Share

Bab 41

Author: Benjamin
Hari-harinya dia habiskan dengan bermalas-malasan. Dia sedikit terlalu menikmati fasilitas-fasilitas apartemennya. Dia tidak pernah sesantai ini di hidupnya sebelumnya.

Dia telah menonton film di bioskop pribadinya, hal yang tidak pernah dia bisa lakukan dulu karena selalu sibuk bekerja paruh waktu, menyesap anggur sembari menonton berbagai macam siaran di Groove dengan lantunan musik klasik di latar belakang, dan makan malam di balkonnya sambil memandangi seluruh Dragon Estate. Hidupnya sangat menenangkan beberapa hari belakangan.

Namun, dia tidak hanya bermalas-malasan. Kakeknya telah meneleponnya berkali-kali untuk mengingatkan tugasnya. Karena itu, dia meluangkan waktu untuk mempelajari dokumen yang dikirimkan kakeknya tentang Konsorsium Halim.

Ada banyak diskusi dan rumor mengenai pesannya tentang kehadirannya ke pesta amal. Walaupun dia telah mengirim pesan di ruang obrolan utama dan memberi tahu mereka tentang keputusannya untuk datang ke pesta, banyak orang masih tidak bisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ida Ayu Kadek
lanjutkan ceritanya. sangat menarik
goodnovel comment avatar
Arif Tirta
ceritany bagus...tapi sayangny membuka bab per bab harus dngan iklan..
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 42

    [Hotel Sky Golden, pukul 7:30 malam]Hotel Sky Golden, hotel terbaik di daerah itu sangat ramai. Beberapa orang berseragam hitam putih berjalan dengan buru-buru untuk mengerjakan berbagai tugas di dalam hotel.Hotel tersebut dihias dengan mewah, lebih mewah dari hotel itu biasanya. Lampu gantung yang besar dan indah tergantung di langit-langit yang sama mewahnya. Lantai hotel tersebut dipoles dengan sempurna, memantulkan cahaya dari lampu gantung itu.Bukan hanya para staf yang terlihat mondar mandir. Beberapa orang berpakaian pakaian yang sangat mewah terlihat berjalan-jalan di lobi hotel, sesekali menyesap anggur yang disediakan oleh para pelayan berseragam hitam putih. Jelas sekali bahwa orang-orang yang berpakaian dengan mewah merupakan para mahasiswa dan tokoh masyarakat yang diundang pada pesta amal itu.Beberapa orang yang berpakaian mewah juga terlihat berkumpul di luar pintu masuk lobi hotel. Sebagian besar dari mereka baru saja tiba dengan mobil-mobil yang sama mahalnya,

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 43

    Semua orang langsung berbalik untuk melihat sosok yang turun dari mobil sport keren itu. Mobil itu sendiri sudah sangat memukau. Mereka langsung tahu bahwa pemiliknya tentu bukanlah orang biasa!Ketika sosok itu akhirnya turun dari mobil, semua orang langsung tercengang. Mereka tidak percaya apa yang mereka lihat.Sosok itu sangat tampan, dengan kesan maskulin dan wajah yang sangat menawan. Setelan tiga potongnya terlihat sempurna juga jam tangan Rolex berlian di pergelangannya.Sosok itu tidak lain adalah Daffa Halim.“Wah! Tampan sekali!”“Apakah dia salah satu mahasiswa kita?”“Entahlah. Walaupun dia terlihat familier, aku yakin tidak pernah melihatnya sebelumnya di mana pun.”“Yang pasti dia tentunya adalah orang yang sangat penting!”Ketika orang lain masih kesulitan mengingat apakah mereka pernah melihat atau bertemu dengan Daffa sebelumnya, Sarah memperhatikan pendatang kaya raya itu lekat-lekat. Walaupun dia terkejut oleh betapa menawannya dia, dia tidak bisa mengenyamp

