Meera meletakkan ponselnya di atas kasur setelah menerima panggilan aneh dari nomor tak dikenal. Dia mendesah pelan, kesal karena tak tahu siapa yang menelepon. Tepat pada saat itu, terdengar ketukan pintu, diikuti oleh kemunculan kakaknya yang tiba-tiba.
“Ada apa?” tanyanya, berjalan mendekati Mateo. "Kau terlihat kesal," Mateo menyimpulkan dari ekspresi wajah sang adik. Meera melipat tangan di dada, menahan rasa frustrasi yang masih membayang. "Nomor asing meneleponku. Ketika kuangkat, tak ada suara. Lalu, panggilannya tiba-tiba terputus." "Aku memberi nomormu pada seorang pelanggan wanita. Mungkin dialah orang yang meneleponmu," jawab Mateo. Mengingat percakapan mereka sebelumnya, Meera langsung menyadari siapa yang mungkin meneleponnya. "Kenapa Kakak tak bilang padaku? Aku sampai penasaran setengah mati." Mateo menghela napas panjang. Itu adalah sesuatu yang ingin dia sampaikan sejak tadi, tapi pembicaraan mereka terputus ketika Meera pergi. "Sebaiknya kau beristirahat. Besok kita akan sibuk melayani pelanggan. Malam tahun baru selalu ramai, banyak orang keluar untuk makan." "Padahal hanya satu menu, tapi bisa sangat sibuk?" Meskipun mengeluh, Meera akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kakak juga harus istirahat." Mateo menutup pintu kamar Meera, lalu berjalan menuruni tangga. Dia menuju dapur kembali, mempersiapkan bahan-bahan untuk esok hari. Selama beberapa waktu, dia mencuci bahan, menyiapkan bumbu, dan membersihkan bagian-bagian dapur yang menurutnya perlu diperhatikan. Jam sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam, tapi Mateo belum merasa mengantuk. Dia menarik salah satu kursi pelanggan dan duduk di sana. Satu batang rokok dikeluarkannya dari saku, dinyalakan, lalu diisapnya perlahan. Dalam keheningan malam, pikirannya melayang pada kenangan tentang mendiang ibu mereka. Penyesalan kembali menghantui, membawa bayang-bayang masa lalu yang suram. Dulu, rasa sakit dan derita seolah mencekik setiap detik, tapi waktu telah menelan sebagian dari beban itu. Kini, satu-satunya alasan Mateo terus bertahan adalah Meera. Adiknya masih harus hidup dan menemukan kebahagiaannya. Mateo tetap duduk diam di meja pelanggan, merenung, sampai asbak di depannya penuh dengan puntung rokok. Tersadar dari lamunannya, dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu lebih. Meskipun masih belum mengantuk, dia memutuskan untuk beristirahat. *** Keesokan harinya, malam mulai menjelang, sesuai perkiraan Mateo, pelanggan datang silih berganti. Bukan hanya Meera yang tak sempat beristirahat, sang koki pun. Jumlah pelanggan jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Mungkin restoran kecil ini mulai dikenal, meskipun pertumbuhannya lambat. Meera memperhatikan sekeliling, menyaksikan para pelanggan sibuk menyantap makanan sambil tertawa dan bercengkerama. Di luar, antrean semakin panjang, dan tak ada meja yang kosong. Mereka harus segera menemukan solusi untuk masalah ini. “Kami ingin membayar!” Teriakan seorang pelanggan menarik perhatian Meera. Meera segera bergegas ke meja kasir dan menyelesaikan urusan pembayaran. Namun, belum sempat dia beranjak, suara pelanggan lain memanggil. "Tambahkan nasi untuk kami!" teriak seorang pelanggan sambil mengangkat tangan. Meera, yang masih sibuk di kasir, segera memberikan uang kembalian dan bergegas ke belakang untuk mengambil nasi. Namun, ketika sampai di dapur, dia tersadar bahwa nasi sudah habis. Sementara itu, Mateo tetap tekun memasak, tak terganggu oleh kebisingan di luar. “Kakak, bagaimana kalau kita tutup saja restoran ini?” usul Meera dengan nada frustrasi. Mateo menatapnya heran. "Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan di saat seperti ini. Lebih baik kau melayani pelanggan di luar." "Di luar sudah kacau karena banyaknya