“Baik Pak Yudha. Terimakasih sekali atas tanggapan Bapak.” “Kami juga berterimakasih atas kerjasamamu pada pihak kepolisian Elang. Saya juga berterimakasih atas bantuanmu dalam kasus Pak Bambang. Bravo buatmu Elang..!” seru Yudha kagum, dengan sepak terjang Elang. “Ahh. Itu hanya kebetulan saja saya bersinggungan dengan mereka Pak Yudha. Tetap saja pihak yang berwajib yang berperan dalam hal ini,” ucap Elang tenang. Yudha Satria tertegun, mendengar jawaban Elang yang rendah hati ini, ‘Tak salah Pak Bambang memuji-muji namamu di depanku Elang. Kau memang layak’, bathin Yudha kagum. Karenanya dia berniat menjalin hubungan erat langsung dengan Elang. Dia pun menyimpan nomor kontak Elang di ponselnya. “Baiklah Elang. Nomormu sudah saya simpan. Hubungi saja saya jika sewaktu-waktu ada hal yang berkaitan dengan tugas saya. Terimakasih Elang.” Klik.!*** Keesokkan paginya. Suasana cerah melingkupi kediaman Brian. Terdengar burung peliharaan Brian berkicau merdu, menyambut datangnya
Sebuah mobil sedan yang membawa sepasang suami istri, dan seorang anak lelaki berusia 3 tahun nampak meluncur tak terkendali. Di depan mobil itu, terpampang sebuah kelokkan tajam lembah Cipanas yang curam dan dalam. Ya, akibat menghindari pengemudi motor yang ugal-ugalan di jalan. Rupanya Sukanta tak bisa melihat, bahwa di depannya terdapat tikungan tajam,“Awas Pahhh..!!” teriak panik dan ketakutan Wulandari sang istri. Sang suami berusaha mengendalikan mobilnya yang oleng. Dan tak sengaja dalam kepanikkannya melihat lembah curam di depannya, Sukanta malah menginjak gas dan rem bersamaan. Brrrmm...!! Ciitttt..!!“Huhuhuuu..! Elang takut Mahh, Pahh,” tangis sang anak, yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.“Pahh..! Innalillahi ...!!” teriak sang istri, wajahnya pucat pasi.“Astaghfirullahaladzim ....!!” seru sang suami keras. Dan tak ayal mobilnya menabrak pagar besi di bibir lembah. Braagghhh !! Pagar besi pun roboh. Sadar akan jatuh ke lembah curam yang tinggi, Wuland
Malam itu Elang tidur dengan nyenyak. Setelah dia membantu Bu Sati mencuci piring di dapur, dan menyapu aula panti. Bu Sati memang terbiasa mencuci piring di malam hari, saat anak panti rata-rata sudah tertidur pulas. Elang yang melihatnya saat lewat dapur merasa kasihan. Dia lalu menyuruh Bu Sati untuk istirahat saja lebih awal, dan membiarkan Elang yang mencuci piring. Akhirnya Bu Sati beranjak ke kamarnya untuk tidur lebih awal. ‘Kasihan Bu Sati. Usianya sudah 57 tahun, namun masih harus bekerja keras di panti’, ujar bathin Elang, sambil menatap sosok bu Sati, yang sedang melangkah ke arah kamarnya. Elang mulai mencuci piring, benaknya teringat pembicaraannya dulu dengan Bu Sati, “Bekerja di sini adalah panggilan hati ibu, Elang. Ibu hanyalah janda tanpa anak, saat mulai bekerja di sini. Dan ibu merasa disinilah tempat ibu, bersama anak-anak yang tak tahu harus berlindung ke mana. Melihat anak-anak tersenyum merasakan kebahagiaan dan kehangatan di panti ini. Adalah sebuah k
‘Ahhh..! Andai mimpi semalam benar-benar bisa jadi nyata. Aku pasti akan menyetujuinya saja. Semoga nanti malam Aki Buyut benar-benar hadir lagi dalam mimpiku’, bathin Elang bertekad. Elang sangat menyesali kebimbangannya, dalam mimpi semalam. Elang bertekad akan menyetujui tawaran mempelajari ilmu turunan keluarganya itu. Jika memang benar mimpi itu bisa jadi kenyataan. “Mas Elang..! Mas..! Dito nakal tuh..!" seorang anak kecil perempuan usia 6 tahunan berlari kecil, dan menubruk Elang sambil mengadu.“Aduh..! Hati-hati Nindi, kamu bisa jatuh nanti,” ujar Elang, sambil memegang tubuh Nindi yang merapat di belakangnya. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki kecil seusia Nindi datang menyusul, “Nah ya..! Kamu di sini Nindi pelit..!” seru bocah itu, sambil berusaha mendekati Nindi, seolah hendak memukulnya. “Hei..hei, Dito..! Nggak boleh begitu ya, sama anak perempuan,” ucap Elang menengahi mereka. “Habis Nindi pelit sih Mas Elang..! Masa suruh gantian main ayunan gak mau..!”
