Share

Bab 29

Penulis: Ara putri
last update Terakhir Diperbarui: 2022-05-19 22:48:49

Najwa melangkah dengan anggun memasuki ruangan Zaki, sepanjang jalan senyum manisnya tak lepas sedikit pun, sepertinya ia sedang bahagia.

“Permisi ... Apa Kak Zaki ada?” Tanya Najwa pada sang sekretaris Zaki.

Seng sekretaris yang sudah sangat mengenal siapa gadis yang ada didepannya ini, ia tersenyum ramah.

“Ada, nona. Tuan Zaki baru saja kembali dari meeting.” Ujar sang sekretaris.

“Terima kasih, mbak.” Setelah itu Najwa langsung melangkah dengan bahagia masuk kedalam ruangan itu.

Tanpa mengetuk pintu Najwa langsung menyelonong masuk. Zaki yang sudah hafal perilaku gadis itu hanya berdecak pelan.

“Kemana sopan santun mu, Najwa. Berapa kali aku ingatkan, sebelum masuk ketuk pintu dulu!” Gadis itu menyengir malu, ia melangkah ke kursi didepan meja pria itu.

“Kan aku sudah bisa seperti itu, kenapa di permasalahkan sih?” gerutu gadis itu tak suka.

“Rubah kebiasaan buruk mu itu, bagaimana pun ini kantor.”

“Baiklah kakak sepupuku yang cerewet, lain kali akan aku ingat.” Zaki hanya mampu
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Sang pemilik Hati   Bab 30

    Hari demi hari kedekatan Najwa dan Zaki semakin terlihat, meskipun orang-orang tak akan bisa melihatnya dengan jelas, tapi sebagai seorang istri Intan dapat merasakan perbedaan itu.Zaki yang awal pernikahannya begitu romantis dan memanjakan dirinya, tapi sekarang berubah begitu jauh. Pria itu lebih sering menghabiskan waktu bersama sang sepupu. Meskipun itu atas paksaan Najwa dan juga persetujuannya, tetap saja perasaan cemburu tak bisa ia hindari.Seperti sekarang ini, suaminya kembali pulang telat seperti sebelumnya. Sudah bisa ia tebak, pasti alasan yang sama.“Mas, kamu dari mana?” Intan bertanya penuh selidik.“Tadi mas nemenin Najwa pergi ke mal. Dia merengek minta di temani.” Intan tersenyum sinis mendengar pengakuan suaminya.“Seharian bepergian berdua, memangnya dia tidak punya teman?” kali ini wanita itu tak bisa lagi menyembunyikan rasa tak sukanya.“Loh, memangnya kenapa? Wajar lah dek, seorang kakak nemenin adiknya jalan-jalan.” Jika kemarin-kemarin ia masih bisa berpik

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-20
  • Sang pemilik Hati   Bab 31

    Sudah dua hari semenjak Najwa tinggal di ramah mereka. Gadis itu cukup tahu diri untuk tak membuat Istri sang pemilik rumah kesal. Intan pun mulai berusaha berdamai dengan hatinya, ia mulai bisa menerima keberadaan gadis itu. Sejauh ini gadis itu belum berbuat macam-macam, jadi Intan tak keberatan dengan keberadaannya.Pagi ini seperti biasa Zaki akan pergi ke kantor. Pria itu sudah siap dengan pakaian rapi dan tas kerjanya yang disiapkan sang istri tercinta. Intan tersenyum manis melihat pria itu mendekat padanya yang sedang sibuk membuat sarapan pagi. Semenjak ia berhenti kerja, ia benar-benar menjadi istri yang baik untuk mengurus rumah dan suami.“Wah, kamu terlihat tampan sekali, mas.” Goda Intan membaut Zaki terkekeh kecil. Pria itu langsung memeluk Istrinya dari belakang.“Tampan karena istrinya rajin merawat suami, tapamu apalah artinya aku.” Intan terkekeh geli dengan gombal suaminya. Tapi meskipun begitu ia cukup bahagia mendapatkan kata romantis pagi-pagi dari suaminya se