pelanggan. Kalau Kakak tahu akan seramai ini, kenapa tak merekrut pegawai tambahan?" "Mana nasinya?!" suara pelanggan tadi terdengar lagi, lebih keras. Meera mendengus, lalu mulai mencuci beras untuk dimasak. Sambil bekerja, dia tetap berbicara, "Aku harus menjalani dua peran sekaligus, sebagai pelayan dan kasir. Kita butuh tambahan tenaga agar pekerjaan lebih efisien. Biar aku yang mengurus kasir." "Ini bukan waktu yang tepat untuk merekrut. Kita tak bisa gegabah. Ada persyaratan kerja yang harus mereka penuhi. Lagi pula, siapa yang melamar pekerjaan tepat di malam tahun baru? Sudahlah, kalau pelanggan tak sabar, biarkan mereka pergi." Perkataan Mateo hanya membuat Meera semakin kesal. Baginya, sikap kakaknya yang acuh tak acuh seperti inilah yang membuat usaha mereka sulit berkembang. Meskipun demikian, dia menyelesaikan urusan memasak nasi dengan cepat dan kembali ke kasir. Alih-alih melayani pelanggan, Meera merobek selembar kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Dengan hati-hati, dia menempelkan kertas itu di kaca depan restoran. Jika kakaknya tak mau merekrut pegawai, maka dia sendiri yang akan melakukannya! Tiba-tiba, seorang pria bertubuh kekar mendekat. "Hei, Gadis Cilik! Aku sudah bilang mau nasi. Apa kau tak mendengarnya? Atau kau pikir aku hanya pajangan di sini?" "Ma—maaf ...." Meera tergagap, takut dihadapkan dengan pria berpenampilan seperti preman. “Apakah kalian benar-benar berniat berbisnis?” Pria itu menatapnya dengan tampang mengancam. Suasana yang sebelumnya riuh mendadak sunyi, semua perhatian tertuju pada mereka yang berdiri di depan pintu. Hanya suara desis minyak dari dapur yang terdengar, jadi Mateo tak menyadari keributan di luar. "K-kami akan—" "Hei, Pria Buruk Rupa!" Suara dari belakang memecah ketegangan. Mata semua orang tertuju pada dua wanita yang tiba-tiba muncul. Salah satu dari mereka berbicara lagi, "Apa kau punya hobi menindas anak kecil?" “Dua wanita datang untuk ikut campur? Tak takut kalau kami keroyok?” Teman pria itu ikut menantang.Semoga kalian selalu sehat~
Serina menarik lengan sahabatnya, mencoba menariknya menjauh, tapi Hillary mengabaikan usaha itu. Dia tetap bersikeras untuk menghadapi pria bertubuh kekar di hadapan mereka. Bukan hanya satu, di belakang pria itu berdiri beberapa lainnya, seolah membentuk barisan yang mustahil dihadapi oleh tiga wanita. Ting! Suara bel di meja kasir terdengar, menandakan pesanan sudah siap. Hanya sebuah tangan yang terlihat saat koki dapur memberikan tanda, dan ketika tak kunjung menerima respons, koki tersebut mengintip dari balik kain yang menutup bilik dapur. Mateo menangkap ekspresi ketakutan di wajah adiknya. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres di rumah makan mereka. Tanpa ragu, dia mematikan kompor dan melangkah menuju sumber masalah. “Ada apa?” tanya Mateo kepada adiknya. Meera ketakutan setengah mati, segera bersembunyi di belakang tubuh kakaknya. "Kak, pria ini mencoba melakukan hal jahat padaku." Mateo menatap pria di hadapannya, yang tampaknya tak sendiri. "Apa ada masalah?" Pelang
Teriakan itu mencapai telinga Serina dan Meera, memaksa keduanya bergegas menuju asal suara. Mereka menemukan Hillary tengah berhadapan dengan Mateo, yang tampak canggung di ambang pintu kamar kecil. “A-apa yang kau lakukan di kamar kecil?!” suara Hillary bergetar. “Memangnya apa yang biasanya orang lakukan di kamar kecil?” Mateo menjawab dengan nada datar, tak paham dengan maksud pertanyaan Hillary. "Kau tadi ...! Kau bergetar! Berguncang!" Mateo hanya merasa lega setelah buang air kecil, karena dia menahannya begitu lama akibat pekerjaan dapur yang tak bisa ditinggalkan. Dia tak pernah menyangka seseorang akan masuk, di saat dirinya memiliki kebiasaan buruk tak mengunci pintu kamar kecil. Sadar tak diperhatikan aksi protesnya, Hillary mengikuti arah pandangan Mateo. Dia dengan cepat menyadari bahwa dada basahnya yang kini terlihat menerawang menjadi pusat perhatian. Dalam sekejap, wajahnya berubah marah dan tanpa ragu melayangkan tamparan keras ke pipi Mateo. Plak! Suara tamp
