai dasinya.“Ke mana dasi kamu?” tanya Vanika.“Ada, nih, di saku,” Joe menunjukkan dasinya yang ia simpan di saku celananya.“Eh kenapa mata kamu bengkak, Akifa?” sambung J

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-07
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Tempat Rahasia

    Pak Adrian menatapnya memastikan bahwa gadis itu sudah tidak merasakan sakit di kakinya. Tidak lama kemudian Hayden dan Joe menghampiri mereka.“Saya sudah tidak apa-apa, Pak,” jawab Vanika.Aneh. Mereka tidak dekat, tapi ia merasa tidak asing dengan tatapan pria muda itu. Ah mungkin dulu mereka pernah bertemu di suatu tempat, pikir Vanika.“Tenang, Pak. Ada saya dan Hayden. Bapak bisa percaya kami berdua,” ujar Joe.“Saya tadi perhatikan kamu dari jauh jadi saya langsung bergerak cepat ketika kamu kesakitan,” kata guru PPL itu kepada gadis di hadapannya.“Tenang, Pak. Ada kami,” tambah Hayden.“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa hubungi saya ya,” pesan Pak Adrian.“Baik, Pak,” jawab gadis itu.Guru itu pergi meninggalkan mereka. Joe melihat kaki Vanika dan berlutut sambil memijat-mijat bagian yang tidak dikompres.“Katanya dia perhatikan kamu,” goda gadis tomboy itu.“Ah, dia ‘kan guru. Tadi dia juga bilang begitu ke Satrio,” balas Vanika.“Kamu harus hati-hati. Jangan-jangan dia itu ti

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-09
  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Hamlet

    Vanika melihat kekasihnya dengan hati yang sedikit terasa sakit. Laki-laki di sebelahnya baru saja mengatakan bahwa ia dan Emily memiliki hubungan yang begitu dekat. Bahkan lebih dekat dari hubungan persahabatan. Gadis berambut cokelat tua itu hanya diam dan tidak mengatakan apapun.“Waktu itu Emily pindah ke sekolahku. Usia kami waktu itu 9 tahun. Dia pindah dari ibu kota dan dia sulit adaptasi dengan lingkungan baru. Dia sering kelihatan sendiri dan gak begitu pandai bergaul. Kedua ibu kami ternyata bersahabat sejak SMA dan akhirnya ibunya sering menitipkan Emily kepada aku. Aku mencoba jadi sosok teman yang baik untuk dia. Dia anak tunggal yang sering ditinggal orang tuanya bekerja dan aku berusaha jadi sosok saudara yang baik juga untuk dia,”Vanika memperhatikan cerita kekasihnya dengan teliti dan penuh perhatian.“Semuanya bertambah buruk saat ibunya meninggal. Saat itu kami masih berusia 12 tahun. Emily yang pada dasarnya sering merasa kesepian langsung merasa terpuruk. Ayahnya

    Terakhir Diperbarui : 2022-10-12

Bab terbaru

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Somebody That I Used to Know

    “Aku gak tahu kalau Erika adalah pemilik rumah pohon di daerah atas itu,” ujar Adrian yang berjalan beriringan dengan Joe dari arah halaman belakang menuju meja makan.“Ya, keluarganya membeli tempat itu,” jawab Vanika yang sedang mempersiapkan makanan di meja makan yang berukuran besar dan memanjang itu.“Dan akhirnya tempat itu menjadi area bermain Erika,” sambung Joe sambil mengeluarkan sebuah kursi makan dan duduk di atasnya.“Ya, kurang lebih begitu,” jawab Vanika lagi.“Lalu kenapa kalian sampai keluar dari area itu dan memasuki kawasan milik orang lain?” tanya Adrian sambil memandang kekasihnya.“Kami gak begitu yakin. Lagipula aku gak mau ke sana lagi. Pria itu mungkin pemiliknya atau tinggal di dekat sana. Dia juga kelihatannya begitu misterius,” jawab kekasihnya dengan tegas.“Itu hanya perasaan kamu saja,” balas pria berparas tampan itu dengan senyum tipisnya.“Semua orang tua, terutama pria tua, terlihat sama saja di mataku,” ujar Joe dengan wajah yang tidak acuh.“Kami ga