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-20
  • Sang pemilik Hati   Bab 32

    Zaki melangkah kakinya masuk kedalam ruangan kerjanya. Sebagai anak pemilik perusahaan tentu saja ia harus disiplin dalam waktu agar karyawan-karyawan di kantor ini bisa ikut disiplin. Tapi akhir-akhir ini pikirannya sedikit terganggu dari pekerjaan, ia memikirkan nasib rumah tangannya yang akhir-akhir ini sering kali memanas karena kedatangan sepupunya.Zaki sendiri tak mengerti kenapa Intan begitu cemburu pada Najwa, padahal ia sudah berusaha memberi pengertian pada wanitanya itu. Bukan ia punya hubungan dengan Najwa, tapi ia hanya mencoba menjaga gadis itu selama ini.Sebenarnya dulu ia tidak terlalu peduli, tapi entah mengapa sekarang tantenya itu sering sekali meneleponnya menyuruh menjaga sang putri manjanya itu. Awalnya Zaki ingin menolak, karena ia merasa itu bukan kewajibannya. Tapi saat Sanak dari ibunya itu memohon ia merasa kasihan, ia berpikir mungkin Najwa memang butuh seorang kakak untuk melindunginya.Tapi terkadang ia juga merasa jengah dengan sikap Najwa yang begitu

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-21
  • Sang pemilik Hati   Bab 33

    “Bagus ya mas, hadiahnya.” Ucap Intan menatap suaminya yang sedang berganti pakaian. Ia berniat menyindirnya pria itu, tapi pertanyaan dari Zaki membuat hatinya kembali merasa perih.“Kamu suka?” “Suka ... Kalau boneka itu kamu beli untuk aku. Tapi sayang, suamiku memberikan untuk wanita lain!” Tangan Zaki yang sibuk mengancing bajunya langsung terhenti mendengar ucapan istrinya. “Wanita lain?” Tanya Zaki bingung.Intan tersenyum sinis. Ia terlihat santai bersandar di kepala ranjang, tapi sesungguhnya hati didalam bagaikan ditusuk-tusuk. Melihat respon Zaki yang pura-pura bingung membuat intan tertawa kecil. Apa pria ini tidak merasa bersalah?“Tentu saja ... Bukankah kamu membelinya untuk Najwa, sepupu kesayangan mu itu?”Zaki tertegun. Jadi hadiah yang ia berikan bukan Intan yang mendapatkannya, tapi Najwa. Pantas saja gadis itu bilang Makasih tadi saat ia baru sampai di depan pintu masuk.Zaki menatap istrinya. Meskipun terlihat duduk santai, tapi tatapan sinisnya membuat pria

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-21
  • Sang pemilik Hati   Bab 34

    Pukul lima sore, Zaki kembali dari kantor. Pria itu langsung menuju kamarnya.Zaki sedikit heran melihat istrinya tertidur dengan pulas, tak biasanya Intan mau tidur di sore hari. Pelan-pelan ia mendekati sang istri, ia menatapnya dari jarak dekat. Zaki terenyuh melihat wajah pucat Intan, apalagi pipi wanita itu semakin terlihat tirus, Zaki merasa hatinya tersayat melihat kondisi wanita yang dicintainya.“Dek?” Zaki mengusap pelan pipi mulus istrinya. “Ayo bangun, udah mau magrib loh,” Kali ini pria itu sedikit mengoyakkan tubuh wanita itu, tapi tak juga ada jawaban.Zaki mulai merasa kawatir, dengan sedikit keras ia mengguncang tubuh istrinya, barulah Intan mulai melenguh panjang.Zaki bernafas lega. Tadi ia sangat kawatir, takut jika ada apa-apanya dengan sang istri.“Mas ... Kamu sudah pulang?”“Mm, ayo bangun dek. Udah mau magrib, gak baik tidur lagi.”Merasa sangat malas Intan tak langsung bangun, ia memilih untuk malas-malasan. Zaki yang melihat istrinya tak mengacuhkan ucapanny