Mateo baru saja menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Sesuai dengan rencana yang disepakati semalam, pagi ini dia akan mengunjungi The Pearl Villa. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat itu sekitar satu jam, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 08.32. Mateo berencana tiba lebih awal untuk memeriksa lokasi terlebih dahulu, berjaga-jaga kalau nanti Serina adalah wartawan licik yang berusaha menjebaknya, persis seperti apa yang pernah dialaminya. Sebenarnya, alasan Mateo enggan membicarakan masa lalunya di rumah makan tak semata-mata karena adiknya. Dia memiliki agenda tersendiri, agar mereka yang begitu penasaran tak lagi berani menginjakkan kaki di rumahnya. Meskipun bertentangan dengan prinsipnya yang tak suka melawan wanita, kali ini dia harus melakukannya. "Kakak, pagi-pagi begini mau pergi ke mana?" suara Meera membuyarkan lamunan. Mateo sejenak terdiam, memikirkan jawaban yang tepat. "Aku mau berjoging," sahutnya. Meera tak menunjukkan kecurigaan, karena memang kakaknya
Hillary terbaring di ranjang, tubuhnya terikat erat hingga tak mampu bergerak, dengan mulut terbungkam rapat. Tenaganya mulai terkuras oleh perlawanan yang sia-sia. Melihat tatapan penuh kesombongan Hillary, Mateo yang sebelumnya tak berniat melepaskannya kini tergoda untuk menarik kain yang menutupi mulutnya, membiarkannya akhirnya berbicara. "Kau sudah gila?! Lepaskan aku!" bentak Hillary, tubuhnya terus menggeliat. "Tidakkah kau tahu betapa gerahnya berada di sini? Aku bahkan kesulitan bernapas!" Mateo menatap tubuh yang terbungkus selimut itu dengan ekspresi datar. "Kau sebaiknya berhenti bergerak, itu hanya akan membuatmu semakin sulit bernapas. Cobalah untuk tetap tenang dalam kondisi terburukmu." "Apa kau pikir ini waktu yang tepat untuk memberiku nasihat?" sahut Hillary dengan kesal. Hillary tak berlebihan, dia benar-benar merasa kepanasan. Peluhnya mengalir deras, membuat dunianya semakin terasa pengap. Hingga akhirnya, dia terpaksa mengikuti saran Mateo dengan tak banyak
Mateo mengertakkan giginya, mencoba menahan amarah yang kembali membara. Kenangan pahit yang selama ini dia kubur dalam-dalam terpaksa dia ungkapkan demi membuat Serina menjauh darinya. "Beberapa kali mereka menjebakku, memaksaku terlibat dalam tindak kriminal. Mereka juga mengikatku selama lebih dari sebulan di sebuah ruangan gelap," suaranya rendah dan penuh kebencian. "Tak ada makanan, hanya sebotol air setiap kali mereka datang. Tak ada izin untuk keluar, bahkan sekadar untuk buang air. Akibat perlakuan mereka, aku nyaris jatuh ke dalam kondisi vegetatif setelah dirawat dengan diagnosa malnutrisi yang parah." Serina merasakan getaran di bibirnya, menahan rasa ngeri yang mulai merayap saat membayangkan keadaan menyedihkan itu. "Kenapa mereka melakukan semua itu?" tanyanya. "Apa lagi alasannya? Mereka ingin aku bicara, ingin menjebakku dengan tuduhan-tuduhan palsu yang sudah mereka rancang." Serina mengepalkan tangannya erat, berusaha agar tak terpengaruh oleh kata-kata Mateo yan
