Share

Bab 32

Author: Benjamin
Resepsionis itu menatap Daffa dengan penuh hina. Dia tidak mengerti apa yang sedang orang itu coba lakukan. Apakah dia berniat menggunakan ponselnya dan menelepon seseorang untuk menunjukkan kekuasaannya?

Daffa menyadari tatapan penuh hinanya tanpa mengindahkannya. Ponselnya hanya berdering sekali sebelum Bram mengangkat teleponnya.

“Tuan Muda Halim! Apakah semuanya baik-baik saja, Tuan Muda?!” tanya Bram penuh kecemasan.

“Iya. Semuanya baik-baik saja,” jawab Daffa dengan nada yang menenangkan.

Bram menghela nafas di ujung telepon. Tuan Mudanya baik-baik saja.

“Jika semuanya baik-baik saja, kenapa Anda menelepon, Tuan Muda Halim?” tanya Bram, terdengar kebingungan.

“Hm. Aku sudah tiba di Dragon Lord’s Imperial Residence, tapi resepsionisnya menolak untuk mempertemukanku dengan manajernya. Bisakah kamu beri tahu manajernya kalau aku sudah menunggu di lobi?” tanya Daffa dengan riang, tatapannya terpaku pada resepsionis seraya dia berbicara.

“Beraninya dia?! Manajernya akan segera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 33

    Ketika manajer Dragon Lord’s Imperial Residence mendengar ancaman Tuan Bram, dia terkesiap. Dia sudah berkali-kali memberitahunya bahwa akan ada tamu sangat penting yang akan datang dan dia harus memperlakukannya dengan sangat hormat, tapi dia tidak mengira tamu itu sudah tiba. Jika dia tahu, dia langsung akan mengenyampingkan apa pun yang dia sedang lakukan dan melayani tamu itu sesegera mungkin!Walaupun dia adalah manajer dari Dragon Lord’s Imperial Residence, dia telah menyaksikan bagaimana Tuan Bram memperlakukan orang-orang yang lebih penting darinya. Jika Bram bisa memperlakukan orang-orang itu seperti seekor semut, sepenting apa orang itu sampai Tuan Bram sendiri menyebutnya sebagai tamu sangat penting?Tanpa menunda-nunda, manajer itu bangkit, meraih ponselnya dan berlari keluar ruangannya. Dia harus menebus kesalahannya bagaimanapun caranya jika tidak ingin menghadapi kemarahan Tuan Bram!Sementara itu, di lobi Dragon Lord’s Imperial Residence, sang resepsionis memelototi

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 34

    Resepsionis itu yang bernama Maura menatap Daffa lagi dengan tatapan memohon. Dia sudah sadar bahwa posisi Daffa berada jauh di atas manajernya sendiri di kedudukan sosial, maka jika Daffa memaafkan perilaku tidak sopannya, manajernya akan melupakannya juga.Sayangnya, Daffa tidak mau membantunya.“Aku tanya apakah yang Tuan Halim katakan itu benar, Maura?” tanya Manajer dengan lantang, menyipitkan matanya pada Maura.“Itu adalah kesalahpahaman, Manajer Ella. Saya tidak tahu Anda memiliki tamu. Mohon maaf atas kelancangan saya!” pinta Maura. Dia menyadari bahwa Daffa tidak akan memaafkannya dan membantunya. Satu-satunya pilihan yang tersisa baginya adalah dengan memohon ampun sendiri.“Jadi itu benar,” ujar Manajer Ella dengan sedih. Tidak heran jika Tuan Bram sangat marah padanya. Sikap yang Maura tunjukkan pada Daffa bukan hanya tidak sopan, tetapi sangat tidak profesional.Dia menghela nafas. Kelihatannya dia terlalu disibukkan oleh aspek-aspek lain kediaman itu sampai dia melu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 35