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-21
  • Sang pemilik Hati   Bab 35

    Kali ini Ferdi merasa mendapat ketenangan saat pulang ke rumah. Saat ia terbangun ia menyadari dirinya tertidur cukup lama. Ia mulai bangkit dan ingin membersihkan dirinya dikamar mandi. Saat ia melihat jam, ia terkejut ternyata dirinya tertidur hampir enam jam, sungguh luar biasa, padahal sebelumnya ia sedikit susah dalam masalah tidurnya. Mengingat sesuatu yang penting ia langsung bangkit dan menyambar handuk dengan cepat. “Sial! Malam ini ada acara, aku harus segera bersiap.” Ferdi masuk ke kamar mandi. Malam ini ia harus menghadiri pesta pertunangan teman bisnisnya, tapi malah lupa karena tertidur pulas. Bagaimana tidak, malam kemarin ia bahkan bergadang sampai subuh, bukan karena pekerjaan tapi lagi-lagi karena galau patah hati. Satu malam ia habiskan dengan merokok dan minum minuman beralkohol, meskipun yak sampai mabuk tapi mampu membuatnya kehilangan akal sesaat. Setelah keluar dari kamar mandi Ferdi langsung menyambar ponselnya, ia harus menghubungi sang asisten untuk

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-22
  • Sang pemilik Hati   Bab 36

    Cahaya yang masuk di celah-celah jendela membuat tidur seorang wanita terganggu, ia mencoba menghalau cahaya yang menyilaukan matanya sehingga tak bisa melihat. Sepertinya ia lupa menutup jendela tadi malam. Bella menggeliat pelan, saat ia merasa sesuatu menyentuh tangannya, ia menghentikan gerakannya.“Mas Ferdi?” Bella terlihat tak percaya melihat suaminya mau tidur disamping-Nya. Apa ia sedang bermimpi?Ia melihat sekeliling, Kenapa dia bisa didalam kamar bersama pria ini? Siapa yang mengangkatnya tadi malam? Pertanyaan-pertanyaan itu tak perlu ia jawab lagi, tidak mungkin bibik di bawah yang melakukannya, mana kuat wanita tua itu. Ini pasti Ferdi yang bernuat, tapi ... Apa mungkin? Memangnya sejak kapan pria ini peduli padamu.Seulas senyum terbit di bibir wanita itu, entah mimpi apa tadi malam sampai-sampai mendapatkan kebahagiaan pagi-pagi begini?Tangan Bella terangkat untuk menyentuh wajah tampan suaminya, tapi ia tak punya keberanian sebesar itu sehingga hanya mampu terga

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-23
  • Sang pemilik Hati   Bab 37

    Hari Senin kembali, seperti biasa Ferdi harus pergi ke kantor untuk bekerja. Istirahat di hari libur rasanya sudah cukup, Minggu ini ia merasa mendapatkan ketenangan dalam dirinya. Tak ada pertengkaran, Tak ada yang mengatur dirinya, Ferdi cukup senang.Memulai dari awal, tak apa-apa ia belajar untuk menerima perhatian yang diberikan Bella. Ferdi tersenyum kecil, ternyata masakan wanita manja ini lumayan enak juga. Ia merasa keputusan yang ia ambil tak salah, ia bisa mencoba dan mencoba sampai hatinya siap menerima.“Aku akan berangkat kerja,” Bella berkedip lucu, ia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap pria ini. Ferdi yang tak mendengar jawaban istrinya membuat ia berbalik.“Kamu gak ingin mengantarkan ku?”“Eh?” Bella ragu, “apa harus?” ia takut disalahkan lagi, tak ingin terulang kedua kali kebodohannya.Ferdi mendekat, ia mengambil duduk di sebelah Bella. “Aku ingin ... Kita akan mulai semuanya dari awal lagi dengan baik dan benar. Aku akan berusaha menerima keberadaan mu