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 44

    Ketika Daffa memasuki lobi hotel, tempat itu masih sama ramainya seperti sebelum kehadirannya. Beberapa orang berpakaian mewah masih berjalan-jalan sambil mengobrol santai dan tertawa-tawa.Daffa menarik banyak perhatian seraya dia berjalan. Banyak orang telah mendengar kedatangannya yang dramatis dan berkelas dan teman-temannya yang tadi berada di luar ketika dia tiba, jadi tidak heran banyak tatapan terkejut tertuju padanya.Para mahasiswa Universitas Praharsa kehabisan kata-kata ketika mendengar kedatangannya. Daffa Halim yang mereka tahu adalah orang miskin yang bahkan tidak bisa membeli baju bagus, jadi keterkejutan mereka ketika melihatnya di lobi hotel dan terlihat sangat berkelas bisa dimengerti.“Itu benar-benar Daffa Halim?” tanya seseorang masih tidak percaya.“Aku yakin itu dia!” jawab seseorang.“Namun, dia terlihat sangat berbeda.”“Itu memang dia. Aku juga mahasiswa di departemen Manajemen Bisnis dengannya, jadi tidak mungkin aku salah. Aku yakin 100 persen bahwa i

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 45

    ”Satu setengah miliar rupiah.”Ada keheningan sesaat ketika semua orang mendengarnya. Mereka tidak percaya seseorang seberani itu untuk meningkatkan penawarannya dua kali lipat dari penawaran sebelumnya.Semua orang langsung berbalik ke arah orang yang melakukan penawaran setinggi itu. Secara mengejutkan, orang itu tidak lain adalah Daffa!Daffa berdiam diri dengan tangan kiri di sakunya dan segelas anggur di tangan kanannya. Postur dan tatapan acuh tak acuhnya membuatnya terlihat sangat tampan dan menawan sampai-sampai para wanita memerah di pipinya.Puspa, Jihan, Dilan, Sarah, Heren, Cakra, Anna, dan beberapa sosok kaya lainnya menatap Daffa dengan tatapan yang berbeda.Puspa dan Jihan menatap Daffa lekat-lekat. Mereka telah menerima fakta bahwa Daffa memang sangat menawan, tapi itu bukanlah alasan mengapa mereka menatapnya. Mereka merasa bahwa wajahnya sangat familier.Jihan Winata, wanita tercantik peringkat kedua di Universitas Praharsa tidak mengetahuinya, tapi dia memang p

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 46

    Lima belas miliar rupiah?!Semua orang berbalik ke arah orang yang membuat penawaran tidak masuk akal itu. Tentu saja, tidak lain adalah Daffa Halim!Daffa menyesap lagi anggur dari gelas kaca di tangannya, tapi tatapannya terpaku pada anggur yang terpampang, mengabaikan semua tatapan yang tertuju padanya.Namun, tidak seperti ketika pertama kali dia menawarkan 1,5 miliar rupiah untuk lukisan tadi, kali ini orang lain pun tidak menyerah. Kali ini, beberapa orang terkemuka ikut berperang dalam penawaran itu.“Enam belas miliar lima ratus juta rupiah!” teriak seseorang beberapa detik setelah Daffa menaikkan penawarannya.“Tujuh belas miliar dua ratus lima puluh juta rupiah!” seru orang lain.“Delapan belas miliar rupiah!”“Sembilan belas miliar lima ratus juta rupiah!”“Dua puluh dua miliar lima ratus juta rupiah!”Semua orang terhenti ketika mereka mendengar penawaran itu. Dua puluh dua miliar lima ratus juta rupiah? Bukankah itu agak berlebihan?Mereka semua berbalik ke arah

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 47

    Daffa bangun lebih siang dari biasanya keesokan harinya. Itu tidak mengherankan karena pesta amal semalam berakhir lebih larut dari yang dia kira. Namun, Daffa tidak masalah. Dia merupakan seseorang yang menyumbangkan uang paling banyak di pesta amal itu karena dia telah menghabiskan uang sejumlah 61,5 miliar rupiah. Maka dari itu, dia mendapatkan libur satu minggu dari universitas.Daffa memutuskan untuk mengunjungi beberapa perusahaan yang terdaftar di Konsorsium Halim setelah menunda-nundanya beberapa kali. Dia telah menghabiskan hari-harinya sebelum pesta amal membaca dokumen-dokumen yang dikirimkan kakeknya mengenai Konsorsium Halim. Dia belum pergi karena dia harus mengurus hal-hal yang lebih mendesak dan tidak memiliki banyak waktu, tapi karena dia diberikan libur satu minggu dari universitas, dia akhirnya memiliki waktu yang cukup.Daffa mandi dengan cepat dan sarapan dengan enak. Karena dia akan mengunjungi sebuah perusahaan hari ini, dia memutuskan untuk berpakaian resmi. D