“Nah Elang. Apakah sekarang kamu sudah siap buyut wedar..? Lalu buyut akan isi tenaga dasar ilmu turunan keluarga kita Elang ?” tanya Ki Sandaka tenang. “Siap Ki Buyut,” sahut Elang mantap. “Kalau begitu naiklah ke balai ini, dan duduklah bersila seperti buyut,” perintah Ki Sandaka. Elang pun naik ke atas balai bambu itu, dan duduk bersila seperti posisi Ki Sandaka. Sementara itu Ki Sandaka terlihat berdiri. Namun Elang spontan bergidik ngeri. Karena dia melihat kaki Ki Buyutnya itu mengambang di udara, tak menapak di atas balai. “Hehehee. Jangan takut cicitku. Ini karena buyut sudah berbeda alam denganmu, Elang,” Ki Sandaka terkekeh, melihat kengerian Elang. “Sekarang bersiaplah Elang. Pejamkan matamu dan bertahanlah, jika ada sesuatu yang dingin dan hangat mengalir di dalam tubuhmu,” ucap Ki Sandaka. “Baik Ki Buyut,” ucap Elang tanpa ragu lagi. Elang langsung memejamkan matanya, seperti yang di arahkan oleh Ki Buyut. Nafasnya pun mulai teratur tenang, dalam posisi bersila.
“Bagaimana kalau kita ke rumah Pak Baskoro, setelah kamu pulang interview dari Betamart saja Elang..?" usul Bu Nunik. Hatinya jadi ikut tergerak dengan ucapan Elang. “Baik Bu,” ucap Elang, menyetujui usul Bu Nunik. “Elang masuk dulu ya Bu. Elang mau bersiap ke Betamart," ujar Elang, seraya undur diri.“Iya Elang, bersiaplah sebaik mungkin ya. Ajaklah Wulan untuk berangkat bersama ke sana,” ucap Bu Nunik. “Baik Bu,” sahut Elang, sambil beranjak menuju ke dalam panti. *** Pak Baskoro tengah terpekur di teras rumahnya. Sementara pikirannya menerawang, pada kenangan indahnya bersama sang istri. Istri yang kini terbaring lemah di pembaringannya. Ya, kenangan indah, rasa cinta, dan kesetiaan itulah. Hal yang mampu membuat Baskoro tetap bertahan, dan tegar merawat istrinya. Dia kembali menghisap rokoknya, dan menghembuskannya dengan nafas lepas menghela. Seolah ingin menghela jauh-jauh masalah pelik, yang selama bertahun-tahun ini menyelimutinya. Sudah hampir satu setengah tahun i
“Hahh..?! B-benda apa..?! Maksudmu ada orang yang mengirim ‘bala’ ke istri saya, dengan menanam ‘sesuatu’ di rumah saya ?!” seru kaget pak Baskoro. Ya, Baskoro pernah menerima seorang paranormal dan ajengan ke rumahnya. Dan mereka semua hanya mengatakan, jika istrinya mungkin ‘dikerjai’ seseorang. Tapi tak ada yang dengan ‘jelas’ mengatakan, bahwa ada sesuatu yang di tanam di rumahnya. “Benar Pak Baskoro. Apakah di belakang rumah Bapak ada pohon pepaya, yang letaknya tepat berhadapan dengan pintu belakang rumah bapak ?” tanya Elang. “I..iya benar Elang..! Bagaimana kau bisa tahu..?!” ucap pak Baskoro kaget. 'Bagaimana dia bisa tahu..? Padahal dia belum pernah ke rumahku’, gumam bathinnya. “Bolehkah saya melihatnya Pak Baskoro..?” tanya Elang sopan, langsung ke poin. “Tentu saja boleh. Mari Elang, Bu Nunik, kita ke sana,” sahut pak Baskoro cepat. Ya, kini mulai ada setitik harapan di hati Baskoro. Bu Nunik yang ikut penasaran langsung beranjak mengikuti mereka di belakang. Ses