    Terakhir Diperbarui : 2022-05-24

Bab terbaru

  • Sang pemilik Hati   Kisah akhir kita

    “Akhirnya, hubungan mereka menjadi sangat baik,” gumam Naila. Naila turut merasa senang melihat kebahagiaan kakak dan kakak iparnya. Meskipun pada akhirnya ia sendiri mendapatkan luka ini, tapi ia tetap saja merasa bahagia. Dengan mereka yang berhasil menyingkirkan Najwa, akhirnya keluarga baru kakaknya bisa kembali damai dan menjalani hidup dengan normal kembali.“Kamu kenapa senyum-senyum?” Tanya Bima yang muncul dari belakang Naila.“Lagi bahagia lihat mereka ... Serasi bangat kan?”Bima menganggukkan kepalanya. Ia juga merasa bahagia melihat adik perempuan satu-satunya itu bahagia. Tapi ia hanya sedikit merasa heran, tidakkah gadis ini merasa sedikit marah pada Intan?“Apa sekarang kamu membenci adikku?”Naila menarik perhatiannya dari dua sejoli itu, kembali ia menatap heran Bima.“Maksud mas Bima bagaimana?”Bima mengangkat bahunya, “barang kali aja ... Kan adikku sudah membuat mu sakit seperti sekarang ini. Jika kamu marah pun itu hal yang wajar,” Naila tersenyum mendengar pe

  • Sang pemilik Hati   masih ingin berpisah?

    Hah?Intan mengernyit tak mengerti. “Penjara? Kenapa sepenjara?” Intan semakin kesal. Suaminya pasti mencoba mengalihkan pembicaraan. “Karena sekarang mas sudah memenjarakan Najwa. Demi kamu Dan demi keluarga kita. Dia tidak akan mengganggu kita lagi.” ucap Zaki meyakinkan.Intan terkejut tak percaya. Tidak mungkin, tidak mungkin seorang Zaki akan memenjarakan sepupu kesayangannya itu kan? Intan menolak untuk percaya dengan itu.“Kamu pasti berbohong. Gak mungkin kamu tega, mas.” Intan menggeleng tak percaya.“Kalau kamu gak percaya, ayo kita ke kantor polisi sekarang.” Zaki sungguh-sungguh mengatakannya, “sudah seperti ini, tapi kamu masih tidak mempercayai suamimu?” Antara percaya dan tak percaya. Sekarang intan jadi takut, apa benar gadis itu dipenjara karenanya? Jika ia sekarang musuhnya akan bertambah banyak. Intan tak senang, meskipun gadis itu sudah banyak melakukan hal buruk padanya, tapi entah kenapa ia merasa kasian. “Aku ... Aku,” tak tahu lagi. Sekarang intan merasa bin

  • Sang pemilik Hati   Naila lumpuh

    “Bunda ... Bagaimana keadaan Naila?” Intan baru saja kembali lagi ke rumah sakit setelah ia sempat pulang untuk beristirahat sebentar. Itu mertuanya yang suruh, jika tidak mungkin dirinya tak akan beranjak sedikit pun dari buangan Naila.Tika menarik nafas panjang, dengan suara bergetar ia berkata “Naila sudah sadar, nak. Tapi ...,”“Tapi kenapa?” “Kata dokter ... Untuk sementara waktu mungkin Naila gak bisa jalan, Tan.” Tangis yang ia coba tahan akhirnya pecah juga. Melihat anaknya terbaring lemah tak berdaya hati ibu mana yang tidak terluka. Dirinya tidak ingin ini semua terjadi, tapi ia juga tak bisa menyalahkan siapapun atas takdir ini.Intan segera berlari memeluk tubuh yang terguncang hebat itu. Ia tak tega melihat ibu mertuanya menangis seperti ini. Seharusnya dirinya yang ditabrak dan terluka, mungkin tidak akan membuat orang-orang akan merasa sedih seperti sekarang ini.“Bun, maaf. Jangan menangis lagi. Ini semua salah Intan, semua gak akan jadi begini jika saj...,” Tika la