    ”Tidak apa-apa, Manajer Ella. Aku harap mulai sekarang kamu lebih memperhatikan pegawaimu supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi ke depannya,” kata Daffa dengan santai.Manajer Ella merasa sangat lega ketika dia mendengar pernyataan Daffa.“Tentu, Tuan Halim. Saya jamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi ke depannya!” seru Manajer Ella penuh kesungguhan. Dia bersumpah dalam hatinya untuk mengawasi sikap para pegawainya baik-baik untuk ke depannya. DIa tidak akan membiarkan satu orang pun menodai reputasi Dragon Lord’s Imperial Residence!“Senang mendengarnya, Manajer Ella,” jawab Daffa. “Sekarang karena masalah itu sudah selesai, sepertinya ini waktunya bagimu untuk menuntunku berkeliling, bukan?”“Tentu, Tuan Halim,” jawab manajer itu dengan riang. “Lewat sini, Tuan Halim.”Interior lift itu sama seperti bagian lainnya dari Dragon Lord’s Imperial Residence, mewah sekali. Seluruh bagian dari lift terlihat dibuat dengan bahan yang paling mahal.Setelah beberapa menit,

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 36

    ”Jangan mengkhawatirkan harganya, Tuan Halim. Kami tidak mungkin menarik biaya dari Anda,” jawab Ella dengan sopan dengan senyuman di wajahnya.Daffa menatapnya kebingungan.“Apa maksudnya itu, Manajer Ella?” tanyanya kebingungan.Ella menatap Daffa balik ketika dia mendengar pertanyaannya. Apakah dia benar-benar ingin membayar apartemennya?Tuan Bram memberi tahunya dengan tegas untuk memenuhi semua keinginan tamunya. Tentunya itu juga termasuk biaya apartemennya. Lalu, kenapa Daffa menanyakan harga apartemennya?Tanpa sepengetahuan Ella, Tuan Bram tidak memberi tahu Daffa bahwa Konsorsium Halim memiliki 95% saham dari Dragon Estate, sehingga wajar saja Daffa bersikap begitu. Lagi pula, tidak ada orang waras yang akan memeriksa apartemen yang dia sukai dan tidak menanyakan harganya.“Aku menyukai apartemen ini dan ingin tahu harga apartemennya supaya aku bisa membayarnya. Kenapa kamu memberikan apartemen semahal ini secara cuma-cuma?” tanya Daffa.Daffa berpikir bahwa responsny

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 37

    ”Ini pesanan Anda, Tuan,” kata pelayan itu. Namun, ketika dia menatap Daffa, wajahnya memanas dan pipinya memerah.“Terima kasih,” kata Daffa, membawa meja dengan makanannya ke dalam kamarnya sebelum menutup pintunya.Pelayan itu diam terpaku di depan pintu bahkan setelah Daffa menutupnya. Pipinya mulai memanas ketika dia mengingat wajah Daffa yang sangat tampan, dadanya yang lapang, dan otot perutnya yang terbentuk dengan luar biasa seolah-olah sehabis dipahat oleh pemahat handal.Dia menjerit pelan ketika pikiran-pikiran tidak senonoh terbesit dalam benaknya. Dia menampar dirinya sendiri di pipinya yang sudah memerah sebelum kembali ke dapur hotel. Dia masih harus mengantarkan makanan-makan ke kamar lainnya.----Dua hari telah berlalu sejak Daffa mengunjungi Dragon Estate untuk mencari apartemen baru. Ella memenuhi janjinya, jadi hanya membutuhkan sehari untuk menyelesaikan pemeliharaan apartemennya.Ketika Daffa pindah ke apartemen itu, terlihat berbeda sekali dengan ketika t

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 38

    ”Tuan Muda Halim! Saya sudah sampai bersama dengan mobil-mobil Anda!”Semua orang langsung berhenti berbicara dan melihat ke arah Daffa berdiri.Alis Daffa berkedut ketika dia mendengar namanya. Teriakan Bram benar-benar merusak rencananya untuk tidak membuat kegaduhan dan menghindari perhatian.Dia menghela nafas. Tidak memiliki pilihan lain, dia berbalik ke arah Bram dengan Rolls-Royce-nya dan mulai berjalan ke arahnya.“Tuan Muda Halim, mobil Anda telah tiba,” kata Bram dengan sangat bangga. Malah, dia memang sangat bangga akhirnya telah mengirimkan mobil-mobilnya kepada tuan mudanya. Dia telah berusaha keras untuk memastikan agar hanya bahan-bahan yang terbaik yang digunakan untuk memodifikasi mobil-mobilnya. Dia yakin Daffa akan menyukainya.Daffa, di sisi lain, tidak menyukai situasi itu. Dia bisa merasakan berbagai macam tatapan dari para pengamat ketika dia berjalan ke arah Bram. Akan tetapi, dia mengabaikannya. Walaupun dia tidak menyukai perhatian yang dipicu oleh konvoi