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Misterius

    Vanika takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah telaga. Telaga dengan air yang jernih dan air terjun yang berukuran tidak begitu besar. Airnya begitu jernih sehingga cahaya matahari menyeruak ke dalamnya dan mereka dapat melihat bagian dasar di bagian yang dangkal. Di dasar telaga terdapat banyak batu berwarna putih yang terlihat indah seperti bebatuan yang biasa kita lihat di berbagai macam tayangan bertema alam.Udara di lingkungan itu begitu sejuk dan banyak tanaman yang rindang. Tempat tersebut terlihat seperti tempat yang belum terjamah. Lebih tepatnya terlihat seperti tempat di kisah-kisah fairytale atau mungkin dongeng tentang petualangan yang biasa kita dengar pada saat sebelum tidur.Tempat tersebut didomonasi oleh warna hijau yang menyegarkan mata. Vanika menengadahkan kepalanya dan menatap langit. Langit berwarna biru cerah dengan gumpalan awan yang terlihat seperti kapas yang berwarna putih bersih. Perpaduan pemandangan langit yang cerah dan suasana di sekitarnya yang pen

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Holiday House pt.3

    Vanika terdiam membisu dan kebingungan.I have a bad feeling, pikirnya.Vanika tersenyum tipis kepada kawannya. Ia sama sekali tidak ingin merusak suasana hati Erika yang sedang bahagia. Kendaraan mereka mendekati sebuah bukit yang dikelilingi sebuah pagar berwarna gelap.Pemandangan itu sangat tidak asing bagi Vanika. Gerbangnya yang besar itu terbuka secara otomatis. Mobil melewati pagar itu dan melaju terus ke atas. Jantung Vanika berdebar-debar. Kedua matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuatnya semakin gugup.Tempat di mana dia sering menghabiskan masa remajanya dengan seseorang yang pernah ia cintai ada di depan matanya. Hampir tidak ada yang berubah dari tempat itu. Tempat di mana Hayden pertama kali melihatnya menangis. Tempat itu juga menjadi tempat pertama yang akan dikunjungi mantan kekasihnya itu saat ia tidak punya tempat mengadu.Tempat itu adalah rumah pohon peninggalan mendiang sang ayah dari Hayden Irawan dan sekarang tempat itu menjadi milik keluarga Erika. E

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Holiday House pt.2

    “Sudah sekian lama kita tidak bertemu, Vanika,” ujar wanita ber-lipstick merah itu.Wanita tersebut bangkit dari tempat duduknya. Vanika pun melakukan hal yang sama tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang sudah berumur itu. Wanita itu memeluknya dengan perasaan yang haru karena sudah sekian lama mereka tidak bertemu. Bahkan, mereka akhirnya tidak sengaja bertemu di tempat dan waktu sama sekali tidak pernah mereka duga sebelumnya.Vanika sulit untuk mempercayai siapa yang saat ini muncul di hadapannya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ialah Nyonya Irawan, ibu dari Hayden yang pernah dicintainya.“Apa kabarmu, Nak?” tanya wanita cantik itu.“Baik, Bu. Bagaimana kabar ibu?” tanya Vanika seraya membalas pelukannya yang erat.“Saya semakin tua, Vanika. Kamu sedang apa di sini?” tanya Bu Irawan dengan kedua matanya yang menatap Vanika dengan antusias.Tangan wanita bertubuh kurus itu menarik Vanika agar duduk di sebelahnya. Vanika duduk bersebelahan dengan Bu Irawan di kurs

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   He Has Got a New Ingénue

    “Van,,, ummm,,, kalau aku dan Clarissa mendahuluimu gimana?” tanya Jimmy pada sahabatnya.“Wah? Serius? Kamu yakin?” ujar Vanika yang sulit untuk mempercayai hal yang baru saja ia dengar.“Aku yakin. Aku pikir kami sudah siap,” jawab sahabatnya dengan mantap.“Rencananya kapan?” tanya wanita muda itu lagi.“Aku pikir tahun depan adalah waktu yang tepat, tapi aku ingin bertemu orang tua kalian secepatnya,”“Benarkah? Ah, aku gak pernah menyangka akan jadi keluargamu,”Vanika yang terharu memeluk Jimmy layaknya saudara. Sulit dipercaya bahwa mereka sudah sedewasa ini.“Maaf ya,” ucap Jimmy pada Vanika.“Kenapa kamu harus minta maaf? Santai saja,” jawab Vanika yang tersenyum dengan hangat.“Wah ada apa ini? Kenapa situasinya aneh begini?” ujar Adrian yang mendekati mereka.Vanika menarik tangan kekasihnya dan berkata dengan nada yang pelan. Hampir seperti berbisik.“Jimmy akan menemui orang tuaku dan Clarissa,” bisiknya.“Benarkah?” tanya pria jangkung itu sambil merangkul Jimmy yang ter