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 48

    Pria itu menghentikan tindakannya dan berbalik menghadap pengganggu yang telah menghentikannya sambil mengerutkan dahinya.“Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu tidak ada pekerjaan? Apakah kamu lelah bekerja di sini?” pria itu bertanya kepada si pengganggu dengan marah.Daffa, si pengganggu itu mendengus ketika mendengar pertanyaan orang itu. Orang itu telah salah mengiranya sebagai karyawan di sini dan sedang menggunakan kekuasaannya untuk mengusirnya. Itu berarti pria itu sedang melakukan hal yang mencurigakan.Daffa mengabaikan pertanyaan pria itu dan berjalan ke arah wanita itu. Wanita itu terlihat lega ketika seseorang muncul di area yang terpencil itu.“Halo. Ada masalah apa ini?” tanya Daffa pada wanita itu dengan lembut.Wanita itu menjauh dari pria itu dan mendekat kepada Daffa tanpa dia sadari. Daffa terlihat semenawan biasanya, suaranya pun sangat menenangkan. Kesan maskulinnya memberikan wanita itu perasaan aman, karena itu dia bergerak mendekat ke Daffa.“Pria i

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 49

    Daffa menghabiskan satu hari penuh mengunjungi beberapa perusahaan yang terdaftar di Konsorsium Halim, mulai dari beberapa perusahaan terkemuka sampai beberapa hotel dan sanggraloka mewah, termasuk beberapa restoran. Ketika harinya sudah berakhir, Daffa merasa sangat kelelahan.Dia memeriksa daftar perusahaan yang telah dia kunjungi dan hampir pingsan karena terkejut. Dia bahkan belum mengunjungi 10% dari seluruh perusahaan yang harus dia kunjungi. Kalau begini, dia akan mati kelelahan sebelum bisa selesai mengunjungi semua perusahaan itu. Mungkin, inilah kenapa kakeknya terus-terusan mengingatkannya untuk mencari asisten pribadi. Dia tidak akan sanggup melakukannya sendirian.Daffa tiba di rumah dengan kelelahan dan terantuk ke kamar mandinya. Setelah mandi cukup lama dan makan malam, dia melompat ke kasur dan jatuh tertidur.Keesokan harinya, Daffa bangun dengan keadaan segar dan berenergi. Dia meraih ponselnya yang diletakkan di meja samping kasur dan memeriksa jadwalnya. Dia han

Latest chapter

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 664

    Bram menatap dia dengan tenang. “Mungkin kamu akan mempertimbangkan untuk memberitahuku kenapa kamu ada di sini jika kamu tidak ingin mati.”Pria itu tertawa terbahak-bahak. Daffa mengernyit dan berkata, “Bram, bawa dia pergi supaya kamu bisa menginterogasinya nanti.”Bram langsung mengulurkan tangannya untuk memegang pria itu—kecepatannya membuat mata Daffa berbinar. Seperti yang dia duga, Bram adalah ahli bela diri yang tampaknya lebih cakap dibandingkan semua orang yang ada di sana, termasuk Daffa. Ini membuat Daffa ingin bertarung dengannya, tapi ini tentunya bukan waktu yang tepat untuk itu. Dia berusaha sekeras mungkin untuk menahan keinginannya untuk menerkam Bram.Pada saat ini, Edward dan Briana muncul. Dari langkah kaki dan napas mereka, Daffa tahu mereka telah berlari sampai ke sini, membuatnya mengangkat sebelah alisnya. Dia menoleh untuk melihat ke arah pintu dan berkata, “Bram, tunggu sebentar.”Bram tidak tahu kenapa Daffa tiba-tiba menghentikannya, tapi dia melakuka

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 663

    Daffa menunjuk ke arah kamar mandi saat dia berbicara. “Kamu bisa periksa kamar mandinya jika kamu mau. Itu sama saja seperti kamar mandi lainnya. Tidak ada apa pun yang memungkinkan aku untuk mengunggah apa pun di internet.” Dia menatap Bram yang masih terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Sebagai ahli bela diri terbangkit, Daffa langsung tahu apa yang Bram pikirkan dan bibirnya pun berkedut. Daffa menatap Bram dengan tatapan tidak berdaya dan berkata, “Dengar, kamera-kamera itu tidak ada hubungannya denganku.”Bram langsung menghela napas lega. Daffa menahan keinginannya untuk memutar bola matanya dan berbalik untuk melihat wanita tadi sambil mengetukkan jari-jarinya di sandaran tangan sofa. Suasananya menjadi sangat tegang hingga Bram menundukkan kepalanya lagi, memandang lantai.Setelah beberapa detik, Daffa berujar, “Bram.” Itu membuat Bram merinding dan menundukkan kepalanya makin dalam. Bram tidak dapat membayangkan apa yang hendak Daffa katakan dan keringat membasahi ken

