Share

Bab 49

Author: Benjamin
Daffa menghabiskan satu hari penuh mengunjungi beberapa perusahaan yang terdaftar di Konsorsium Halim, mulai dari beberapa perusahaan terkemuka sampai beberapa hotel dan sanggraloka mewah, termasuk beberapa restoran. Ketika harinya sudah berakhir, Daffa merasa sangat kelelahan.

Dia memeriksa daftar perusahaan yang telah dia kunjungi dan hampir pingsan karena terkejut. Dia bahkan belum mengunjungi 10% dari seluruh perusahaan yang harus dia kunjungi. Kalau begini, dia akan mati kelelahan sebelum bisa selesai mengunjungi semua perusahaan itu. Mungkin, inilah kenapa kakeknya terus-terusan mengingatkannya untuk mencari asisten pribadi. Dia tidak akan sanggup melakukannya sendirian.

Daffa tiba di rumah dengan kelelahan dan terantuk ke kamar mandinya. Setelah mandi cukup lama dan makan malam, dia melompat ke kasur dan jatuh tertidur.

Keesokan harinya, Daffa bangun dengan keadaan segar dan berenergi. Dia meraih ponselnya yang diletakkan di meja samping kasur dan memeriksa jadwalnya. Dia han
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 50

    Ketika Alya melihat pemilik mobil itu, dia tercengang sesaat. Akan tetapi, Daffa tidak menghiraukannya dan terus mengemudi.Alya tidak bisa memercayai matanya. Walaupun dia telah mengubah gaya rambut dan penampilannya dan terlihat benar-benar berbeda dengan sebelumnya, dia tidak akan pernah bisa melupakannya. Tuan.sederhana10, orang yang telah menghabiskan 75 miliar rupiah untuk menghadiahinya dan memiliki mobil semahal itu tidak lain adalah Daffa Halim, mantan pacar dari teman dekatnya Sarah Kusuma!“Melihat caramu menganga melihatku, sepertinya kamu mengingatku,” kata Daffa, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan seraya dia berbicara.“Tentu saja! Bagaimana aku bisa melupakan kamu?!” seru Alya.Alya ingat dengan jelas bagaimana Daffa telah mengejar Sarah dengan seluruh tenaganya. Karena usahanya yang tidak kunjung habis itulah dia memiliki kesan yang mendalam padanya. Dia tahu Daffa mencintai Sarah dengan sepenuh hati selama itu. Itulah mengapa dia sangat terkejut ketika Sar

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 51

    Alya dan Daffa menengadah untuk melihat orang yang menghampiri meja mereka. Ekspresi Daffa tampak tenang ketika dia melihat orang itu, tapi ekspresi Alya sangat berkebalikan darinya. Matanya membelalak selebar piring cawan.Orang yang menghampiri meja mereka adalah Michael Irawan, pewaris tunggal dari konglomerat Irawan!Michael Irawan adalah teman satu kelas Alya di SMA dua tahun yang lalu. Saat mereka masih SMA, Michael Irawan merupakan sosok yang sangat populer. Dia selalu memiliki banyak orang yang mengaguminya dan mengekor di belakangnya. Dia tampan, pintar, dan kaya, sehingga tidak heran jika banyak orang yang ingin menjadi temannya.Di sisi lain, Alya tidak sekaya itu. Dia bahkan tidak pernah merasa bahwa dia berada di level yang sama dengannya, jadi dia tidak pernah menghiraukannya.Namun, beberapa rumor yang beredar mengatakan bahwa Michael tertarik pada Alya. Alya mengira bahwa itu hanyalah rumor palsu karena dia tidak memiliki apa pun yang akan membuatnya tertarik, tapi

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 52

    Alya tersentak ketika dia mendengar pertanyaan Daffa. Dia membalikkan badannya pelan-pelan sambil menahan nafasnya.Daffa masih terduduk di kursinya dengan ekspresi tenangnya yang tidak berubah. Namun, sikapnya benar-benar berbeda dibandingkan dengan sebelumnya, seolah dia telah berubah dari anjing jinak menjadi seekor singa, tetap duduk di kursinya sambil memandangi Alya.Alya menelan ludahnya pelan sebelum angkat bicara.“Jangan khawatir, Daffa. Aku kenal Michael. Kami hanya akan berbincang dan bertanya kabar. Tidak perlu mengkhawatirkanku,” jelas Alya.“Kamu masih belum menjawab pertanyaanku, Alya,” jawab Daffa dengan tenang.Alya menghela nafas. Dia tahu bahwa Daffa bukan orang yang sama seperti sebelumnya karena dia sekarang luar biasa kaya, tapi mereka sedang membicarakan Michael Irawan di sini, pewaris tunggal Konglomerat Irawan!Ketika dia masih berpacaran dengan Michael di SMA, tidak ada yang mau membantunya ketika dia menjelaskan situasinya pada mereka. Itu sudah menunj