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   The End Has Coming

    “I see your face in every scene of my dreams, and I hear your voice in every sound. I wish I did not. It is too much what I feel. They say such love never lasts”(Thomas Hardy – The Return of the Native)“Apakah Adrian tahu kamu pergi menemui aku?” tanya pria muda itu.“Gak, Hayden. Dia gak tahu,” jawab wanita muda yang duduk di hadapannya.“Apa kamu sudah memikirkannya?” tanya pria itu lagi sambil memajukkan tubuhnya.“Memikirkan apa?” Vanika bertanya balik dengan wajah yang kebingungan.“Van, aku pikir kita bisa memperbaiki semuanya. Do you love me?”“Sometimes I do,,, sometimes I don’t,”“Vanika, I’m the one who wants to love you more. I know you. You always want to be loved to madness,”So whenever you ask me again how I feelPlease remember my answer is youEven if we have to go around a long wayI will still feel the sameWe’ll be alrightI want to try again(d.ear ft. Jaehyun – Try Again)“Hayden, aku pikir ini adalah momen yang tepat untuk mengutarakan pendapatku,” ucap Vanika

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Climax

    “Ada apa, Adrian?” tanya Vanika dengan wajah yang tidak acuh. Wajahnya yang pucat menjadi merah padam. Wajah yang sama sekali tidak acuh seolah-olah selama ini dia telah dikhianati. Wajah yang seolah-olah tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat ia percaya. Pria itu hanya berjalan mendekat dan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Wanita muda itu duduk di sebuah bangku sambil memasukkan semua barangnya ke dalam ranselnya. Ia juga sibuk mengikat rambutnya yang terurai tidak beraturan. Pria bertubuh jangkung itu duduk dengan tenang dan memberikan sekaleng minuman bersoda kesukaan kekasihnya. Vanika mengambilnya dengan perlahan dan menggenggamnya erat-erat dengan canggung. Mereka tidak saling berpandangan dan fokus dengan minuman mereka masing-masing. “Kelihatannya kamu kelelahan,” ucap pria muda itu yang mencoba mencairkan suasana yang tidak mengenakkan itu. “Aku gak kelelahan,” jawab wanita muda itu yang kemudian lang

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Playing With Fire

    Kedua mata indah nan gelap itu menatapnya dengan tajam. Tatapannya membuat jantung wanita muda itu berdegup dengan kencang. Vanika hanya diam terpaku. Membeku dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Lidahnya terasa begitu kelu.“H,,, hay,,, hayden?” ucapnya dengan gugup.Pria muda itu tersenyum hangat. Namun, Vanika hanya menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia meraih plester yang disodorkan kepadanya dan terdiam kebingungan. Hayden duduk tepat di sebelahnya. Mereka duduk dengan posisi yang persis sama dengan posisi duduk mereka beberapa tahun lalu.“Apa kabarmu, Van?” tanya Hayden.“Baik. Kapan kamu kembali ke sini?” balas Vanika dengan canggung.“Beberapa waktu lalu,” jawab pria rupawan itu yang dibalas oleh sebuah anggukan kepala wanita yang duduk di sebelahnya.“Sini aku bantu pakaikan plester di lukamu,” ujar pria muda itu yang langsung berlutut di hadapan wanita muda itu.“Ahh jangan. Gak usah. Aku bisa sendiri kok,” tolak wanita berambut ikal itu.“Kamu memang cocokn

  • Seseorang Yang Pernah Aku Kenal   Storm's Coming

    Wanita itu berdiri terpaku. Kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Ia benar-benar tertegun dengan hal yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.Di dekat pintu masuk, sahabatnya berdiri. Sahabat yang sudah ia kenal sejak kecil. Sahabat yang sudah lama tidak ia temui. Sekarang sahabatnya telah menjadi pria dewasa yang tampan. Pria itu membawa sebuah tas berisi bingkisan di tangannya.“Emily,” sapa pria muda itu.Emily berlari dan memeluk pria itu dengan perasaan haru. Pria muda itu memeluknya dengan erat.“Happy anniversary, Em. Maaf aku gak bisa datang ke pernikahanmu tahun lalu,”“No, it’s okay. Lagipula aku hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat,”“Ini untuk kamu,” ucap pria itu seraya memberikan sebuah tas yang berisi sebuah bungkusan.“Thanks, Hayden,” jawab wanita muda itu dengan senyum yang hangat.Hayden duduk berhadapan dengan sahabatnya. Ia menyesap secangkir kopi hangat. Wajah Emily terlihat begitu gembira karena kedatangan sah

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status