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 39

    Daffa mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat peneleponnya seraya dia beranjak ke lift. Dia melihat bahwa itu adalah nomor tidak dikenal dan memutuskan untuk mengabaikannya. Dia memutus teleponnya dan naik ke apartemennya.Dia pergi ke ruang santai di apartemennya dan duduk untuk bersantai dengan segelas anggur sangat mahal yang dia ambil dari gudang anggur di apartemennya.Dia menuangkan anggur itu ke gelas kaca dan meminumnya. Dia menghela nafas puas seraya rasa anggur yang luar biasa itu terasa oleh indra pengecapnya.Diam saja selama beberapa saat, dia mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk melihat pesan-pesan yang belum terbaca. Dia sibuk sekali beberapa hari belakangan, jadi dia tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa pesan-pesan yang dia dapatkan. Ketika dia memeriksanya, ternyata ada banyak pesan yang dia terima.Dia dengan cepat memeriksa pesan-pesannya, tapi malah kecewa ketika membaca isi pesannya.Sebagian besar dari pesan-pesan itu berasal dari teman-tem

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 40

    Andra: [Daffa Halim? Kamu bercanda, ‘kan? Apa yang orang miskin dan menyedihkan itu bisa donasikan?]Daffa mengerutkan dahi ketika dia membaca pesan itu. Dia sedang sendirian saat itu, menyesap anggur dan mengurus urusannya sendiri. Kenapa namanya dibawa-bawa lagi?Penasaran, dia mengetuk notifikasi pesan dan dialihkan ke ruang obrolan departemennya. Di sana, dia melihat pesan-pesan sebelumnya untuk melihat kenapa namanya diungkit-ungkit.Setelah lima menit, dia telah membaca semua pesan sebelumnya dan selesai membaca pesan terbaru di ruang obrolannya.Daffa berekspresi dingin setelah dia membaca pesan-pesan itu. Seperti biasa, dia sedang dipandang rendah oleh teman-teman sekelasnya.Teman-teman sekelasnya sedang mendiskusikan pesta amal yang akan segera dilaksanakan di ruang obrolan utama. Sebagian besar dari mereka telah memilih pakaian mereka dan siapa yang akan mereka ajak untuk hadir bersama.Itu dapat dipahami. Walaupun Daffa tidak menyukai dan menikmati pesta amal yang per

Latest chapter

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 662

    Daffa mengangkat sebelah alisnya. Dia memegang leher wanita itu dan melemparkannya ke dalam bak mandi, membuatnya megap-megap karena dia berusaha bernapas. Daffa mengabaikannya, memakai celananya, dan meletakkan tangannya di kenop pintu. Di dalam benaknya, vila Keluarga Halim adalah tempat baginya untuk bersantai dan menjalani waktu yang damai, tapi tampaknya dia keliru. Dia membuka pintu untuk melihat Erin berdiri di sana dan bibirnya berkedut. “Kukira kamu akan menunggu di luar.” Dia tidak memakai atasan karena lemari pakaiannya ada di luar.Tentunya, Erin tidak menduga akan melihat Daffa seperti ini. Dia merona dan memalingkan diri dari Daffa, tapi tidak dapat berjalan pergi—rasanya seakan-akan kakinya dilem ke lantai. Namun, mungkin otaknya berhenti berfungsi dan tidak dapat menyuruh kakinya untuk bergerak. Bagaimanapun, Erin tidak pergi.Daffa tampak terkejut oleh itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Alih-alih, dia berjalan melewati Erin dan memasuki ruang gantinya, muncul ke

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 661

    Wanita itu tetap terdiam di tempatnya, terlihat terkejut. Daffa berniat untuk ikut berpura-pura seolah dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia sangat ingin menertawai akting wanita itu yang sangat buruk. Lagi pula, tidak ada pelayan Keluarga Halim yang akan mengenakan stoking setinggi paha saat bekerja. Namun, Daffa tahu dia harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia memasang ekspresi marah dan menggeram, “Aku jijik oleh keberadaanmu, jadi sebaiknya kamu menjauh dariku!”Mendengarnya, wajah wanita itu menjadi pucat. Daffa mengetukkan jemarinya ke tepi bak mandi, bertanya-tanya apakah dia terlalu kasar. Apakah wanita itu akan bisa melanjutkan aktingnya? Bibir Daffa berkedut saat dia memejamkan matanya dan berkata, “Ingat, jangan pakai apa pun selain seragam yang benar lain kali kamu bekerja … tidak peduli sebagus apa itu terlihat padamu.”Daffa merasakan kekejutan dan kesenangan wanita itu mendengar perkataan Daffa dan mendengar langkah kaki menghampirinya. Daffa m