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 53

    Beberapa hari setelahnya sangat sulit bagi Daffa karena dia hanya memiliki sisa dua hari libur sebelum jatah liburnya habis. Dia telah menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen mengenai Konsorsium Halim. Namun, walaupun dia telah bekerja dengan keras, dia masih belum menyelesaikan bahkan 10% dari pekerjaan yang seharusnya dia lakukan terkait Konsorsium Halim.Setelah menandatangani satu dokumen lagi, dia menyandarkan dirinya pada kursi dan menghela nafas. Masih ada banyak dokumen yang telah ditata dengan rapi di meja yang menunggu untuk dia periksa.Dia akhirnya mengerti apa maksud dari kakeknya. Tidak mungkin dia bisa menangani pekerjaan ini sendirian. Dia telah fokus untuk bekerja selama beberapa hari, tapi dia baru menyelesaikan sebagian kecil dari pekerjaannya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia sudah harus kembali menghadiri kuliah. Kalau begini, dia tidak bisa menyelesaikan sepeser pun pekerjaannya.Daffa menghe

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 54

    Mereka semua berdiri dan membungkuk ketika Daffa melangkah masuk. Itu menunjukkan bahwa mereka mengerti latar belakang Daffa yang sangat berkuasa.Baru ketika Daffa duduk di tengah meja konferensi, semua orang pun duduk.Sekretaris senior dari salah satu anggota petinggi tingkat atas menyerahkan beberapa dokumen kepada Daffa sebelum menyerahkannya kepada orang lain yang hadir. Ketika semua orang telah menerima dokumen tersebut, sekretaris itu berdiri di samping atasannya. Rapat pun dimulai.Rapat itu dimulai dengan memperkenalkan produk terbaru yang diciptakan oleh beberapa peneliti dari Departemen Penelitian Inovatif. Ekspresi wajah Daffa tetap datar seraya dia mengamati dokumen yang diberikan padanya, tapi dia terkejut melihat isinya. PT Nix benar-benar membuktikan bahwa mereka pantas menjadi perusahaan nomor satu di negara ini.Dokumen-dokumen tersebut berisikan daftar produk, detail mengenainya, dan harga awal untuk peluncurannya. Para petinggi mulai mendiskusikan mengenai prod

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 55

    Daffa mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh karena dia ingin tiba di Bar Eve secepat mungkin. Dia tentunya melanggar batas kecepatan karena dia melaju dengan sangat cepat yang menarik perhatian beberapa petugas lalu lintas padanya. Namun, ketika mereka melihat plat nomornya yang telah dikustomisasi dan mobilnya yang terlihat sangat mahal, mereka menutup matanya. Orang seperti itu pasti memiliki identitas yang sangat berkuasa. Selama dia tidak terlibat kecelakaan, mereka bisa mengabaikan hal tersebut.Setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh selama satu jam, Daffa akhirnya tiba di tujuannya. Di luar bar tersebut sudah ramai dengan musik yang keras dari dalam bar dan menggema ke luar bangunannya. Ada antrean panjang orang-orang yang menunggu untuk masuk ke dalam, menunjukkan bahwa bar tersebut adalah bar yang populer.Ketika Daffa berhenti di parkiran dengan mobil sportnya, kehadirannya langsung menarik perhatian banyak orang.“Wah! Mobil sport yang mahal,” kata seora