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 662

    Daffa mengangkat sebelah alisnya. Dia memegang leher wanita itu dan melemparkannya ke dalam bak mandi, membuatnya megap-megap karena dia berusaha bernapas. Daffa mengabaikannya, memakai celananya, dan meletakkan tangannya di kenop pintu. Di dalam benaknya, vila Keluarga Halim adalah tempat baginya untuk bersantai dan menjalani waktu yang damai, tapi tampaknya dia keliru. Dia membuka pintu untuk melihat Erin berdiri di sana dan bibirnya berkedut. “Kukira kamu akan menunggu di luar.” Dia tidak memakai atasan karena lemari pakaiannya ada di luar.Tentunya, Erin tidak menduga akan melihat Daffa seperti ini. Dia merona dan memalingkan diri dari Daffa, tapi tidak dapat berjalan pergi—rasanya seakan-akan kakinya dilem ke lantai. Namun, mungkin otaknya berhenti berfungsi dan tidak dapat menyuruh kakinya untuk bergerak. Bagaimanapun, Erin tidak pergi.Daffa tampak terkejut oleh itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Alih-alih, dia berjalan melewati Erin dan memasuki ruang gantinya, muncul ke

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 661

    Wanita itu tetap terdiam di tempatnya, terlihat terkejut. Daffa berniat untuk ikut berpura-pura seolah dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia sangat ingin menertawai akting wanita itu yang sangat buruk. Lagi pula, tidak ada pelayan Keluarga Halim yang akan mengenakan stoking setinggi paha saat bekerja. Namun, Daffa tahu dia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia memasang ekspresi marah dan menggeram, “Aku jijik oleh keberadaanmu, jadi sebaiknya kamu menjauh dariku!”Mendengarnya, wajah wanita itu menjadi pucat. Daffa mengetukkan jemarinya ke tepi bak mandi, bertanya-tanya apakah dia terlalu kasar. Apakah wanita itu akan bisa melanjutkan aktingnya? Bibir Daffa berkedut saat dia memejamkan matanya dan berkata, “Ingat, jangan pakai apa pun selain seragam yang benar lain kali kamu bekerja … tidak peduli sebagus apa itu terlihat padamu.”Daffa merasakan kekejutan dan kesenangan wanita itu mendengar perkataan Daffa dan mendengar langkah kaki menghampirinya. Daffa m

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 660

    Teivel membutuhkan tempat yang sunyi supaya tidak akan ada yang mengganggunya. Daffa menunggu hingga dia tidak dapat mendeteksi Teivel sebelum mendarat di tanah. Ketika dia melakukannya, orang-orang berjubah hitam itu perlahan membuka mata mereka dan tersadar kembali. Beberapa dari mereka mulai muntah-muntah ketika mereka melihat darah tikus dan potongan-potongan yang tersebar di sekitar mereka, tapi ini tidak memengaruhi Daffa.Dia bilang, “Maaf tidak sengaja mengetahui rahasia kalian seperti ini.” Orang-orang itu kembali tenang dan menatap Daffa. Daffa tersenyum dan berkata, “Kurasa ini adalah permasalahan yang perlu diselesaikan.”Pemimpin dari mereka melangkah maju untuk menghalangi yang lain dari pandangan Daffa dan berkata dengan pelan, “Semuanya bisa didiskusikan selama kamu tidak membiarkan Pak Teivel tahu tentang ini.”Daffa mengangkat sebelah alisnya. “Sayangnya, dia sudah tahu.”Si pemimpin menjadi pucat mendengarnya, tapi amarah mulai menggelora di matanya. Namun, beber