Serina menunjukkan berkas yang dicarinya dalam beberapa hari ini, wajahnya tegang. Mencari informasi tentang Mateo Paiton bukanlah tugas yang mudah. Berulang kali dia harus bolak-balik ke kantor polisi hanya untuk memastikan kebenaran dari setiap serpihan data yang dia temukan. "Apa ini?" tanya Stuart—redaktur pelaksana di Meteor Media, dengan alis yang terangkat. "Seharusnya aku yang bertanya! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal sepenting ini?!" Stuart memandang Serina tanpa bisa memahami amarahnya. Dia meraih berkas yang dilemparkan Serina ke atas meja, membukanya, dan mulai membaca. Ekspresinya berubah seiring halaman yang dibalik. Wajahnya menegang ketika dia selesai membaca. "Dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanya Stuart. "Bukan dari mana aku mendapatkannya yang penting, yang perlu kau pikirkan sekarang adalah bagaimana kalian memperlakukan klien! Kau tahu? Aku bahkan membela kalian! Betapa bodohnya aku telah percaya sepenuhnya pada kalian ...." Suara Serina melemah
Bellmira mengupas kentang, memotongnya berbentuk dadu. Tidak lupa wortel dan juga brokoli dipotong dengan besaran yang kira-kira juga sama. Hari ini dia akan membuat sup yang berisikan ketiga sayuran tersebut. Gerakan tangan yang memotong bahan terhenti ketika sayup terdengar suara dari luar. Dia melepaskan celemek dan meninggalkan masakannya sebentar untuk melihat siapa yang membuat keributan kala rumah makan mereka tidak menerima pelanggan. Semakin lama suara itu semakin jelas. Bellmira dapat menilai kalau yang memanggil-manggil nama kakaknya adalah seorang wanita. Sampai ketika berhasil membuka pintu, tebakannya ternyata benar kalau yang datang adalah dua orang wanita yang pernah bekerja di rumah makan mereka beberapa waktu lalu. "Bukankah ...." Bellmira sudah mendengarnya dari sang kakak kalau mereka tidak boleh lagi berurusan dengan dua orang wanita ini. Pintu yang akan segera ditutup membuat Serina segera menahannya. Mereka saling bertolak belakang dengan B
Hillary menatap enggan keadaan pasar yang dipenuhi tanah bercampur air. Semua orang melenggang begitu saja menginjakkan kaki di sembarangan tempat dan tidak peduli dengan kaki yang sudah kotor. Dia akan terlihat seperti berada di kolam lumpur bersama kawanan kerbau jika benar-benar membuat langkahnya memasuki pasar. "Kau bisa menunggu saja di sini. Tidak ada keharusan untuk ikut," ucap Mateo, tidak menunggu lagi untuk melanjutkan langkahnya masuk ke dalam pasar. Hillary memperhatikan sekeliling dan yang dia lihat hanyalah orang-orang asing. Dia juga beberapa kali harus bergeser untuk memberikan jalan, terlebih pada pedagang yang mendorong gerobak. Di luar pasar atau di dalam pasar keadaannya tetap sama, tidak nyaman sama sekali. Hillary ingin kembali, akan tetapi perjalanan akan begitu jauh untuk ditempuh seorang diri dengan berjalan kaki. Meskipun dia cukup berani untuk menghadapi para preman yang mungkin menghadang, kekuatannya tetap akan kalah jika mereka datang s
Serina mematikan televisi tidak lama setelah siaran wawancara singkat usai. Dia tidak bisa memikirkan cara apa pun untuk mengorek informasi dari Lemuel, bahkan pria itu dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik.Stuart juga ada di sana, menyaksikan hal yang sama tadinya. Setelah selesai menonton, dia pun berkata, "Sekarang kau membuat orang-orang bersimpatik padanya. Apa sebelum mewawancarai, kau tidak memikirkan soal dia yang akan menjawab dengan sangat baik?"Ponsel Serina berdering. Dia mengangkat panggilan telepon begitu saja. "Halo?""Halo, Wartawan Serina."Serina seketika menjadi tegang saat mendengar suara di seberang sana. Dia melihat kembali sejumlah nomor tidak tersimpan yang ada dalam layar, tidak menduga kalau dia akan dihubungi oleh Lemuel."Anda pasti terkejut, karena saya menghubungi begitu tiba-tiba.""Ah, ya ... saya tidak pernah menduganya."Serina keluar dari ruangan, meninggalkan raut kebingungan di wajah Stuart. Dia mencari sudut yang aman untuk mereka bicara,