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 56

    Erin sedang ditahan dengan kasar oleh dua pria. Gaun hitamnya robek-robek dan tangan mereka memegang dadanya dengan kasar. Dia mencoba memberontak dengan seluruh tenaganya, tapi dia masih terlalu lemah dibandingkan mereka. Bukan hanya itu, salah satu dari dua pria itu menutup mulutnya dengan tangannya supaya dia tidak bisa berteriak untuk meminta tolong.Ketika Daffa melihat tatapan yang penuh nafsu dari kedua pria itu dan air mata yang menetes dari mata Erin, matanya memerah penuh amarah. Dia tidak butuh orang lain untuk memberitahunya apa yang sedang mereka lakukan pada wanita itu. Tindakan mereka sudah menjelaskan semuanya.Mereka ingin menyetubuhinya dengan paksa.“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Daffa dengan nada yang sangat dingin.Kedua pria itu tersentak terkejut ketika mereka mendengar suara Daffa. Mereka tidak menyangka akan ada orang lain di sana.“Bagaimana kamu bisa menemukan kami?” tanya salah satu pria itu pada Daffa.“Bukan itu yang seharusnya kamu permasal

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 57

    Erin menatap Daffa dengan raut wajah kebingungan.‘Bekerja untuknya?’Dia bahkan tidak mengenalnya! Malah, dia tidak tahu bagaimana dia bisa ada di sini. Saat dia masih mencoba mencari tahu di mana dia sekarang, seseorang muncul tanpa menjelaskan apa-apa dan dia tiba-tiba memintanya untuk bekerja untuknya.Erin ingin mengumpat padanya, tapi mempertimbangkan dia tidak mengenalnya maupun mengetahui di mana dia sekarang, dia menahan umpatannya. Pria itu mungkin saja sangat berbahaya dan akan memukulnya jika dia bertingkah.Satu-satunya alasan dia sedikit tenang adalah karena dia yakin pria itu tidak mirip sama sekali dengan dua orang yang ingin menyetubuhinya. Walaupun saat itu cukup gelap, dia masih mengingat wajah kedua orang itu dengan sangat jelas.“Permisi, Tuan, tapi aku tidak mengenalmu maupun mengetahui apa pekerjaanmu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu?” jawab Erin dengan jengkel.Daffa terbatuk pelan ketika mende

Latest chapter

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 665

    Wanita itu menjelaskan, “Aku kehabisan uang dan mereka bilang mereka akan membayarku dengan bayaran yang tinggi untuk melakukan ini. Yang perlu kulakukan hanyalah membawa kamera ketika datang kemari.”Daffa mengernyit. “Bagaimana caranya kamu masuk kemari?” Nada bicaranya dingin. Penjelasan wanita itu tidak berarti apa-apa baginya.Wanita itu menelan ludah. “Aku tidak tahu. Mereka menyuruhku untuk meminum ramuan, setelah itu aku kehilangan kesadaranku. Ketika aku terbangun, aku sudah ada di sini.”Daffa mengernyit mendengarnya. Wanita itu berseru, “Tunggu! Aku bersumpah aku mengatakan yang sebenarnya!”Dia tahu Daffa tidak puas dengan jawabannya, tapi hanya itu yang dia ketahui. Dia menatap Daffa sambil menangis saat Daffa berkata, “Apakah kamu perlu berteriak padaku seperti itu?”Dia berkata dengan gemetar, “Maaf, a … aku tidak bermaksud.”Mata Daffa masih dingin, tapi dia melepaskan wanita itu. Akan tetapi, ini tidak membuat wanita itu tenang. Sebaliknya, wanita itu menegang da

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 664

    Bram menatap dia dengan tenang. “Mungkin kamu akan mempertimbangkan untuk memberitahuku kenapa kamu ada di sini jika kamu tidak ingin mati.”Pria itu tertawa terbahak-bahak. Daffa mengernyit dan berkata, “Bram, bawa dia pergi supaya kamu bisa menginterogasinya nanti.”Bram langsung mengulurkan tangannya untuk memegang pria itu—kecepatannya membuat mata Daffa berbinar. Seperti yang dia duga, Bram adalah ahli bela diri yang tampaknya lebih cakap dibandingkan semua orang yang ada di sana, termasuk Daffa. Ini membuat Daffa ingin bertarung dengannya, tapi ini tentunya bukan waktu yang tepat untuk itu. Dia berusaha sekeras mungkin untuk menahan keinginannya untuk menerkam Bram.Pada saat ini, Edward dan Briana muncul. Dari langkah kaki dan napas mereka, Daffa tahu mereka telah berlari sampai ke sini, membuatnya mengangkat sebelah alisnya. Dia menoleh untuk melihat ke arah pintu dan berkata, “Bram, tunggu sebentar.”Bram tidak tahu kenapa Daffa tiba-tiba menghentikannya, tapi dia melakuka