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 660

    Teivel membutuhkan tempat yang sunyi supaya tidak akan ada yang mengganggunya. Daffa menunggu hingga dia tidak dapat mendeteksi Teivel sebelum mendarat di tanah. Ketika dia melakukannya, orang-orang berjubah hitam itu perlahan membuka mata mereka dan tersadar kembali. Beberapa dari mereka mulai muntah-muntah ketika mereka melihat darah tikus dan potongan-potongan yang tersebar di sekitar mereka, tapi ini tidak memengaruhi Daffa.Dia bilang, “Maaf tidak sengaja mengetahui rahasia kalian seperti ini.” Orang-orang itu kembali tenang dan menatap Daffa. Daffa tersenyum dan berkata, “Kurasa ini adalah permasalahan yang perlu diselesaikan.”Pemimpin dari mereka melangkah maju untuk menghalangi yang lain dari pandangan Daffa dan berkata dengan pelan, “Semuanya bisa didiskusikan selama kamu tidak membiarkan Pak Teivel tahu tentang ini.”Daffa mengangkat sebelah alisnya. “Sayangnya, dia sudah tahu.”Si pemimpin menjadi pucat mendengarnya, tapi amarah mulai menggelora di matanya. Namun, beber

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 659

    “Jangan khawatir, mereka tidak bisa melihatku. Kita akan baik-baik saja selama kamu tidak bergabung denganku di udara,” ucap Teivel.Daffa mengembuskan napas, meletakkan tangannya di balik punggungnya, dan melihat pemandangan di hadapannya tanpa bersuara. Ada darah tikus di mana-mana, bersamaan dengan potongan-potongan kecil daging. Dia merasa perutnya bergejolak, jadi dia menahap napasnya dan melayang, bergabung dengan Teivel di udara. “Pak, aku melihat percampuran amarah dan kesedihan di dalam matamu.”Teivel memejamkan matanya dan mengangguk. “Iya. Aku menggunakan metode rahasia untuk menelusuri ingatan mereka. Mereka telah melalui banyak hal, lebih dari yang seharusnya, sebelum mereka tertidur. Mereka mengalami berbagai macam kesulitan ketika aku bertemu mereka. Ketika aku membawa mereka bersamaku, yang tertua bahkan belum berusia tujuh tahun. Aku membesarkan mereka dan mengajari mereka cara membaca dan menulis, tapi aku tidak mengajarkan meditasi pada mereka. Aku hanya ingin mer

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 658

    Jauhar menegang, tapi dia tetap berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan senyumannya. “Aku belum melihat teman-teman ayahmu dalam waktu yang lama, terutama setelah orang tuamu meninggal. Mereka semua memiliki alasan tersendiri untuk pergi.” Dia menarik napas dalam-dalam. Daffa tahu Jauhar merasa terganggu. Jauhar melanjutkan, “Pada saat itu, aku tidak dapat menerima kematian ayahmu dan aku akan menghargai kehadiran mereka. Setidaknya, itu akan membuatku merasa seperti dia masih hidup. Aku tahu mereka tidak diwajibkan untuk melakukan apa pun, tapi mereka bahkan tidak repot-repot menghadiri pemakamannya. Aku menolak memercayai satu hal pun yang mereka katakan!”Dia berusaha keras untuk menahan agar amarahnya tidak meledak-ledak, tapi dia mau tidak mau tetap gemetar. “Kamu tidak boleh memercayai mereka sepenuhnya, jadi ingatlah untuk jangan percayai ucapan mereka mentah-mentah. Lagi pula, tidak ada jaminan mereka tidak berteman dengan ayahmu dengan niat tersembunyi. Siapa yang tahu