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 659

    “Jangan khawatir, mereka tidak bisa melihatku. Kita akan baik-baik saja selama kamu tidak bergabung denganku di udara,” ucap Teivel.Daffa mengembuskan napas, meletakkan tangannya di balik punggungnya, dan melihat pemandangan di hadapannya tanpa bersuara. Ada darah tikus di mana-mana, bersamaan dengan potongan-potongan kecil daging. Dia merasa perutnya bergejolak, jadi dia menahap napasnya dan melayang, bergabung dengan Teivel di udara. “Pak, aku melihat percampuran amarah dan kesedihan di dalam matamu.”Teivel memejamkan matanya dan mengangguk. “Iya. Aku menggunakan metode rahasia untuk menelusuri ingatan mereka. Mereka telah melalui banyak hal, lebih dari yang seharusnya, sebelum mereka tertidur. Mereka mengalami berbagai macam kesulitan ketika aku bertemu mereka. Ketika aku membawa mereka bersamaku, yang tertua bahkan belum berusia tujuh tahun. Aku membesarkan mereka dan mengajari mereka cara membaca dan menulis, tapi aku tidak mengajarkan meditasi pada mereka. Aku hanya ingin mer

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 658

    Jauhar menegang, tapi dia tetap berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan senyumannya. “Aku belum melihat teman-teman ayahmu dalam waktu yang lama, terutama setelah orang tuamu meninggal. Mereka semua memiliki alasan tersendiri untuk pergi.” Dia menarik napas dalam-dalam. Daffa tahu Jauhar merasa terganggu. Jauhar melanjutkan, “Pada saat itu, aku tidak dapat menerima kematian ayahmu dan aku akan menghargai kehadiran mereka. Setidaknya, itu akan membuatku merasa seperti dia masih hidup. Aku tahu mereka tidak diwajibkan untuk melakukan apa pun, tapi mereka bahkan tidak repot-repot menghadiri pemakamannya. Aku menolak memercayai satu hal pun yang mereka katakan!”Dia berusaha keras untuk menahan agar amarahnya tidak meledak-ledak, tapi dia mau tidak mau tetap gemetar. “Kamu tidak boleh memercayai mereka sepenuhnya, jadi ingatlah untuk jangan percayai ucapan mereka mentah-mentah. Lagi pula, tidak ada jaminan mereka tidak berteman dengan ayahmu dengan niat tersembunyi. Siapa yang tahu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 657

    “Ya, aku mengkhawatirkan hal yang sama. Tidak ada sihir ataupun meditasi yang akan menjaga jantung seseorang terus berdetak selama lima abad kecuali jantung yang berdetak di dalam mereka sekarang bukan milik mereka, atau ada hal lain dalam hal ini yang tidak kita ketahui.” Teivel menghela napas. “Bagaimanapun, sejarah kembali terulang. Apa yang terjadi lima abad yang lalu terjadi lagi sekarang.Daffa menggigit bibirnya dan mengernyit dalam-dalam. Kemudian, dia berkata, “Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah situasi ini menjadi makin parah? Aku sejujurnya tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kukira aku sudah memberantas orang-orang berjubah hitam, tapi di sinilah mereka, muncul di hadapanku lagi.”Teivel tertawa, tapi itu bukan tawa menghina. Dia berkata, “Mereka tidak bisa diberantas—tidak dengan cara yang kamu pikirkan—karena tidak ada yang bisa menghentikan dalang utamanya setelah aku mati. Aku mengenal lawanku dengan baik. Dia pasti telah melemparkan dirinya sendiri

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 656

    “Orang yang membawakan petinya bilang mereka adalah hadiah darimu dan menyuruhku membukanya ketika kami dalam bahaya. Aku tidak berniat membukanya, tapi aku tidak sengaja tersandung salah satunya ketika sedang mengambil hal lain. Barulah saat itu aku menyadari bahwa ada orang di dalam peti-peti ini!”Napas Teivel menjadi lebih cepat. Jauhar menyadarinya dan dia terdiam, menatap Teivel dengan gugup. “Kamu tidak terlihat baik-baik saja sekarang dan itu membuatku cemas. Aku juga ada beberapa pertanyaan.”Teivel memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya kembali. Mendengar perkataan Jauhar, Teivel mengangguk dan berkata, “Silakan katakan.”Jauhar menelan ludah dan berkata dengan gemetar, “Sepertinya apa pun yang kamu perintahkan untuk mereka berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.”Teivel tidak menjawabnya. Alih-alih, dia menoleh ke arah Jauhar dan bertanya, “Oh? Apa yang membuatmu berkata seperti itu? Kuperingati bahwa tidak baik bagimu jika kamu meng

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status