  • Sang pemilik Hati   Pembalasan untuk Najwa

    Lima belas menit berlalu, Zaki menunggu seseorang dengan tak sabaran. Tak lama Najwa muncul dari balik pintu depan tangan terikat dan dijaga oleh dua orang bodyguard berbadan kekar. Bukanya merasa bersalah, Najwa malah tersenyum senang melihat Zaki yang ada didepannya.Zaki memerintahkan anak buahnya untuk segera melepaskan ikatan tangan gadis itu agar bisa berbicara leluasa.“Masih berani tersenyum?” Zaki mengaku takjub dengan keberanian gadis ini. Entah berani atau sudah gila, Zaki sendiri tak tau apa yang dialami sepupunya ini.“Tentu saja. Sepertinya aku berhasil membuat mu tertarik untuk menemui ku,” ucap Najwa penuh percaya diri.Zaki tak percaya apa yang didengarnya. Kenapa gadis masih begitu tenang? Tapi ia yakin dibalik keterangan yang dia sembunyikan ada rasa cemas yang menghantui.“Baiklah. Setelah ini dipastikan kamu tidak akan berani untuk tertawa, bahkan bibir mu tak aku biarkan sedikit pun tersenyum! Bagaimana?!”Kali ini Najwa langsung kehilangan senyumnya. Ia menatap

  • Sang pemilik Hati   Kecelakaan 2

    Suara tabrakan membuat semua orang yang melihatnya terkejut. Intan menyentuh lutut dan kepalanya yang terasa sakit karena terbentur di jalan aspal. Saat ia mencoba bangkit dan menoleh ke belakang, ia sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat. Wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi melihat Naila terbaring di tengah aspal sana dengan berlumuran darah.“Naila!” Ia berteriak keras. Intan segera berdiri dan berlari ke tubuh Naila yang sudah mengeluarkan darah cukup banyak. “Ya Tuhan ... Kenapa jadi begini,” Intan menangis sambil memangku tubuh Naila. Melihat orang-orang yang hanya sibuk menonton dan tak ada niat untuk membantu, Intan berteriak keras meminta pertolongan.“Pak, tolong adik saya. Tolong bawa ke rumah sakit.” Intan memohon pada orang-orang yang melihat kecelakaan itu. Mereka segera menghubungi ambulance, dan setelah itu ia tak ingat apapun karena ia hanya sibuk memperhatikan adik iparnya itu.Setelah ambulance datang tubuh Naila segera di angkat masuk, Intan ikut menema

  • Sang pemilik Hati   Kecelakaan

    Intan mengungkapkan kepergian suaminya ke kantor ini disertai sedikit pengalaman. Sekali lagi pria itu tak ingin mengantarnya untuk memeriksa di rumah sakit, meskipun begitu berharap untuk ditemani suaminya. Sudah dua minggu berlalu, tapi Zaki masih bersiap-siap dingin pada Intan. Seperti pria itu sangat marah sekarang. Dan lagi, Intan tahu jika suaminya telah mendengar setiap kutipannya pada Ferdi kemarin itu. Pantas saja suaminya sangat marah. “Kak,” Intan terkejut melihat sang adik ipar yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dengan cepat menguapkan sisa air matanya. “iya… Kenapa Nai?” “Kakak habis nangis ya?” “Gak kok… Oh ya, kenapa cari kakak?”Naila terlihat bingung untuk mengatakannya, “itu ... Kakak Intan mau ke rumah sakit ya? Hari ini jadwal kakak periksakan?” “Iya”, Intan masih membukanya dengan Zaki, jadi ia tak pernah mendengar inspirasi dari Naila. “Aku aja ya kak, nemenin ke rumah sakit?” Intan tersenyum, lalu mengangguk lemah. “Gak usah Nai, kakak bisa sendiri kok.