Serina mencebik, tidak suka dengan Stuart yang memberikannya pekerjaan secara tiba-tiba, bahkan dia tidak jadi ditraktir oleh Mateo, karena harus singgah ke Meteor Media untuk menyelesaikan beberapa hal."Aku sedang sibuk menyelesaikan proyek besar dan kau selalu menambah pekerjaanku. Bukankah gajiku yang sekarang tidak akan sepadan dengan kesetiaanku terhadap perusahaan ini?""Sibuk bagaimana? Kau belum memperlihatkan kemajuan apa-apa selama satu minggu ini," ucap Stuart.Serina mengernyitkan alis. "Itu karena kau terus-menerus memberikan pekerjaan yang begitu banyak padaku!""Kau yakin bukan karena Mateo yang harus melindungi sahabatmu? Mungkin kau perlu diingatkan pada tugasmu yang sesungguhnya yaitu mencari informasi mengenai pembunuhan yang melibatkan tuan Conor. Jangan sampai tujuanmu berubah arah menjadi yang lain."Stuart melemparkan dokumen yang dibacanya sejak tadi ke atas meja. "Kita tidak punya waktu untuk bermain-main, Serina," ucapnya, kemudian keluar dari ruangan.Serin
Serina meletakkan kedua belah tangan di pinggang, menatap sepeda motor yang akhirnya menjadi pilihan. Dia sudah menghubungi sang sahabat untuk persoalan biaya dan sekarang sedang menunggu respons Hillary."Kau yakin dengan pilihanmu? Hillary tidak akan senang mendengarnya.""Yang aku perlukan hanyalah sepeda motor, mahal atau tidak bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan. Selama mesinnya bisa berfungsi dengan baik, maka itu sudah cukup.""Tapi sekarang bukan mahal atau tidak mahal sebagai pilihanmu, tapi baru dan tidak baru. Bagaimana jika keputusanmu diubah? Kita akan membeli yang baru, bukan yang bekas."Tepat pada kalimat terakhir, Mateo menerima telepon. Dia melihat ke arah Serina yang menatap bingung padanya, lantas dia mengangkat panggilan tersebut."Halo?" Mateo berkata."Kau ingin agar aku berutang budi padamu sampai mati?"Serina mendengar suara sang sahabat dari ponsel Mateo. Dia melipatkan tangan di dada sambil berekspresi tidak peduli, sudah tahu kalau hal seperti ini akan
Dua hari tersisa, Mateo hanya berjaga di sekitar The Pearl Villa. Hillary tidak mengerjakan aktivitas apa pun di luar kediaman selama memulihkan diri, mungkin benar-benar sudah memutuskan hidup dengan baik.Bahkan, akibat kondisinya yang buruk di pertengahan pesta kemarin, Hillary sampai memanggil dokter keluarga ke vila, hal yang sudah lama tidak dilakukan karena sebelumnya dia yang menghampiri sang dokter supaya meresepkan obat untuknya ketika usus buntu meradang.Mateo menoleh ke lantai dua, mendapati Hillary sedang berbicara dengan sang dokter. Saat ini dia mengambil waktu untuk merokok sebentar, tiba-tiba jadi terpikirkan mengenai hal apa yang akan dilakukannya setelah masa kerja menjadi pengawal selama satu minggu usai.Beberapa batang rokok habis bertepatan saat sang dokter muncul di lantai bawah, tampak sudah akan pergi. Mateo menoleh lagi ke arah jendela besar yang diketahuinya merupakan milik kamar Hillary. Wanita itu sedang melihat pula ke arahnya, langsung berpaling dan pe
Perkataan Mateo membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Nick agaknya merasa dipermalukan, citranya telah berubah menjadi orang yang sangat menjengkelkan.Hillary berpikir bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk berurusan dengan Nick. Dia segera menarik Mateo untuk pergi dari sana, selanjutnya sambil terhuyung-huyung berjalan ke sisi dinding.Hillary berusaha tetap berdiri tegak, berhenti sebentar untuk mengambil napas. Beberapa menit berlalu hanyalah waktu tanpa kata."Maaf, karena membawa urusan pribadi Anda ke tengah acara. Saya melihat bahwa Anda merasa tidak nyaman sejak tadi dan membutuhkan cara untuk pergi dari aula.""Kau tahu dari mana kalau Nick mengirimkan buket padaku setiap hari?""Sekretaris Anda berbicara mengenai buket yang dikirim setiap pagi oleh orang yang sama dan katanya Anda sering kali merasa jengkel. Saya melihat siapa pengirimnya untuk berhati-hati dengan orang itu suatu saat nanti. Ternyata pertemuan ditakdirkan begitu cepat. Saya berharap dia tidak