“Satu tahun lebih Mas..?!” seru Halimah terkaget. Benak Halimah langsung membayangkan suaminya, yang pasti sangat repot mengurusnya selama masa sakitnya itu. Dia pun beranjak dan memeluk suaminya, “Terimakasih Mas, telah merawatku selama itu dan tak meninggalkanku. Tsk, tsk!” ucap Halimah serak dan terisak. Lalu Halimah mendekati Elang dan Bu Nunik, “Terimakasih tak terhingga kuucapkan buat kalian. Kalian telah menyelamatkan rumah tangga kami,” ucap Halimah sambil menyalami Elang , lalu memeluk Bu Nunik. “Maaf, apakah ini Bu Nunik dari panti itu..?” tanya Halimah, yang rupanya masih mengenali Bu Nunik. Dulu memang ia pernah beberapa kali menemani suaminya berkunjung ke panti. “Benar Bu Baskoro,” ucap bu Nunik, yang ikut terharu melihat pulihnya istri pak Baskoro ini. ‘Mereka adalah orang-orang yang baik’, bathinnya. “Ahh. Sebaiknya mulai saat ini Ibu memanggil saya Halimah saja. Karena Ibu lebih berumur dari pada saya,” ucap Halimah merasa rikuh, dipanggil bu oleh orang yang le
“Baik Pak Yudha. Terimakasih sekali atas tanggapan Bapak.” “Kami juga berterimakasih atas kerjasamamu pada pihak kepolisian Elang. Saya juga berterimakasih atas bantuanmu dalam kasus Pak Bambang. Bravo buatmu Elang..!” seru Yudha kagum, dengan sepak terjang Elang. “Ahh. Itu hanya kebetulan saja saya bersinggungan dengan mereka Pak Yudha. Tetap saja pihak yang berwajib yang berperan dalam hal ini,” ucap Elang tenang. Yudha Satria tertegun, mendengar jawaban Elang yang rendah hati ini, ‘Tak salah Pak Bambang memuji-muji namamu di depanku Elang. Kau memang layak’, bathin Yudha kagum. Karenanya dia berniat menjalin hubungan erat langsung dengan Elang. Dia pun menyimpan nomor kontak Elang di ponselnya. “Baiklah Elang. Nomormu sudah saya simpan. Hubungi saja saya jika sewaktu-waktu ada hal yang berkaitan dengan tugas saya. Terimakasih Elang.” Klik.!*** Keesokkan paginya. Suasana cerah melingkupi kediaman Brian. Terdengar burung peliharaan Brian berkicau merdu, menyambut datangnya
"Cepat ambil surat perjanjian pinjaman saya..!” bentak Brian murka, dia menelikung tangan Kamal ke belakang. “Ba..baaikk..! A-ampun Pak Brian..! Ikut saya..” Kamal pun melangkah terhuyung, menaiki tangga menuju lantai 2 rumahnya. Di sebuah kamar dia terhenti dan membuka kunci kamar, lalu mereka masuk ke dalamnya. Brian melihat atap rumah yang jebol dan rusak berat, di lantai 2 itu. Kamal membuka sebuah brankas, di balik sebuah lukisan wanita seksi telanjang yang telah di geser lebih dulu olehnya. Melihat hal itu, darah Brian pun mendidih. Dia jadi teringat kembali, pada perbuatan Kamal atas istrinya, Duughk..! Kregghh..!Brian menabrakkan wajah Kamal ke dinding kamar sekerasnya. Sungguh rasanya dia ingin membunuh saja bajingan tua ini.“Argkhs..!! A-ampun Pak Brian..! Khkss..!” Kamal berteriak kesakitan, karena hidungnya patah. Saat dia menoleh ke arah Brian, maka wajahnya pun sudah penuh dengan darah. “Cepat ambil kertas perjanjiannya..!” hardik Brian tak sabar. Agak jijik ju
"Aji sirepmu memang luar biasa Elang. Tapi jangan harap itu berlaku padaku!” seru Mbah Dharmo. “Kutunggu kau di atap rumah Dharmo,” Pyarshk..! Slaph..!Elang melesat setelah menghantam pecah jendela kaca rumah Kamal. Dia pun hinggap dan menanti, di atap rumah dua lantai itu. Pyarrsh..! Sethh! Tak mau kalah, Mbah Dharmo juga melesat, melalui jendela kaca yang sudah dipecahkan Elang sebelumnya. Taph..!Kini keduanya sudah berhadapan di atas atap rumah megah milik Kamal. Seolah sepakat keduanya menunggu