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 663

    Daffa menunjuk ke arah kamar mandi saat dia berbicara. “Kamu bisa periksa kamar mandinya jika kamu mau. Itu sama saja seperti kamar mandi lainnya. Tidak ada apa pun yang memungkinkan aku untuk mengunggah apa pun di internet.” Dia menatap Bram yang masih terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Sebagai ahli bela diri terbangkit, Daffa langsung tahu apa yang Bram pikirkan dan bibirnya pun berkedut. Daffa menatap Bram dengan tatapan tidak berdaya dan berkata, “Dengar, kamera-kamera itu tidak ada hubungannya denganku.”Bram langsung menghela napas lega. Daffa menahan keinginannya untuk memutar bola matanya dan berbalik untuk melihat wanita tadi sambil mengetukkan jari-jarinya di sandaran tangan sofa. Suasananya menjadi sangat tegang hingga Bram menundukkan kepalanya lagi, memandang lantai.Setelah beberapa detik, Daffa berujar, “Bram.” Itu membuat Bram merinding dan menundukkan kepalanya makin dalam. Bram tidak dapat membayangkan apa yang hendak Daffa katakan dan keringat membasahi ken

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 662

    Daffa mengangkat sebelah alisnya. Dia memegang leher wanita itu dan melemparkannya ke dalam bak mandi, membuatnya megap-megap karena dia berusaha bernapas. Daffa mengabaikannya, memakai celananya, dan meletakkan tangannya di kenop pintu. Di dalam benaknya, vila Keluarga Halim adalah tempat baginya untuk bersantai dan menjalani waktu yang damai, tapi tampaknya dia keliru. Dia membuka pintu untuk melihat Erin berdiri di sana dan bibirnya berkedut. “Kukira kamu akan menunggu di luar.” Dia tidak memakai atasan karena lemari pakaiannya ada di luar.Tentunya, Erin tidak menduga akan melihat Daffa seperti ini. Dia merona dan memalingkan diri dari Daffa, tapi tidak dapat berjalan pergi—rasanya seakan-akan kakinya dilem ke lantai. Namun, mungkin otaknya berhenti berfungsi dan tidak dapat menyuruh kakinya untuk bergerak. Bagaimanapun, Erin tidak pergi.Daffa tampak terkejut oleh itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Alih-alih, dia berjalan melewati Erin dan memasuki ruang gantinya, muncul ke

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 661

    Wanita itu tetap terdiam di tempatnya, terlihat terkejut. Daffa berniat untuk ikut berpura-pura seolah dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia sangat ingin menertawai akting wanita itu yang sangat buruk. Lagi pula, tidak ada pelayan Keluarga Halim yang akan mengenakan stoking setinggi paha saat bekerja. Namun, Daffa tahu dia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia memasang ekspresi marah dan menggeram, “Aku jijik oleh keberadaanmu, jadi sebaiknya kamu menjauh dariku!”Mendengarnya, wajah wanita itu menjadi pucat. Daffa mengetukkan jemarinya ke tepi bak mandi, bertanya-tanya apakah dia terlalu kasar. Apakah wanita itu akan bisa melanjutkan aktingnya? Bibir Daffa berkedut saat dia memejamkan matanya dan berkata, “Ingat, jangan pakai apa pun selain seragam yang benar lain kali kamu bekerja … tidak peduli sebagus apa itu terlihat padamu.”Daffa merasakan kekejutan dan kesenangan wanita itu mendengar perkataan Daffa dan mendengar langkah kaki menghampirinya. Daffa m