Sampai esok hari, Bellmira tetap mengeluhkan kesalahan sang kakak di matanya. Dia terus membuat pilihan antara Serina atau Hillary. Padahal, Mateo tidak memiliki hubungan istimewa apa-apa terhadap dua wanita itu."Mereka berdua adalah sahabat dekat yang aku dengar dari cerita kak Serina. Kakak seharusnya tidak memecah belah persahabatan mereka dengan mendekati keduanya sekaligus.""Aku tidak melakukan pekerjaan seperti itu. Berhentilah mengatakan yang tidak-tidak sebelum aku terlambat.""Memangnya Kakak akan ke mana?" Bellmira baru sadar akan setelan pakaian formal yang dikenakan kakaknya. "Dari mana Kakak mendapatkan pakaian itu?"Mateo sudah lama sekali tidak menatap dirinya dari atas sampai ke bawah. Ternyata rasanya tetap sama, tidak pernah terbiasa. Dia lebih menyukai baju kaos dengan jaket hoodie ketimbang kemeja dengan jas."Apa aku sudah terlihat rapi?" tanya Mateo.Bellmira menganggukkan kepala. "Pilihan yang sangat bagus. Itu cocok sekali dengan Kakak. Memangnya akan ke mana
Hillary dapat merasakan kepedihan dari setiap perkataan yang didengar. Dia saja sangat sedih mengantarkan kepergian sang ayah, lebih menyakitkan lagi jika tidak ikut mengantarkan, karena itu adalah kali terakhir dari pertemuan. "Waktu yang baik untuk berjemur yaitu antara jam sembilan sampai sepuluh pagi. Saat itu gelombang sinar ultraviolet dari matahari sudah menjadi gelombang pendek yang aman untuk kulit. Sekarang sudah lewat dari waktu yang disarankan. Sebaiknya Anda duduk di golf cart agar tetap terlindungi," ucap Mateo, kemudian berlalu pergi. Hillary bergegas menaiki mobil golf kembali dan mengejar Mateo dengan itu. "Bukan hanya aku yang memiliki kulit. Kau tidak ingin naik juga agar kita bisa cepat sampai?" "Saya baru selesai berolahraga dan sangat berkeringat. Anda akan tidak nyaman nantinya. Lagi pula, berjalan adalah aktivitas yang sangat sehat. Saya menyarankan agar Anda sesekali berjalan ketimbang menyetir mobil." "Kau sedang mengkritik gaya hidupku?" "Saya hanya meny
Hillary bangun dalam keadaan penuh kebingungan, seperti yang dia temukan ada sesuatu yang menempeli dahi. Ditambah wadah air yang terdapat di atas nakas membuat dia berpikir kalau hal buruk mungkin telah terjadi tanpa diketahuinya. Dia beranjak keluar kamar, turun ke lantai bawah dan langsung terkejut ketika menemukan sang paman. Pria yang berada di usia 40-an itu kini sedang mempersiapkan makanan di dapur. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau di balik kesibukan sebagai pebisnis, pamannya pandai memasak. "Bagaimana Paman tidak hidup sendiri kalau hal seperti memasak saja bisa ditangani dengan baik." Haidar menolehkan kepala, dia tertawa kecil. "Itu adalah gayamu, pertama memujiku, lalu memintaku untuk menikah. Duduklah dan habiskan makananmu." "Niatku tertebak." Hillary menarik kursi, duduk di sana dan berkata, "Kapan Paman tiba?" "Tadi malam. Sesaat berada di bandara,
Saat membuka pintu kabin, Mateo mendapati Hillary tengah tertidur pulas. Dia juga tidak ada niat membangunkan, jadi dia memutuskan untuk mengendarai mobil saja menuju The Pearl Villa.Sampai di sana pun Hillary tampak tidak terusik, bahkan ketika Mateo mencoba untuk membangunkan. Mau tidak mau Mateo harus membopong Hillary ke kamar, ditemani seorang pelayan wanita sebagai penunjuk jalan.Mateo membaringkan Hillary di tempat tidur, pelayan yang mengantarkan langsung membantu melepaskan sepatu pemilik rumah sebelum menyelimuti dengan baik. Mateo sendiri tahu kalau sudah saatnya dia pulang."Ayah ...."Suara itu berhasil menghentikan niat, Mateo dan sang pelayan memandang wanita yang tampak gelisah dalam tidur. Mateo tidak beranjak sampai pelayan tersebut mendekati Hillary dan mengatakan kalau sang majikan bukan hanya sekadar memanggil sang ayah."Suhunya sangat panas. Nona sepertinya terkena demam."Mateo ingat kalau mereka tadi berusaha mencari tempat berteduh.