gema adzan magribh, yang saat itu tengah bergema sampai selesai dikumandangkan. Adzan Magribh pun selesai dikumandangkan, “Dharmo, mari langsung saja pada pamungkas kita masing-masing..! Saya sedang enggan berlama-lama,” Elang berkata tanpa hormat, pada mbah Dharmo. Ya, karena memang Mbah Dharmo sudah membuang kehormatannya demi uang. “Lha dalah..! Gemagus kowe bocah keparat..!” maki Mbah Dharmo murka. Mbah Dharmo langsung mengerahkan aji pamungkasnya ‘Jagad Ambyar'. Ajian yang
“Apaa..?! Siapa Mbah orang yang ‘berisi’ itu?!” seru Kamal kaget. Mata Kamal otomatis mengikuti arah pandangan Mbah Dharmo. Maka jelaslah bagi Kamal, siapa yang dimaksud ‘orang berisi’ oleh guru spiritualnya itu. “Hmm. Brian ada apakah kau membawa paranormal bau kencur ke rumahku..? Mau menantangku..?!” suara Kamal meninggi, sambil menatap tajam ke arah Elang. “Maaf nama saya Elang, Pak Kamal. Dan saya orang normal yang nggak suka kencur Pak,” Elang menanggapi perkataan Kamal sambil tersenyum ramah. Brian dan Elang langsung duduk di sofa ruang tamu Kamal. Kamal dan si pria sepuh itu juga duduk. Sementara si lelaki berjas hitam, yang ternyata pengawal pribadi Kamal, dia tetap berdiri di belakang kursi Kamal. “Katakan saja niat kedatanganmu Brian. Tak perlu basa basi di rumahku!” seru Kamal ketus. Elang pun menarik nafas kesalnya. ‘Sepertinya Kamal ini memang pantas di tenggelamkan’, bathin Elang sebal. “Siapa yang mau kau tenggelamkan anak muda..?” tanya pria sepuh itu, tènyat
"Sebatas itu pun sudah sangat berarti bagi kami Elang. Semoga kemudahan dan keselamatan selalu menaungi perjalananmu Elang,” Brian menimpali dengan do’anya bagi Elang. “Aamiin, makasih Pak Brian," ucap Elang, seraya meraih ponselnya. Dia pun memanggil sebuah nama dalam kontaknya. Tuttt...Tuttt...! Klik.! "Halo Elang. Sudah sampai mana sekarang..?” tanya suara di sana. “Siang Pak Bambang. Saya tertahan di Surakarta Pak. Ada seorang kenalan baru disini yang terkena masalah Pak Bambang,” sahut Elang. “Wahh, masih di Surakarta rupanya. Masalah apa Elang? Siapa tahu bapak bisa membantu.” “Ini Pak Bambang. Teman baru Elang mengalami masalah, uang perusahaannya di bawa kabur orang kepercayaannya. Namun keberadaan orang yang membawa kabur uang perusahaan itu, sudah Elang ketahui alamatnya Pak Bambang.” “Bagus itu Elang. Apakah perlu bapak hubungi rekanan bapak di kepolisian, untuk mengurus orang itu Elang?” ‘Tepat seperti yang kuharapkan’, bisik hati Elang. “Kalau tidak keberatan P
‘Hmm. Benar-benar ‘ular’ si Doni ini!’ maki murka bathin Elang. Splash..! Sukma Elang segera melesat kembali ke rumah Brian. Dia melihat raganya masih duduk tenang di sofa. Segera sukma Elang menata kembali dalam raganya. Slaphs..! Beberapa saat kemudian, nampak dada Elang mulai bergerak normal. Perlahan kedua matanya kembali terbuka. “Pak Brian. Semoga Bapak tak terkejut, mendengar kabar yang akan saya sampaikan tentang Doni,” ujar Elang, dengan wajah agak geram. “Kabarkan saja Elang. Bapak tak heran, jika dia berbuat hal-hal yang memuakkan,” Brian berkata dengan rasa penasaran. “Saat ini dia sudah mengganti identitasnya dan juga semua anggota keluarganya. Doni mengubah nama menjadi Dani. Akun rekening banknya juga sudah di tutup, dan dia membuat akun rekening baru. Dia sekarang tinggal di sebuah rumah mewah di wilayah Guci-Tegal, Pak Brian,” urai Elang berhenti sejenak, untuk melihat reaksi Brian. “Ahh..! B-benarkah itu Elang..?! Pantas saja pihak kepolisian hingga kini b