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 660

    Teivel membutuhkan tempat yang sunyi supaya tidak akan ada yang mengganggunya. Daffa menunggu hingga dia tidak dapat mendeteksi Teivel sebelum mendarat di tanah. Ketika dia melakukannya, orang-orang berjubah hitam itu perlahan membuka mata mereka dan tersadar kembali. Beberapa dari mereka mulai muntah-muntah ketika mereka melihat darah tikus dan potongan-potongan yang tersebar di sekitar mereka, tapi ini tidak memengaruhi Daffa.Dia bilang, “Maaf tidak sengaja mengetahui rahasia kalian seperti ini.” Orang-orang itu kembali tenang dan menatap Daffa. Daffa tersenyum dan berkata, “Kurasa ini adalah permasalahan yang perlu diselesaikan.”Pemimpin dari mereka melangkah maju untuk menghalangi yang lain dari pandangan Daffa dan berkata dengan pelan, “Semuanya bisa didiskusikan selama kamu tidak membiarkan Pak Teivel tahu tentang ini.”Daffa mengangkat sebelah alisnya. “Sayangnya, dia sudah tahu.”Si pemimpin menjadi pucat mendengarnya, tapi amarah mulai menggelora di matanya. Namun, beber

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 659

    “Jangan khawatir, mereka tidak bisa melihatku. Kita akan baik-baik saja selama kamu tidak bergabung denganku di udara,” ucap Teivel.Daffa mengembuskan napas, meletakkan tangannya di balik punggungnya, dan melihat pemandangan di hadapannya tanpa bersuara. Ada darah tikus di mana-mana, bersamaan dengan potongan-potongan kecil daging. Dia merasa perutnya bergejolak, jadi dia menahap napasnya dan melayang, bergabung dengan Teivel di udara. “Pak, aku melihat percampuran amarah dan kesedihan di dalam matamu.”Teivel memejamkan matanya dan mengangguk. “Iya. Aku menggunakan metode rahasia untuk menelusuri ingatan mereka. Mereka telah melalui banyak hal, lebih dari yang seharusnya, sebelum mereka tertidur. Mereka mengalami berbagai macam kesulitan ketika aku bertemu mereka. Ketika aku membawa mereka bersamaku, yang tertua bahkan belum berusia tujuh tahun. Aku membesarkan mereka dan mengajari mereka cara membaca dan menulis, tapi aku tidak mengajarkan meditasi pada mereka. Aku hanya ingin mer

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 658

    Jauhar menegang, tapi dia tetap berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan senyumannya. “Aku belum melihat teman-teman ayahmu dalam waktu yang lama, terutama setelah orang tuamu meninggal. Mereka semua memiliki alasan tersendiri untuk pergi.” Dia menarik napas dalam-dalam. Daffa tahu Jauhar merasa terganggu. Jauhar melanjutkan, “Pada saat itu, aku tidak dapat menerima kematian ayahmu dan aku akan menghargai kehadiran mereka. Setidaknya, itu akan membuatku merasa seperti dia masih hidup. Aku tahu mereka tidak diwajibkan untuk melakukan apa pun, tapi mereka bahkan tidak repot-repot menghadiri pemakamannya. Aku menolak memercayai satu hal pun yang mereka katakan!”Dia berusaha keras untuk menahan agar amarahnya tidak meledak-ledak, tapi dia mau tidak mau tetap gemetar. “Kamu tidak boleh memercayai mereka sepenuhnya, jadi ingatlah untuk jangan percayai ucapan mereka mentah-mentah. Lagi pula, tidak ada jaminan mereka tidak berteman dengan ayahmu dengan niat tersembunyi. Siapa yang tahu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 657

    “Ya, aku mengkhawatirkan hal yang sama. Tidak ada sihir ataupun meditasi yang akan menjaga jantung seseorang terus berdetak selama lima abad kecuali jantung yang berdetak di dalam mereka sekarang bukan milik mereka, atau ada hal lain dalam hal ini yang tidak kita ketahui.” Teivel menghela napas. “Bagaimanapun, sejarah kembali terulang. Apa yang terjadi lima abad yang lalu terjadi lagi sekarang.Daffa menggigit bibirnya dan mengernyit dalam-dalam. Kemudian, dia berkata, “Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah situasi ini menjadi makin parah? Aku sejujurnya tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kukira aku sudah memberantas orang-orang berjubah hitam, tapi di sinilah mereka, muncul di hadapanku lagi.”Teivel tertawa, tapi itu bukan tawa menghina. Dia berkata, “Mereka tidak bisa diberantas—tidak dengan cara yang kamu pikirkan—karena tidak ada yang bisa menghentikan dalang utamanya setelah aku mati. Aku mengenal lawanku dengan baik. Dia pasti telah melemparkan dirinya sendiri

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status