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 657

    “Ya, aku mengkhawatirkan hal yang sama. Tidak ada sihir ataupun meditasi yang akan menjaga jantung seseorang terus berdetak selama lima abad kecuali jantung yang berdetak di dalam mereka sekarang bukan milik mereka, atau ada hal lain dalam hal ini yang tidak kita ketahui.” Teivel menghela napas. “Bagaimanapun, sejarah kembali terulang. Apa yang terjadi lima abad yang lalu terjadi lagi sekarang.Daffa menggigit bibirnya dan mengernyit dalam-dalam. Kemudian, dia berkata, “Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah situasi ini menjadi makin parah? Aku sejujurnya tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kukira aku sudah memberantas orang-orang berjubah hitam, tapi di sinilah mereka, muncul di hadapanku lagi.”Teivel tertawa, tapi itu bukan tawa menghina. Dia berkata, “Mereka tidak bisa diberantas—tidak dengan cara yang kamu pikirkan—karena tidak ada yang bisa menghentikan dalang utamanya setelah aku mati. Aku mengenal lawanku dengan baik. Dia pasti telah melemparkan dirinya sendiri

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 656

    “Orang yang membawakan petinya bilang mereka adalah hadiah darimu dan menyuruhku membukanya ketika kami dalam bahaya. Aku tidak berniat membukanya, tapi aku tidak sengaja tersandung salah satunya ketika sedang mengambil hal lain. Barulah saat itu aku menyadari bahwa ada orang di dalam peti-peti ini!”Napas Teivel menjadi lebih cepat. Jauhar menyadarinya dan dia terdiam, menatap Teivel dengan gugup. “Kamu tidak terlihat baik-baik saja sekarang dan itu membuatku cemas. Aku juga ada beberapa pertanyaan.”Teivel memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya kembali. Mendengar perkataan Jauhar, Teivel mengangguk dan berkata, “Silakan katakan.”Jauhar menelan ludah dan berkata dengan gemetar, “Sepertinya apa pun yang kamu perintahkan untuk mereka berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.”Teivel tidak menjawabnya. Alih-alih, dia menoleh ke arah Jauhar dan bertanya, “Oh? Apa yang membuatmu berkata seperti itu? Kuperingati bahwa tidak baik bagimu jika kamu meng

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 655

    Jauhar terdiam, tatapannya berpindah-pindah antara ke lengan Daffa dan orang-orang berjubah hitam yang berlutut di lantai. Teivel khawatir Jauhar tidak dapat memahaminya, jadi dia kembali menggunakan bahasa normal. Aksennya kuat, tapi itu lebih baik daripada menggunakan bahasa kuno seperti sebelumnya. Dia berkata pada orang-orang berjubah hitam itu, “Aku sudah bukan lagi tuan kalian. Kalian adalah milik Keluarga Halim, jadi seharusnya kamu tidak berbicara mewakili aku.”Jauhar sudah kembali tenang. Dia berkata, “Itu tidak penting.”Daffa mengangkat sebelah alisnya melihat ketenangan kakeknya. Dia tahu Jauhar akan beradaptasi dengan hal ini, tapi dia tidak menduga itu akan terjadi dengan sangat cepat. Dia mau tidak mau memberikan jempol pada Jauhar di dalam hatinya—seperti yang diharapkan dari kepala Konsorsium Halim!Pada saat ini, Jauhar berkata dengan serius, “Aku tahu kamu kuat—kamu telah memberi kami banyak bantuan di masa lalu. Namun, aku masih khawatir kamu akan melukai cucuku

  • Sang Pewaris Konsorsium   Bab 654

    Bram merasa hatinya mulai berpacu ketika dia melihat Daffa dan Jauhar berpelukan. Dia bisa merasakan pembatas tipis di antara Daffa dan seluruh dunia, tapi tidak peduli setipis apa itu, tidak ada yang bisa melewatinya. Namun, sekarang, semuanya berbeda. Bram tersenyum lega. Jauhar adalah pria tua yang telah kehilangan putra dan menantunya, tapi setidaknya mereka telah meninggalkan seorang cucu untuknya.Sayangnya, sebuah kecelakaan menyebabkan Jauhar dan cucunya terpisah selama bertahun-tahun. Daffa dan Jauhar adalah satu-satunya keluarga satu sama lain yang tersisa, tapi mereka telah menjadi orang asing seiring berjalannya waktu. Hingga satu bulan sebelum mereka melacak Daffa, Bram telah kehilangan harapan untuk menemukannya, tapi kenyataannya telah membuktikan bahwa keajaiban bisa terjadi. Dia sangat tersentuh hingga dia bahkan tidak dapat berbicara.Jauhar sudah kembali tenang. Dia sangat gembira bertemu Daffa, tapi ada hal-hal yang lebih penting. Dia melepaskan Daffa. Dia masih t

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status