"Begitulah hal yang sebenarnya terjadi Elang,” Brian menutup kisahnya. Brian tak merasa perlu menceritakan nasib istrinya, yang dipaksa melayani Kamal. Karena hanya akan membuat aib pribadi keluarganya di hadapan Elang. Namun Elang yang menerapkan aji ‘wisik sukma’ nya selama mendengarkan keterangan Brian. Dia dapat menangkap siratan bathin Brian soal istrinya itu. Elang pun hanya tersenyum maklum, bathinnya membenarkan semua keterangan Brian adalah benar, dan tak di buat-buat. Karenanya Elang pun berniat membantu Brian dan keluarganya, yang pada dasarnya adalah orang-orang yang baik dan jujur. “Baik Pak Brian, apakah saya di ijinkan masuk dalam masalah Bapak? Saya bermaksud membantu sekedar yang saya bisa Pak Brian,” Elang berkata dengan senyum tenang. “Tentu saja boleh Elang, saya sangat berterimakasih atas kesediaanmu membantu masalah kami. Namun saya berharap itu tidak menyusahkanmu Elang,” Brian berkata dengan rasa haru. ‘Baru saja kita saling kenal, namun kau sudah ingin
“Mas tunggu..! Baiklah, saya akan menceritakan masalah saya pada Mas. Tapi Mas tak harus membantu saya,” Ayu akhirnya memutuskan, untuk menceritakan saja masalah keluarganya pada pemuda itu. Ya, Ayu bisa menilai Elang cukup bisa di percaya, kendati namanya saja dia belum kenal. “Kenalkan nama saya Elang,” Elang mengulurkan tangannya, sambil tersenyum pada Ayu. “Ayu,” sambut Ayu, wajahnya masih terlihat sedih dan bingung. “Begini Mas Elang. Ayahku kedatangan tamu yang menagih hutang 2 hari yang lalu. Dan kini penagih itu datang lagi ke rumah. Saat Ayu pulang kuliah tadi, Ayah sudah di ikat dan pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dua orang di antara mereka memegang senjata api Mas Elang, Ayu takut dan berlari menjauh dari rumah. Entah bagaimana nasib Ayah dan Ibu Ayu sekarang. Tsk, tskk..!” Ayu kembali terisak, setelah menceritakan masalah yang menimpa keluarganya. Elang mendengarkan dengan seksama cerita Ayu, dan memutuskan mengantar Ayu pulang ke rumahnya saat itu. Dia takut
"Gadis kancil.! Entah bersembunyi di mana dia’, bathinnya bingung. Mereka berdua pun akhirnya kembali ke rumah Brian dengan tangan hampa. “Bagaimana..?! Kenapa gadis itu tak bersamamu..?!" Plakk..! Plakh..! Tamparan Kamal mendarat di pipi kedua pengawalnya itu. “Dia menghilang bos. Saya tak berhasil mengejarnya,” sahut salah satu pengawalnya, sambil mengusap pipinya yang terasa pedih akibat tamparan Kamal. “Bodoh..!...Harusnya aku bisa membawanya ke rumahku, untuk bersenang-senang dengannya malam ini..!" maki Kamal, menyesali kebodohan pengawalnya itu. “Dengar Brian..! Aku cukup puas dengan layanan istrimu. Aku anggap kekurangan satu angsuran sudah tertutup hari ini..!” Kamal berseru, seraya membawa uang yang tadi diserahkan Brian padanya.“Namun ingat Brian, 5 hari lagi adalah jatuh tempo pembayaran bulan ini. Jika kau masih gagal bayar, maka putrimu harus bersedia menjadi istri ke tiga ku.! Dan rumahmu ini akan jadi milikku..!" ancam Kamal. Nama Kamal memang terkenal sebagai