  • Sang pemilik Hati   Cemburu

    Mereka terdiam sepanjang perjalanan menuju rumah. Tak ada seorang pun yang mau terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan, apalagi Intan. Melihat wajah marah suaminya saja ia sudah merinding. Ya, seseram itu wajah suaminya sekarang di mata Intan.Saat sampai di depan rumah, Zaki keluar dengan membanting pintu dengan keras. Intan yang masih berada di dalam mobil tak bisa lagi menahan air matanya mengalir. Apa salahnya kali ini?Selalu saja seperti ini. Marah tanpa sebab, lalu ada akhirnya hanya meminta maaf. Tapi bodohnya dia selalu saja melunak jika suaminya telah meminta maaf dengan lembut.Dan setelah merasa ia bisa menyadari dirinya, intan segera menyusul sang suami. Ia tidak ingin terlihat menyediakan di depan mertuanya, jika tidak mungkin mereka sampai tahu kecil seperti ini. Melihat rumah yang masih sepi, napas lega, segera menuju kamar dirinya dan Zaki berada. Intan membuka pintu kamar belahan, saat ia masuk saat mereka bertemu. Intan mengontrol degup jantungnya yang menggila,

  • Sang pemilik Hati   Bab 65

    “Kak Ferdi?” Intan sedikit tercengang, “aku habis Check up. Kak Ferdi kenapa ada disini?” ucap Intan basa-basi. Sejujurnya ia agak segan jika dalam situasi canggung begini.Ferdi menghampirinya, lalu tanpa permisi ia langsung duduk di bangku sebelah Intan. Sedikit agak jauh, karena memang bangku-bangku kayu itu cukup panjang.“Lagi nunggu Bella.” Jawab Ferdi. “kamu kenapa sampai begitu sering Check up? Apa sakitnya serius?”“Gak kok, Cuma periksa biasa aja.” Intan berbohong, ia tak ingin orang lain tahu kekurangannya. “Oh, ya. Bella bagaimana? Apa dia lebih baik?”Terlihat Ferdi sedikit menarik bibirnya ke atas, sepertinya pria itu sedang bahagia jikala mendengar nama Wanitanya itu. Terlihat seperti pria yang baru merasakan cinta. Apa mereka sudah bisa saling menerima?“Sudah lebih baik,”“Baguslah,” Intan memandang wajah Ferdi yang terlihat masih saja tampan di matanya. Dia tidak bohong, mantannya ini memang bisa dibilang sangat tampan, tapi sayang dia bukan miliknya. “Kenapa?” Ferd

  • Sang pemilik Hati   Bab 64

    Satu Minggu setelah kedatangan Najwa. Gadis itu tak lagi datang menemui Intan. Mungkin dia sudah tau jika sekarang intan tak lagi bisa ia gapai. Intan cukup senang, semakin gadis itu tak ada berkeliaran di sekitarnya akan lebih baik hidupnya. Meskipun intan sedikit kecewa melihat Zaki bersikap begitu cuek setelah tahu Najwa pulang. Apa tidak ada inisiatif pria itu untuk memberi gadis itu sedikit pelajaran, atau setidaknya memaksa meminta maaf pada dirinya ini.“Mas, besok aku mau ke Rumah sakit. Kamu temani ya?” Zaki menoleh saat Intan mengajaknya mengobrol.“Sendiri aja, ya. Mas besok ada meeting penting,” “Gak bisa ditunda gitu? Kan aku sudah dua Minggu gak cek kesehatan ku. Temani ya?” Zaki mengeluh pelan, “benar gak bisa, dek. Atau kita undur aja, lusa saja periksa, bagaimana?”Intan cemberut, ia pikir tadi suaminya tak akan menolak. Tapi sekarang ia kecewa, padahal Minggu kemarin ia juga tak pergi karena Zaki tak bisa menemaninya.“Baiklah, aku akan pergi sendiri.” Intan ingi

DMCA.com Protection Status